“Dia bilang… Mbak mandul.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi rasanya seperti sesuatu yang pecah di tengah ruang sidang.
Aku menatap Maya cukup lama.
Lalu tanpa sadar, aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Bukan juga karena aku ingin mempermalukannya.
Aku hanya tiba-tiba sadar betapa mudahnya Arga membangun dua dunia dengan dua cerita yang sama-sama palsu.
Kepada Maya, aku adalah istri mandul yang dingin, perempuan sakit-sakitan yang sudah lama tidak disentuh suaminya.
Kepadaku, Maya hanyalah “teman kantor”, perempuan yang terlalu sering menelepon karena proyek, perempuan yang katanya sedang mengalami masalah keluarga dan butuh tempat bercerita.
Tujuh tahun.
Tujuh tahun kami hidup di dalam kebohongan laki-laki yang sama.
Aku menarik napas.
“Aku pernah hamil dua kali,” kataku. “Dan dua-duanya keguguran.”
Maya menatapku seolah aku baru saja mengubah seluruh masa lalunya.
“Kapan?”
“Empat tahun lalu dan dua tahun lalu.”
Wajah Maya langsung pucat.
Tangannya perlahan turun.
“Dua tahun lalu?”
Aku mengangguk.
Maya menoleh cepat kepada Arga.
“Dua tahun lalu kamu bilang kamu pergi ke Surabaya seminggu karena ibumu sakit.”
Arga tidak menjawab.
Aku memejamkan mata sebentar.
Dua tahun lalu.
Aku masih ingat jelas.
Aku terbangun pukul tiga pagi dengan darah membasahi seprai. Arga yang panik mengangkat tubuhku, membawaku turun dari lantai dua tanpa memakai sandal, lalu mengemudi seperti orang kesetanan menuju rumah sakit.
Di ruang IGD, dia menggenggam tanganku.
Dia menangis.
Dia menempelkan dahinya ke punggung tanganku sambil berkata berkali-kali,
“Maaf. Maaf, Lai. Aku harusnya lebih jaga kamu.”
Saat itu aku benar-benar percaya tangisnya.
Sekarang baru kuketahui bahwa setelah tiga malam menjagaku di rumah sakit, dia mungkin pergi menemui perempuan lain sambil membawa cerita bahwa ibunya sedang sakit.
Aku menatap Arga.
“Jadi waktu itu Surabaya?”
Rahangnya mengeras.
“Laila, jangan lakukan ini di sini.”
Aku hampir tertawa lagi.
“Melakukan apa?”
“Mempermalukan aku.”
Maya tiba-tiba memukul lengannya.
“Mempermalukan kamu?”
Arga tersentak.
“Kamu pikir sekarang masalahnya kamu dipermalukan?”
Beberapa orang yang tadi bersiap meninggalkan ruang sidang kembali duduk. Bahkan petugas pengadilan tampak ragu apakah harus meminta kami keluar.
Maya menggenggam tasnya dengan napas memburu.
“Aku tujuh tahun nunggu kamu.”
Arga merendahkan suara.
“Kita bicara di luar.”
“Nggak.”
“Maya.”
“Nggak!”
Suara Maya menggema.
“Aku aborsi karena kamu!”
Semua suara berhenti.
Termasuk napasku.
Arga membeku.
Aku menatap Maya.
Dia langsung menutup mulut dengan tangannya, seolah baru sadar apa yang baru saja terlepas.
Aku tidak tahu kenapa, tapi kakiku tiba-tiba terasa dingin.
“Apa?”
Maya menangis lagi.
Kali ini bukan tangis seorang perempuan yang kehilangan kekasih.
Ini tangis seseorang yang baru saja membuka luka yang selama ini disembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.
“Tiga tahun lalu aku hamil.”
Arga maju satu langkah.
“Diam.”
Maya mundur.
“Kamu bilang kalau aku mempertahankannya, semuanya akan hancur.”
“Maya, cukup.”
“Kamu bilang kamu belum bisa cerai karena kondisi Laila nggak stabil.”
Aku menatap Arga.
Maya terus bicara.
“Kamu bilang kalau aku benar-benar sayang sama kamu, aku harus sabar. Kamu janji nanti setelah semuanya selesai kita bisa punya anak lagi.”
Air matanya jatuh deras.
“Aku percaya.”
Arga meraih lengannya, tapi Maya menepis keras.
“Jangan sentuh aku!”
Aku berdiri di sana, mendengarkan semuanya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Aku marah.
Tentu saja.
Tapi untuk pertama kali, kemarahanku bukan hanya kepada Maya.
Aku melihat seorang perempuan yang membuat kesalahan besar, lalu terus menggali lubang itu karena percaya pada janji seorang laki-laki.
Dan aku melihat diriku sendiri.
Bukan karena kami sama.
Tapi karena kami sama-sama pernah mencintai Arga lebih banyak daripada mencintai kewarasan kami sendiri.
Aku mengambil napas panjang.
“Maya.”
Dia menoleh.
“Kamu tahu dia pernah minta aku program bayi tabung?”
Maya menggeleng perlahan.
“Setahun setelah kamu menggugurkan kandunganmu.”
Wajahnya berubah seketika.
Aku bisa melihat rasa mual muncul di matanya.
“Dia bilang dia sangat ingin punya anak.”
Maya menatap Arga seperti melihat orang asing.
“Kenapa?”
Arga akhirnya mengangkat kepala.
“Cukup!”
Untuk pertama kalinya suaranya meninggi.
“Aku capek!”
Aku diam.
Maya juga diam.
Arga menatap kami bergantian.
Wajahnya merah.
“Kalian sekarang mau apa? Mau bikin aku kelihatan seperti monster?”
Aku mengerutkan kening.
“Kelihatan?”
Dia menunjukku.
“Kamu juga nggak sempurna, Laila!”
Aku terkekeh.
Akhirnya.
Aku tahu bagian ini akan datang.
Setiap kali seseorang kehabisan alasan, dia akan mulai menghitung kesalahan orang lain.
“Kamu sibuk kerja. Kamu sering pulang malam. Setelah keguguran kamu berubah. Kamu dingin. Kamu bahkan sering nolak kalau aku ajak bicara.”
Aku mengangguk pelan.
“Benar.”

Arga tampak terkejut.
“Aku memang berubah.”
Aku menatap tepat ke matanya.
“Karena saat aku kehilangan anak pertama kita, aku menemukan tagihan hotel di saku celanamu.”
Wajahnya seketika kosong.
Maya menoleh padaku.
Aku melanjutkan.
“Aku tahu sejak empat tahun lalu.”
Arga berbisik,
“Apa?”
“Aku tahu kamu selingkuh.”
Sekarang, bahkan Maya tampak tidak mengerti.
“Kamu tahu?”
Aku mengangguk.
“Tidak semuanya. Aku baru tahu namamu setahun kemudian.”
Maya menatapku seperti aku orang gila.
“Kenapa Mbak diam?”
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi jawabannya membuat tenggorokanku sakit.
“Karena aku bodoh.”
Arga membuka mulut.
Aku mengangkat tangan.
“Bukan. Jangan potong.”
Aku menatap Maya lagi.
“Aku diam karena ibuku baru kena stroke. Aku diam karena bisnis kecil yang kubangun bersama Arga baru mulai stabil. Aku diam karena aku hamil lagi dan aku takut stres akan membuatku kehilangan bayi kedua.”
Aku tersenyum tipis.
“Dan akhirnya aku kehilangan juga.”
Maya menundukkan kepala.
Aku melanjutkan lebih pelan.
“Setelah itu aku tetap bertahan karena setiap kali aku mau pergi, Arga selalu berubah jadi suami paling baik di dunia.”
Aku masih ingat bunga yang dia bawa.
Makan malam.
Pelukan.
Janji.
Terapi pernikahan yang hanya kami jalani tiga kali sebelum dia bilang terlalu sibuk.
Lalu dua minggu kemudian aku kembali mencium parfum asing di mobilnya.
Begitulah siklusnya.
Sakit.
Memaafkan.
Tenang.
Curiga.
Menemukan bukti.
Sakit lagi.
Sampai suatu hari, delapan bulan lalu, sesuatu dalam diriku mati.
Bukan cinta.
Lebih buruk.
Harapan.
Aku berhenti memeriksa ponselnya.
Berhenti menanyakan pulang jam berapa.
Berhenti mencari alasan mengapa dia tersenyum sendiri melihat layar.
Dan diam-diam, aku mulai mengumpulkan dokumen.
Rekening.
Properti.
Bukti transfer.
Percakapan.
Tagihan hotel.
Semua.
Aku bukan lagi istri yang menunggu suaminya berubah.
Aku perempuan yang sedang merencanakan jalan keluar.
Arga menatapku lama.
“Jadi selama ini kamu…”
“Mempersiapkan perceraian?”
Aku mengangguk.
“Ya.”
Maya menyeka air mata.
“Tapi dia bilang dia yang minta cerai duluan.”
Aku tertawa kecil.
“Tentu saja.”
Arga memejamkan mata.
Aku mengambil map biru dari dalam tas.
Bukan map perceraian.
Map lain.
Aku meletakkannya di meja depan Arga.
“Aku awalnya mau kirim ini lewat pengacara minggu depan.”
Arga menatap map itu.
“Apa ini?”
“Buka.”
Tangannya bergerak lambat.
Ketika lembar pertama keluar, warna wajahnya langsung berubah.
Maya mendekat.
“Itu apa?”
Aku menjawab,
“Laporan audit.”
Arga menatapku.
“Laila.”
“Aku sudah tahu soal uang perusahaan.”
Ruangan kembali sunyi.
Arga menutup map itu cepat.
“Jangan bicara sembarangan.”
“Aku tidak bicara sembarangan.”
Aku menatapnya tenang.
“Selama tiga tahun terakhir, kamu mengalihkan dana dari perusahaan ke tiga rekening pribadi.”
Maya membeku.
Aku menoleh kepadanya.
“Salah satunya atas nama kamu.”
Mulut Maya terbuka.
“Apa?”
Arga langsung berkata,
“Itu rekening yang aku pakai untuk investasi.”
Maya menatapnya.
“Kamu bilang uang yang masuk ke rekeningku itu bonus proyek.”
Aku tidak terkejut.
Aku bahkan sudah menduga.
Aku berkata,
“Totalnya hampir sembilan ratus juta.”
Maya terlihat seperti akan jatuh.
“Aku nggak tahu.”
“Aku percaya.”
Arga tertawa pendek.
“Jadi sekarang kalian berdua kompak?”
Aku menatapnya.
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Kami tidak perlu kompak untuk melihat kebohonganmu.”
Dia menatapku dengan kebencian yang selama pernikahan kami hanya pernah kulihat dua kali.
“Tujuan kamu apa?”
Aku tersenyum.
“Aku cuma ingin memastikan kamu tahu bahwa perceraian ini bukan akhir masalahmu.”
Tangannya mengepal.
“Kamu lapor polisi?”
“Belum.”
Wajahnya sedikit berubah.
“Tapi auditor perusahaan sudah punya salinannya.”
Perubahan itu jauh lebih jelas.
Arga kehilangan warna wajah.
Perusahaan tempat kami sama-sama menaruh saham itu didirikan oleh ayahku.
Arga masuk lima tahun setelah kami menikah.
Dia selalu bilang perusahaan itu kami bangun bersama.
Secara emosional mungkin iya.
Secara hukum tidak.
Saham mayoritas tetap milikku.
Dan itulah satu hal yang tampaknya selalu dia lupakan.
“Aku sudah mengadakan rapat pemegang saham kemarin,” kataku.
Arga memandangku tajam.
“Kamu nggak bisa.”
“Bisa.”
“Kamu istri aku.”
Aku menatapnya.
“Lima menit lalu, iya.”
Aku mengambil napas.
“Sekarang bukan.”
Untuk pertama kalinya hari itu, aku melihat ketakutan yang benar-benar jujur di wajah Arga.
Bukan takut kehilangan aku.
Takut kehilangan hidup nyaman yang selama ini dia bangun di atas namaku.
Maya duduk di bangku.
Tangannya gemetar.
“Aku bisa kena masalah?”
Aku menatapnya.
“Kalau kamu benar-benar tidak tahu asal uangnya, bicaralah dengan pengacara. Jangan hapus apa pun. Jangan pindahkan uangnya.”
Arga langsung memotong.
“Jangan dengarkan dia.”
Maya perlahan menoleh.
Tatapannya berbeda sekarang.
Bukan cinta.
Bukan kecewa.
Muak.
“Kamu pakai aku buat nyimpan uang?”
“Maya, dengerin aku.”
“Jawab.”
Arga diam.
Dan kadang diam adalah pengakuan paling lengkap.
Maya berdiri.
Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sebuah kunci mobil.
Dia melemparkannya ke dada Arga.
“Mobil yang kamu kasih aku juga dari uang itu?”
“Maya.”
“Jawab!”
Arga tidak menjawab.
Maya tertawa sambil menangis.
Tapi tangisnya sekarang berubah.
Ada amarah di dalamnya.
Dia merogoh tas lagi, mengeluarkan kartu ATM, lalu menjatuhkannya di atas map.
“Aku nggak mau satu rupiah pun dari kamu.”
Arga mengangkat suara.
“Berhenti drama!”
Maya menatapnya lama.
Lalu berkata pelan,
“Aku baru sadar, selama tujuh tahun aku bukan perempuan yang kamu pilih.”
Arga terdiam.
“Aku cuma tempat kamu bersembunyi.”
Maya berjalan ke arah pintu.
Sebelum keluar, dia berhenti di sampingku.
“Mbak Laila.”
Aku menoleh.
“Aku tahu maaf nggak akan menghapus apa pun.”
Aku diam.
“Tapi aku tetap minta maaf.”
Kali ini aku tidak menertawakannya.
Aku hanya mengangguk tipis.
“Jangan minta maaf dengan menangis.”
Dia mengerutkan kening.
Aku berkata,
“Buktikan dengan apa yang kamu lakukan setelah ini.”
Maya menatapku beberapa detik.
Lalu pergi.
Aku juga berjalan menuju pintu.
“Laila.”
Suara Arga menghentikanku.
Aku menoleh.
Dia berdiri sendirian di tengah ruang sidang.
Aneh.
Selama bertahun-tahun aku takut kehilangan laki-laki itu.
Sekarang ketika dia benar-benar berdiri tanpa aku, dia terlihat jauh lebih kecil dari yang kuingat.
“Jadi ini yang kamu mau?”
Aku berpikir sebentar.
“Dulu, aku mau kamu berhenti selingkuh.”
Aku menatapnya.
“Lalu aku mau kamu mengaku.”
Aku melanjutkan.
“Setelah itu aku cuma mau kamu menyesal.”
Aku tersenyum samar.
“Tapi sekarang aku nggak mau apa-apa dari kamu.”
Wajahnya berubah.
Mungkin itulah kalimat yang paling menyakitinya.
Bukan karena aku membenci dia.
Melainkan karena dia sudah tidak cukup penting bahkan untuk kubenci.
Tiga bulan kemudian, Arga resmi diberhentikan dari perusahaan.
Penyelidikan menemukan aliran dana yang jauh lebih besar daripada yang pertama kali kuketahui.
Maya datang sebagai saksi.
Dia membawa tujuh tahun percakapan.
Rekaman suara.
Bukti transfer.
Bahkan foto dokumen yang pernah Arga titipkan di apartemennya.
Aku tidak pernah meminta semua itu.
Dia melakukannya sendiri.
Beberapa bulan setelahnya, kami bertemu secara tidak sengaja di sebuah kedai kopi di Jakarta Selatan.
Maya terlihat berbeda.
Rambutnya lebih pendek.
Tidak ada riasan tebal.
Dia membawa laptop dan beberapa berkas.
Kami saling menatap.
Ada jeda canggung.
Lalu dia tersenyum.
“Mbak.”
Aku mengangguk.
Dia menghampiriku.
“Aku pindah kerja.”
“Bagus.”
“Aku juga terapi.”
Aku tersenyum kecil.
“Itu lebih bagus.”
Maya tertawa pelan.
Lalu wajahnya serius.
“Aku sering mikir kalau dulu aku pergi waktu pertama tahu dia sudah menikah, semua ini nggak akan terjadi.”
Aku memandang kopi di depanku.
“Mungkin.”
Dia menunduk.
“Tapi Mbak pasti tetap terluka.”
Aku menatapnya.
“Mungkin juga.”
Maya menggigit bibir.
“Kadang aku masih benci diri sendiri.”
Aku menggeleng perlahan.
“Menyesal itu berguna kalau membuat kita berubah. Kalau cuma dipakai untuk menghukum diri sendiri, itu cuma bentuk lain dari ego.”
Dia menatapku cukup lama.
Lalu mengangguk.
Sebelum pergi, dia bertanya satu hal.
“Mbak pernah kangen Mas Arga?”
Aku hampir menjawab cepat.
Tapi akhirnya aku memilih jujur.
“Pernah.”
Maya terlihat terkejut.
Aku tersenyum.
“Aku kangen laki-laki yang kukira dia dulu.”
Aku melihat keluar jendela.
“Tapi ternyata laki-laki itu nggak pernah ada.”
Enam bulan setelah perceraian, untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun aku tidur tanpa terbangun pukul dua pagi.
Tidak ada dorongan memeriksa ponsel siapa pun.
Tidak ada parfum asing.
Tidak ada suara pintu dibuka diam-diam.
Tidak ada perasaan bahwa aku harus menjadi lebih cantik, lebih sabar, lebih lembut, atau lebih sempurna agar seseorang memilihku.
Pagi itu aku bangun karena cahaya matahari masuk melalui tirai.
Aku membuat kopi.
Membuka jendela.
Lalu duduk sendirian di balkon apartemen kecil yang kubeli setelah menjual rumah lama kami.
Orang sering bilang perceraian adalah kegagalan.
Mungkin memang begitu untuk sebagian orang.
Tapi bagiku, kegagalan sebenarnya adalah tujuh tahun ketika aku tahu sedang disakiti dan terus meyakinkan diri bahwa bertahan adalah bentuk cinta.
Hari hakim mengetukkan palu, aku tidak kehilangan suami.
Aku hanya akhirnya berhenti kehilangan diriku sendiri.
Dan ternyata, dari semua orang yang menangis hari itu, hanya aku yang benar-benar pulang dengan sesuatu.
Kebebasan.
