Setiap malam, ibuku selalu mengingatkanku untuk tidak pernah mengunci pintu kamar sebelum tidur.
Selama bertahun-tahun aku menurutinya tanpa banyak bertanya.
Sampai suatu malam, rasa penasaranku mengalahkan semuanya.
Aku sengaja mengunci pintu.
Dan tepat pukul 02.13 dini hari, seseorang dari luar berkali-kali mencoba memutar gagang pintu kamarku.
Namaku Alena.
Usiaku dua puluh tujuh tahun.
Setelah pernikahanku berakhir dengan perceraian, aku memutuskan kembali tinggal bersama Ibu di rumah tempat aku dibesarkan.
Ayah sudah meninggal lima tahun lalu.
Sejak saat itu, rumah tua tersebut hanya dihuni oleh Ibu seorang diri. Kini, setelah aku pulang, kami tinggal berdua.
Ada satu kebiasaan Ibu yang tidak pernah berubah sejak aku kecil.
Setiap malam, sebelum aku tidur, beliau selalu berdiri di depan pintu kamarku dan mengatakan hal yang sama.
“Jangan dikunci, ya.”
Awalnya aku tidak pernah memikirkannya.
Namun setelah beberapa malam mendengar kalimat yang sama, aku mulai penasaran.
“Dari dulu Ibu selalu bilang begitu. Memangnya kenapa pintunya nggak boleh dikunci?”
Ibu hanya tersenyum tipis.
“Pokoknya jangan.”
“Justru kalau takut ada pencuri, bukannya lebih aman kalau dikunci?”
Ibu tertawa kecil, tetapi entah kenapa tawanya terdengar sedikit dipaksakan.
“Ada alasannya.”
“Alasan apa?”
Beliau menatapku beberapa detik sebelum menjawab pelan.
“Nanti juga kamu akan tahu.”
Jawaban itu bukannya membuatku tenang.
Sebaliknya, aku malah semakin penasaran.
Beberapa minggu setelah kembali tinggal di rumah itu, aku mulai menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kuperhatikan.
Hampir setiap malam, sekitar pukul dua dini hari, Ibu selalu bangun.
Aku bisa mendengar suara langkah kakinya dari balik pintu kamar.
Pelan.
Teratur.
Langkah itu menyusuri lorong, melewati kamarku, lalu berhenti tepat di depan pintu selama beberapa detik.
Setelah itu, terdengar lagi suara langkah menjauh.
Awalnya kupikir Ibu hanya pergi ke kamar mandi atau mengambil air minum di dapur.
Tapi semakin lama, ada sesuatu yang terasa aneh.
Karena kejadian itu berlangsung hampir setiap malam.
Dan waktunya selalu sama.
Sekitar pukul dua dini hari.
Seolah-olah Ibu tidak terbangun secara kebetulan.
Seolah-olah beliau memang sedang menunggu sesuatu.
Malam ketika akhirnya aku memutuskan mengunci pintu, hujan turun sejak pukul sebelas.
Tidak deras, hanya gerimis panjang yang membuat udara Bandung terasa lebih dingin dari biasanya.
Ibu sudah masuk kamar lebih awal.
Sebelum pergi, seperti biasa, beliau berhenti di depan pintuku.
“Jangan dikunci, ya.”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Tapi setelah langkahnya menjauh, aku bangkit dari tempat tidur.
Tanganku menyentuh kunci putar di gagang pintu.
Sesaat aku ragu.
Entah kenapa, kalimat Ibu malam itu terdengar berbeda.
Lebih berat.
Seperti peringatan.
Namun rasa penasaranku sudah terlalu besar.
Klik.
Kunci berputar.
Aku mematikan lampu dan kembali berbaring.
Pukul 01.40.
Tidak ada apa-apa.
Pukul 01.57.
Aku mulai merasa konyol.
Mungkin selama ini aku hanya terlalu banyak berpikir.
Kemudian, pukul 02.11, terdengar suara langkah.
Aku langsung membuka mata.
Tok.
Tok.
Tok.
Langkah kaki pelan dari ujung lorong.
Aku menahan napas.
Langkah itu semakin dekat.
Lalu berhenti tepat di depan pintuku.
Sunyi.
Aku menatap layar ponsel.
02.13.
Gagang pintu bergerak.
Sekali.
Aku membeku.
Bergerak lagi.
Kali ini lebih keras.
Klik.
Klik.
Klik.
Seseorang mencoba membukanya berkali-kali.
“Ibu?”
Tidak ada jawaban.
Aku turun dari tempat tidur.
“Ibu?”
Gagang pintu kembali diputar.
Lebih cepat.
Kemudian terdengar tiga ketukan pelan.
Tok.
Tok.
Tok.
Bulu kudukku berdiri.
“Ibu, kalau itu Ibu, jawab.”
Masih tidak ada suara.
Lalu dari balik pintu terdengar bisikan seorang perempuan.
“Alena.”
Darahku seolah berhenti mengalir.
Suara itu bukan suara Ibu.
Tapi aku mengenalnya.
Aku tidak tahu dari mana.
Hanya saja tubuhku mengenali suara itu lebih dulu daripada pikiranku.
“Buka pintunya.”
Aku mundur satu langkah.
“Siapa?”

Bisikan itu berubah menjadi isakan kecil.
“Alena… dingin.”
Aku segera menelepon Ibu.
Telepon berdering.
Tidak ada yang mengangkat.
Aku menelepon lagi.
Tetap tidak dijawab.
Dari luar pintu, seseorang kembali memanggil namaku.
“Alena…”
Aku menutup mulut agar tidak menjerit.
Lalu tiba-tiba sesuatu menghantam pintu dari luar.
Brak!
Aku tersentak.
Brak!
“BUKA!”
Suara perempuan itu mendadak berubah.
Tidak lagi lemah.
Tidak lagi memohon.
Suara itu penuh amarah.
“BUKA PINTUNYA!”
Aku berlari ke jendela dan hampir saja berteriak meminta tolong ketika terdengar suara lain dari lorong.
“JANGAN DIBUKA!”
Itu suara Ibu.
Benar-benar suara Ibu.
Kemudian semuanya menjadi sunyi.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara benda jatuh.
Aku tidak tahan lagi.
Dengan tangan gemetar, aku membuka kunci.
Begitu pintu terbuka, lorong kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun beberapa meter dari kamarku, Ibu tergeletak di lantai.
“Ibu!”
Aku berlari menghampirinya.
Wajahnya pucat.
Di tangannya ada sebuah kotak kayu kecil.
Aku membantu beliau duduk.
“Apa yang terjadi? Siapa tadi?”
Ibu tidak langsung menjawab.
Matanya justru tertuju pada pintu kamarku.
“Kamu menguncinya?”
Aku diam.
Wajah Ibu berubah.
Untuk pertama kalinya sejak aku kecil, aku melihat ketakutan murni di wajah beliau.
“Aku sudah bilang jangan pernah dikunci.”
“Kenapa?”
Beliau mencengkeram lenganku.
“Karena dulu, saat usiamu tujuh tahun, kamu hampir mati di kamar itu.”
Aku terdiam.
“Apa?”
Ibu perlahan membuka kotak kayu yang dibawanya.
Di dalamnya ada beberapa foto lama.
Foto keluarga.
Ayah.
Ibu.
Aku kecil.
Dan seorang anak perempuan lain.
Aku mengambil salah satunya.
Anak itu berdiri di sampingku.
Wajah kami hampir sama.
Rambut sama.
Mata sama.
Bahkan bentuk senyum kami mirip.
“Siapa dia?”
Tangan Ibu gemetar.
“Adik kembarmu.”
Aku menatapnya.
“Aku nggak punya saudara kembar.”
“Kamu punya.”
Suara Ibu pecah.
“Namanya Alea.”
Aku merasa seluruh ruangan berputar.
Ibu mulai bercerita.
Saat kami berusia tujuh tahun, Ayah mengalami masa yang sangat buruk.
Bisnisnya bangkrut.
Ia mulai minum.
Sering marah.
Sering kehilangan kendali.
Suatu malam, Ayah bertengkar hebat dengan Ibu.
Aku dan Alea ketakutan lalu bersembunyi di kamarku.
Alea mengunci pintu dari dalam.
Saat pertengkaran selesai, Ibu datang mencarinya.
Tapi pintu tidak bisa dibuka.
Kunci lama di kamar itu rusak.
Dan pada saat yang sama, terjadi korsleting pada lampu tidur.
Tirai terbakar.
Api menjalar sangat cepat.
“Aku berhasil mengeluarkanmu dari jendela,” kata Ibu dengan suara gemetar.
“Tapi Alea…”
Beliau berhenti.
Aku menatap foto itu.
“Kenapa aku nggak ingat?”
“Karena setelah kejadian itu kamu mengalami trauma berat. Berbulan-bulan kamu nggak bicara. Dokter bilang sebagian ingatanmu bisa saja tertekan.”
Aku masih sulit bernapas.
“Tapi tadi malam… siapa?”
Ibu menunduk.
“Sejak Alea meninggal, setiap tahun pada malam tanggal kejadian itu, sekitar pukul 02.13, aku sering mendengar gagang pintu kamarmu bergerak.”
Aku menatapnya.
“Itu nggak masuk akal.”
“Aku juga berharap begitu.”
“Kenapa selama ini pintunya harus selalu terbuka?”
“Karena setiap kali pintu itu dibiarkan tidak terkunci, tidak pernah terjadi apa-apa.”
Aku memeluk lutut.
“Jadi Ibu pikir Alea mencoba masuk?”
Ibu terdiam cukup lama.
Lalu berkata pelan.
“Aku pikir dia mencoba keluar.”
Kalimat itu membuat tubuhku kembali dingin.
Selama ini aku membayangkan seseorang berdiri di lorong, mencoba memasuki kamarku.
Tapi bagaimana kalau suara itu bukan berasal dari luar?
Bagaimana kalau sebenarnya sejak awal suara gagang pintu terdengar dari sisi yang lain?
Aku menatap kamar.
Untuk pertama kalinya, tempat yang selama puluhan tahun terasa paling aman tiba-tiba tampak asing.
Malam berikutnya aku tidak tidur.
Aku dan Ibu duduk bersama di ruang keluarga.
Pintu kamarku dibiarkan terbuka lebar.
Pukul 02.13, tidak terjadi apa-apa.
Tidak ada langkah kaki.
Tidak ada suara gagang pintu.
Tidak ada bisikan.
Aku mulai percaya semuanya selesai.
Sampai keesokan paginya.
Saat merapikan lemari lama di kamarku, aku menemukan sesuatu terselip di balik papan kayu.
Sebuah buku gambar anak-anak.
Sampulnya terbakar di satu sisi.
Di halaman pertama tertulis dua nama dengan krayon merah.
ALENA DAN ALEA.
Tanganku gemetar ketika membukanya.
Sebagian besar hanya gambar rumah, bunga, dan keluarga.
Sampai aku tiba di halaman terakhir.
Ada gambar dua anak perempuan berdiri di dalam kamar.
Satu anak menangis.
Satu lagi berdiri di dekat pintu.
Di bawahnya ada tulisan anak-anak yang tidak rapi.
Aku membacanya berkali-kali.
Lalu memanggil Ibu.
“Ibu.”
Beliau datang.
Aku menunjukkan halaman itu.
Wajahnya langsung pucat.
Tulisan tersebut berbunyi:
Aku tidak mengunci pintunya.
Alena yang mengunci.
Aku menatap Ibu.
“Apa maksudnya?”
Beliau tidak menjawab.
“Ibu.”
Air matanya jatuh.
Saat itulah kebenaran kedua akhirnya keluar.
Malam kebakaran itu bukan Alea yang mengunci pintu.
Aku.
Kami bertengkar karena sebuah boneka.
Aku marah dan ingin membuat Alea takut.
Aku keluar kamar.
Lalu mengunci pintu dari luar.
Beberapa menit kemudian korsleting terjadi.
Saat api mulai membesar, aku panik.
Aku mencoba membuka pintu, tetapi kuncinya macet.
Ayah memecahkan jendela dan menyelamatkanku karena mengira aku masih berada di dalam bersama Alea.
Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya aku sudah berada di luar ketika api mulai menyala.
Setelah Alea meninggal, pikiranku menolak mengingat kejadian itu.
Ibu dan Ayah sepakat tidak pernah menceritakannya.
“Kalian bohong padaku seumur hidup.”
“Kami ingin melindungimu.”
“Aku membunuhnya.”
“Tidak.”
“Aku mengunci pintunya.”
“Kamu tujuh tahun, Alena.”
Aku menangis hingga sulit bernapas.
“Aku dengar dia tadi malam.”
Ibu memegang wajahku.
“Mungkin karena selama ini kamu belum pernah benar-benar mengingatnya.”
Malam itu aku duduk sendirian di depan kamar.
Pintunya terbuka.
Jam menunjukkan 02.12.
Aku menaruh foto Alea di lantai.
Kemudian aku berkata pelan,
“Alea, aku ingat sekarang.”
Air mataku jatuh.
“Maaf.”
Pukul berganti.
02.13.
Angin dingin melewati lorong.
Lampu berkedip sekali.
Lalu terdengar suara anak kecil tertawa.
Sangat pelan.
Tidak menakutkan.
Hanya suara tawa yang terasa jauh sekali.
Dan untuk sesaat, aku melihat bayangan kecil berdiri di dalam kamar.
Seorang anak perempuan dengan rambut sebahu.
Ia tersenyum.
Lalu menghilang.
Sejak malam itu, gagang pintu tidak pernah bergerak lagi.
Ibu juga berhenti bangun pukul dua dini hari.
Beberapa bulan kemudian, kami merenovasi kamar tersebut.
Pintu lama yang hangus di bagian dalam kami ganti.
Namun aku meminta tukang untuk menyimpan satu benda.
Kunci pintunya.
Sekarang kunci itu ada di meja kerjaku.
Bukan sebagai pengingat tentang hantu.
Bukan juga tentang kematian.
Melainkan tentang sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Bahwa ada kesalahan yang bisa kita lupakan selama bertahun-tahun, tetapi bukan berarti kesalahan itu ikut menghilang.
Kadang masa lalu tidak kembali untuk menghukum kita.
Ia hanya mengetuk pintu.
Menunggu sampai kita cukup berani untuk membukanya.
