“Aku melihat kalian.”
Kalimat itu hanya terdiri dari tiga kata, tetapi efeknya seperti ledakan di tengah ballroom.
Tak ada tepuk tangan. Tak ada musik. Bahkan para pelayan yang sedang membawa nampan berhenti melangkah.
Raka berdiri di sampingku dengan wajah yang perlahan kehilangan warna.
“Apa… apa maksudmu?” suaranya terdengar serak.
Aku menatapnya lurus.
Tatapan yang selama dua tahun tidak pernah ia bayangkan akan bisa kulakukan lagi.
“Aku bilang, aku melihat kalian.”
Nadia langsung berdiri dari kursinya. Tangannya mencengkeram clutch kecil berwarna emas hingga buku-buku jarinya memutih.
Aku memalingkan wajah kepadanya.
“Aku melihatmu mencium suamiku di ruang tamuku sendiri. Aku melihatmu memeluknya ketika kalian mengira aku sedang tidur. Aku melihat kalian tertawa karena merasa seorang perempuan buta tidak mungkin mengetahui apa yang terjadi tepat di depan wajahnya.”
Suara bisik-bisik mulai memenuhi ballroom.
Puluhan ponsel terangkat.
Para wartawan saling bergerak mencari posisi terbaik.
Raka buru-buru mendekati mikrofon.
“Laras sedang berada dalam kondisi emosional. Tolong jangan merekam dulu. Istri saya baru saja—”
Aku mengambil mikrofon dari tangannya.
“Jangan sentuh aku.”
Untuk pertama kalinya malam itu, senyum palsunya benar-benar hilang.
Aku menatap para tamu.
“Maaf karena malam perayaan sepuluh tahun perusahaan ini harus berubah menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Tetapi karena suami saya memilih malam ini untuk mencoba mencuri perusahaan milik keluarga saya, maka saya rasa malam ini juga waktu yang tepat untuk menunjukkan kebenaran.”
“Kamu gila!” bisik Raka.
Aku mendengarnya.
Dan mikrofon di tanganku juga menangkapnya.
Beberapa orang di barisan depan saling berpandangan.
Aku tersenyum tipis.
“Mungkin dua tahun lalu aku memang hampir kehilangan kewarasan. Ayahku meninggal. Aku kehilangan penglihatan. Aku bergantung penuh kepada orang yang kupikir mencintaiku. Tetapi sekarang aku melihat dengan sangat jelas.”
Aku menekan sebuah tombol kecil pada remote yang sejak tadi tersembunyi di dalam genggamanku.
Layar LED raksasa di belakang panggung berubah.
Logo Pranata Group menghilang.
Digantikan rekaman kamera dari ruang tamu rumahku.
Wajah Raka dan Nadia muncul jelas.
Tanggal rekaman tertera di sudut layar.
Suara Raka memenuhi ballroom.
“Begitu dia tanda tangan, semuanya selesai. Kalau perusahaan sudah di tangan kita, aku akan urus surat yang menyatakan Laras tidak lagi mampu mengambil keputusan.”
Wajah para tamu berubah.
Nadia menutup mulutnya.
Rekaman berlanjut.
“Kita kirim dia ke klinik di luar kota,” suara Raka terdengar lagi.
Kemudian suara Nadia menjawab sambil tertawa.
“Asal jangan terlalu dekat Jakarta. Aku tidak mau dia mengganggu kehidupan kita.”
Aku menoleh kepada Nadia.
“Kamu masih ingat percakapan itu?”
Nadia menggeleng cepat.
“Itu… itu rekaman palsu.”
“Benarkah?”
Aku menekan tombol lagi.
Muncul rekaman berbeda.
Kali ini mereka berada di ruang kerja Raka.
Sejumlah dokumen terbuka di atas meja.
Nadia berkata, “Tanda tangan Laras gampang ditiru. Dia sendiri bahkan tidak bisa melihat bentuk tanda tangannya sekarang.”
Beberapa anggota dewan direksi langsung berdiri.
Salah satunya adalah Pak Surya, komisaris independen yang sudah bekerja bersama ayahku sejak perusahaan pertama kali didirikan.
“Raka,” katanya dengan suara keras, “apa ini?”
Raka tidak menjawab.
Ia justru mendekat kepadaku.
“Laras, dengarkan aku. Kita bisa bicara di rumah. Kamu tidak tahu situasi sebenarnya.”
Aku hampir tertawa.
“Selama ini justru kalian yang mengira aku tidak tahu.”
Ia menatapku penuh kemarahan.
Kemudian ekspresinya berubah lembut.
Perubahan itu begitu cepat hingga terasa menjijikkan.
“Sayang,” katanya pelan, “aku melakukan semua ini untuk menjaga perusahaan. Kamu sakit. Setelah kecelakaan, kamu depresi. Kamu bahkan pernah mengatakan ingin menyerahkan semuanya kepadaku.”
“Aku mengatakan aku percaya kepadamu.”

Aku berhenti sejenak.
“Itu ternyata kesalahan terbesar dalam hidupku.”
Tiba-tiba pintu ballroom terbuka.
Pak Hartono masuk bersama dua pria dan seorang perempuan membawa beberapa map dokumen.
Aku mengangguk kepadanya.
Pak Hartono naik ke panggung.
“Selamat malam. Saya Hartono Wijaya, kuasa hukum pribadi Ibu Laras Pranata.”
Raka menatapnya tajam.
“Anda sudah pensiun.”
“Dari firma hukum saya, iya. Dari menjaga amanat almarhum Pak Pranata, tidak.”
Pak Hartono membuka map.
“Selama empat bulan terakhir, kami melakukan audit independen terhadap sejumlah transaksi yang terjadi selama Ibu Laras mengalami kehilangan penglihatan.”
Layar berganti menampilkan diagram transaksi.
“Ditemukan sedikitnya tujuh perusahaan cangkang yang menerima pembayaran dari anak usaha Pranata Group dengan total lebih dari seratus delapan puluh miliar rupiah.”
Ballroom kembali gaduh.
Aku melihat kepala bagian keuangan menutup mulutnya.
Salah satu investor asing berbisik kepada asistennya.
Pak Hartono melanjutkan.
“Sebagian besar perusahaan tersebut memiliki hubungan langsung maupun tidak langsung dengan orang-orang yang berada di bawah kendali Saudara Raka Mahendra.”
“Kebohongan!” bentak Raka.
“Kalau begitu Anda bisa menjelaskannya kepada penyidik.”
Untuk pertama kalinya, ketakutan nyata muncul di matanya.
Ia menoleh ke pintu ballroom.
Dua petugas kepolisian berpakaian sipil telah berdiri di sana.
Nadia tiba-tiba bergerak mundur.
“Nadia,” panggilku.
Ia berhenti.
“Jangan pergi dulu.”
Perempuan yang dulu tidur satu ranjang denganku saat kami masih SMA itu menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Laras…”
Aku turun dari panggung.
Aku mendekatinya.
Orang-orang memberi jalan.
Untuk beberapa detik kami berdiri berhadapan.
Aku teringat begitu banyak hal.
Hari pertama kami bertemu.
Saat ia meminjamkan payung ketika hujan deras sepulang sekolah.
Saat ayahnya meninggal dan ia menangis semalaman di rumahku.
Saat aku membayar biaya kuliahnya diam-diam karena keluarganya sedang kesulitan.
Saat ia menjadi orang pertama yang memelukku setelah kecelakaan.
Dan sekarang aku berdiri di hadapan perempuan yang merencanakan kehancuranku.
“Kenapa?” tanyaku.
Hanya satu kata.
Namun Nadia langsung menangis.
“Aku tidak merencanakan semuanya sejak awal.”
“Lalu kapan kamu mulai?”
Ia menunduk.
“Setelah kecelakaanmu.”
“Kenapa?”
Nadia menatapku lagi.
“Karena aku lelah selalu menjadi orang kedua.”
Aku terdiam.
“Aku tumbuh bersamamu, Laras. Semua orang selalu melihatmu. Laras yang cantik. Laras yang kaya. Laras pewaris Pranata Group. Bahkan saat kita sekolah, guru selalu membandingkan aku denganmu.”
“Itu alasanmu tidur dengan suamiku?”
“Aku tidak berniat—”
“Jangan berbohong lagi.”
Suaraku tetap tenang, tetapi air mataku mulai menggenang.
Nadia menangis semakin keras.
“Raka yang mendekatiku dulu.”
Aku menoleh kepada suamiku.
Wajahnya menegang.
Nadia tiba-tiba menunjuknya.
“Dia bilang pernikahan kalian sudah selesai! Dia bilang setelah kecelakaan kamu berubah! Dia bilang dia hanya bertahan karena kasihan!”
“Diam!” bentak Raka.
“Kenapa aku harus diam?” Nadia berteriak balik. “Semua sudah terbongkar!”
Raka berjalan cepat ke arahnya.
“Kalau bukan karena kamu serakah, semuanya tidak akan berantakan!”
Nadia menatapnya tak percaya.
“Aku serakah?”
“Kamu yang terus memaksaku mempercepat pengalihan saham!”
“Kamu yang membutuhkan uang!”
Suasana berubah semakin kacau.
Aku berdiri diam melihat dua orang yang beberapa bulan terakhir merasa begitu kompak kini saling menyalahkan.
Akhirnya aku memahami sesuatu.
Pengkhianatan tidak pernah membangun hubungan yang kuat.
Orang yang bersedia mengkhianati seseorang bersamamu pada akhirnya juga akan mengkhianatimu.
Pak Hartono memberi tanda kepada petugas.
Mereka mendekati Raka.
Namun sebelum mereka sampai, Raka menoleh kepadaku.
Matanya merah.
“Kamu sengaja menjebakku.”
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Aku hanya berhenti melindungimu dari akibat perbuatanmu sendiri.”
Ia menggeleng.
“Kamu pikir setelah malam ini kamu menang?”
Aku tidak menjawab.
Raka tertawa pendek.
“Ada sesuatu yang belum kamu tahu.”
Kalimat itu membuatku berhenti.
“Apa?”
Ia menatapku tajam.
“Kecelakaan ayahmu.”
Dadaku seketika terasa dingin.
“Apa hubungannya?”
Senyumnya tipis.
Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu lagi, Nadia tiba-tiba berteriak.
“Raka, jangan!”
Seluruh tubuhku menegang.
Aku menatap Nadia.
“Apa yang dia maksud?”
Nadia gemetar.
“Tidak ada.”
“Nadia.”
Aku mendekatinya.
“Apa yang kalian tahu tentang kecelakaan ayahku?”
Air mata mengalir di wajahnya.
Raka tertawa kecil.
“Sekarang kamu mulai penasaran?”
Petugas mencoba membawanya pergi, tetapi aku mengangkat tangan.
“Tunggu.”
Aku menatap Raka.
“Katakan.”
Ia membalas tatapanku cukup lama.
Kemudian berkata pelan,
“Kamu benar-benar percaya kecelakaan di Jagorawi malam itu terjadi karena rem mobil bermasalah?”
Rasanya udara hilang dari paru-paruku.
“Apa maksudmu?”
Raka tidak menjawab.
Namun Nadia tiba-tiba jatuh terduduk.
“Aku tidak ikut melakukannya,” katanya sambil menangis histeris. “Aku bersumpah, Laras. Aku baru mengetahuinya setelah semuanya terjadi.”
Aku menatap Raka.
“Raka…”
Wajahnya berubah.
Kesombongannya hilang.
Seolah ia baru menyadari bahwa satu kalimat tadi adalah kesalahan terbesar yang dibuatnya malam ini.
Pak Hartono segera memberi isyarat kepada petugas.
“Kami punya dasar untuk memperluas pemeriksaan.”
Raka langsung melawan saat tangannya dipegang.
“Kalian tidak punya bukti!”
Pak Hartono menatapnya.
“Mungkin sebelumnya tidak.”
Ia mengangkat ponselnya.
“Tapi pengakuan Anda barusan disaksikan ratusan orang dan direkam puluhan kamera.”
Raka membeku.
Aku tidak merasakan kemenangan lagi.
Tidak ada kepuasan.
Hanya dingin.
Sangat dingin.
Dua tahun aku mengira hidupku hancur karena sebuah kecelakaan.
Ternyata mungkin ada seseorang yang sengaja menghancurkannya.
Petugas membawa Raka keluar dari ballroom.
Sebelum melewati pintu, ia menoleh kepadaku.
Tatapan kami bertemu untuk terakhir kalinya.
Tidak ada cinta di sana.
Mungkin memang tidak pernah ada.
Nadia juga dibawa untuk pemeriksaan.
Malam itu berakhir tanpa pesta.
Tanpa champagne.
Tanpa potong kue ulang tahun.
Tetapi justru malam itulah Pranata Group benar-benar memulai kehidupan baru.
Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan.
Audit menemukan lebih banyak transaksi ilegal. Sejumlah aset berhasil dibekukan sebelum dipindahkan ke luar negeri.
Yang paling menghancurkan adalah hasil penyelidikan terhadap kecelakaan ayahku.
Seorang mantan mekanik akhirnya mengaku menerima uang untuk merusak sistem pengereman mobil yang kami gunakan malam itu.
Uang tersebut berasal dari rekening perusahaan cangkang yang dikendalikan Raka.
Target sebenarnya bukan aku.
Targetnya adalah ayahku.
Raka mengetahui bahwa ayah berencana mencopotnya dari posisi direktur karena menemukan indikasi manipulasi keuangan.
Ia juga mengetahui bahwa dalam surat wasiat, seluruh saham ayah akan jatuh kepadaku.
Rencananya sederhana dan mengerikan.
Menyingkirkan ayah.
Menikah denganku sebagai jalan menuju perusahaan.
Lalu perlahan mengambil kendali.
Kecelakaanku dan kebutaanku justru membuat rencananya jauh lebih mudah.
Sampai penglihatanku kembali.
Sampai aku memutuskan untuk tetap berpura-pura buta.
Setahun kemudian, aku berdiri di makam ayah.
Jakarta baru saja diguyur hujan.
Aku meletakkan bunga putih di atas nisannya.
“Ayah selalu bilang jangan terlalu cepat percaya kepada orang.”
Aku tersenyum kecil meski air mataku jatuh.
“Aku terlambat belajar.”
Angin bergerak pelan di antara pepohonan.
Aku sudah kembali memimpin Pranata Group.
Tetapi banyak hal berubah.
Tidak ada lagi dokumen yang kutandatangani tanpa kubaca.
Tidak ada lagi keputusan perusahaan yang bergantung kepada satu orang.
Aku membangun sistem pengawasan baru, memperkuat perlindungan bagi pemegang saham, dan membentuk yayasan untuk membantu korban kecelakaan yang mengalami kehilangan penglihatan.
Orang-orang sering bertanya bagaimana rasanya bisa melihat kembali setelah hidup dua tahun dalam kegelapan.
Dulu aku selalu menjawab bahwa hal pertama yang membuatku menangis adalah melihat langit.
Tetapi sekarang jawabanku berbeda.
Kehilangan penglihatan memang membuatku hidup dalam kegelapan.
Namun ketika mataku kembali terbuka, aku menemukan bahwa kegelapan paling menakutkan bukanlah ketika kita tidak bisa melihat apa pun.
Kegelapan paling menakutkan adalah ketika kita melihat seseorang setiap hari, mencintainya, mempercayainya, tetapi tidak pernah benar-benar melihat siapa dirinya.
Aku menyentuh batu nisan ayah untuk terakhir kali.
Kemudian aku berbalik dan berjalan menuju mobil.
Tanpa tongkat putih.
Tanpa kacamata hitam.
Tanpa seseorang yang menuntunku.
Karena setelah bertahun-tahun membiarkan orang lain menjadi mataku, akhirnya aku mengerti satu hal.
Tidak semua orang yang menggenggam tanganmu sedang membantumu berjalan.
Sebagian hanya sedang memastikan kau tidak melihat ke mana mereka membawamu.
