Hamil delapan bulan, aku sengaja disangkal oleh suamiku sendiri di depan wanita hamil simpanannya saat hujan deras, padahal lima menit lalu dia mengirim pesan baru mendarat di New York, hingga satu telepon rahasia dariku berhasil membangkrutkannya dan membuatnya berlutut!

Begitu kalimat itu keluar dari mulutku, suara Bapak Hendra di seberang telepon mendadak berubah serius.

“Siti, dengarkan saya. Kalau klausul itu diaktifkan, keputusan ini tidak bisa dibatalkan begitu saja. Seluruh fasilitas pembiayaan yang berasal dari trust fund almarhum ayahmu akan dihentikan. Saham yang dijadikan jaminan akan ditarik, rekening yang terafiliasi akan dibekukan untuk audit, dan Aditya akan kehilangan kendali atas perusahaan.”

Aku memejamkan mata ketika kontraksi berikutnya datang.

“Lakukan.”

“Siti, kamu yakin?”

Aku menatap cairan ketuban yang menggenang di lantai, lalu memandang pintu yang masih digedor Aditya.

Lima tahun aku mempercayainya.

Lima tahun aku tidur di samping seorang pria yang ternyata memiliki kehidupan lain.

Lima tahun pula dia membangun kerajaan bisnis dengan uang keluargaku sambil membuatku percaya bahwa semua keberhasilannya adalah hasil kerja kerasnya sendiri.

“Sangat yakin.”

Bapak Hendra menarik napas.

“Baik. Saya aktifkan sekarang.”

Telepon terputus.

Hampir bersamaan dengan itu, rasa sakit menusuk perutku begitu hebat sampai kedua lututku kehilangan tenaga.

Aku jatuh terduduk.

“Siti!”

Entah bagaimana Aditya berhasil membuka pintu menggunakan kunci cadangan. Dia menerobos masuk dengan wajah panik, tetapi langkahnya langsung berhenti ketika melihatku.

Matanya jatuh pada dokumen bersampul hitam di lantai.

Wajahnya berubah.

“Kamu membuka lemari itu?”

Aku tertawa pendek meskipun air mata mulai memenuhi mataku.

Aneh sekali. Bukannya menanyakan kondisi istrinya yang sedang mengalami kontraksi, pertanyaan pertama lelaki itu justru tentang rahasianya.

“Seharusnya pertanyaanmu adalah apakah anakmu baik-baik saja.”

Aditya mendekat.

“Aku bisa menjelaskan semuanya.”

“Jangan sentuh aku.”

Dia berhenti.

Ponselnya tiba-tiba berdering.

Sekali.

Dua kali.

Lalu berkali-kali.

Aditya mengangkat salah satunya.

“Halo?”

Aku melihat warna wajahnya perlahan menghilang.

“Apa maksudmu rekening perusahaan dibekukan?”

Dia berdiri membeku.

“Tidak mungkin. Transfer untuk proyek Sudirman harus dilakukan hari ini.”

Suara seseorang terdengar samar dari telepon.

“Apa? Bank menahan pencairan kredit?”

Aditya menatapku.

Tatapan itu akhirnya membuatku memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah kusadari.

Suamiku tidak takut kehilangan aku.

Dia takut kehilangan uangku.

“Kamu melakukan apa?” bentaknya.

Aku mencengkeram sisi sofa ketika kontraksi datang lagi.

“Aku hanya mengambil kembali sesuatu yang sejak awal bukan milikmu.”

“Siti, kamu gila! Ada ribuan karyawan yang bergantung pada perusahaan itu!”

“Jangan menggunakan mereka sebagai tameng.”

Aku menunjuk dokumen di lantai.

“Kamu mengambil dana ayahku tanpa pernah memberitahuku bahwa perusahaanmu bergantung sepenuhnya pada trust fund keluargaku.”

“Aku suamimu!”

“Lima menit lalu di depan Indah, kamu bahkan tidak mengenalku.”

Aditya terdiam.

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada bentakan apa pun.

Tiba-tiba pintu apartemen terbuka lagi. Mbak Ratna masuk bersama dua petugas medis dari ambulans yang tadi diam-diam dipanggilnya.

“Ya Allah, Mbak Siti!”

Aku hampir tidak mendengar apa pun setelah itu.

Tubuhku dibaringkan di atas tandu.

Ketika petugas mendorongku menuju lift, Aditya berusaha ikut.

“Dia istri saya.”

Aku menatap petugas medis.

“Tidak.”

Semua orang terdiam.

Aku menatap Aditya untuk terakhir kalinya sebelum pintu lift menutup.

“Saya tidak mengenal pria itu.”

Wajahnya runtuh.

Untuk pertama kalinya hari itu, kebohongan yang dia ucapkan kepadaku kembali menghantam dirinya sendiri.

Perjalanan menuju rumah sakit terasa seperti mimpi buruk panjang.

Dokter mengatakan tekanan darahku meningkat drastis akibat stres. Detak jantung bayi sempat menurun sehingga mereka harus melakukan tindakan secepat mungkin.

Aku hanya mampu menggenggam tangan Mbak Ratna.

“Tolong jangan tinggalkan aku.”

“Aku di sini.”

Beberapa jam kemudian, tangisan kecil memenuhi ruang operasi.

Tangisan itu adalah suara terindah yang pernah kudengar.

“Bayi laki-laki, Bu.”

Air mataku mengalir.

Ketika perawat menempelkan tubuh mungil itu ke dadaku, seluruh kemarahan yang sejak tadi membakar hatiku mendadak menghilang.

Yang tersisa hanya satu perasaan.

Aku harus hidup.

Bukan untuk membalas dendam.

Bukan untuk menghancurkan Aditya.

Aku harus hidup untuk anakku.

Aku memberinya nama Arka Mahendra.

Mahendra adalah nama ayahku.

Lelaki yang semasa hidup berkali-kali memperingatkanku agar tidak menyerahkan kendali finansial sepenuhnya kepada siapa pun, bahkan kepada suami sendiri.

Dua hari kemudian, Bapak Hendra datang ke rumah sakit.

Dia membawa sebuah map tebal.

“Ada sesuatu yang harus kamu ketahui.”

Aku menatapnya.

“Apa lagi?”

“Setelah audit darurat dilakukan, kami menemukan transaksi mencurigakan.”

Dia menunjukkan beberapa dokumen.

Aditya ternyata tidak sekadar menggunakan dana trust fund sebagai fondasi bisnis.

Selama tiga tahun terakhir, dia memindahkan sebagian dana perusahaan ke beberapa perusahaan cangkang yang terhubung dengan keluarga Indah.

Jumlahnya hampir seratus dua puluh miliar rupiah.

Tanganku dingin.

“Indah tahu?”

“Kemungkinan besar.”

Bapak Hendra mengeluarkan dokumen lain.

Nama komisaris salah satu perusahaan membuatku terdiam.

Indah Permata.

Aku menutup mata.

Jadi wanita itu bukan sekadar selingkuhan.

Dia adalah bagian dari permainan.

Namun kejutan terbesar datang sore itu.

Seorang perempuan berdiri di depan kamar rawatku.

Indah.

Wajahnya tidak lagi anggun seperti ketika kami bertemu di sekolah. Rambutnya berantakan dan matanya bengkak karena menangis.

Aku langsung menekan tombol panggil perawat.

“Tunggu.”

Indah mengangkat kedua tangannya.

“Saya tidak datang untuk bertengkar.”

“Keluar.”

“Saya baru tahu semuanya.”

Aku tertawa pahit.

“Kamu menikah siri dengannya lima tahun dan baru tahu sekarang?”

Indah menangis.

“Aditya bilang kalian sudah bercerai.”

Aku terdiam.

“Dia bilang pernikahan kalian hanya tinggal administrasi karena masalah pembagian aset. Saya percaya.”

Indah mengeluarkan ponselnya.

Ada puluhan percakapan dengan Aditya.

Aku membaca beberapa di antaranya.

Aditya memang mengatakan bahwa aku adalah mantan istri yang terobsesi kepadanya.

Bahkan kehamilanku disebut sebagai hasil hubungan dengan lelaki lain.

Dadaku terasa sesak.

“Lalu perusahaan-perusahaan atas namamu?”

“Saya pikir itu investasi keluarga untuk Putri.”

Indah menggigit bibir.

“Saya bodoh.”

Untuk pertama kalinya aku memandang perempuan itu bukan sebagai musuh.

Kami ternyata hanyalah dua perempuan yang dibohongi lelaki yang sama dengan versi cerita berbeda.

Namun aku belum sepenuhnya percaya.

“Saya punya sesuatu.”

Indah menyerahkan sebuah flashdisk.

“Rekaman percakapan Aditya dengan pengacaranya. Dia berencana memindahkan aset ke Singapura sebelum anak Anda lahir.”

Aku menatapnya tajam.

“Kenapa memberikan ini kepadaku?”

Air mata Indah jatuh.

“Karena tadi malam dia datang ke rumah dan meminta saya membawa Putri pergi. Dia bilang semua masalah ini terjadi gara-gara Anda.”

Indah tersenyum getir.

“Lalu saya bertanya, bagaimana dengan saya?”

“Jawabannya?”

“Dia bilang saya dan Putri adalah kesalahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.”

Aku tidak tahu harus mengatakan apa.

Ternyata pengkhianat tidak memiliki rumah.

Dia hanya berpindah dari satu kebohongan ke kebohongan berikutnya sampai akhirnya semua pintu tertutup.

Tiga minggu kemudian, penyelidikan resmi dimulai.

Aditya dicopot dari jabatan CEO melalui rapat pemegang saham luar biasa.

Beberapa proyek perusahaan memang sempat dihentikan, tetapi atas saran Bapak Hendra, aku memisahkan perusahaan dari kesalahan Aditya. Dana operasional untuk gaji karyawan dibuka kembali di bawah pengawasan manajemen baru.

Aku tidak ingin ribuan keluarga kehilangan penghasilan hanya karena dosa satu orang.

Sedangkan aset pribadi Aditya yang terkait transaksi mencurigakan tetap dibekukan.

Apartemen mewah.

Mobil.

Rekening investasi.

Semuanya diperiksa.

Berita kejatuhannya menyebar cepat di kalangan bisnis Jakarta.

Pria yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai pengusaha muda sukses ternyata membangun sebagian besar kejayaannya di atas uang keluarga istrinya.

Sebulan setelah Arka lahir, aku kembali ke apartemen untuk mengambil barang-barang terakhir.

Ketika pintu lift terbuka, seseorang sudah menungguku.

Aditya.

Aku hampir tidak mengenalinya.

Tidak ada jas mahal.

Tidak ada jam tangan mewah.

Dia mengenakan kemeja sederhana dan wajahnya dipenuhi kelelahan.

“Siti.”

Aku hendak berjalan melewatinya.

Tiba-tiba dia berlutut.

Aku berhenti.

“Aku salah.”

Suaranya bergetar.

“Aku kehilangan semuanya.”

Aku menatap lelaki yang dahulu pernah membuatku merasa sebagai perempuan paling beruntung di dunia.

Anehnya, aku tidak merasakan kemenangan.

Hanya kehampaan.

“Tolong cabut laporanmu.”

Jadi itu alasannya.

Bukan Arka.

Bukan pernikahan kami.

Bukan permintaan maaf.

Tetap dirinya sendiri.

“Aku bisa berubah,” katanya cepat. “Kita mulai dari awal. Aku akan menjadi suami yang baik. Ayah yang baik.”

Aku tersenyum tipis.

“Kamu tahu bagian paling menyakitkan dari semuanya?”

Aditya menggeleng.

“Bukan karena kamu tidur dengan perempuan lain.”

Matanya memerah.

“Bukan pula karena kamu mencuri uang keluargaku.”

Aku menatapnya lurus.

“Bagian paling menyakitkan adalah ketika aku berdiri hamil delapan bulan di tengah hujan, menggigil, membawa anakmu di dalam tubuhku, dan kamu menatap mataku lalu berkata kamu tidak mengenalku.”

Aditya menunduk.

“Aku panik.”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Kamu memilih.”

Dia menangis.

Tangannya mencoba meraih kakiku, tetapi aku mundur.

“Kalau hari itu aku tidak melihatmu, berapa tahun lagi kamu akan berbohong?”

Tidak ada jawaban.

Aku masuk ke apartemen, mengambil koper yang sudah disiapkan Mbak Ratna, lalu kembali menuju lift.

Namun sebelum pintu menutup, Aditya memanggilku.

“Siti.”

Aku menoleh.

“Apakah Arka boleh memakai nama belakangku?”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Nama bukan sesuatu yang otomatis membuat seseorang menjadi ayah.”

Pintu lift menutup.

Enam bulan kemudian, hidupku berubah total.

Aku mengambil posisi sebagai ketua dewan pengawas perusahaan yang sebelumnya dikendalikan Aditya. Untuk operasional sehari-hari, aku menunjuk manajemen profesional.

Indah memilih bekerja sama dalam penyelidikan dan mengembalikan seluruh aset perusahaan yang pernah ditempatkan atas namanya.

Kami tidak menjadi sahabat.

Mungkin tidak akan pernah.

Tetapi suatu sore, kami bertemu di sebuah taman.

Putri berlari mengejar gelembung sabun sementara Arka tertidur di kereta bayi.

Indah duduk di sebelahku.

“Putri masih sering menanyakan papanya.”

Aku terdiam.

“Anak-anak tidak seharusnya membayar kesalahan orang dewasa.”

Indah mengangguk.

Lalu Putri berlari menghampiriku.

“Tante Siti!”

“Iya?”

Dia melihat Arka.

“Ini adik bayi yang dulu ada di perut Tante?”

Aku tersenyum.

“Iya.”

Putri menyentuh tangan mungil Arka.

“Berarti dia adikku juga?”

Aku dan Indah saling berpandangan.

Pertanyaan sederhana itu terasa lebih berat daripada seluruh dokumen hukum yang pernah kubaca.

Aku berjongkok di depan Putri.

“Kalian tidak harus menanggung kesalahan orang tua kalian.”

Putri tentu tidak memahami maksudku.

Dia hanya tersenyum lalu kembali berlari.

Aku memandang langit Jakarta yang mulai berubah jingga.

Dulu aku berpikir telepon yang kulakukan malam itu telah menghancurkan hidup Aditya.

Ternyata aku salah.

Aku tidak menghancurkannya.

Kebohongan-kebohongannya sendirilah yang melakukan itu.

Teleponku hanya mematikan lampu agar semua orang akhirnya bisa melihat siapa dirinya di dalam kegelapan.

Ponselku kemudian bergetar.

Sebuah pesan dari Bapak Hendra masuk.

Sidang perceraian kami telah selesai.

Secara hukum, aku bukan lagi istri Gabriel Aditya Pratama.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada rasa kehilangan.

Aku menghapus pesan bohong yang selama berbulan-bulan masih kusimpan sebagai pengingat.

“Sayang, aku baru saja mendarat di New York.”

Lalu aku memandang Arka.

Anakku membuka mata dan menggenggam telunjukku erat.

Saat itulah aku akhirnya memahami pesan terakhir Ayah yang dahulu kuanggap terlalu keras.

Cinta boleh membuat kita membuka hati kepada seseorang.

Tetapi cinta tidak pernah meminta kita menyerahkan harga diri, masa depan, dan seluruh kendali atas hidup kita kepadanya.

Hujan deras hari itu memang merenggut suamiku.

Namun dari tengah hujan yang sama, aku menemukan kembali perempuan yang selama lima tahun perlahan-lahan hilang dari dalam diriku.

Diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang