SAAT HUJAN DERAS MALAM ITU, ISTRIKU YANG SEDANG HAMIL MUDA MENGUSIRKU DARI RUMAH.

Aku mengenali pria itu bahkan sebelum dia benar-benar sampai di depan kami.

Namanya Arga Mahendra.

Lima tahun lalu, dia adalah site engineer muda di proyek apartemen tempatku bekerja sebagai mandor. Pendiam, teliti, dan hampir tidak pernah ikut campur urusan orang lain.

Setidaknya begitulah yang kupikirkan.

Sampai malam ini aku menyadari bahwa dialah orang yang menghancurkan kebohongan yang kubangun sendiri.

Arga memeluk Raditya, lalu mengangkatnya sebentar.

“Sekolahnya bagaimana hari ini?”

“Aku dapat bintang dua, Yah.”

“Wah, hebat.”

Raditya tersenyum bangga.

Kemudian mata Arga beralih kepadaku.

Senyumnya menghilang.

“Bayu?”

Aku berdiri perlahan.

“Arga.”

Rani memandang kami bergantian.

“Kalian masih saling kenal?”

Arga menurunkan Raditya.

“Kami pernah bekerja di proyek yang sama.”

Aku tertawa hambar.

“Bukan cuma itu.”

Rani mengerutkan kening.

Aku menatap Arga.

“Kau yang mengirim foto-foto itu kepada Rani, kan?”

Lobi mendadak terasa sunyi.

Beberapa karyawan yang lewat memperlambat langkah, tetapi Rani segera menatap mereka. Mereka langsung kembali berjalan.

Arga tidak menyangkal.

“Ya.”

Tanganku mengepal.

Aneh.

Lima tahun lalu, kalau mengetahui hal ini, mungkin aku sudah menghantam wajahnya.

Namun sekarang aku tidak punya hak untuk marah.

“Kenapa?” tanyaku.

Arga menatapku tenang.

“Karena waktu itu kau sudah punya istri yang sedang hamil.”

“Bukan urusanmu.”

“Memang bukan.”

Dia berhenti sejenak.

“Tapi salah satu perempuan yang kau bohongi adalah adik sepupuku.”

Aku terdiam.

Ingatan lama muncul.

Dewi.

Staf administrasi proyek.

Aku pernah mengatakan kepadanya bahwa aku sedang dalam proses bercerai.

Padahal saat itu Rani menungguku pulang setiap malam.

Arga melanjutkan, “Dewi tahu kau sudah menikah setelah melihat fotomu bersama Rani di media sosial. Dia hancur. Lalu aku mencari tahu dan ternyata bukan cuma Dewi.”

Aku menunduk.

“Jadi kau mengumpulkan semuanya.”

“Ya.”

“Dan mengirimkannya kepada Rani.”

“Ya.”

Rani berdiri tanpa bergerak.

Wajahnya berubah.

“Jadi selama ini orang yang mengirim email anonim itu kamu?”

Arga menatap istrinya.

“Iya.”

“Kamu tidak pernah bilang.”

“Aku pikir tidak perlu.”

Rani menatapnya cukup lama.

“Lalu tiga tahun kemudian kamu menikahiku?”

Nada suaranya membuat Arga memahami arah pikirannya.

“Rani, aku tidak membongkar Bayu supaya bisa mendekatimu.”

“Lalu kenapa setelah itu kamu terus membantuku?”

“Karena saat itu kamu sendirian.”

Arga menjawab tanpa ragu.

“Aku bahkan tidak pernah mengajakmu berkencan sampai hampir dua tahun setelah perceraianmu selesai.”

Aku memandang mereka dan tiba-tiba merasa sangat kecil.

Selama ini, dalam pikiranku, selalu ada orang lain yang bisa kusalahkan.

Rani terlalu keras.

Orang tuaku tidak membelaku.

Perusahaanku gagal karena partnerku kabur.

Bank terlalu kejam.

Pasar sedang buruk.

Sekarang bahkan aku hampir ingin menyalahkan Arga karena membongkar perselingkuhanku.

Padahal akar dari semuanya adalah aku sendiri.

Raditya menarik ujung jas Arga.

“Ayah, Pak Bayu jadi kerja di sini?”

Arga menatap Rani.

“Itu keputusan Ibu.”

Rani terdiam beberapa saat.

Kemudian dia memanggil kepala bagian umum.

“Pak Surya.”

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun segera datang.

“Ya, Bu?”

“Tolong proses Pak Bayu sebagai petugas kebersihan masa percobaan tiga bulan.”

Aku mengangkat kepala.

Rani menatapku tanpa senyum.

“Gajinya sesuai standar. Tidak ada perlakuan khusus. Kalau terlambat, dipotong. Kalau melanggar aturan, keluar.”

Aku mengangguk cepat.

“Terima kasih.”

“Jangan berterima kasih dulu.”

Tatapannya dingin.

“Kau mulai besok jam enam pagi.”

Begitulah caraku kembali masuk ke kehidupan Rani.

Bukan sebagai suaminya.

Bukan sebagai ayah Raditya.

Melainkan sebagai orang yang mengepel lantai gedung miliknya.

Hari pertamaku dimulai ketika matahari bahkan belum terbit.

Aku mengenakan seragam biru tua dengan tulisan Cleaning Service di dada.

Tugasku membersihkan lantai tujuh sampai sepuluh, mengangkut sampah, membersihkan toilet, dan memastikan ruang rapat siap sebelum karyawan datang.

Pada minggu pertama, beberapa orang mengenaliku.

Dunia properti Jakarta ternyata tidak sebesar yang kubayangkan.

“Bukannya dulu Pak Bayu punya perusahaan kontraktor?”

Aku hanya tersenyum.

“Dulu.”

Ada yang kasihan.

Ada yang mencibir.

Ada pula yang diam-diam mengambil fotoku.

Dua hari kemudian, foto itu tersebar di grup WhatsApp mantan rekan kerjaku.

Bayu Pratama sekarang jadi cleaning service di perusahaan mantan istri.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Dulu harga diriku mungkin akan membuatku berhenti hari itu juga.

Namun setiap kali ingin menyerah, aku teringat tangan kecil Raditya.

Kalau Pak Bayu kerja di sini, jangan sedih lagi, ya.

Aku bertahan.

Sebulan berlalu.

Raditya sering datang ke kantor sepulang sekolah karena Rani masih bekerja.

Setiap melihatku, dia selalu menyapa.

“Pak Bayu!”

Kadang dia memberikan permen.

Kadang dia duduk di dekatku ketika aku sedang beristirahat.

Suatu sore dia membawa buku gambar.

“Pak Bayu bisa gambar mobil?”

“Sedikit.”

Kami duduk di area pantry.

Aku menggambar sebuah mobil yang bentuknya lebih mirip kotak beroda.

Raditya tertawa sampai matanya menyipit.

“Jelek banget.”

Aku ikut tertawa.

Itu mungkin pertama kalinya dalam bertahun-tahun aku tertawa tanpa memikirkan utang.

Tiba-tiba Raditya bertanya, “Pak Bayu punya anak?”

Tanganku berhenti.

Aku menatap wajahnya.

“Ada.”

“Umurnya berapa?”

“Hampir lima tahun.”

“Sama kayak aku?”

Aku mengangguk

“Kurang lebih.”

“Anaknya tinggal di mana?”

Tenggorokanku terasa kering.

“Jauh.”

“Pak Bayu nggak kangen?”

Aku tersenyum sambil menahan sesuatu di dada.

“Kangen sekali.”

Raditya berpikir sebentar.

“Kalau kangen, temui saja.”

Sesederhana itu bagi seorang anak.

Aku mengusap rambutnya.

“Kadang orang dewasa membuat kesalahan yang bikin mereka nggak bisa mendapatkan semua yang mereka mau.”

Raditya tampak tidak mengerti.

Bagus.

Dia belum perlu mengerti.

Aku tidak tahu bahwa Rani berdiri di balik pintu pantry dan mendengar semuanya.

Malam itu, ketika hampir semua karyawan pulang, dia memanggilku ke ruangannya.

“Kau dekat dengan Radit.”

Aku berdiri di depan mejanya.

“Aku nggak pernah mengatakan apa pun kepadanya.”

“Aku tahu.”

“Aku juga nggak akan memberitahunya tanpa izinmu.”

Rani menatapku.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan, Bayu?”

“Pekerjaan.”

“Jangan bohong.”

Aku terdiam.

Rani berdiri.

“Kau datang karena bangkrut. Lalu tahu Radit ada. Sekarang setiap hari kau berada di dekatnya. Aku perlu tahu apakah suatu hari kau akan menuntut hak sebagai ayah kandung.”

Aku menatap lantai.

“Aku pernah konsultasi dengan pengacara.”

Wajah Rani langsung menegang.

“Tapi bukan untuk merebut Radit.”

Aku mengeluarkan amplop dari saku.

“Aku ingin tahu kewajibanku.”

Rani tidak mengambilnya.

“Apa itu?”

“Perhitungan nafkah yang seharusnya kuberikan sejak dia lahir.”

Rani tertawa kecil.

“Kau bahkan nggak punya uang.”

“Makanya aku bekerja.”

Aku meletakkan amplop di meja.

“Aku tahu jumlahnya mungkin nggak akan pernah lunas. Tapi mulai bulan ini, potong tiga puluh persen gajiku.”

“Untuk apa?”

“Untuk Radit.”

“Dia tidak membutuhkan uangmu.”

“Aku tahu.”

Aku menatapnya.

“Tapi aku membutuhkannya.”

Rani mengernyit.

“Aku perlu belajar melakukan sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak dulu. Bertanggung jawab.”

Untuk pertama kalinya sejak aku datang, kemarahan di wajah Rani sedikit menghilang.

Namun hidup rupanya belum selesai mengujiku.

Dua minggu kemudian, sebuah masalah besar terjadi.

Salah satu proyek apartemen PT Ranaya Properti Nusantara mengalami retakan pada struktur basement.

Kontraktor utama menyatakan retakan itu normal.

Konsultan juga mengatakan bangunan masih aman.

Namun ketika aku diminta membantu membersihkan ruang rapat setelah pertemuan teknis, aku melihat gambar struktur yang tertinggal di meja.

Aku pernah bekerja hampir sepuluh tahun di lapangan.

Ada sesuatu yang terasa salah.

Aku memeriksa foto retakan.

Kemudian melihat catatan pengecoran.

Mutu beton yang tertulis tidak cocok dengan spesifikasi desain.

Aku membawa dokumen itu kepada Pak Surya.

“Pak, sebaiknya proyek ini diperiksa ulang.”

Dia tertawa.

“Bayu, tugasmu bersihkan meja.”

“Tapi ini serius.”

“Tim engineer sudah mengecek.”

Aku pulang dengan perasaan tidak tenang.

Keesokan harinya aku melihat laporan lain di tempat sampah ruang rapat.

Hasil uji beton.

Nilainya jauh di bawah spesifikasi.

Seseorang sedang menutupi sesuatu.

Aku langsung menemui Arga.

Awalnya dia marah karena aku membawa dokumen internal.

Namun setelah membaca hasilnya, wajahnya berubah.

Malam itu juga, Rani menghentikan sementara seluruh pekerjaan proyek.

Audit independen dilakukan.

Tiga hari kemudian, hasilnya keluar.

Benar.

Ada pengurangan kualitas material senilai miliaran rupiah.

Dan orang yang mengaturnya adalah salah satu direktur operasional Rani sendiri.

Kalau proyek diteruskan, kerugian bukan hanya uang.

Nyawa penghuni bisa menjadi taruhannya.

Direktur itu dipecat dan dilaporkan ke polisi.

Setelah semuanya selesai, Rani memanggilku.

“Kau menyelamatkan perusahaan dari masalah besar.”

“Aku cuma melihat sesuatu yang pernah kukerjakan bertahun-tahun.”

“Aku mau memindahkanmu ke bagian pengawasan lapangan.”

Aku terdiam.

“Sebagai staf?”

“Sebagai supervisor junior.”

Aku menggeleng.

Rani tampak heran.

“Kenapa?”

“Aku belum pantas.”

“Bayu, ini bukan hadiah.”

“Aku tahu.”

Aku menarik napas.

“Tapi aku ingin menyelesaikan masa percobaanku dulu.”

Rani menatapku beberapa detik.

Kemudian untuk pertama kalinya dia tersenyum tulus.

“Baik.”

Tiga bulan kemudian, aku resmi dipindahkan ke bagian pengawasan proyek.

Gajiku meningkat.

Aku mulai membayar utang.

Aku juga menghubungi orang tuaku dan meminta maaf.

Ibu menangis ketika aku pulang.

Bukan karena aku sudah punya pekerjaan lagi.

Tapi karena untuk pertama kalinya aku tidak datang membawa alasan.

Satu tahun berlalu.

Hubunganku dengan Raditya semakin dekat.

Namun aku tetap menjadi Pak Bayu.

Sampai suatu sore, Rani dan Arga memintaku datang ke rumah mereka.

Jantungku berdebar sepanjang perjalanan.

Raditya sedang bermain di lantai ruang keluarga ketika aku masuk.

Rani duduk di sofa.

Arga berada di sebelahnya.

Ada sebuah amplop putih di meja.

“Duduk, Yu,” kata Arga.

Aku duduk.

Rani mengambil napas panjang.

“Kami sudah bicara selama beberapa bulan.”

“Tentang apa?”

“Raditya.”

Tubuhku menegang.

Rani menatap anaknya.

“Radit, sini sebentar.”

Raditya datang dan duduk di antara Rani dan Arga.

Rani menggenggam tangannya.

“Radit ingat pernah tanya kenapa wajah Pak Bayu mirip Radit?”

Anak itu mengangguk.

“Karena Pak Bayu ayah kandung Radit.”

Ruangan mendadak terasa tanpa udara.

Raditya menatapku.

Lalu menatap Arga.

“Terus Ayah?”

Arga tersenyum.

“Ayah tetap Ayah.”

“Jadi aku punya dua ayah?”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Raditya berjalan mendekatiku.

Aku sudah bersiap menghadapi apa pun.

Marah.

Bingung.

Bahkan penolakan.

Namun dia hanya bertanya, “Kenapa Pak Bayu baru datang?”

Pertanyaan itu menghancurkanku.

Aku berlutut di depannya.

“Karena Pak Bayu dulu orang yang sangat egois.”

Air mataku jatuh.

“Pak Bayu menyakiti Ibu. Lalu Pak Bayu pergi terlalu lama.”

“Kenapa?”

“Karena Pak Bayu bodoh.”

Raditya menatapku cukup lama.

Kemudian dia memeluk leherku.

“Jangan pergi lagi.”

Aku menangis seperti anak kecil.

“Aku nggak akan pergi.”

Namun Arga mendekat dan berjongkok di samping kami.

“Bayu.”

Aku menatapnya.

“Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kau kendalikan.”

Aku terdiam.

Arga menepuk bahuku.

“Janji saja bahwa selama kau masih bisa datang, kau akan datang.”

Aku mengangguk.

“Ya.”

Malam itu, aku akhirnya memahami sesuatu.

Menjadi ayah bukan soal darah.

Arga sudah membuktikannya selama bertahun-tahun.

Dan menjadi mantan suami yang menyesal tidak memberiku hak untuk meminta Rani kembali.

Aku tidak pernah mencoba.

Rani sudah memiliki kehidupan yang pantas dia dapatkan.

Dua tahun kemudian, aku berdiri di sebuah proyek perumahan sederhana di Bekasi.

Di papan proyek tertulis nama perusahaan kecil yang baru kubangun.

Pratama Karya Mandiri.

Bukan perusahaan besar.

Tidak ada gedung puluhan lantai.

Tidak ada mobil mewah.

Modal pertamaku bahkan berasal dari tabungan sendiri dan pinjaman bank yang kujamin dengan reputasi kerja dua tahun terakhir.

Hari peresmian kantor kecil itu, Rani datang bersama Arga dan Raditya.

Aku terkejut.

“Kalian datang?”

Raditya berlari memelukku.

“Ayah Bayu!”

Itulah pertama kalinya dia memanggilku begitu di depan orang banyak.

Aku menahan air mata.

Arga mengulurkan tangan.

“Selamat.”

“Terima kasih.”

Rani berdiri beberapa langkah di belakang.

Aku mendekatinya.

“Ra.”

“Ya?”

“Ada satu hal yang belum pernah kukatakan dengan benar.”

Rani menunggu.

“Terima kasih karena dulu kau mengusirku.”

Dia mengangkat alis.

Aku tersenyum.

“Kalau malam itu kau memaafkanku begitu saja, mungkin aku tidak pernah belajar apa pun.”

Rani menggeleng sambil tersenyum tipis.

“Jangan salah. Aku mengusirmu bukan untuk mengajarimu.”

“Aku tahu.”

“Aku mengusirmu karena aku sudah muak.”

Kami tertawa kecil.

Lalu Rani menatap papan nama perusahaanku.

“Kali ini jangan ulangi kesalahan yang sama.”

“Tidak akan.”

Saat mereka hendak pulang, Arga tiba-tiba berhenti.

“Ada sesuatu yang mungkin belum kau tahu.”

“Apa?”

Dia menatap Rani sebentar.

Rani mengangguk.

Arga lalu berkata, “Lima tahun lalu, setelah aku mengirim bukti perselingkuhanmu, Rani sempat ingin memaafkanmu.”

Aku membeku.

“Apa?”

Rani menunduk.

“Malam setelah aku mengusirmu, aku menunggu.”

“Menunggu apa?”

“Kau kembali.”

Dadaku sesak.

“Aku pikir kalau kau kembali malam itu, mengetuk pintu, mengakui semuanya tanpa alasan, mungkin aku akan memberimu satu kesempatan terakhir.”

Aku teringat malam hujan itu.

Setelah ditolak orang tuaku, aku tidak kembali.

Aku justru pergi ke rumah salah satu perempuan yang selama ini menjadi selingkuhanku.

Aku tinggal di sana selama hampir dua minggu.

Rani rupanya mengetahuinya.

“Itulah saat aku benar-benar menyerah,” katanya.

Aku tidak mampu berkata-kata.

Selama bertahun-tahun aku mengira hidupku hancur ketika Rani menutup pintu.

Ternyata tidak.

Pintu itu masih sempat terbuka.

Akulah yang memilih berjalan menjauh.

Rani tersenyum kecil.

“Tapi mungkin semuanya memang harus terjadi seperti ini.”

Dia menoleh kepada Arga.

Lalu kepada Raditya yang sedang berlari-lari di halaman.

“Aku bahagia dengan hidupku sekarang.”

Aku mengangguk.

“Aku juga.”

Dan kali ini aku benar-benar bersungguh-sungguh.

Aku tidak mendapatkan kembali istriku.

Aku tidak mendapatkan kembali lima tahun pertama kehidupan anakku.

Tidak ada permintaan maaf yang bisa menghapus semua itu.

Namun aku mendapatkan sesuatu yang dulu tidak pernah kumiliki bahkan ketika uangku banyak.

Kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Hujan mulai turun ketika mobil mereka meninggalkan halaman.

Aku berdiri di depan kantor kecilku sambil memandang langit.

Aneh sekali.

Bertahun-tahun lalu, hujan menjadi saksi ketika aku kehilangan rumah, istri, dan anakku karena kesalahanku sendiri.

Hari ini hujan kembali turun.

Tetapi aku tidak lagi berdiri dengan koper di tangan.

Aku berdiri di depan kehidupan yang kubangun kembali sedikit demi sedikit.

Bukan dengan kebohongan.

Bukan dengan kesombongan.

Melainkan dengan menerima bahwa beberapa kesalahan memang bisa dimaafkan, tetapi tidak semua hal yang hilang harus kembali menjadi milik kita.

Kadang-kadang penebusan bukan tentang mendapatkan kembali masa lalu.

Melainkan memastikan bahwa ketika kehidupan memberi kita kesempatan kedua, kita tidak menjadi orang yang sama yang pernah menyia-nyiakan kesempatan pertama.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang