PULANG KAMPUNG MENJELANG LEBARAN, AKU MENOLONG GADIS YANG PINGSAN DI JALAN DIENG—PAGI BERIKUTNYA, SATU DESA TERDIAM SAAT ROMBONGAN MEWAH DATANG MENCARINYA

Aku baru melewati tikungan terakhir sebelum jalan menurun ke Desa Karangrejo ketika sorot lampu motorku menangkap sesosok tubuh tergeletak di tepi jalan.

Malam itu kabut Dieng turun lebih cepat dari biasanya. Udara menusuk sampai ke tulang, sementara jalanan menjelang Lebaran yang biasanya ramai justru kosong.

Aku langsung mengerem.

Perempuan muda itu terbaring miring di dekat pembatas jalan. Wajahnya pucat, bibirnya nyaris tak berwarna. Tas kecil masih menggantung di bahunya, sementara ponselnya tergeletak beberapa langkah dari tangannya.

“Mbak?”

Tidak ada jawaban.

Aku menyentuh pergelangan tangannya. Dingin, tetapi nadinya masih terasa.

Aku sempat melihat ke arah jalan yang baru kulewati. Tidak ada rumah. Tidak ada warung. Hanya kabut, kebun kentang, dan suara angin.

Aku mencoba menghubungi nomor yang berkali-kali menelepon ponselnya. Nama yang muncul adalah Pak Rahmat.

Tidak tersambung.

Akhirnya aku melepas jaket luarku dan menyelimuti tubuh perempuan itu.

“Maaf, Mbak. Saya bawa turun.”

Dengan susah payah aku membawanya ke motor. Perjalanan menuju desa yang biasanya dua puluh menit terasa hampir satu jam karena aku harus berkendara sangat pelan.

Ketika sampai, beberapa warga langsung keluar dari warung Pak Karman.

“Budi?”

Pak Karman menatapku seolah melihat hantu.

Tiga tahun aku tidak pulang kampung.

Dan malam pertama aku kembali, aku datang membawa perempuan tak sadarkan diri.

“Siapa itu?”

“Enggak tahu. Saya temukan di jalan atas.”

Pak Karman mengerutkan kening.

“Kamu enggak takut kena masalah?”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya ingin perempuan itu selamat.

Ibu bahkan belum sempat memelukku ketika aku tiba di rumah.

Dengan bantuan Bu Siti dan Pak Warto, perempuan itu kami baringkan di kamar depan. Pak Warto mengatakan kemungkinan besar ia kelelahan, kedinginan, dan belum makan cukup.

Barulah setelah semuanya sedikit tenang, aku duduk bersama ibu.

Tangannya terasa jauh lebih kurus daripada yang kuingat.

“Kamu akhirnya pulang juga,” katanya.

Aku menunduk.

“Maaf, Bu.”

Ibu tahu kenapa aku menghindari kampung selama tiga tahun.

Dimas.

Anak laki-lakiku satu-satunya.

Hampir empat tahun lalu, Dimas berangkat ke Jakarta bersama seseorang dari desa yang menjanjikannya pekerjaan. Awalnya dia rajin menelepon. Kemudian teleponnya semakin jarang.

Sampai akhirnya menghilang.

Aku mencari ke alamat tempat kerjanya.

Kosong.

Aku mendatangi terminal, rumah sakit, kantor polisi, bahkan tempat penampungan.

Tidak ada.

Karena itulah aku bertahan di Jakarta menjadi pengemudi ojek. Setiap hari aku berkeliling kota sambil menyimpan satu harapan bodoh.

Mungkin suatu hari aku akan melihat Dimas berdiri di trotoar.

Pintu kamar terbuka.

“Bud,” panggil Bu Siti. “Gadisnya sudah sadar.”

Perempuan itu duduk bersandar dengan selimut ibu menutupi tubuhnya.

“Ini di mana?”

“Karangrejo,” jawabku. “Saya menemukan Mbak di jalan atas.”

Dia mengambil ponselnya, lalu wajahnya langsung panik.

“Orang-orang pasti mencari saya.”

“Saya mencoba menghubungi Pak Rahmat.”

Dia mengangguk cepat.

Lalu entah kenapa, dia mulai menatapku.

“Nama Bapak siapa?”

“Budi Santoso.”

Wajahnya berubah.

“Bapak tinggal di Jakarta?”

“Iya.”

“Kerja bawa motor?”

Aku mulai curiga.

“Dari mana Mbak tahu?”

Matanya berkaca-kaca.

“Bapak punya anak bernama Dimas?”

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

“Siapa kamu?”

Belum sempat dia menjawab, suara kendaraan terdengar dari luar.

Tiga mobil hitam berhenti di depan rumah.

Seorang pria sekitar lima puluh tahun turun tergesa-gesa.

“Bu Alya!”

Perempuan itu berdiri.

Pak Karman berbisik dari dekat pagar.

“Itu Alya Pramesti.”

Nama itu kukenal dari berita. Putri Surya Pramesti, pemilik Pramesti Trans, perusahaan transportasi dengan ribuan armada di berbagai kota.

Namun Alya tidak memedulikan warga yang mulai berkerumun.

Dia membuka tas dan mengeluarkan sebuah foto.

Tanganku gemetar ketika menerimanya.

Dimas.

Anakku.

Wajahnya lebih dewasa. Rambutnya pendek. Dia mengenakan kemeja putih dan berdiri di depan sebuah gedung.

“Dia hidup?”

Suaraku hampir tidak terdengar.

Alya mengangguk.

“Mas Dimas hidup.”

Lututku melemas.

Aku duduk di kursi bambu di teras.

“Di mana?”

Alya tidak langsung menjawab.

“Pak Budi, saya datang ke Dieng memang untuk mencari Bapak.”

“Di mana anak saya?”

“Di Jakarta.”

Aku berdiri begitu cepat sampai kursinya terjatuh.

“Kalau dia hidup, kenapa hampir empat tahun dia enggak pernah menghubungi saya?”

Alya menunduk.

“Itu cerita panjang.”

“Saya punya waktu.”

Suasana di halaman mendadak sunyi.

Alya meminta Pak Rahmat dan orang-orangnya menunggu di luar. Lalu kami masuk ke ruang tamu bersama ibu.

Dia mulai bercerita.

Empat tahun lalu, Dimas memang datang ke Jakarta untuk bekerja sebagai kernet sebuah perusahaan angkutan kecil. Namun orang yang membawanya dari desa ternyata menggunakan identitas para pekerja untuk mengajukan pinjaman ilegal.

Ketika Dimas menyadarinya, dia mencoba melapor.

Malam itu dia dikejar.

Motor yang dikendarainya ditabrak sebuah mobil.

Dimas mengalami cedera kepala berat.

“Dia dirawat hampir dua bulan,” kata Alya.

Aku mengepalkan tangan.

“Kenapa tidak ada yang menghubungi saya?”

“Karena waktu sadar, ingatannya bermasalah.”

Aku menatapnya.

“Mas Dimas bahkan tidak ingat nama lengkapnya sendiri.”

Ibu mulai menangis.

Alya melanjutkan bahwa ayahnya mengetahui kasus itu karena salah satu kendaraan yang digunakan para pelaku membawa logo perusahaan lama yang pernah menjadi mitra Pramesti Trans.

Surya Pramesti membantu membayar pengobatan Dimas sekaligus menyerahkan kasus tersebut kepada polisi.

“Tapi beberapa orang berhasil kabur,” katanya.

Aku langsung teringat seseorang.

“Siapa yang membawa Dimas dari desa?”

Alya terdiam.

Aku sudah tahu jawabannya sebelum dia mengatakannya.

“Pak Karman.”

Darahku terasa berhenti mengalir.

Pak Karman.

Orang yang selama bertahun-tahun berpura-pura membantuku mencari Dimas.

Aku berdiri dan berjalan keluar.

Pak Karman masih berada di depan pagar.

Begitu melihat wajahku, dia langsung mundur.

“Karman.”

“Bud, dengar dulu.”

Aku menarik kerah bajunya.

“Kamu yang bawa anakku?”

Warga langsung gaduh.

“Bukan begitu!”

“Empat tahun kamu bilang tidak tahu!”

“Aku cuma mengenalkan pekerjaan!”

“Terus kenapa kamu bohong?”

Pak Karman pucat.

Tiba-tiba Pak Rahmat maju.

“Pak Karman, polisi sedang menuju ke sini.”

Wajah Karman langsung berubah.

Dia mendorongku dan mencoba berlari.

Namun dua pria dari rombongan Alya menangkapnya sebelum mencapai ujung jalan.

Warga yang tadi bergosip tentangku kini berdiri terpaku.

Beberapa menit kemudian, mobil polisi datang.

Ternyata Karman bukan sekadar perekrut.

Dia menerima uang dari jaringan penyalur pekerja ilegal untuk setiap orang yang berhasil dibawa ke Jakarta. Dimas bukan korban satu-satunya.

Selama ini polisi belum memiliki cukup bukti untuk menangkapnya.

Dimaslah yang akhirnya memberikan kesaksian setelah sebagian ingatannya kembali.

Aku kembali masuk ke rumah dengan tubuh gemetar.

“Aku mau bertemu anakku.”

Alya mengangguk.

“Itulah alasan saya mencari Bapak.”

“Kenapa Dimas sendiri tidak datang?”

Pertanyaan itu membuat Alya terdiam lama.

Kemudian dia mengeluarkan ponsel.

“Lebih baik Bapak melihat sendiri.”

Dia melakukan panggilan video.

Beberapa detik kemudian layar menyala.

Seorang laki-laki duduk di kursi roda dekat jendela.

Aku mengenali matanya.

Tidak peduli wajahnya berubah sebanyak apa pun, seorang ayah mengenali mata anaknya.

“Mas?”

Suara Alya bergetar.

Laki-laki itu menoleh.

“Sudah ketemu?”

Alya membalik kamera ke arahku.

Dimas membeku.

Aku tidak mampu bicara.

Dia juga tidak.

Beberapa detik kami hanya saling memandang.

Lalu bibirnya bergerak.

“Bapak?”

Satu kata itu menghancurkan seluruh pertahananku.

Aku menangis.

Bukan tangisan diam-diam seperti ketika mencarinya di Jakarta. Aku menangis seperti anak kecil.

“Dimas.”

“Maaf, Pak.”

“Jangan minta maaf.”

“Aku baru ingat semuanya beberapa bulan lalu.”

“Kenapa enggak langsung cari Bapak?”

Dimas tersenyum lemah.

“Sudah.”

Aku terdiam.

“Tiga bulan aku cari Bapak di Jakarta. Tapi kontrakan Bapak sudah pindah. Nomor Bapak juga ganti.”

Aku baru teringat ponselku pernah dirampas saat mengantar penumpang setahun lalu.

“Aku kira Bapak pulang kampung,” lanjutnya. “Makanya Alya ke Dieng.”

Aku memandang perempuan di sampingku.

“Kenapa kamu sendiri yang datang?”

Alya tersenyum kecil.

“Karena Mas Dimas menyelamatkan hidup saya.”

Ternyata setelah kondisinya membaik, Dimas bekerja di bagian operasional Pramesti Trans. Dua tahun lalu terjadi kecelakaan di depo. Sebuah bus kehilangan kendali ketika Alya sedang berada di area tersebut.

Dimas mendorong Alya menjauh.

Dia selamat.

Namun cedera lama Dimas kambuh akibat benturan keras.

Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi dekat.

Sangat dekat.

Aku melihat ekspresi Alya.

Lalu melihat Dimas di layar.

Aku akhirnya mengerti.

“Alya…”

Dimas tampak salah tingkah.

“Pak…”

Aku hampir tertawa di tengah tangis.

“Kalian?”

Alya mengangguk perlahan.

“Kami berencana menikah setelah Idulfitri.”

Ibu yang sejak tadi menangis langsung menutup mulut.

Namun Dimas belum selesai.

“Ada satu hal lagi, Pak.”

“Apa?”

“Aku sebenarnya mau pulang sendiri.”

“Terus?”

“Alya melarang.”

Alya langsung memprotes.

“Karena dokter belum mengizinkan kamu perjalanan jauh.”

Dimas tertawa.

Itu pertama kalinya aku mendengar tawanya setelah hampir empat tahun.

Pagi berikutnya, berita penangkapan Karman menyebar ke seluruh desa.

Tetapi kejutan terbesar belum datang.

Sekitar pukul sembilan, suara kendaraan memenuhi jalan utama Karangrejo.

Bukan tiga mobil seperti malam sebelumnya.

Ada belasan.

Sebuah ambulans pribadi berhenti paling depan.

Pintunya terbuka.

Alya berdiri di sampingku.

Ibu menggenggam lenganku.

Seorang petugas menurunkan kursi roda.

Lalu aku melihat Dimas.

Untuk pertama kalinya setelah hampir empat tahun, anakku pulang.

Warga memenuhi pinggir jalan.

Tidak ada yang bicara.

Dimas mengangkat wajah.

Matanya mencari-cari.

Begitu melihatku, dia tersenyum.

Aku berjalan mendekat.

Semakin cepat.

Lalu berlutut di depannya.

Dimas memelukku.

“Pak.”

Aku memegang belakang kepalanya seperti ketika dia masih kecil.

“Pulang, Mas.”

Ibu ikut memeluknya.

Tangisan pecah di depan rumah kecil kami.

Di belakang rombongan itu, seorang pria berambut putih turun dari mobil.

Surya Pramesti.

Dia mendekat dan menyalamiku.

“Pak Budi, saya berutang banyak kepada putra Bapak.”

Aku menggeleng.

“Bapak sudah menyelamatkan anak saya.”

Surya tersenyum.

“Bukan saya yang menyelamatkannya. Dia menyelamatkan dirinya sendiri.”

Kemudian dia menyerahkan sebuah amplop.

Aku tidak langsung menerimanya.

“Ini bukan uang,” katanya.

Di dalamnya ada dokumen.

Surya menjelaskan bahwa Dimas bersama beberapa mantan korban jaringan Karman telah membentuk yayasan untuk membantu pekerja perantauan yang menjadi korban penipuan perekrutan.

Nama yayasan itu membuatku kembali kehilangan kata-kata.

Rumah Pulang.

Dan kantor pertamanya akan dibangun di Wonosobo.

Dimas memandangku.

“Aku mau Bapak bantu.”

“Aku?”

“Bapak empat tahun keliling Jakarta nyari aku. Bapak tahu rasanya jadi keluarga yang menunggu orang pulang.”

Aku memandang jalan desa yang pagi itu dipenuhi manusia.

Tiga tahun aku takut pulang karena rumah ini mengingatkanku pada kehilangan.

Ternyata aku keliru.

Rumah bukan tempat yang menyimpan kehilangan.

Rumah adalah tempat yang tetap menyalakan lampu untuk seseorang yang belum kembali.

Malam takbiran, Dimas duduk di teras bersama ibu. Alya membantu menyiapkan makanan di dapur.

Aku membuka kardus oleh-oleh yang kubawa dari Jakarta.

Biskuit murah.

Sirup.

Kurma.

Mukena untuk ibu.

Aku sempat malu ketika melihat rombongan keluarga Alya membawa begitu banyak barang.

Namun ibu mengambil mukena itu dan memeluknya.

“Ini yang paling Ibu tunggu.”

Aku tersenyum.

Dimas menatapku dari kursi rodanya.

“Pak.”

“Hm?”

“Kalau malam itu Bapak enggak nolong Alya, mungkin kita belum ketemu.”

Aku menoleh kepadanya.

Lalu kepada Alya.

Aku baru menyadari betapa anehnya hidup.

Aku pulang membawa hampir tidak ada apa-apa.

Di tengah kabut, aku berhenti menolong orang asing tanpa mengetahui siapa dirinya.

Dan ternyata orang asing itulah yang membawa pulang sesuatu yang kucari selama hampir empat tahun.

Anakku.

Dari kejauhan, suara takbir mulai terdengar.

Aku menatap langit Dieng yang gelap dan dingin.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak meminta apa pun dalam doa.

Sebab malam itu aku akhirnya memahami satu hal.

Kadang-kadang pertolongan yang kita berikan kepada orang lain tidak pernah kembali dalam bentuk uang atau kemewahan.

Kadang ia kembali dalam bentuk yang jauh lebih berharga.

Seseorang yang mengetuk pintu rumah kita, memanggil kita sekali lagi, lalu berkata bahwa setelah perjalanan panjang, akhirnya dia pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang