“Siapa sebenarnya kamu?”
Pertanyaan Baskoro terdengar nyaris seperti bisikan.
Aku menatap pria yang selama empat tahun kupanggil suami itu. Beberapa menit lalu, dia masih berdiri tegak dengan wajah penuh kesombongan. Sekarang bahunya mulai turun, napasnya tidak teratur, dan tangan yang menggenggam ponsel bergetar tanpa bisa dia sembunyikan.
Aku belum sempat menjawab ketika bel rumah berbunyi.
Ibu Broto tersentak.
“Siapa lagi?”
Tak seorang pun menjawab.
Beberapa detik kemudian, kepala petugas keamanan kompleks muncul dari pintu yang sudah dibuka oleh asisten rumah tangga.
“Permisi, Pak Baskoro, Bu Broto. Ada Pak Hendra dan dua orang dari kantor hukum ingin bertemu dengan Ibu Kirana.”
Wajah Baskoro semakin pucat.
“Masuk,” kataku.
Pak Hendra berjalan ke ruang tengah bersama seorang perempuan berjas hitam dan seorang pria membawa tas dokumen. Dia membungkukkan kepala kepadaku.
“Madam Kirana.”
Sapaan itu seketika membuat wajah Ibu Broto menegang.
Pak Hendra meletakkan sebuah map cokelat tebal di atas meja.
“Dokumen yang Anda minta.”
Aku membukanya perlahan.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen asli, termasuk sertifikat rumah yang selama ini begitu dibanggakan keluarga Broto.
Aku mengambil sertifikat itu dan meletakkannya di atas meja tepat di hadapan Baskoro.
“Baca.”
Baskoro tidak bergerak.
“Katanya ini rumah ibumu, kan?”
Tangannya perlahan meraih sertifikat itu.
Aku melihat matanya bergerak cepat membaca setiap baris.
Kemudian tubuhnya kaku.
Nama pemilik yang tercetak pada sertifikat itu bukan nama Ibu Broto.
Bukan pula nama Baskoro.
Tetapi namaku.
Kirana Adiningrum.
Ibu Broto merebut dokumen itu.
“Ini palsu!”
Dia membolak-balik kertas tersebut dengan panik.
“Rumah ini dibeli Baskoro! Saya ikut memilih rumah ini! Saya yang menentukan furniturnya!”
Pengacara yang datang bersama Pak Hendra maju selangkah.
“Rumah ini dibeli secara tunai tiga tahun lalu melalui perusahaan pengelola aset milik Ibu Kirana. Semua dokumen transaksi, pembayaran pajak, dan pencatatan kepemilikan sudah lengkap.”
Ibu Broto menatapku seperti melihat hantu.
“Tidak mungkin.”
Aku tersenyum tipis.
“Justru itu masalah kalian.”
Aku menarik sebuah kursi dan duduk.
“Kalian terlalu sibuk meremehkanku sampai tidak pernah benar-benar bertanya siapa aku.”
Baskoro menggeleng perlahan.
“Tidak. Aku mengenalmu sebelum kita menikah. Kamu cuma desainer lepas.”
“Aku memang desainer.”
Aku tidak menyangkalnya.
“Aku suka desain. Aku suka bekerja tanpa membawa nama keluarga. Tapi itu bukan berarti aku tidak punya apa-apa.”
Aku mengambil dokumen lain.
“Ayahku, Adrian Adiningrum, mendirikan Adiningrum Capital dua puluh delapan tahun lalu.”
Baskoro membeku.
Nama itu jelas tidak asing baginya.
Adiningrum Capital adalah salah satu perusahaan investasi swasta terbesar yang beroperasi di Jakarta dan Singapura. Mereka jarang muncul di media, tetapi perusahaan-perusahaan teknologi mengenal nama itu dengan sangat baik.
Termasuk perusahaan Baskoro.
Aku melanjutkan.
“Setelah ayah meninggal, sebagian besar saham keluarga diwariskan kepadaku. Ibu menangani semuanya sampai aku cukup umur. Setelah Ibu meninggal empat tahun lalu, seluruh kendali aset keluarga berpindah kepadaku.”
Tatapan Baskoro jatuh pada foto ibuku yang pecah di lantai.
Wajahnya berubah.
“Jadi investor utama perusahaanku…”
“Aku.”
Satu kata itu seperti menghantam dadanya.
Baskoro mundur satu langkah.
Aku masih ingat ketika dia pertama kali bercerita tentang perusahaan teknologi kecilnya yang hampir bangkrut.
Saat itu kami belum menikah.
Baskoro bekerja keras. Aku menyukai ambisinya. Aku percaya dia berbeda dari keluarganya yang selalu memandang manusia berdasarkan uang.
Karena itu aku meminta Pak Hendra mempelajari perusahaannya.
Aku berinvestasi tanpa menggunakan namaku secara langsung.
Tidak sedikit.

Lebih dari empat puluh miliar rupiah selama tiga tahun.
Dana itu menyelamatkan perusahaan Baskoro dari kebangkrutan, membayar utang, merekrut insinyur, membangun kantor baru, bahkan membiayai ekspansi ke Surabaya dan Bali.
Baskoro selalu menganggap investor misterius itu percaya pada kejeniusannya.
Dan aku membiarkannya percaya.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?” tanyanya.
Ada luka dalam suaranya.
Namun kali ini aku tidak merasa iba.
“Karena aku ingin tahu apakah seseorang bisa mencintaiku tanpa tahu berapa nilai rekeningku.”
Aku menatapnya lama.
“Awalnya, aku pikir aku sudah menemukan orang itu.”
Baskoro menunduk.
Ibu Broto justru berteriak.
“Kalau memang semua itu benar, kenapa kamu menyembunyikannya? Kamu sengaja mempermalukan kami!”
Aku tertawa kecil.
“Mempermalukan?”
Aku menunjuk pecahan bingkai foto di lantai.
“Siapa yang menginjak foto ibu saya?”
Ibu Broto terdiam.
“Siapa yang selama tiga tahun memanggil saya perempuan miskin?”
Tidak ada jawaban.
“Siapa yang setiap bulan menerima seratus lima puluh juta rupiah untuk biaya hidup, lalu mengira uang itu berasal dari Baskoro?”
Wajah perempuan itu berubah semakin pucat.
Aku berdiri.
“Dana itu bukan hadiah untuk kalian.”
Aku mengeluarkan dokumen lain.
“Itu tunjangan keluarga yang aku berikan karena Baskoro bilang ibunya punya masalah keuangan setelah bisnis mendiang ayahnya gagal.”
Baskoro langsung menoleh kepada ibunya.
“Ibu bilang uang itu hasil investasi Ayah.”
Ibu Broto membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.
Aku menatap Baskoro.
“Ada hal lain yang belum kamu tahu.”
Aku memberikan satu laporan kepada Pak Hendra.
“Silakan.”
Pak Hendra membuka dokumen.
“Selama delapan belas bulan terakhir, terdapat transfer dana perusahaan ke tiga rekening pribadi yang terhubung dengan Ibu Broto. Totalnya sekitar enam miliar delapan ratus juta rupiah.”
Baskoro tersentak.
“Apa?”
“Sebagian dana berasal dari rekening operasional perusahaan,” lanjut Pak Hendra. “Tim audit kami menemukan transaksi tersebut saat mengevaluasi pendanaan tambahan.”
Baskoro mengambil laporan itu dengan tangan gemetar.
“Ibu?”
Ibu Broto mundur.
“Baskoro, dengarkan Ibu…”
“Enam miliar?”
Suara Baskoro pecah.
“Ibu ambil uang perusahaan?”
“Saya cuma pinjam!”
“Untuk apa?”
Perempuan itu terdiam.
Aku menjawab menggantikannya.
“Untuk menutup utang.”
Aku mengeluarkan beberapa foto dan dokumen.
“Ternyata gaya hidup keluarga Broto jauh lebih mahal daripada yang kalian akui. Investasi bodong, kredit mobil, utang kartu kredit, sampai pembelian apartemen untuk seseorang bernama Rendra.”
Baskoro membalik foto terakhir.
Seorang pria sekitar tiga puluh tahun berdiri di depan apartemen mewah di kawasan Kuningan.
Baskoro menatap ibunya.
“Siapa dia?”
Ibu Broto mulai menangis.
“Dia… adikmu.”
Ruangan mendadak terasa membeku.
Baskoro menatap ibunya seakan tidak memahami bahasa yang baru saja didengarnya.
“Adikku?”
Air mata Ibu Broto jatuh.
“Tiga puluh tahun lalu, sebelum Ibu menikah dengan ayahmu, Ibu punya anak. Kakekmu memaksa Ibu menyerahkannya kepada keluarga lain. Beberapa tahun lalu dia menemukan Ibu.”
Baskoro terduduk.
Semua kesombongan yang selama ini melekat dalam dirinya runtuh dalam satu sore.
“Tapi kenapa mencuri dari perusahaan?”
“Dia terlilit utang. Ibu cuma ingin membantu.”
“Dengan uang perusahaan?”
Baskoro membanting laporan ke meja.
“Perusahaan itu hampir tidak bisa membayar gaji bulan depan!”
Untuk pertama kalinya, kemarahan Baskoro tidak diarahkan kepadaku.
Namun semuanya sudah terlambat.
Aku berjalan ke arah pecahan foto ibuku.
Aku berjongkok, mengambil foto itu perlahan, kemudian membersihkan debu yang menempel pada permukaannya.
Sebagian wajah ibu tergores oleh pecahan kaca.
Dadaku terasa sesak.
Bukan karena harga bingkainya.
Melainkan karena itu adalah foto terakhir yang kami ambil bersama sebelum ibu meninggal.
Baskoro mendekat.
“Kirana…”
Aku berdiri.
“Kita selesai.”
Wajahnya langsung berubah.
“Apa?”
“Aku sudah menghubungi pengacara perceraian pagi tadi.”
“Kirana, tunggu.”
Dia meraih tanganku, tetapi aku menariknya.
“Aku salah. Aku tahu aku salah. Tapi kita bisa memperbaikinya.”
Aku menatap pria itu.
“Masalah kita bukan rumah.”
Matanya berkaca-kaca.
“Bukan juga perusahaan.”
Aku mengangkat foto ibuku.
“Masalah kita adalah ketika ibumu menginjak foto ini, kamu tidak bertanya apa yang terjadi. Kamu langsung memilih menghina istrimu.”
Baskoro tidak mampu menjawab.
“Aku bisa kehilangan rumah ini dan membelinya lagi. Aku bisa kehilangan puluhan miliar dan mendapatkannya kembali. Tapi aku tidak bisa hidup dengan seseorang yang menghargai manusia berdasarkan saldo rekening.”
Aku menarik napas.
“Seandainya hari ini aku benar-benar perempuan miskin seperti yang kalian kira, apakah kamu akan meminta maaf?”
Pertanyaan itu membuat Baskoro membeku.
Aku sudah mendapatkan jawabannya dari diamnya.
Pak Hendra kemudian menyerahkan surat kepada Ibu Broto.
“Sesuai instruksi pemilik properti, Ibu memiliki waktu tiga puluh hari untuk mengosongkan rumah.”
Ibu Broto langsung panik.
“Kirana!”
Untuk pertama kalinya, dia memanggil namaku tanpa nada merendahkan.
“Jangan lakukan ini. Kita keluarga.”
Aku memandangnya.
“Aneh.”
Aku tersenyum hambar.
“Tadi, ketika saya tidak punya apa-apa, saya bukan keluarga.”
Ibu Broto menangis.
“Maafkan Ibu.”
Aku tidak menjawab.
Aku berjalan menuju tangga untuk mengambil barang-barang pribadiku.
Baskoro mengikuti beberapa langkah di belakang.
“Kirana, kalau aku kehilangan perusahaan, ratusan pegawai bisa kehilangan pekerjaan.”
Aku berhenti.
Kalimat itu membuatku menoleh.
Baskoro mungkin telah mengecewakanku sebagai suami, tetapi ratusan orang yang bekerja di perusahaannya tidak bersalah.
“Aku tidak akan menghancurkan perusahaan.”
Wajah Baskoro menunjukkan sedikit harapan.
Namun kalimat berikutnya segera menghilangkannya.
“Adiningrum Capital akan mengambil alih saham sesuai perjanjian. Tim profesional akan menjaga perusahaan tetap berjalan.”
Baskoro menelan ludah.
“Lalu aku?”
“Kamu tetap memiliki saham sesuai porsi yang tersisa.”
Aku menatapnya.
“Tapi kamu tidak akan lagi menjadi CEO.”
Wajahnya seketika kosong.
“Aku membangun perusahaan itu.”
“Benar.”
Aku mengangguk.
“Lalu kamu membiarkan uang perusahaan mengalir tanpa pengawasan karena terlalu sibuk menikmati citra sebagai pengusaha sukses.”
Baskoro menunduk.
Untuk pertama kalinya, dia tidak membantah.
Aku pergi ke kamar dan memasukkan beberapa pakaian, dokumen, laptop, serta barang pribadi ke dalam koper.
Tak sampai dua puluh menit kemudian, aku kembali turun.
Ibu Broto masih duduk menangis di sofa.
Baskoro berdiri dekat pintu.
Aku berhenti di hadapannya.
Empat tahun pernikahan kami terasa begitu panjang sekaligus begitu singkat.
“Aku pernah benar-benar mencintaimu,” kataku.
Baskoro mengangguk sambil menahan air mata.
“Aku juga mencintaimu.”
“Mungkin.”
Aku tersenyum sedih.
“Tapi kadang cinta tidak cukup kalau rasa hormat sudah hilang.”
Aku melewati pintu rumah tanpa menoleh lagi.
Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi diputus.
Perusahaan Baskoro tidak bangkrut.
Setelah restrukturisasi, perusahaan itu justru berkembang lebih sehat. Auditor independen menemukan berbagai kebocoran lain yang sebelumnya tidak pernah diketahui Baskoro.
Baskoro menerima keputusan untuk mundur dari posisi CEO.
Belakangan aku mendengar dia memilih kembali bekerja sebagai kepala pengembangan produk di perusahaan yang dulu dia dirikan.
Anehnya, kehilangan jabatan justru mengubahnya.
Dia mulai menjalani hidup jauh lebih sederhana.
Sementara itu, Ibu Broto menjual hampir seluruh barang mewah yang dimilikinya untuk mengembalikan sebagian dana perusahaan.
Dia pindah ke rumah kecil di Bogor bersama Rendra.
Aku tidak pernah menuntutnya secara pidana setelah dana dikembalikan sesuai kesepakatan hukum. Bukan karena aku melupakan apa yang dia lakukan, tetapi karena aku tidak ingin hidupku terus terikat pada dendam.
Satu tahun setelah kejadian itu, aku menerima sebuah paket kecil di kantor.
Tidak ada barang mahal di dalamnya.
Hanya sebuah bingkai kayu sederhana.
Di dalam bingkai itu terdapat foto ibuku yang sudah direstorasi dengan sangat hati-hati.
Ada sebuah surat tulisan tangan dari Baskoro.
Dia menulis bahwa selama bertahun-tahun dia mengira kekayaan adalah bukti keberhasilan seseorang.
Hari ketika aku meninggalkan rumah membuatnya sadar bahwa seseorang bisa memiliki perusahaan, rumah mewah, mobil, dan jabatan, tetapi tetap menjadi manusia miskin jika tidak memiliki rasa hormat.
Di akhir surat, dia tidak meminta kami kembali bersama.
Dia hanya menulis satu kalimat.
Terima kasih karena dulu kamu mencintaiku ketika aku belum pantas mendapatkannya. Semoga suatu hari nanti aku bisa menjadi manusia yang lebih baik, meskipun bukan lagi untukmu.
Aku membaca surat itu dua kali.
Kemudian meletakkannya di laci.
Aku membawa bingkai foto ibu ke rumah baruku.
Rumah itu jauh lebih kecil daripada rumah mewah yang dulu ditempati keluarga Broto.
Namun aku menyukainya.
Di pagi hari, cahaya matahari masuk melalui jendela besar ruang kerja. Tidak ada teriakan. Tidak ada penghinaan. Tidak ada siapa pun yang harus kubuktikan salah.
Aku meletakkan foto ibu di meja dekat jendela.
Tatapan ibu dalam foto itu masih sama seperti dulu.
Hangat.
Tenang.
Seolah sedang mengingatkanku tentang sesuatu yang pernah dia katakan ketika aku masih remaja.
“Kirana, jangan pernah merasa perlu menunjukkan kekayaanmu agar dihargai orang. Biarkan orang memperlakukanmu sesuai isi hati mereka. Dari situ kamu akan tahu siapa yang pantas tetap berada dalam hidupmu.”
Dulu aku menganggap kalimat itu hanya nasihat seorang ibu.
Sekarang aku akhirnya mengerti.
Aku tidak pernah menyembunyikan kekayaan untuk mempermainkan siapa pun.
Aku menyembunyikannya karena ingin menemukan orang-orang yang mampu melihat harga diriku sebelum mengetahui harga asetku.
Dan ternyata, kehilangan sebuah pernikahan bukanlah hal terburuk yang pernah terjadi padaku.
Yang jauh lebih buruk adalah hidup bertahun-tahun bersama seseorang yang hanya akan menghormatimu setelah mengetahui betapa kayanya dirimu.
Aku menatap foto ibu sekali lagi, lalu tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa benar-benar pulang.
