Pesan dari Indah berhenti tepat pada tiga titik yang membuat napasku tercekat.
Ternyata bukan cuma kamu yang dibohongi oleh Aditya, tapi dia sedang merencanakan mengambil uang dua miliar rupiah atas namamu.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Dua miliar rupiah.

Tanganku mendadak dingin. Aku menatap cincin berlian di dalam kotak beludru merah, lalu kartu bertuliskan tangan Aditya yang tadi terasa seperti pisau menancap di dada.
Setelah semua urusan harta dan aset atas nama Maya selesai aku alihkan.
Aku langsung menelepon nomor Indah.
Telepon diangkat sebelum dering kedua selesai.
“Maya?”
Suara perempuan itu terdengar berbeda dari yang kudengar beberapa jam lalu. Tidak manja. Tidak lembut dibuat-buat. Justru gemetar.
“Kamu jelaskan sekarang.”
Indah terdiam beberapa detik.
“Jangan lewat telepon. Aku takut Aditya tahu. Besok pagi jam tujuh, ketemu aku di kedai kopi dekat Stasiun Tebet.”
“Kenapa aku harus percaya sama kamu?”
“Kamu nggak perlu percaya aku.” Suaranya mengecil. “Bawa saja semua dokumen yang pernah Aditya suruh kamu tanda tangani enam bulan terakhir.”
Aku membeku.
Enam bulan terakhir.
Tiba-tiba ingatanku berputar cepat. Formulir investasi. Dokumen pengajuan rumah. Surat persetujuan kredit. Berkas asuransi. Aditya selalu menjelaskan semuanya dengan sabar.
“Ini buat masa depan kita, Maya.”
“Percaya sama aku.”
“Kamu tinggal tanda tangan.”
Dulu kalimat-kalimat itu terdengar romantis.
Malam ini semuanya terdengar seperti ancaman.
Aku tidak tidur sampai pagi.
Pukul tujuh kurang sepuluh aku sudah duduk di sudut kedai kopi Tebet. Indah datang memakai hoodie abu-abu, celana jeans, dan masker. Wajahnya pucat. Tidak ada riasan seperti yang sering kulihat di Instagram.
Ia meletakkan sebuah flashdisk di meja.
“Aku tahu kamu benci aku.”
“Aku bahkan nggak cukup mengenalmu untuk membencimu.”
Indah menunduk.
“Aditya bilang kalian cuma bertahan karena ibumu sakit-sakitan dan dia kasihan meninggalkanmu.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Ibuku memang pernah dirawat karena demam berdarah dua tahun lalu, tetapi sekarang masih berjualan kue setiap pagi.
“Lalu kamu percaya?”
“Awalnya.”
Indah menarik napas.
“Dia bilang rumah kontrakanmu sebenarnya rumah investasi yang akan kalian beli. Dia juga bilang kamu punya tanah warisan di Cikarang.”
“Itu tanah ibu.”
“Aku tahu sekarang.”
Indah membuka laptop dan menunjukkan beberapa foto dokumen.
Namaku tercetak jelas.
Maya Lestari.
Ada salinan KTP, NPWP, slip gaji, rekening koran, bahkan tanda tanganku.
Kemudian aku melihat angka yang membuat kepalaku berdengung.
Rp2.000.000.000.
“Apa ini?”
“Pengajuan pinjaman bisnis.”
Aku menatap Indah.
“Aku nggak pernah mengajukan pinjaman dua miliar.”
“Aditya yang mengurus semuanya.”
Indah menjelaskan bahwa enam bulan terakhir Aditya membangun sebuah perusahaan kontraktor kecil bersama dua rekannya. Perusahaan itu terlilit utang setelah proyek mereka gagal. Mereka membutuhkan dana besar agar perusahaan tidak bangkrut.
Namun Aditya tidak memiliki aset cukup untuk menjadi jaminan.
Aku punya.
Bukan karena aku kaya.
Ayahku meninggal lima tahun lalu dan meninggalkan sebidang tanah seluas hampir tiga ribu meter persegi di pinggir Cikarang. Dulu nilainya tidak seberapa. Namun setelah kawasan industri berkembang, harga tanah melonjak drastis.
Aditya mengetahuinya.
Aku pernah bercerita kepadanya.
“Ayah bilang tanah itu jangan dijual kecuali keluarga benar-benar terdesak.”
Rupanya kalimat sederhana itu melekat kuat di kepalanya.
“Dia mau menjadikan tanah itu jaminan,” kata Indah.
“Tapi sertifikatnya atas nama ibu.”
“Makanya dia butuh kamu.”
Aku menggeleng.
“Nggak masuk akal.”
Indah membuka rekaman suara.
Suara Aditya terdengar jelas.
Begitu Maya menikah sama gue, urusan sertifikat lebih gampang. Ibunya percaya banget sama gue. Tinggal bilang mau dibangun rumah buat Maya. Setelah sertifikat dialihkan, pinjaman cair. Dua miliar masuk. Selesai.
Suara laki-laki lain tertawa.
Terus Maya?
Aditya menjawab tanpa ragu.
Cerai juga gampang.
Dunia seolah berhenti bergerak.
Aku tidak menangis.
Aneh sekali. Setelah tiga tahun mencintai seseorang, ternyata ada titik ketika sakit menjadi terlalu besar hingga air mata pun menyerah.
Indah mematikan rekaman.
“Aku merekamnya tiga hari lalu.”
“Kenapa?”
“Karena dia mulai meminta uang dariku juga.”
Ternyata Indah bukan perempuan kaya seperti yang dikatakan Aditya. Ia bekerja sebagai staf pemasaran properti dan tinggal di apartemen sewaan bersama sepupunya. Beberapa bulan lalu Aditya meminjam hampir seratus juta rupiah darinya dengan alasan modal proyek.
Kemudian dua minggu lalu, Indah menemukan pesan Aditya kepada seorang perempuan lain.
Bukan aku.
Bukan Indah.
Namanya Clara.
Saat itulah Indah mulai menyelidiki.
“Jadi selama ini kita berdua sama-sama bodoh,” katanya pahit.
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Kita dibohongi orang yang sama.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, mata Indah berkaca-kaca.
Kami memutuskan tidak menghadapi Aditya secara gegabah.
Aku menghubungi Rani. Kakaknya bekerja di kantor hukum kawasan Gatot Subroto. Siang itu kami membawa seluruh dokumen kepada seorang pengacara bernama Arman.
Setelah memeriksanya hampir dua jam, wajah Pak Arman berubah serius.
“Beberapa tanda tangan ini kemungkinan hasil scan. Ada dokumen yang benar-benar ditandatangani Mbak Maya, tetapi konteksnya diduga berbeda dari yang dijelaskan kepada Mbak.”
“Apakah tanah ibu saya sudah bisa diambil?”
“Belum. Sertifikat masih aman. Tapi proses pengajuan kredit sudah cukup jauh.”
Aku menutup wajah.
Selisih beberapa minggu saja mungkin membuat hidup keluargaku hancur.
Pak Arman menyarankan agar kami mengumpulkan bukti dan membuat laporan resmi. Namun ada satu masalah.
Aditya belum melakukan langkah terakhir.
Ia masih membutuhkan persetujuan ibuku.
Dan rupanya ia sudah merencanakannya.
Malam berikutnya Aditya datang ke kontrakanku membawa bunga.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
“Sayang.”
Aku berdiri di ambang pintu.
“Apa?”
Ia tersenyum lalu mengangkat kantong makanan.
“Aku bawain martabak favoritmu. Masih marah soal semalam?”
Aku hampir tidak mengenali laki-laki di depanku.
Wajah yang sama. Senyum yang sama. Parfum yang sama.
Tetapi sekarang aku tahu monster tidak selalu memiliki wajah menyeramkan.
Kadang monster datang memakai kemeja putih rapi dan memanggilmu sayang.
“Aku capek, Dit.”
Aditya mendekat.
“Aku tahu aku salah. Makanya aku mau menebus semuanya.”
Ia berlutut.
Jantungku berdegup keras meskipun aku sudah tahu semua kebohongannya.
Dari sakunya ia mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Kosong.
Aku tahu cincin aslinya berada di kamarku.
Wajah Aditya berubah sesaat.
“Kok…”
“Ada apa?”
“Nggak. Salah bawa kotak.”
Aku hampir tersenyum.
“Besok ikut aku ke Cikarang, ya,” katanya cepat. “Aku mau bicara serius sama Ibu.”
“Tentang pernikahan?”
Matanya berbinar.
“Iya.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Aditya memelukku.
Aku membiarkannya.
Di balik bahunya, mataku terbuka lebar.
Untuk pertama kalinya selama tiga tahun, aku memeluknya tanpa cinta.
Keesokan harinya kami berangkat ke Cikarang.
Aku mengendarai motor listrik baruku sendiri.
Aditya tampak kesal.
“Kenapa nggak bareng aku?”
“Aku sedang belajar mandiri.”
Sindiran itu tidak ditangkapnya.
Di rumah ibu, semuanya telah kupersiapkan.
Ibu awalnya menangis ketika kuceritakan kenyataan. Namun perempuan yang membesarkanku sendirian setelah ayah meninggal itu jauh lebih kuat daripada dugaanku.
“Kalau benar dia mau menipu keluarga kita, biarkan dia bicara sampai selesai,” katanya.
Aditya datang membawa buah, kue mahal, dan senyum calon menantu sempurna.
Setelah makan siang, ia mulai membicarakan pernikahan.
Lalu perlahan pembicaraan bergeser ke tanah.
“Saya kepikiran membangun rumah untuk Maya di sana, Bu.”
Ibu mengangguk.
“Tanah peninggalan bapaknya Maya?”
“Iya. Kebetulan perusahaan saya bisa membantu proses pembangunan. Tapi supaya administrasinya gampang, mungkin sertifikatnya bisa dialihkan dulu.”
“Ke siapa?”
Aditya melirikku.
“Ke Maya.”
Aku menunduk agar ia tidak melihat kemarahanku.
Ibu pura-pura berpikir.
“Kalau itu untuk masa depan Maya, Ibu setuju.”
Mata Aditya langsung berbinar.
Ia membuka tas kerja.
Dokumen sudah tersedia.
Begitu cepat.
Begitu rapi.
Begitu terencana.
“Kalau begitu Ibu tinggal tanda tangan di sini.”
Ibu mengambil pulpen.
Namun sebelum ujung pena menyentuh kertas, pintu rumah diketuk.
Aditya menoleh.
Aku berdiri.
“Aku yang buka.”
Di depan pintu sudah menunggu Pak Arman dan dua orang petugas yang sebelumnya kami hubungi untuk mendampingi proses pelaporan.
Wajah Aditya seketika kehilangan warna.
“Maya, siapa mereka?”
Aku tidak menjawab.
Indah muncul dari belakang mereka.
Aditya berdiri begitu cepat hingga kursinya jatuh.
“Indah?”
Perempuan itu berjalan masuk.
“Aku sudah menyerahkan rekamannya.”
“Apa-apaan ini?”
Aku mengambil kotak beludru merah dari tasku dan melemparkannya ke meja.
Kotak itu terbuka.
Cincin berlian berkilau tepat di hadapannya.
Kemudian kutaruh kartu ucapan di sampingnya.
Wajah Aditya menjadi pucat.
“Maya, aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan dua miliar itu.”
Ia terdiam.
“Jelaskan kenapa data pribadiku dipakai untuk pengajuan pinjaman.”
“Maya…”
“Jelaskan kenapa kamu mau menikahiku supaya bisa mengambil tanah peninggalan ayahku.”
Aditya mulai panik.
“Itu bukan begitu maksudnya. Aku melakukan semuanya untuk masa depan kita.”
Aku tertawa.
“Dan cincin untuk Indah juga untuk masa depan kita?”
Ia menatap Indah penuh kebencian.
“Kamu menjebak aku.”
Indah menggeleng.
“Nggak, Dit. Kamu menjebak dirimu sendiri.”
Pak Arman kemudian memperlihatkan salinan dokumen dan bukti percakapan.
Aditya masih mencoba menyangkal sampai sebuah rekaman diputar.
Suara dirinya sendiri memenuhi ruang tamu kecil rumah ibu.
Begitu pinjaman dua miliar cair, tanahnya aman di tangan kita.
Aditya berhenti bicara.
Tidak ada lagi alasan.
Tidak ada lagi senyum.
Tidak ada lagi laki-laki sempurna yang selama tiga tahun kukenal.
Yang tersisa hanya seorang pria ketakutan melihat kebohongannya runtuh satu per satu.
Beberapa bulan berikutnya menjadi masa paling melelahkan dalam hidupku.
Proses hukum berjalan. Pengajuan kredit berhasil dihentikan sebelum dana dicairkan. Tanah ibu tetap aman. Penyelidikan kemudian mengungkap bahwa Aditya dan dua rekannya juga menggunakan dokumen orang lain dalam beberapa transaksi perusahaan.
Aku tidak pernah lagi menghubunginya.
Indah mengembalikan cincin itu ke toko setelah mengetahui bahwa pembeliannya ternyata menggunakan kartu kredit yang juga menunggak.
Kami tidak menjadi sahabat dekat seperti dalam film.
Namun sesekali kami masih bertukar pesan.
Ada luka yang tidak harus membuat dua orang menjadi keluarga. Cukup membuat mereka berhenti menjadi musuh.
Enam bulan kemudian, aku kembali berdiri di depan gedung kantorku di Kuningan.
Hujan turun.
Hampir sama derasnya seperti malam itu.
Rani berdiri di sampingku.
“May, pesan ojol?”
Aku menggeleng.
Di parkiran, motor listrik putihku menunggu.
Sekarang cicilannya kubayar sendiri setiap bulan. Kadang terasa berat, tetapi setiap kali memegang setangnya, aku selalu teringat sesuatu.
Malam ketika aku membelinya, kukira aku sedang kehilangan laki-laki yang akan menjadi suamiku.
Ternyata aku sedang menyelamatkan hidupku sendiri.
Sebelum memakai helm, ponselku berbunyi.
Pesan dari ibu.
Ibu mengirim foto sebuah papan kecil yang baru dipasang di tanah peninggalan ayah.
Tanah Tidak Dijual.
Di bawahnya ada tulisan tambahan buatan tangan ibu.
Akan dibangun rumah untuk Maya kalau Maya mau.
Aku tertawa sampai mataku basah.
Lalu pesan kedua masuk.
Oh iya, ada laki-laki datang ke rumah tadi. Katanya teman kerjamu. Namanya Arman.
Aku membeku.
Pesan ketiga menyusul.
Ibu suka. Tapi kali ini Ibu nggak akan menyuruh kamu buru-buru menikah. Periksa dulu orangnya baik-baik.
Aku tertawa lebih keras.
Hujan Jakarta masih turun ketika aku menjalankan motor.
Lampu merah memantul di aspal basah. Kendaraan memenuhi jalan. Kota tetap bising dan terburu-buru seperti biasanya.
Tetapi malam itu aku tidak menunggu siapa pun.
Aku pulang sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, kata sendiri tidak lagi terdengar seperti kesepian.
Karena akhirnya aku memahami sesuatu yang seharusnya kupelajari sejak lama.
Cinta yang sehat tidak membuat seseorang berdiri sembilan kali di tengah hujan sambil mempertanyakan apakah dirinya cukup berharga untuk dipilih.
Kadang keputusan terbaik bukan menunggu seseorang berubah.
Melainkan menyalakan kendaraanmu sendiri, meninggalkan tempat itu, dan tidak pernah lagi menyerahkan arah hidupmu kepada orang yang berkali-kali memilih meninggalkanmu.
