Aku bersembunyi di bawah tangga untuk mengerjai putraku di hari ulang tahunnya. Rencanaku sederhana. Begitu dia pulang sekolah, aku akan muncul sambil berteriak, “Kejutan!”

Reza menoleh ke kanan dan kiri.

Seperti memastikan rumah benar-benar kosong.

Kemudian ia mengunci pintu dari dalam.

Saat itulah…

Untuk pertama kalinya hari itu, aku merasa ada sesuatu yang sangat tidak beres.

Aku menahan napas di balik pintu ruang penyimpanan.

Jantungku berdetak begitu keras sampai aku takut Reza bisa mendengarnya.

Ia menarik koper hitam itu ke tengah ruang tamu.

Tepat beberapa meter dari tempatku bersembunyi.

Lalu ia berjongkok.

Klik.

Klik.

Dua pengunci koper dibuka.

Reza mengangkat tutupnya.

Dan tubuhku seketika membeku.

Uang.

Koper itu penuh dengan uang tunai.

Tumpukan uang seratus ribuan tersusun dalam beberapa ikatan besar.

Aku bahkan tidak bisa memperkirakan jumlahnya.

Ratusan juta?

Miliaran?

Tanganku refleks menutup mulut.

Selama sembilan tahun menikah, aku tidak pernah melihat uang sebanyak itu berada di rumah kami.

Reza berdiri lagi.

Ia mengambil ponselnya.

Lalu menelepon seseorang.

“Sudah sampai,” katanya pelan.

Ia berhenti sejenak.

“Tidak. Naila masih di kantor. Anak saya juga belum pulang.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

Dia menyebut namaku.

Berarti memang sengaja memilih waktu ketika ia mengira aku tidak berada di rumah.

“Datang lewat pintu samping,” lanjutnya. “Jangan parkir di depan rumah.”

Telepon ditutup.

Aku mulai gemetar.

Segala kemungkinan buruk memenuhi kepalaku.

Apakah Reza terlibat korupsi?

Suap proyek?

Pencucian uang?

Aku bekerja di bagian administrasi sebuah perusahaan distribusi. Aku mungkin tidak memahami dunia konstruksi sedalam Reza, tetapi aku cukup sering membaca berita untuk tahu bahwa uang tunai dalam koper jarang membawa cerita baik.

Sekitar sepuluh menit kemudian terdengar ketukan pendek dari arah pintu samping.

Tiga kali.

Reza segera membukanya.

Seorang laki-laki masuk.

Aku mengenalnya.

Namanya Bagas.

Beberapa kali Reza pernah mengenalkannya sebagai rekan bisnis dari perusahaan pemasok material.

Bagas mengenakan kemeja abu-abu dan membawa tas selempang.

Wajahnya terlihat tegang.

Begitu masuk, pandangannya langsung jatuh pada koper.

“Lengkap?”

Reza mengangguk.

“Tiga koma dua.”

Bagas menghela napas.

“Pak Surya minta empat.”

“Bilang ke dia ini yang terakhir.”

Bagas menatap Reza tajam.

“Jangan mulai sok bersih sekarang. Dari awal kamu juga menikmati.”

Aku merasa kedua kakiku kehilangan tenaga.

Tiga koma dua.

Miliar?

Aku menempelkan telinga lebih dekat ke celah pintu.

Reza mengusap wajahnya.

“Aku tidak pernah menikmati uang ini.”

Bagas tertawa pendek.

“Jangan bercanda.”

“Aku cuma melakukan apa yang harus kulakukan.”

“Dan apa yang harus kamu lakukan sekarang adalah menyerahkan uang itu malam ini.”

Reza tiba-tiba membanting tutup koper.

“Tidak sebelum Surya mengembalikan dokumennya.”

Bagas terdiam.

Aku mengernyit.

Dokumen apa?

Suasana di ruang tamu berubah.

Bagas berjalan mendekat.

“Reza, jangan main-main. Kamu tahu orang seperti Pak Surya tidak suka diancam.”

“Aku juga tidak suka anakku diancam.”

Jantungku seakan dihantam sesuatu.

Ilham?

Bagas menghela napas panjang.

“Tidak ada yang mengancam anakmu kalau kamu tetap mengikuti rencana.”

“Foto anakku dikirim ke ponselku pagi tadi. Ada foto dia turun dari mobil antar-jemput sekolah. Kau masih bilang itu bukan ancaman?”

Aku hampir membuka pintu saat itu juga.

Aku ingin berlari ke sekolah.

Mengambil Ilham.

Membawanya pergi sejauh mungkin.

Namun tubuhku seolah terkunci.

Bagas menurunkan suaranya.

“Makanya selesaikan semuanya hari ini.”

“Surya sudah berjanji setelah uang ini diberikan, nama Naila akan dihapus dari berkas.”

Tubuhku benar-benar membeku.

Namaku?

Apa hubungannya denganku?

Reza tidak langsung menjawab.

Bagas melanjutkan.

“Kalau polisi membongkar kasus proyek itu, tanda tangannya ada di dokumen pembayaran. Kamu tahu konsekuensinya.”

Aku merasa mual.

Aku tidak pernah menandatangani dokumen proyek Reza.

Tidak pernah.

Lalu tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Sekitar enam bulan sebelumnya, Reza pernah membawakan beberapa lembar dokumen ke rumah.

Katanya hanya formulir asuransi keluarga yang membutuhkan tanda tangan pasangan.

Aku tidak membacanya dengan teliti.

Aku percaya padanya.

Aku menandatangani beberapa halaman.

Ya Tuhan.

Jangan-jangan…

“Dia tidak tahu apa-apa,” kata Reza.

“Justru itu gunanya.”

Bagas menjawab dengan suara datar.

“Kalau keadaan memburuk, Naila yang akan terlihat menerima aliran dana. Rekening atas namanya sudah dipakai. Tanda tangan ada. Perusahaan cangkang juga terdaftar menggunakan identitasnya.”

Aku harus menggigit tanganku sendiri agar tidak berteriak.

Dunia di sekelilingku seperti bergerak semakin jauh.

Suamiku.

Laki-laki yang tidur di sampingku setiap malam.

Ayah dari anakku.

Telah menggunakan namaku sebagai tameng untuk sebuah kejahatan.

Namun kalimat Reza berikutnya membuatku semakin bingung.

“Makanya aku membawa uang ini.”

Bagas mengernyit.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak akan menyerahkannya kepada Surya.”

Keheningan panjang.

“Apa?”

“Aku akan bawa uang ini ke KPK.”

Bagas melangkah mundur.

“Kamu gila?”

“Aku sudah menghubungi penyidik.”

Aku memejamkan mata.

KPK?

“Besok pagi aku akan menyerahkan uang ini, rekaman percakapan, salinan kontrak, semuanya.”

Bagas terlihat panik.

“Kalau begitu kenapa kamu meneleponku?”

“Karena aku ingin memberi kamu kesempatan.”

Reza menatap Bagas.

“Kamu punya istri. Punya dua anak. Aku tahu kamu masuk terlalu jauh karena utang bisnis. Aku juga tahu Surya menggunakanmu sama seperti dia menggunakan semua orang.”

Bagas memaki pelan.

“Kamu tidak paham.”

“Aku paham.”

“Tidak. Kamu tidak paham. Surya tidak akan membiarkan kita bicara.”

Reza menjawab dengan suara yang belum pernah kudengar sebelumnya.

Tenang.

Tetapi putus asa.

“Itu sebabnya keluargaku harus pergi malam ini.”

Aku menahan napas.

Bagas menatapnya.

“Naila tahu?”

“Belum.”

“Bagaimana kalau dia tidak mau ikut?”

“Dia akan ikut.”

Reza menatap foto keluarga kami yang tergantung di dinding.

“Aku akan cerita semuanya setelah ulang tahun Ilham.”

Dadaku terasa sesak.

Di luar semua kebohongan itu, aku mendengar ketakutan nyata dalam suaranya.

Namun itu tidak menghapus apa yang telah ia lakukan.

Ia telah menggunakan identitasku.

Menyembunyikan kejahatan.

Dan menempatkan anak kami dalam bahaya.

Tiba-tiba ponsel Bagas berbunyi.

Ia melihat layarnya.

Wajahnya langsung pucat.

“Surya.”

Reza mengangkat dagu.

“Jangan angkat.”

Telepon berhenti.

Beberapa detik kemudian muncul pesan.

Bagas membaca.

Tangannya gemetar.

“Apa?”

Reza merebut ponselnya.

Wajahnya berubah.

“Apa katanya?”

Bagas tidak menjawab.

Reza membaca keras-keras.

“Kalian punya waktu tiga puluh menit. Kalau uang itu tidak sampai, anak Reza tidak akan sampai rumah.”

Aku tidak bisa menahan diri lagi.

Pintu ruang penyimpanan kubuka keras.

“ILHAM!”

Reza dan Bagas berbalik bersamaan.

Wajah Reza seketika kehilangan warna.

“Naila?”

Aku keluar dengan tubuh gemetar.

Topi ulang tahun yang sejak tadi kupegang terjatuh ke lantai.

Reza menatapku seperti melihat hantu.

“Kamu… kamu ngapain di sini?”

“Aku dengar semuanya.”

“Naila, dengarkan aku.”

“DI MANA ILHAM?”

Aku berteriak begitu keras sampai tenggorokanku sakit.

Reza berusaha mendekat.

Aku mundur.

“Jangan sentuh aku.”

“Naila.”

“Kau menggunakan namaku? Rekeningku? Tanda tanganku?”

Matanya memerah.

“Aku bisa jelaskan.”

“Anak kita sedang diancam dan kau mau menjelaskan?”

Bagas tiba-tiba mengambil ponselnya.

“Aku telepon Surya.”

Reza langsung mencengkeram lengannya.

“Jangan.”

“Kalau anakmu benar-benar mereka ambil, kita tidak punya pilihan.”

Aku segera meraih ponselku dan menelepon sopir antar-jemput Ilham.

Tidak diangkat.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Aku hampir pingsan.

Kemudian sebuah panggilan masuk.

Nomor sekolah Ilham.

Aku langsung mengangkatnya.

“Halo?”

“Bu Naila?”

Suara seorang perempuan terdengar terburu-buru.

“Saya wali kelas Ilham.”

“Ilham di mana, Bu?”

“Ini yang ingin saya tanyakan. Tadi ada seorang laki-laki datang menjemput Ilham lebih awal. Katanya atas permintaan ayahnya.”

Lututku terasa lemas.

“Siapa?”

“Dia menunjukkan pesan WhatsApp yang seolah dikirim dari nomor Pak Reza.”

Aku menatap suamiku.

Reza menggeleng cepat.

“Bukan aku.”

“Bu, siapa nama orang itu?”

“Saya kurang tahu. Tapi satpam sempat mencatat nomor polisi mobilnya.”

Aku langsung mengaktifkan pengeras suara.

Guru Ilham membacakan nomor kendaraan itu.

Bagas mendadak menatap Reza.

“Aku tahu mobil itu.”

“Siapa?”

“Orangnya Surya. Namanya Anton.”

Reza mengambil kunci mobil.

“Kita ke gudang.”

“Gudang apa?” tanyaku.

“Gudang lama proyek di Cakung. Surya biasa pakai tempat itu untuk pertemuan.”

Aku mengikuti Reza keluar.

Bagas juga.

Koper uang ditinggalkan di ruang tamu.

Aku sempat menatap balon, kue, dan sepeda yang sudah kusiapkan.

Beberapa menit lalu rumah itu adalah tempat pesta ulang tahun seorang anak.

Sekarang rasanya seperti lokasi kejahatan.

Di dalam mobil, Reza menelepon seseorang.

“Pak Damar, mereka mengambil anak saya.”

Aku menoleh.

“Siapa?”

“Penyidik yang sudah beberapa minggu menghubungiku.”

Aku menatapnya tajam.

“Beberapa minggu?”

Reza mengangguk.

“Aku sudah bekerja sama dengan mereka.”

“Lalu kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”

“Karena semakin sedikit yang kamu tahu, semakin aman kamu.”

Aku tertawa getir.

“Aman?”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Namaku kau pakai untuk perusahaan palsu. Anak kita diculik. Dan kau bilang aku aman?”

Reza tidak menjawab.

Bagas yang duduk di belakang menunduk.

Setelah beberapa saat, Reza berkata lirih.

“Aku yang menandatangani proyek pertama itu tiga tahun lalu.”

Aku menatapnya.

“Surya memalsukan volume pekerjaan. Sebagian material tidak pernah datang, tapi tetap ditagihkan. Waktu aku tahu, semuanya sudah telanjur berjalan.”

“Dan kau diam.”

“Aku takut.”

“Lalu kau ikut?”

Ia mengangguk perlahan.

“Itu kesalahan terbesarku.”

Ia menggenggam kemudi lebih erat.

“Awalnya aku pikir cuma sekali. Lalu mereka mulai menyimpan bukti keterlibatanku. Setiap kali aku mau keluar, mereka mengancam akan menyeretku dan keluarga kita.”

Aku menatap jalan di depan.

Sembilan tahun pernikahan.

Ternyata seseorang bisa tidur hanya beberapa sentimeter darimu sambil membawa kehidupan lain yang tidak pernah kau kenal.

Ketika kami sampai di dekat gudang, dua mobil tanpa tanda sudah menunggu.

Beberapa petugas berpakaian biasa menghampiri.

Reza berbicara cepat dengan seorang pria bernama Damar.

Aku ingin ikut masuk.

Namun mereka melarangku.

“Bu Naila, tetap di sini.”

“Itu anak saya.”

“Kami akan membawanya keluar.”

Aku mencengkeram lengan Damar.

“Tolong.”

Hanya satu kata yang mampu keluar.

Sekitar sepuluh menit kemudian terdengar keributan dari dalam gudang.

Teriakan.

Suara benda jatuh.

Lalu beberapa petugas masuk dari pintu belakang.

Aku tidak tahu berapa lama semuanya berlangsung.

Mungkin hanya lima menit.

Tapi bagiku seperti satu malam penuh.

Kemudian seseorang keluar sambil menggandeng seorang anak kecil.

“IBU!”

Aku berlari.

“Ilham!”

Aku memeluknya erat.

Ia menangis kebingungan.

“Bu… Om itu bilang Ayah kecelakaan.”

Aku mencium kepalanya berkali-kali.

“Tidak apa-apa. Kamu sudah sama Ibu.”

Di belakangnya, beberapa petugas membawa dua laki-laki keluar dengan tangan diborgol.

Salah satunya Anton.

Namun Surya tidak ada.

Damar mendekati kami.

“Pak Surya tidak berada di sini.”

Reza menatapnya.

“Dia tahu kita datang?”

“Kemungkinan.”

Bagas tiba-tiba berkata, “Dia pasti ke rumah Reza.”

Semua orang menoleh.

“Koper.”

Aku merasa darahku kembali dingin.

Kami segera kembali.

Namun ketika sampai di rumah, pintu depan sudah terbuka.

Ruang tamu berantakan.

Dan koper uang itu hilang.

Di atas meja ulang tahun Ilham terdapat sebuah amplop putih.

Namaku tertulis di atasnya.

NAILA.

Reza berusaha mengambilnya.

Aku lebih dulu meraih.

Di dalamnya terdapat satu lembar kertas dan sebuah flashdisk.

Tulisan di kertas hanya satu kalimat.

Tanyakan kepada suamimu siapa sebenarnya pemilik uang itu.

Aku menatap Reza.

“Apa maksudnya?”

Wajahnya berubah.

“Reza.”

Ia diam.

“Uang itu dari mana?”

Bagas juga tampak kebingungan.

“Kau bilang itu uang Surya yang akan diserahkan sebagai barang bukti.”

Reza duduk perlahan.

Kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku berbohong soal satu hal.”

Aku tidak bergerak.

“Uang itu bukan milik Surya.”

“Lalu?”

Reza menatapku.

“Itu uang perusahaan.”

Dadaku sesak.

“Tiga koma dua miliar itu dana pembayaran proyek yang pagi tadi aku tarik melalui beberapa rekening.”

“Untuk apa?”

Ia tidak menjawab.

Bagas tiba-tiba mengerti.

“Kau mau kabur.”

Reza menunduk.

Aku menatapnya tak percaya.

“Jadi semua cerita soal menyerahkan uang ke KPK?”

“Aku memang bekerja sama dengan mereka. Bukti yang lain benar. Tapi uang itu…”

“Kau mau membawanya?”

Reza menelan ludah.

“Aku takut setelah kasus terbongkar, aku akan kehilangan semuanya. Pekerjaan, rumah, tabungan. Aku pikir kalau ada uang itu, setidaknya kalian bisa hidup.”

Aku tertawa dalam tangis.

“Kau mencuri tiga miliar untuk melindungi kami?”

“Aku panik.”

“Tidak. Kau serakah.”

Ia terdiam.

Saat itulah aku memahami sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada mengetahui suamiku terlibat korupsi.

Manusia tidak selalu berubah menjadi jahat dalam satu malam.

Kadang mereka melakukannya sedikit demi sedikit.

Satu kompromi.

Satu kebohongan.

Satu pembenaran.

Sampai suatu hari mereka sendiri tidak lagi tahu batas antara melindungi keluarga dan menghancurkan keluarga.

Flashdisk dalam amplop kemudian diperiksa penyidik.

Isinya adalah rekaman Reza saat memerintahkan pemindahan dana.

Surya rupanya telah mengetahui rencana Reza dan sengaja mengambil koper itu sekaligus meninggalkan bukti untuk menjatuhkannya.

Namun Surya membuat kesalahan.

Ia merasa terlalu yakin bisa menghilang.

Tiga hari kemudian, ia ditangkap di sebuah apartemen di Bandung.

Uang dalam koper ditemukan hampir utuh.

Kasus itu menjadi jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.

Beberapa pejabat perusahaan, kontraktor, dan perantara ikut diperiksa.

Bagas memilih bekerja sama dengan penyidik.

Reza juga.

Namun kerja sama tidak menghapus perbuatannya.

Beberapa bulan kemudian, ia tetap dijatuhi hukuman penjara karena keterlibatannya dalam manipulasi proyek dan penggelapan dana.

Aku mengajukan perceraian.

Bukan karena aku berhenti mengingat sisi baiknya.

Justru itu yang membuat semuanya lebih sulit.

Reza pernah menjadi ayah yang sabar saat mengajari Ilham naik sepeda.

Ia pernah begadang semalaman saat aku sakit.

Ia pernah menjadi laki-laki yang sungguh kucintai.

Tetapi cinta tidak bisa dipakai untuk menutup mata terhadap pilihan seseorang.

Pada ulang tahun Ilham tahun berikutnya, kami merayakannya sederhana.

Hanya aku, Ilham, ibuku, dan beberapa teman sekolahnya.

Sepeda yang kubeli setahun sebelumnya masih ia gunakan.

Setelah meniup lilin, Ilham bertanya kepadaku,

“Bu, Ayah pulang kapan?”

Aku terdiam beberapa detik.

“Belum tahu, Sayang.”

“Kalau Ayah pulang nanti, Ayah masih boleh datang ke ulang tahunku?”

Aku menatap wajah anakku.

Aku tidak ingin kebencian yang tumbuh di antara orang dewasa menjadi warisan untuknya.

Jadi aku mengangguk.

“Kalau Ayah sudah memperbaiki kesalahannya dan kamu masih ingin bertemu, tentu boleh.”

Ilham tersenyum.

Kemudian ia berlari kembali kepada teman-temannya.

Aku berdiri di dekat tangga.

Tanpa sadar, pandanganku jatuh pada pintu kecil di bawahnya.

Tempat aku bersembunyi setahun lalu.

Aku masih bisa mengingat diriku saat itu.

Seorang ibu dengan topi ulang tahun di tangan.

Menahan tawa.

Menunggu putranya pulang.

Aku masuk ke sana karena ingin memberikan kejutan kepada Ilham.

Namun justru aku yang menerima kejutan terbesar dalam hidupku.

Sejak hari itu aku belajar satu hal.

Rahasia terbesar tidak selalu tersembunyi di tempat yang jauh.

Kadang ia tinggal di rumah yang sama dengan kita.

Makan di meja yang sama.

Tidur di tempat tidur yang sama.

Dan memanggil kita dengan kata yang paling akrab.

Sayang.

Yang membuat sebuah keluarga bertahan bukan kehidupan tanpa kesalahan.

Melainkan keberanian untuk berkata jujur sebelum sebuah kesalahan berubah menjadi kebohongan yang terlalu besar untuk diselamatkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang