“Karena Maya adalah istri sah saya.”
Kalimat itu jatuh seperti petir di tengah langit cerah.
Tak seorang pun bergerak.
Bahkan suara air mancur yang terus mengalir di belakangku tiba-tiba terasa begitu keras karena seluruh tamu membisu.
Aku melihat wajah Ayah berubah dalam hitungan detik. Dari merah akibat alkohol menjadi putih pucat tanpa darah. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Indah menatapku seolah baru saja melihat orang mati bangkit dari kuburnya.

“Apa?” suaranya nyaris berbisik.
Adrian merapatkan jasnya di tubuhku, kemudian merangkul bahuku agar aku tidak terus menggigil.
“Saya ulangi kalau kalian belum mendengar,” katanya tenang. “Maya adalah istri sah saya.”
Rizky melangkah mundur satu langkah.
“Tapi… Tuan Adrian belum pernah menikah. Semua media bisnis bilang Anda masih lajang.”
Adrian menoleh tajam.
“Saya tidak punya kewajiban mengumumkan kehidupan pribadi saya kepada media.”
Aku menundukkan kepala.
Pernikahan kami memang dirahasiakan.
Enam bulan sebelumnya, Adrian dan aku menikah sederhana di sebuah vila kecil milik keluarganya di Puncak. Hanya ada keluarga terdekat dari pihaknya, seorang penghulu, dua saksi, dan beberapa sahabat lama.
Aku sendiri yang meminta agar pernikahan itu tidak diumumkan.
Bukan karena aku malu.
Aku hanya ingin tahu satu hal.
Apakah keluargaku suatu hari akan menerima diriku sebagai Maya, bukan sebagai istri seorang miliarder?
Ternyata malam ini aku mendapatkan jawabannya.
Dan jawabannya lebih menyakitkan dari yang kubayangkan.
Ayah akhirnya berhasil mengeluarkan suara.
“Maya… kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Aku menatapnya.
Pertanyaan itu hampir membuatku tertawa.
“Bapak pernah bertanya?”
Wajahnya menegang.
Aku melanjutkan, “Setiap kali aku pulang, Bapak cuma bertanya berapa gajiku, kapan aku bisa membantu perusahaan, atau kapan aku akan menemukan laki-laki kaya. Bapak tidak pernah bertanya apakah aku bahagia.”
Ibu akhirnya berani menatapku.
“Maya, jangan bicara begitu di depan orang banyak.”
Aku tersenyum getir.
“Kenapa, Bu? Tadi waktu aku didorong ke kolam dan ditertawakan ratusan orang, Ibu tidak takut aku dipermalukan di depan orang banyak.”
Tubuh Ibu membeku.
Air mataku akhirnya jatuh, tapi aku segera menghapusnya.
Aku tidak ingin menangis lagi untuk orang-orang yang berkali-kali memilih menyakitiku.
Adrian menggenggam tanganku.
“Kita pulang.”
Namun sebelum kami sempat melangkah, Ayah buru-buru berdiri menghalangi.
“Tunggu, Tuan Adrian.”
Nada suaranya berubah total. Tak ada lagi kesombongan yang tadi memenuhi seluruh taman. Sekarang suaranya hampir memohon.
“Saya rasa terjadi kesalahpahaman.”
Adrian menatapnya tanpa ekspresi.
“Kesalahpahaman?”
Ayah memaksakan senyum.
“Saya cuma bercanda dengan Maya. Namanya juga hubungan ayah dan anak. Kadang kami memang sedikit kasar.”
Adrian menoleh ke kolam.
“Anda mendorong istri saya ke dalam air di tengah udara Lembang yang dingin.”
Lalu ia menatap petugas keamanan yang tadi hendak menyeretku.
“Setelah itu Anda memerintahkan orang mengusirnya.”
Ayah kehilangan kata-kata.
“Tuan Adrian, saya…”
“Tidak perlu menjelaskan kepada saya.”
Suara Adrian rendah, tetapi cukup membuat suasana menjadi semakin menekan.
“Jelaskan kepada Maya.”
Ayah menatapku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat ada ketakutan dalam matanya ketika berhadapan denganku.
“Maya, Ayah minta maaf.”
Aku diam.
“Ayah memang kebablasan.”
Aku masih diam.
Ia mendekat.
“Maya, kamu tahu kondisi perusahaan kita sekarang sedang sulit. Ayah stres.”
Akhirnya aku mengerti.
Bahkan permintaan maaf itu bukan tentang aku.
Itu tentang perusahaan.
Adrian rupanya memahami hal yang sama.
Ia mengeluarkan ponselnya.
“Pak Damar.”
Salah satu pria berjas hitam yang berdiri beberapa meter dari kami maju.
“Ya, Pak.”
“Batalkan pertemuan investasi dengan Hendra Pratama Group hari Senin.”
Ayah tersentak.
“Apa?”
“Batalkan seluruh proses due diligence.”
Wajah Rizky langsung berubah.
Ayah buru-buru meraih lengan Adrian, tetapi seorang pengawal bergerak cepat menghalanginya.
“Tuan Adrian, jangan! Anda tidak mengerti. Kami sudah tiga bulan mempersiapkan kerja sama itu.”
“Saya sangat mengerti.”
“Tapi tanpa investasi Jayaningrat, perusahaan kami bisa bangkrut!”
Suasana semakin sunyi.
Beberapa investor saling berpandangan.
Adrian menjawab datar, “Itu bukan masalah saya.”
Ayah menunjukku.
“Karena masalah keluarga kecil begini Anda mau menghancurkan ratusan pegawai?”
Saat itulah aku maju.
“Jangan.”
Adrian menatapku.
Aku menarik napas panjang.
“Jangan batalkan investasi hanya karena mereka menyakitiku.”
Mata Ayah langsung berbinar penuh harapan.
Namun aku belum selesai.
“Aku tidak mau ratusan pegawai kehilangan pekerjaan karena kesalahan keluarga kita.”
Aku melihat wajah Adrian melunak.
Kemudian aku menatap Ayah.
“Tapi investasi itu juga jangan diberikan kepada Bapak.”
Harapan di wajahnya runtuh lagi.
Aku menoleh pada Adrian.
“Kalau memang perusahaan itu masih layak diselamatkan, selamatkan para pekerjanya. Bukan manajemennya.”
Adrian terdiam beberapa detik.
Kemudian ia mengangguk kepada Pak Damar.
“Lanjutkan audit. Tapi ubah skema.”
Pak Damar mengerti.
“Kami akan kaji akuisisi langsung.”
Ayah membelalak.
“Ak… akuisisi?”
Adrian menjawab, “Kalau perusahaan Anda memang punya aset dan bisnis yang masih sehat, Jayaningrat Group akan mengambil alih operasionalnya. Pegawai dipertahankan sebisa mungkin. Manajemen lama diganti.”
Ayah hampir kehilangan keseimbangan.
“Itu perusahaan keluarga saya!”
“Perusahaan yang sahamnya sudah dijaminkan ke tiga bank berbeda,” kata Adrian.
Kali ini wajah Ayah benar-benar berubah.
Aku pun terkejut.
“Apa maksudmu?”
Adrian memandangku sebentar.
“Aku sebenarnya ingin membicarakan ini setelah acara.”
Ia mengambil sebuah map tipis dari tangan Pak Damar.
Ternyata selama beberapa minggu terakhir timnya sedang melakukan pemeriksaan atas perusahaan Ayah sebagai bagian dari rencana investasi.
Dan mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada sekadar kerugian bisnis.
Beberapa aset perusahaan telah dijaminkan lebih dari sekali.
Sejumlah laporan keuangan dimanipulasi.
Dan lebih mengejutkan lagi, sebagian dana perusahaan ternyata dialirkan ke perusahaan cangkang milik seseorang yang selama ini sangat dekat dengan keluarga kami.
Nama pemiliknya tercetak jelas di halaman terakhir.
Rizky Mahendra.
Indah membaca nama itu dari kejauhan.
Wajahnya seketika berubah.
“Rizky?”
Suaminya tidak menjawab.
“Rizky, ini apa?”
Rizky mulai mundur.
“Aku bisa jelaskan.”
Indah mencengkeram lengannya.
“Kenapa nama kamu ada di situ?”
Ayah merampas lembar dokumen dari tangan Pak Damar.
Matanya membaca angka demi angka.
Kemudian tangannya gemetar.
“Delapan belas miliar?”
Rizky menelan ludah.
Ternyata pernikahan yang selama ini dibanggakan Ayah bukanlah penyelamat bisnis keluarga.
Justru sebaliknya.
Rizky mendekati Indah karena mengetahui perusahaan kami sedang lemah. Melalui sejumlah kesepakatan tersembunyi dengan salah satu direktur keuangan, ia perlahan memindahkan aset-aset perusahaan menuju perusahaan miliknya.
Pernikahan itu dirancang agar proses tersebut terlihat seperti kerja sama antar keluarga.
Indah menatap suaminya seolah dunianya runtuh.
“Kamu menikahiku karena perusahaan Papa?”
Rizky menggeleng cepat.
“Tidak begitu.”
“Jawab!”
Suara Indah pecah.
“Apa kamu pernah mencintaiku?”
Rizky terdiam terlalu lama.
Dan diam itu menjadi jawaban.
Indah menampar wajahnya.
Suara tamparan menggema di seluruh taman.
Untuk pertama kalinya malam itu, tak ada seorang pun yang tertawa.
Ayah jatuh terduduk di kursi.
Semua rencana yang dibanggakannya beberapa menit sebelumnya hancur di depan mata.
Aku melihatnya, tetapi anehnya aku tidak merasa puas.
Aku hanya merasa lelah.
Sangat lelah.
Adrian menyentuh punggung tanganku.
“Kamu kedinginan.”
Baru saat itu aku sadar tubuhku masih gemetar.
Kami berbalik hendak pergi.
Namun suara Ibu menghentikanku.
“Maya.”
Aku menoleh.
Ibu berdiri dengan air mata mengalir di wajahnya.
“Maafkan Ibu.”
Aku menatap perempuan yang melahirkanku itu.
Selama bertahun-tahun aku selalu berharap mendengar dua kata tersebut.
Tetapi ketika akhirnya datang, rasanya tidak seperti yang kubayangkan.
“Ibu tahu Ayah sering keterlaluan,” katanya. “Tapi Ibu selalu takut melawan.”
Aku mengangguk perlahan.
“Aku tahu.”
Ibu terlihat sedikit lega.
Namun kemudian aku melanjutkan.
“Tapi ketakutan Ibu tetap membuatku terluka.”
Ia menangis semakin keras.
“Aku bisa memaafkan Ibu suatu hari nanti. Tapi bukan berarti semuanya langsung kembali seperti dulu.”
Aku menggenggam tangan Adrian.
“Aku perlu belajar hidup tanpa terus meminta cinta dari orang yang tidak tahu cara memberikannya.”
Kami meninggalkan pesta itu malam itu.
Tak ada adegan kemenangan.
Tak ada tepuk tangan.
Hanya suara langkah kaki kami melewati karpet merah yang beberapa jam sebelumnya terasa seperti jalan menuju tempat penghinaan.
Di dalam mobil, setelah pintunya tertutup, aku akhirnya menangis.
Bukan karena Ayah.
Bukan karena Indah.
Bukan karena ratusan tamu.
Aku menangis karena selama bertahun-tahun aku mengira ada sesuatu yang salah pada diriku.
Adrian tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya memelukku sampai tangisku mereda.
Enam bulan kemudian, Hendra Pratama Group resmi diambil alih melalui proses restrukturisasi.
Tidak ada pesta besar.
Tidak ada konferensi pers mewah.
Sebagian besar pegawai tetap bekerja.
Ayah kehilangan jabatannya sebagai direktur utama setelah audit menemukan kelalaian berat dalam pengelolaan perusahaan. Ia tidak masuk penjara karena tidak terbukti ikut menikmati penggelapan dana, tetapi hampir seluruh aset pribadinya harus dijual untuk menutup kewajiban perusahaan.
Rizky tidak seberuntung itu.
Bukti transfer dan dokumen palsu akhirnya membawanya ke proses hukum.
Indah menggugat cerai.
Beberapa bulan setelah skandal tersebut, ia datang menemuiku di sebuah kafe kecil di Bandung.
Tidak ada gaun mewah.
Tidak ada perhiasan mahal.
Ia hanya memakai kemeja putih sederhana.
Untuk beberapa menit kami duduk tanpa bicara.
Kemudian Indah berkata, “Aku minta maaf.”
Aku menatapnya.
“Aku selalu iri sama kamu.”
Aku hampir tertawa karena terdengar mustahil.
“Kamu?”
Ia mengangguk.
“Papa selalu memujiku, tapi sebenarnya aku hidup untuk menyenangkan dia. Aku harus menikah dengan orang yang dianggap berguna. Harus datang ke acara tertentu. Harus berteman dengan orang tertentu.”
Ia mengusap matanya.
“Sementara kamu berani bilang tidak.”
Aku baru memahami sesuatu.
Ternyata kami sama-sama menjadi korban dari rumah yang sama.
Hanya saja luka kami membentuk kami menjadi manusia yang berbeda.
Aku memilih menjauh.
Indah memilih meniru orang yang menyakitinya.
“Aku belum bisa melupakan semuanya,” kataku.
“Aku tahu.”
“Tapi aku tidak ingin membencimu selamanya.”
Indah menangis.
Untuk pertama kali sejak kecil, kami berpelukan bukan untuk kamera keluarga.
Tidak ada fotografer.
Tidak ada tamu.
Hanya dua saudara perempuan yang akhirnya mengakui bahwa kami sama-sama terluka.
Setahun setelah malam pernikahan itu, Adrian dan aku mengadakan resepsi kecil.
Bukan di hotel bintang lima.
Bukan di resort mewah.
Kami memilih sebuah taman sederhana di Bandung.
Tamu kami tidak sampai seratus orang.
Beberapa adalah teman kerja, beberapa keluarga Adrian, beberapa pegawai lama yang kukenal sejak kecil.
Ibu datang.
Indah juga datang.
Ayah tidak.
Ia mengirimkan sebuah kotak kecil melalui kurir.
Di dalamnya ada sepatu hak tinggi hijau.
Mirip dengan sepatu yang hilang di dasar kolam malam itu.
Ada secarik kertas.
Tulisan tangan Ayah hanya terdiri dari satu kalimat.
Ayah tidak tahu bagaimana menjadi ayah yang baik, tetapi Ayah sedang belajar.
Aku membaca surat itu berkali-kali.
Kemudian aku menyimpannya.
Aku belum tahu apakah suatu hari hubungan kami akan pulih.
Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus buru-buru memaafkan.
Adrian menghampiriku dari belakang.
“Kamu baik-baik saja?”
Aku mengangguk.
Lalu aku melihat taman kecil tempat orang-orang yang benar-benar menyayangiku berkumpul.
Dulu aku mengira kemenangan terbesar dalam hidupku adalah ketika Adrian datang ke pesta itu, membela diriku di depan ratusan orang dan mengungkapkan bahwa aku adalah istrinya.
Ternyata aku salah.
Kemenangan terbesarku bukan karena seorang miliarder memilihku.
Bukan pula karena keluarga yang pernah menghinaku akhirnya kehilangan kekayaan mereka.
Kemenangan terbesarku adalah saat aku berhenti mengukur nilai diriku dari cara mereka memperlakukanku.
Aku akhirnya memahami sesuatu yang seharusnya kupahami sejak lama.
Keluarga memang bisa menjadi tempat kita dilahirkan.
Namun rumah adalah tempat di mana kita tidak perlu merendahkan diri agar pantas dicintai.
Aku menatap Adrian dan tersenyum.
Kemudian, tanpa takut pada tatapan siapa pun, aku menggenggam tangannya dan berjalan menuju orang-orang yang kini kusebut keluarga.
