Suamiku menggenggam tanganku, menatap mataku dalam-dalam, lalu berbisik, “Kamulah satu-satunya wanita yang akan kucintai seumur hidupku.”

Air laut yang membeku menghantam tubuhku seperti ribuan pisau.

Aku tenggelam beberapa meter sebelum refleks tubuhku kembali bekerja. Gaun panjang yang kupakai terasa semakin berat karena menyerap air, sementara napasku nyaris habis. Perutku terasa nyeri. Dalam kepanikan, tanganku meraba bagian pinggang dan menemukan perangkat kecil yang sudah kupasang sebelum naik ke kapal.

Aku menarik tuasnya.

Dalam hitungan detik, kantong udara darurat mengembang di balik pakaianku dan mendorong tubuhku perlahan ke permukaan.

Begitu kepalaku keluar dari air, aku langsung terbatuk hebat.

Di kejauhan, lampu yacht semakin mengecil.

Ji-hoon benar-benar meninggalkanku.

Tidak ada tali penyelamat.

Tidak ada panggilan bantuan.

Tidak ada keraguan.

Dia benar-benar ingin aku mati.

Aku menggigit bibir menahan gemetar, lalu menekan tombol pada gelang hitam tipis di pergelangan tanganku.

Sinyal darurat terkirim.

Tiga kali.

Itu adalah kode yang hanya diketahui oleh pengacara keluargaku dan kepala keamanan pribadi ayahku.

Kode bahwa ancaman yang selama ini kami persiapkan akhirnya terjadi.

Aku tidak tahu berapa lama aku bertahan di laut. Mungkin dua puluh menit. Mungkin hampir satu jam.

Waktu terasa tidak masuk akal ketika tubuhmu membeku dan kau sedang berusaha melindungi anak yang belum lahir di dalam rahimmu.

Yang kupikirkan hanya satu.

Bertahan.

Bukan demi perusahaan.

Bukan demi uang.

Bukan demi balas dendam.

Demi anakku.

Suara mesin akhirnya terdengar dari kejauhan.

Sebuah kapal penjaga pantai mendekat bersama satu speedboat kecil.

Aku hampir kehilangan kesadaran ketika dua orang menarikku naik.

“Nona, dengar saya?”

Aku ingin menjawab, tetapi bibirku tidak bisa bergerak.

Seseorang menyelimuti tubuhku.

Orang lain berkata, “Denyutnya lemah. Dia hamil. Cepat, kita bawa ke rumah sakit.”

Sebelum mataku terpejam, aku melihat layar ponsel salah satu petugas.

Lokasi kami bukan lagi dekat Jeju.

Semua telah berubah.

Ketika aku bangun, cahaya putih menyilaukan mataku.

Bau obat memenuhi ruangan.

Aku mencoba bergerak, tetapi seorang dokter segera mendekat.

“Jangan bangun dulu.”

Tanganku langsung menyentuh perut.

“Anak saya?”

Dokter diam sesaat.

Jantungku berhenti.

“Janinnya masih hidup.”

Aku menutup mata.

Air mata mengalir ke pelipis.

“Tapi Anda harus benar-benar istirahat. Suhu tubuh Anda turun drastis. Ada kontraksi, tapi untuk sementara kondisinya terkendali.”

Pintu kamar terbuka.

Ayahku masuk.

Han Seok-jin, pria yang dikenal para wartawan sebagai pendiri korporasi tanpa belas kasihan, terlihat dua puluh tahun lebih tua dalam satu malam.

Dia berhenti beberapa langkah dari ranjang.

Tatapan kami bertemu.

“Ayah.”

Rahangnya mengeras.

“Kenapa kamu tidak bilang sampai sejauh ini?”

“Aku takut kalau terlalu banyak orang tahu, rencananya bocor.”

Dia tidak memarahiku.

Itu justru lebih menyakitkan.

Ayah duduk di samping ranjang, lalu memegang tanganku.

“Kalau terlambat sepuluh menit saja, aku kehilangan kamu.”

“Aku tahu.”

“Dan cucuku.”

Aku menunduk.

“Aku tahu.”

Beberapa menit kemudian, pengacara keluarga masuk membawa tablet.

Namanya Lee Min-jae. Selama lebih dari dua puluh tahun dia bekerja untuk keluarga Han. Dia tidak pernah datang dengan ekspresi panik.

Malam itu, wajahnya terlihat serius.

“Sinyal berhasil mengaktifkan seluruh protokol.”

“Apa yang terjadi pada Ji-hoon?”

“Dia sudah kembali ke daratan.”

“Lalu?”

“Dia mengaku Anda terpeleset.”

Aku tertawa pendek.

Rasanya pahit.

“Tentu saja.”

Min-jae membuka sebuah rekaman suara.

Suara Ji-hoon terdengar jelas.

“Maafkan aku.”

Kemudian suara cipratan besar.

Lalu beberapa detik kemudian.

“Seharusnya dia memercayaiku.”

Ayahku berdiri mendadak.

“Aku akan hancurkan dia sekarang juga.”

“Tidak.”

Ayah menatapku.

“Seo-yeon.”

“Belum.”

“Apa lagi yang kamu tunggu?”

“Aku ingin tahu siapa yang membantunya.”

Ruangan menjadi hening.

Aku menatap Min-jae.

“Ji-hoon bukan orang yang cukup pintar untuk menyusun semua dokumen itu sendirian.”

Min-jae mengangguk perlahan.

“Ada hal lain yang ingin saya tunjukkan.”

Dia membuka catatan transaksi.

Selama enam bulan terakhir, sejumlah uang dikirim ke rekening Ji-hoon dari sebuah perusahaan konsultan kecil.

Nama perusahaan itu asing.

Namun ketika Min-jae membuka struktur kepemilikannya, napasku tertahan.

Pemilik sebenarnya adalah seseorang yang sangat kukenal.

Han Min-kyu.

Sepupuku.

Putra paman tertua ayahku.

Orang yang selama bertahun-tahun mengincar posisi CEO Hanseong Future Group.

Ayah membeku.

“Min-kyu?”

Aku tidak terkejut.

Justru semuanya mulai masuk akal.

Ji-hoon memang mengincar harta.

Tapi Min-kyu mengincar sesuatu yang jauh lebih besar.

Kendali perusahaan.

Jika aku meninggal, saham milikku akan masuk ke struktur warisan yang rumit. Ji-hoon mungkin mendapat sebagian aset pribadi, tetapi konflik internal keluarga bisa membuka jalan bagi Min-kyu merebut suara mayoritas di dewan direksi.

Satu kematian.

Dua orang mendapat keuntungan.

Malam itu, kami membuat keputusan.

Dunia tidak boleh tahu aku masih hidup.

Setidaknya belum.

Keesokan paginya, media Korea mulai memberitakan hilangnya Han Seo-yeon dalam kecelakaan laut.

Dalam waktu beberapa jam, nilai saham Hanseong Future Group turun.

Ji-hoon muncul di depan wartawan dengan wajah pucat dan mata merah.

Dia mengenakan pakaian hitam.

Dengan suara bergetar, dia berkata, “Saya masih berharap istri saya ditemukan.”

Aku menonton siaran itu dari kamar rumah sakit.

Bahkan aktingnya nyaris sempurna.

Dia menangis.

Dia memegang foto pernikahan kami.

Dia meminta masyarakat berdoa.

Lalu dia berkata, “Seo-yeon adalah cinta terbesar dalam hidup saya.”

Aku mematikan televisi.

Tiga hari kemudian, pencarian resmi dihentikan.

Aku dinyatakan hilang dan diduga meninggal.

Saat itulah Ji-hoon mulai bergerak.

Dia menghubungi perusahaan asuransi.

Mengajukan akses ke aset.

Meminta penjelasan mengenai saham.

Dan yang paling menarik, dia mulai bertemu Min-kyu secara diam-diam.

Mereka mengira tidak ada yang mengawasi.

Padahal kepala keamanan ayahku mengikuti setiap langkah mereka.

Di sebuah hotel di Jakarta, Min-kyu menemui Ji-hoon.

Kami sengaja membiarkan mereka bepergian keluar negeri agar merasa aman.

Rekaman dari seorang penyelidik pribadi menangkap percakapan mereka di lounge pribadi.

“Kamu bilang semuanya akan mudah,” kata Ji-hoon.

Min-kyu menjawab dingin, “Kalau kamu tidak panik, memang akan mudah.”

“Aku sudah melakukan bagianku.”

“Belum. Kamu harus memastikan keluarga Han tidak menggugat status kematiannya.”

“Aku mau uangku dulu.”

“Setelah rapat pemegang saham.”

Ji-hoon menatapnya marah.

“Aku bukan bawahanmu.”

Min-kyu tersenyum.

“Tanpa aku, kamu masih suami miskin yang numpang nama Han.”

Aku menonton rekaman itu tanpa berkedip.

Akhirnya Ji-hoon menunjukkan wajah aslinya bahkan kepada orang yang membantunya.

Serakah.

Mudah tersulut.

Dan terlalu yakin dirinya lebih pintar dari semua orang.

Dua minggu kemudian, Hanseong Future Group mengumumkan rapat luar biasa pemegang saham di Jakarta karena salah satu kantor regional utama perusahaan berada di sana.

Min-kyu mengajukan diri sebagai calon CEO sementara.

Ji-hoon hadir sebagai suami mendiang pewaris.

Mereka pikir kemenangan tinggal selangkah lagi.

Ruang konferensi hotel dipenuhi anggota dewan, pengacara, pemegang saham besar, dan wartawan bisnis.

Min-kyu berdiri di podium.

“Dalam situasi tragis seperti ini, perusahaan membutuhkan kepemimpinan yang stabil.”

Ji-hoon duduk di barisan depan.

Aku berada di ruangan sebelah.

Mengenakan setelan putih sederhana.

Tanganku sedikit gemetar.

Bukan karena takut.

Karena selama berbulan-bulan aku menahan semuanya.

Cinta yang berubah menjadi jijik.

Kepercayaan yang berubah menjadi bukti.

Dan rasa kehilangan terhadap pria yang ternyata tidak pernah benar-benar ada.

Min-jae menatapku.

“Sudah siap?”

Aku menarik napas.

“Buka pintunya.”

Pintu ruang konferensi terbuka.

Suara sepatu hakku terdengar jelas di lantai marmer.

Awalnya tidak ada yang memahami apa yang terjadi.

Kemudian seorang wanita menjerit kecil.

Ji-hoon menoleh.

Wajahnya langsung kehilangan warna.

Min-kyu berhenti bicara di tengah kalimat.

Aku berjalan perlahan menuju podium.

“Maaf saya terlambat.”

Ruangan meledak dalam suara.

Kamera berputar ke arahku.

Wartawan berdiri.

Ji-hoon bangkit sampai kursinya jatuh.

“Seo-yeon?”

Aku menatapnya.

“Kenapa wajahmu begitu terkejut?”

Dia membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.

“Aku kira kamu akan bahagia melihat istrimu masih hidup.”

“Ini… ini tidak mungkin.”

“Memang.”

Aku berjalan semakin dekat.

“Menurut rencanamu, seharusnya aku sudah berada di dasar laut.”

Min-kyu mencoba meninggalkan ruangan.

Dua petugas kepolisian Indonesia yang telah berkoordinasi dengan penyidik Korea berdiri di depan pintu.

Dia berhenti.

Min-jae menyalakan layar besar.

Rekaman dari yacht diputar.

Semua orang mendengar suara Ji-hoon.

“Maafkan aku.”

Kemudian suara dorongan.

Kemudian kalimat terakhirnya.

“Seharusnya dia memercayaiku.”

Ji-hoon gemetar.

“Itu bisa dimanipulasi.”

Lalu rekaman pertemuannya dengan Min-kyu diputar.

Kali ini tidak ada yang berbicara.

Ketika rekaman selesai, aku berdiri tepat di depan suamiku.

“Apa kamu ingat malam ketika kamu bilang aku satu-satunya wanita yang akan kamu cintai?”

Matanya memerah.

“Seo-yeon, dengarkan aku.”

“Sepuluh menit kemudian kamu mendorongku ke laut.”

“Aku tertekan. Min-kyu memanipulasiku.”

Min-kyu berteriak, “Jangan bawa namaku!”

Aku hampir tertawa.

Begitu cepat pengkhianat mengkhianati pengkhianat lainnya.

Ji-hoon mencoba mendekat.

“Seo-yeon, kita punya anak. Kita bisa memperbaiki semuanya.”

Aku mundur satu langkah.

Untuk pertama kalinya, kata-katanya tidak melukaiku.

Aku hanya merasa kasihan.

Bukan pada dirinya.

Pada diriku yang dulu.

Pada wanita yang pernah percaya cinta bisa membuat seseorang menjadi baik.

“Anak ini,” kataku sambil menyentuh perut, “adalah alasan aku tidak mati malam itu.”

Ji-hoon menatap perutku.

“Dia anakku.”

Aku menatapnya lama.

“Secara biologis, mungkin.”

Wajahnya menegang.

“Tapi seorang ayah tidak mencoba membunuh ibu anaknya demi warisan.”

Petugas membawa Ji-hoon dan Min-kyu keluar.

Saat melewatiku, Ji-hoon berhenti.

“Apa kamu pernah benar-benar mencintaiku?”

Pertanyaan itu justru membuat dadaku sesak.

“Aku pernah.”

Dia terlihat seolah masih berharap.

Lalu aku melanjutkan.

“Itulah bagian yang paling sulit kumaafkan dari diriku sendiri.”

Beberapa bulan kemudian, pengadilan memulai proses panjang terhadap mereka.

Skandal itu menghancurkan reputasi Min-kyu. Ji-hoon kehilangan seluruh hak atas asetku berdasarkan klausul perlindungan yang telah aktif sebelum percobaan pembunuhan terjadi.

Namun hidupku tidak langsung kembali normal.

Selama berbulan-bulan, aku terbangun di malam hari karena mimpi tentang air gelap.

Aku tidak bisa berdiri di balkon terlalu lama.

Aku tidak bisa mendengar suara ombak tanpa merasa sesak.

Orang-orang mengira kemenangan berarti rasa sakit menghilang.

Mereka salah.

Kemenangan hanya berarti orang yang menyakitimu tidak lagi memegang kendali atas hidupmu.

Beberapa bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan.

Aku menamainya Han Ji-a.

Ketika pertama kali memeluknya, ayahku berdiri di samping ranjang sambil menangis tanpa suara.

Aku menatap wajah kecil putriku.

Saat itu aku memahami sesuatu.

Selama ini aku mengira aku sedang mempersiapkan diri menghadapi pengkhianatan.

Ternyata bukan itu yang membuatku bertahan.

Bukan dokumen hukum.

Bukan perusahaan.

Bukan uang.

Bahkan bukan rencana balas dendam.

Aku bertahan karena ketika seseorang mencoba mengambil seluruh masa depanku, aku akhirnya menyadari bahwa masa depan itu bukanlah sesuatu yang diwariskan oleh keluarga Han.

Masa depan adalah sesuatu yang kupilih sendiri.

Setahun kemudian, di ruang rapat Hanseong Future Group, seorang reporter bertanya kepadaku,

“Setelah semua yang terjadi, apakah Anda masih percaya pada cinta?”

Aku diam cukup lama.

Kemudian aku tersenyum.

“Ya.”

Semua orang terkejut.

Aku melanjutkan.

“Hanya saja sekarang saya tahu, cinta yang sehat tidak meminta kita menutup mata terhadap tanda bahaya.”

Aku menatap kota Jakarta dari jendela tinggi di belakangku.

“Dan orang yang benar-benar mencintai kita tidak akan pernah meminta kita menyerahkan naluri, harga diri, atau keselamatan hanya untuk membuktikan kepercayaan.”

Di meja kerjaku ada satu foto.

Bukan foto pernikahanku.

Bukan foto keluarga besar Han.

Melainkan foto aku sedang menggendong Ji-a di tepi pantai.

Kami berdiri cukup jauh dari air.

Hari itu adalah pertama kalinya aku kembali melihat laut sejak malam Ji-hoon mencoba membunuhku.

Aku masih takut.

Namun aku tetap datang.

Karena aku tidak ingin laut menjadi miliknya.

Aku tidak ingin rasa takut menjadi warisannya.

Dan aku tidak ingin pengkhianatan menjadi akhir dari ceritaku.

Kang Ji-hoon pernah mengira dengan mendorongku ke laut, dia sedang menghapus seorang wanita dari dunia.

Yang sebenarnya dia lakukan adalah membunuh satu-satunya bagian dalam diriku yang masih percaya bahwa cinta harus membuat seseorang buta.

Wanita yang keluar dari laut malam itu bukan lagi istri yang dia kenal.

Dia adalah seorang ibu.

Seorang pemimpin.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seorang wanita yang akhirnya memahami bahwa kekuatan terbesar bukanlah memiliki segalanya.

Melainkan mengetahui kapan harus berhenti memberikan kepercayaan kepada orang yang tidak pantas memilikinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang