“Jangan sampai istriku tahu…”
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada apa pun yang pernah kurasakan.
Tanganku yang menggenggam foto USG mendadak dingin.
Aku tidak tahu berapa lama berdiri di sana. Mungkin hanya beberapa detik, tapi rasanya seperti berjam-jam.
Selena menunduk. Wajahnya terlihat tegang.
“Raka, aku juga nggak mau Nadira tahu dengan cara seperti ini,” katanya pelan. “Tapi kita nggak bisa terus menutupinya.”
Dadaku terasa sesak.
Menutupinya?
Apa yang mereka sembunyikan dariku?
Raka menarik tangannya dari perut Selena.
“Kasih aku waktu.”
“Waktu buat apa?” Selena menatapnya tajam. “Anak ini akan lahir tiga bulan lagi.”
Dunia di sekelilingku seperti kehilangan suara.
Aku menatap perut Selena.
Lalu perutku sendiri.
Tujuh bulan.
Dia sekitar enam bulan.
Jaraknya terlalu dekat.
Pikiranku langsung berlari ke tempat paling gelap.
Aku mundur satu langkah.
Tumit sepatuku menyentuh kaki kursi tunggu dan menimbulkan suara gesekan.
Raka menoleh.
Wajahnya seketika pucat.
“Nadira?”
Selena ikut menoleh.
Tidak ada yang bergerak.
Aku menatap mereka bergantian.
“Apa yang jangan sampai aku tahu?”
Raka membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.
Aku berjalan mendekat sambil tetap menggenggam foto USG. Tanganku gemetar hebat.
“Aku tanya sekali lagi. Apa yang jangan sampai aku tahu?”
“Nad, dengar dulu.”
“Anak itu anakmu?”
Pertanyaanku keluar begitu saja.
Raka membeku.
Dan kebisuan itu terasa seperti jawaban.
Aku tertawa kecil.
Aneh sekali.
Saat hati benar-benar hancur, rupanya tubuh bisa bereaksi dengan cara yang tidak masuk akal.
Aku tertawa, tapi air mata terus mengalir.
“Hebat.”
“Nadira, bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Kalimat paling basi di dunia.”
Aku menatap Selena.
“Kamu hamil anak suamiku?”
Selena terlihat ingin menjawab, tapi Raka cepat menyela.
“Jangan di sini.”
Aku langsung menatapnya.
“Kenapa? Malu?”
“Nadira, kamu sedang hamil. Jangan emosi.”
Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan. Melihat tangannya menyentuh perut perempuan lain, atau mendengar dia menggunakan kehamilanku untuk menyuruhku diam.
Aku mengangkat foto USG di tanganku.
“Lima menit lalu dokter bilang anak kita sehat. Aku keluar sambil mikir kamu bakal bahagia dengar kabarnya.”
Suaraku pecah.
“Ternyata kamu sibuk memastikan anak yang lain juga sehat?”
“Nadira!”
Beberapa orang mulai memperhatikan.
Aku tidak peduli.
Raka mencoba meraih lenganku, tapi aku menepisnya.
“Jangan sentuh aku.”
Aku berbalik dan berjalan pergi.
Raka mengejarku sampai depan lift.
“Nad, tolong. Aku jelaskan semuanya.”
“Aku nggak mau dengar.”
“Kamu harus dengar.”
Pintu lift terbuka.
Aku masuk.
Raka ikut melangkah, tapi aku menatapnya dengan mata yang mungkin bahkan tidak dikenali olehnya.
“Kalau kamu masuk, aku akan teriak.”
Dia berhenti.
Pintu lift menutup.
Barulah ketika wajahnya menghilang di balik pintu logam, kedua lututku terasa lemas.
Aku memegang dinding lift untuk tetap berdiri.
Sepanjang perjalanan pulang, teleponku tidak berhenti berdering.
Raka.
Raka.
Raka.
Lalu pesan masuk.
Nadira, pulang dulu. Aku akan jelaskan.
Aku mematikan ponsel.
Malam itu aku mengunci diri di kamar.
Raka pulang sekitar satu jam setelahku.
Dia mengetuk pintu berkali-kali.
“Nadira.”
Aku diam.
“Nad, aku tahu kamu dengar.”
Masih diam.
“Aku nggak selingkuh.”
Kalimat itu akhirnya membuatku membuka pintu.
Raka berdiri dengan wajah lelah.
Aku menatapnya dingin.
“Masuk.”
Dia terlihat lega, seolah mengira aku sudah siap memaafkan.
Aku duduk di tepi tempat tidur.
“Bicara.”
Raka menarik kursi dan duduk di depanku.
“Anak Selena bukan anakku.”
Aku tidak bereaksi.
“Terus kenapa tanganmu ada di perut dia?”
“Bayinya bergerak.”
Aku tertawa hambar.
“Dan kamu merasa punya hak menyentuhnya?”
Raka menunduk.
“Karena aku memang terlibat.”
Aku menatapnya tajam.
“Apa maksudmu?”
Dia mengusap wajah.
“Suami Selena meninggal empat bulan lalu.”
Aku terdiam.
Aku tidak tahu Selena sudah menikah.
Raka melanjutkan.
“Namanya Dimas. Mereka menikah tiga tahun lalu. Dimas teman kuliahku.”
“Temanmu?”
“Iya.”
Aku semakin bingung.
“Kenapa aku nggak pernah tahu?”
“Karena setelah aku menikah sama kamu, aku memutus kontak dengan Selena. Aku tahu kamu nggak nyaman dengan masa lalu kami. Aku ketemu lagi sama mereka sekitar delapan bulan lalu.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
Delapan bulan lalu.
Sebelum aku hamil.
“Terus?”
“Dimas sakit.”
“Sakit apa?”
Raka diam sesaat.
“Kanker.”
Aku menelan ludah.
“Dia sudah sakit cukup lama. Kondisinya memburuk cepat. Mereka sedang mencoba punya anak, tapi pengobatannya membuat semuanya sulit.”
Aku memandangnya tanpa berkedip.
“Lalu apa hubungannya denganmu?”
Raka tampak semakin gelisah.
“Aku membantu mereka.”
“Membantu apa?”
Dia menatapku.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di wajahnya yang membuat bulu kudukku berdiri.
Rasa bersalah.
Bukan rasa bersalah seorang laki-laki yang ketahuan berselingkuh.
Tapi seseorang yang menyembunyikan keputusan besar.
“Aku membantu biaya program fertilitas mereka.”
Aku terdiam.
Raka melanjutkan cepat.
“Dimas nggak punya banyak waktu. Dia minta bantuanku karena pengobatannya sudah menghabiskan hampir semua tabungan mereka.”
“Jadi kamu kasih uang?”
“Iya.”
“Berapa?”
Dia tidak menjawab.
“Berapa, Raka?”
“Seratus delapan puluh juta.”
Aku berdiri begitu cepat sampai kepalaku sedikit pusing.
“Seratus delapan puluh juta?”
“Nadira…”
“Itu hampir semua tabungan kita!”
“Aku pakai sebagian uang investasiku juga.”
“Tanpa bilang aku?”
“Aku berniat bilang.”
“Kapan? Setelah anaknya lahir?”
Raka ikut berdiri.
“Dimas meninggal sebelum sempat melihat hasil programnya. Selena baru tahu hamil dua minggu setelah pemakamannya.”
Aku menatapnya.
Ada bagian dalam diriku yang mulai memahami.
Tapi luka karena dibohongi belum hilang.
“Lalu kenapa tadi kamu bilang jangan sampai aku tahu?”
Raka terdiam.
Pertanyaan itu membuatnya kembali pucat.
“Nad…”
“Jangan bohong lagi.”

Dia mengepalkan tangan.
“Ada hal lain.”
Tentu saja.
Selalu ada hal lain.
Aku duduk kembali.
“Katakan.”
Raka mengambil napas panjang.
“Dimas bukan cuma minta bantuan uang.”
Aku merasa jantungku mulai berdebar tidak nyaman.
“Dia minta aku menjaga Selena dan anaknya kalau sesuatu terjadi padanya.”
Aku menatap suamiku.
“Dan kamu setuju?”
“Iya.”
“Sebagai apa?”
“Sebagai teman.”
“Raka.”
“Sungguh.”
Aku menatapnya tajam.
“Tadi tanganmu di perut mantan pacarmu. Kamu membayar program kehamilannya pakai uang rumah tangga kita. Kamu diam-diam menemani dia kontrol. Sekarang kamu bilang almarhum suaminya menitipkan dia padamu.”
Aku menarik napas.
“Lalu kamu berharap aku percaya semua ini cuma soal pertemanan?”
Raka berdiri diam.
Aku menggeleng.
“Malam ini kamu tidur di luar.”
“Nadira.”
“Aku butuh ruang.”
Dia ingin membantah, tapi akhirnya mengangguk.
Sebelum keluar, dia berhenti di pintu.
“Aku salah karena menyembunyikannya. Tapi aku tidak pernah mengkhianati kamu.”
Aku tidak menjawab.
Dua hari berikutnya kami hampir tidak bicara.
Aku berusaha menenangkan diri demi bayiku.
Namun setiap kali memejamkan mata, yang kulihat adalah tangan Raka di perut Selena.
Pada hari ketiga, Selena menghubungiku.
Aku bahkan tidak tahu dari mana dia mendapatkan nomor teleponku.
Bu Nadira, saya tahu saya tidak berhak meminta apa pun. Tapi kalau Ibu bersedia, saya ingin bertemu. Tanpa Raka.
Aku hampir menghapus pesan itu.
Tapi sesuatu dalam diriku ingin tahu.
Aku setuju.
Kami bertemu di sebuah kafe kecil di Jakarta Selatan.
Selena datang lebih dulu.
Tanpa Raka di sampingnya, dia terlihat berbeda.
Lebih rapuh.
Dia mengenakan kemeja longgar dan celana hitam. Wajahnya pucat, matanya seperti kurang tidur.
Aku duduk di depannya.
“Aku nggak datang untuk berteman.”
Selena mengangguk.
“Saya mengerti.”
“Jadi bicara.”
Dia mengeluarkan sebuah amplop dari tas.
“Ini surat dari Dimas.”
Aku tidak menyentuhnya.
“Untuk siapa?”
“Untuk Raka.”
“Kenapa kamu kasih ke aku?”
“Karena menurut saya Ibu harus baca.”
Aku akhirnya mengambil amplop itu.
Suratnya ditulis tangan.
Tulisan seorang laki-laki yang semakin lama semakin berantakan.
Raka,
Kalau kamu baca surat ini, mungkin aku sudah nggak ada.
Aku tahu permintaan ini egois. Tapi kalau program kami berhasil dan Selena hamil, tolong jangan biarkan dia sendirian.
Aku tidak meminta kamu menggantikan aku.
Aku cuma tahu kamu orang yang paling bisa kupercaya untuk memastikan mereka aman.
Dan kalau Nadira marah karena kamu membantu kami, jangan sembunyikan apa pun darinya. Dari semua cerita yang pernah kamu sampaikan, aku tahu istrimu jauh lebih kuat daripada yang kamu kira.
Tanganku berhenti.
Aku membaca kalimat terakhir dua kali.
Jangan sembunyikan apa pun darinya.
Aku menatap Selena.
“Raka melanggar bagian paling penting dari surat ini.”
Selena tersenyum pahit.
“Iya.”
Aku melanjutkan membaca.
Ada satu bagian yang membuat napasku tertahan.
Terima kasih karena kamu mau menjadi donor kalau sampel terakhirku gagal. Untungnya kita tidak perlu sampai ke sana.
Aku langsung mengangkat wajah.
“Donor?”
Selena pucat.
“Nadira…”
“Donor apa?”
Dia menutup mata sesaat.
“Dimas takut sampel spermanya tidak bisa digunakan setelah kemoterapi.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
“Jadi Raka pernah setuju menjadi donor sperma?”
“Iya.”
Aku berdiri.
Kursiku bergeser keras.
Selena ikut berdiri.
“Tapi tidak jadi!”
Aku menatapnya dengan tubuh gemetar.
“Dia menyetujui itu?”
“Sebelum Ibu hamil.”
“Itu bukan jawaban!”
Beberapa orang menoleh.
Selena menunduk.
“Ya.”
Aku merasa mual.
Raka bersedia memberikan spermanya agar mantan kekasihnya punya anak.
Mungkin dia tidak tidur dengannya.
Mungkin secara teknis itu bukan perselingkuhan.
Tapi keputusan sebesar itu dibuat tanpa pernah sedikit pun melibatkanku.
Aku pulang sambil menangis.
Ketika sampai rumah, Raka sedang duduk di ruang tamu.
Begitu melihat surat di tanganku, wajahnya berubah.
“Selena kasih itu ke kamu?”
Aku melempar surat tersebut ke meja.
“Kamu bersedia jadi donor sperma?”
Raka berdiri.
“Nadira, dengar.”
“Jawab.”
“Iya.”
Satu kata itu menghancurkan sesuatu yang tersisa di dalam diriku.
Aku menamparnya.
Bukan keras.
Tapi cukup membuat ruangan terasa membeku.
Raka tidak marah.
Dia hanya menunduk.
“Aku minta maaf.”
“Apa kamu pernah mikirin aku?”
“Setiap hari.”
“Jangan bohong.”
Aku menunjuk perutku.
“Kita bertahun-tahun berusaha punya anak. Dua kali aku keguguran. Kamu tahu betapa hancurnya aku.”
Air mataku jatuh.
“Dan saat kita belum tahu apakah aku bisa mempertahankan kehamilan ini atau tidak, kamu bersedia punya anak biologis dengan perempuan lain?”
“Bukan seperti itu.”
“Secara biologis iya!”
Raka terdiam.
Aku menangis tanpa suara.
“Kenapa?”
Dia akhirnya menatapku.
“Karena Dimas menyelamatkan hidupku.”
Aku membeku.
“Apa?”
Raka menarik napas panjang.
“Waktu kuliah aku pernah kecelakaan motor. Kamu tahu bagian itu.”
Aku mengangguk pelan.
“Tapi kamu nggak tahu siapa yang membawaku ke rumah sakit.”
“Dimas?”
“Iya.”
Raka menelan ludah.
“Aku kehilangan banyak darah. Dia donor darah buat aku. Dia juga yang menghubungi keluargaku. Dokter bilang kalau aku terlambat dibawa sekitar lima belas menit saja, mungkin aku nggak selamat.”
Aku diam.
“Sejak itu kami seperti saudara.”
Raka duduk perlahan.
“Ketika dia tahu kanker dan kemungkinan nggak bisa punya anak, dia bercanda bilang mungkin suatu hari dia akan minta aku membayar utang nyawa.”
Matanya berkaca-kaca.
“Beberapa tahun kemudian, dia benar-benar meminta bantuan.”
Aku tidak tahu harus merasakan apa.
Marah.
Sedih.
Mengerti.
Tapi tetap terluka.
“Kenapa kamu nggak cerita?”
Raka menggeleng.
“Karena aku pengecut.”
Jawabannya begitu sederhana sampai membuatku diam.
“Aku takut kamu menolak. Aku juga takut kamu setuju tapi sebenarnya terluka. Jadi aku mengambil keputusan sendiri.”
Dia menatapku.
“Dan ternyata itu keputusan paling bodoh yang pernah kubuat.”
Aku tidak langsung memaafkannya.
Beberapa luka tidak selesai hanya karena kita akhirnya memahami alasannya.
Aku meminta Raka tinggal sementara di apartemen milik kakaknya.
Kami mulai menjalani konseling pernikahan.
Aku juga menetapkan satu syarat.
Tidak ada lagi pertemuan diam-diam dengan Selena.
Kalau Raka ingin membantu, aku harus tahu.
Anehnya, justru aku yang beberapa minggu kemudian mengantar Selena ke rumah sakit ketika dia mengalami kontraksi palsu.
Raka sedang berada di Surabaya karena pekerjaan.
Selena meneleponku karena tidak punya siapa-siapa.
Aku sempat ingin menolak.
Tapi aku teringat perut besarnya.
Aku teringat diriku sendiri.
Kami sama-sama perempuan hamil yang sedang ketakutan.
Di ruang observasi, Selena tiba-tiba berkata,
“Saya pernah iri sama Ibu.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Karena Raka memilih Ibu.”
Aku diam.
Dia tersenyum lemah.
“Dulu saya kira kalau kami sama-sama belum menikah, mungkin suatu hari kami bisa kembali bersama. Tapi setelah ketemu lagi, saya sadar dia sudah berubah.”
“Berubah bagaimana?”
“Setiap kali bicara soal Ibu, wajahnya beda.”
Aku tidak menjawab.
Selena mengusap perutnya.
“Waktu Dimas meminta Raka jadi donor cadangan, sebenarnya Raka sempat menolak.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Dia bilang keputusan seperti itu harus dibicarakan dengan istrinya.”
Dadaku bergetar.
“Terus?”
“Dimas sedang sangat buruk kondisinya. Dokter bilang waktunya tinggal sebentar. Dia panik. Akhirnya Raka bilang iya.”
Selena menatapku.
“Tapi malam itu dia menelepon Dimas lagi dan bilang dia nggak sanggup melakukannya tanpa persetujuan Ibu.”
Aku terdiam.
“Jadi?”
“Makanya mereka mencoba memakai sampel terakhir Dimas.”
Selena tersenyum sambil menangis.
“Dan ternyata berhasil.”
Aku tidak tahu kenapa informasi itu terasa begitu penting.
Bukan karena membuat kebohongan Raka menjadi benar.
Tetap salah.
Tapi aku akhirnya memahami bahwa di detik terakhir, dia masih memikirkan batas yang seharusnya tidak pernah dilewati.
Dua bulan kemudian, aku melahirkan lebih dulu.
Seorang bayi perempuan.
Kami menamainya Aluna.
Raka berada di sampingku sepanjang persalinan.
Ketika tangisan Aluna memenuhi ruangan, dia menangis lebih keras daripada aku.
Dia mencium dahiku berkali-kali.
“Terima kasih.”
Aku menatapnya lelah.
“Jangan pernah bohong lagi.”
Dia tertawa sambil menangis.
“Nggak akan.”
Tiga minggu setelah itu, Selena melahirkan seorang bayi laki-laki.
Namanya Dimas kecil.
Aku tidak datang ke rumah sakit.
Tapi aku mengirim bunga.
Hubunganku dengan Raka perlahan membaik.
Tidak kembali seperti dulu.
Justru berbeda.
Lebih terbuka.
Lebih jujur.
Lebih dewasa.
Kupikir seluruh cerita itu akhirnya selesai.
Sampai hampir setahun kemudian.
Saat membersihkan lemari kerja Raka, aku menemukan sebuah kotak kecil.
Di dalamnya ada amplop dari rumah sakit.
Aku sempat mengira itu dokumen lama tentang program fertilitas Selena.
Tapi ketika membacanya, aku langsung duduk.
Itu hasil pemeriksaan genetik.
Nama pasiennya adalah Raka Adiwijaya.
Dan di bawahnya tertulis satu kalimat yang membuat tanganku gemetar.
Kemungkinan infertilitas berat.
Aku membaca tanggal pemeriksaannya.
Tiga tahun sebelum aku hamil.
Malam itu aku menunggu Raka pulang.
Begitu dia masuk rumah, aku meletakkan hasil pemeriksaan tersebut di meja.
Wajahnya langsung pucat.
“Kamu tahu soal ini?”
Raka diam.
“Jawab.”
“Iya.”
“Sejak tiga tahun lalu?”
Dia mengangguk.
Dadaku seperti diremas.
“Dokter bilang kemungkinan kamu hampir nggak bisa punya anak.”
“Iya.”
Aku menatap foto Aluna di meja.
“Terus anak kita?”
Raka duduk perlahan.
Matanya dipenuhi sesuatu yang sulit kuterjemahkan.
“Setelah keguguran kedua, aku periksa diam-diam.”
“Kenapa?”
“Karena selama ini semua orang selalu bertanya apa yang salah dengan tubuhmu.”
Aku tidak bergerak.
“Padahal aku mulai curiga mungkin masalahnya ada padaku.”
Suara Raka bergetar.
“Hasilnya buruk. Dokter bilang peluangnya kecil sekali, tapi bukan nol.”
Aku menelan ludah.
“Kenapa kamu nggak cerita?”
“Karena aku tahu kamu akan menyalahkan dirimu karena selama bertahun-tahun merasa tubuhmu yang gagal.”
Dia menggeleng.
“Aku nggak sanggup menambah bebanmu.”
Aku tertawa pahit.
“Jadi lagi-lagi kamu memilih berbohong untuk melindungiku?”
Dia menunduk.
“Iya.”
Aku hampir marah.
Tapi kemudian sesuatu terasa janggal.
“Kalau peluangmu sangat kecil… kenapa kamu bersedia jadi donor untuk Dimas?”
Raka menatapku.
Lama.
Lalu dia berkata sesuatu yang membuat seluruh cerita selama setahun terakhir berubah.
“Aku nggak pernah benar-benar berniat menjadi donor.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Aku cuma bilang iya supaya Dimas tenang.”
Raka menatapku dengan mata merah.
“Karena aku tahu, bahkan kalau aku mau, kemungkinan berhasil sangat kecil.”
Aku menutup mulut.
“Dimas tahu?”
Raka mengangguk.
“Dia tahu hasil pemeriksaanku.”
“Terus kenapa dia tetap menulis soal donor di surat?”
Raka tersenyum tipis.
“Karena dia tahu suatu hari kamu mungkin menemukan surat itu.”
Aku tidak mengerti.
Raka mengambil ponselnya, membuka sebuah folder lama, lalu menyerahkannya padaku.
Ada rekaman suara.
Suara Dimas.
Lemah.
Terputus-putus.
“Rak… kalau suatu hari Nadira tahu semuanya, kasih rekaman ini ke dia.”
Aku menatap Raka.
Rekaman berlanjut.
“Nadira, mungkin kamu marah sama sahabat saya. Dan kamu berhak.”
Aku menahan napas.
“Tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu. Raka pernah bilang sesuatu yang membuat saya iri.”
Suara Dimas terdengar seperti sedang tersenyum.
“Dia bilang kalau dia cuma punya satu kesempatan menjadi ayah, dia ingin anak itu lahir dari perempuan yang dia cintai.”
Air mataku jatuh.
“Dan perempuan itu bukan Selena.”
Aku tidak sanggup bergerak.
“Perempuan itu kamu.”
Rekaman berhenti.
Ruangan menjadi sunyi.
Aku menatap Raka.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku benar-benar melihat laki-laki di depanku bukan sebagai suami sempurna yang mengecewakanku, bukan juga sebagai pengkhianat yang harus kuhukum.
Dia hanyalah manusia.
Seseorang yang mencintaiku, tapi berkali-kali membuat keputusan bodoh karena mengira cinta berarti menanggung semuanya sendirian.
Aku mendekatinya.
“Aku masih marah.”
Raka tertawa kecil sambil mengusap air mata.
“Aku tahu.”
“Aku mungkin akan ungkit ini lagi kalau kita berantem.”
“Wajar.”
“Dan mulai sekarang nggak ada rahasia, bahkan kalau kamu merasa itu demi melindungiku.”
Dia mengangguk.
“Nggak ada lagi.”
Aku menatap ke arah kamar Aluna.
Bayi kami sedang tidur.
Anak yang lahir dari kemungkinan kecil.
Dari bertahun-tahun kegagalan.
Dari tubuh yang pernah kami kira tidak mampu.
Dari harapan yang hampir kami kubur.
Aku menggenggam tangan Raka.
Dulu aku mengira pengkhianatan terbesar adalah ketika seseorang mencintai orang lain diam-diam.
Ternyata tidak selalu begitu.
Kadang hubungan hampir hancur bukan karena cinta sudah hilang, melainkan karena seseorang terlalu takut mengatakan kebenaran.
Dan sejak hari itu aku memahami satu hal.
Cinta tidak seharusnya membuat kita menjadi pembaca pikiran.
Cinta juga bukan alasan untuk menyembunyikan keputusan besar.
Karena orang yang benar-benar ingin berjalan bersama kita tidak membutuhkan perlindungan dari kebenaran.
Mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk menghadapinya bersama.
