Pukul 4:00 pagi, pria paling berkuasa di Seoul terbangun hanya karena satu kalimat.

Nama yang tercetak tebal di halaman itu membuat Kang Tae-hyun tidak langsung bernapas.

Kang Seung-jae.

Ayahnya sendiri.

Soo-yeon berdiri kaku di ambang pintu. Wajahnya pucat, sementara Tae-hyun menatap nama itu berkali-kali, seolah berharap huruf-huruf di atas kertas akan berubah jika dia menunggu cukup lama.

“Apa hubungan ayahku dengan semua ini?”

Soo-yeon tidak menjawab.

Tae-hyun mengangkat laporan medis berikutnya. Tiga tahun lalu, Soo-yeon pernah dibawa ke sebuah rumah sakit swasta di Seoul dalam kondisi tidak sadar. Tulang rusuknya retak, pergelangan tangan kirinya cedera, dan terdapat memar lama maupun baru di tubuhnya.

Namun penyebab luka dalam laporan resmi tertulis jatuh dari tangga.

Di bawahnya terdapat catatan tulisan tangan seorang dokter.

Pasien mengaku mengalami kekerasan berulang oleh suami. Pihak keluarga meminta seluruh dokumentasi dihentikan. Kang Seung-jae hadir secara langsung.

Tae-hyun menutup map itu perlahan.

“Kenapa ayahku ada di rumah sakit saat kau terluka?”

Soo-yeon akhirnya masuk dan menutup pintu.

“Karena waktu itu Park Joon-ho bukan sekadar wakil presiden Mirae Logistics.”

“Apa maksudmu?”

“Dia bekerja untuk ayahmu.”

Ruangan mendadak terasa dingin.

Soo-yeon duduk, tetapi tangannya terus gemetar.

Tiga tahun sebelumnya, Park Joon-ho sedang mengurus kontrak distribusi internasional antara Mirae Logistics dan beberapa anak perusahaan Kangwon Group. Dari luar, kerja sama itu terlihat sah.

Sampai suatu malam Soo-yeon menemukan sebuah ponsel lama milik suaminya.

Di dalamnya terdapat rekaman percakapan.

Joon-ho dan beberapa eksekutif membicarakan perusahaan fiktif, pembayaran ilegal, serta pengalihan dana dalam jumlah besar. Nama Kang Seung-jae disebut berkali-kali.

“Aku tidak memahami bisnis,” kata Soo-yeon. “Tapi aku cukup memahami ketakutan di wajah Joon-ho ketika dia tahu aku mendengar rekaman itu.”

Malam itu menjadi pertama kalinya Joon-ho memukulnya.

Setelahnya selalu ada permintaan maaf.

Bunga.

Perhiasan.

Tangisan.

Janji bahwa hal itu tidak akan terulang.

Lalu kekerasan berikutnya menjadi semakin parah.

“Aku mencoba pergi tiga kali.”

“Kenapa tidak melapor?”

Soo-yeon tertawa kecil, pahit.

“Aku melapor.”

Tae-hyun terdiam.

“Dua kali.”

Laporan pertama menghilang.

Pada laporan kedua, seorang pengacara mendatanginya sebelum polisi sempat memproses kasus tersebut.

Pengacara itu mengatakan bahwa melawan keluarga Park dan Kangwon Group hanya akan menghancurkan hidupnya.

“Aku pikir itu ancaman kosong.”

Soo-yeon menatap Tae-hyun.

“Sampai ayahku kehilangan pekerjaannya dua hari kemudian.”

Tae-hyun mengepalkan tangan.

“Ibuku tiba-tiba diperiksa pajak. Adikku ditolak perusahaan tempat dia sudah diterima bekerja. Saat itulah aku mengerti mereka bisa menyentuh siapa saja.”

“Dan rumah sakit?”

“Itu malam terakhir.”

Soo-yeon menarik napas panjang.

Joon-ho mengetahui bahwa Soo-yeon telah menyalin rekaman dari ponselnya.

Pertengkaran terjadi.

Soo-yeon hanya mengingat suara pecahan kaca, tangannya ditarik, lalu tubuhnya terjatuh.

Ketika sadar, dia sudah berada di rumah sakit.

Dan Kang Seung-jae duduk di samping tempat tidurnya.

Bukan Joon-ho.

Ayah Tae-hyun.

“Dia memberiku dua pilihan,” bisik Soo-yeon. “Menandatangani perceraian, menyerahkan semua bukti dan menerima uang. Atau keluargaku ikut tenggelam.”

Tae-hyun berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Min-seok.”

Penyelidik itu langsung menatapnya.

“Cari ayahku.”

Soo-yeon bangkit.

“Jangan.”

Tae-hyun menoleh.

“Kenapa?”

“Karena kalau dia tahu dokumen ini masih ada, orang yang menyimpannya akan berada dalam bahaya.”

Tae-hyun berhenti.

“Siapa?”

Soo-yeon memandang laporan tersebut.

“Dokter yang merawatku.”

Namanya Dr. Yoon Hae-jin.

Dokter itulah yang diam-diam membuat salinan laporan sebelum rumah sakit menghapus data Soo-yeon.

Namun saat Min-seok menghubungi rumah sakit, mereka mendapat jawaban mengejutkan.

Dr. Yoon mengundurkan diri dua tahun lalu.

Tidak ada alamat baru.

Tidak ada nomor telepon aktif.

Seolah perempuan itu menghilang.

Tae-hyun segera memerintahkan timnya mencari.

Sementara itu, Soo-yeon kembali ke kamar.

Namun sebelum dia pergi, Tae-hyun memanggilnya.

“Soo-yeon.”

Perempuan itu menoleh.

“Kenapa kau mau menikah denganku kalau kau tahu keluargaku terlibat?”

Pertanyaan itu membuatnya terdiam cukup lama.

“Karena kakekmu yang datang menemuiku.”

Tae-hyun membeku.

“Kakek?”

“Dia bilang hanya ada satu tempat di Seoul yang membuat Joon-ho tidak berani menyentuhku lagi.”

Soo-yeon menatapnya lurus.

“Di sampingmu.”

Untuk pertama kalinya, Tae-hyun menyadari pernikahan mereka mungkin tidak pernah sesederhana kontrak bisnis.

Pukul sepuluh pagi, dia pergi menemui kakeknya, Kang Do-won, di kantor pusat Kangwon Group.

Pria tua itu tidak terlihat terkejut ketika Tae-hyun melemparkan salinan laporan medis ke meja.

“Kau sudah menemukannya.”

Tae-hyun menahan amarah.

“Kakek tahu?”

“Aku tahu sebagian.”

“Dan Kakek tetap menyuruhku menikahinya?”

“Aku menyelamatkan perempuan itu.”

“Dengan menjadikannya istriku?”

Kang Do-won berdiri perlahan.

“Ayahmu mengetahui seseorang masih memiliki bukti. Park Joon-ho mulai mencarinya lagi. Kalau Soo-yeon tetap sendirian, cepat atau lambat mereka akan menemukannya.”

“Kenapa tidak melapor ke polisi?”

“Karena tanpa rekaman asli, kita hanya memiliki laporan medis yang bisa mereka sebut palsu.”

Tae-hyun menatap kakeknya tajam.

“Di mana rekamannya?”

“Aku tidak tahu.”

Saat itulah ponsel Tae-hyun berdering.

Min-seok.

“Pak Kang, kami menemukan Dr. Yoon.”

“Di mana?”

“Busan.”

“Bawa dia ke Seoul.”

Suara Min-seok berubah.

“Ada masalah. Seseorang sudah mendatanginya pagi ini.”

Tae-hyun langsung keluar.

Beberapa jam kemudian, sebuah mobil membawa Dr. Yoon ke rumah aman milik keluarga Kang.

Perempuan berusia lima puluhan itu terlihat lelah.

Begitu melihat Soo-yeon, matanya memerah.

“Kau masih hidup dengan baik.”

Soo-yeon memeluknya tanpa berkata-kata.

Dr. Yoon kemudian mengeluarkan sebuah kunci kecil dari kalungnya.

“Aku menyimpan ini selama tiga tahun.”

Kunci itu membuka kotak penyimpanan bank.

Di dalamnya bukan hanya terdapat salinan laporan medis.

Ada sebuah USB.

Soo-yeon menutup mulut ketika melihatnya.

“Aku pikir rekamannya sudah dihancurkan.”

Dr. Yoon menggeleng.

“Kau memberikannya kepadaku malam sebelum masuk rumah sakit.”

Mereka memutar isi USB.

Suara Park Joon-ho terdengar jelas.

Kemudian suara lain muncul.

Kang Seung-jae.

Tae-hyun tidak bergerak.

Ayahnya membicarakan pengiriman barang melalui pelabuhan, perusahaan cangkang, dan dana yang dialihkan ke rekening luar negeri.

Namun rekaman terakhir jauh lebih mengerikan.

Suara Joon-ho terdengar marah.

“Bagaimana dengan Soo-yeon?”

Lalu suara Kang Seung-jae menjawab dingin.

“Pastikan dia tidak pernah bicara.”

Ruangan membeku.

Soo-yeon mulai gemetar.

Tae-hyun mematikan rekaman.

“Aku akan mengakhirinya.”

Malam itu Kang Seung-jae datang ke kediaman keluarga Kang tanpa diundang.

Di belakangnya ada Park Joon-ho.

Begitu melihat mantan suaminya, tubuh Soo-yeon refleks mundur.

Joon-ho tersenyum seperti pria yang selama bertahun-tahun dipuja media.

“Soo-yeon.”

Tae-hyun langsung berdiri di depannya.

“Jangan panggil namanya.”

Joon-ho tertawa.

“Kau pikir kau mengenalnya?”

“Aku cukup mengenalnya untuk tahu dia takut kepadamu.”

Kang Seung-jae membanting sebuah dokumen ke meja.

“Serahkan USB itu.”

Tae-hyun memandang ayahnya.

“Jadi benar.”

“Tae-hyun, kau tidak memahami apa yang sedang kau lakukan.”

“Justru sekarang aku mengerti.”

Ayahnya mendekat.

“Perusahaan ini dibangun dengan keputusan-keputusan yang tidak selalu bersih. Kau pikir kekuasaan keluarga kita datang dari moralitas?”

“Tidak.”

Tae-hyun menatapnya tanpa berkedip.

“Tapi aku juga tidak menyangka kekuasaan kita dibangun dengan menghancurkan perempuan yang tidak bersalah.”

Joon-ho tiba-tiba kehilangan kesabarannya.

“Soo-yeon mencuri sesuatu yang bukan miliknya.”

Soo-yeon yang sejak tadi diam akhirnya melangkah maju.

“Dan kau hampir membunuhku untuk mendapatkannya kembali.”

Joon-ho terdiam.

Untuk pertama kalinya, wajah sempurna yang selama ini diperlihatkannya kepada publik retak.

“Kau seharusnya tetap diam.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Kang Seung-jae langsung menoleh kepadanya.

Terlambat.

Tae-hyun tersenyum tipis.

Pintu ruang tamu terbuka.

Min-seok masuk bersama dua pengacara.

Dan di meja, sebuah lampu kecil pada perangkat perekam menyala.

Merah.

Seluruh percakapan direkam.

Wajah Joon-ho berubah pucat.

Namun Tae-hyun belum selesai.

“USB itu sudah dikirim ke kejaksaan dua puluh menit lalu.”

Kang Seung-jae menatap putranya dengan tidak percaya.

“Kau menghancurkan keluargamu sendiri.”

Tae-hyun menggeleng.

“Tidak.”

Dia menatap Soo-yeon.

“Aku hanya berhenti melindungi orang yang menghancurkan orang lain atas nama keluarga.”

Penyelidikan yang muncul setelah malam itu mengguncang dunia bisnis Korea.

Park Joon-ho diperiksa atas dugaan kekerasan dalam rumah tangga, intimidasi saksi, manipulasi bukti, dan keterlibatan dalam transaksi ilegal.

Kang Seung-jae mengundurkan diri dari seluruh jabatan di Kangwon Group sebelum akhirnya ikut diperiksa.

Beberapa pejabat perusahaan juga terseret.

Media yang dahulu memuji Joon-ho mulai mempertanyakan bagaimana citra sempurna seorang pria bisa menyembunyikan kekerasan selama bertahun-tahun.

Namun Soo-yeon tidak pernah memberikan wawancara.

Dia hanya ingin hidup.

Beberapa bulan kemudian, kontrak pernikahannya dengan Tae-hyun hampir berakhir.

Suatu malam Soo-yeon meletakkan dokumen perceraian di meja.

Tae-hyun membacanya.

“Kau ingin pergi?”

“Aku sudah tidak membutuhkan perlindungan.”

Tae-hyun terdiam.

Soo-yeon tersenyum kecil.

“Bukankah itu tujuan pernikahan ini?”

Tae-hyun mengambil pena.

Namun dia tidak menandatangani.

Sebaliknya, dia merobek dokumen itu menjadi dua.

Soo-yeon membelalak.

“Apa yang kau lakukan?”

“Kontrak pertama kita dibuat karena kita sama-sama membutuhkan sesuatu.”

Dia menatapnya.

“Kalau kita membuat keputusan kedua, aku tidak mau ada kontrak.”

Soo-yeon terdiam.

Tae-hyun menarik napas.

“Aku tidak akan memintamu tinggal karena merasa berutang kepadaku. Dan aku tidak akan berjanji bisa menghapus masa lalumu.”

Dia berhenti sejenak.

“Tapi kalau kau ingin pergi, pergilah karena kau memang tidak ingin bersamaku. Bukan karena kau merasa harus berhenti membutuhkan seseorang.”

Mata Soo-yeon perlahan dipenuhi air mata.

Malam itu dia tidak memberikan jawaban.

Namun pukul empat pagi, Tae-hyun kembali terbangun.

Soo-yeon sedang tidur di sampingnya.

Tubuhnya bergerak kecil.

Tae-hyun menahan napas, takut mimpi buruk itu kembali.

Kemudian dia mendengar bisikan.

Sangat pelan.

“Tae-hyun…”

Dia menatapnya.

Soo-yeon tidak menangis.

Tidak meminta maaf.

Tidak memohon agar seseorang berhenti memukulnya.

Dalam tidurnya, tangannya justru bergerak mencari tangan Tae-hyun.

Ketika jari mereka bersentuhan, tubuhnya kembali tenang.

Tae-hyun tidak membangunkannya.

Dia hanya menggenggam tangannya.

Saat itulah dia melihat sesuatu di meja samping tempat tidur.

Dokumen perceraian baru.

Masih kosong.

Di atasnya terdapat sebuah catatan kecil dari Soo-yeon.

Aku akan menandatanganinya kalau suatu hari aku benar-benar ingin pergi. Tapi bukan hari ini.

Tae-hyun tersenyum untuk pertama kalinya tanpa memikirkan perusahaan, saham, media, atau nama keluarga Kang.

Dia akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan dunia tempatnya dibesarkan.

Kekuasaan terbesar bukanlah kemampuan membuat orang lain takut kepadamu.

Melainkan kemampuan membuat seseorang yang pernah hidup dalam ketakutan akhirnya merasa aman ketika berada di dekatmu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang