Aku diam-diam menandatangani surat cerai itu saat usia kandunganku delapan bulan. Suamiku pergi dengan senyum puas—sampai tiga hari kemudian pengacaranya meneleponku.

“Halo.”

Tidak ada jawaban selama dua detik.

Lalu terdengar suara tarikan napas berat dari seberang.

“Bu Laras?”

Nada Pak Hendra berbeda dari biasanya. Tidak tenang, tidak profesional seperti saat dia mendampingi Dewa membawa surat cerai tiga hari lalu.

“Iya, Pak. Ada apa?”

“Apakah Ibu sedang berada di tempat yang memungkinkan untuk berbicara?”

Aku mengambil sepotong mangga lagi.

“Kebetulan saya sedang santai.”

Hening.

“Bu Laras…” Suaranya merendah. “Saya baru selesai memeriksa dokumen perceraian yang ditandatangani tiga hari lalu.”

“Oh.”

“Ada beberapa hal yang perlu saya konfirmasi.”

Aku menahan senyum.

“Apa itu?”

“Lampiran perjanjian pemisahan harta.”

Tanganku berhenti di atas mangkuk.

Akhirnya.

Aku meletakkan potongan mangga yang belum sempat kumakan.

“Bukankah semua dokumen sudah dibaca oleh Mas Dewa?”

“Itulah masalahnya.”

Pak Hendra menghela napas.

“Pak Dewa ternyata tidak membaca semuanya.”

Aku memandang keluar jendela.

Dari lantai dua belas, Jakarta terlihat seperti lautan beton yang bergerak tanpa henti.

“Tapi dia menandatanganinya, kan?”

“Ya.”

“Dengan sadar?”

“Ya.”

“Tidak dalam tekanan?”

Pak Hendra terdiam.

“Ya.”

“Kalau begitu apa yang ingin Bapak tanyakan?”

Kali ini keheningan berlangsung lebih lama.

“Bu Laras, apakah Pak Dewa tahu bahwa sebagian besar aset yang selama ini dia anggap sebagai miliknya secara hukum bukan miliknya?”

Aku tersenyum.

Bayi di perutku bergerak lagi.

“Sekarang dia tahu?”

“Baru sekitar dua puluh menit lalu.”

Aku hampir bisa membayangkan wajah Dewa.

Dan ternyata bayanganku tidak jauh dari kenyataan.

Karena beberapa detik kemudian terdengar suara benturan keras dari seberang telepon.

Lalu suara Dewa.

“Kasih teleponnya ke saya!”

“Pak Dewa, tenang dulu.”

“Laras!”

Aku menjauhkan ponsel sedikit dari telinga.

“Laras, kamu pikir kamu pintar?”

Aku tidak menjawab.

“Jawab!”

“Aku sedang makan mangga, Mas. Jangan teriak. Anakmu bisa dengar.”

“Jangan bawa-bawa anak!”

Kalimat itu membuat sesuatu di dadaku mengeras.

Selama delapan bulan kehamilan, Dewa hampir tidak pernah menemaniku kontrol. Ketika aku mengalami kontraksi palsu pada bulan ketujuh, dia sedang berada di Bali bersama perempuan itu dengan alasan perjalanan bisnis.

Namun sekarang dia tiba-tiba marah ketika aku menyebut anaknya.

“Baik,” kataku. “Ada apa?”

“Apa maksud dokumen ini?”

“Dokumen yang mana?”

“Jangan pura-pura bodoh!”

Aku mendengar suara kertas dibanting ke meja.

“Rumah Kemang. Vila Puncak. Gudang di Cikarang. Saham perusahaan. Semuanya!”

Aku memejamkan mata sejenak.

Lima tahun.

Akhirnya sampai juga pada bagian ini.

Dewa lahir dari keluarga berada. Ayahnya pernah memiliki perusahaan distribusi bahan bangunan yang cukup besar.

Tapi ketika kami menikah, perusahaan itu sebenarnya sedang berada di ambang kebangkrutan.

Utang bank menumpuk.

Beberapa pemasok berhenti mengirim barang.

Gaji pegawai terlambat hampir tiga bulan.

Dewa tidak pernah menceritakannya kepadaku.

Aku mengetahuinya sendiri setelah menikah.

Saat itu aku mempunyai sesuatu yang tidak pernah dianggap penting oleh keluarga Dewa.

Warisan dari ayahku.

Ayahku bukan pengusaha yang suka tampil di media. Dia memiliki beberapa bidang tanah di pinggiran Jakarta dan Bekasi, serta saham di sebuah perusahaan logistik yang saat itu masih kecil.

Setelah beliau meninggal, semuanya diwariskan kepadaku.

Ketika perusahaan keluarga Dewa hampir jatuh, akulah yang menjual dua bidang tanah untuk menyelamatkannya.

Namun ayahku pernah mengajariku satu hal.

Membantu orang yang kita cintai bukan berarti menyerahkan seluruh perlindungan yang kita miliki.

Karena itu, sebelum dana masuk, pengacara keluarga membuat struktur kepemilikan yang jelas.

Beberapa aset dibeli melalui perusahaan investasiku.

Rumah Kemang dibeli atas nama perusahaan tersebut.

Gudang Cikarang dibangun di tanah warisanku.

Vila Puncak dibeli dari keuntungan investasi yang bisa dibuktikan berasal dari harta bawaan.

Bahkan tiga puluh dua persen saham perusahaan keluarga Dewa yang selama ini dia banggakan sebenarnya berada di bawah perusahaan milikku sebagai bagian dari kesepakatan restrukturisasi.

Dewa tahu semua itu.

Setidaknya, dia pernah tahu.

Lima tahun lalu.

Tapi rupanya hidup mewah membuat ingatannya pendek.

Dia mulai menyebut semuanya sebagai miliknya.

Rumahku.

Perusahaanku.

Mobilku.

Uangku.

Dan aku membiarkannya.

Sampai tiga bulan lalu aku menemukan lipstik itu.

“Laras!”

Suara Dewa menarikku kembali.

“Aku dengar.”

“Kamu menjebakku.”

“Tidak.”

“Kamu sengaja memasukkan lampiran itu!”

“Lampiran itu bukan dokumen baru, Mas. Itu salinan perjanjian yang kita tandatangani sebelum restrukturisasi perusahaan empat tahun lalu.”

Sunyi.

“Kamu tanda tangan lagi tiga hari lalu untuk menyatakan tidak ada klaim terhadap harta bawaan dan aset perusahaan milikku setelah perceraian.”

“Kamu tahu aku tidak baca!”

Aku tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya.

“Dan itu salahku?”

Telepon mendadak terputus.

Aku tahu dia akan datang.

Empat puluh menit kemudian, bel apartemen berbunyi.

Aku melihat layar kamera di dekat pintu.

Dewa.

Sendirian.

Aku membuka pintu, tapi tidak mempersilahkannya masuk.

Wajahnya merah. Rambutnya yang biasanya tertata sempurna sedikit berantakan.

“Kita bicara.”

“Kita sedang bicara.”

“Di dalam.”

“Tidak.”

Rahangnya mengeras.

“Apartemen ini juga punyaku?”

Aku menggeleng.

“Ini sewaan.”

Dia menatapku beberapa detik.

Barangkali baru kali itu Dewa benar-benar melihatku.

Bukan sebagai istri yang memasak sarapannya.

Bukan perempuan yang selalu menunggu dia pulang.

Bukan wanita hamil yang dia yakin terlalu lemah untuk melawan.

“Berapa lama kamu merencanakan ini?”

“Aku tidak merencanakan perselingkuhanmu.”

“Jangan dipelintir.”

“Aku juga tidak menyuruhmu membawa surat cerai.”

Wajahnya berubah.

“Tiga bulan lalu aku menemukan bukti perselingkuhanmu. Aku bisa langsung pergi. Tapi aku menunggu.”

“Kenapa?”

“Karena aku ingin melihat seberapa jauh kamu akan melangkah.”

Matanya menyipit.

Aku melanjutkan.

“Dan ternyata cukup jauh.”

Dia tertawa pendek.

“Jadi sekarang kamu mau mengambil semuanya?”

“Tidak.”

Aku menatapnya lurus.

“Aku hanya mengambil kembali apa yang memang milikku.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada bentakan.

Dewa diam.

Kemudian wajahnya tiba-tiba melunak.

Perubahan yang terlalu cepat.

Aku mengenalnya.

“Lar…”

Sudah lama dia tidak memanggilku seperti itu.

“Aku salah.”

Aku hampir kagum melihat betapa cepat manusia bisa berubah ketika kehilangan sesuatu.

“Kita bisa memperbaiki semuanya.”

Tangannya hendak menyentuh bahuku, tapi aku mundur.

“Jangan.”

Dia berhenti.

“Pikirkan anak kita.”

Aku menatapnya lama.

“Lucu.”

“Apa?”

“Tiga hari lalu kamu menyebutnya anak itu.”

Wajahnya memucat.

“Sekarang jadi anak kita.”

“Laras, aku sedang emosi waktu itu.”

“Selama delapan bulan?”

Dia terdiam.

Aku menahan sesak yang tiba-tiba muncul di dada.

Aku memang sudah menyiapkan semuanya.

Tapi kesiapan tidak membuat luka menjadi tidak sakit.

“Aku menunggumu waktu pemeriksaan pertama.”

Dewa menunduk.

“Aku menunggumu ketika dokter pertama kali memperdengarkan detak jantungnya.”

“Lar…”

“Aku bahkan mengirim rekamannya.”

“Aku sibuk.”

“Dan malam itu kamu makan malam dengan Naya.”

Kepalanya terangkat cepat.

Aku tersenyum pahit.

“Ya. Aku tahu namanya.”

Wajahnya berubah total.

“Kamu mengikuti aku?”

“Tidak perlu. Tagihan kartu kredit perusahaan cukup jelas.”

Dia mengusap wajahnya kasar.

“Hubunganku dengan Naya sudah selesai.”

“Kapan?”

Tidak ada jawaban.

Aku menatap jam di pergelangan tangan.

“Tiga puluh menit lalu?”

Dewa menatapku.

Tepat saat itu ponselnya berdering.

Nama yang muncul di layar cukup terlihat dari tempatku berdiri.

Naya.

Dewa langsung mematikannya.

Aku mengangguk kecil.

“Cepat sekali selesai.”

“Dia bukan masalahnya sekarang.”

“Benar.”

Aku menutup pintu sedikit.

“Kamu masalahnya.”

Tangannya menahan daun pintu.

“Laras, perusahaan bisa hancur kalau kamu menarik kepemilikanmu.”

“Aku tidak akan menghancurkannya.”

Dewa terlihat sedikit lega.

Sampai aku melanjutkan.

“Aku akan mengambil alih pengawasan.”

“Apa?”

“Besok pagi akan ada rapat pemegang saham.”

Wajahnya kehilangan warna.

“Tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Aku direktur utama.”

“Dan perusahaan mencatat kerugian operasional selama dua kuartal berturut-turut sementara kamu menggunakan fasilitas perusahaan untuk perjalanan pribadi.”

Dewa membeku.

Aku tidak perlu mengatakan Bali.

Dia mengerti.

“Pak Hendra bukan satu-satunya pengacara yang bekerja untukku.”

“Laras…”

“Pulanglah.”

Aku menutup pintu.

Kali ini dia tidak menahannya.

Malam itu aku tidur lebih nyenyak daripada yang kuduga.

Namun pukul dua dini hari, aku terbangun karena rasa nyeri tajam di perut.

Aku duduk perlahan.

Nyeri itu hilang.

Lima belas menit kemudian datang lagi.

Lebih kuat.

Tanganku mulai gemetar.

“Belum waktunya,” bisikku.

Aku mencoba berdiri.

Air hangat tiba-tiba mengalir di kakiku.

Jantungku berhenti sejenak.

Ketuban.

Aku langsung menelepon dokter dan memesan mobil menuju rumah sakit.

Dalam perjalanan, kontraksi semakin rapat.

Jakarta yang biasanya penuh lampu malam terlihat kabur di balik jendela.

Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai, aku takut.

Bukan tentang Dewa.

Bukan tentang perusahaan.

Tentang bayi ini.

Aku memegang perutku erat.

“Bertahan sedikit lagi, Sayang.”

Di rumah sakit, semuanya bergerak cepat.

Dokter mengatakan tekanan darahku meningkat dan kondisi bayi harus dipantau ketat.

Aku mencoba tetap tenang.

Sampai seorang perawat bertanya,

“Suaminya sedang dalam perjalanan, Bu?”

Aku terdiam.

“Tidak.”

Perawat itu tidak bertanya lagi.

Tiga jam kemudian, aku melahirkan seorang bayi laki-laki.

Tangisnya memenuhi ruang bersalin.

Keras.

Sehat.

Saat tubuh kecil itu diletakkan di dadaku, semua benteng yang kubangun selama tiga bulan runtuh.

Aku menangis.

Bukan karena kehilangan pernikahan.

Bukan karena menang atas Dewa.

Aku menangis karena baru menyadari bahwa selama ini aku begitu sibuk mempertahankan harga diriku sampai hampir lupa bahwa ada kehidupan baru yang sama sekali tidak bersalah di tengah semuanya.

“Raka,” bisikku.

Nama yang kupilih sendiri.

“Selamat datang.”

Pagi harinya, Dewa datang.

Entah dari mana dia mendapat kabar.

Dia berdiri di depan pintu kamar dengan wajah pucat.

Matanya langsung menuju bayi di sampingku.

“Dia… sudah lahir?”

Aku mengangguk.

Dewa mendekat satu langkah.

Bibirnya bergetar.

Untuk sesaat, aku melihat lelaki yang dulu kunikahi.

“Boleh aku menggendongnya?”

Pertanyaan itu membuat hatiku sakit.

Tapi aku tidak ingin menghukum anakku karena kesalahan ayahnya.

Aku mengangguk.

Dewa mencuci tangan, lalu menerima Raka dari perawat.

Tubuhnya kaku.

Begitu Raka bergerak kecil dalam pelukannya, mata Dewa memerah.

“Aku bodoh,” bisiknya.

Aku tidak menjawab.

Air mata jatuh ke pipinya.

“Mungkin aku sudah menghancurkan semuanya.”

“Memang.”

Dia menatapku.

“Tapi kamu masih bisa memilih tidak menghancurkan hubunganmu dengan anakmu.”

Dewa terdiam.

Aku menarik napas.

“Kita tidak akan kembali bersama.”

Dia menutup mata sebentar.

“Tapi kalau kamu benar-benar mau menjadi ayah yang bertanggung jawab, buktikan lewat tindakan. Bukan transfer uang. Bukan janji.”

Dia mengangguk perlahan.

Beberapa saat kemudian, Pak Hendra datang membawa dokumen.

Dewa mengembalikan Raka kepadaku.

Sebelum pergi, dia berhenti di pintu.

“Naya meninggalkanku tadi malam.”

Aku memandangnya datar.

“Dia bilang dia tidak pernah mau hidup denganku kalau aku tidak punya perusahaan dan rumah itu.”

Aku hampir merasa kasihan.

Hampir.

“Sekarang kamu tahu rasanya dicintai karena sesuatu yang bisa hilang.”

Dewa menunduk.

Lalu pergi.

Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi selesai.

Dewa dicopot dari posisi direktur utama, tapi aku tidak mengusirnya dari perusahaan.

Aku memberinya posisi lain dengan tanggung jawab yang jauh lebih terbatas.

Bukan karena cinta.

Karena ratusan keluarga bergantung pada perusahaan itu, dan aku tidak akan menjadikan dendam pribadi sebagai alasan menghancurkan mata pencaharian mereka.

Anehnya, Dewa menerimanya.

Dia juga mulai datang menemui Raka setiap Sabtu.

Kadang terlambat.

Kadang canggung.

Tapi perlahan dia belajar mengganti popok, membuat susu, dan menidurkan anaknya.

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku bisa benar-benar memaafkannya.

Mungkin bisa.

Mungkin tidak.

Tapi aku tidak lagi membutuhkan jawaban itu untuk melanjutkan hidup.

Suatu sore, ketika Raka berusia hampir tujuh bulan, Pak Hendra datang ke kantorku membawa sebuah map cokelat.

Aku tertawa begitu melihatnya.

“Kenapa setiap masalah besar dalam hidup saya selalu datang dalam map cokelat?”

Pak Hendra ikut tertawa.

“Yang ini kabar baik.”

Dia mengeluarkan beberapa dokumen.

“Audit aset lama sudah selesai.”

Aku membaca halaman pertama.

Kemudian halaman kedua.

Keningku berkerut.

“Apa ini?”

“Dokumen kepemilikan saham yang dulu disiapkan almarhum ayah Ibu.”

Aku membalik halaman berikutnya.

Tanganku berhenti.

Ada satu fakta yang bahkan aku sendiri tidak pernah tahu.

Perusahaan logistik kecil peninggalan ayahku yang selama bertahun-tahun hanya kubiarkan dikelola profesional ternyata telah berkembang pesat.

Sangat pesat.

Nilai kepemilikanku kini hampir empat kali lipat dari seluruh aset keluarga Dewa yang selama ini diperebutkan.

Aku menatap Pak Hendra tidak percaya.

“Kenapa Ayah tidak pernah memberi tahu saya?”

Pak Hendra tersenyum tipis.

“Beliau pernah meninggalkan surat.”

Sebuah amplop lama diletakkan di depanku.

Tulisan tangan ayah masih ada di sana.

Untuk Laras.

Tanganku gemetar ketika membukanya.

Suratnya pendek.

Ayah menulis bahwa dia sengaja tidak pernah membesarkanku dengan pengetahuan tentang seberapa banyak harta yang akan kuterima.

Dia ingin aku belajar membedakan antara harga dan nilai.

Di bagian terakhir hanya ada satu kalimat.

Jika suatu hari seseorang pergi karena mengira kamu tidak lagi berguna baginya, jangan mengejarnya. Kadang kehilangan seseorang adalah cara Tuhan menunjukkan bahwa sebenarnya kamu tidak kehilangan apa-apa.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Mataku panas.

Di luar jendela kantor, Jakarta sedang diguyur hujan.

Aku mengambil ponsel.

Ada foto baru dari Dewa.

Raka sedang tertawa di pangkuannya, wajahnya belepotan bubur.

Di bawah foto itu ada pesan singkat.

Hari ini dia bilang “Pa”. Entah maksudnya Papa atau apa, tapi izinkan aku senang sebentar.

Aku tersenyum.

Untuk pertama kalinya, senyum itu tidak terasa pahit.

Aku menyimpan kembali surat ayah ke dalam amplop.

Dulu aku mengira hari ketika kutandatangani surat cerai adalah hari ketika keluargaku berakhir.

Ternyata aku salah.

Keluarga tidak selalu berakhir ketika dua orang berhenti menjadi suami istri.

Kadang bentuknya hanya berubah.

Dan tiga hari setelah Dewa pergi dengan senyum kemenangan, dia memang kehilangan banyak hal.

Rumah.

Jabatan.

Perempuan yang katanya mencintainya.

Tapi kejutan terbesar bukanlah apa yang hilang darinya.

Melainkan apa yang akhirnya kutemukan kembali.

Diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang