“Dok! Tolong! Anak saya muntah darah!”
Teriakanku akhirnya membuat beberapa orang di ruang tunggu menoleh.
Seorang perawat berlari menghampiri. Begitu melihat bercak merah di lantai dan kondisi Ardi yang nyaris tak sadarkan diri, wajahnya langsung berubah.
“Bawa ke ruang tindakan sekarang!”
Dua perawat mengambil Ardi dari pelukanku dan membaringkannya di atas brankar.
Aku mengikuti mereka dengan kaki gemetar.
“Ardi… Mama di sini, Nak. Jangan tidur dulu.”
Tak ada jawaban.
Matanya tertutup.
Beberapa menit kemudian, seorang dokter pria berusia sekitar empat puluhan masuk. Di jas putihnya tertulis nama Dokter Bima Prasetyo.
Dia memeriksa Ardi dengan cepat, lalu meminta perawat memasang infus dan mengambil sampel darah.
“Sejak kapan muntah darah?”
“Baru saja, Dok. Tapi demamnya sejak pagi. Perutnya sakit, muntah berkali-kali, lalu semakin lemas.”
Dokter Bima mengangguk.
“Anaknya perlu pemeriksaan darah lengkap dan kemungkinan USG atau CT scan abdomen. Kita harus tahu sumber perdarahannya.”
“Lakukan saja, Dok. Tolong anak saya.”
Dia menatapku.
Kemudian matanya turun ke pakaianku, sandal murah yang kukenakan, dan kartu BPJS yang masih kugenggam.
Ekspresinya berubah tipis.
“Administrasinya sudah lengkap?”
Aku terdiam.
“BPJS saya aktif, Dok.”
Dokter Bima menoleh kepada perawat.
“Cek dulu penjaminannya. Kalau pemeriksaan lanjutan tidak ter-cover, jelaskan ke keluarganya.”
Aku merasa dadaku sesak.
“Dok, apa pemeriksaannya tidak bisa dilakukan dulu? Anak saya muntah darah.”
“Kami mengikuti prosedur, Bu.”
“Tapi dia sudah menunggu hampir satu jam.”
Dokter Bima tidak menjawab.
Dia mengambil berkas Ardi, membacanya sekilas, lalu meletakkannya di sisi meja.
Bukan di tumpukan berkas pasien yang sedang diprioritaskan.
Di sisi meja.
Seolah-olah kasus anakku bisa menunggu.
Saat itu seorang perawat datang membawa berkas lain.
“Dok, pasien dari kamar VIP sudah siap.”
Dokter Bima langsung berdiri.
“Saya ke sana dulu.”
Aku spontan menghalangi langkahnya.
“Dok, bagaimana anak saya?”
“Perawat akan memantau.”
“Tapi tadi dokter bilang perlu pemeriksaan segera.”
Nada suaraku mulai pecah.
Dokter Bima menghela napas.
“Bu, di rumah sakit ini bukan hanya anak Ibu yang sakit.”
Kalimat itu membuatku membeku.
Aku tidak meminta anakku menjadi satu-satunya pasien.
Aku hanya meminta dia diperlakukan sebagai pasien.
Namun sebelum sempat menjawab, Dokter Bima sudah berjalan keluar.
Aku menatap Ardi.
Selang infus terpasang di tangan kecilnya.
Wajahnya pucat.
Napasnya pendek.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa kemiskinan bukan sekadar soal tidak punya uang.
Kemiskinan bisa membuat seseorang merasa suaranya tidak cukup berharga untuk didengar.
Aku mengambil ponsel dan menelepon Raka.
Dia mengangkat pada dering kedua.
“May?”
Aku langsung menangis.
“Mas… Ardi di rumah sakit.”
Suara di seberang mendadak berubah.
“Kenapa?”
“Dia muntah darah.”
“Apa?”
“Dokter sudah periksa, tapi mereka belum melakukan pemeriksaan lanjutan. Aku takut, Mas.”
“Rumah sakit mana?”
“Harapan Sehat.”
Hening dua detik.
Lalu Raka berkata dengan suara yang sangat tenang.
“Aku ke sana sekarang.”
Telepon terputus.
Aku kembali duduk di samping Ardi.
Sekitar lima belas menit kemudian, monitor di samping tempat tidurnya berbunyi lebih cepat.
Seorang perawat memeriksa tekanan darahnya.
Wajahnya berubah.
“Tekanannya turun.”
Aku berdiri.
“Sus, panggil dokter!”
Perawat itu keluar.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.
Dokter Bima akhirnya kembali.
Setelah memeriksa Ardi, ekspresinya menjadi serius.
“Siapkan pemeriksaan darah tambahan. Hubungi radiologi.”
Aku hampir lega.
Namun seorang petugas administrasi masuk dan berbisik kepadanya.
Aku tidak mendengar semuanya.
Hanya beberapa kata.
“BPJS… verifikasi… kelas perawatan…”
Dokter Bima menatap berkas Ardi lagi.
“Stabilkan dulu. Pemeriksaan radiologi tunggu konfirmasi.”
Aku tidak tahan lagi.
“Dok!”
Semua orang menatapku.
“Kalau anak saya anak orang kaya, apakah dokter juga akan bilang tunggu?”
Ruangan mendadak sunyi.
Dokter Bima mengerutkan kening.
“Jangan membuat tuduhan seperti itu, Bu.”
“Lalu kenapa sejak datang kami terus disuruh menunggu?”
“Kami punya prioritas medis.”
“Anak saya muntah darah!”
“Dan sekarang sedang ditangani.”
“Setelah hampir satu jam!”
Suara kami mulai menarik perhatian orang-orang di lorong.
Dokter Bima tampak tidak nyaman.
“Kalau Ibu tidak percaya dengan pelayanan kami, Ibu bisa mengajukan keluhan resmi.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena aku sudah terlalu takut untuk menangis.
“Kalau sesuatu terjadi pada anak saya, untuk apa saya mengajukan keluhan?”
Saat itulah terdengar langkah cepat dari ujung lorong.
Aku menoleh.
Raka datang.
Kemejanya kusut.

Celananya masih penuh debu.
Tangannya hitam oleh oli.
Rupanya dia baru meninggalkan bengkel tempatnya bekerja.
Begitu melihat Ardi, wajahnya kehilangan warna.
“Ardi.”
Dia mendekat dan menggenggam tangan anak kami.
“Mas…”
Aku memeluk lengannya.
Raka tidak bertanya banyak.
Dia hanya mendengarkan penjelasanku.
Semakin lama, rahangnya semakin mengeras.
Namun dia tidak marah.
Tidak membentak.
Tidak mengancam siapa pun.
Dia justru bertanya kepada Dokter Bima,
“Dokter, kondisi anak saya sekarang bagaimana?”
“Tekanan darahnya menurun. Kami mencurigai ada perdarahan di saluran pencernaan atau kondisi akut di abdomen. Pemeriksaan lanjutan sedang dipersiapkan.”
“Kenapa belum dilakukan?”
Dokter Bima terdiam sesaat.
“Ada proses administrasi yang perlu diselesaikan.”
Raka menatapnya.
“Untuk kondisi darurat?”
“Bapak jangan salah paham.”
“Saya hanya bertanya.”
Nada Raka tetap tenang.
Justru ketenangan itulah yang membuat suasana terasa semakin tegang.
Dia kemudian mengambil dompet dari saku.
Bukan dompet mahal.
Dompet kulit tua yang sudah mengelupas di sudutnya.
Dari sana, dia mengeluarkan selembar kertas yang terlipat rapi.
“Kalau masalahnya biaya, saya akan bayar.”
Petugas administrasi memandang pakaian Raka.
“Pak, untuk beberapa pemeriksaan dan kemungkinan tindakan, biayanya bisa cukup besar.”
“Saya mengerti.”
“Kalau BPJS belum bisa menjamin semuanya, mungkin perlu deposit.”
“Berapa?”
Petugas itu menyebut angka.
Aku menahan napas.
Jumlah itu lebih besar daripada penghasilan kami selama beberapa bulan.
Namun Raka hanya mengangguk.
“Lakukan pemeriksaannya.”
Kemudian dia menyerahkan kertas yang dibawanya.
“Dan tolong berikan ini kepada direktur rumah sakit.”
Petugas administrasi menerimanya dengan ekspresi bingung.
“Apa ini?”
“Dia akan mengerti.”
Kertas itu dibawa keluar.
Dokter Bima kembali memeriksa Ardi.
Entah karena kondisinya memang memburuk atau karena percakapan tadi, akhirnya Ardi dibawa menuju radiologi.
Aku dan Raka menunggu di lorong.
Aku menggenggam tangannya.
“Mas, kita punya uang sebanyak itu?”
Raka menatapku.
“Jangan pikirkan uang sekarang.”
“Tapi…”
“Ardi dulu.”
Sekitar sepuluh menit kemudian, terdengar langkah tergesa-gesa.
Seorang pria berjas abu-abu datang bersama dua dokter senior dan beberapa staf.
Aku mengenal wajahnya dari foto besar di lobi.
Dokter Surya.
Direktur Rumah Sakit Harapan Sehat.
Dia berjalan langsung ke arah Raka.
“Pak Raka?”
Semua orang terdiam.
Raka berdiri.
“Iya.”
Dokter Surya menatapnya seolah tidak percaya.
“Kenapa Bapak tidak menghubungi saya?”
Raka menjawab sederhana.
“Karena saya datang sebagai ayah pasien, Dok. Bukan sebagai siapa-siapa.”
Aku menatap suamiku.
Aku tidak mengerti.
Dokter Bima pun terlihat bingung.
Direktur rumah sakit kemudian mengangkat kertas yang tadi diberikan Raka.
Tangannya sedikit gemetar.
“Saya masih menyimpan salinan surat yang lama.”
Dokter Bima melihat surat itu.
Matanya berhenti pada bagian bawah halaman.
Di sana ada nama yang dicetak jelas.
Raka Adinata.
Dan sebuah angka.
Dua belas miliar rupiah.
Aku merasa dunia berhenti sesaat.
Dua belas miliar?
Aku menoleh kepada suamiku.
“Mas… ini apa?”
Raka menghela napas.
Dokter Surya yang menjawab.
“Sembilan tahun lalu, ketika rumah sakit ini membangun gedung pelayanan anak, hampir sepertiga dana pembangunan tahap awal berasal dari yayasan milik Pak Raka.”
Aku tidak mampu berkata-kata.
Dokter Bima memucat.
“Yayasan?”
Raka menatapnya.
“Yayasan Adinata.”
Nama itu tidak asing.
Aku pernah melihatnya di berita.
Sebuah yayasan sosial yang membiayai klinik desa, beasiswa kedokteran, ambulans gratis, dan pengobatan anak-anak dari keluarga tidak mampu.
Namun identitas pendiri yayasan itu hampir tidak pernah muncul di media.
Aku menatap Raka seperti sedang melihat orang asing.
“Mas…”
Dia memegang tanganku.
“Nanti aku jelaskan.”
Dokter Surya membuka surat tersebut.
“Pak Raka adalah donatur terbesar dalam pembangunan unit pediatri rumah sakit ini.”
Wajah Dokter Bima semakin pucat.
Tetapi Raka tidak terlihat puas.
Dia justru memandang semua orang di sana dengan kecewa.
“Saya tidak memberikan uang supaya keluarga saya mendapat perlakuan khusus.”
Lorong itu benar-benar sunyi.
“Saya memberikan uang karena dulu saya pernah kehilangan adik perempuan saya.”
Aku terdiam.
Selama bertahun-tahun menikah, Raka hanya pernah mengatakan bahwa adiknya meninggal saat kecil.
Aku tidak pernah tahu detailnya.
“Dia meninggal karena terlambat mendapatkan pertolongan,” lanjut Raka. “Ayah saya buruh. Kami datang ke rumah sakit tanpa uang. Kami disuruh menunggu administrasi.”
Suara Raka mulai bergetar.
“Adik saya meninggal dalam pelukan ibu saya.”
Tak seorang pun berani menyela.
“Itulah alasan saya membantu membangun fasilitas ini.”
Dia menunjuk ke arah ruang radiologi tempat Ardi berada.
“Supaya tidak ada anak lain yang harus menunggu hanya karena orang tuanya terlihat miskin.”
Dokter Bima menunduk.
Raka mengambil napas panjang.
“Tapi hari ini anak saya sendiri hampir mengalami hal yang sama.”
Tak lama kemudian, dokter radiologi keluar.
“Hasilnya sudah ada. Ada tanda peradangan berat dan perdarahan akibat komplikasi pada saluran cerna. Kita perlu tindakan segera.”
Aku hampir roboh.
Raka menopang tubuhku.
“Selamatkan anak saya, Dok.”
Tim medis langsung bergerak.
Kali ini tidak ada yang membicarakan deposit.
Tidak ada yang bertanya kelas perawatan.
Ardi dibawa ke ruang tindakan.
Dua jam berikutnya menjadi dua jam terpanjang dalam hidupku.
Aku duduk bersama Raka di depan ruangan.
Akhirnya aku bertanya,
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Raka menatap lantai.
Setelah pabrik tempatnya bekerja tutup, ternyata dia dan beberapa teman membuat usaha kecil memperbaiki mesin industri.
Usaha itu berkembang.
Kemudian dia mendapatkan bagian kepemilikan dari perusahaan yang mereka bangun.
Beberapa tahun kemudian, sahamnya dibeli perusahaan besar.
Sebagian besar uang itu dia masukkan ke yayasan.
“Kenapa kita masih tinggal sederhana?”
Raka tersenyum tipis.
“Karena hidup sederhana tidak pernah membuatku menderita.”
“Dan bengkel?”
“Aku suka bekerja di sana.”
Aku hampir tertawa sekaligus menangis.
“Jadi selama ini aku menikah dengan orang kaya yang masih pulang membawa baju penuh oli?”
“Kurang lebih begitu.”
Aku memukul lengannya pelan.
Untuk pertama kalinya sejak sore, kami tersenyum.
Pintu ruang tindakan akhirnya terbuka.
Dokter keluar.
“Pak Raka, Bu Maya.”
Kami berdiri bersamaan.
“Tindakannya berhasil. Perdarahannya sudah terkendali. Kondisinya masih harus dipantau ketat, tetapi untuk sekarang dia stabil.”
Lututku langsung lemas.
Aku menangis di dada Raka.
“Terima kasih, Dok.”
Malam itu, setelah Ardi dipindahkan ke ruang perawatan, Dokter Bima datang.
Tidak ada staf.
Tidak ada direktur.
Hanya dia.
Dia berdiri di depan kami cukup lama sebelum akhirnya berkata,
“Saya minta maaf.”
Raka menatapnya.
Dokter Bima melanjutkan,
“Saya pikir saya sudah cukup lama menjadi dokter untuk bisa menilai kondisi pasien dengan cepat. Tapi ternyata saya juga mulai menilai manusia dari penampilannya.”
Dia menatap Ardi yang tertidur.
“Hari ini saya hampir membayar kesombongan itu dengan nyawa seorang anak.”
Raka tidak langsung menjawab.
Kemudian dia berkata,
“Saya menerima permintaan maaf dokter.”
Dokter Bima mengangkat wajah.
“Tapi saya punya satu permintaan.”
“Apa?”
“Besok, ketika ada ibu lain datang dengan sandal murah, jangan perlakukan dia dengan baik karena takut dia ternyata orang kaya.”
Raka berhenti sebentar.
“Perlakukan dia dengan baik karena dia manusia.”
Mata Dokter Bima memerah.
Dia mengangguk.
Beberapa minggu setelah Ardi pulang, Rumah Sakit Harapan Sehat mengumumkan perubahan sistem penanganan pasien gawat darurat.
Evaluasi medis harus dilakukan terlebih dahulu sebelum urusan administratif untuk kasus yang menunjukkan tanda kegawatan.
Beberapa staf mendapatkan teguran.
Dokter Bima tidak dipecat.
Raka justru meminta agar dia tetap bekerja setelah menjalani evaluasi dan pelatihan ulang.
“Orang yang salah tidak selalu harus dibuang,” katanya kepadaku. “Kadang dia harus diberi kesempatan untuk berubah.”
Namun kejutan terbesar datang beberapa bulan kemudian.
Raka mengajakku kembali ke rumah sakit.
Di dekat pintu masuk unit anak terdapat sebuah papan baru.
Aku berhenti di depannya.
Di sana tertulis sebuah nama.
Program Pelayanan Darurat Kirana.
Aku menoleh kepada Raka.
“Kirana?”
Dia mengangguk.
“Itu nama adikku.”
Di bawahnya terdapat kalimat pendek.
Tidak ada anak yang boleh kehilangan kesempatan untuk hidup hanya karena keluarganya tidak mampu membayar.
Aku menggenggam tangan Raka.
Saat itulah aku akhirnya memahami mengapa dia tidak pernah tertarik membeli rumah besar, mobil mewah, atau pakaian mahal.
Bagi Raka, kekayaan bukan sesuatu yang harus terlihat.
Kekayaan adalah sesuatu yang seharusnya berguna.
Dan surat donasi yang hari itu membuat seluruh rumah sakit terdiam ternyata bukanlah bukti bahwa keluarga kami pantas dihormati.
Justru sebaliknya.
Surat itu menjadi pengingat bahwa seharusnya tidak diperlukan uang dua belas miliar rupiah, nama besar, jabatan, atau status apa pun agar seorang ibu yang ketakutan didengar ketika berkata,
“Tolong selamatkan anak saya.”
