“Aku mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana Ayahku diperlakukan di rumahku sendiri.”
Kalimat itu membuat ruang tamu mendadak sunyi.
Ibu Lydia tidak langsung menjawab. Jemarinya yang memegang gelas jus tampak kaku. Beberapa detik kemudian, ia mencoba tersenyum, tetapi senyum itu terlihat dipaksakan.
“Citra, kamu salah paham,” katanya cepat. “Ibu cuma menyuruh Pak Surya membersihkan kuah yang dia tumpahkan. Tidak lebih.”
Aku menatap ember kecil di lantai, lalu kedua lutut Ayah yang memerah.
“Membersihkan kuah?”
“Iya.”
“Dengan berlutut selama entah berapa lama?”
Ibu Lydia menarik napas panjang.
“Ya bagaimana lagi? Yang menumpahkan kan dia sendiri.”
Aku hampir tertawa mendengarnya, tetapi yang keluar justru suara dingin.
“Dan soal bau kampung? Bau orang miskin? Sofa yang katanya lebih mahal daripada penghasilan Ayah selama bertahun-tahun?”
Wajah Ibu Lydia berubah.
Ayah buru-buru memegang lenganku.
“Sudahlah, Nak.”
Aku menoleh.
Ayah menggeleng pelan.
“Jangan bertengkar karena Ayah. Ayah memang tidak sengaja menumpahkan sayur.”
Dadaku semakin sesak.
Bahkan setelah diperlakukan seperti itu, Ayah masih berusaha melindungi orang yang menghinanya.
“Ayah sudah berapa lama disuruh seperti ini?”
Ayah terdiam.
“Ayah.”
“Tidak apa-apa.”
Jawaban itu justru membuatku semakin curiga.
Aku menatap Ibu Lydia.
“Berapa lama?”
Perempuan itu mendecakkan lidah.
“Jangan dramatis, Citra. Ibu tidak menjadikan ayahmu pembantu.”
Aku mengeluarkan ponsel dari tas.
“Ibu bilang teman arisan akan datang sore ini, kan?”
“Iya, memang kenapa?”
“Bagus.”
Aku mengetik sesuatu.
“Karena sebelum mereka datang, Ibu punya waktu untuk mengemasi barang-barang.”
Ibu Lydia menatapku seolah tidak memahami perkataanku.
“Maksudmu?”
“Ibu keluar dari rumah ini hari ini.”
Wajahnya langsung menegang.
“Citra!”
Ayah tersentak.
Aku tetap berdiri tegak.
“Ibu dengar sendiri.”
“Kamu mengusir ibu mertuamu hanya karena masalah kecil seperti ini?”
Aku menoleh pada Ayah yang masih berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk.
“Bagi Ibu mungkin kecil.”
Aku kembali memandangnya.
“Bagi saya, martabat ayah saya bukan masalah kecil.”
Ibu Lydia meletakkan gelasnya dengan keras di meja.
“Rumah ini juga rumah Rendra!”
“Nanti biar Rendra yang bicara dengan saya.”
Seolah dipanggil oleh namanya sendiri, beberapa saat kemudian terdengar suara mobil memasuki garasi.
Pintu samping terbuka.
Rendra masuk sambil membawa tas laptop.
“Citra?”
Ia terlihat terkejut melihatku.
“Kamu pulang?”
Kemudian pandangannya berpindah pada Ayah, ember, kain lap, dan wajah ibunya yang merah padam.
“Ada apa ini?”
Ibu Lydia langsung berjalan ke arahnya.
“Rendra, lihat istrimu! Baru pulang langsung mengusir Ibu!”
Rendra mengerutkan dahi.
“Mengusir?”
Aku tidak memberinya kesempatan menerima versi cerita dari ibunya.
“Aku pulang dan melihat Ayah berlutut membersihkan lantai sambil dihina bau kampung dan bau orang miskin oleh Ibu.”
Rendra menatap ibunya.
“Ma?”
“Jangan percaya begitu saja,” sahut Ibu Lydia. “Pak Surya menumpahkan makanan. Ibu hanya menyuruhnya bertanggung jawab.”
Rendra terdiam.
Aku memperhatikannya.
Ada sesuatu dalam ekspresinya yang tidak kusukai.
Bukan keterkejutan.
Lebih seperti ketidaknyamanan karena rahasia yang akhirnya terbongkar.
“Rendra.”
Aku melangkah mendekat.
“Kamu tahu?”
Ia langsung menatapku.
“Tahu apa?”
“Ayah diperlakukan seperti ini.”
“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.
Aku menatapnya lama.
“Aku tanya sekali lagi.”
Rendra mengusap wajah.
“Citra, sebaiknya kita jangan membesar-besarkan.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
“Jadi kamu tahu.”
“Bukan begitu.”
“Kalau kamu tidak tahu, seharusnya kalimat pertama yang keluar dari mulutmu adalah menanyakan apakah Ayah baik-baik saja.”
Rendra terdiam.
Ibu Lydia segera menyela.
“Rendra bekerja. Mana mungkin dia mengurus hal-hal rumah seperti ini?”
Aku mengangguk perlahan.
Kemudian sesuatu terlintas di pikiranku.
Aku menoleh pada Ayah.
“Ayah, kamar Ayah di mana?”
Ayah tampak bingung.
“Kamar?”
“Iya. Waktu Ayah datang, aku sudah minta Mbak Rini menyiapkan kamar tamu di lantai bawah supaya Ayah tidak perlu naik tangga.”
Ayah menunduk.
Aku langsung tahu jawabannya tidak akan menyenangkan.
“Ayah tidur di mana?”
“Citra, sudahlah.”
“Ayah.”
Dengan suara hampir berbisik, beliau menjawab.
“Di kamar belakang.”
“Kamar belakang yang mana?”
Ayah tak menjawab.
Aku berjalan cepat menuju area servis.
Rendra mengejarku.
“Citra, jangan sekarang.”
Aku tidak peduli.
Begitu membuka pintu kecil dekat ruang cuci, tubuhku kembali membeku.
Ruangan itu bukan kamar.
Itu gudang.
Di dalamnya ada kardus, koper lama, vacuum cleaner, rak sepatu, dan kasur lipat tipis di lantai.
Di atas kasur itu tergeletak tas kain milik Ayah.
Aku mengenal tas itu.
Tas yang selalu dibawanya ke mana-mana selama bertahun-tahun.
Di sampingnya ada botol minyak angin dan obat tekanan darah.
Aku berbalik.
“Siapa yang menyuruh Ayah tidur di sini?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku melihat Rendra.
“Siapa?”
Rendra menunduk.
“Ibu bilang kamar tamu dibutuhkan.”
“Untuk apa?”
Ibu Lydia yang berdiri beberapa langkah di belakang kami menjawab tanpa rasa bersalah.
“Teman Ibu kadang menginap.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Jadi Ayah saya yang berusia 70 tahun tidur di gudang agar teman arisan Ibu bisa memakai kamar tamu?”
“Itu bukan gudang. Itu kamar servis.”
Aku tertawa pendek.
“Tidak ada jendela.”
“Pak Surya bilang tidak masalah.”
Aku menoleh pada Ayah.
Beliau hanya menatap lantai.
Saat itu aku menyadari sesuatu.
“Ayah, kenapa Ayah tidak menelepon aku?”
Ayah tersenyum tipis.
Senyum yang membuat hatiku justru semakin sakit.
“Kamu sedang bekerja jauh. Ayah tidak mau mengganggu.”
“Tapi Ayah bisa bilang.”
“Kamu sudah capek mencari uang. Masa masalah seperti begini Ayah bebani juga?”
Mataku kembali basah.
Rendra mencoba mendekat.
“Cit, kita bisa bereskan ini.”
Aku mengangkat tangan.
“Jangan sentuh aku dulu.”
Ia berhenti.
Aku menatap suamiku yang sudah lima tahun hidup bersamaku.
Selama ini aku selalu menganggapnya lelaki baik.
Tidak sempurna, tetapi baik.
Namun saat itu aku mulai menyadari bahwa ada jenis pengkhianatan yang tidak membutuhkan perselingkuhan atau kebohongan besar.
Kadang pengkhianatan terjadi ketika seseorang melihat ketidakadilan dan memilih diam.
“Aku pernah bilang apa waktu Ayah mau datang?”
Rendra menutup mata sesaat.
“Citra.”
“Aku bilang perlakukan Ayah seperti orang tuamu sendiri.”
“Iya.”
“Kalau ibumu dipaksa tidur di gudang oleh ayahku, apa kamu akan bilang jangan membesar-besarkan?”
Wajahnya langsung berubah.
Ia tidak mampu menjawab.
Aku kembali ke ruang tamu.
Kemudian aku menelepon seseorang.
“Halo, Pak Dimas. Tolong datang ke rumah sekarang.”
Rendra menatapku.
“Siapa Pak Dimas?”
“Pengacara.”
Ibu Lydia tertawa sinis.
“Pengacara? Kamu mau melaporkan Ibu karena menyuruh orang mengepel?”
Aku memasukkan ponsel ke tas.
“Bukan.”
Aku menatapnya tenang.
“Saya hanya ingin memastikan tidak ada kebingungan soal siapa pemilik rumah ini.”
Wajah Rendra berubah pucat.
Ibu Lydia mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Aku berjalan menuju lemari kecil di ruang kerja.
Di dalam brankas, tersimpan sertifikat rumah.
Aku membawanya keluar dan meletakkannya di meja.
“Rumah ini dibeli dua tahun sebelum aku menikah dengan Rendra.”
Aku membuka dokumennya.
“Atas namaku.”
Ibu Lydia terdiam.
“Renovasi terakhir juga memakai uangku.”
Aku menatap Rendra.
“Termasuk biaya hidup rumah ini.”
Rendra menghela napas.
“Citra, jangan mempermalukan aku di depan orang tua.”
“Aku tidak sedang mempermalukanmu.”
Aku menunjuk Ayah.
“Yang dipermalukan adalah dia.”
Saat itulah bel pintu berbunyi.
Kupikir Pak Dimas sudah datang.
Ternyata bukan.
Empat perempuan berpakaian rapi berdiri di depan pintu sambil membawa tas bermerek.
Teman-teman arisan Ibu Lydia.
“Lydia!”
Salah satu dari mereka tersenyum lebar.
“Kami lebih cepat!”
Wajah Ibu Lydia benar-benar kehilangan warna.
Aku menatapnya.
Ironis sekali.
Beberapa menit sebelumnya ia menghina Ayah karena takut teman-temannya mencium bau kampung.
Sekarang justru teman-temannya datang tepat ketika seluruh kepalsuannya terbongkar.
“Masuk, Tante,” kataku.
Ibu Lydia langsung panik.
“Tidak usah!”
Aku tersenyum tipis.
“Kenapa? Bukankah Ibu sudah meminta Ayah membersihkan lantai supaya rumah siap menerima mereka?”
Suasana berubah canggung.
Para tamu saling pandang.
Salah satu dari mereka melihat ember di tengah ruang tamu.
“Pak ini siapa?”
Aku berdiri di samping Ayah.
“Ini ayah kandung saya, Pak Surya.”
Wanita itu tersenyum sopan.
“Oh, ayahnya Citra.”
Aku mengangguk.
“Yang tadi diminta Ibu Lydia berlutut mengepel lantai karena katanya bau kampung.”
Semua orang terdiam.
“Citra!” bentak Ibu Lydia.
“Apa? Saya hanya menjelaskan.”
Wajah perempuan-perempuan itu berubah.
Salah satunya perlahan meletakkan tasnya.
“Lydia, kamu menyuruh besanmu mengepel?”
“Bukan begitu!”
Namun keadaan sudah tidak bisa dikendalikan.
Pak Dimas akhirnya tiba beberapa menit kemudian.
Aku memintanya memastikan barang-barang pribadi Ibu Lydia dikemas dan dikirim ke rumahnya sendiri.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada keributan fisik.
Aku hanya membuat batas yang selama ini terlalu longgar menjadi jelas.
Ibu Lydia menangis.
Kemudian marah.
Kemudian menuduhku durhaka.
Terakhir, ia menunjuk Ayah.
“Semua ini gara-gara dia!”
Aku langsung berdiri.
“Jangan pernah mengatakan itu lagi.”
Suasana kembali senyap.
“Semua ini terjadi bukan karena Ayah.”
Aku menatapnya tajam.
“Semua ini terjadi karena cara Ibu memperlakukan manusia ketika merasa lebih tinggi.”
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Ibu Lydia tidak mampu membalas.
Malam itu, setelah rumah kembali sepi, aku membawa Ayah ke rumah sakit.
Dokter mengatakan lututnya mengalami peradangan ringan karena terlalu lama menahan tekanan.
Tidak berbahaya.
Tetapi aku tetap merasa bersalah.
Di perjalanan pulang, Ayah duduk di sebelahku.
“Citra.”
“Iya, Yah?”
“Jangan benci suamimu karena Ayah.”
Aku menggenggam setir lebih erat.
“Ayah masih membelanya?”
“Bukan membela.”
Ayah menatap keluar jendela.
“Orang kadang diam bukan karena jahat. Kadang karena lemah.”
Aku terdiam.
“Tapi kelemahan yang dibiarkan terlalu lama bisa menyakiti orang lain juga.”
Aku menoleh sebentar.
Ayah tersenyum.
“Kamu yang putuskan hidupmu. Ayah cuma tidak mau keputusanmu lahir dari kemarahan.”
Sesampainya di rumah, Rendra masih menunggu.
Ia duduk sendirian di ruang tamu.
Begitu melihat kami, ia berdiri.
“Ayah.”
Pak Surya berhenti.
Untuk beberapa detik Rendra tidak mengatakan apa-apa.
Kemudian sesuatu yang sama sekali tidak kuduga terjadi.
Rendra berlutut.
Bukan karena diperintah.
Bukan untuk merendahkan dirinya.
Ia berlutut di depan Ayah dan menundukkan kepala.
“Maafkan saya.”
Ayah terkejut.
“Rendra, berdiri.”
Namun Rendra tetap di sana.
“Saya tahu Mama beberapa kali bicara kasar kepada Ayah.”
Aku membeku.
“Aku tahu Ayah dipindahkan dari kamar tamu.”
Suara Rendra pecah.
“Tapi aku diam karena setiap kali aku menegur Mama, dia selalu bilang aku berubah sejak menikah.”
Ia menatapku.
“Aku takut konflik.”
Air matanya mulai jatuh.
“Dan karena aku takut konflik, aku membiarkan orang lain diperlakukan tidak adil.”
Pak Surya memegang bahunya.
“Berdiri.”
Rendra menurut.
Ayah menatapnya lama.
“Laki-laki tidak dinilai dari seberapa keras suaranya.”
Beliau menepuk dada Rendra pelan.
“Tapi dari apakah dia berani berdiri di tempat yang benar ketika orang yang salah adalah keluarganya sendiri.”
Rendra menangis.
Aku juga.
Namun aku belum langsung memaafkannya.
Kepercayaan tidak pulih hanya karena satu permintaan maaf.
Selama beberapa bulan berikutnya, Rendra benar-benar berubah.
Ia mengikuti konseling pernikahan bersamaku.
Ia berhenti memberikan akses bebas kepada ibunya untuk datang tanpa izin.
Ia belajar mengatakan tidak.
Sementara itu, Ibu Lydia tidak berbicara denganku hampir dua bulan.
Sampai suatu sore, sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Aku membuka pintu.
Ibu Lydia berdiri sendirian.
Tidak ada tas mahal.
Tidak ada teman arisan.
Tangannya membawa sebuah wadah makanan sederhana.
“Ada Pak Surya?”
Aku menatapnya curiga.
Ayah yang mendengar suara kami keluar dari ruang keluarga.
Begitu melihatnya, Ibu Lydia terlihat gugup.
Untuk pertama kalinya, aku melihat perempuan itu kehilangan seluruh kesombongannya.
“Pak Surya.”
Ayah mendekat.
Ibu Lydia menunduk.
“Saya datang bukan untuk minta dimaafkan langsung.”
Ia menarik napas.
“Saya cuma ingin bilang saya malu.”
Air mata menggenang di matanya.
“Saya selama ini membanggakan rumah yang bukan milik saya, uang yang bukan hasil kerja saya, bahkan status anak saya.”
Ia menatap Ayah.
“Tapi saya menghina Bapak yang justru membesarkan seorang anak dengan tangan sendiri sampai berhasil.”
Ayah diam.
“Saya kira kemiskinan itu memalukan.”
Suara Ibu Lydia bergetar.
“Ternyata yang memalukan adalah cara saya memperlakukan orang.”
Ayah tersenyum tipis.
Kemudian ia menerima wadah makanan dari tangannya.
“Masuklah.”
Aku terkejut.
“Ayah?”
Ayah menoleh padaku.
“Kalau orang salah tidak diberi kesempatan berubah, untuk apa kita bicara soal maaf?”
Aku tidak langsung setuju.
Tetapi aku membuka pintu lebih lebar.
Hari itu kami duduk bersama.
Bukan sebagai keluarga sempurna.
Tidak ada keluarga yang sempurna.
Namun setidaknya, untuk pertama kalinya, semua orang duduk di tempat yang sama tanpa merasa lebih tinggi daripada yang lain.
Dan ada satu hal yang tidak pernah kulupakan sejak hari itu.
Rumah megah tidak pernah membuat seseorang menjadi terhormat.
Mobil mahal, jabatan tinggi, pendidikan, atau rekening bank juga tidak.
Sebab ukuran paling sederhana dari martabat seseorang justru terlihat dari bagaimana ia memperlakukan manusia yang dianggap tidak punya apa-apa.
Beberapa bulan kemudian Ayah kembali ke desa.
Sebelum naik mobil, beliau memelukku.
“Ayah bangga sama kamu.”
Aku tersenyum sambil menahan tangis.
“Karena aku membela Ayah?”
Ayah menggeleng.
“Bukan.”
Beliau menatap rumah besar di belakangku.
“Ayah bangga karena setelah punya semuanya, kamu masih ingat dari mana kamu berasal.”
Kemudian Ayah menggenggam tanganku.
“Jangan pernah malu dengan bau tanah, Nak.”
Aku terdiam.
Ayah tersenyum.
“Karena dari tanah itulah dulu Ayah menanam padi supaya kamu bisa sekolah.”
Air mataku langsung jatuh.
Dan sejak hari itu, setiap kali mencium aroma tanah setelah hujan, aku tidak pernah lagi menganggapnya sebagai bau kampung.
Bagiku, itu adalah aroma pengorbanan.
Aroma rumah.
Dan aroma seorang ayah yang dengan tangan kasarnya telah mengantarkan putrinya menuju kehidupan yang jauh lebih tinggi tanpa pernah sekalipun meminta dirinya dihormati.
