HANYA BERAWAL DARI SELEMBAR FOTO USANG YANG DITEMUKAN DI TUMPUKAN SAMPAH BANTAR GEBANG, HIDUP SEORANG PEMULUNG MISKIN BERUBAH TOTAL. TAK PERNAH IA BAYANGKAN, FOTO ITU AKAN MEMBUKA RAHASIA TIGA PULUH TAHUN DAN MENGUNGKAP BAHWA DIRINYA ADALAH PEWARIS UTAMA KELUARGA MILIARDER WIJAYA YANG SELAMA INI HILANG!
Di bawah terik matahari siang yang membakar kulit, Pak Budi Santoso terus mengais tumpukan sampah di TPA Bantar Gebang dengan pengait besi panjang di tangannya.
Satu per satu botol plastik bening, kaleng bekas minuman, dan kardus yang masih cukup kering ia pungut lalu dimasukkan ke dalam karung goni besar yang sudah robek di beberapa bagian.
Debu beterbangan di udara. Asap tipis dari sampah yang terbakar menusuk mata dan membuat tenggorokannya terasa kering. Namun Pak Budi tidak punya pilihan selain terus bekerja.
Baru saja beberapa truk sampah datang dari Jakarta. Bagi para pemulung di sana, kedatangan truk baru berarti kesempatan mendapatkan barang-barang yang masih bernilai jual.
Pak Budi bergerak cepat.
Ia harus bersaing dengan puluhan pemulung lain yang sama-sama mengincar botol plastik berkualitas, besi, kaleng aluminium, atau barang bekas apa pun yang bisa dijual kembali.
Sudah lima tahun hidupnya seperti itu.
Sejak istrinya meninggal dunia karena penyakit yang terlambat ditangani, Pak Budi harus membesarkan kedua anaknya seorang diri.
Andi, putra sulungnya, baru berusia sepuluh tahun.
Sementara Rina, anak bungsunya, masih delapan tahun.
Setiap pagi Pak Budi berangkat sebelum matahari benar-benar tinggi. Menjelang sore ia pulang membawa hasil dari tempat pembuangan sampah untuk dijual ke pengepul rongsokan di pinggir jalan.
Hasilnya tidak banyak.
Namun selama masih bisa membeli beras, telur, tempe, atau seikat kangkung untuk makan malam anak-anaknya, Pak Budi merasa sudah cukup.
Ia tidak pernah meminta lebih.
Baginya, melihat Andi dan Rina tetap bisa makan dan pergi ke sekolah jauh lebih penting daripada segala kemewahan yang bahkan tidak pernah berani ia impikan.
Sore itu, sebuah truk sampah masuk membawa muatan yang sedikit berbeda.
Salah seorang pekerja mengatakan barang-barang tersebut berasal dari pembongkaran sebuah rumah tua di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Begitu pintu bak truk dibuka, berbagai benda tua langsung tumpah bercampur menjadi satu.
Potongan kayu.
Keramik pecah.
Kain usang.
Buku-buku lama yang sudah lembap.
Perabotan rusak.
Pak Budi ikut mendekat.
Ia mengorek tumpukan itu perlahan, berharap menemukan besi atau barang antik yang masih bisa dijual.
Namun beberapa menit kemudian, pengait besinya menyentuh sesuatu yang keras.
Pak Budi menyingkirkan potongan kayu di atasnya.
Sebuah bingkai foto muncul dari balik sampah.
Bingkai itu terbuat dari kuningan yang warnanya sudah menghitam dimakan usia. Kacanya retak di salah satu sudut, tetapi foto di dalamnya masih terlihat cukup jelas.
Pak Budi mengangkatnya.
Ia mengusap permukaan kaca dengan ujung kausnya yang penuh debu.
Begitu wajah perempuan dalam foto terlihat jelas, tubuh Pak Budi mendadak kaku.
Ia menatap tanpa berkedip.
Dalam foto hitam-putih itu tampak seorang perempuan cantik berusia sekitar tiga puluhan. Rambutnya tertata rapi. Ia mengenakan gaun elegan dan kalung mutiara, dengan senyum lembut menghadap kamera.
Pak Budi merasa jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat.
“Ini…”
Tangannya mulai gemetar.
Wajah perempuan itu sangat mirip dengan mendiang ibunya, Bu Ratih.
Pak Budi mengusap matanya dengan punggung tangan, lalu kembali memperhatikan foto itu dari dekat.
Semakin lama ia melihatnya, semakin kuat perasaan aneh memenuhi dadanya.
Bentuk mata.
Garis wajah.
Senyum tipis di bibir.
Semuanya mengingatkan Pak Budi pada ibunya.
Hanya saja, ada satu hal yang membuatnya sulit percaya.
Sepanjang hidupnya, Pak Budi mengenal Bu Ratih sebagai perempuan sederhana. Ibunya tidak pernah memakai pakaian mahal, apalagi kalung mutiara seperti perempuan dalam foto tersebut.
Mereka dahulu hidup pas-pasan.
Bu Ratih bahkan sering menjahit sendiri pakaian Pak Budi ketika masih kecil karena tidak punya cukup uang untuk membeli yang baru.
Lalu bagaimana mungkin perempuan yang tampak seperti berasal dari keluarga kaya raya ini adalah ibunya?
Pak Budi tidak tahu jawabannya.
Namun entah mengapa, ia tidak sanggup membuang foto itu kembali ke tumpukan sampah.
Ada rasa rindu yang tiba-tiba menyeruak begitu kuat.
Tanpa berpikir panjang, Pak Budi memasukkan bingkai itu dengan hati-hati ke dalam karungnya.
Malam harinya, setelah pulang ke gubuk kecil mereka di pinggir kampung, Pak Budi membersihkan bingkai tersebut menggunakan kain basah.
Ia lalu menggantungnya di dinding triplek dekat tempat tidur.
Cahaya redup lampu membuat wajah perempuan dalam foto seolah hidup kembali.
Andi dan Rina langsung mendekat.
“Ayah, siapa itu?” tanya Rina sambil menunjuk foto.
Pak Budi terdiam beberapa detik.
“Entahlah,” jawabnya pelan. “Ayah menemukannya di tempat sampah.”
Andi mengerutkan kening.
“Kenapa dipasang di rumah?”
Pak Budi tersenyum tipis.
“Karena wajahnya mirip sekali dengan nenek kalian.”
Kedua anak itu langsung memandangi foto dengan lebih serius.
Rina kemudian tersenyum.
“Kalau begitu, cantik sekali nenek.”
Ucapan sederhana itu membuat dada Pak Budi terasa sesak.
Ia hanya mengangguk sambil menahan rasa rindu kepada ibunya yang telah lama meninggal.

Keesokan paginya, Bu Mina, tetangga yang rumahnya hanya beberapa langkah dari gubuk Pak Budi, melihat foto tersebut saat sedang lewat.
Perempuan itu langsung masuk tanpa banyak basa-basi.
“Pak Budi, itu foto siapa?”
“Tidak tahu, Bu. Saya temukan di Bantar Gebang kemarin.”
Bu Mina langsung memasang wajah heran.
“Lho, barang orang kok dibawa pulang? Hati-hati, Pak. Barang dari rumah orang kaya begitu kadang bisa bikin masalah.”
Pak Budi hanya tersenyum.
“Cuma foto lama, Bu.”
Bu Mina menggeleng.
“Ya terserah. Jangan nanti ada orang datang mencarinya.”
Setelah berkata begitu, Bu Mina pergi sambil terus bergumam.
Pak Budi tidak terlalu memikirkannya.
Baginya, foto itu hanyalah benda sederhana yang entah bagaimana mampu membuat rumah kecil mereka terasa sedikit lebih hangat.
Namun kehidupan tidak memberikan banyak waktu baginya untuk memikirkan hal-hal seperti itu.
Beberapa minggu berikutnya, keadaan keluarga Pak Budi justru semakin sulit.
Gerobak yang biasa digunakannya untuk membawa barang rongsokan tiba-tiba rusak di tengah jalan. Salah satu bannya bocor, sedangkan pegangan kayunya patah.
Karena tidak punya uang untuk memperbaikinya, Pak Budi terpaksa memanggul karung berat di bahunya sepanjang hampir dua kilometer.
Belum selesai masalah itu, Rina jatuh sakit.
Awalnya hanya demam biasa.
Namun malam berikutnya suhu tubuh gadis kecil itu semakin tinggi. Wajahnya pucat dan tubuhnya menggigil.
Pak Budi panik.
Ia menggendong Rina dan membawanya berjalan kaki menuju puskesmas karena tidak punya uang untuk membayar ojek.
Setelah diperiksa, dokter mengatakan Rina membutuhkan obat, makanan bergizi, dan istirahat yang cukup.
Pak Budi hanya bisa mengangguk.
Tetapi ketika melihat harga obat yang harus dibeli, wajahnya langsung berubah.
Uang di sakunya tidak cukup.
Malam itu ia membuka kotak kecil tempat menyimpan barang-barang peninggalan istrinya.
Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan tua.
Itulah satu-satunya benda milik almarhum istrinya yang masih ia simpan.
Pak Budi memegang jam tersebut cukup lama.
Matanya berkaca-kaca.
Namun ketika mendengar Rina batuk dari sudut ruangan, ia langsung mengambil keputusan.
Keesokan paginya jam itu digadaikan.
Semua uangnya dipakai untuk membeli obat dan makanan bagi anaknya.
Tetapi beberapa hari kemudian, persediaan beras di rumah hampir habis.
Pak Budi mencoba meminjam sedikit uang dari beberapa tetangga.
Tidak ada yang bersedia membantu.
“Kami juga sedang susah, Pak,” kata salah seorang tetangga.
“Maaf ya. Anak-anak saya juga butuh biaya sekolah.”
Bu Mina bahkan menutup pintunya lebih cepat setelah Pak Budi menyampaikan maksud kedatangannya.
“Saya takut nanti uangnya tidak kembali, Pak Budi. Jangan tersinggung, ya.”
Pak Budi hanya mengangguk.
Ia tidak marah.
Ia juga tidak memaksa.
Malam itu ia pulang dengan langkah berat.
Andi sudah tertidur di samping adiknya.
Pak Budi duduk sendirian di lantai.
Tatapannya tanpa sadar tertuju pada foto perempuan yang tergantung di dinding.
Di bawah cahaya lampu, senyum perempuan itu masih terlihat tenang.
Pak Budi menatapnya lama.
Dalam hati ia berbisik,
“Bu… kalau memang wajah ini mengingatkanku kepadamu, tolong doakan Rina cepat sembuh.”
Ia tidak pernah tahu bahwa foto itulah yang sebentar lagi akan mengubah seluruh hidupnya.
Pagi berikutnya, hujan turun sangat deras.
Jalan tanah di kampung berubah menjadi lumpur. Genangan air memenuhi hampir setiap sudut gang.
Pak Budi sedang memperbaiki gerobaknya di depan rumah ketika tiba-tiba suara mesin mobil terdengar dari ujung jalan.
Ia mengangkat kepala.
Dua SUV hitam mengilap perlahan memasuki gang sempit.
Pemandangan itu langsung menarik perhatian warga.
Satu per satu pintu rumah terbuka.
Orang-orang keluar sambil berbisik.
Mobil semahal itu hampir tidak pernah masuk ke kawasan mereka.
“Siapa itu?”
“Cari siapa?”
“Jangan-jangan orang dari pemerintah?”
Pak Budi ikut berdiri.
Entah mengapa, dadanya terasa tidak nyaman.
Ia sempat berpikir orang-orang tersebut datang untuk membicarakan penggusuran atau masalah tanah.
Mobil pertama berhenti tidak jauh dari rumahnya.
Seorang pria tua berjas rapi turun dari kursi belakang.
Rambutnya sudah memutih, tetapi sikapnya masih tegap dan berwibawa.
Dari mobil kedua turun dua perempuan berpakaian formal serta seorang pria membawa tas kerja dan map tebal.
Mereka langsung menghampiri ketua RT.
“Permisi, Pak. Kami sedang mencari seseorang bernama Budi Santoso.”
Ketua RT tampak terkejut.
“Pak Budi pemulung?”
Pria itu mengangguk.
Ketua RT kemudian menunjuk ke arah gubuk kecil di ujung gang.
“Itu rumahnya.”
Jantung Pak Budi langsung berdegup semakin cepat ketika melihat rombongan tersebut berjalan menuju dirinya.
Warga ikut mendekat dari kejauhan.
Bu Mina bahkan berdiri di teras rumah sambil menutup mulut karena penasaran.
Pria yang membawa map berhenti di depan Pak Budi.
“Bapak Budi Santoso?”
“Iya, Pak. Saya.”
“Kami boleh bicara sebentar?”
Pak Budi mengangguk gugup lalu mempersilakan mereka masuk.
Begitu berada di dalam gubuk, pria tersebut mengamati ruangan kecil itu.
Namun beberapa detik kemudian, tatapannya mendadak berhenti.
Ia melihat foto yang tergantung di dinding.
Wajahnya langsung berubah.
Tanpa berkata apa-apa, pria itu berjalan cepat mendekati foto.
Ia mengangkat bingkai tersebut dengan kedua tangan.
Tangannya terlihat gemetar.
“Ya Tuhan…”
Semua orang terdiam.
Pria itu membalik bingkai, memperhatikan bagian belakangnya, kemudian kembali melihat foto.
Matanya membesar seolah baru saja menemukan sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap telah hilang.
Ia berbalik menatap Pak Budi.
“Pak Budi, dari mana Bapak mendapatkan foto ini?”
Nada suaranya membuat Pak Budi semakin gugup.
“Saya menemukannya di tempat sampah, Pak. Waktu itu ada truk membawa barang bekas dari sebuah rumah tua di Menteng.”
“Menteng?”
“Iya.”
Pria itu menelan ludah.
Pak Budi melanjutkan,
“Saya membawa foto itu pulang karena wajah perempuan ini sangat mirip dengan ibu saya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Pria tua berjas yang sejak tadi berdiri di belakang pengacara itu perlahan mendekat.
Matanya berkaca-kaca ketika melihat wajah Pak Budi.
“Siapa nama ibu Bapak?”
“Ratih.”
“Nama lengkapnya?”
Pak Budi berpikir sejenak.
“Setahu saya… Ratih Santoso. Tapi sejak kecil saya tidak pernah tahu banyak tentang keluarga ibu.”
Mendengar jawaban itu, pria tua tersebut langsung memejamkan mata.
Napasnya terdengar berat.
Sementara pengacara di sampingnya segera membuka map tebal yang ia bawa.
Beberapa dokumen dikeluarkan.
Ada foto lama.
Surat kelahiran.
Salinan dokumen keluarga.
Dan potongan surat kabar puluhan tahun lalu.
Pak Budi semakin tidak mengerti.
“Ada apa sebenarnya, Pak?”
Pengacara itu menatapnya serius.
Kemudian ia mengucapkan kalimat yang membuat seluruh tubuh Pak Budi terasa dingin.
“Pak Budi, perempuan dalam foto ini bukan sekadar mirip dengan ibu Bapak.”
Ia menunjuk foto tersebut.
“Perempuan ini memang ibu kandung Bapak.”
Pak Budi terdiam.
“Namanya Ratih Wijaya.”
Wajah Pak Budi berubah.
“Wijaya?”
Pengacara itu mengangguk.
“Nyonya Ratih Wijaya adalah putri keluarga Wijaya yang menghilang hampir tiga puluh tahun lalu.”
Pak Budi merasa telinganya berdenging.
Ia menoleh kepada Andi dan Rina yang berdiri di sudut ruangan sambil menggenggam tangan satu sama lain.
Pengacara itu kembali berbicara.
“Selama bertahun-tahun keluarga Wijaya mencari Nyonya Ratih dan keturunannya. Tetapi semua jejak terputus.”
Pak Budi hampir tidak sanggup berkata-kata.
“Apa hubungannya dengan saya?”
Pria tua berjas yang sejak tadi menahan tangis akhirnya melangkah maju.
Ia berdiri tepat di depan Pak Budi.
Dengan suara bergetar, ia berkata,
“Karena Ratih adalah kakak saya.”
Pak Budi mundur satu langkah.
Pria itu menatapnya seolah sedang melihat seseorang yang telah hilang selama puluhan tahun.
“Dan kalau benar Bapak adalah putranya…”
Ia berhenti sejenak.
“…maka Bapak adalah cucu kandung almarhum Hadi Wijaya, pendiri Mahendra Group.”
Pak Budi membeku.
Nama Mahendra Group bukan nama asing.
Bahkan orang seperti dirinya pernah melihat nama perusahaan itu di televisi, pusat perbelanjaan, proyek properti, hingga berita bisnis.
Namun Pak Budi tidak pernah membayangkan dirinya memiliki hubungan sedikit pun dengan keluarga sebesar itu.
Pengacara kemudian meletakkan sejumlah dokumen di atas meja kayu kecil.
“Kami sudah melakukan penelusuran awal. Tanggal lahir Bapak cocok. Nama ibu Bapak cocok. Lokasi tempat tinggalnya setelah meninggalkan keluarga juga cocok dengan catatan yang selama ini kami miliki.”
Ia menarik napas.
“Foto ini adalah salah satu bukti penting yang kami cari selama bertahun-tahun.”
Pak Budi masih sulit bernapas.
“Tapi… saya cuma pemulung, Pak.”
Pria tua itu menatapnya lama.
“Asal-usul seseorang tidak berubah hanya karena kehidupannya berubah.”
Pengacara kemudian berkata dengan tegas,
“Jika hasil pemeriksaan DNA mengonfirmasi semuanya, secara hukum Bapak adalah salah satu ahli waris utama keluarga Wijaya.”
Pak Budi terdiam.
Di luar rumah, bisikan warga semakin ramai.
Bu Mina bahkan berdiri terpaku dengan wajah pucat.
Beberapa hari sebelumnya ia menolak meminjamkan uang kepada Pak Budi.
Sekarang orang yang sama sedang diberi tahu bahwa dirinya mungkin menjadi pewaris keluarga miliarder.
Pak Budi memandangi foto ibunya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa senyum perempuan di dalam bingkai itu menyimpan sebuah kisah yang selama ini sengaja dikubur.
Namun ia belum tahu…
bahwa menjadi bagian dari keluarga Wijaya bukan berarti kehidupannya akan langsung berubah menjadi indah.
Karena tiga puluh tahun lalu, Ratih Wijaya tidak sekadar pergi dari rumah.
Ia melarikan diri.
Dan ada seseorang dalam keluarga itu yang sejak dulu berharap Ratih—beserta seluruh keturunannya—tidak pernah ditemukan kembali.
