Pulang Tiga Jam Lebih Awal, Saya Menemukan Ibu Kandung Yang Sedang Sakit Parah Dihina Dan Dipaksa Memasak Sambil Menggendong Anak Saya, Sementara Suami Dan Ibu Mertua Santai Menonton TV Lalu Membentak Saya

Gerbang mansion itu menutup perlahan di depan wajah Budi dan Ibu Ratna.

Untuk pertama kalinya dalam enam tahun pernikahan kami, saya melihat suami saya benar-benar kehilangan kata-kata.

Bukan karena menyesal telah memperlakukan ibu saya seperti pembantu.

Bukan pula karena melihat Rizky masih menangis dalam pelukan saya.

Melainkan karena satu kalimat.

Saya membeli mansion ini secara tunai senilai lima puluh miliar rupiah.

Mata Budi bergerak cepat menyapu bangunan tiga lantai di belakang saya. Kolam renang, taman luas, garasi tertutup, serta deretan jendela tinggi yang selama ini hanya bisa dia pandangi dari rumah kami di seberang jalan.

“Indah, tunggu!”

Budi berlari mendekati gerbang.

“Kamu bercanda, kan? Dari mana kamu punya uang sebanyak itu?”

Saya tidak menjawab.

Saya membawa Ibu masuk, sementara Rizky memeluk leher saya erat.

Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun segera keluar dari pintu utama. Namanya Bu Rini. Dia adalah pengurus rumah yang selama ini menjaga mansion tersebut.

“Bu Indah, kamarnya sudah saya siapkan.”

“Tolong bantu Ibu saya. Lututnya sakit sekali.”

Bu Rini terkejut melihat kondisi Ibu.

“Ya Allah, Bu Siti, mari duduk dulu.”

Begitu sampai di ruang keluarga, Ibu akhirnya tidak mampu menahan tubuhnya lagi. Kakinya lemas.

Saya langsung berlutut.

“Ibu?”

Ibu mencoba tersenyum.

“Cuma sedikit capek.”

Namun ketika saya menyentuh lututnya, Ibu meringis.

Saya segera menelepon dokter keluarga.

Empat puluh menit kemudian, dokter datang dan memeriksa kondisi Ibu. Tekanan darahnya meningkat, tubuhnya mengalami dehidrasi, dan kondisi lututnya memburuk akibat terlalu lama berdiri.

“Beliau harus istirahat total beberapa hari,” kata dokter. “Jangan dipaksa melakukan aktivitas berat.”

Kalimat itu membuat dada saya sesak.

Setelah dokter pergi, saya duduk di samping tempat tidur Ibu.

“Kenapa Ibu mau melakukan semua itu?”

Ibu terdiam.

Saya menggenggam tangannya.

“Ibu datang ke Jakarta untuk berobat, bukan untuk mencuci pakaian Budi, membersihkan rumah, memasak, apalagi menggendong Rizky sambil berdiri berjam-jam.”

Air mata Ibu jatuh.

“Ibu takut rumah tanggamu rusak gara-gara Ibu.”

Saya tercekat.

“Ratna bilang kamu bekerja keras karena Budi yang memberimu kehidupan nyaman. Dia bilang kalau Ibu membuat masalah, Budi bisa menceraikanmu.”

Saya menatap wajah Ibu.

Ternyata selama bertahun-tahun mereka bukan hanya merendahkan saya.

Mereka juga membangun kebohongan di depan keluarga saya.

“Ibu tahu rumah di seberang itu milik siapa?”

Ibu menggeleng.

“Milik saya.”

Ibu terdiam.

“Mobil Budi?”

“Saya yang beli.”

“Liburan mereka ke Jepang, Korea, Eropa?”

“Saya yang bayar.”

Ibu menutup mulutnya.

Saya melanjutkan pelan.

“Perusahaan tempat saya bekerja juga bukan milik orang lain. Saya pendirinya.”

Wajah Ibu berubah.

Selama ini saya memang tidak pernah menceritakan seluruh kondisi keuangan saya kepada keluarga di Yogyakarta. Bukan karena malu, tetapi karena saya tahu Ibu tidak pernah peduli berapa banyak uang yang saya miliki.

Bagi Ibu, saya tetap anak perempuan yang dulu berangkat sekolah dengan sepeda tua.

“Saya diam selama enam tahun karena berpikir kesabaran bisa mempertahankan keluarga,” kata saya. “Ternyata diam justru membuat mereka merasa berhak menginjak kita.”

Terdengar suara bel dari gerbang.

Budi.

Dia berdiri di luar bersama Ibu Ratna.

Kali ini sikap mereka berbeda.

“Indah, buka pintunya,” kata Budi melalui interkom. “Kita bicara baik-baik.”

Saya mematikan interkom.

Lima menit kemudian, ponsel saya berdering.

Budi.

Saya mengangkatnya.

“Sayang, aku tadi emosi.”

Saya hampir tertawa mendengarnya memanggil saya sayang.

“Mama juga sebenarnya tidak bermaksud menghina ibumu.”

Dari belakang terdengar suara Ibu Ratna.

“Bilangkan sama Indah Mama minta maaf!”

Budi kembali berbicara.

“Kamu tidak perlu mematikan listrik rumah. Rizky juga butuh rumahnya.”

“Rizky bersama saya.”

Budi terdiam.

“Lalu aku bagaimana?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Bukan bagaimana kondisi Ibu saya.

Bukan apakah Rizky masih ketakutan.

Melainkan bagaimana dirinya.

“Bayar sendiri kebutuhanmu.”

Saya menutup telepon.

Keesokan paginya, saya menerima pemberitahuan dari bank.

Budi mencoba melakukan transaksi menggunakan kartu tambahan yang sudah saya blokir.

Nominalnya seratus delapan puluh juta rupiah.

Saya langsung tahu apa yang sedang dia lakukan.

Budi memiliki kebiasaan membeli barang mewah setiap kali merasa tertekan.

Namun kali ini transaksi itu ditolak.

Beberapa jam kemudian, pengacara saya, Pak Adrian, datang ke mansion membawa sebuah map hitam.

Saya sudah menghubunginya malam sebelumnya.

“Semuanya sudah kami periksa,” katanya.

Dia meletakkan beberapa dokumen di meja.

Rumah yang selama ini ditempati Budi tercatat atas nama saya.

Dua mobil juga atas nama saya.

Rekening investasi utama milik saya.

Sebagian besar barang mewah yang digunakan Ibu Ratna dibeli menggunakan kartu tambahan dari rekening saya.

Namun ada satu hal yang membuat saya terdiam.

Pak Adrian mengeluarkan laporan transaksi.

“Bu Indah mengenal seseorang bernama Maya Kusuma?”

Saya menggeleng.

“Selama dua tahun terakhir, Pak Budi mentransfer uang secara rutin kepada perempuan ini.”

Saya membaca angkanya.

Dua puluh juta.

Tiga puluh juta.

Lima puluh juta.

Totalnya hampir satu miliar rupiah.

Darah saya terasa dingin.

“Dari mana uangnya?”

“Sebagian berasal dari rekening rumah tangga yang Ibu isi setiap bulan.”

Saya tersenyum pahit.

Jadi selama saya bekerja hingga larut malam, Budi bukan hanya menikmati uang saya.

Dia juga mengirimkannya kepada perempuan lain.

Saya meminta tim hukum menyelidikinya.

Hasilnya datang dua hari kemudian.

Maya adalah mantan kekasih Budi.

Mereka masih berhubungan.

Bahkan beberapa pesan menunjukkan bahwa Budi pernah menjanjikan sesuatu kepadanya.

Begitu Indah menyerahkan perusahaan kepada gue, kita tidak perlu sembunyi lagi.

Saya membaca pesan itu berkali-kali.

Ternyata penghinaan terhadap Ibu bukan puncak pengkhianatan.

Itu hanya membuka pintu menuju semuanya.

Malam itu, Budi kembali datang.

Kali ini sendirian.

Saya menemuinya di luar gerbang.

Wajahnya kusut.

“Indah, enam tahun kita menikah. Masa semuanya mau kamu buang begitu saja?”

“Saya tidak membuang pernikahan kita.”

Saya menatap matanya.

“Kamu yang melakukannya.”

Saya menyerahkan salinan laporan transaksi Maya.

Wajah Budi langsung pucat.

“Ini bisa aku jelaskan.”

“Tentu.”

“Maya sedang kesulitan.”

“Hampir satu miliar?”

“Dia teman lama.”

Saya mengeluarkan tangkapan layar percakapan mereka.

Bibir Budi berhenti bergerak.

Saya bertanya pelan, “Perusahaan apa yang akan saya serahkan kepadamu?”

Budi membeku.

Saat itulah saya tahu semuanya benar.

Dia tidak pernah mencintai kehidupan yang kami bangun.

Dia hanya menunggu saat bisa menguasainya.

“Saya sudah mengajukan gugatan cerai.”

“Indah!”

“Dan besok kamu harus mengosongkan rumah.”

Budi mencengkeram gerbang.

“Kamu tidak bisa mengusir aku dari rumahku sendiri!”

“Bisa. Karena rumah itu bukan milikmu.”

“Mama tinggal di sana!”

“Dia bisa tinggal bersamamu di tempat yang kalian mampu.”

Wajah Budi berubah merah.

“Kamu pikir uang membuatmu hebat?”

“Tidak.”

Saya menatapnya tenang.

“Tapi uang saya tidak akan lagi digunakan untuk membiayai orang yang menyakiti keluarga saya.”

Keesokan harinya, dua kendaraan dari perusahaan jasa pindahan datang ke rumah.

Budi dan Ibu Ratna mengamuk.

Tetangga mulai keluar.

Selama bertahun-tahun Ibu Ratna dikenal sebagai perempuan kaya yang gemar bercerita bahwa putranya adalah pengusaha sukses.

Hari itu, untuk pertama kalinya semua orang melihat kenyataan.

Barang-barang pribadi mereka dimasukkan ke kardus.

“Indah! Kamu mempermalukan keluarga!” teriak Ibu Ratna.

Saya berdiri di halaman.

“Bu Ratna.”

Dia menatap saya penuh kebencian.

“Saya tidak pernah mempermalukan Ibu. Saya hanya berhenti membayar panggung tempat Ibu berpura-pura menjadi orang lain.”

Wajahnya membeku.

Budi mencoba mendekati saya.

Namun Pak Adrian berdiri di depan.

“Pak Budi, sebaiknya Bapak membaca surat ini.”

Itu pemberitahuan resmi terkait proses perceraian dan inventarisasi aset.

Budi membacanya.

Kemudian wajahnya berubah.

“Apa maksudnya hak asuh utama diminta Indah?”

Pak Adrian menjawab tenang.

“Kondisi saat Rizky ditemukan kemarin sudah didokumentasikan. Ada rekaman kamera dapur.”

Budi langsung menatap saya.

Dia lupa.

Rumah itu menggunakan sistem keamanan yang saya pasang sendiri.

Kamera dapur merekam semuanya.

Ibu saya yang kesulitan berdiri.

Rizky yang menangis.

Ibu Ratna yang beberapa kali masuk untuk menyuruh Ibu mempercepat masakan.

Dan Budi yang sama sekali tidak menolong.

Untuk pertama kalinya, kesombongan Budi runtuh.

Tiga bulan kemudian, hidup saya berubah sepenuhnya.

Ibu menjalani terapi lutut dan kondisinya membaik. Rizky kembali ceria dan mulai sekolah di tempat baru.

Proses perceraian berjalan.

Budi akhirnya pindah ke apartemen kecil di pinggiran Jakarta.

Ibu Ratna tinggal bersama kerabatnya.

Maya?

Begitu mengetahui bahwa Budi sebenarnya tidak memiliki perusahaan, rumah mewah, ataupun kekayaan seperti yang selama ini dia ceritakan, hubungan mereka berakhir.

Namun kejutan terbesar datang pada suatu sore.

Ibu sedang duduk di taman mansion ketika sebuah mobil sederhana berhenti di depan gerbang.

Budi turun.

Dia terlihat berbeda.

Tidak ada jam tangan mahal.

Tidak ada pakaian bermerek.

Dia membawa sebuah kantong plastik berisi buah.

“Saya mau bertemu Ibu Siti,” katanya.

Saya hampir menolaknya.

Namun Ibu mendengar dari taman.

“Biarkan dia masuk.”

Budi berjalan mendekati Ibu.

Lalu, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan terjadi.

Dia berlutut.

“Bu, saya minta maaf.”

Ibu menatapnya lama.

“Saya tidak meminta kamu berlutut.”

Budi mengangkat wajah.

“Ibu cuma mau tanya satu hal. Kalau hari itu Indah tidak pulang lebih cepat, kamu akan membiarkan Ibu terus bekerja sampai kapan?”

Budi tidak mampu menjawab.

Air matanya jatuh.

Ibu kemudian berkata pelan, “Orang bisa kehilangan uang dan mendapatkannya lagi. Bisa kehilangan rumah dan membeli rumah lagi. Tapi kalau seseorang kehilangan rasa hormat kepada manusia lain, dia kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal.”

Budi menunduk.

Saya berdiri beberapa meter dari mereka.

Saya tidak tahu apakah penyesalan Budi tulus atau hanya lahir karena dia kehilangan segalanya.

Dan saya tidak perlu mengetahuinya.

Saya sudah belajar bahwa memaafkan seseorang tidak selalu berarti memberinya kesempatan untuk kembali ke tempat yang sama.

Ibu memaafkan Budi.

Saya juga akhirnya memaafkannya.

Tetapi perceraian tetap berjalan.

Enam bulan kemudian, saya menjual rumah lama di seberang jalan.

Uangnya tidak saya masukkan ke rekening pribadi.

Saya mendirikan sebuah yayasan kecil di Yogyakarta yang membantu perempuan dari keluarga sederhana mendapatkan beasiswa pendidikan dan pelatihan keterampilan.

Ketika saya menunjukkan dokumen yayasan kepada Ibu, beliau membaca namanya lalu menangis.

Yayasan Siti Prameswari.

“Kenapa pakai nama Ibu?”

Saya tersenyum.

“Karena semua yang saya punya dimulai dari seorang perempuan yang dulu menjual gelang terakhirnya supaya anaknya bisa membayar uang kuliah.”

Ibu memukul lengan saya pelan sambil menangis.

Rizky yang tidak memahami percakapan kami berlari dari taman lalu memeluk neneknya.

Saya memandangi keduanya.

Mansion lima puluh miliar yang dulu membuat Budi dan Ibu Ratna ternganga kini terasa tidak penting.

Saya pernah mengira keberhasilan terbesar saya adalah membangun perusahaan, membeli rumah mewah, dan memastikan keluarga saya tidak pernah kekurangan uang.

Ternyata saya salah.

Keberhasilan terbesar saya adalah akhirnya memiliki keberanian untuk berkata cukup.

Cukup ketika kesabaran berubah menjadi pembiaran.

Cukup ketika cinta digunakan sebagai alasan untuk merendahkan.

Cukup ketika keluarga hanya datang untuk mengambil, tetapi tidak pernah belajar menghormati.

Sore itu, saya duduk di taman bersama Ibu dan Rizky.

Tidak ada suara bentakan.

Tidak ada perintah dari dapur.

Tidak ada seseorang yang merasa lebih tinggi hanya karena orang lain memilih diam.

Ibu bersandar di kursinya sambil melihat Rizky berlari mengejar kupu-kupu.

Kemudian beliau menggenggam tangan saya.

“Indah.”

“Ya, Bu?”

“Kamu tahu apa yang paling membuat Ibu bahagia?”

Saya tersenyum.

“Mansion ini?”

Ibu tertawa.

“Bukan.”

“Perusahaan saya?”

“Bukan juga.”

“Lalu apa?”

Ibu menatap saya dengan mata berkaca-kaca.

“Anak perempuan yang dulu Ibu besarkan akhirnya mengerti bahwa menjadi baik tidak berarti harus membiarkan dirinya diinjak.”

Saya tidak mampu menjawab.

Saya hanya memeluk Ibu.

Dan saat itulah saya akhirnya memahami sesuatu.

Hari ketika saya pulang tiga jam lebih awal memang menghancurkan pernikahan saya.

Tetapi hari itu juga menyelamatkan tiga orang sekaligus.

Ibu saya.

Anak saya.

Dan diri saya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang