PADA HARI PEMERIKSAAN KEHAMILANKU YANG TERAKHIR SEBELUM MELAHIRKAN, SUAMIKU TIBA-TIBA MENGHILANG DARI RUANG TUNGGU.

Namaku Nadira.

Usia kandunganku sudah memasuki tiga puluh delapan minggu.

Dokter bilang, aku bisa melahirkan kapan saja.

Pagi itu, Arga bahkan tidak membiarkanku memakai sepatu sendiri.

Dia berjongkok di depanku, lalu dengan telaten mengikat tali sepatuku.

Aku sampai tertawa melihatnya.

“Aku cuma hamil, Ga. Bukan lumpuh.”

Arga tidak ikut tertawa.

Dia justru meletakkan telapak tangannya di atas perutku yang sudah sangat besar, seolah sedang memastikan bayi kami baik-baik saja.

“Dua minggu lagi rumah kita bakal ramai,” katanya sambil tersenyum.

“Siapa bilang masih dua minggu?”

Aku meringis ketika tiba-tiba ada tendangan kuat dari dalam perut.

“Anakmu kayaknya sudah nggak sabar mau keluar sekarang.”

Arga menatapku, lalu tersenyum kecil.

“Anak kita.”

Entah kenapa, sampai sekarang aku masih mengingat jelas dua kata itu.

Anak kita.

Kami sudah menikah selama lima tahun.

Dan selama tiga tahun terakhir, kami menunggu kehadiran anak ini.

Aku pernah mengalami keguguran.

Dua kali program kehamilan kami gagal.

Ada begitu banyak malam ketika aku berpura-pura tidur hanya supaya Arga tidak melihatku menangis diam-diam.

Karena itu, kehamilan ini terasa seperti jawaban atas semua doa yang pernah kami panjatkan.

Pagi itu pun seharusnya menjadi pagi yang sederhana.

Kontrol kehamilan terakhir.

Pulang.

Makan bakso langgananku.

Lalu menunggu hari persalinan tiba.

Hanya itu.

Tidak lebih.

Kami tiba di Rumah Sakit Santosa sekitar pukul sembilan pagi.

Ruang tunggu poli kandungan cukup ramai. Beberapa ibu hamil duduk ditemani suami mereka, sementara suara panggilan pasien terdengar sesekali dari pengeras suara.

Arga duduk tepat di sampingku.

Sejak tadi tangannya tidak pernah melepaskan tanganku.

Sampai tiba-tiba ponselnya bergetar.

Arga mengeluarkannya dari saku dan melihat layar.

Hanya beberapa detik.

Tapi aku melihat perubahan itu.

Senyumnya menghilang.

Rahangnya menegang.

Dan wajahnya mendadak pucat.

“Aku ke toilet sebentar,” katanya sambil berdiri.

Aku tertawa kecil.

“Baru juga duduk.”

Arga tidak menjawab.

Dia hanya mengusap bahuku sekilas, lalu berjalan cepat meninggalkan ruang tunggu.

Saat itu, aku sama sekali tidak curiga.

Aku bahkan masih tersenyum sambil mengelus perutku.

Aku tidak tahu bahwa beberapa menit kemudian, aku akan menemukan sesuatu yang membuat dua kata yang tadi diucapkan suamiku, anak kita, terdengar seperti kebohongan paling menyakitkan dalam lima tahun pernikahan kami.

Lima belas menit berlalu.

Nama Arga belum juga muncul.

Aku mengirim pesan.

Ga, lama banget.

Tidak dibaca.

Aku menelepon.

Tidak diangkat.

Awalnya aku kesal. Lalu rasa kesal itu perlahan berubah menjadi cemas.

Arga bukan tipe orang yang meninggalkanku sendirian dalam kondisi seperti ini. Bahkan selama kehamilan, dia selalu panik berlebihan kalau aku berjalan terlalu cepat atau berdiri terlalu lama.

Aku bangkit pelan dari kursi.

Seorang ibu di sebelahku menatap khawatir.

“Mau ke mana, Bu?”

“Cari suami sebentar.”

Aku berjalan menyusuri lorong.

Toilet pria berada di ujung kanan.

Aku menunggu di depannya beberapa saat, lalu bertanya kepada seorang petugas kebersihan yang baru keluar.

“Pak, tadi ada laki-laki pakai kemeja biru masuk ke sini?”

Petugas itu menggeleng.

“Nggak lihat, Bu.”

Entah kenapa, jantungku mulai berdebar tidak nyaman.

Aku berbalik.

Di sisi lain lorong terdapat beberapa ruangan administrasi dan ruang konsultasi kecil.

Saat melewati salah satunya, aku mendengar suara Arga.

Aku berhenti.

Suara itu datang dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.

“Kalau saya tanda tangan, setelah ini tidak akan ada masalah lagi, kan?”

Tubuhku membeku.

Seorang perempuan menjawab pelan.

“Yang kami butuhkan hanya pengakuan dari pihak ayah biologis. Karena akta kelahiran anak akan segera diproses.”

Ayah biologis.

Tanganku spontan mencengkeram dinding.

Aku mendekat satu langkah.

Dari celah pintu, aku melihat Arga duduk membelakangiku.

Di hadapannya ada seorang petugas rumah sakit.

Dan di sisi kanannya duduk seorang perempuan yang sangat kukenal.

Siska.

Mantan kekasih Arga.

Aku pernah melihat fotonya.

Aku bahkan pernah bertemu dengannya dua kali setelah kami menikah, karena dia masih berteman dengan beberapa teman kuliah Arga.

Namun perempuan yang duduk di ruangan itu kini berbeda.

Wajahnya pucat.

Matanya sembap.

Dan di samping kursinya terdapat sebuah stroller bayi.

Dunia seperti berhenti berputar.

Aku melihat tangan Arga memegang pena.

Di atas meja terdapat selembar formulir.

Pada bagian atasnya tertulis jelas.

Surat Pernyataan Pengakuan Anak.

Aku tidak ingat kapan tanganku mendorong pintu.

Yang kuingat hanyalah suara pintu membentur dinding.

Semua orang menoleh.

Arga langsung berdiri.

“Nadira?”

Wajahnya kehilangan seluruh warna.

Aku menatapnya.

Lalu menatap Siska.

Kemudian bayi dalam stroller.

“Jadi ini toiletnya?”

Tak ada yang menjawab.

Aku tersenyum.

Entah bagaimana aku bisa tersenyum.

Mungkin karena jika tidak, aku akan berteriak.

“Nadira, dengerin aku dulu.”

“Ayah biologis?”

Suaraku terdengar sangat pelan.

Arga maju selangkah.

Aku mundur.

“Jangan sentuh aku.”

“Nadira.”

“Kamu punya anak sama dia?”

Siska menunduk.

Tangannya mencengkeram ujung bajunya.

Arga membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.

Diamnya adalah jawaban paling telak.

Aku merasa sesak.

Semua suara di sekitarku mendadak terdengar jauh.

Aku teringat tiga tahun kami menunggu anak.

Aku teringat keguguranku.

Aku teringat Arga yang menangis sambil memelukku di kamar mandi setelah aku menemukan darah untuk kedua kalinya.

Aku teringat dia yang selalu berkata kami akan melewati semuanya bersama.

Dan kini, tepat ketika aku sedang mengandung anak yang kami tunggu-tunggu, aku menemukan dia mengakui anak perempuan lain.

“Sejak kapan?”

“Nadira, kita pulang dulu. Aku jelasin semuanya di rumah.”

Aku tertawa kecil.

“Pulang?”

Aku menunjuk dokumen di atas meja.

“Kamu pikir setelah aku lihat itu, kita bisa pulang dan ngobrol sambil minum teh?”

Siska akhirnya berdiri.

“Dira, aku bisa jelasin.”

Aku menoleh tajam.

“Kamu diam.”

Dia langsung terdiam.

“Aku tanya suamiku.”

Arga mengusap wajah kasar.

“Bayi itu lahir tiga minggu lalu.”

“Bukan itu pertanyaanku.”

“Nadira.”

“Sejak kapan kalian tidur bersama?”

Ruangan itu sunyi.

Aku bisa mendengar tangisan bayi samar-samar dari ruangan lain.

Arga menatap lantai.

“Sekitar setahun lalu.”

Dadaku terasa seperti ditusuk.

Setahun lalu.

Saat itu aku sedang menjalani program kehamilan kedua.

Setiap malam aku menyuntik hormon.

Aku berhenti minum kopi.

Aku menghitung masa subur seperti orang gila.

Dan pada saat yang sama, suamiku tidur dengan mantannya.

Aku merasakan sakit menusuk di perut.

Aku menahan napas.

Mungkin karena stres.

Mungkin hanya kontraksi palsu.

Aku tidak peduli.

“Berapa kali?”

Arga menatapku.

“Nadira, jangan sekarang.”

“Berapa kali?”

“Satu kali.”

Siska tiba-tiba menangis.

“Dia nggak bohong. Cuma sekali.”

Aku menoleh kepadanya.

“Dan sekali itu cukup untuk menghasilkan bayi?”

Siska menutup wajah.

Arga mencoba mendekat.

Aku kembali mundur.

“Kamu tahu dia hamil?”

Arga tidak menjawab.

“Kamu tahu?”

“Iya.”

Jawaban itu menghancurkanku lebih dalam daripada perselingkuhannya.

“Sejak kapan?”

“Sejak kandungannya tiga bulan.”

Aku menghitung cepat dalam kepala.

Berarti ketika aku menunjukkan hasil test pack dua garis kepada Arga, ketika dia memelukku sampai menangis karena akhirnya aku hamil, dia sudah tahu Siska juga sedang mengandung anaknya.

Aku menatap pria di depanku dan tiba-tiba merasa tidak mengenalnya.

“Kamu tahu waktu aku hamil?”

Arga menutup mata.

“Iya.”

“Dan kamu masih bisa mencium perutku setiap malam?”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Kamu masih bisa bilang anak ini mukjizat kita?”

“Nadira, aku takut kehilangan kamu.”

Aku tertawa getir.

“Jadi kamu memilih membohongiku?”

“Aku mau bilang.”

“Kapan? Setelah anaknya masuk TK?”

“Nggak seperti itu.”

“Lalu seperti apa?”

Siska menangis semakin keras.

“Aku yang minta dia jangan kasih tahu kamu.”

Aku menatapnya.

Dia mengusap air mata.

“Aku nggak mau merusak rumah tangga kalian. Aku juga nggak minta Arga menikahi aku. Aku cuma mau anakku punya identitas ayah yang jelas.”

“Kamu tidak mau merusak rumah tangga kami?”

Suaraku bergetar.

“Kamu tidur dengan suami orang.”

Siska diam.

Arga berdiri di antara kami.

“Cukup.”

Aku terpaku.

“Cukup?”

“Nadira, kamu lagi hamil besar. Kita jangan bikin kamu stres.”

Sesuatu dalam diriku runtuh sekaligus menjadi sangat dingin.

Bukan hanya karena pengkhianatannya.

Tetapi karena bahkan sekarang dia masih mencoba mengatur bagaimana aku seharusnya bereaksi terhadap luka yang dia buat.

Aku menyeka air mata.

“Baik.”

Arga terlihat sedikit lega.

Aku menunjuk dokumen di meja.

“Selesaikan.”

Dia mengernyit.

“Apa?”

“Tanda tangani.”

“Nadira.”

“Bayi itu tidak salah.”

Aku menatap stroller.

Seorang bayi perempuan tidur di sana tanpa mengetahui apa pun tentang kekacauan orang-orang dewasa di sekelilingnya.

“Kalau dia memang anakmu, akui. Jangan buat dia menanggung dosa kalian.”

Arga menatapku lama.

Aku melihat air di matanya.

Namun untuk pertama kali dalam lima tahun, air matanya tidak lagi membuatku ingin memeluknya.

Dia akhirnya duduk.

Tangannya gemetar saat menandatangani surat itu.

Aku menyaksikan pena bergerak di atas kertas.

Arga Pratama.

Tanda tangan yang sama yang ada di buku nikah kami.

Tanda tangan yang kini juga resmi mengakui seorang anak dari perempuan lain.

Begitu selesai, aku berbalik.

“Nadira.”

Aku terus berjalan.

Arga mengejarku.

Namun belum sampai sepuluh langkah, rasa sakit yang tadi kutahan datang lagi.

Kali ini jauh lebih kuat.

Aku terhuyung dan memegang dinding.

“Nadira!”

Arga menangkap tubuhku.

Aku ingin menepis tangannya, tapi rasa sakit berikutnya membuatku hampir jatuh.

Lalu aku merasakan sesuatu mengalir hangat di antara kedua kakiku.

Seorang perawat yang lewat langsung berhenti.

“Bu, ketubannya pecah!”

Kepanikan pecah begitu saja.

Aku dibawa ke ruang bersalin.

Arga ikut berlari di samping brankar.

Sepanjang perjalanan dia menggenggam tanganku, tapi aku tidak menggenggam balik.

Enam jam berikutnya adalah enam jam terpanjang dalam hidupku.

Tubuhku sakit.

Hatiku lebih sakit.

Setiap kali kontraksi datang, aku membenci Arga.

Tapi ketika rasa sakit mereda dan kulihat dia berdiri di sudut ruangan dengan wajah pucat, ada bagian kecil dari diriku yang masih ingin percaya bahwa semua ini hanya mimpi buruk.

Pada pukul lima lewat dua belas sore, anak laki-lakiku lahir.

Tangisannya memenuhi ruangan.

Aku menangis ketika dokter meletakkannya di dadaku.

Semua rasa sakit seolah menghilang beberapa detik.

Dia kecil.

Hangat.

Dan nyata.

Arga berdiri di sampingku sambil menangis.

“Terima kasih,” bisiknya.

Aku menatap anakku.

Bukan dia.

“Namanya tetap Raka,” kataku.

Arga terdiam.

Nama itu sudah kami pilih sejak bulan ketujuh.

Raka Pradipta.

Arga menyentuh kepala bayi kami dengan ujung jarinya.

Aku tidak mencegahnya.

Bagaimanapun, dia ayah Raka.

Tetapi saat itu aku juga tahu sesuatu telah berubah selamanya.

Tiga hari setelah melahirkan, aku pulang ke rumah orang tuaku.

Arga memohon agar aku kembali ke rumah kami.

Aku menolak.

Bukan karena aku langsung ingin bercerai.

Aku bahkan belum tahu apa yang kuinginkan.

Aku hanya tahu aku tidak sanggup tidur di ranjang yang sama dengan seseorang yang mampu menyimpan rahasia sebesar itu selama berbulan-bulan.

Dua minggu kemudian, Arga datang membawa setumpuk dokumen.

“Aku sudah melakukan tes DNA.”

Aku sedang menyusui Raka.

Aku menatapnya tanpa ekspresi.

“Hasilnya?”

Arga meletakkan amplop di meja.

“Bayi Siska bukan anakku.”

Tanganku berhenti bergerak.

“Apa?”

Dia terlihat hancur.

“Hasil tes menyatakan aku bukan ayah biologisnya.”

Aku menatap amplop itu.

Kemudian menatap Arga.

“Aku nggak ngerti.”

“Aku juga nggak ngerti.”

Ternyata semuanya bermula dari satu malam ketika Arga bertemu Siska di acara reuni kecil teman kampus.

Malam itu mereka mabuk.

Arga mengaku melakukan kesalahan yang menghantuinya sejak hari berikutnya.

Beberapa bulan kemudian, Siska mengabarkan dirinya hamil dan yakin Arga adalah ayahnya karena menurut pengakuannya, dia tidak berhubungan dengan siapa pun selain Arga dalam periode tersebut.

Arga percaya.

Dan karena takut aku meninggalkannya, dia memilih diam.

“Kenapa baru tes sekarang?” tanyaku.

“Siska menolak waktu hamil. Katanya takut membahayakan bayi.”

“Itu alasan?”

“Aku bodoh.”

“Ya.”

Arga tidak membantah.

Aku membuka hasil laboratorium itu sendiri.

Probabilitas paternitas nol persen.

Jelas.

Tidak terbantahkan.

Anehnya, aku tidak merasa lega.

Tidak sedikit pun.

Arga menatapku penuh harap.

“Nadira, berarti anak itu bukan anakku.”

Aku menatapnya lama.

“Terus?”

Dia terdiam.

“Aku tetap selingkuh,” katanya akhirnya.

Aku mengangguk.

“Kamu tetap selingkuh.”

“Aku tetap bohong.”

“Iya.”

“Tapi aku ingin memperbaiki semuanya.”

Aku menunduk menatap Raka yang tertidur setelah menyusu.

“Ada sesuatu yang lebih parah dari perselingkuhanmu, Ga.”

Arga menegang.

“Apa?”

“Kamu membuat keputusan untukku.”

Dia mengerutkan kening.

“Kamu memutuskan aku tidak perlu tahu. Kamu memutuskan rumah tangga kita akan lebih aman kalau aku dibohongi. Kamu memutuskan bahwa selama kamu terlihat seperti suami yang baik, aku tidak punya hak mengetahui dengan siapa sebenarnya aku hidup.”

Arga menunduk.

Untuk pertama kalinya, dia tidak membela diri.

Seminggu kemudian, Siska datang menemuiku.

Sendirian.

Wajahnya tampak lebih kurus.

“Aku minta maaf.”

Aku tidak mempersilahkannya masuk ke rumah. Kami bicara di teras.

“Siapa ayah anakmu?”

Dia menangis.

“Pacarku.”

Aku menatapnya tajam.

“Tapi dia sudah menikah.”

Aku sampai tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Siska mengusap air matanya.

“Waktu aku tahu hamil, dia langsung ninggalin aku. Aku panik. Aku ingat malam sama Arga. Aku pikir kalau Arga mengaku, anakku punya nama ayah yang jelas.”

“Kamu pikir?”

“Aku tahu aku salah.”

“Tidak. Kamu tahu persis apa yang kamu lakukan.”

Dia terdiam.

“Tapi Arga juga memilih berbohong.”

Aku mengangguk.

“Karena itu aku tidak menyalahkan kamu sendirian.”

Siska menatapku dengan mata merah.

“Satu hal lagi.”

Aku menunggu.

“Arga sebenarnya pernah mau bilang ke kamu waktu kehamilanmu masuk lima bulan. Dia bahkan datang ke rumahku dan bilang dia nggak sanggup bohong terus. Tapi aku mengancam akan datang langsung ke rumah kalian kalau dia tidak bertanggung jawab.”

Aku tertawa pelan.

Pahit.

“Dan dia memilih menuruti ancamanmu.”

Siska mengangguk.

Setelah perempuan itu pergi, aku duduk lama di teras sambil menggendong Raka.

Aku akhirnya mengerti bahwa dalam kisah ini tidak ada satu penjahat dan satu korban.

Ada orang-orang dewasa yang membuat keputusan buruk.

Ada ketakutan.

Ada kebohongan.

Ada pengkhianatan.

Dan ada dua bayi yang sama sekali tidak bersalah.

Dua bulan setelah kelahiran Raka, aku mengajukan gugatan cerai.

Arga tidak melawan.

Dia hanya meminta satu hal.

Jangan jauhkan dia dari Raka.

Aku tidak melakukannya.

Aku tidak ingin luka dalam pernikahan kami berubah menjadi hukuman untuk anak kami.

Arga datang tiga kali seminggu.

Mengganti popok.

Memandikan Raka.

Menggendongnya sampai tidur.

Dia tidak pernah lagi meminta aku membatalkan perceraian.

Mungkin karena dia tahu beberapa hal tidak bisa diperbaiki hanya dengan kata maaf.

Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi.

Pada hari putusan keluar, Arga menungguku di depan pengadilan.

“Kamu benci aku?” tanyanya.

Aku berpikir sebentar.

“Dulu iya.”

“Sekarang?”

Aku menatapnya.

“Sekarang aku cuma berharap kamu jadi ayah yang lebih baik daripada kamu menjadi suami.”

Dia tersenyum pahit.

“Aku akan coba.”

Aku mengangguk.

“Jangan coba. Lakukan.”

Setahun kemudian, sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.

Aku bertemu Siska di sebuah klinik anak.

Dia sedang menggendong putrinya.

Aku membawa Raka untuk imunisasi.

Kami sama-sama terdiam ketika mata kami bertemu.

Putrinya sudah tumbuh menjadi anak kecil yang cantik.

Siska terlihat gugup.

Lalu dia berkata sesuatu yang membuatku benar-benar terkejut.

“Arga masih kirim uang tiap bulan.”

Aku mengernyit.

“Untuk apa?”

“Untuk anakku.”

“Tapi dia bukan ayahnya.”

“Aku tahu.”

“Kenapa?”

Siska menelan ludah.

“Katanya dulu dia pernah menandatangani surat pengakuan sebagai ayah, walaupun akhirnya dibatalkan setelah tes DNA. Tapi selama beberapa minggu, dia sempat merasa anak ini tanggung jawabnya. Dia bilang bayi tidak seharusnya kehilangan masa depan hanya karena orang dewasa membuat kesalahan.”

Aku diam.

Aku tidak tahu Arga melakukan itu.

Siska mengusap rambut anaknya.

“Aku sudah berkali-kali menolak. Tapi dia memasukkan uang ke rekening tabungan pendidikan atas nama anakku. Katanya nanti kalau anak ini besar, aku boleh bilang itu dari seseorang yang pernah ikut membuat hidup ibunya berantakan.”

Aku tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, nama Arga tidak menimbulkan rasa marah di dadaku.

Bukan berarti aku memaafkan semuanya.

Bukan berarti aku menyesali perceraian kami.

Namun saat itu aku memahami sesuatu.

Manusia bisa melakukan kesalahan yang sangat buruk tanpa sepenuhnya menjadi manusia yang buruk.

Arga menghancurkan pernikahan kami.

Itu fakta.

Namun setelah semuanya runtuh, dia tidak lari dari reruntuhan yang ikut dia ciptakan.

Malam itu, ketika Arga datang menjemput Raka untuk menghabiskan akhir pekan bersamanya, aku berdiri di depan pintu sambil menyerahkan tas bayi.

Raka yang kini sudah bisa bicara terbata-bata langsung mengangkat tangan.

“Ayah!”

Arga tersenyum lebar.

Dia menggendong Raka tinggi-tinggi hingga anak kami tertawa.

Sebelum pergi, Arga menatapku.

“Ada yang kurang?”

Aku menggeleng.

“Semua sudah ada.”

Dia berjalan menuju mobil.

Raka melambaikan tangan kepadaku dari pelukannya.

Aku membalas.

Lalu tiba-tiba aku teringat pagi di rumah sakit itu.

Pagi ketika Arga menyentuh perutku dan berkata, anak kita.

Dulu dua kata itu terasa seperti kebohongan.

Sekarang aku menyadari sesuatu.

Pernikahan kami memang gagal.

Kepercayaan kami memang hancur.

Cinta kami memang tidak berhasil bertahan.

Tetapi Raka tetaplah anak kami.

Dan mungkin kedewasaan bukan tentang memaksa sebuah keluarga tetap utuh dengan cara apa pun.

Kadang, kedewasaan adalah menerima bahwa sebuah pernikahan boleh berakhir tanpa membuat seorang anak kehilangan kedua orang tuanya.

Aku menutup pintu perlahan.

Tidak menangis.

Tidak menyesal.

Karena pada akhirnya, aku kehilangan seorang suami.

Namun aku mendapatkan kembali sesuatu yang sempat hampir hilang karena kebohongan dan ketakutan.

Diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang