Maya tidak langsung menjawab.
Ia menatap pria berbekas luka di depannya, lalu memandang SUV hitam yang mesinnya masih menyala. Beberapa tetangga mulai mengintip dari balik jendela. Di ujung gang, seorang ibu penjual nasi uduk bahkan berhenti membungkus pesanan.
“Aku ikut karena Ibu Hartini meminta bantuanku,” kata Maya akhirnya. “Bukan karena ancaman bosmu.”
Pria itu mengangguk tipis.
“Nama saya Bagas. Dan kalau boleh jujur, saya juga lebih suka Mbak Maya ikut karena alasan itu.”
Perjalanan menuju rumah keluarga Salgado memakan waktu hampir empat puluh menit.
SUV tersebut meninggalkan gang sempit tempat Maya tinggal, melewati kawasan bisnis Jakarta yang mulai dipenuhi kendaraan, lalu masuk ke sebuah kompleks perumahan elite di Kebayoran Baru.
Rumah keluarga Salgado lebih menyerupai hotel pribadi.
Gerbang besi hitam setinggi tiga meter terbuka perlahan. Kamera pengawas terpasang di setiap sudut. Empat pria berpakaian gelap berdiri di halaman.
Namun suasana di dalam rumah justru terasa jauh lebih menyesakkan daripada ruang VIP restoran malam sebelumnya.
Sebuah vas porselen pecah di lantai.
Sarapan masih utuh di meja.
Dua asisten rumah tangga berdiri kebingungan di ujung lorong.
Reyhan muncul dari tangga.
Ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan seperti seseorang yang belum tidur semalaman.
Tatapannya langsung jatuh kepada Maya.
“Kamu datang.”
“Karena ibu Anda.”
“Aku tahu.”
Untuk pertama kalinya, suara Reyhan tidak terdengar mengancam.
Ia membawa Maya menuju lantai dua.
Di depan sebuah pintu kayu besar, Reyhan berhenti.
“Ibu mengunci pintu sejak pukul lima pagi. Kami sudah mencoba semuanya.”
“Kenapa beliau marah?”
“Itu yang ingin kutanyakan kepadamu.”
Maya menatapnya tidak percaya.
“Anda anaknya.”
Rahang Reyhan mengeras.
“Aku tidak mengerti bahasa isyarat.”
“Sudah berapa lama ibu Anda tidak bisa bicara?”
“Dua puluh satu tahun.”
Jawaban itu membuat Maya terdiam.
“Dan selama dua puluh satu tahun Anda tidak pernah belajar?”
Reyhan tidak menjawab.
Maya bisa melihat rasa malu muncul sangat cepat di wajahnya sebelum kembali tertutup oleh ekspresi dingin.
Maya mengetuk pintu.
“Ibu Hartini, ini Maya.”
Tidak ada jawaban.
Maya mengetuk sekali lagi.
“Saya datang sendiri. Saya ingin bicara dengan Ibu.”
Beberapa detik kemudian terdengar suara kunci.
Pintu terbuka sedikit.
Wajah Ibu Hartini muncul.
Begitu melihat Maya, perempuan tua itu langsung menarik tangannya dan membawanya masuk.
Pintu ditutup kembali.
Reyhan tertinggal di luar.
Kamar itu luas, tetapi hampir tidak memiliki kemewahan berlebihan. Di dinding terdapat beberapa foto keluarga lama.
Maya melihat Reyhan kecil sedang digendong seorang pria berkumis.
Di foto lain, Ibu Hartini masih jauh lebih muda.
Ia tersenyum lebar.
Maya baru menyadari sesuatu.
Di foto lama itu, leher Ibu Hartini tidak tertutup syal.
Ada kulit yang masih mulus.
Sedangkan sekarang, bahkan di dalam rumah, perempuan tua itu selalu mengenakan syal tipis.
Ibu Hartini duduk di tepi tempat tidur.
Tangannya bergerak.
“Kunci pintunya.”
Maya menuruti.
“Jangan biarkan Reyhan masuk.”
Maya mulai merasa tidak nyaman.
“Ada apa, Bu?”
Ibu Hartini menunjuk lemari pakaian.
“Buka bagian paling bawah.”
Maya berjalan ke sana.
Di balik tumpukan selimut, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil.
Kotak itu sudah tua dan memiliki ukiran huruf H.
Maya membawanya kepada Ibu Hartini.
Perempuan tua itu membuka tutupnya.
Di dalam terdapat beberapa foto, sebuah kaset mini, kartu memori, dan satu amplop cokelat yang tampak sudah disimpan bertahun-tahun.
Tangannya mulai bergerak cepat.
“Suami saya tidak meninggal karena kecelakaan.”
Maya membeku.
“Beliau dibunuh.”
Maya menatap foto pria berkumis di dinding.
“Ayah Pak Reyhan?”
Ibu Hartini mengangguk.
Tangannya kembali bergerak.
“Dua puluh satu tahun lalu, suami saya, Surya Salgado, ingin meninggalkan bisnis gelap keluarga.”
Maya menerjemahkan setiap gerakan itu di dalam pikirannya.
Surya ternyata bukan pria baik sejak awal. Ia pernah terlibat penyelundupan, pemerasan, dan bisnis ilegal bersama adiknya sendiri, Damar Salgado.
Namun setelah Reyhan lahir, Surya mulai berubah.
Ia ingin menutup seluruh jaringan.
Ia berniat menyerahkan bukti kepada polisi dan membawa Hartini serta Reyhan keluar dari Jakarta.
Damar menolak.
Malam sebelum mereka berencana pergi, pertengkaran terjadi di rumah lama keluarga Salgado.
Hartini melihat Damar menembak kakaknya sendiri.
Maya menutup mulut.

“Ibu melihat semuanya?”
Hartini mengangguk.
Tangannya bergetar ketika melanjutkan cerita.
Hartini mencoba berteriak.
Damar menyerangnya.
Ia mencekik Hartini dengan kawat tipis sampai perempuan itu kehilangan kesadaran.
Hartini selamat.
Namun pita suaranya mengalami kerusakan permanen.
Keluarga kemudian menyebarkan cerita bahwa Surya meninggal karena kecelakaan mobil dan Hartini kehilangan kemampuan bicara akibat trauma.
“Kenapa Ibu tidak mengatakan ini kepada Reyhan?”
Mata Hartini langsung basah.
Tangannya bergerak perlahan.
“Karena saat itu Reyhan baru sembilan tahun.”
Gerakannya berhenti sebentar.
“Damar menaruh pistol di kepala anak saya.”
Maya merasakan tengkuknya meremang.
“Ia bilang kalau saya memberi tahu siapa pun, Reyhan akan mati.”
Selama bertahun-tahun, Hartini memilih diam.
Bukan karena ia lemah.
Ia diam karena setiap hari kehidupan putranya menjadi harga dari kebisuannya.
Yang lebih buruk, setelah Surya meninggal, Damar mengambil Reyhan di bawah pengaruhnya.
Ia membesarkan keponakannya dengan dunia yang sama yang ingin ditinggalkan Surya.
Mengajarinya bahwa rasa takut adalah bentuk penghormatan.
Bahwa belas kasihan adalah kelemahan.
Bahwa kekuasaan hanya bisa dijaga dengan kekerasan.
Maya menatap pintu kamar.
Tiba-tiba ia melihat Reyhan secara berbeda.
Pria itu tetap bertanggung jawab atas hidup yang dipilihnya.
Namun kini Maya memahami dari mana kegelapan itu berasal.
“Kenapa sekarang?” tanya Maya.
Wajah Hartini berubah tegang.
Ia mengambil sebuah foto dari dalam kotak.
Foto itu memperlihatkan Damar sedang berbicara dengan tiga pria di sebuah gudang.
Maya tidak mengenal dua orang di antaranya.
Tetapi wajah pria ketiga membuat darahnya seolah berhenti mengalir.
Maya merampas foto itu.
Tangannya gemetar hebat.
“Dari mana Ibu mendapatkan ini?”
Hartini terlihat bingung.
Maya menunjuk pria berjaket abu-abu di foto.
“Saya kenal dia.”
Pria itu bernama Toni Wirawan.
Dua tahun lalu, namanya pernah diperiksa polisi sebagai saksi dalam kecelakaan yang menewaskan Rendy.
Ia mengaku kebetulan berada di lokasi.
Tidak pernah ada bukti bahwa ia terlibat.
Kasus Rendy akhirnya ditutup sebagai tabrak lari.
Maya merasa napasnya semakin pendek.
Hartini segera mengambil sebuah kartu memori.
“Ini diberikan kepada saya tiga hari lalu.”
“Dari siapa?”
“Bagas.”
Maya terkejut.
Hartini menjelaskan bahwa Bagas sudah bekerja untuk keluarga Salgado sejak muda. Ayah Bagas pernah menjadi sopir Surya dan mengetahui sebagian rahasia keluarga.
Bagas selama bertahun-tahun diam-diam mengumpulkan bukti tentang Damar.
Kartu memori itu ditemukan dari salah satu gudang lama.
Maya memasukkannya ke laptop milik Hartini.
Ada puluhan folder.
Foto transaksi.
Rekaman suara.
Dokumen rekening.
Kemudian Maya melihat sebuah folder bertanggal dua tahun lalu.
Tanggalnya sama dengan malam Rendy meninggal.
Tangannya langsung dingin.
Ia membuka sebuah video.
Rekaman kamera mobil muncul.
Sebuah sedan hitam melaju cepat melewati persimpangan.
Sebelum tabrakan terjadi, suara dua pria terdengar di dalam mobil.
Maya mengenali wajah Toni dari pantulan kaca.
Kemudian suara lain terdengar.
“Anak motor itu lihat kita keluar dari gudang. Kejar. Ambil ponselnya.”
Beberapa detik kemudian motor Rendy terlihat.
Maya berhenti bernapas.
Sedan mempercepat laju.
Lampu merah diterobos.
Benturan keras terdengar.
Video berguncang.
Maya menutup mulut agar tidak berteriak.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Rendy bukan korban kecelakaan biasa.
Ia dibunuh karena berada di tempat yang salah dan melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.
Maya menangis tanpa suara.
Hartini memeluknya.
Untuk beberapa menit, tidak ada bahasa yang dibutuhkan.
Kemudian suara benturan terdengar dari luar.
Pintu kamar didobrak.
Reyhan masuk bersama Bagas.
“Apa yang terjadi?”
Maya berdiri.
Wajahnya penuh air mata.
Ia berjalan mendekati Reyhan dan menampar wajahnya.
Tamparan itu begitu keras hingga Bagas membeku.
Reyhan tidak bergerak.
“Apa itu untuk?”
“Keluargamu membunuh adikku.”
Wajah Reyhan berubah.
Maya menunjukkan video.
Reyhan menonton sampai selesai.
Ketika suara Damar terdengar di rekaman, ekspresi Reyhan perlahan kehilangan warna.
Ia mengenali suara pamannya.
“Tidak mungkin.”
Ibu Hartini berdiri.
Tangannya bergerak cepat.
Kali ini Maya menerjemahkan dengan suara lantang.
“Ibumu bilang semuanya benar.”
Reyhan menatap Hartini.
Maya terus menerjemahkan.
“Pamanmu membunuh ayahmu.”
Reyhan tidak bergerak.
“Dia yang menghancurkan suara ibumu.”
Rahang Reyhan bergetar.
“Dia membesarkanmu supaya menjadi orang yang sama seperti dirinya.”
Hartini mendekati putranya.
Tangannya bergerak lebih lambat.
“Dan sekarang dia akan membunuhmu.”
Bagas langsung mengambil ponselnya.
Terlambat.
Suara tembakan terdengar dari halaman depan.
Para penjaga berteriak.
Reyhan berlari ke jendela.
Tiga mobil masuk menerobos gerbang.
Damar datang bersama belasan orang.
“Tutup semua pintu,” perintah Reyhan.
Namun Hartini tiba-tiba meraih tangannya.
Ia menggeleng.
Kemudian memberikan kartu memori itu kepada Bagas.
Bagas tersenyum tipis.
“Sudah saya kirim salinannya ke tiga tempat sejak tadi malam.”
Reyhan menatapnya.
“Ke mana?”
“Kepolisian. Kejaksaan. Dan seorang jurnalis.”
Dari luar terdengar suara sirene.
Damar ternyata datang bukan untuk menyerang.
Ia datang karena mengetahui bukti telah ditemukan dan ingin menghancurkannya sebelum aparat tiba.
Ketika pria berusia enam puluhan itu masuk ke ruang utama, Reyhan sudah menunggunya.
Damar tersenyum.
“Kau percaya pelayan dan perempuan tua pikun daripada paman yang membesarkanmu?”
Reyhan mengepalkan tangan.
Damar menunjuk Hartini.
“Dia membuatmu lemah.”
Hartini maju.
Untuk pertama kalinya, Damar terlihat takut.
Perempuan yang selama dua puluh satu tahun ia paksa bungkam kini berdiri di hadapannya tanpa menundukkan kepala.
Tangannya bergerak.
Maya menerjemahkan.
“Ibu bilang dua puluh satu tahun lalu Anda mengambil suaminya.”
Hartini bergerak lagi.
“Hari ini Anda tidak akan mengambil anaknya.”
Polisi masuk beberapa menit kemudian.
Damar ditangkap bersama sejumlah orangnya.
Bukti dalam kartu memori membuka kembali banyak kasus lama, termasuk kematian Surya Salgado dan tabrak lari Rendy.
Namun hal yang paling diingat Maya terjadi setelah rumah itu kembali sunyi.
Reyhan berdiri di depan ibunya.
Pria yang selama bertahun-tahun membuat orang lain menundukkan kepala itu tiba-tiba berlutut.
Matanya merah.
Tangannya terangkat kaku.
Ia mencoba membuat satu gerakan sederhana yang baru diajarkan Maya beberapa menit sebelumnya.
“Maaf.”
Gerakannya salah.
Hartini memperbaiki posisi jarinya.
Reyhan mencoba lagi.
Kali ini benar.
Kemudian ia membuat gerakan kedua.
“Ibu.”
Hartini menangis.
Reyhan menundukkan kepala di pangkuannya seperti anak kecil.
Selama dua puluh satu tahun, ia tinggal di rumah yang sama dengan perempuan yang melahirkannya tetapi tidak pernah benar-benar belajar mendengar.
Hari itu, tanpa suara apa pun, mereka akhirnya berbicara.
Beberapa bulan kemudian, Reyhan menyerahkan sebagian besar bisnis ilegal keluarga kepada penyidik dan mulai menutup jaringan yang dibangun Damar.
Ia tidak menjadi orang suci dalam semalam.
Kesalahan masa lalunya tetap harus ia pertanggungjawabkan.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berhenti menggunakan rasa takut sebagai bahasa.
Maya kembali kuliah keperawatan.
Bukan dengan uang dari Reyhan.
Ia menolak ketika pria itu menawarkan membayar seluruh biaya pendidikannya.
Sebagai gantinya, Maya meminta satu hal.
“Kalau Anda benar-benar mau membayar utang kepada ibu Anda, belajar bahasa beliau.”
Reyhan menepatinya.
Enam bulan kemudian, Maya datang mengunjungi Hartini.
Dari luar ruang keluarga, ia melihat Reyhan sedang duduk berhadapan dengan ibunya.
Kedua tangan pria itu bergerak lambat tetapi cukup lancar.
Hartini tertawa.
Reyhan membalas sesuatu dengan bahasa isyarat.
Maya tidak mendengar satu suara pun.
Namun rumah besar itu terasa jauh lebih hidup dibandingkan pertama kali ia datang.
Saat hendak pulang, Hartini memanggilnya dengan gerakan tangan.
“Ada satu hal yang belum pernah saya katakan.”
Maya tersenyum.
“Apa?”
Hartini menunjuk dirinya sendiri, kemudian Maya.
“Terima kasih sudah mendengar saya.”
Maya menahan air mata.
Lalu ia menjawab dengan bahasa yang sudah dua tahun ia hindari.
“Terima kasih juga sudah membuat saya berani berbicara lagi dengan Rendy.”
Hartini mengernyit.
Maya menunjuk dadanya.
“Di sini.”
Dalam perjalanan pulang, Maya akhirnya memahami sesuatu.
Suara tidak selalu keluar dari mulut.
Kadang suara hidup di ujung jari.
Kadang ia tersimpan dalam tatapan.
Kadang ia terkubur selama dua puluh tahun karena ketakutan.
Dan terkadang, hanya dibutuhkan satu orang yang mau benar-benar mendengar untuk membuat sebuah keluarga berhenti hidup dalam kebisuan.
Malam ketika Maya pertama kali menggerakkan tangannya di restoran itu, semua orang mengira ia sedang menantang pria paling berbahaya di Jakarta.
Padahal sesungguhnya, Maya tidak sedang melawan Reyhan Salgado.
Ia hanya sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Membuat seorang ibu kembali memiliki suara.
Dan suara itulah yang akhirnya menjatuhkan orang-orang yang selama puluhan tahun membuat seluruh keluarga Salgado hidup dalam ketakutan.
