Air masih menetes dari rambutku ketika tiga mobil polisi berhenti di halaman kediaman keluarga Han.
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaanku, aku melihat ketakutan nyata di wajah kakakku.
Min-jae mundur satu langkah.
“Apa-apaan ini?”
Ayah langsung menoleh kepadaku. Senyum yang tadi muncul ketika aku tercebur ke kolam telah lenyap.
“Seo-yeon,” katanya pelan, “apa yang sudah kau lakukan?”
Aku masih kesulitan bernapas. Dadaku terasa terbakar, pinggangku nyeri, tetapi aku menatapnya tanpa mengalihkan pandangan.
“Aku berhenti menjadi anak yang patuh.”
Beberapa polisi turun dari kendaraan. Di belakang mereka muncul dua penyidik berpakaian sipil dan seorang jaksa perempuan.

Para direktur yang beberapa menit lalu menertawakanku mulai saling berbisik.
Min-jae menunjuk Dr. Kang.
“Siapa sebenarnya orang itu?”
Dr. Kang berdiri sambil memeras ujung kemejanya yang basah.
“Namaku Kang Ji-hoon. Dokter bedah ortopedi yang menangani Seo-yeon setelah kecelakaannya.”
Wajah ibu tiriku, Choi Mi-sook, langsung memucat.
Dr. Kang melanjutkan, “Dan selama tiga bulan terakhir, saya membantu penyelidikan mengenai penyebab cedera pasien saya.”
Ayah mendekati jaksa itu.
“Ini properti pribadi. Saya tidak mengizinkan kalian masuk.”
Jaksa tersebut mengeluarkan dokumen.
“Kami tidak membutuhkan izin Anda, Ketua Han. Kami memiliki surat perintah penggeledahan.”
Suasana pesta berubah seketika.
Sampanye tak lagi disentuh. Para pelayan berdiri kebingungan. Beberapa direktur mencoba meninggalkan taman, tetapi polisi menutup pintu keluar.
Aku memperhatikan semuanya dari lantai kolam.
Setahun.
Aku menunggu momen ini selama setahun.
Dr. Kang membungkuk di sampingku.
“Seo-yeon, aku harus memeriksa punggungmu.”
“Aku baik-baik saja.”
“Kau baru saja jatuh ke kolam.”
“Ji-hoon.”
Dia berhenti.
“Tolong bantu aku duduk.”
Dia tahu tatapan itu. Tatapan yang sama ketika aku memaksanya membiarkanku mencoba berdiri pertama kali setelah operasi.
Dengan sangat hati-hati, dia membantuku kembali ke kursi roda yang sudah diangkat dari kolam.
Min-jae tertawa gugup.
“Jadi ini rencanamu? Membawa polisi ke pesta keluarga karena aku bercanda sedikit?”
Aku menatapnya.
“Bercanda?”
“Kau tidak tenggelam.”
“Karena seseorang menyelamatkanku.”
Min-jae menoleh kepada para direktur.
“Kalian melihat sendiri. Dia memang tidak stabil.”
Beberapa orang menunduk.
Tak ada lagi yang tertawa.
Aku mengeluarkan ponsel dari tas tahan air yang terpasang di bawah kursi roda.
“Aku berharap kau mengatakan itu.”
Aku menekan layar.
Suara Min-jae terdengar melalui pengeras suara taman.
“Kau seharusnya bersyukur. Kau masih punya tempat di keluarga ini hanya karena Ayah mengizinkannya.”
Kemudian suaraku.
“Kau takut pada apa yang kuketahui.”
Beberapa detik kemudian terdengar bisikannya.
“Biar semua orang melihat betapa berbahayanya kondisimu sebenarnya.”
Lalu suara roda bergerak.
Suara tubuhku tercebur ke air.
Min-jae membeku.
Aku memandang seluruh direksi.
“Semua yang terjadi hari ini direkam.”
Ayah menatapku tajam.
“Matikan itu.”
“Kenapa?”
“Karena ini masalah keluarga.”
Aku hampir tertawa.
“Ketika rem mobilku dirusak, itu masalah keluarga?”
Wajahnya berubah.
“Ketika laporan inspeksi gedung dipalsukan, itu masalah keluarga?”
Tidak ada jawaban.
“Ketika uang perusahaan dialihkan ke rekening rahasia, apakah itu juga masalah keluarga?”
Min-jae tiba-tiba menerjang ke arahku.
“Diam!”
Dua polisi langsung menahannya.
“Lepaskan aku!”
Dia meronta.
“Perempuan gila itu mencoba menghancurkan keluarga kita!”
Aku menatapnya lama.
“Tidak, Kak. Kalian sudah menghancurkannya sendiri.”
Polisi kemudian memasuki rumah.
Laptop, dokumen, ponsel, dan hard drive disita.
Namun aku tahu bukti terpenting tidak berada di rumah itu.
Tiga bulan sebelumnya, Dr. Kang menemukan sesuatu yang aneh dalam laporan medis kecelakaanku.
Petugas penyelamat mencatat bahwa pedal rem mobilku tidak memberikan tekanan ketika kendaraan ditemukan.
Namun dalam laporan resmi polisi, catatan itu hilang.
Seseorang telah menggantinya.
Dr. Kang menghubungi teknisi yang pertama kali memeriksa mobilku. Pria itu awalnya menolak bicara.
Sampai kami mengetahui bahwa putrinya menerima beasiswa dari yayasan milik Hanseong Group hanya dua minggu setelah kecelakaanku.
Aku menemui teknisi itu diam-diam.
Dia menangis ketika melihat kursi rodaku.
“Saya hanya disuruh mengubah satu halaman,” katanya.
“Siapa yang menyuruh?”
Dia memberiku sebuah flashdisk.
“Lihat sendiri.”
Di dalamnya terdapat rekaman kamera bengkel.
Malam sebelum kecelakaan, seseorang memasuki garasi apartemenku.
Han Min-jae.
Namun kejutan sebenarnya datang setelah itu.
Dalam rekaman lain, terlihat sebuah sedan hitam menunggu di luar.
Mobil ayahku.
Aku tidak pernah memberi tahu Min-jae bahwa aku memiliki rekaman itu.
Aku ingin dia percaya bahwa seluruh kesalahan akan jatuh kepadanya.
Karena orang yang merasa terpojok biasanya mulai berbicara.
Dan aku mengenal kakakku.
Dia tidak pernah memiliki keberanian untuk tenggelam sendirian.
Ketika polisi memasangkan borgol di tangannya, Min-jae menatap ayah.
“Ayah!”
Ketua Han tidak bergerak.
“Ayah, katakan sesuatu!”
Ayah hanya berkata, “Bawa dia.”
Min-jae terdiam.
Aku tahu saat itu juga.
Dia akhirnya mengerti.
Ayah akan mengorbankannya.
“Ayah…”
Polisi menariknya menuju mobil.
Tiba-tiba Min-jae berteriak.
“Bukan aku yang merencanakan kecelakaannya!”
Semua orang berhenti.
Ayah menutup mata sesaat.
Aku merasakan jantungku berdetak semakin keras.
Min-jae menunjuk ayah dengan tangan terborgol.
“Dia yang menyuruhku!”
“Min-jae!” bentak ibu tiriku.
“Diam, Bu!”
Wajahnya penuh air mata dan kemarahan.
“Aku cuma disuruh mengambil dokumen dari mobil Seo-yeon. Ayah yang menyuruh Sekretaris Park mengurus remnya!”
Para direktur terdiam seperti patung.
Aku sudah menduga keterlibatan ayah.
Tetapi mendengarnya langsung tetap terasa seperti pisau yang menembus dada.
Ayah menatap putranya dengan jijik.
“Anak bodoh.”
Min-jae tertawa pahit.
“Sekarang aku bodoh? Selama bertahun-tahun aku melakukan semua yang Ayah suruh!”
Dia mulai menyebut rekening.
Nama perusahaan cangkang.
Proyek-proyek yang inspeksinya dipalsukan.
Suap kepada pejabat.
Bahkan satu kecelakaan konstruksi yang selama ini ditutup-tutupi sebagai kesalahan pekerja.
Ayah berdiri diam.
Semakin banyak Min-jae bicara, semakin runtuh kerajaan yang dibangunnya selama puluhan tahun.
Jaksa perempuan itu akhirnya mendekati ayah.
“Ketua Han Tae-jun, Anda harus ikut bersama kami.”
Ayah menatapku.
Ada sesuatu yang aneh di matanya.
Bukan penyesalan.
Kebencian.
“Kau puas sekarang?”
Aku terdiam.
“Aku membangun semua ini untuk kalian,” katanya. “Untuk keluarga.”
“Tidak.”
Suaraku bergetar, tetapi aku tidak menunduk.
“Ayah membangun semuanya untuk nama Han.”
“Itulah keluarga kita.”
“Kalau keluarga berarti seorang ayah bisa mencoba membunuh putrinya demi perusahaan, aku tidak menginginkannya.”
Polisi membawanya pergi.
Ibu tiriku jatuh terduduk.
Para wartawan sudah berkumpul di luar gerbang.
Berita mengenai penggerebekan Hanseong Group menyebar sebelum matahari terbenam.
Dalam dua minggu berikutnya, harga saham perusahaan jatuh.
Tujuh direktur mengundurkan diri.
Tiga proyek besar dihentikan untuk pemeriksaan ulang.
Ayah didakwa atas manipulasi laporan keselamatan, penggelapan, penyuapan, dan percobaan pembunuhan.
Min-jae memilih bekerja sama dengan jaksa demi mendapatkan keringanan hukuman.
Aku tidak pernah mengunjunginya.
Enam bulan kemudian, Hanseong Group mengadakan rapat pemegang saham luar biasa.
Aku hadir menggunakan kursi roda.
Ruangan menjadi sunyi ketika aku masuk.
Dulu mereka memandang kursi itu sebagai simbol kelemahanku.
Hari itu, tidak ada seorang pun yang berani menertawakannya.
Aku menyerahkan semua hak suara saham keluargaku kepada dewan independen sementara dan meminta audit terhadap setiap proyek yang pernah dikerjakan perusahaan.
Seorang direktur senior bertanya, “Nona Han, Anda bisa mengambil alih perusahaan ini. Mengapa menyerahkannya?”
Aku menjawab, “Karena perusahaan yang dibangun dengan ketakutan tidak membutuhkan anggota keluarga Han berikutnya. Perusahaan ini membutuhkan sistem yang tidak bisa dikendalikan satu keluarga.”
Beberapa bulan kemudian, kompensasi diberikan kepada keluarga pekerja yang menjadi korban proyek bermasalah.
Untuk pertama kalinya, aku merasa nama Hanseong tidak hanya berarti kekuasaan.
Setahun setelah kejadian di kolam, aku kembali ke rumah sakit.
Dr. Kang berdiri di ujung lorong rehabilitasi sambil menyilangkan tangan.
“Aku sudah bilang jangan terburu-buru.”
“Aku tidak terburu-buru.”
“Kemarin kau latihan tiga jam.”
“Dua jam empat puluh menit.”
Dia menghela napas.
Aku tersenyum.
Kemudian tanganku mencengkeram palang.
Perlahan aku mengangkat tubuh.
Kakiku gemetar hebat.
Rasa sakit menjalar dari pinggang sampai ujung jari.
Satu langkah.
Aku hampir jatuh.
Dr. Kang bergerak maju.
“Jangan.”
Dia berhenti.
Aku mengambil langkah kedua.
Lalu ketiga.
Air mata mulai memenuhi mataku.
Bukan karena sakit.
Selama dua tahun, semua orang mengatakan kepadaku apa yang tidak bisa kulakukan.
Tidak bisa berjalan.
Tidak bisa kembali bekerja.
Tidak bisa melawan keluarga sendiri.
Tidak bisa hidup tanpa nama Hanseong.
Hari itu aku berjalan enam langkah.
Hanya enam.
Namun bagiku, rasanya lebih jauh daripada perjalanan mana pun yang pernah kutempuh.
Aku akhirnya jatuh ke kursi.
Dr. Kang berjongkok di depanku.
“Enam langkah.”
Aku tertawa sambil menangis.
“Besok tujuh.”
Dia menggeleng.
“Besok istirahat.”
Aku menatapnya.
“Delapan.”
“Seo-yeon.”
“Baiklah. Tujuh.”
Dia tertawa.
Saat itulah seorang perawat datang membawa sebuah amplop.
“Ini dikirim untuk Anda.”
Tidak ada nama pengirim.
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat foto lama.
Aku berdiri di sebuah lokasi konstruksi tiga tahun sebelum kecelakaan, mengenakan helm keselamatan, tersenyum bersama para pekerja.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan ayah.
Aku mengenali tulisannya.
Kau benar tentang satu hal. Aku terlalu mencintai nama keluarga kita sampai lupa bagaimana mencintai keluargaku sendiri.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Dr. Kang bertanya, “Kau baik-baik saja?”
Aku membalik foto itu dan memasukkannya kembali ke amplop.
“Ya.”
“Kau akan membalasnya?”
Aku menatap kakiku.
Lalu ke lorong panjang di depanku.
“Tidak.”
Aku berdiri kembali.
Kali ini Dr. Kang tidak mencoba menghentikanku.
Aku mengambil satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
Aku tidak tahu apakah suatu hari aku akan memaafkan ayahku.
Mungkin tidak.
Tetapi aku akhirnya memahami sesuatu.
Selama ini keluargaku mengira kekuatan berarti memiliki perusahaan terbesar, uang terbanyak, dan orang-orang yang takut melawan mereka.
Mereka salah.
Kekuatan sebenarnya adalah ketika seseorang sudah mencoba mengambil segalanya darimu, tetapi kau masih mampu menentukan sendiri akan menjadi manusia seperti apa setelahnya.
Aku mengambil langkah ketujuh.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak berjalan sebagai putri Ketua Han Tae-jun.
Aku berjalan sebagai diriku sendiri.
