Aku menarik koper melewati Bima tanpa menoleh lagi.
Tangannya tiba-tiba mencengkeram lenganku.
“Tunggu.”
Aku berhenti.
“Kamu ngomong apa tadi?”
Nada suaranya masih keras, tetapi aku mengenal Bima terlalu lama untuk tidak menyadari perubahan kecil itu. Ada kegelisahan di balik tatapannya.
Aku melepaskan tangannya dari lenganku.
“Nanti juga kamu tahu.”
Lalu aku berjalan keluar.
Gerimis menyambutku begitu pintu terbuka. Udara malam Jakarta terasa lembap dan dingin. Di ujung halaman, sebuah taksi daring sudah menunggu.
Sebelum masuk ke mobil, aku sempat menoleh sekali.
Bima masih berdiri di ambang pintu.
Siska berada di belakangnya.
Perempuan itu memeluk lengan suamiku seolah baru memenangkan sesuatu yang sangat berharga.
Aku hampir merasa kasihan.
Hampir.
Karena mereka tidak tahu bahwa pagi tadi, pukul sembilan lewat dua puluh tiga menit, aku menerima telepon yang mengubah segalanya.
Telepon dari seseorang bernama Pak Adrian.
Pengacara pribadi ayahku.
Ayahku meninggal enam tahun lalu. Sepanjang hidupnya, beliau dikenal sebagai pengusaha yang sangat tertutup. Bahkan setelah aku menikah dengan Bima, Ayah tidak pernah membicarakan kekayaannya secara terbuka.
Bima mengira perusahaan keluarga kami sudah bangkrut sebelum Ayah meninggal.
Aku pun mengira begitu.
Sampai pagi tadi.
Aku sedang memasukkan pakaian ke koper ketika Pak Adrian menelepon.
“Ibu Laras?”
“Ya.”
“Saya Adrian. Dulu saya menangani urusan hukum almarhum Pak Surya.”
Aku langsung duduk.
“Ada apa, Pak?”
Dia terdiam beberapa detik.
“Kami akhirnya menyelesaikan proses hukum terkait aset terakhir ayah Anda.”
Aku mengernyit.
“Aset apa?”
“PT Arunika Sentosa.”
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
Nama itu sangat kukenal.
Bukan karena Ayah.
Melainkan karena Bima.
PT Arunika Sentosa adalah perusahaan induk yang selama empat tahun terakhir menjadi investor terbesar perusahaan Bima.
Tanpa suntikan modal Arunika, perusahaan Bima sudah lama tenggelam.
“Ayah saya punya hubungan apa dengan Arunika?”
Suara Pak Adrian terdengar tenang.
“Beliau pemilik manfaat utama perusahaan tersebut.”
Aku tidak langsung mengerti.
Kemudian Pak Adrian menjelaskannya perlahan.
Ayah ternyata tidak pernah benar-benar bangkrut.
Ketika bisnis lamanya runtuh, beliau menjual sebagian aset dan membangun perusahaan investasi melalui beberapa badan usaha. Semua kepemilikan itu dikelola secara tertutup.
Dalam wasiatnya, kendali atas aset tersebut baru boleh dialihkan kepadaku setelah syarat tertentu terpenuhi.
Syarat itu adalah aku harus mencapai usia tiga puluh tahun atau pernikahanku berakhir secara hukum, mana yang terjadi lebih dahulu.
Aku berulang tahun ke tiga puluh dua hari lalu.
Dan pagi tadi seluruh proses administrasinya selesai.
“Jadi sekarang…”
“Anda pemegang kendali mayoritas PT Arunika Sentosa.”
Tanganku dingin.
Aku teringat Bima.
Rumah besar kami.
Mobil mewahnya.
Kantornya di Sudirman.
Perjalanan bisnis ke Singapura.
Jam tangan yang selalu dia banggakan.
Semua itu dibangun oleh perusahaan yang selama bertahun-tahun mendapat dukungan modal dari perusahaan milik ayahku.
Pak Adrian lalu mengatakan sesuatu yang membuatku benar-benar terdiam.
“Besok ada rapat evaluasi investasi. Dan ada hal lain yang perlu Ibu ketahui.”
“Apa?”
“Tim audit kami menemukan indikasi penyalahgunaan dana di perusahaan suami Ibu.”
Dadaku langsung sesak.
“Bima?”
“Kami belum boleh menyimpulkan sebelum pemeriksaan selesai. Tetapi jumlahnya cukup besar.”
“Berapa?”
“Kurang lebih dua puluh tiga miliar rupiah.”
Aku menutup mata.
Tiba-tiba semuanya masuk akal.
Perjalanan bisnis mendadak.
Tagihan hotel.
Transfer yang tidak pernah bisa dijelaskan.
Dan Siska.
Pak Adrian mengirimkan beberapa dokumen kepadaku.
Nama Siska muncul berkali-kali.
Direktur sebuah perusahaan konsultan bernama PT Karya Mahardika.
Perusahaan itu menerima pembayaran miliaran rupiah dari perusahaan Bima.
Alamat kantornya?
Sebuah ruko kosong di Bekasi.
Saat itulah aku berhenti menangis.
Bukan karena tidak sakit.
Tetapi karena akhirnya aku mengerti bahwa pengkhianatan Bima jauh lebih besar daripada perselingkuhan.
Dia bukan hanya mengkhianati pernikahan kami.
Dia sedang menggali kuburannya sendiri.
Tiga hari kemudian, pukul delapan pagi, Bima duduk di ruang rapat lantai dua puluh tujuh gedung kantornya.
Aku tahu karena Pak Adrian mengirimiku pesan.
Rapat dimulai.
Aku datang lima belas menit kemudian.
Ketika pintu ruang rapat terbuka, suara percakapan langsung berhenti.
Bima duduk di ujung meja panjang.
Wajahnya berubah ketika melihatku.
“Kamu?”
Aku masuk bersama Pak Adrian dan dua orang dari tim audit.
Bima berdiri.
“Ngapain kamu di sini?”
Aku menarik kursi di ujung meja yang berlawanan.
“Duduk dulu.”
“Ini rapat perusahaan.”
“Aku tahu.”
“Laras, jangan bikin malu.”
Beberapa direksi saling berpandangan.
Pak Adrian meletakkan map hitam di atas meja.
“Pak Bima,” katanya, “sebelum rapat dilanjutkan, kami perlu memperkenalkan pemegang kendali baru PT Arunika Sentosa.”
Bima terlihat bingung.
“Lalu?”
Pak Adrian menoleh kepadaku.

“Ibu Laras Surya.”
Wajah Bima membeku.
Aku tidak akan pernah melupakan ekspresinya.
Seolah seseorang baru saja mencabut lantai dari bawah kakinya.
“Nggak mungkin.”
Aku mendorong dokumen kepemilikan ke arahnya.
“Baca.”
Dia mengambilnya.
Tangannya gemetar.
“Ini palsu.”
Pak Adrian tersenyum tipis.
“Dokumen tersebut telah disahkan.”
Bima membalik halaman demi halaman.
Kemudian dia menatapku.
“Kamu tahu sejak kapan?”
“Sejak pagi sebelum kamu membawa Siska ke rumah.”
Wajahnya pucat.
Aku bersandar.
“Ternyata timing kamu memang selalu luar biasa.”
Salah seorang auditor membuka laptop.
“Tapi kepemilikan perusahaan bukan satu-satunya agenda hari ini.”
Grafik transaksi muncul di layar.
Nama PT Karya Mahardika terlihat jelas.
Bima langsung menoleh.
“Kalian ngapain memeriksa itu?”
Auditor tidak menjawab pertanyaannya.
“Dalam dua tahun terakhir terdapat pembayaran sebesar dua puluh tiga koma empat miliar rupiah kepada perusahaan ini.”
Halaman berikutnya muncul.
Foto sebuah ruko kosong.
“Perusahaan tersebut tidak memiliki aktivitas operasional yang sesuai dengan nilai kontraknya.”
Lalu muncul dokumen berikutnya.
Nama direktur.
Siska Amelia.
Bima berdiri begitu cepat hingga kursinya terjatuh.
“Matikan!”
Suara benturan kursi menggema.
Semua orang terdiam.
Aku menatapnya.
“Bima.”
Dia menoleh kepadaku.
“Kamu bilang semua milikmu, kan?”
Dia tidak menjawab.
“Rumah. Mobil. Perusahaan. Tabungan.”
Aku menahan napas sebentar.
“Masalahnya, sebagian besar yang kamu banggakan dibangun menggunakan uang perusahaan yang sekarang berada di bawah kendaliku.”
“Kamu sengaja menjebak aku.”
Aku tertawa kecil.
“Menjebak?”
Aku menunjuk layar.
“Aku nggak menyuruh kamu mentransfer uang ke perusahaan Siska.”
Dia kehilangan kata-kata.
Rapat berakhir dua jam kemudian.
Bima diberhentikan sementara dari posisi direktur utama sampai investigasi selesai.
Seluruh transaksi tertentu dibekukan.
Tim hukum mulai menyiapkan laporan kepada pihak berwenang.
Tetapi kejutan terbesar justru terjadi sore itu.
Pukul empat, ponselku berdering.
Siska.
Aku hampir tidak mengangkatnya.
Namun rasa penasaran menang.
“Halo?”
Suara tangisan terdengar.
“Laras…”
Aku diam.
“Tolong aku.”
Aku hampir tertawa.
“Kenapa meneleponku?”
“Bima bohong.”
“Tentang apa?”
“Semua.”
Ternyata Bima memberi tahu Siska bahwa perusahaan sepenuhnya miliknya.
Dia menjanjikan rumah kami kepada Siska.
Menjanjikan saham.
Menjanjikan kehidupan mewah.
Bahkan meminta Siska menjadi direktur PT Karya Mahardika karena menurutnya perusahaan itu hanya digunakan untuk “mengatur pajak”.
Siska mengaku menandatangani dokumen tanpa memahami seluruh transaksi.
“Aku pikir semuanya legal,” katanya sambil menangis.
Aku memejamkan mata.
“Siska, kamu tidur dengan suamiku selama hampir dua tahun.”
Dia terdiam.
“Aku nggak bisa menganggap kamu korban sepenuhnya.”
“Aku tahu.”
“Tapi kalau kamu benar-benar nggak tahu soal uang itu, cari pengacara dan katakan yang sebenarnya.”
Dia menangis semakin keras.
Sebelum menutup telepon, dia berkata pelan,
“Bima sekarang di rumah.”
Aku membuka mata.
“Rumah?”
“Dia marah. Dia bilang rumah itu masih miliknya.”
Aku langsung menghubungi Pak Adrian.
Jawabannya membuatku tersenyum pahit.
Rumah itu memang tercatat atas nama Bima.
Namun sertifikatnya dijaminkan untuk pinjaman perusahaan.
Dan krediturnya adalah PT Arunika Sentosa.
Malam itu aku kembali.
Bima sedang duduk sendirian di ruang tamu.
Tidak ada Siska.
Tidak ada kesombongan.
Hanya botol air mineral di meja dan seorang lelaki yang tampak sepuluh tahun lebih tua dibanding tiga hari lalu.
“Kamu puas?” tanyanya.
Aku berdiri beberapa meter darinya.
“Nggak.”
Dia tertawa getir.
“Jangan bohong.”
“Aku kehilangan delapan tahun hidupku, Bima. Menurutmu melihat kamu hancur bisa mengembalikan itu?”
Dia menunduk.
Untuk pertama kalinya, aku melihat Bima tanpa topeng.
“Aku salah.”
Aku tidak menjawab.
“Aku bisa berubah.”
Kalimat itu hampir lucu.
“Kita mulai lagi.”
Aku menatapnya lama.
“Mulai lagi?”
Dia berdiri.
“Laras, aku masih suami kamu.”
Aku mengeluarkan sebuah map dari tas.
Lalu meletakkannya di meja.
Surat gugatan cerai.
Wajahnya kembali pucat.
“Aku sebenarnya sudah menyiapkannya sebelum tahu soal Arunika.”
Dia menatapku.
“Kenapa?”
“Karena aku sudah mau pergi bahkan ketika kupikir aku tidak punya apa-apa.”
Ruangan menjadi sunyi.
Itulah satu-satunya hal yang tidak pernah dipahami Bima.
Dia mengira aku berani pergi karena tiba-tiba menjadi kaya.
Padahal keputusan itu dibuat ketika aku masih percaya semua rumah, uang, mobil, dan perusahaan adalah miliknya.
Aku pergi karena akhirnya sadar bahwa mempertahankan harga diri jauh lebih penting daripada mempertahankan kehidupan nyaman yang dibangun bersama orang yang tidak lagi menghormatiku.
Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi.
Investigasi perusahaan terus berjalan. Beberapa transaksi dinyatakan bermasalah dan perkara itu masuk proses hukum.
Siska bekerja sama dengan penyidik dan menyerahkan bukti percakapan serta dokumen yang disimpan Bima.
Hubungan mereka berakhir bahkan sebelum aku resmi bercerai.
Namun ada satu hal yang baru kuketahui setelah semuanya selesai.
Pak Adrian datang ke kantorku membawa sebuah amplop tua.
“Ini dari ayah Anda.”
Aku membukanya.
Di dalamnya ada surat tulisan tangan Ayah.
Laras,
Kalau suatu hari surat ini sampai ke tanganmu, berarti kamu sudah cukup dewasa untuk menerima apa yang Ayah tinggalkan.
Ayah sengaja tidak memberitahumu tentang Arunika.
Kekayaan membuat kita sulit mengetahui siapa yang mencintai kita dan siapa yang hanya mencintai apa yang kita miliki.
Ayah ingin kamu menjalani hidup tanpa bayang-bayang harta Ayah.
Tapi ada satu hal yang paling Ayah harapkan.
Jangan pernah bertahan bersama seseorang hanya karena kamu takut kehilangan kenyamanan.
Aku berhenti membaca.
Air mataku jatuh untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.
Di bagian bawah surat terdapat satu kalimat lagi.
Kalau kamu bisa pergi ketika mengira tidak memiliki apa-apa, berarti kamu sudah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada seluruh warisan Ayah.
Dirimu sendiri.
Aku menutup surat itu perlahan.
Barulah aku memahami alasan sebenarnya Ayah membuat syarat dalam wasiatnya.
Warisan itu bukan hadiah karena aku berusia tiga puluh tahun.
Bukan pula senjata untuk menghancurkan Bima.
Ayah hanya ingin memastikan bahwa ketika kekayaan itu akhirnya menjadi milikku, aku sudah memahami bahwa uang bukanlah alasan untuk tinggal dan bukan pula alasan untuk pergi.
Beberapa minggu kemudian, rumah lama kami dijual.
Aku tidak ingin tinggal di sana.
Seorang staf sempat bertanya apakah aku yakin.
Rumah itu besar, mewah, dan nilainya terus naik.
Aku hanya tersenyum.
“Sangat yakin.”
Pada hari terakhir sebelum kunci diserahkan kepada pemilik baru, aku berdiri sebentar di ruang tamu.
Lampu gantung kristal yang sama masih tergantung di sana.
Aku teringat malam ketika Bima membawa Siska masuk.
Sepatu hak tinggi.
Gaun merah.
Koper di samping kakiku.
Dan ancaman Bima.
Begitu kamu keluar dari pintu itu, kamu nggak punya apa-apa.
Aku tersenyum.
Ternyata dia benar tentang satu hal.
Malam itu aku memang keluar tanpa membawa rumah, perusahaan, mobil, atau kekayaan.
Aku hanya membawa satu koper.
Tetapi justru Bima yang tidak pernah menyadari bahwa di dalam koper itu ada satu-satunya hal yang tidak pernah bisa dia rebut dariku.
Keberanian untuk pergi.
Aku mematikan lampu, menutup pintu, lalu menyerahkan kuncinya.
Kali ini aku tidak menoleh lagi.
