Wajah Bayu berubah.
Dan saat itulah aku tahu.
Ada sesuatu yang jauh lebih buruk daripada surat cerai itu.
Sesuatu yang selama ini belum kuketahui.
“Siapa dia?” tanyaku sekali lagi.
Bayu menatap ke arah jendela kamar rawat. Di luar, matahari pagi mulai menyusup di antara gedung-gedung tinggi Jakarta, memantulkan cahaya pucat ke lantai rumah sakit.
“Aku nggak mau kamu dengar dari orang lain.”
Dadaku terasa makin berat.
“Siapa?”
Bayu menarik napas panjang.
“Dinda.”
Aku mengerutkan kening.
Nama itu terasa akrab.
Terlalu akrab.
Lalu aku teringat.
Dinda.
Sepupu jauh Bayu yang beberapa kali datang menjenguknya selama dirawat.
Perempuan berambut sebahu yang selalu membawa buah, mengenakan pakaian rapi, dan memanggilku dengan senyum manis.
“Mbak Rina pasti capek banget. Istirahat saja, biar aku yang jagain Mas Bayu sebentar.”
Aku bahkan pernah berterima kasih kepadanya.
Pernah kubelikan kopi.
Pernah kutinggalkan Bayu bersamanya selama dua jam karena aku harus bertemu calon pembeli toko Ayah.
Tanganku langsung dingin.
“Dinda?”
Bayu mengangguk kecil.
Aku merasa mual.
“Sejak kapan?”
“Rina…”
“Sejak kapan?”
“Hampir dua tahun.”
Dua tahun.
Aku sampai harus memegang pinggir meja agar tidak jatuh.
Dua tahun berarti hubungan mereka sudah dimulai jauh sebelum Bayu sakit.
Dua tahun berarti semua malam ketika dia bilang lembur, semua perjalanan dinas singkat, semua pesan yang dibalas sambil membalikkan layar ponsel, punya arti lain.
“Jadi selama dua tahun kamu selingkuh?”
Bayu mengusap wajahnya.
“Aku nggak bermaksud menyakitimu.”
Aku tertawa.
Kali ini tawaku benar-benar terdengar aneh.
“Kamu tidur dengan perempuan lain selama dua tahun, lalu bilang nggak bermaksud menyakitiku?”
“Hubungan kita sudah lama nggak baik.”
Aku menatapnya.
“Tidak baik?”
Bayu mulai terdengar defensif.
“Kamu juga tahu, Rin. Kita sudah seperti dua orang yang cuma tinggal serumah.”
Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.
“Karena aku kerja dari pagi sampai malam bantu kita bayar cicilan rumah.”
“Aku nggak menyalahkan kamu.”
“Tapi barusan kamu menyalahkan aku.”
“Bukan begitu maksudku.”
Aku menurunkan surat itu.
Entah kenapa, kemarahan yang tadi meledak perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin.
Lebih tajam.
“Apa Dinda tahu aku menjual toko Ayah?”
Bayu diam.
“Dia tahu?”
“Iya.”
Aku mengangguk pelan.
Tiba-tiba semuanya terasa sangat jelas.
Mereka berdua tahu.
Mereka tahu aku menjual satu-satunya peninggalan Ayah untuk menyelamatkan Bayu.
Mereka tahu aku bahkan tidak punya tempat untuk kembali jika pernikahan ini berakhir.
Dan mereka diam.
“Hebat,” bisikku.
“Rina…”
“Hebat sekali kalian.”
Aku mengambil tas dari kursi.
Bayu terlihat panik.
“Kamu mau ke mana?”
Aku menoleh.
“Pulang.”
“Kita masih harus bicara.”
Aku memandangnya beberapa detik.
“Tidak. Kamu yang masih ingin bicara.”
Aku mengangkat map cokelat itu.
“Aku sudah dengar cukup banyak.”
Aku berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, Bayu memanggilku.
“Rina.”
Aku berhenti.
“Aku akan tetap mengganti uang operasi itu.”
Aku membeku.
Perlahan aku berbalik.
Bayu terlihat seolah merasa kalimatnya cukup masuk akal.
“Kalau nanti aku sudah kerja lagi, aku cicil. Aku tahu kamu kehilangan banyak.”
Aku menatap laki-laki yang sudah kunikahi delapan tahun itu dan baru saat itulah aku menyadari sesuatu.
Aku sama sekali tidak mengenalnya.
“Bayu,” kataku pelan.
“Kamu pikir yang hilang cuma uang?”
Dia tidak menjawab.
Aku keluar.
Sepanjang perjalanan pulang dengan ojek online, aku tidak menangis.
Jakarta tetap bergerak seperti biasa.
Motor berdesakan.
Pedagang kaki lima membuka terpal.
Anak-anak berseragam menyeberang jalan.
Seorang pengemudi angkot membunyikan klakson berkali-kali.
Dunia tidak berhenti hanya karena rumah tanggaku hancur.
Aku baru menangis ketika sampai di rumah.
Bukan di ruang tamu.
Bukan di kamar.
Aku menangis di dapur ketika melihat sebuah kaleng biskuit tua di atas lemari.
Kaleng itu milik Ayah.
Dulu setiap malam setelah menutup toko, Ayah memasukkan uang receh ke dalamnya.
“Sedikit-sedikit lama-lama jadi pegangan hidup,” katanya.
Aku membuka kaleng itu.
Kosong.
Tentu saja kosong.
Semua tabungan sudah kugunakan.
Aku duduk di lantai sambil memeluk kaleng tersebut dan menangis sampai tidak ada suara yang keluar lagi.
Ayah meninggal lima tahun lalu.
Toko kecilnya bukan toko mewah.
Hanya kios sembako di pinggir jalan di Bekasi.
Namun tempat itu dibangun Ayah sedikit demi sedikit sejak aku masih SD.
Ia selalu berkata bahwa toko itu bukan sekadar bangunan.
“Itu cadangan hidupmu, Rin. Kalau suatu hari dunia nggak ramah sama kamu, setidaknya kamu punya tempat untuk berdiri.”
Dan aku menjualnya.

Untuk Bayu.
Aku bahkan masih ingat calon pembelinya, Pak Hendra.
Ia datang dua hari sebelum operasi Bayu.
“Kalau tidak mendesak, pikirkan lagi, Mbak Rina,” katanya waktu itu.
Aku menggeleng.
“Suami saya harus segera operasi.”
Pak Hendra menatapku lama.
“Baik. Tapi saya cuma bisa bayar tujuh ratus lima puluh juta.”
Harga pasar toko itu setidaknya sembilan ratus juta.
Aku tetap setuju.
Aku tidak punya waktu untuk menawar.
Sekarang toko itu sudah bukan milikku.
Rumah yang kutempati juga masih cicilan dan atas nama Bayu karena pengajuan KPR dulu menggunakan dokumen pekerjaannya.
Aku tersenyum pahit.
Ayah benar.
Dunia akhirnya tidak ramah.
Dan aku sendiri yang menjual tempat terakhir untuk berdiri.
Tiga hari setelah aku meninggalkan rumah sakit, Bayu pulang.
Dinda mengantarnya.
Aku sedang memasukkan pakaian ke dalam koper saat mendengar pintu dibuka.
Mereka masuk bersama.
Bayu memakai tongkat.
Dinda memegang tas obatnya.
Melihat mereka berdiri di ruang tamu rumah kami membuat perutku kembali terasa mual.
Dinda terlihat canggung.
“Mbak Rina.”
Aku tidak menjawab.
Bayu melihat koper di lantai.
“Kamu mau pergi?”
“Ya.”
“Kamu nggak perlu buru-buru. Sidangnya juga belum mulai.”
Aku menatapnya.
“Rumah ini rumahmu. Jadi aku pergi.”
Bayu terdiam.
Dinda tiba-tiba berkata pelan, “Mbak, aku minta maaf.”
Aku menoleh kepadanya.
Dia menundukkan wajah.
“Aku tahu nggak ada alasan yang bisa membenarkan apa yang kami lakukan.”
Aku tersenyum tipis.
“Bagus.”
Dinda mengangkat kepala.
“Setidaknya kamu masih tahu.”
Bayu menghela napas.
“Rina, jangan serang Dinda.”
Kalimat itu membuatku benar-benar tertawa.
“Serang?”
Aku menunjuk diriku sendiri.
“Bayu, aku belum melakukan apa-apa.”
“Dia juga merasa bersalah.”
“Lalu aku harus bagaimana? Memeluknya?”
Dinda mulai menangis.
Bayu langsung mendekatinya.
Dan pemandangan itu seperti jawaban terakhir yang kubutuhkan.
Suamiku yang seminggu lalu bahkan kubantu mandi sekarang berdiri melindungi perempuan yang menjadi selingkuhannya.
Aku menutup koper.
“Santai saja.”
Aku menarik gagangnya.
“Aku tidak akan berebut laki-laki seperti kamu.”
Wajah Bayu memerah.
“Rina.”
Aku berjalan melewati mereka.
Namun di depan pintu, Dinda tiba-tiba berkata sesuatu.
“Mbak, soal toko itu…”
Aku berhenti.
Bayu langsung menoleh tajam kepadanya.
“Dinda.”
Terlambat.
Aku berbalik.
“Soal toko kenapa?”
Dinda terlihat panik.
“Nggak ada.”
Aku meletakkan tangan di gagang koper.
“Sekarang ngomong.”
Bayu mencoba memotong.
“Rina, ini bukan waktunya.”
Aku menatap Dinda.
“Apa soal toko?”
Dinda menggigit bibir.
Lalu dengan suara hampir berbisik, dia berkata,
“Pembelinya… kenalan Bayu.”
Tubuhku langsung kaku.
“Apa?”
Bayu menutup mata.
Aku menatapnya.
“Pak Hendra kenalan kamu?”
Bayu tidak menjawab.
Aku melangkah mendekat.
“Jawab aku.”
“Iya.”
Ada suara berdenging di telingaku.
“Kamu yang mengenalkan dia?”
Bayu mengangguk.
Aku mulai memahami sesuatu yang mengerikan.
“Dia menawar toko jauh di bawah harga pasar.”
“Rina, waktu itu kita butuh cepat.”
“Kita?”
Aku tertawa dingin.
“Kamu bilang kita?”
Bayu menatap lantai.
Aku kembali menoleh kepada Dinda.
“Ada apa lagi yang belum aku tahu?”
Dinda terlihat ketakutan.
Bayu berkata keras, “Cukup.”
Justru karena itu aku tahu masih ada sesuatu.
Aku mendekati Dinda.
“Tolong. Kalau masih ada sedikit saja rasa bersalah dalam dirimu, katakan semuanya.”
Air mata Dinda jatuh.
Lalu dia berkata,
“Pak Hendra bukan pembeli sebenarnya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku tidak langsung mengerti.
“Terus siapa?”
Dinda menatap Bayu.
Kemudian kembali kepadaku.
“Toko itu dibeli perusahaan milik kakakku.”
Aku merasa lantai seperti bergerak.
“Apa?”
“Bayu bilang lokasinya bagus. Katanya beberapa tahun lagi harga daerah sana bakal naik karena rencana pelebaran jalan.”
Aku menatap Bayu.
Dia pucat.
Jauh lebih pucat daripada ketika terbaring setelah operasi.
“Kamu merencanakan ini?”
“Rina, dengarkan dulu.”
“Kamu tahu toko Ayah bernilai lebih mahal?”
“Aku cuma…”
“Kamu sengaja cari pembeli dari pihak Dinda?”
Bayu kehilangan kata-kata.
Saat itulah kemarahan dalam diriku berubah total.
Bukan lagi kemarahan seorang istri yang diselingkuhi.
Ini kemarahan seorang perempuan yang sadar dirinya sudah dimanfaatkan.
Aku menarik ponsel.
“Aku akan bicara dengan pengacara.”
Bayu langsung panik.
“Untuk apa?”
Aku menatapnya.
“Untuk memastikan semua yang kamu lakukan ada harganya.”
Malam itu aku menghubungi teman lama kuliahku, Sarah, yang sekarang bekerja di kantor hukum.
Aku menceritakan semuanya.
Sarah tidak banyak bicara.
Dia hanya bertanya,
“Semua pembayaran operasi dari rekeningmu?”
“Sebagian besar.”
“Bukti penjualan toko ada?”
“Ada.”
“Chat Bayu dengan pembeli?”
“Aku nggak punya.”
“Cari.”
Dua hari kemudian aku kembali ke rumah ketika Bayu sedang kontrol.
Aku membuka laptop lamanya.
Aku tahu kata sandinya.
Tanggal pernikahan kami.
Ironis.
Di dalam surel, aku menemukan semuanya.
Percakapan Bayu dengan Pak Hendra.
Percakapan dengan kakak Dinda.
Foto sertifikat toko.
Perhitungan harga tanah.
Bahkan sebuah pesan yang dikirim tiga minggu sebelum operasinya.
Kalau Rina jual di bawah 800, ambil saja. Dia pasti setuju karena lagi panik soal operasi.
Tanganku gemetar saat membacanya.
Ada satu balasan dari Pak Hendra.
Yakin istri kamu nggak akan curiga?
Bayu menjawab:
Nggak. Dia percaya sama aku.
Aku menutup laptop.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi, aku tidak menangis.
Aku hanya duduk diam.
Lalu mengambil foto semua bukti.
Sidang perceraian pertama berlangsung satu bulan kemudian.
Bayu datang bersama pengacaranya.
Dinda tidak terlihat.
Aku duduk di sebelah Sarah.
Bayu tampak percaya diri.
Mungkin ia mengira aku hanya akan menuntut pembagian barang biasa.
Dia belum tahu apa yang kami bawa.
Setelah sidang, pengacaranya menghampiri Sarah.
Mereka berbicara cukup lama.
Wajah Bayu perlahan berubah.
Sarah kembali ke sampingku.
“Mereka mau menyelesaikan di luar sidang.”
Aku menatap Bayu dari kejauhan.
“Kenapa?”
Sarah tersenyum tipis.
“Karena kalau bukti itu kita bawa lebih jauh, urusannya bukan cuma perceraian.”
Akhirnya, toko Ayah dikembalikan kepadaku.
Bukan karena Bayu tiba-tiba punya hati.
Tapi karena keluarga Dinda tidak ingin transaksi itu diperiksa lebih jauh.
Mereka membatalkan jual beli dan mengembalikan seluruh uang yang pernah kubayarkan, dengan penghitungan sesuai kesepakatan hukum.
Sebagai bagian dari penyelesaian harta bersama, Bayu juga melepaskan haknya atas rumah.
Aku hampir tidak percaya ketika Sarah memberiku salinan dokumennya.
“Kamu menang,” katanya.
Aku menggeleng.
“Enggak.”
Sarah menatapku heran.
Aku melihat tanda tanganku di atas kertas.
“Aku cuma berhasil mengambil kembali sesuatu yang seharusnya nggak pernah dirampas.”
Enam bulan kemudian, aku membuka toko Ayah lagi.
Aku mengganti cat dinding.
Memperbaiki rak.
Memasang lampu baru.
Namun papan nama lama tetap kupertahankan.
Toko Kartika.
Di bawahnya, aku menambahkan tulisan kecil.
Sejak 1998.
Hari pertama toko dibuka kembali, aku berdiri di depan pintu sejak subuh.
Aroma kopi dari warung sebelah bercampur dengan bau kardus, sabun cuci, beras, dan kayu rak yang masih baru.
Aku hampir menangis.
Bukan karena sedih.
Ayah benar.
Aku akhirnya punya tempat untuk berdiri lagi.
Tentang Bayu, aku mendengar kabarnya beberapa bulan kemudian.
Dinda meninggalkannya.
Bukan karena aku.
Bukan juga karena persidangan.
Ternyata selama Bayu sakit, Dinda baru mengetahui bahwa Bayu punya utang cukup besar dari investasi gagal yang selama ini disembunyikannya.
Itulah sebabnya sebagian uang tabungan kami selalu terasa menghilang.
Dan itulah sebabnya dia begitu tertarik pada toko Ayah.
Bukan hanya karena lokasi.
Dia membutuhkan uang.
Ketika Dinda menyadari hubungan mereka dibangun di atas kebohongan yang bahkan lebih besar daripada yang ia ketahui, dia pergi.
Suatu sore, Bayu datang ke toko.
Aku sedang menyusun mi instan di rak.
Dia berdiri di dekat pintu seperti orang asing.
Tubuhnya sudah sehat.
Tidak ada tongkat.
Tidak ada wajah pucat.
“Rina.”
Aku menoleh.
“Ya?”
Dia terlihat gugup.
“Aku cuma mau bilang… aku benar-benar menyesal.”
Aku tidak menjawab.
“Aku kehilangan semuanya.”
Aku memasukkan bungkus mi terakhir ke rak.
Lalu menatapnya.
“Tidak.”
Bayu terdiam.
Aku melanjutkan,
“Kamu tidak kehilangan semuanya.”
Dia mengerutkan kening.
“Kamu membuangnya.”
Matanya mulai merah.
“Aku bodoh.”
“Ya.”
Dia tersenyum pahit.
“Kamu berubah.”
Aku menatap toko di sekelilingku.
Pelanggan mulai berdatangan.
Seorang ibu memilih minyak goreng.
Dua anak sekolah membeli minuman dingin.
Di meja kasir masih ada kaleng biskuit tua milik Ayah.
Aku tersenyum.
“Bukan.”
Aku menatap Bayu sekali lagi.
“Aku cuma kembali menjadi diriku sendiri.”
Bayu berdiri beberapa saat sebelum akhirnya pergi.
Aku tidak memanggilnya.
Tidak melihat ke belakang.
Sore itu, ketika menutup toko, aku memasukkan uang receh pertama ke dalam kaleng milik Ayah.
Bunyinya kecil.
Hanya denting logam yang sederhana.
Namun entah kenapa, suara itu membuat dadaku terasa penuh.
Aku teringat kalimat Ayah bertahun-tahun lalu.
Sedikit-sedikit lama-lama jadi pegangan hidup.
Aku akhirnya mengerti.
Pegangan hidup bukan selalu uang.
Bukan rumah.
Bukan toko.
Dan bukan seseorang yang berjanji akan tinggal selamanya.
Kadang pegangan hidup adalah keberanian untuk berhenti mempertahankan orang yang sudah memilih menghancurkanmu.
Aku menutup kaleng itu.
Mematikan lampu.
Lalu mengunci pintu toko peninggalan Ayah dengan tanganku sendiri.
Tangan yang dulu berbau obat merah karena menyelamatkan seorang laki-laki yang tidak pantas mendapat pengorbananku.
Kini tanganku berbau kardus, kopi, dan uang receh.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aroma itu terasa seperti rumah.
