Aku meletakkan amplop hitam itu di atas meja dengan tangan kanan yang gemetar. Telapak tangan kiriku terasa seperti terbakar dari dalam, kulitnya memerah dan mulai melepuh, tetapi rasa sakit itu tidak lagi penting.
Yang membuat seluruh taman membeku adalah wajah Kang Mi-sook.
Perempuan yang selama delapan tahun tidak pernah menatapku sebagai manusia itu tiba-tiba kehilangan warna di wajahnya.
“Dari mana kau mendapatkan amplop itu?” tanyanya.

Aku tersenyum.
“Jadi Ibu masih mengingatnya.”
Tae-hyun menoleh kepada ibunya.
“Ibu tahu apa itu?”
Mi-sook tidak menjawab.
Dia justru mencoba meraih amplop tersebut, tetapi aku lebih cepat mengambilnya kembali.
“Jangan sentuh.”
“Yoon Ha-eun!”
Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar panik.
Aku menatap para tamu yang mengelilingi kami.
Sebagian masih memegang gelas. Sebagian lagi mengangkat ponsel. Para eksekutif Daehan Construction yang tadi tertawa mendengar hinaan terhadapku kini berdiri dengan wajah tegang.
Aku membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat salinan dokumen kepemilikan saham, surat wasiat, dan satu lembar perjanjian yang telah berusia hampir tiga puluh tahun.
Tae-hyun mendengus.
“Drama macam apa ini?”
Aku menatapnya.
“Dua puluh sembilan tahun lalu, Daehan Construction hampir bangkrut.”
Beberapa eksekutif senior saling berpandangan.
Mereka tahu cerita itu.
Namun hanya sedikit yang mengetahui seluruh kebenarannya.
“Ayahmu membutuhkan dana untuk menyelamatkan perusahaan. Bank menolak memberikan pinjaman. Investor mundur. Proyek terbesar Daehan saat itu terancam gagal.”
Aku mengeluarkan sebuah dokumen.
“Lalu seseorang datang membawa modal.”
Mi-sook menggertakkan giginya.
“Diam.”
Aku mengabaikannya.
“Namanya Yoon Jae-min.”
Tae-hyun terdiam.
Itu nama ayahku.
Selama bertahun-tahun, keluarga Kang selalu menggambarkan ayahku sebagai pengusaha kecil yang gagal. Seorang pria biasa yang meninggal tanpa meninggalkan apa pun selain utang.
Setidaknya, itulah cerita yang mereka ingin aku percayai.
“Mustahil,” kata Tae-hyun. “Ayahmu bukan siapa-siapa.”
Aku tertawa kecil.
“Kalimat itu juga yang selalu dikatakan ibumu kepadaku.”
Aku menunjukkan dokumen berikutnya.
“Padahal ayahku memberikan hampir seluruh kekayaannya untuk menyelamatkan Daehan Construction.”
Salah seorang direktur senior mendekat.
“Tunggu.”
Dia mengenakan kacamata lalu membaca dokumen tersebut.
Wajahnya berubah.
“Ini tanda tangan pendiri Kang.”
Mi-sook langsung menyela.
“Dokumen itu palsu.”
“Kalau begitu,” kataku, “kita bisa memeriksanya di pengadilan.”
Suasana semakin tegang.
Aku melanjutkan.
Sebagai imbalan atas investasi tersebut, ayahku memperoleh saham dalam jumlah besar. Tetapi karena situasi politik dan bisnis pada masa itu, kepemilikannya ditempatkan melalui perusahaan investasi terpisah.
Setelah ayahku meninggal dalam kecelakaan mobil, aku masih terlalu muda untuk memahami dokumen yang diwariskannya.
Ibuku juga telah meninggal lebih dulu.
Aku tumbuh bersama bibiku.
Bertahun-tahun kemudian, aku bertemu Tae-hyun.
Dia tampan, sopan, dan terlihat berbeda dari keluarganya.
Setidaknya pada awalnya.
Dia mengejarku selama hampir satu tahun.
Membawakan makanan ketika aku lembur.
Menungguku di luar kantor saat hujan.
Bahkan pernah berlutut di depan makam ayahku dan berjanji akan menjagaku seumur hidup.
Aku benar-benar percaya dia mencintaiku.
Sampai setelah pernikahan.
Perlahan, lelaki yang kukenal menghilang.
Dia mulai mengontrol rekeningku.
Memilih siapa yang boleh kutemui.
Melarangku bekerja.
Kemudian penghinaan dimulai.
Setelah itu tamparan.
Lalu kekerasan yang selalu dia sembunyikan di balik pintu rumah.
Aku bertahan karena aku pikir pernikahan memang membutuhkan pengorbanan.
Sampai delapan belas bulan lalu aku menemukan sesuatu.
Sebuah surat lama milik ayahku.
Surat itu disimpan oleh bibiku dan baru diberikan kepadaku sebelum dia meninggal.
Di bagian akhir hanya ada satu kalimat.
Jika keluarga Kang suatu hari mencoba menghancurkanmu, carilah amplop hitam.
Aku mulai menyelidiki.
Dan semakin dalam aku menggali, semakin buruk kebenaran yang kutemukan.
Keluarga Kang bukan hanya mengetahui saham ayahku.
Mereka telah berusaha mengambilnya.
Mi-sook memalsukan sejumlah dokumen setelah kematian ayahku dan membuat kepemilikan saham tersebut seolah-olah telah dialihkan.
Namun dia melakukan satu kesalahan.
Dokumen asli tetap berada di tangan firma hukum yang dipercaya ayahku.
Dan saham itu tidak pernah benar-benar menjadi milik keluarga Kang.
Tae-hyun merebut dokumen dari tangan salah seorang direktur.
Dia membacanya cepat.
Kemudian tertawa.
“Bahkan kalau ini benar, kau pikir beberapa lembar kertas bisa menjadikanmu pemilik Daehan?”
“Bukan beberapa lembar kertas.”
Suara seorang pria terdengar dari belakang kerumunan.
Semua orang menoleh.
Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berjalan memasuki taman ditemani dua orang pengacara.
Aku mengenalnya sebagai Pengacara Park Min-jae.
Selama puluhan tahun, firma hukumnya menangani aset ayahku.
Dia membungkuk singkat kepadaku.
“Nyonya Yoon.”
Mi-sook tampak seperti baru melihat hantu.
“Kau seharusnya sudah pensiun.”
Park tersenyum tipis.
“Saya memang pensiun. Tapi saya berjanji kepada Tuan Yoon Jae-min bahwa saya akan datang ketika putrinya akhirnya siap mengetahui seluruh kebenaran.”
Tae-hyun melempar dokumen ke meja.
“Keluar dari rumah saya.”
Park menatapnya.
“Secara teknis, rumah ini juga sedang dijaminkan kepada Daehan Construction karena utang pribadi Anda.”
Wajah Tae-hyun langsung berubah.
Bisik-bisik terdengar.
Park kemudian mengeluarkan beberapa dokumen lain.
“Dan sejak pukul empat sore tadi, pengadilan telah menerima permohonan pembekuan aset atas nama Kang Tae-hyun terkait dugaan penggelapan dana perusahaan.”
Tae-hyun menatapku.
“Kau melaporkanku?”
“Tidak hanya aku.”
Aku menoleh kepada para eksekutif.
Salah seorang direktur mengangkat tangannya.
Lalu seorang komisaris melakukan hal yang sama.
Kemudian direktur keuangan maju.
“Kami sudah bekerja sama dengan penyelidik selama tiga bulan.”
Tae-hyun mundur satu langkah.
Aku bisa melihat kepanikan di matanya.
Selama ini dia mengira aku hanya seorang istri yang diam-diam mengumpulkan bukti.
Dia tidak tahu bahwa aku telah membangun jaringan di dalam perusahaannya sendiri.
“Pengkhianat!” teriaknya.
Dia tiba-tiba menerjangku.
Namun sebelum tangannya menyentuhku, dua petugas keamanan menahannya.
“Lepaskan aku!”
Dia meronta.
Mi-sook berteriak kepada petugas keamanan.
“Dia calon ketua perusahaan kalian!”
Tak seorang pun bergerak.
Pengacara Park lalu berkata dengan tenang, “Tidak lagi.”
Dia menyerahkan sebuah dokumen kepada komisaris tertua.
“Berdasarkan verifikasi kepemilikan saham dan keputusan rapat darurat yang baru selesai beberapa menit lalu, Kang Tae-hyun diberhentikan sementara dari seluruh jabatan eksekutif sampai penyelidikan selesai.”
Tae-hyun berhenti meronta.
Kemudian dia menatapku.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang selama delapan tahun ingin dia lihat di wajahku.
“Apa yang kau inginkan?”
Pertanyaan itu hampir membuatku tertawa.
Delapan tahun lalu, aku mungkin akan menjawab bahwa aku hanya ingin dia mencintaiku.
Tiga tahun lalu, mungkin aku hanya ingin dia berhenti menyakitiku.
Malam ini, jawabanku berbeda.
“Aku ingin kau bertanggung jawab.”
Suara sirene terdengar dari luar gerbang.
Mi-sook langsung menoleh.
Beberapa kendaraan polisi berhenti di depan mansion.
Tae-hyun menjadi semakin panik.
“Ha-eun.”
Untuk pertama kalinya malam itu dia memanggil namaku dengan lembut.
“Sayang, dengarkan aku.”
Aku hampir tidak mengenali nada suaranya.
“Kita bisa membicarakan ini.”
Aku memandang telapak tanganku yang melepuh.
“Delapan tahun aku mencoba bicara.”
“Aku sedang emosi tadi.”
“Kau membakar tanganku.”
“Aku tidak bermaksud…”
“Dua puluh orang melihatnya.”
Dia terdiam.
Kemudian dia berbisik, “Aku suamimu.”
Aku menatapnya lama.
“Tidak lagi.”
Polisi memasuki taman.
Salah seorang petugas mendekat kepadaku dan melihat luka di tanganku sebelum berbicara kepada Tae-hyun.
Kang Tae-hyun dibawa pergi malam itu.
Namun sebelum polisi memasukkannya ke mobil, dia menoleh dan berteriak kepadaku.
“Kau pikir kau menang? Keluarga Kang membangun Daehan!”
Aku tidak menjawab.
Karena aku tahu masih ada satu rahasia terakhir yang bahkan Tae-hyun tidak ketahui.
Tiga minggu kemudian, penyelidikan mengguncang Daehan Construction.
Media menemukan aliran dana ke perusahaan cangkang di Singapura dan Hong Kong. Beberapa transaksi ternyata berkaitan langsung dengan rekening Tae-hyun.
Rekaman dari pesta barbekyu juga tersebar.
Video ketika dia menekan tanganku ke panggangan ditonton jutaan kali.
Namun aku tidak pernah mengunggahnya.
Salah seorang tamu melakukannya.
Keluarga Kang yang selama puluhan tahun hidup dari citra kehormatan kehilangan reputasinya dalam hitungan hari.
Mi-sook mencoba menyelamatkan perusahaan dengan menyalahkan putranya sendiri.
Dia mengadakan konferensi pers.
“Kami tidak mengetahui tindakan pribadi Kang Tae-hyun.”
Aku menonton pernyataannya dari rumah sakit sambil tersenyum pahit.
Dia masih berpikir dirinya aman.
Sampai Pengacara Park mengirimkan satu berkas terakhir kepada penyidik.
Dokumen pemalsuan saham milik ayahku.
Kali ini, tanda tangan Mi-sook ada di sana.
Dua bulan kemudian, aku berdiri di lantai tertinggi gedung Daehan Construction.
Tanganku telah sembuh, meskipun bekas luka masih membentang di telapak kiriku.
Di ruang rapat, para pemegang saham menungguku.
Pengacara Park berdiri di samping kursiku.
“Apakah Anda siap?”
Aku melihat kursi di ujung meja.
Kursi yang selama puluhan tahun hanya diduduki keluarga Kang.
Aku menggeleng.
“Aku tidak ingin duduk di sana.”
Semua orang terkejut.
Aku mengeluarkan dokumen kepemilikan saham.
Setelah proses hukum dan audit selesai, saham ayahku dikembalikan kepadaku. Ditambah saham yang kubeli diam-diam selama delapan belas bulan melalui perusahaan investasi, aku menjadi pemegang saham individu terbesar Daehan Construction.
Aku bisa saja mengambil alih perusahaan.
Tetapi itu bukan alasan aku melakukan semuanya.
“Ayah saya membantu menyelamatkan perusahaan ini,” kataku. “Bukan supaya putrinya suatu hari menjadi chaebol.”
Ruangan sunyi.
“Dia percaya perusahaan besar memiliki tanggung jawab besar kepada orang-orang yang membangunnya.”
Aku mengusulkan restrukturisasi.
Sebagian saham akan dialihkan ke program kepemilikan karyawan.
Sistem audit independen dibentuk.
Keluarga Kang kehilangan hak istimewa untuk mengendalikan perusahaan hanya karena nama mereka.
Seorang direktur bertanya, “Lalu bagaimana dengan posisi Anda?”
Aku melihat bekas luka di tanganku.
“Aku akan tetap menjadi pemegang saham. Tapi aku tidak membutuhkan takhta.”
Enam bulan kemudian, perceraianku selesai.
Tae-hyun menunggu persidangan atas penggelapan, pemalsuan, dan kekerasan terhadap pasangan.
Mi-sook juga menghadapi tuntutan terkait pemalsuan dokumen.
Aku tidak pernah mengunjungi mereka.
Suatu sore, Pengacara Park datang membawa sebuah kotak kecil.
“Kami menemukan ini di brankas lama ayah Anda.”
Di dalamnya terdapat foto.
Ayahku berdiri bersama pendiri Daehan Construction di depan sebuah kantor kecil.
Di belakang foto ada tulisan tangan.
Jangan wariskan kekuasaan kepada anakmu. Wariskan keberanian untuk tidak tunduk kepada kekuasaan.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Lalu menangis.
Bukan karena Tae-hyun.
Bukan karena delapan tahun yang hilang.
Aku menangis karena akhirnya mengerti mengapa ayahku tidak pernah menaruh namanya di gedung mana pun.
Dia tidak ingin aku mewarisi sebuah kerajaan.
Dia ingin aku tetap bebas.
Aku berdiri di depan jendela apartemen baruku di Jakarta, tempat aku memulai cabang investasi sosial Daehan di Indonesia beberapa bulan kemudian.
Tidak ada mansion.
Tidak ada pelayan.
Tidak ada meja sepanjang dua belas meter yang menentukan siapa cukup penting untuk duduk di sana.
Hanya sebuah rumah yang kupilih sendiri dan kehidupan yang akhirnya menjadi milikku.
Bekas luka di telapak tanganku masih ada.
Dulu aku selalu menutupinya.
Sekarang tidak lagi.
Karena setiap kali melihatnya, aku teringat malam ketika Kang Tae-hyun mengira dia sedang mengajariku bagaimana seorang istri harus bertahan.
Dia salah.
Malam itu, dia justru mengajariku sesuatu yang jauh lebih penting.
Bertahan bukan berarti menerima rasa sakit tanpa melawan.
Kadang-kadang, bertahan berarti berani melepaskan tangan dari api, menghancurkan meja yang selama ini memenjarakanmu, lalu berjalan pergi tanpa pernah menoleh lagi.
