Suamiku membawa perempuan lain ke rumah sakit hanya beberapa jam setelah aku melahirkan. Ibu mertuaku bahkan memaksaku menandatangani surat cerai agar perempuan itu bisa menjadi bagian dari keluarga mereka.
Namun, ada satu hal yang tidak mereka ketahui.
Sebelum mereka datang, akta kelahiran putraku sudah selesai dibuat.
Dan di dalam dokumen yang mereka anggap tidak berarti itu, tercantum satu ketentuan yang bisa membekukan seluruh aset keluarga mereka jika mereka benar-benar berani mengusirku.
Namaku Bianca.
Usiaku empat puluh dua tahun.
Hari itu seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupku.
Setelah sebelas tahun menikah, tiga kali mengalami keguguran, dan empat kali menjalani program bayi tabung yang berakhir dengan kegagalan, akhirnya aku berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki.
Putra yang sudah kutunggu selama bertahun-tahun.
Tubuhku masih sangat lemah setelah persalinan. Bahkan untuk sekadar duduk tegak di ranjang pun aku masih membutuhkan bantuan.
Ketika pintu kamar VIP rumah sakit terbuka, aku spontan tersenyum.
Kupikir Nicholas, suamiku, datang membawa bunga.
Atau mungkin datang untuk menggendong putra kami sekali lagi.
Namun senyumku perlahan menghilang.
Nicholas memang masuk.
Tapi dia tidak sendirian.
Di sampingnya berdiri seorang perempuan muda mengenakan gaun putih.
Cantik.
Rapi.
Dan entah kenapa, terlihat terlalu nyaman berdiri di sisi suamiku.
Beberapa langkah di belakang mereka, ibu mertuaku, Agnes, masuk dengan kepala tegak dan wajah dingin seperti biasa.
Aku mengernyit.
Pandangan mataku berpindah dari Nicholas ke perempuan itu.
“Siapa dia?”
Perempuan muda itu tersenyum tipis.
Namun sebelum sempat menjawab, Agnes sudah menarik sebuah kursi dan duduk tepat di depan ranjangku.
“Bianca.”
Nada suaranya datar.
“Kita tidak perlu berputar-putar.”
Ia mengeluarkan sebuah map merah dari tasnya, lalu meletakkannya di atas meja di samping ranjangku.
Aku menatap map itu.
Entah kenapa, firasat buruk langsung memenuhi dadaku.
Agnes membuka map tersebut dan mendorong beberapa lembar dokumen ke arahku.
“Ini surat cerai.”
Aku terdiam.
Untuk beberapa detik, aku bahkan mengira pendengaranku sedang bermasalah akibat obat bius.
“Apa?”
“Surat cerai,” ulang Agnes tanpa sedikit pun mengubah ekspresi wajahnya.
Aku menatap dokumen itu lama.
Lalu perlahan mengangkat wajah.
“Kapan Ibu menyiapkan semua ini?”
“Dua bulan lalu.”
Jawaban itu membuat dadaku seperti dihantam sesuatu.
Dua bulan.
Artinya, saat surat-surat ini dipersiapkan, aku masih mengandung anak Nicholas.
Aku masih tidur di sampingnya setiap malam.
Masih menunggu kelahiran putra kami.
Masih percaya bahwa setelah semua perjuangan yang kami lalui, keluarga kecil kami akhirnya akan lengkap.
Aku menoleh kepada Nicholas.
“Jadi… kamu sudah merencanakan perceraian ini sejak aku masih mengandung?”
Nicholas tidak berani menatap mataku.
Ia hanya menundukkan kepala.
“Maaf, Bianca.”
Hanya itu.
Sebelas tahun pernikahan.
Tiga kali keguguran.
Empat kali program bayi tabung.
Dan setelah aku mempertaruhkan nyawaku untuk melahirkan anaknya, lelaki itu hanya mampu mengatakan satu kata.
Maaf.
Aku belum sempat berkata apa-apa ketika Agnes kembali menyela.
“Jangan membuang waktu.”
Kemudian ia menoleh kepada perempuan muda yang berdiri di samping Nicholas.
“Perempuan ini bernama Olivia.”
Olivia menatapku.
Kali ini senyumnya sudah menghilang.
Agnes melanjutkan dengan suara setenang seseorang yang sedang membicarakan urusan bisnis biasa.
“Dia sedang mengandung anak Nicholas.”
Aku tidak langsung menangis.
Anehnya, justru tidak ada air mata.
Aku hanya merasakan sesuatu di dalam diriku patah dengan sangat pelan.
“Berapa bulan?”
Nicholas menelan ludah.
“Hampir lima.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Aku hanya tiba-tiba sadar betapa bodohnya diriku selama ini.
Lima bulan berarti perselingkuhan mereka sudah berlangsung ketika Nicholas menemaniku kontrol kandungan.
Ketika dia memegang tanganku saat dokter memutar layar USG.
Ketika dia mencium dahiku dan berkata bahwa kami akhirnya akan menjadi keluarga yang utuh.
Aku menatap Olivia.
“Apakah kamu tahu aku sedang hamil?”
Wajahnya menegang.
“Aku tahu.”
“Dan kamu tetap melanjutkannya?”
Olivia membuka mulut, tetapi Agnes segera memotong.
“Jangan salahkan Olivia. Nicholas yang memilihnya.”
Aku beralih menatap Agnes.
“Dan Ibu mendukung ini?”
Agnes mengangkat dagunya.
“Aku mendukung masa depan keluarga.”
Kalimat itu membuatku akhirnya mengerti.
Ini bukan sekadar perselingkuhan.
Ini adalah keputusan keluarga.
Aku bukan lagi menantu yang berguna bagi mereka.
Aku hanya perempuan berusia empat puluh dua tahun yang baru saja melahirkan setelah bertahun-tahun dianggap gagal memberikan keturunan.
Dan sekarang, setelah mereka mendapat cucu laki-laki dariku, mereka merasa bisa membuangku.
Agnes mendorong pena ke atas dokumen.
“Tandatangani. Kami akan memberikan apartemen di Jakarta Selatan dan sejumlah uang. Kamu bisa menjalani hidup dengan nyaman.”
Aku menatap pena itu.
“Bagaimana dengan anakku?”
“Nathan akan tinggal bersama keluarga Nicholas.”
Aku langsung menoleh tajam.
Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk, suaraku meninggi.
“Tidak.”
Agnes menyipitkan mata.
“Kamu baru saja melahirkan. Jangan emosional.”
“Aku bilang tidak.”
“Nathan adalah pewaris keluarga.”
“Dia anakku.”
“Dia membawa nama keluarga Nicholas.”
Aku menatap perempuan itu lama.
Lalu tersenyum.
Agnes tampak sedikit terkejut melihat perubahan ekspresiku.
“Kenapa kamu tersenyum?”
Aku menggeser tubuh perlahan, menahan nyeri jahitan yang seperti membakar perut bagian bawah.
“Lalu kalau aku menolak menandatangani?”
Agnes menyandarkan punggung.
“Kami akan mengajukan gugatan. Nicholas punya pengacara terbaik. Dan mengingat kondisi finansialmu setelah berhenti bekerja beberapa tahun terakhir, kurasa kamu tahu siapa yang punya peluang lebih besar mendapatkan hak asuh.”
Nicholas akhirnya bicara.

“Bianca, jangan buat semuanya lebih sulit.”
Aku menatapnya.
“Untuk siapa?”
Nicholas terdiam.
“Untukmu atau untuk perempuan yang sedang mengandung anakmu?”
Olivia terlihat tidak nyaman.
Namun sebelum suasana semakin tegang, terdengar ketukan di pintu.
Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun masuk membawa map biru tua.
Namanya Ratih.
Ia bukan dokter.
Ia adalah notaris keluarga ayahku.
Agnes langsung berdiri.
“Siapa Anda?”
Ratih tidak memedulikannya.
Ia berjalan ke sisiku dan menyerahkan map itu kepadaku.
“Dokumennya sudah selesai, Bu Bianca.”
Aku menerima map tersebut.
Nicholas mengernyit.
“Dokumen apa?”
Aku membukanya perlahan.
Di dalamnya terdapat salinan akta kelahiran Nathan, surat pengakuan ahli waris, dan satu dokumen tambahan yang ditandatangani dua jam sebelumnya.
Agnes memandang dengan tatapan tidak sabar.
“Akta kelahiran? Apa hubungannya dengan perceraian?”
Ratih akhirnya menatapnya.
“Hubungannya cukup besar, Bu Agnes.”
Ruangan mendadak sunyi.
Ratih meletakkan satu dokumen di atas meja.
“Almarhum ayah Bu Bianca memiliki dua puluh delapan persen saham di Surya Pratama Holdings.”
Wajah Agnes berubah.
Aku melihatnya.
Perubahan kecil, tapi jelas.
Surya Pratama Holdings adalah perusahaan induk yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung bisnis keluarga Nicholas.
Mereka selalu menyebutnya sebagai perusahaan keluarga.
Yang tidak pernah mereka suka sebutkan adalah fakta bahwa sebagian modal terbesar pada masa awal perusahaan berasal dari ayahku.
Saat aku menikah dengan Nicholas, ayahku memasukkan sebagian kepemilikannya ke dalam perjanjian keluarga.
Namun dengan satu syarat.
Saham itu tidak otomatis menjadi milik Nicholas.
Hak pengelolaannya hanya diberikan selama pernikahan kami berlangsung dan selama aku tetap menjadi anggota keluarga secara hukum.
Setelah ayahku meninggal tiga tahun lalu, hak kepemilikan sebenarnya berpindah kepadaku.
Nicholas tahu soal saham itu.
Tetapi dia tidak pernah membaca seluruh lampiran perjanjian.
Agnes juga tidak.
Mereka mengira selama bertahun-tahun aku tidak tertarik pada bisnis.
Dan memang benar.
Aku tidak tertarik mengelola perusahaan.
Tapi bukan berarti aku bodoh.
Ratih melanjutkan.
“Di dalam perjanjian warisan terdapat klausul perlindungan ahli waris. Jika Bu Bianca memiliki anak biologis yang sah, maka seluruh saham miliknya otomatis masuk ke dalam perwalian atas nama anak tersebut sampai usia dua puluh lima tahun.”
Nicholas menatapku.
Wajahnya mulai pucat.
“Apa maksudnya?”
Aku menjawab pelan.
“Artinya Nathan sekarang adalah penerima manfaat utama saham itu.”
Agnes mendengus.
“Bagus. Dia cucu kami.”
Ratih menoleh kepadanya.
“Belum selesai.”
Aku melihat jari Agnes yang tadi memegang tas mulai menegang.
Ratih mengambil halaman berikutnya.
“Jika dalam lima tahun pertama setelah kelahiran ahli waris terjadi perceraian akibat perselingkuhan, pengusiran sepihak, pemaksaan pelepasan hak asuh, atau tindakan yang dapat merugikan ibu kandung, maka hak suara atas saham tersebut dibekukan.”
Agnes kehilangan ekspresi.
Nicholas maju satu langkah.
“Dibekukan bagaimana?”
Ratih menatapnya lurus.
“Seluruh dua puluh delapan persen saham tidak dapat digunakan dalam keputusan perusahaan, tidak dapat dialihkan, tidak dapat dijadikan jaminan, dan tidak dapat menghasilkan distribusi dividen kepada pihak pengelola sampai sengketa selesai.”
Nicholas terdiam.
Aku tahu tepat apa artinya.
Dua minggu lagi, Surya Pratama Holdings dijadwalkan menandatangani restrukturisasi utang bernilai ratusan miliar rupiah.
Tanpa hak suara dari blok saham milikku, keluarga Nicholas tidak akan memiliki dukungan mayoritas.
Bank bisa menunda fasilitas kredit.
Investor bisa menarik diri.
Dan perusahaan yang selama ini membuat Agnes berjalan dengan kepala tegak bisa terseret ke dalam krisis dalam hitungan hari.
Agnes menoleh kepadaku.
“Kamu menjebak kami.”
Aku tertawa kecil.
“Tidak, Bu.”
Aku menyandarkan kepala ke bantal.
“Dokumen ini dibuat ayahku dua belas tahun lalu.”
Aku menatap Nicholas.
“Aku bahkan belum mengenal perselingkuhanmu waktu itu.”
Nicholas langsung mendekati ranjang.
“Bianca, kita bisa membicarakan ini.”
Aku menatap wajah laki-laki yang selama sebelas tahun kupanggil suami.
Aneh.
Beberapa menit lalu aku masih merasa hancur.
Sekarang aku hanya melihat seorang pria ketakutan kehilangan uang.
“Bukankah tadi kamu bilang jangan membuat semuanya lebih sulit?”
“Bianca…”
“Kamu bahkan tidak datang untuk menanyakan apakah aku baik-baik saja setelah melahirkan.”
Dia terdiam.
“Kamu masuk ke kamar ini bersama perempuan yang mengandung anakmu dan membawa surat cerai.”
“Ini keputusan yang salah.”
Aku mengernyit.
“Yang mana?”
Nicholas tidak bisa menjawab.
Agnes segera mengambil alih.
“Kamu ingin apa?”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya, suara perempuan itu kehilangan kesombongannya.
“Aku tidak menginginkan apa pun dari kalian.”
“Jangan berpura-pura. Kamu pasti menginginkan kompensasi.”
Aku tersenyum tipis.
“Kalau uang yang kuinginkan, aku tidak perlu menikah dengan keluarga kalian.”
Wajah Agnes memerah.
Aku melanjutkan.
“Aku hanya ingin satu hal. Hak asuh penuh atas Nathan.”
Nicholas langsung menggeleng.
“Tidak mungkin.”
Aku menatap Ratih.
Ia mengeluarkan satu dokumen tambahan.
“Pak Nicholas sebaiknya membaca ini sebelum mengatakan tidak.”
Nicholas mengambil kertas tersebut.
Matanya bergerak cepat membaca isinya.
Lalu wajahnya berubah.
Itu adalah hasil pemeriksaan DNA.
Bukan Nathan.
Melainkan Nicholas.
Dan ayahnya.
Tiga bulan lalu, sebelum ayah Nicholas meninggal, pria tua itu diam-diam menghubungiku.
Kami tidak pernah dekat, tetapi ia mempercayaiku lebih daripada anak dan istrinya sendiri.
Ia curiga Nicholas bukan anak kandungnya.
Kecurigaan itu muncul setelah menemukan surat lama Agnes.
Ia meminta bantuanku melakukan tes.
Hasilnya baru keluar seminggu sebelum aku melahirkan.
Nicholas bukan anak biologis pria yang selama ini ia sebut ayah.
Artinya, berdasarkan wasiat lama keluarga, Nicholas tidak memiliki hak otomatis atas sebagian besar aset warisan yang masih berada dalam trust keluarga.
Agnes merebut kertas itu dari tangan anaknya.
Setelah membacanya, tubuhnya seperti kehilangan tenaga.
“Ini palsu.”
Ratih menggeleng.
“Laboratorium terakreditasi. Sampel diambil langsung oleh dokter pribadi almarhum.”
Nicholas menatap ibunya.
“Ma… ini apa?”
Agnes diam.
“Ma?”
Olivia, yang sejak tadi berdiri membisu, perlahan mundur.
Mungkin untuk pertama kalinya dia menyadari bahwa pria yang akan dipilihnya ternyata tidak sekaya yang ia bayangkan.
Nicholas mencengkeram lengannya.
“Kamu mau ke mana?”
Olivia melepaskan tangannya.
“Aku butuh udara.”
“Olivia.”
“Aku bilang aku butuh udara.”
Dia keluar.
Begitu saja.
Agnes duduk kembali dengan wajah pucat.
Rahasia puluhan tahun yang ia kubur baru saja muncul di saat paling buruk.
Aku menatap mereka.
“Aku tidak pernah berniat menggunakan hasil tes itu.”
Nicholas menoleh kepadaku.
“Sampai kamu datang hari ini.”
Aku menggeleng.
“Masih bukan.”
“Jadi untuk apa kamu menunjukkan ini?”
“Supaya kamu mengerti sesuatu.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Keluarga yang selama ini kamu bela mati-matian ternyata dibangun dari rahasia. Dan perempuan yang kamu buang hari ini justru satu-satunya orang yang selama bertahun-tahun tidak pernah berbohong kepadamu.”
Nicholas mulai menangis.
Aku tidak merasa lega melihatnya.
Tidak juga puas.
Aku hanya lelah.
Sangat lelah.
“Saya ingin mereka keluar,” kataku kepada Ratih.
Agnes berdiri.
“Bianca, pikirkan baik-baik. Kalau masalah ini keluar, nama keluarga kita hancur.”
Aku memandangnya.
“Keluarga kita?”
Agnes terdiam.
Aku menunjuk pintu.
“Keluar.”
Nicholas mencoba mendekat.
“Bianca, tolong.”
Aku menekan tombol panggil perawat.
Beberapa detik kemudian, dua petugas keamanan rumah sakit masuk.
Nicholas akhirnya mundur.
Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi ke arah boks bayi.
Nathan sedang tidur.
Tangannya mengepal kecil di atas selimut.
“Dia anakku juga.”
Aku menatap Nicholas.
“Secara biologis, iya.”
Aku berhenti sejenak.
“Tapi menjadi ayah membutuhkan lebih dari sekadar DNA.”
Pintu tertutup.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka masuk, aku bisa bernapas dengan tenang.
Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi selesai.
Nicholas tidak melawan hak asuh setelah pengacaranya menjelaskan risiko finansial dan hasil penyelidikan perselingkuhannya.
Olivia juga meninggalkannya sebelum anak mereka lahir.
Belakangan aku mengetahui sesuatu yang bahkan lebih ironis.
Anak Olivia ternyata bukan anak Nicholas.
Tes DNA dilakukan atas permintaan Nicholas sendiri setelah kepercayaan dirinya hancur akibat rahasia Agnes.
Hasilnya negatif.
Aku tidak tertawa ketika Ratih memberitahuku.
Aku hanya menatap Nathan yang sedang belajar merangkak di ruang keluarga rumah baru kami.
Dulu aku selalu berpikir kemenangan berarti melihat orang-orang yang menyakitiku menerima balasan.
Ternyata tidak.
Kemenangan adalah ketika nama mereka sudah tidak lagi menentukan apakah aku bisa tidur dengan tenang atau tidak.
Aku menjual sebagian hak ekonomiku di perusahaan setelah restrukturisasi selesai dan mendirikan yayasan kecil untuk membantu perempuan yang sedang menghadapi perceraian serta sengketa hak asuh.
Bukan karena semua perempuan harus melawan dengan uang.
Tetapi karena aku tahu rasanya berada di ranjang rumah sakit, tubuh masih penuh luka, sementara orang lain mencoba meyakinkanmu bahwa kamu tidak punya pilihan.
Nathan kini berusia tiga tahun.
Suatu sore, saat kami sedang membereskan kotak dokumen lama, ia menemukan salinan akta kelahirannya.
Ia belum bisa membaca.
Ia hanya menunjuk fotonya lalu tertawa.
“Itu Nathan?”
Aku tersenyum.
“Iya.”
“Ini punya Nathan?”
Aku memandang dokumen yang dahulu dianggap tidak berarti oleh keluarga Nicholas.
Dokumen yang pada akhirnya bukan hanya melindungi hartaku.
Tetapi juga memberiku keberanian untuk berhenti takut.
Aku mencium kepala putraku.
“Iya, Sayang.”
Aku memeluknya erat.
“Dan sejak hari kamu lahir, hidup Mama juga kembali menjadi milik Mama.”
