AKU SUDAH MENANDATANGANI SURAT PENOLAKAN PENGOBATAN KARENA TAK INGIN PACARKU MENJUAL RUMAHNYA DEMI MENYELAMATKANKU.

Aku masih ingat suatu sore, kami pernah duduk berdua di teras rumah itu.

Saat itu Raka berkata kepadaku,

“Kalau nanti kita menikah, aku nggak mau jual rumah ini.”

Aku menoleh kepadanya.

“Kenapa?”

Raka tersenyum kecil sambil memandang halaman rumah yang sederhana itu.

“Karena kalau semua orang yang aku sayang sudah pergi, setidaknya rumah ini masih bisa mengingatkan aku kalau dulu aku pernah punya keluarga.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku sepanjang malam.

Aku tidak tidur.

Aku hanya berbaring dengan mata terpejam, mendengarkan suara pendingin ruangan dan langkah perawat di lorong, sementara Raka tertidur di kursi sebelah ranjangku dengan kepala bersandar pada dinding.

Wajahnya tampak semakin kurus.

Ada lingkaran hitam di bawah matanya yang dulu tidak pernah ada.

Tangannya masih menggenggam ujung selimutku, seolah bahkan dalam tidur dia takut aku akan pergi.

Aku memandangnya lama.

Lalu sesuatu dalam diriku pecah.

Aku mencintai laki-laki itu.

Justru karena itu, aku tidak sanggup membiarkannya kehilangan satu-satunya rumah yang masih menyimpan keluarganya demi mempertahankan hidupku yang bahkan belum tentu bisa diselamatkan.

Pagi harinya, ketika Raka pulang sebentar untuk mandi dan mengganti pakaian, aku meminta perawat memanggil dokter.

Dokter Arief datang sekitar pukul sembilan.

Dia sudah mengenalku selama berbulan-bulan.

Mungkin karena itu, ketika aku mengatakan keputusanku, ekspresinya langsung berubah.

“Saya ingin menghentikan pengobatan.”

Dokter Arief terdiam.

“Alya, kita sudah membicarakan prognosisnya. Memang tidak mudah, tapi masih ada kemungkinan.”

“Aku tahu.”

“Kita sedang menunggu hasil pencocokan donor.”

“Aku tahu.”

“Kalau alasannya biaya, rumah sakit bisa membantu menghubungkan dengan beberapa yayasan.”

Aku menggeleng.

“Bukan cuma biaya rumah sakit.”

“Lalu?”

Aku menatap jendela.

Di luar, langit Jakarta tampak pucat setelah hujan malam.

“Biaya yang dibayar orang-orang yang mencintai saya.”

Dokter Arief diam cukup lama.

Aku menjelaskan semuanya.

Tentang motor Raka.

Tentang jam tangan ayahnya.

Tentang percakapan dengan agen properti.

Tentang rumah di Jalan Melati.

“Aku tidak mau dia menjual rumah itu.”

Dokter Arief menarik kursi dan duduk di samping ranjang.

“Alya, saya tidak bisa memaksa Anda menjalani pengobatan. Anda pasien dewasa dan berhak mengambil keputusan. Tapi saya harus memastikan keputusan ini dibuat dalam kondisi sadar, tanpa tekanan, dan Anda memahami konsekuensinya.”

“Aku mengerti.”

“Tanpa terapi lanjutan, penyakitnya bisa berkembang cepat.”

Aku menelan ludah.

“Berapa lama?”

Dia tidak langsung menjawab.

Dan diamnya sudah cukup.

Aku mengangguk perlahan.

“Tolong siapkan suratnya.”

Tanganku gemetar ketika akhirnya menandatangani formulir penolakan tindakan medis.

Aneh.

Hanya satu tanda tangan.

Namun rasanya seperti menutup sebuah pintu yang mungkin tidak akan pernah bisa kubuka lagi.

Aku meminta dokter dan perawat untuk tidak memberi tahu Raka sebelum aku sendiri yang bicara.

Aku benar-benar berniat mengatakannya.

Tapi ternyata aku pengecut.

Hari itu Raka kembali membawa bubur ayam kesukaanku.

Dia tersenyum seperti biasa.

“Makan sedikit, ya.”

Aku memaksakan senyum.

“Kamu sudah makan?”

“Sudah.”

“Bohong.”

Dia terkekeh.

“Kok sekarang hobimu nuduh aku bohong?”

Karena hampir semua yang kamu lakukan belakangan ini adalah kebohongan demi aku, pikirku.

Tapi aku tidak mengatakannya.

Aku justru mengambil sendok dan makan sambil menahan air mata.

Raka mungkin merasakan ada sesuatu yang berbeda.

Beberapa kali dia memperhatikanku.

Namun sampai malam, dia tidak bertanya.

Keesokan paginya, semuanya terbongkar.

Aku sedang mencuci muka ketika terdengar suara percakapan dari luar kamar mandi.

Suara Dokter Arief.

“Saya kira Alya sudah memberitahu Anda.”

Kemudian sunyi.

Sunyi yang begitu panjang sampai jantungku terasa berhenti berdetak.

Aku keluar perlahan.

Raka berdiri di tengah kamar.

Di tangannya ada salinan formulir penolakan pengobatan yang kutandatangani.

Wajahnya tidak marah.

Itu justru lebih menakutkan.

Dia hanya menatap kertas itu.

Kemudian menatapku.

“Kamu tanda tangan ini kemarin?”

Aku mencengkeram ujung bajuku.

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku tahu seharusnya aku menjelaskan dengan tenang.

Namun begitu melihat wajahnya, semua kalimat yang sudah kusiapkan hancur.

“Karena aku dengar kamu mau jual rumah.”

Raka membeku.

Aku melanjutkan sebelum keberanianku hilang.

“Motor bisa dicari lagi. Uang bisa dicari lagi. Tapi rumah itu nggak bisa diganti, Ka.”

Dia masih diam.

“Aku tahu rumah itu satu-satunya yang tersisa dari ayah dan ibumu.”

Tidak ada jawaban.

Air mataku mulai jatuh.

“Aku nggak mau hidupku dibayar dengan semua yang kamu punya.”

Raka menarik napas panjang.

Aku bersiap diteriaki.

Aku bahkan berharap dia marah.

Tapi laki-laki itu justru berjalan ke tasnya.

Dia membuka ritsleting, mengeluarkan sebuah map cokelat, lalu kembali mendekatiku.

“Aku tahu suatu hari kamu bakal berpikir begini.”

Aku mengernyit.

“Apa?”

Dia mengeluarkan selembar dokumen.

“Makanya aku sebenarnya mau kasih ini setelah semuanya selesai.”

Raka menyerahkannya kepadaku.

“Tapi kayaknya sekarang waktunya.”

Aku menerimanya dengan tangan gemetar.

Dokumen itu berasal dari sebuah kantor notaris.

Aku membaca halaman pertama.

Lalu halaman kedua.

Semakin kubaca, semakin sulit aku bernapas.

“Ini apa?”

“Baca sampai selesai.”

Aku menatap tanggal yang tercetak di sudut kanan atas.

Delapan belas bulan lalu.

Jauh sebelum leukemia itu ditemukan.

Jauh sebelum kemoterapi.

Jauh sebelum semua tagihan rumah sakit.

Dokumen itu adalah akta pengalihan kepemilikan rumah di Jalan Melati.

Dan namaku tercantum sebagai penerima.

Aku mengangkat kepala.

“Raka…”

Dia duduk di kursi.

“Rumah itu secara hukum sudah bukan punyaku sejak setahun setengah lalu.”

“Apa maksudmu?”

“Rumah itu milikmu.”

Aku hanya menatapnya.

Tidak mengerti.

Tidak sanggup memahami.

“Kenapa?”

Raka tersenyum tipis.

“Kamu ingat waktu kita pernah ribut besar karena aku menolak lamaran kerja di Surabaya?”

Aku mengangguk samar.

Saat itu aku mengira dia terlalu takut meninggalkan Jakarta.

“Tiga hari setelah pertengkaran itu, aku pergi ke notaris.”

“Untuk apa?”

“Bikin surat ini.”

“Tapi kenapa atas namaku?”

Raka menunduk sebentar.

“Ayahku pernah bilang, rumah bukan soal siapa yang membangun temboknya. Rumah adalah tempat yang kita pilih untuk orang yang ingin kita pulangi.”

Air mataku langsung mengalir.

Raka melanjutkan.

“Sejak ibuku meninggal, rumah itu cuma bangunan buatku. Sampai kamu datang.”

Aku menutup mulut.

“Jadi waktu aku bilang nggak mau jual rumah itu kalau kita menikah, bukan karena aku takut kehilangan kenangan.”

Dia menatap mataku.

“Aku mau memberikannya ke kamu.”

“Ka…”

“Aku pikir setelah kita menikah nanti aku akan bilang. Aku pengin rumah itu jadi rumah kita.”

Aku menatap dokumen itu sekali lagi.

“Tapi kemarin aku dengar kamu bicara sama agen properti.”

“Iya.”

“Kalau rumahnya milikku, bagaimana kamu bisa menjualnya?”

“Aku nggak bisa.”

“Lalu rumah apa?”

Raka terdiam sebentar.

Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah foto.

Aku mengenali sebuah rumah kecil lain.

Lebih sederhana.

Berjarak sekitar dua gang dari rumah Jalan Melati.

“Ini rumah kontrakan yang kubeli empat tahun lalu bersama temanku. Aku punya setengah kepemilikan. Itu yang mau kujual.”

Aku memejamkan mata.

Semua keputusan yang kuambil tiba-tiba terasa seperti reruntuhan yang jatuh sekaligus di kepalaku.

“Tapi motormu?”

“Dijual.”

“Jam ayahmu?”

Raka tidak langsung menjawab.

Aku menatap pergelangan tangannya yang kosong.

“Jam itu kamu jual juga, kan?”

Dia mengangguk.

Dadaku terasa sakit.

“Kenapa?”

“Karena kamu butuh pengobatan.”

“Jam itu peninggalan ayahmu!”

“Iya.”

“Dan kamu selalu bilang itu barang paling berharga yang kamu punya!”

Raka mengangkat wajah.

Untuk pertama kalinya, emosinya retak.

“Dulu.”

Suaranya serak.

“Itu barang paling berharga yang aku punya dulu.”

Aku diam.

Raka menatapku dengan mata merah.

“Sekarang kamu.”

Aku menangis.

Bukan tangis pelan seperti selama berbulan-bulan sebelumnya.

Aku menangis seperti anak kecil.

Semua ketakutan, rasa bersalah, sakit, dan putus asa keluar sekaligus.

“Aku nggak mau kamu kehilangan semuanya gara-gara aku!”

Raka bangkit.

“Dan aku nggak mau kehilangan kamu cuma supaya aku masih punya benda-benda itu!”

“Tapi kalau aku tetap mati?”

Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Aku menatapnya.

“Kalau semua ini gagal, Ka?”

Raka diam beberapa detik.

Lalu dia berkata pelan,

“Setidaknya aku nggak akan hidup puluhan tahun sambil bertanya apakah aku bisa menyelamatkanmu kalau waktu itu aku mencoba sedikit lebih keras.”

Aku memalingkan wajah.

Raka mendekat.

“Kamu pikir aku jual motor karena aku nggak sayang motor itu?”

Dia tertawa kecil, getir.

“Aku sayang.”

“Jam ayah?”

“Sayang banget.”

“Rumah?”

“Lebih dari yang kamu tahu.”

“Terus kenapa?”

“Karena cinta bukan perlombaan siapa yang paling sedikit berkorban.”

Aku menatapnya.

“Dan bukan juga soal siapa yang boleh memutuskan sendirian mana yang pantas kehilangan.”

Kalimat itu menghantamku.

Karena itulah tepatnya yang kulakukan.

Aku memutuskan sendiri bahwa hidupku tidak sepadan dengan kehilangan Raka.

Tanpa pernah bertanya apakah Raka setuju.

“Aku cuma nggak mau jadi beban.”

Raka menggeleng.

“Kamu bukan beban.”

“Aku bikin hidupmu berantakan.”

“Penyakitmu yang bikin hidup kita berantakan. Bukan kamu.”

Aku terisak.

Raka menggenggam tanganku.

“Alya, kalau suatu hari kamu benar-benar capek dan kamu memilih berhenti karena tubuhmu sudah nggak sanggup lagi, aku akan duduk di sampingmu dan menghormati keputusan itu.”

Dia menunjuk formulir di meja.

“Tapi kalau kamu menyerah cuma karena merasa hidupmu terlalu mahal buat diperjuangkan, aku nggak bisa diam.”

Aku menangis semakin keras.

Beberapa menit kemudian, aku meminta Dokter Arief kembali.

“Apa surat kemarin bisa dibatalkan?”

Dokter Arief menatapku.

“Bisa. Selama Anda masih ingin melanjutkan terapi.”

Aku menggenggam tangan Raka.

“Aku mau.”

Raka menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya sejak penyakitku kambuh, aku melihat dia menangis.

Perjuangan setelah itu tidak menjadi mudah hanya karena aku berubah pikiran.

Justru bulan-bulan berikutnya jauh lebih berat.

Tubuhku semakin lemah.

Rambutku habis.

Aku mengalami infeksi serius dua kali.

Suatu malam kondisiku bahkan memburuk sampai Raka diminta keluar dari ruang perawatan intensif.

Namun tiga minggu setelah aku membatalkan surat penolakan pengobatan, sebuah kabar datang.

Ada donor yang cocok.

Bukan seratus persen.

Tapi cukup baik untuk dilakukan transplantasi.

Aku pikir itu adalah kejutan terbesar.

Ternyata bukan.

Hari sebelum prosedur, seorang perempuan datang menemuiku.

Usianya sekitar dua puluh delapan tahun.

Namanya Nisa.

Dia memperkenalkan diri sebagai adik sepupu Raka.

Aku belum pernah bertemu dengannya karena selama bertahun-tahun dia tinggal di Makassar.

Nisa menyerahkan sebuah kotak kecil kepadaku.

“Apa ini?”

“Titipan dari Mas Raka sebenarnya.”

“Kenapa kamu yang bawa?”

Nisa tersenyum.

“Karena kalau dia yang kasih, dia pasti sok kuat.”

Aku membuka kotaknya.

Di dalamnya ada sebuah jam tangan tua.

Jam peninggalan ayah Raka.

Aku membeku.

“Bukannya ini dijual?”

“Memang.”

Aku menatap Nisa.

Dia tertawa kecil.

“Yang beli saya.”

Aku benar-benar tidak mengerti.

Nisa menjelaskan bahwa beberapa bulan sebelumnya Raka meneleponnya dan menawarkan jam itu. Dia tahu Raka tidak akan mau menerima bantuan cuma-cuma, jadi Nisa membelinya dengan harga yang Raka minta.

“Tapi saya nggak pernah berniat menyimpan jam ini.”

Dia mendorong kotak itu ke arahku.

“Mas Raka bilang suatu saat kalau dia punya uang, dia akan beli lagi.”

“Kenapa kamu kasih sekarang?”

Nisa menatapku.

“Karena saya rasa sesuatu yang berharga nggak selalu harus dibeli kembali dengan uang.”

Aku menangis lagi hari itu.

Transplantasi dilakukan keesokan paginya.

Aku tidak ingat banyak tentang minggu-minggu setelahnya.

Ada demam.

Ada rasa sakit.

Ada malam-malam ketika aku yakin tubuhku sudah menyerah.

Namun setiap kali membuka mata, Raka selalu ada.

Kadang tertidur.

Kadang membaca.

Kadang hanya duduk sambil menatapku.

Empat belas bulan kemudian, Dokter Arief menatap hasil pemeriksaanku dan tersenyum.

“Tidak ditemukan tanda penyakit aktif.”

Aku tidak langsung bereaksi.

Aku meminta dia mengulanginya.

Dia mengulanginya.

Barulah aku menangis.

Sore itu aku pulang bersama Raka.

Bukan ke apartemen kecil yang selama ini kami tempati.

Dia membawaku ke Jalan Melati.

Rumah itu tampak berbeda.

Dindingnya dicat ulang.

Atap dapur sudah diperbaiki.

Pohon mangga di halaman belakang masih berdiri.

“Apa ini?” tanyaku.

Raka mengeluarkan kunci.

“Aku renovasi sedikit.”

“Pakai uang dari mana lagi?”

Dia tertawa.

“Tenang. Kali ini nggak jual organ.”

Aku memukul lengannya pelan.

Saat pintu terbuka, aku berhenti.

Di ruang tengah hanya ada beberapa perabot sederhana.

Namun di atas meja ada sebuah bingkai.

Di dalamnya bukan foto.

Melainkan salinan akta rumah yang pernah diberikan Raka kepadaku di rumah sakit.

Di bawahnya ada tulisan tangan kecil.

Rumah ini pernah dibangun Ayah untuk keluarganya.

Sekarang aku membangunnya kembali untuk keluargaku.

Aku menoleh.

Raka berdiri beberapa langkah di belakangku.

Di tangannya ada jam tangan ayahnya.

Sudah kembali melingkar di pergelangan tangan kiri.

Namun tangan kanannya memegang sesuatu.

Sebuah kotak kecil.

Aku langsung menangis bahkan sebelum dia membukanya.

Raka berlutut.

“Aku sebenarnya sudah punya rencana ini sejak sebelum kamu sakit.”

Dia tersenyum gugup.

“Cuma hidup kita ternyata suka bikin revisi tanpa izin.”

Aku tertawa sambil menangis.

“Alya, aku nggak bisa janji hidup setelah ini bakal gampang.”

Dia menatapku.

“Aku juga nggak bisa janji kita nggak akan takut lagi.”

Kotak itu terbuka.

Sebuah cincin sederhana berada di dalamnya.

“Tapi kalau kamu masih mau, aku pengin setiap ketakutan berikutnya kita hadapi berdua. Nggak ada lagi keputusan sepihak. Termasuk soal menyerah.”

Aku mengangguk sebelum dia selesai bicara.

“Iya.”

Raka tertawa.

“Aku belum nanya.”

“Cepetan tanya.”

Dia ikut menangis.

“Alya, mau menikah sama aku?”

“Iya.”

Tiga bulan kemudian kami menikah di halaman rumah Jalan Melati.

Tidak ada pesta mewah.

Hanya keluarga dekat, beberapa teman, Dokter Arief, dua perawat yang dulu merawatku, dan Nisa yang sejak pagi terus mengingatkan Raka agar tidak menangis sebelum akad selesai.

Setelah semua tamu pulang, aku dan Raka duduk di teras.

Tempat yang sama seperti bertahun-tahun lalu.

Pohon mangga bergerak pelan diterpa angin malam.

Aku menyandarkan kepala di bahunya.

“Ka.”

“Hm?”

“Aku baru sadar sesuatu.”

“Apa?”

“Waktu dulu kamu bilang rumah ini bakal mengingatkan kamu bahwa kamu pernah punya keluarga…”

Raka menoleh.

Aku tersenyum.

“…ternyata kamu salah.”

“Kenapa?”

Aku menggenggam tangannya.

“Karena rumah ini bukan tempat untuk mengingat keluarga yang sudah pergi.”

Aku memandang cahaya dari ruang tengah yang jatuh ke halaman.

“Rumah ini tempat kita memulai keluarga yang masih ada.”

Raka tidak menjawab.

Dia hanya mencium keningku.

Bertahun-tahun kemudian, barulah aku memahami bahwa cinta terbesar yang pernah diberikan Raka kepadaku bukan rumah, bukan uang, bukan motor, bahkan bukan jam peninggalan ayahnya.

Cinta terbesarnya adalah keberanian untuk tetap tinggal ketika aku sendiri sudah menyerah pada diriku.

Dan cinta terbesar yang akhirnya bisa kuberikan kepadanya bukan bertahan hidup dengan segala cara.

Melainkan berhenti memutuskan sendirian bahwa diriku tidak layak diperjuangkan.

Karena terkadang, orang yang mencintai kita memang rela memikul sesuatu yang sangat berat.

Namun cinta seharusnya tidak membuat satu orang memikul semuanya sendirian.

Sejak hari itu, aku belajar satu hal.

Kalau hidup ini memang harus berat, setidaknya jangan biarkan orang yang kita cintai mengangkat seluruh bebannya seorang diri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang