Namaku Laras.
Malam itu, aku baru menyadari bahwa seseorang ternyata bisa diusir dari sebuah rumah hanya gara-gara segelas air.
Bukan karena mencuri.
Bukan karena bersikap kasar.
Bukan pula karena menghina siapa pun.
Hanya karena tanganku gemetar saat hendak menuangkan air.
Aku sudah berpacaran dengan Dimas hampir tiga tahun. Hubungan kami sebenarnya baik-baik saja, kalau bukan karena satu hal: ibunya, Bu Ratna, tidak pernah benar-benar menyukaiku.
Baginya, aku bukan perempuan yang pantas mendampingi putranya.
Aku hanya berasal dari keluarga sederhana.
Ayahku sudah lama meninggal.
Ibuku mengelola warung kecil di dekat rumah, sementara aku mulai bekerja sendiri sejak lulus sekolah untuk membantu memenuhi kebutuhan kami.
Kami tidak punya rumah besar.
Tidak punya mobil mewah.
Apalagi nama keluarga terpandang yang bisa dibanggakan.
Berbeda sekali dengan keluarga Dimas.
Mereka memiliki beberapa toko dan perusahaan distribusi yang cukup besar di kota. Kehidupan mereka serba berkecukupan, dan sejak awal aku tahu Bu Ratna menginginkan menantu yang setidaknya berasal dari lingkungan sosial yang sama.
Karena itu, setiap kali berkunjung ke rumah Dimas, aku selalu berusaha menjaga sikap sebaik mungkin.
Malam itu pun sama.
Aku bahkan sengaja membawa kue yang kubuat sendiri sejak siang.
Ketika menyerahkannya, Bu Ratna hanya melirik kotak kue di tanganku.
“Beli?”
Aku tersenyum.
“Bukan, Bu. Saya buat sendiri.”
“Oh.”
Hanya itu tanggapannya.
Aku tetap berusaha tersenyum.
“Semoga Ibu suka.”
Namun, Bu Ratna tidak menjawab.
Makan malam kemudian berlangsung dalam suasana yang terasa canggung.
Ayah Dimas lebih banyak diam sambil menikmati makanannya. Dimas sesekali mengajakku mengobrol agar aku tidak merasa terlalu terasing.
Sebenarnya, sejak sore tubuhku sudah terasa tidak nyaman.
Aku sangat lelah.
Kepalaku terasa berat.
Dan selama beberapa minggu terakhir, aku juga sering merasa mual tanpa alasan yang jelas.
Namun, aku tidak terlalu memikirkannya.
Kupikir mungkin karena akhir-akhir ini aku terlalu banyak bekerja dan kurang tidur.
Di tengah makan malam, tenggorokanku terasa kering.
Aku meraih gelas di depanku untuk minum.
Namun saat tanganku mengangkat gelas itu, jemariku tiba-tiba bergetar hebat.
Aku bahkan belum sempat memahami apa yang terjadi ketika gelas itu terlepas dari tanganku.
Gelas jatuh ke meja.
Air tumpah membasahi taplak dan sebagian piring di dekatnya.
Suasana seketika menjadi sunyi.
Aku langsung berdiri dengan wajah panik.
“Maaf, Bu. Saya benar-benar tidak sengaja.”
Aku buru-buru mengambil beberapa lembar tisu dan mulai mengelap meja.
Namun Bu Ratna hanya menatap taplak meja yang basah dengan wajah dingin.
Beberapa detik kemudian, pandangannya beralih kepadaku.
“Laras.”
Aku berhenti sejenak.
“Iya, Bu?”
“Kamu bahkan tidak bisa memegang gelas dengan benar?”
Nada suaranya membuat wajahku terasa panas.
Aku menunduk.
“Maaf, Bu.”
Dimas langsung menyela.
“Ma, itu cuma air. Laras juga tidak sengaja.”
Bu Ratna menoleh tajam kepadanya.
“Kamu jangan ikut campur.”
Dimas menghela napas kesal.
Sementara aku kembali membersihkan meja, berusaha mencegah keadaan menjadi semakin buruk.
“Tidak apa-apa, Bu. Biar saya bersihkan.”
Namun Bu Ratna tiba-tiba menarik tisu dari tanganku.
“Sudah.”
Aku menatapnya bingung.
“Saya bisa bersihkan, Bu.”
“Tidak perlu.”
Nada suaranya semakin dingin.
“Kalau badanmu memang tidak sehat, seharusnya kamu tidak datang.”
Aku tercekat.
“Saya pikir saya masih kuat.”
“Masih kuat?”
Bu Ratna tertawa pendek tanpa humor.
“Baru makan sebentar saja sudah membuat meja berantakan. Kamu tahu taplak ini berapa harganya?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Dimas meletakkan sendoknya dengan keras.
“Ma, cukup.”
“Kenapa cukup? Mama hanya bicara kenyataan.”
“Mama mempermalukan Laras.”
Bu Ratna menatap putranya lama, lalu berdiri.
“Kalau kamu merasa Mama mempermalukannya, bawa dia pulang sekarang.”
Dadaku seperti diremas.
Aku tahu Bu Ratna tidak menyukaiku, tetapi aku tidak pernah menyangka ia akan mengatakannya sejelas itu di depanku.
Aku segera mengambil tas.
“Tidak apa-apa, Mas. Aku pulang sendiri saja.”
Dimas ikut berdiri.
“Aku antar.”
“Tidak usah.”
Aku mencoba tersenyum, tetapi bibirku terasa kaku.
“Aku bisa pesan kendaraan online.”
Dimas meraih tanganku.
Tanganku dingin.
Ia langsung mengernyit.
“Kamu benar-benar pucat.”
“Aku cuma capek.”
Bu Ratna, yang sudah berjalan beberapa langkah meninggalkan meja, berhenti dan menoleh.
“Kalau begitu jangan membuat drama di sini.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang ingin kuakui.
Aku tidak membalas.
Aku hanya membungkuk kecil kepada ayah Dimas lalu berjalan menuju pintu.
Namun baru beberapa langkah, pandanganku berkunang-kunang.
Lantai terasa seperti bergoyang.
Aku mencengkeram sandaran kursi.
Dimas segera menahan bahuku.
“Laras?”
“Aku tidak apa-apa.”
“Kamu hampir jatuh.”
“Aku cuma pusing.”
Ayah Dimas akhirnya berdiri.
“Dimas, antar Laras pulang.”
Bu Ratna mendecakkan lidah.
“Pakai mobil belakang saja. Jangan mobil saya.”
Dimas menatap ibunya tidak percaya.
“Ma.”
“Kenapa?”
Bu Ratna melipat tangan di dada.
“Dia sedang mual. Mama tidak mau jok mobil baru Mama kotor.”
Aku merasa wajahku semakin panas.
“Tidak perlu, Mas. Aku benar-benar bisa pulang sendiri.”
Namun Dimas sudah mengambil kunci mobil.
“Jangan keras kepala.”
Akhirnya aku menurut.
Kami menggunakan mobil Dimas.
Baru sekitar lima belas menit perjalanan, rasa mual yang sejak tadi kutahan berubah menjadi begitu kuat.
Aku memegang perut.
“Mas…”
Dimas langsung menoleh.
“Kamu kenapa?”
“Menepi sebentar.”
Namun jalan sedang padat.
Belum sempat mobil berhenti, aku sudah tidak sanggup menahan.
Aku muntah di kursi belakang.
Sebagian mengenai lantai dan jok.
Aku langsung menangis karena malu.
“Ya Allah… maaf, Mas.”
Dimas tidak marah.
Ia justru menepi secepat mungkin, lalu membuka pintu belakang.
“Laras, lihat aku.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
“Mobilmu jadi kotor.”

“Peduli amat sama mobil.”
Ia jongkok di depanku.
“Kamu kenapa sebenarnya?”
Aku menggeleng.
“Entahlah.”
“Sudah berapa lama kamu sering mual?”
Aku terdiam.
“Mungkin dua atau tiga minggu.”
“Pusing?”
“Iya.”
“Lemas?”
Aku mengangguk.
“Kenapa tidak bilang?”
“Aku kira cuma kelelahan.”
Dimas terdiam beberapa detik.
Kemudian ia berdiri.
“Kita ke rumah sakit.”
Aku langsung menolak.
“Tidak perlu.”
“Kita ke rumah sakit.”
“Nanti ibu kamu marah karena kamu tidak langsung pulang.”
Dimas menatapku tajam.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat kemarahan yang benar-benar serius di matanya.
“Laras, berhenti memikirkan Mama.”
Aku diam.
“Kamu hampir pingsan, muntah, tangan gemetar. Aku tidak akan mengantarmu pulang begitu saja.”
Kami akhirnya menuju rumah sakit swasta yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Setelah pemeriksaan awal, dokter menyarankan tes darah dan beberapa pemeriksaan tambahan.
Aku mulai cemas.
Dimas duduk di sebelahku di ruang tunggu, menggenggam tanganku sepanjang waktu.
“Kamu takut?” tanyanya.
Aku mengangguk pelan.
“Sedikit.”
“Kalau hasilnya apa pun, kita hadapi.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu ngomong kayak di sinetron.”
“Biarin.”
Untuk beberapa menit, aku merasa lebih tenang.
Sampai ponsel Dimas berdering.
Bu Ratna.
Dimas mengangkat telepon.
“Ya, Ma.”
Suara ibunya terdengar cukup keras sampai aku bisa mendengar sebagian.
“Kamu di mana? Kok belum pulang?”
“Di rumah sakit.”
“Rumah sakit?”
Bu Ratna langsung berubah nada.
“Kamu kenapa?”
“Bukan aku. Laras.”
Ada jeda.
Lalu suara Bu Ratna terdengar datar lagi.
“Dia kenapa?”
“Belum tahu. Lagi diperiksa.”
“Dimas, kamu besok pagi ada pertemuan dengan Pak Hendra. Jangan begadang hanya karena hal seperti ini.”
Aku menunduk.
Dimas melihatku.
“Ma, Laras benar-benar sakit.”
“Ya sudah. Setelah selesai, antar dia pulang.”
Dimas langsung mematikan telepon.
Aku menatapnya.
“Kamu tidak perlu begitu.”
“Begitu bagaimana?”
“Marah sama ibumu gara-gara aku.”
Dimas menarik napas panjang.
“Ini bukan cuma gara-gara kamu. Aku sudah terlalu lama diam.”
Aku ingin bertanya apa maksudnya, tetapi perawat memanggil namaku.
Beberapa pemeriksaan dilakukan.
Dokter kemudian meminta kami menunggu sekitar satu jam untuk hasil laboratorium.
Anehnya, sekitar empat puluh menit kemudian Bu Ratna datang.
Ia masih mengenakan pakaian makan malam tadi, membawa tas mahal di lengannya.
Wajahnya tampak kesal.
“Dimas.”
Dimas berdiri.
“Mama ngapain ke sini?”
“Kamu besok ada urusan penting. Mama datang supaya kalau ternyata cuma masuk angin atau maag, kita bisa segera pulang.”
Aku menunduk.
Bu Ratna duduk di kursi seberang.
Ia sama sekali tidak bertanya bagaimana kondisiku.
Tidak lama kemudian, nama kami dipanggil masuk ke ruang dokter.
Dokternya perempuan sekitar empat puluh tahun bernama dr. Maya.
Ia mempersilakan kami duduk.
“Laras, dari hasil pemeriksaan awal, ada dua hal yang perlu saya sampaikan.”
Aku langsung menegakkan tubuh.
“Apakah serius, Dok?”
Dokter tersenyum tipis.
“Yang pertama, kadar hemoglobin Anda agak rendah. Itu mungkin menjelaskan kenapa Anda sering lemas dan pusing.”
Aku mengangguk.
“Lalu yang kedua?”
Dokter melihat lembar hasil pemeriksaan, lalu menatapku.
“Tes kehamilan Anda positif.”
Dunia seolah berhenti selama beberapa detik.
Aku menatap dokter tanpa berkedip.
Dimas juga diam.
Bu Ratna yang pertama bereaksi.
“Apa?”
Suara itu terdengar tajam.
Dokter tetap tenang.
“Pasien sedang hamil. Dari pemeriksaan awal, kemungkinan sekitar enam sampai tujuh minggu.”
Tanganku refleks menutup mulut.
Aku tidak tahu apakah harus menangis atau tersenyum.
Dimas perlahan menoleh kepadaku.
“Kamu… hamil?”
Matanya sudah berkaca-kaca.
Aku mengangguk, meskipun sebenarnya aku sendiri masih terkejut.
Ia langsung memelukku.
“Ya Allah.”
Aku menangis di bahunya.
Namun kebahagiaan singkat itu pecah ketika Bu Ratna berdiri mendadak.
“Tidak mungkin.”
Kami menoleh.
Wajah Bu Ratna pucat.
“Dokter yakin?”
dr. Maya tampak sedikit terkejut.
“Tes darah cukup akurat, Bu. Namun kami tetap menyarankan pemeriksaan kandungan lanjutan.”
Bu Ratna menatapku.
Tatapan yang biasanya dingin kini berubah menjadi sesuatu yang sulit kujelaskan.
Bukan hanya terkejut.
Ada ketakutan di sana.
“Enam atau tujuh minggu?”
“Kurang lebih,” jawab dokter.
Bu Ratna tiba-tiba meraih sisi meja.
Tubuhnya limbung.
“Ma?”
Dimas segera bangkit.
Bu Ratna mencoba melangkah, tetapi lututnya seolah kehilangan kekuatan.
Ia hampir jatuh kalau Dimas tidak cepat menahannya.
“Ma, kenapa?”
Wajah Bu Ratna benar-benar pucat.
Keringat muncul di dahinya.
Dokter segera berdiri.
“Bu, duduk dulu.”
Aku yang sejak tadi menjadi pasien justru ikut panik.
“Ibu kenapa?”
Bu Ratna tidak menjawab.
Ia hanya menatapku dengan mata bergetar.
Kemudian bibirnya mengucapkan sesuatu yang membuat ruangan itu mendadak terasa jauh lebih dingin.
“Tidak boleh.”
Dimas mengernyit.
“Apa?”
Bu Ratna memegang lengan putranya.
“Kehamilan ini tidak boleh diteruskan.”
Aku merasa seolah ditampar.
Dimas membeku.
“Apa kata Mama?”
Bu Ratna menatap kami bergantian.
“Kalian belum menikah.”
“Itu bisa kita bicarakan.”
“Tidak!”
Suara Bu Ratna meninggi.
Dokter segera mengingatkan agar kami tenang.
Namun Bu Ratna seperti tidak mendengar.
Ia menunjuk ke arahku.
“Kamu harus menggugurkannya.”
Dimas langsung berdiri di depanku.
“Ma, cukup!”
Aku menangis tanpa suara.
Segala penghinaan selama tiga tahun terasa tidak ada apa-apanya dibanding kalimat barusan.
Aku berdiri.
“Tidak perlu.”
Semua orang menatapku.
Aku menggenggam hasil pemeriksaan.
“Saya pulang.”
Dimas menahan tanganku.
“Laras.”
Aku melepaskannya perlahan.
“Aku butuh udara.”
Aku berjalan keluar ruang dokter.
Dimas hendak mengejarku, tetapi suara Bu Ratna menahannya.
“Dimas, kamu tidak mengerti.”
Aku berhenti di dekat pintu.
Ada sesuatu dalam suaranya yang berbeda.
Bukan kemarahan.
Ketakutan.
Dimas juga menyadarinya.
“Apa yang aku tidak mengerti?”
Bu Ratna mulai menangis.
Aku belum pernah melihatnya menangis sebelumnya.
“Karena Mama tahu bagaimana rasanya.”
Ruangan itu sunyi.
Bu Ratna menutup wajah sebentar.
Kemudian ia berkata lirih.
“Karena dulu Mama juga pernah hamil sebelum menikah.”
Dimas membeku.
Aku perlahan berbalik.
Bu Ratna duduk sambil gemetar.
“Apa maksud Mama?” tanya Dimas.
Bu Ratna menatap suaminya yang entah sejak kapan sudah berdiri di luar ruangan. Rupanya ayah Dimas menyusul setelah mendapat kabar.
Wajah pria itu tampak suram.
Ia seolah sudah tahu rahasia yang akan terbuka.
Bu Ratna menarik napas patah-patah.
“Dulu, sebelum menikah dengan Papa kamu, Mama pernah mencintai seseorang.”
Dimas menatap ayahnya.
“Ayah tahu?”
Ayah Dimas mengangguk pelan.
Bu Ratna melanjutkan.
“Mama hamil. Keluarga Mama marah besar. Mereka bilang anak itu akan menjadi aib. Mama dipaksa memilih.”
Ia menangis semakin keras.
“Akhirnya Mama melahirkan diam-diam. Bayi itu diambil dari Mama.”
Aku merasakan tengkukku merinding.
“Diambil?” tanya Dimas.
“Diserahkan kepada orang lain. Mama tidak pernah diizinkan melihatnya lagi.”
Aku berdiri tanpa bergerak.
Bu Ratna memandangku.
“Mama tidak tahu dia hidup di mana sekarang.”
Tiba-tiba sesuatu dalam kepalaku menyala.
Ibuku pernah bercerita bahwa ia bukan ibu kandungku.
Hanya sekali.
Ketika aku berusia tujuh belas tahun.
Katanya, aku diadopsi dari seorang kenalan jauh yang sedang mengalami masalah keluarga.
Tidak ada dokumen lengkap.
Tidak ada foto ibu kandung.
Hanya sebuah gelang bayi kecil yang masih kusimpan sampai sekarang.
Tanganku mulai gemetar lagi.
“Bu…”
Suaraku hampir tidak keluar.
“Anak Ibu perempuan atau laki-laki?”
Bu Ratna menatapku.
“Perempuan.”
Aku sulit bernapas.
“Kapan dia lahir?”
Bu Ratna menyebut tanggal.
Aku menutup mulut.
Tanggal itu sama persis dengan tanggal lahirku.
Dimas menatapku.
“Laras?”
Aku membuka tas dengan tangan gemetar.
Di dompet kecil bagian dalam, aku selalu menyimpan gelang rumah sakit lama yang diberikan ibuku.
Entah kenapa aku tidak pernah membuangnya.
Gelang itu sudah menguning.
Tulisan tintanya hampir pudar.
Aku menyerahkannya kepada Bu Ratna.
Begitu melihat gelang itu, seluruh tubuhnya membeku.
Ia mengambilnya dengan tangan gemetar.
Di bagian dalam gelang masih terlihat dua huruf.
R. W.
Bu Ratna menangis keras.
“Itu inisial nama Mama sebelum menikah.”
Aku merasa kakiku kehilangan tenaga.
Dimas menatapku, kemudian ibunya, kemudian kembali kepadaku.
Wajahnya berubah total.
“Tidak.”
Ayah Dimas juga pucat.
Bu Ratna meraih tanganku.
“Laras…”
Aku langsung mundur.
“Jangan.”
Ia berhenti.
“Aku harus memastikan.”
Suaraku gemetar.
“Kita harus tes DNA.”
Bu Ratna mengangguk sambil menangis.
“Iya.”
Dimas tidak berkata apa pun.
Ia hanya berdiri seperti orang yang baru kehilangan arah.
Tiga hari kemudian, tes DNA dilakukan.
Selama tiga hari itu, tidak ada seorang pun benar-benar hidup normal.
Dimas tidak banyak bicara.
Aku tinggal bersama ibuku, perempuan yang selama ini membesarkanku.
Ketika kutanyakan semuanya, ia menangis dan mengaku memang mengadopsiku melalui saudaranya yang dulu bekerja di rumah keluarga Bu Ratna.
Ia tidak pernah tahu siapa nama ibu kandungku.
Hanya tahu seorang bayi perempuan harus segera dibawa pergi.
Ketika hasil DNA keluar, aku duduk di ruangan yang sama dengan Bu Ratna.
Dokter menyerahkan amplop.
Kecocokan biologis menunjukkan angka lebih dari sembilan puluh sembilan persen.
Bu Ratna adalah ibu kandungku.
Aku merasa bumi runtuh.
Selama hampir tiga tahun, perempuan yang paling keras menolakku ternyata adalah perempuan yang melahirkanku.
Dan laki-laki yang kucintai selama hampir tiga tahun adalah anak laki-laki dari ibuku.
Namun hasil tes berikutnya membawa kejutan yang berbeda.
Dimas bukan anak biologis Bu Ratna.
Dimas adalah putra dari pernikahan pertama ayahnya yang ibunya meninggal ketika ia masih bayi.
Bu Ratna membesarkannya sejak usia satu tahun.
Secara darah, kami tidak memiliki hubungan biologis.
Tetapi malam itu, tidak ada satu pun dari kami yang merasa lega sepenuhnya.
Masalahnya jauh lebih dalam daripada darah.
Bu Ratna duduk di depanku sambil menangis.
“Selama ini Mama menghina hidup yang dulu Mama sendiri jalani.”
Aku menatapnya tanpa suara.
“Mama melihat kamu sebagai perempuan miskin, perempuan yang tidak pantas masuk keluarga kami. Padahal dulu Mama juga tidak punya apa-apa selain seorang bayi di dalam kandungan.”
Ia menyeka air matanya.
“Mungkin Mama membencimu karena tanpa sadar kamu mengingatkan Mama pada diri Mama sendiri.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Luka bertahun-tahun tidak menghilang hanya karena satu hasil DNA.
“Aku belum bisa memanggil Ibu dengan sebutan Mama,” kataku.
Bu Ratna mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
“Aku juga belum bisa memaafkan semuanya.”
Ia menangis lagi.
“Mama mengerti.”
Aku menggeleng.
“Tidak. Ibu mungkin mengerti kehilangan seorang anak. Tapi Ibu belum tentu mengerti bagaimana rasanya dipandang rendah oleh ibu kandung sendiri tanpa tahu alasan sebenarnya.”
Kalimat itu membuatnya menunduk.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada alasan.
Hanya penyesalan.
Beberapa bulan kemudian, aku dan Dimas memutuskan menikah sederhana.
Bukan karena kehamilan.
Bukan karena tekanan keluarga.
Kami menikah karena setelah semua kegilaan yang terjadi, kami masih memilih satu sama lain.
Bu Ratna tidak lagi ikut campur.
Ia bahkan meminta agar pernikahan dilakukan sesuai keinginanku.
Pada hari pernikahan, sebelum aku berjalan menuju Dimas, Bu Ratna datang ke ruang rias.
Di tangannya ada kotak kue kecil.
Aku mengenalinya.
Itu kue yang sama seperti yang kubawa pada malam aku diusir dari rumahnya.
“Aku belajar membuatnya,” katanya canggung.
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Karena malam itu kamu datang membawa sesuatu yang kamu buat dengan tanganmu sendiri, dan aku bahkan tidak mencicipinya.”
Ia menunduk.
“Aku ingin memperbaiki setidaknya satu hal kecil.”
Aku mengambil sepotong kue.
Rasanya sedikit terlalu manis.
Teksturnya juga tidak sempurna.
Namun aku tetap memakannya.
“Lumayan,” kataku.
Bu Ratna tertawa sambil menangis.
Sebelum keluar ruangan, ia berhenti di pintu.
“Laras.”
Aku menoleh.
“Terima kasih karena tidak membuangku seperti dulu keluargaku membuangmu dari hidupku.”
Aku terdiam lama.
Kemudian berkata pelan.
“Aku tidak membuang Ibu.”
Wajahnya langsung berubah.
“Tapi jangan berharap semuanya sembuh dalam sehari.”
Ia mengangguk cepat.
“Aku akan menunggu.”
Aku tersenyum tipis.
“Jangan menunggu. Buktikan.”
Hari itu aku memahami sesuatu.
Terkadang orang yang paling keras menghakimi kita sebenarnya sedang melarikan diri dari bagian masa lalunya sendiri.
Tetapi luka tidak boleh diwariskan hanya karena seseorang pernah terluka.
Segelas air memang membuatku diusir dari rumah itu.
Namun tanpa gelas yang jatuh, mungkin aku tidak akan pernah dibawa ke rumah sakit.
Tanpa rumah sakit, aku tidak akan tahu bahwa aku sedang mengandung.
Tanpa kehamilan itu, Bu Ratna mungkin tidak akan pernah membuka rahasianya.
Dan tanpa rahasia itu, aku mungkin akan menghabiskan seluruh hidupku tanpa pernah mengetahui siapa perempuan yang melahirkanku.
Anakku lahir tujuh bulan kemudian.
Perempuan.
Bu Ratna menangis ketika pertama kali menggendongnya.
Ia menatap wajah cucunya lama sekali, lalu berbisik dengan suara bergetar.
“Dulu aku kehilangan kesempatan membesarkan ibumu.”
Ia mencium kening bayi kecil itu.
“Kali ini aku tidak akan kehilangan kesempatan untuk mencintai kalian dengan benar.”
Aku berdiri di samping ranjang rumah sakit, memandangi perempuan yang pernah mengusirku hanya karena segelas air.
Aku belum melupakan.
Aku juga belum sepenuhnya memaafkan.
Namun untuk pertama kalinya, aku percaya bahwa beberapa orang memang pantas diberi kesempatan kedua.
Bukan karena masa lalu mereka bisa dihapus.
Melainkan karena mereka akhirnya berani berhenti mengulanginya.
