Maya menemukan nomor Raka bukan dari buku telepon keluarga.
Nomor itu sudah lama dihapus.
Bahkan foto-foto Raka di rumah lama mereka pernah diturunkan satu per satu oleh Hendra sendiri.
Maya mendapatkannya dari seorang sepupu yang diam-diam masih berhubungan dengan kakaknya.
Tangannya gemetar ketika menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar tiga kali.
Lalu suara laki-laki menjawab.
“Halo?”
Maya menutup mata sesaat.
Suara itu sudah jauh lebih berat dibandingkan yang ia ingat.
“Kak.”
Di ujung sana langsung sunyi.
Maya bisa mendengar suara kendaraan dan angin.
“Maya?”
“Iya.”
Lama sekali Raka tidak berkata apa-apa.
Maya menggigit bibir.
“Papa sakit.”
“Aku tahu.”
Jawaban itu membuat Maya terkejut.
“Kakak tahu?”
“Ada yang memberitahuku dua minggu lalu.”
“Kenapa Kakak tidak datang?”
Raka tertawa kecil, tetapi tidak ada sedikit pun kegembiraan di dalamnya.
“Datang sebagai apa?”
Maya tak mampu menjawab.
Raka melanjutkan.
“Sebagai anak yang katanya sudah mati sejak umur dua puluh tiga?”
“Kak…”
“Papa sendiri yang bilang waktu itu. Kamu masih ingat, kan?”
Maya ingat.
Ia mengingatnya terlalu jelas.
Sembilan belas tahun lalu, Raka baru berusia dua puluh tiga tahun.
Ia baru lulus kuliah teknik mesin dan sudah disiapkan Hendra untuk masuk ke perusahaan keluarga.
Semua orang mengira Raka akan menjadi penerus.
Namun suatu malam, Raka membawa seorang perempuan ke rumah.
Namanya Sari.
Anak seorang montir bengkel.
Ayahnya meninggal ketika ia masih sekolah.
Ibunya berjualan nasi uduk.
Hendra hanya membutuhkan sepuluh menit untuk memutuskan bahwa perempuan itu tidak pantas menjadi menantu keluarga Wijaya.
“Putuskan hubunganmu dengannya.”
Raka menolak.
Hendra mengancam akan mencoret namanya dari perusahaan.
Raka tetap menolak.
Pertengkaran mereka meledak.
Saat itulah Hendra menunjuk pintu rumah dan berkata sesuatu yang tidak pernah bisa dilupakan Maya.
“Kalau kau keluar dari rumah ini demi perempuan itu, jangan pernah kembali. Mulai malam ini, aku tidak punya anak laki-laki.”
Raka benar-benar pergi.
Ia membawa dua tas pakaian dan sebuah kotak kecil berisi barang-barang pribadinya.
Tak seorang pun mengejarnya.
Termasuk Hendra.
Beberapa bulan kemudian, Raka menikahi Sari.
Undangannya dikirim ke rumah keluarga.
Hendra membakarnya di depan Maya.
Sejak saat itu, nama Raka dilarang disebut.
Maya beberapa kali mencoba mencari kakaknya.
Namun setiap kali Hendra mengetahuinya, ia akan marah besar.
Sampai akhirnya Maya menyerah.
Sekarang, hampir dua puluh tahun kemudian, Hendra justru memanggil nama yang selama ini ia hapus sendiri dari keluarganya.
“Kak,” suara Maya pecah. “Papa minta bertemu.”
Di seberang sana kembali sunyi.
Kemudian Raka bertanya pelan.
“Dia sadar?”
“Sadar.”
“Dia yang meminta?”
“Iya.”
Raka menarik napas panjang.
“Aku pikir-pikir dulu.”
Telepon terputus.
Maya tidak berani menelepon lagi.
Malam itu, Hendra beberapa kali bertanya apakah Raka sudah datang.
Maya hanya menjawab belum.
Keesokan paginya kondisi Hendra memburuk.
Dokter menambah obat penghilang nyeri.
Napasnya mulai pendek.
Namun matanya terus menatap pintu.
Seolah-olah untuk pertama kali dalam hidup, Hendra Wijaya sedang menunggu seseorang yang tidak bisa ia perintah untuk datang.
Menjelang sore, pintu kamar perlahan terbuka.
Maya yang duduk dekat jendela langsung berdiri.
Seorang pria masuk.
Tubuhnya tinggi.
Rambutnya mulai dipenuhi uban tipis di bagian pelipis.
Ia mengenakan kemeja biru tua sederhana dan celana hitam.
Tidak ada jas mahal.
Tidak ada jam mewah.
Wajahnya lebih kurus dibandingkan Raka yang tersimpan dalam ingatan Maya.
Tetapi matanya masih sama.
Tenang.
Dalam.
Dan sedikit keras kepala.
“Kak…”
Maya hampir tidak percaya.
Raka tersenyum tipis.
“Sudah lama, Ya.”
Maya memeluknya.
Untuk beberapa detik, Raka membeku.
Lalu tangannya perlahan membalas pelukan adiknya.
Ketika mereka melepaskan pelukan, Maya melihat sesuatu tergantung di dada Raka.
Sebuah medali tua.
Warnanya sudah kusam.
Pitanya bahkan tampak pernah dijahit ulang.
Maya mengenal benda itu.
Dan Hendra juga.

Mata Hendra seketika membesar.
Tangannya yang lemah bergerak di atas selimut.
“Medali itu…”
Raka menoleh kepadanya.
Tatapan ayah dan anak bertemu untuk pertama kalinya setelah sembilan belas tahun.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada tangisan dramatis.
Hanya diam yang terasa lebih berat daripada seluruh percakapan mereka selama hidup.
Hendra menunjuk benda di dada Raka.
“Kau masih menyimpannya?”
Raka menunduk sebentar.
Medali itu adalah medali lomba sains tingkat nasional yang dimenangkan Raka saat berusia lima belas tahun.
Bukan medali emas yang mewah.
Bukan pula penghargaan terbesar dalam hidupnya.
Tetapi medali itu merupakan satu-satunya penghargaan yang pernah Hendra pasangkan sendiri ke leher putranya.
Saat itu, di depan ratusan orang, Hendra menepuk bahu Raka dan berkata dengan bangga,
“Itu anak saya.”
Raka mengangkat medali itu sedikit.
“Aku tidak menyimpannya untuk mengingat kemenangan.”
Hendra menelan ludah.
“Lalu?”
“Untuk mengingat bahwa pernah ada satu hari ketika Papa bangga menjadi ayahku.”
Wajah Hendra berubah.
Maya memalingkan wajah karena tak sanggup melihatnya.
Raka menarik kursi dan duduk di samping ranjang.
Hendra mencoba mengangkat tubuh, tetapi tidak kuat.
“Aku…”
Suaranya serak.
“Aku salah.”
Raka tidak menjawab.
Hendra menatapnya.
“Aku terlalu keras.”
“Bukan.”
Raka berkata tenang.
“Papa bukan terlalu keras.”
Hendra terdiam.
“Papa terlalu takut.”
Alis Hendra berkerut.
“Takut?”
“Takut kehilangan kendali.”
Raka menatap ayahnya lurus-lurus.
“Papa bisa mengendalikan perusahaan. Karyawan. Uang. Rumah. Semua orang di sekitar Papa. Tapi ketika aku memilih sesuatu yang tidak Papa pilihkan, Papa tidak tahu harus melakukan apa.”
Maya menahan napas.
Tidak pernah ada orang yang berbicara kepada Hendra seperti itu.
Anehnya, Hendra tidak marah.
Ia justru memejamkan mata.
“Aku pikir kau akan kembali.”
Kalimat itu keluar begitu pelan.
Raka membeku.
Hendra menatap langit-langit.
“Setiap malam selama beberapa bulan pertama, aku pikir kau akan pulang.”
Air mata mengalir dari sudut matanya.
“Aku yakin kau tidak akan kuat hidup susah.”
Raka tersenyum getir.
“Jadi Papa menunggu aku gagal?”
“Aku menunggu kau membutuhkan aku.”
“Bedanya tipis.”
Hendra menarik napas berat.
“Tapi kau tidak pernah kembali.”
“Karena aku juga menunggu.”
Hendra memandangnya.
Raka menelan ludah.
“Aku menunggu Papa menelepon.”
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Dua laki-laki itu akhirnya menyadari bahwa selama bertahun-tahun, mereka sebenarnya melakukan hal yang sama.
Menunggu.
Yang satu menunggu putranya mengalah.
Yang satu menunggu ayahnya memanggil.
Dan kesombongan membuat sembilan belas tahun lewat begitu saja.
Hendra berbisik.
“Sari bagaimana?”
Untuk pertama kali, ekspresi Raka berubah.
Matanya melembut.
“Baik.”
“Kalian masih bersama?”
Raka mengangguk.
“Delapan belas tahun menikah.”
Hendra tersenyum kecil.
“Anak?”
Raka diam.
Maya memperhatikan kakaknya.
Ada sesuatu dalam jeda itu.
Kemudian Raka mengambil ponselnya.
Ia membuka sebuah foto.
Seorang pemuda berusia sekitar tujuh belas tahun sedang berdiri di depan sebuah laboratorium sekolah, mengenakan seragam putih abu-abu dan memegang trofi.
Di sebelahnya seorang perempuan tersenyum.
Sari.
Wajah Hendra langsung menegang.
“Itu…”
“Anakku.”
Jari Hendra bergetar ketika menerima ponsel.
“Apa namanya?”
“Bima.”
“Berapa umur?”
“Tujuh belas.”
Hendra terus menatap foto itu.
Matanya merah.
“Cucuku.”
Raka mengangguk pelan.
Untuk pertama kalinya Hendra mengucapkan kata itu.
Cucuku.
Seolah kata tersebut terasa asing di mulutnya.
“Dia tahu aku?”
Raka terdiam sejenak.
“Tahu.”
“Apa yang kau ceritakan?”
“Kebenaran.”
Hendra menatap putranya dengan cemas.
“Kebenaran seperti apa?”
“Bahwa kakeknya orang yang sangat pintar membangun perusahaan, tapi tidak terlalu pintar menjaga keluarga.”
Maya hampir tersenyum di tengah air matanya.
Anehnya, Hendra juga tersenyum tipis.
“Aku pantas mendapat itu.”
Raka mengambil kembali ponselnya.
Hendra menatap pintu.
“Dia ikut?”
“Tidak.”
Wajah Hendra langsung jatuh.
“Aku ingin melihatnya.”
Raka menggeleng.
“Bima yang tidak mau.”
Jawaban itu menyakitkan lebih dalam daripada apa pun.
Hendra terdiam cukup lama.
“Dia membenciku?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Dia tidak mengenal Papa.”
Kalimat sederhana itu membuat Hendra menutup mata.
Raka melanjutkan pelan.
“Dan itu lebih buruk daripada benci.”
Air mata mengalir lagi.
Hendra memegang selimut erat-erat.
“Aku kehilangan semuanya.”
Raka menatapnya.
“Papa kehilangan banyak hal.”
“Aku kehilangan kau.”
“Iya.”
“Aku kehilangan cucuku.”
“Iya.”
“Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya.”
Raka tidak menjawab.
Hendra menatap putranya dengan mata yang tiba-tiba tampak sangat tua.
“Kenapa kau datang?”
Pertanyaan itu membuat Maya menoleh.
Raka mengusap medali di dadanya.
“Karena kalau aku tidak datang, mungkin aku akan menghabiskan sisa hidupku menjadi seperti Papa.”
Hendra mengernyit.
“Menunggu seseorang yang sudah tidak mungkin kembali.”
Hendra terdiam.
Raka menghela napas.
“Aku datang bukan karena semuanya sudah selesai. Aku juga bukan datang untuk bilang bahwa sembilan belas tahun ini tidak berarti apa-apa.”
Ia menatap ayahnya.
“Aku datang supaya rantai ini berhenti di sini.”
Malam semakin larut.
Maya keluar sebentar untuk memberi mereka waktu berdua.
Ketika kembali hampir satu jam kemudian, ia mendapati Hendra tertidur.
Tangan ayahnya menggenggam tangan Raka.
Seperti anak kecil yang takut ditinggalkan.
Pukul tiga pagi, Hendra terbangun.
Napasnya semakin berat.
Raka masih berada di sampingnya.
“Kau belum pulang?”
“Belum.”
Hendra mengangguk lemah.
Ia menatap medali tua itu lagi.
“Aku ingat hari itu.”
“Yang mana?”
“Waktu kau menang.”
Raka terdiam.
“Aku bilang kepada semua orang bahwa kau pasti akan melanjutkan perusahaan.”
Hendra tersenyum pahit.
“Bahkan ketika kau masih lima belas tahun, aku sudah menentukan seluruh hidupmu.”
Raka tidak menyangkal.
“Aku kira menjadi ayah berarti memastikan anakku tidak pernah salah memilih.”
Hendra menarik napas pendek.
“Ternyata menjadi ayah mungkin berarti tetap membuka pintu meski anakmu memilih jalan yang tidak kau pahami.”
Raka menunduk.
Tangannya menggenggam tangan Hendra sedikit lebih erat.
“Papa terlambat memahami itu.”
“Iya.”
Hendra tidak membela diri.
Beberapa saat kemudian ia berkata,
“Raka.”
“Hm?”
“Maaf.”
Satu kata.
Tidak panjang.
Tidak indah.
Tetapi Raka menunggu sembilan belas tahun untuk mendengarnya.
Bibirnya bergetar.
Ia mengangguk perlahan.
“Aku dengar.”
Hendra menatapnya.
“Kau maafkan?”
Raka mengusap wajah.
“Aku tidak tahu apakah semua luka bisa hilang malam ini.”
Hendra menatapnya tanpa berkedip.
“Tapi aku tidak mau membawa kebencian ini lebih lama.”
Raka menarik napas.
“Aku maafkan Papa.”
Hendra menangis.
Bukan seperti seorang pengusaha besar.
Bukan seperti kepala keluarga yang ditakuti.
Ia menangis seperti seorang ayah yang akhirnya menemukan anaknya saat waktu hampir habis.
Namun kejutan terbesar terjadi beberapa menit kemudian.
Terdengar ketukan di pintu.
Raka menoleh.
Maya berdiri di sana.
Di sampingnya ada seorang remaja laki-laki tinggi dengan jaket hitam.
Wajahnya tegang.
Tangannya masuk ke saku.
Raka langsung berdiri.
“Bima?”
Hendra membeku.
Remaja itu menatap ayahnya.
“Aku berubah pikiran.”
Raka menatap Maya.
Maya hanya mengangguk pelan.
Ternyata setelah keluar dari kamar, Maya menelepon Sari.
Ia tidak meminta Bima datang.
Ia hanya berkata bahwa kakeknya mungkin tidak memiliki hari esok.
Keputusan itu dibuat oleh Bima sendiri.
Bima melangkah masuk.
Hendra memandangnya seperti sedang melihat sesuatu yang mustahil.
Remaja itu berdiri beberapa langkah dari ranjang.
Tidak mendekat.
Tidak tersenyum.
Hendra berusaha bicara.
“Kamu… Bima?”
“Iya.”
“Aku…”
Hendra terbatuk.
Bima tetap berdiri.
“Aku kakekmu.”
Bima menatapnya beberapa detik.
Kemudian berkata,
“Secara darah, iya.”
Raka hendak menegur, tetapi Hendra mengangkat tangan.
“Tidak apa.”
Hendra menatap cucunya.
“Kau benar.”
Bima memandang medali di dada ayahnya.
“Papa sering pakai itu kalau sedang gugup.”
Raka terkejut.
“Aku tidak gugup.”
Bima mengangkat alis.
“Papa bahkan pakai ke rumah sakit.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Raka tertawa kecil.
Hendra pun tersenyum.
Bima akhirnya berjalan mendekat.
Hendra mengamati wajahnya.
“Hidungmu seperti Raka waktu muda.”
“Papa bilang keras kepala saya dari Kakek.”
Raka menutup wajah dengan tangan.
Maya tertawa pelan.
Hendra tertawa juga, meski akhirnya batuk.
Setelah batuknya mereda, ia memandang Bima.
“Kakek tidak bisa meminta kamu menganggap Kakek keluarga hanya karena darah.”
Bima diam.
“Kakek cuma ingin bilang satu hal.”
“Apa?”
“Jangan pernah lakukan kepada ayahmu apa yang Kakek lakukan kepadanya.”
Bima menoleh kepada Raka.
Kemudian kembali menatap Hendra.
“Kalau Papa menyebalkan?”
Hendra tersenyum.
“Marahlah.”
“Kalau beda pendapat?”
“Berdebatlah.”
“Kalau benar-benar kecewa?”
Hendra menelan ludah.
“Pergilah sebentar kalau perlu.”
Ia berhenti.
“Tapi jangan hapus satu sama lain dari hidup kalian.”
Bima menatapnya lama.
Kemudian ia menarik kursi dan duduk.
Tidak mengatakan bahwa ia sudah memaafkan.
Tidak memanggil Hendra “Kakek”.
Tetapi ia duduk.
Dan bagi Hendra, itu sudah lebih dari yang pantas ia dapatkan.
Menjelang subuh, Hendra tertidur kembali.
Tangannya menggenggam tangan Raka.
Tangannya yang lain disentuh Bima.
Saat matahari mulai menyusup melalui celah tirai, monitor jantung berbunyi panjang.
Hendra Wijaya meninggal dengan putra yang pernah diusirnya berada di sisi kanan dan cucu yang baru dikenalnya berada di sisi kiri.
Tiga hari kemudian, pemakaman berlangsung sederhana.
Setelah semua orang pergi, Raka berdiri sendirian di depan makam.
Maya menghampirinya membawa sebuah amplop.
“Ini ditemukan pengacara Papa.”
Raka mengernyit.
“Surat warisan?”
“Bukan.”
Raka membuka amplop.
Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.
Tulisan tangan Hendra tampak gemetar.
Surat itu ternyata ditulis beberapa hari sebelum Raka datang.
Raka membacanya perlahan.
Jika Raka datang, jangan berikan perusahaan kepadanya.
Dia sudah membangun hidupnya sendiri tanpa bantuanku.
Aku tidak punya hak datang di akhir hidupnya lalu mengikatnya lagi dengan sesuatu yang sejak dulu kuinginkan.
Bagian sahamku akan dibagi untuk Maya dan yayasan pendidikan.
Untuk Raka, aku hanya meninggalkan rumah lama.
Bukan karena nilainya.
Tapi karena pintu rumah itu pernah kututup untuknya.
Jika suatu hari dia mau masuk lagi, pastikan kuncinya masih bisa digunakan.
Tangan Raka bergetar.
Maya menyerahkan sebuah kunci tua.
Raka menatapnya lama.
Sore itu, untuk pertama kalinya setelah sembilan belas tahun, Raka pergi ke rumah tempat ia dibesarkan.
Ia datang bersama Sari dan Bima.
Rumah itu sudah sepi.
Debu menutupi beberapa perabot.
Raka berjalan menuju kamar lamanya.
Ketika pintu dibuka, ia berhenti.
Di dinding masih tergantung sebuah foto lama.
Foto dirinya saat berusia lima belas tahun.
Medali tergantung di lehernya.
Hendra berdiri di belakangnya dengan kedua tangan di bahunya.
Di bawah foto itu ada sebuah kalimat yang ditulis dengan tinta hitam.
Aku terlalu sibuk ingin membentuk anakku menjadi seseorang sampai lupa bahwa tugasku sebenarnya adalah mengenal siapa dirinya.
Raka berdiri lama di depan tulisan itu.
Bima menghampiri.
“Papa.”
Raka menoleh.
Bima menunjuk medali tua di dada ayahnya.
“Masih mau disimpan?”
Raka melepas medali itu perlahan.
Ia menatapnya beberapa detik.
Kemudian memasangkannya ke leher Bima.
“Sekarang kamu yang simpan.”
Bima terkejut.
“Kenapa?”
Raka tersenyum.
“Supaya kamu ingat satu hal.”
“Apa?”
“Kalau suatu hari kita bertengkar hebat, medali ini bukan alasan kamu harus mengalah.”
Raka menepuk bahu putranya.
“Ini pengingat bahwa pintu rumah akan selalu terbuka.”
Bima menatap ayahnya.
Lalu memeluknya.
Dan pada saat itulah Raka akhirnya memahami sesuatu.
Ayahnya memang tidak mendapatkan kembali sembilan belas tahun yang hilang.
Tidak ada permintaan maaf yang mampu mengulang masa kecil Bima.
Tidak ada tangisan yang bisa mengembalikan ulang tahun, hari pernikahan, kelahiran cucu, atau ribuan makan malam yang seharusnya mereka jalani sebagai keluarga.
Tetapi mungkin penyesalan tidak selalu datang untuk memperbaiki masa lalu.
Kadang penyesalan datang agar kesalahan yang sama tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Hendra tidak sempat menjadi ayah yang lebih baik.
Namun di hari terakhir hidupnya, ia berhasil melakukan satu hal yang selama sembilan belas tahun tidak pernah berani dilakukannya.
Ia membuka kembali pintu yang pernah ditutupnya sendiri.
Dan ternyata, terkadang kesempatan terakhir untuk menjadi seorang ayah bukanlah mendapatkan kembali waktu yang hilang.
Melainkan memastikan bahwa anakmu tidak menghabiskan hidupnya mengulangi kesalahanmu.
