Tiga hari setelah melahirkan, suamiku meninggalkanku bersama putra kami yang baru lahir di trotoar Seoul yang diguyur hujan—lalu pergi untuk merayakan ulang tahun ibunya.

Tiga hari setelah melahirkan, aku berdiri di bawah kanopi rumah sakit sambil memeluk putraku yang menggigil dalam balutan selimut tipis. Hujan Jakarta turun seperti ditumpahkan dari langit, memantul di aspal dan membasahi ujung gaun rumah sakit yang masih kukenakan.

Mobil hitam milik suamiku sudah menghilang di tikungan.

Tae-hyun pergi tanpa menoleh.

Dia meninggalkanku dengan satu koper, tas bayi, dan rasa sakit dari luka operasi yang bahkan belum sempat mengering.

Di layar ponselku masih terpampang pesannya.

Jangan datang ke pesta ulang tahun Ibu.

Lalu pesan berikutnya.

Jangan gunakan kartu keluarga lagi.

Aku menatap dua kalimat itu cukup lama sampai air hujan yang tertiup angin bercampur dengan air mataku.

Putraku, Ji-ho, bergerak kecil dalam pelukanku.

Saat itulah aku menelepon seseorang yang selama tiga tahun sengaja kusembunyikan dari kehidupan pernikahanku.

Ayahku.

Han Seong-min.

Pria yang Tae-hyun kira telah meninggal dua belas tahun lalu.

Padahal kenyataannya, ayahku adalah pemegang saham pengendali Hanseong Group, konglomerasi yang menaungi perusahaan tempat Tae-hyun bekerja.

Perusahaan yang selama tiga tahun terakhir ingin dia kuasai.

“Bawa cucuku pulang,” kata Ayah melalui telepon.

“Ayah, bagaimana dengan Tae-hyun?”

Suara di seberang menjadi tenang.

Terlalu tenang.

“Biarkan dia menikmati malam ini.”

Kurang dari dua puluh menit kemudian, sebuah sedan hitam berhenti di depan rumah sakit.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun turun dengan payung besar.

Sekretaris Kim.

Dia sudah bekerja dengan ayahku sejak aku masih sekolah.

Begitu melihatku, wajahnya berubah.

“Nona.”

Matanya jatuh pada kakiku yang tanpa alas, lalu pada noda darah di bagian bawah gaunku.

Rahangnya mengeras.

“Siapa yang melakukan ini?”

Aku hanya menggeleng.

“Bawa aku ke rumah.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku kembali ke kediaman keluarga Han.

Rumah besar itu berada di kawasan elite Jakarta Selatan, tersembunyi di balik pagar tinggi dan pepohonan rindang.

Ketika mobil memasuki halaman, Ayah sudah berdiri di depan pintu.

Pria yang selama bertahun-tahun kukenal sebagai seseorang yang hampir tidak pernah menunjukkan emosi itu berlari menghampiriku.

Dia tidak menanyakan apa pun.

Tidak marah.

Tidak memaki Tae-hyun.

Dia hanya mengambil Ji-ho dari tanganku dengan sangat hati-hati.

Kemudian menatap wajah cucunya.

Tangannya gemetar.

“Dia mirip ibumu,” katanya pelan.

Aku menggigit bibir.

Ibuku meninggal ketika aku berusia dua puluh tahun.

Setelah itu hubunganku dengan Ayah memburuk.

Aku menganggapnya terlalu sibuk dengan perusahaan dan terlalu mengatur hidupku.

Ketika aku bertemu Tae-hyun, aku merasa untuk pertama kalinya ada seseorang yang melihatku bukan sebagai putri Chairman Han, melainkan sebagai Eun-seo.

Karena itulah aku merahasiakan identitasku.

Aku mengatakan kepada Tae-hyun bahwa ayahku sudah meninggal dan keluargaku tidak memiliki banyak harta.

Aku ingin memastikan dia menikahiku karena cinta.

Ironisnya, tiga tahun kemudian, justru kebohongan kecil itulah yang memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya.

Dokter pribadi keluarga datang malam itu.

Begitu memeriksa luka operasi, ekspresinya menjadi serius.

“Jahitannya terbuka sebagian. Anda seharusnya masih beristirahat di rumah sakit.”

Ayah menatapku.

“Dia memaksamu keluar?”

Aku diam.

Itu sudah cukup sebagai jawaban.

Ayah berjalan menuju jendela.

“Aku memberikan tiga kesempatan kepada Kang Tae-hyun.”

Aku mengernyit.

“Apa maksud Ayah?”

Dia berbalik.

“Tiga kali dia mencoba meminta dukungan investor untuk mengambil posisi direktur eksekutif.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Dan?”

“Semua proposalnya sampai ke mejaku.”

Aku terdiam.

Tae-hyun selalu bercerita bahwa promosi besar sedang menunggunya.

Dia yakin pemegang saham utama menyukai kinerjanya.

Aku tidak pernah tahu pemegang saham yang dimaksud adalah ayahku sendiri.

“Ayah tahu sejak awal dia suamiku?”

“Tentu.”

“Kenapa Ayah tidak memberitahuku?”

“Karena kamu meminta aku tidak ikut campur.”

Jawaban itu membuatku terdiam.

Ayah menatapku lama.

“Aku menghormati pilihanmu, Eun-seo. Tapi menghormati bukan berarti aku menutup mata.”

Dia lalu meletakkan sebuah map di meja.

Di dalamnya terdapat laporan transfer dana, dokumen perusahaan, dan beberapa salinan tanda tanganku.

Aku mengenali tanda tangan itu.

Namun bukan dokumennya.

“Apa ini?”

“Pinjaman perusahaan.”

Tanganku mulai dingin.

“Tidak mungkin.”

“Ada empat kontrak atas namamu sebagai penjamin.”

Aku membuka lembar demi lembar.

Nilainya fantastis.

Puluhan miliar rupiah.

“Aku tidak pernah menandatangani ini.”

Ayah tidak menjawab.

Lalu aku teringat.

Beberapa bulan sebelumnya, Tae-hyun pernah membawakan beberapa dokumen saat aku sedang hamil besar.

“Cuma dokumen asuransi,” katanya.

Aku menandatangani tanpa membaca semuanya.

Dadaku sesak.

“Dia memalsukan dokumen lain menggunakan tanda tanganku?”

“Tim hukum sedang memastikan.”

Aku menutup mata.

Ternyata pengkhianatan Tae-hyun tidak berhenti pada keluarganya.

Dia bahkan sedang mempersiapkan sesuatu jauh sebelum anak kami lahir.

Sementara itu, di sebuah ballroom hotel bintang lima di pusat Jakarta, keluarga Kang sedang merayakan ulang tahun Madam Kang.

Puluhan tamu hadir.

Meja penuh bunga dan hadiah mahal.

Madam Kang mengenakan gaun baru yang dibeli menggunakan kartu tambahan dari rekening bersama kami.

Tae-hyun berdiri di samping ibunya sambil menerima ucapan selamat dari para kolega.

“Sebentar lagi Tae-hyun akan menjadi direktur,” kata Madam Kang dengan bangga kepada para tamu.

Adik Tae-hyun, Soo-jin, tertawa.

“Kalau Kakak sudah naik jabatan, kita pindah saja ke rumah yang lebih besar.”

Tae-hyun tersenyum.

Malam itu seharusnya menjadi malam kemenangannya.

Sampai ponselnya berdering.

Direktur Park.

Atasannya.

“Tae-hyun, besok pagi datang ke kantor pusat.”

Nada suaranya aneh.

“Ada apa?”

“Rapat pemegang saham dipercepat.”

Tae-hyun tersenyum lebar.

Dia mengira promosi yang ditunggunya akhirnya datang.

Madam Kang bahkan mengangkat gelas.

“Akhirnya.”

Keesokan paginya, Tae-hyun mengenakan setelan terbaiknya.

Dia masuk ke ruang rapat lantai tiga puluh delapan dengan kepercayaan diri penuh.

Namun senyumnya perlahan lenyap.

Semua direktur sudah duduk.

Direktur Park tidak berani menatapnya.

Di ujung meja terdapat satu kursi kosong.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka.

Ayahku masuk.

Tae-hyun langsung berdiri.

“Chairman Han.”

Semua orang membungkuk.

Tae-hyun juga.

Dia pernah melihat Ayah beberapa kali dari jauh, tetapi belum pernah berbicara langsung dengannya.

Ayah duduk tanpa menjawab salamnya.

“Mulai.”

Tim audit membagikan dokumen.

Semakin lama Tae-hyun membaca, semakin pucat wajahnya.

Transfer ilegal.

Penggunaan dana proyek untuk kepentingan keluarga.

Pinjaman pribadi menggunakan dokumen perusahaan.

Dan empat kontrak dengan tanda tangan istrinya.

“Ini salah paham,” katanya cepat.

Ayah menatapnya.

“Yang mana?”

“Semua transaksi bisa saya jelaskan.”

“Silakan.”

Tae-hyun membuka mulut.

Tidak ada suara keluar.

Ayah kemudian mengeluarkan satu dokumen terakhir.

“Bagaimana dengan ini?”

Itu adalah formulir perubahan penerima manfaat polis asuransi.

Nama penerima sebelumnya adalah Ji-ho.

Nama barunya adalah Kang Mi-sook.

Ibunya.

Wajah Tae-hyun berubah.

“Saya bisa menjelaskan.”

Untuk pertama kalinya Ayah tersenyum.

Namun senyum itu tidak mengandung kehangatan sedikit pun.

“Aku harap begitu.”

Lalu pintu ruang rapat kembali terbuka.

Aku masuk.

Aku mengenakan pakaian sederhana, masih berjalan pelan karena luka operasi.

Tae-hyun menatapku seolah baru melihat hantu.

“Eun-seo?”

Aku berhenti beberapa meter darinya.

Dia menatapku, lalu Ayah.

Kemudian kembali menatapku.

“Kenapa kamu ada di sini?”

Ayah menjawab sebelum aku sempat berbicara.

“Karena putriku berhak hadir.”

Wajah Tae-hyun kehilangan seluruh warnanya.

“Putri?”

Tak seorang pun berbicara.

Aku bisa melihat kepanikan muncul di matanya.

“Chairman Han adalah…”

“Ayahku.”

Tae-hyun mundur satu langkah.

“Tidak mungkin.”

“Kamu bilang ayahmu sudah meninggal.”

“Aku memang mengatakan itu.”

“Kenapa?”

Aku menatap pria yang selama tiga tahun tidur di sebelahku.

“Karena aku ingin menikah dengan seseorang yang mencintaiku, bukan nama keluargaku.”

Dia segera mendekat.

“Eun-seo, dengarkan aku.”

Aku mundur.

“Jangan sentuh aku.”

“Aku marah kemarin. Itu kesalahan.”

“Kesalahan?”

Suaraku tetap tenang.

“Meninggalkan istrimu tiga hari setelah operasi di depan rumah sakit adalah kesalahan?”

Dia terdiam.

“Mengambil tas obat anakmu juga kesalahan?”

Wajah beberapa direktur berubah.

“Aku tidak tahu ada obat di sana.”

“Aku memberitahumu.”

Dia mulai panik.

“Aku sedang tertekan karena Ibu.”

Aku tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya alasan itu terdengar begitu menyedihkan.

“Selama tiga tahun, semua yang kamu lakukan selalu karena ibumu.”

Aku mengeluarkan cincin pernikahan dari jari.

Kemudian meletakkannya di meja.

“Kali ini hadapi akibatnya sendiri.”

Tae-hyun memandang Ayah.

“Chairman Han, saya meminta kesempatan.”

Ayah membuka map.

“Kamu sudah mendapatkannya.”

Kemudian dia menekan tombol di meja.

Dua petugas keamanan masuk bersama tim kepatuhan perusahaan.

Audit internal dilanjutkan.

Tae-hyun langsung dibebastugaskan.

Namun itu baru permulaan.

Ketika penyelidikan diperluas, ditemukan bahwa Madam Kang menggunakan perusahaan kecil miliknya untuk menerima dana dari beberapa proyek yang diatur Tae-hyun.

Soo-jin juga menerima pembayaran fiktif sebagai konsultan.

Keluarga yang selama ini menghinaku karena dianggap miskin ternyata hidup dari uang yang sebagian besar diperoleh melalui manipulasi Tae-hyun.

Malam itu Madam Kang meneleponku lebih dari tiga puluh kali.

Aku tidak menjawab.

Keesokan harinya dia datang ke kediaman Ayah.

Petugas keamanan menahannya di gerbang.

“Aku ibu mertuanya!”

Aku mendengar teriakannya dari dalam.

“Suruh Eun-seo keluar!”

Aku akhirnya menemui dia.

Bukan karena takut.

Aku hanya ingin semuanya selesai.

Madam Kang menatap rumah besar di belakangku dengan wajah campuran antara shock dan iri.

“Kamu menipu kami.”

Aku menatapnya.

“Bagaimana aku menipu kalian?”

“Kamu menyembunyikan bahwa keluargamu kaya.”

Aku hampir tidak percaya.

“Jadi kalau aku bukan anak orang kaya, perlakuan kalian kepadaku bisa dibenarkan?”

Dia membeku.

“Aku tidak bermaksud begitu.”

“Tapi itulah yang kamu lakukan.”

Dia meraih tanganku.

“Eun-seo, pikirkan Ji-ho. Seorang anak membutuhkan ayah.”

Aku melepaskan tangannya perlahan.

“Seorang anak lebih membutuhkan rumah yang aman.”

Dia tidak punya jawaban.

Enam bulan kemudian, perceraianku selesai.

Tae-hyun kehilangan posisinya di perusahaan dan menghadapi proses hukum atas pemalsuan serta penyalahgunaan dana.

Namun satu hal mengejutkan terjadi.

Ayah tidak mengambil semua yang dimiliki keluarga Kang.

Ketika kutanya alasannya, dia menjawab sederhana.

“Kalau aku menghancurkan mereka karena marah, aku tidak berbeda dengan mereka.”

Aku mulai memahami sesuatu yang bertahun-tahun tidak kupahami tentang ayahku.

Kekuatan bukan tentang seberapa keras seseorang membalas.

Kekuatan adalah kemampuan untuk berhenti ketika sebenarnya kita bisa menghancurkan.

Aku kembali bekerja, kali ini menggunakan namaku sendiri.

Bukan sebagai pewaris.

Bukan sebagai istri siapa pun.

Aku memimpin yayasan perusahaan yang membantu perempuan dan anak-anak yang mengalami kekerasan ekonomi dalam keluarga.

Suatu sore, hampir setahun setelah malam hujan itu, aku membawa Ji-ho berjalan di taman.

Dia sudah belajar berdiri sambil berpegangan pada bangku.

Ayah duduk tidak jauh dari kami sambil pura-pura membaca koran.

Ji-ho tiba-tiba melepaskan tangannya.

Satu langkah.

Dua langkah.

Kemudian jatuh ke pelukanku.

Aku tertawa.

Ayah juga tertawa.

Ponselku berbunyi.

Ada pesan dari nomor yang sudah lama tidak kusimpan.

Tae-hyun.

Aku dibebaskan sementara sambil menunggu sidang berikutnya. Aku hanya ingin melihat Ji-ho sekali.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu menatap anakku.

Dulu aku mungkin akan merasa bersalah.

Dulu aku mungkin akan memikirkan apa kata orang.

Namun sekarang aku tahu bahwa memaafkan seseorang tidak berarti memberinya kembali akses untuk melukai kita.

Aku mengetik balasan.

Jika pengadilan mengizinkan kunjungan yang aman, aku tidak akan menghalangi hubunganmu dengan Ji-ho. Tapi aku tidak akan pernah kembali menjadi istrimu.

Beberapa menit kemudian muncul balasan.

Aku mengerti.

Aku hampir menutup ponsel ketika satu pesan lagi masuk.

Eun-seo, dulu aku pikir aku kehilangan istri miskin yang tidak punya siapa-siapa. Ternyata malam itu aku kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintaiku saat aku belum punya apa-apa.

Aku menatap layar beberapa saat.

Kemudian mematikannya.

Tidak ada rasa puas.

Tidak ada kemenangan.

Hanya ketenangan.

Hujan ringan mulai turun.

Aku refleks memeluk Ji-ho lebih erat.

Untuk sesaat, aku teringat malam ketika aku berdiri di depan rumah sakit, berdarah, ketakutan, dan yakin hidupku sudah berakhir.

Ternyata malam itu bukan akhir.

Itu adalah awal.

Ayah datang membawa payung.

“Kalian bisa sakit kalau terus di sini.”

Aku tersenyum.

Kemudian berjalan bersamanya sambil menggendong Ji-ho.

Setahun sebelumnya, seseorang meninggalkanku di tengah hujan karena mengira aku tidak punya tempat untuk pulang.

Sekarang aku akhirnya memahami sesuatu.

Rumah tidak selalu berarti bangunan besar, rekening bank, atau nama keluarga.

Rumah adalah tempat di mana kita tidak perlu memohon agar dihargai.

Dan terkadang, kehilangan seseorang bukanlah hukuman terbesar dalam hidup.

Justru kehilangan itulah yang akhirnya menyelamatkan kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang