MUSUH BEBUYUTANKU KECELAKAAN, AKU MALAH MENCULIK SERIGALA PUTIH KESAYANGANNYA! TAPI TIGA BULAN KEMUDIAN, SAAT KAMI BERTEMU LAGI, SEBUAH RAHASIA BESAR TERBONGKAR DAN MENGGEMPARKAN SEMUA ORANG!

Tiga hari setelah menculik Si Putih, aku mulai menyadari bahwa mungkin akulah manusia paling bodoh di seluruh Jakarta.

Bukan karena aku takut ketahuan Rendy.

Masalah sebenarnya jauh lebih sederhana.

Memelihara seekor serigala ternyata sangat mahal.

Dalam tiga hari saja, pengeluaranku untuk daging hampir menyamai biaya makan bulananku. Belum lagi vitamin, alas tidur, mainan, dan pagar tambahan yang kupasang karena aku takut suatu pagi terbangun dan menemukan Si Putih sedang duduk di samping ranjang sambil mempertimbangkan apakah wajahku cocok dijadikan sarapan.

Namun anehnya, ia tidak pernah mencoba kabur.

Pintu menuju halaman belakang pernah lupa kukunci. Aku baru menyadarinya hampir setengah jam kemudian dan berlari keluar dengan jantung berdebar.

Si Putih masih ada di sana.

Ia duduk di bawah pohon mangga, menatapku seperti sedang melihat orang bodoh.

“Kamu bisa kabur.”

Ia menguap.

“Kenapa tidak kabur?”

Ia memalingkan wajah.

Aku mulai curiga serigala itu memang memiliki bakat khusus untuk menghina manusia tanpa bicara.

Hari-hari berikutnya berubah menjadi rutinitas aneh.

Pagi hari aku menyiapkan makanannya. Siang hari aku bekerja dari rumah sambil sesekali mengawasinya. Sore hari kami berjalan mengelilingi halaman luas rumah peristirahatan itu.

Awalnya Si Putih selalu menjaga jarak.

Namun setelah dua minggu, jarak itu perlahan menghilang.

Suatu malam aku tertidur di sofa sambil menonton film. Ketika terbangun sekitar pukul tiga pagi, sesuatu yang hangat menempel di kakiku.

Si Putih tidur di lantai tepat di bawah sofa.

Aku sampai menahan napas.

Untuk pertama kalinya, serigala sombong itu memilih berada dekat denganku atas kemauannya sendiri.

Aku diam-diam mengambil ponsel.

Klik.

Matanya langsung terbuka.

“Jangan galak. Cuma satu foto.”

Ia mendengus.

Aku tertawa kecil.

“Kalau Rendy tahu hewan kesayangannya sekarang tidur di kakiku, mungkin dia akan pingsan untuk kedua kalinya.”

Begitu nama Rendy disebut, telinga Si Putih bergerak.

Aku memperhatikannya.

“Kangen pemilikmu?”

Ia berdiri dan berjalan pergi.

Entah kenapa, ada sedikit rasa bersalah di dadaku.

Sejak menculiknya, aku sengaja menghindari semua acara yang memungkinkan aku bertemu keluarga Rendy. Dari grup teman lama, aku mengetahui Rendy sudah keluar dari rumah sakit, tetapi masih menjalani pemulihan.

Yang membuatku bingung, tidak pernah ada berita tentang serigala yang hilang.

Tidak ada pencarian.

Tidak ada hadiah.

Tidak ada laporan polisi.

Rendy bahkan tidak menghubungiku.

Padahal kalau ada orang yang cukup mengenalku untuk mencurigaiku, orang itu seharusnya dia.

Kecurigaanku semakin besar ketika hampir sebulan berlalu.

Akhirnya aku memberanikan diri mengirim pesan.

Serigalamu bagaimana?

Pesan dibaca.

Tidak dibalas.

Aku mengirim lagi.

Katanya hewan kesayangan. Hilang pun tidak dicari?

Lima menit kemudian, balasan masuk.

Urus hidupmu sendiri.

Aku menatap layar dengan kesal.

Dasar bajingan.

Aku langsung memotret Si Putih yang sedang tidur telentang di karpet, lalu hampir mengirimkannya.

Hampir.

Entah kenapa, jariku berhenti.

Ada sesuatu yang terasa tidak benar.

Rendy bukan orang yang mudah melepaskan barang miliknya. Waktu sekolah, bolpoin kesayangannya hilang saja dia pernah memeriksa tas seluruh teman sekelas.

Sekarang serigala yang selama bertahun-tahun dia larang disentuh siapa pun menghilang, tetapi reaksinya hanya menyuruhku mengurus hidup sendiri?

Aneh.

Malam itu, keanehan lain terjadi.

Sekitar pukul dua dini hari, aku terbangun karena mendengar suara benda jatuh.

Aku turun ke ruang tengah.

“Si Putih?”

Tidak ada jawaban.

Aku menemukan pintu ruang kerja terbuka.

Serigala itu berdiri di depan lemari kecil tempatku menyimpan dokumen lama.

Di lantai tergeletak sebuah album foto.

“Kamu ngapain?”

Aku mengambil album tersebut.

Itu album masa kecilku.

Salah satu halaman terbuka memperlihatkan foto pesta ulang tahunku ketika berusia tujuh tahun.

Aku berdiri di tengah bersama orang tuaku.

Beberapa anak sekolah berada di belakang.

Termasuk Rendy.

Namun pandanganku berhenti pada sosok lain di ujung foto.

Seorang anak laki-laki yang tampak berusia sekitar dua belas tahun.

Tinggi.

Berwajah pucat.

Tatapannya dingin.

Aku tidak mengenalnya.

Yang aneh, Si Putih mendekati foto tersebut dan menyentuhkan hidungnya tepat pada wajah anak itu.

“Kamu kenal?”

Tubuh Si Putih membeku.

Lalu ia mengeluarkan suara rendah.

Bukan geraman marah.

Lebih seperti rengekan tertahan.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat kesedihan di mata birunya.

Aku membalik foto.

Di belakangnya terdapat tulisan tangan ibuku.

Ulang tahun Alina, bersama keluarga Pratama. Adrian akhirnya pulang.

Adrian.

Nama kakak Rendy.

Aku menatap Si Putih.

“Ini pemilikmu?”

Ia tidak bereaksi.

Tapi sejak malam itu, pikiranku tidak pernah benar-benar tenang.

Dua bulan berikutnya berlalu.

Hubunganku dengan Si Putih semakin dekat.

Ia mulai menungguku di depan pintu setiap kali aku pulang. Ia tidak lagi menggeram ketika kubelai. Bahkan suatu malam ketika aku demam, ia tidur di samping ranjang sampai pagi.

Aku tidak mau mengakuinya, tetapi aku sudah menyayanginya.

Karena itulah, tepat tiga bulan setelah penculikan tersebut, masalah besar datang.

Aku menerima undangan pesta ulang tahun perusahaan keluarga Pratama.

Ayah memaksaku hadir karena keluarga kami memiliki kerja sama bisnis dengan mereka.

Aku sebenarnya ingin menolak.

Sampai Ayah berkata, “Adrian Pratama juga akan datang.”

Tanganku berhenti.

Adrian.

Anak laki-laki dalam foto.

Aku akhirnya datang.

Acara berlangsung di ballroom sebuah hotel mewah di Jakarta.

Ratusan tamu hadir.

Aku baru mengambil segelas jus ketika suara menyebalkan terdengar dari belakang.

“Tiga bulan menghilang. Ternyata masih hidup.”

Aku menoleh.

Rendy.

Ia sudah terlihat sehat, meskipun bekas luka tipis masih tampak di pelipisnya.

“Sayangnya iya.”

Matanya menyipit.

“Kamu masih sama.”

“Kamu juga. Kecelakaan ternyata gagal memperbaiki kepribadianmu.”

Biasanya dia pasti membalas.

Namun kali ini Rendy hanya menatapku lama.

Kemudian bertanya pelan, “Dia baik-baik saja?”

Darahku seolah berhenti mengalir.

“Siapa?”

“Jangan pura-pura bodoh.”

Aku menggenggam gelas lebih erat.

“Kamu tahu?”

“Sejak hari pertama.”

Aku hampir tersedak.

“Kenapa kamu diam?”

Rendy melihat sekeliling sebelum menarikku ke koridor yang lebih sepi.

“Karena kalau dia bersamamu, setidaknya dia aman.”

“Aman dari siapa?”

Wajah Rendy berubah serius.

“Dari keluargaku.”

Aku belum sempat bertanya ketika suara berat terdengar.

“Rendy.”

Kami menoleh.

Seorang pria berdiri beberapa meter dari kami.

Tinggi, mengenakan setelan hitam sederhana. Wajahnya tenang, tetapi auranya membuat suasana di koridor terasa lebih dingin.

Aku langsung mengenalinya.

Adrian Pratama.

Wajahnya hampir tidak berubah dari foto lama itu.

Anehnya, saat melihatku, Adrian membeku.

Matanya melebar.

“Alina?”

Aku mengernyit.

“Kita pernah bertemu?”

Adrian tidak menjawab.

Rendy justru berdiri di depanku.

“Kak, jangan.”

Adrian menatap adiknya.

“Di mana dia?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu tahu.”

Nada suaranya tetap datar, tetapi rahang Rendy mengeras.

Aku semakin bingung.

“Ada apa sebenarnya?”

Adrian menatapku.

“Serigala putih itu berada di rumahmu, bukan?”

Aku terdiam.

Rendy memejamkan mata.

Selesai sudah.

Aku menarik napas.

“Ya.”

Anehnya, Adrian tidak marah.

Wajahnya justru menunjukkan kelegaan luar biasa.

“Bawa aku kepadanya.”

“Tunggu dulu. Kenapa?”

“Karena dia bukan milik Rendy.”

Aku menatap Rendy.

Dia tidak membantah.

“Si Putih milik siapa?”

Adrian menjawab dengan dua kata.

“Milikku dulu.”

Malam itu juga kami bertiga meninggalkan pesta.

Sepanjang perjalanan, tidak ada yang menjelaskan apa pun.

Begitu mobil berhenti di rumah peristirahatanku, aku membuka pintu.

Si Putih yang sedang berbaring di ruang tengah langsung mengangkat kepala.

Ketika melihat Adrian, seluruh tubuhnya membeku.

Adrian juga berhenti.

Untuk beberapa detik, manusia dan serigala itu hanya saling memandang.

Lalu sesuatu yang tidak pernah kubayangkan terjadi.

Si Putih berlari.

Ia menerjang Adrian sampai pria itu hampir jatuh.

Adrian berlutut dan memeluk tubuh besar tersebut.

“Snow.”

Suaranya bergetar.

Serigala itu mengeluarkan rengekan panjang sambil terus menggosokkan kepala ke dada Adrian.

Aku terpaku.

Pria yang konon terkenal dingin dan tidak berperasaan itu menangis.

Benar-benar menangis.

Rendy berdiri di belakangku.

“Namanya Snow.”

Aku menatapnya tajam.

“Jelaskan.”

Rendy menarik napas panjang.

Lima belas tahun lalu, Adrian pernah mengalami penculikan.

Keluarga Pratama menutupi kasus tersebut demi menjaga reputasi bisnis.

Adrian disekap hampir dua minggu di sebuah vila kosong di kawasan pegunungan Jawa Barat.

Saat berhasil melarikan diri, ia ditemukan dalam kondisi kritis bersama seekor anak serigala putih yang terluka.

Anak serigala itulah Snow.

Sejak saat itu mereka tidak terpisahkan.

Namun beberapa tahun kemudian, Adrian dikirim ke luar negeri setelah berselisih hebat dengan ayah mereka.

Snow ditinggalkan.

“Aku cuma menjaganya,” kata Rendy.

“Kenapa Adrian dikirim pergi?”

Rendy terdiam.

Adrian menjawab sendiri.

“Karena aku menemukan siapa yang mengatur penculikanku.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Siapa?”

“Ayahku.”

Aku merasa tengkukku dingin.

Ternyata penculikan itu bukan penculikan sungguhan.

Ayah Adrian sedang menghadapi konflik perebutan kendali perusahaan dengan kakeknya sendiri. Ia sengaja membuat pewaris utama keluarga menghilang untuk menciptakan krisis dan memaksa dewan direksi menyerahkan kendali kepadanya.

Namun rencana tersebut lepas kendali ketika orang-orang suruhannya menuntut uang tambahan dan benar-benar menyiksa Adrian.

Setelah mengetahui kebenaran bertahun-tahun kemudian, Adrian mengancam akan membongkar semuanya.

Sebagai balasan, ayah mereka mengirimnya keluar negeri dan mengancam akan membunuh Snow jika Adrian kembali.

“Jadi selama ini…”

Aku menatap Rendy.

“Kamu sengaja berpura-pura menjadi pemilik Snow?”

Rendy tersenyum hambar.

“Kalau Ayah tahu Kak Adrian masih peduli padanya, Snow sudah lama mati.”

Aku kehilangan kata-kata.

Semua kenangan tentang Rendy dan serigala itu tiba-tiba memiliki arti berbeda.

Kesombongannya.

Larangan menyentuh Snow.

Sikap posesifnya.

Semuanya hanyalah cara melindungi rahasia kakaknya.

“Lalu kecelakaanmu?”

Rendy tertawa pendek.

“Aku bukan ikut balapan liar.”

Aku menatapnya.

“Rem mobilku dirusak.”

Adrian berdiri perlahan.

“Ayah tahu aku akan pulang. Dia takut Rendy sudah memberikan bukti kepadaku.”

Jantungku berdegup keras.

“Bukti apa?”

Rendy mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya.

Kartu memori.

“Rekaman lama.”

Ternyata ibu mereka diam-diam menyimpan rekaman percakapan antara ayah Rendy dan orang-orang yang menculik Adrian.

Rendy menemukannya beberapa bulan sebelumnya.

Itulah alasan kecelakaan tersebut terjadi.

Dan itulah alasan Rendy membiarkanku membawa Snow.

“Kalau Snow tetap di rumah keluarga kami,” katanya, “Ayah bisa menggunakannya untuk mengancam Kak Adrian lagi.”

Aku memandang Si Putih.

Tiba-tiba tindakan bodohku tiga bulan lalu terasa seperti bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.

“Tapi kenapa kalian yakin dia aman denganku?”

Rendy menatapku datar.

“Karena cuma orang gila yang berani memasukkan serigala dewasa ke dalam karung goni.”

Aku menendang kakinya.

“Au!”

Adrian tertawa.

Untuk pertama kalinya malam itu, ketegangan sedikit mencair.

Seminggu kemudian, rekaman tersebut diserahkan kepada pihak berwenang dan pengacara keluarga.

Skandal keluarga Pratama meledak.

Media ramai memberitakannya.

Ayah Rendy mengundurkan diri dari perusahaan sebelum akhirnya menjalani proses hukum.

Adrian mengambil alih kendali bisnis.

Rendy memilih menjauh dari perusahaan keluarga untuk sementara.

Sedangkan Snow…

Itulah masalah berikutnya.

Aku sudah mempersiapkan diri mengembalikannya kepada Adrian.

Bagaimanapun, mereka telah terpisah selama bertahun-tahun.

Namun ketika Adrian hendak membawanya masuk ke mobil, Snow berhenti.

Ia menoleh ke arahku.

“Pergilah,” kataku sambil tersenyum.

Snow tidak bergerak.

Adrian membuka pintu mobil.

“Snow.”

Serigala itu justru berjalan kembali ke arahku.

Kemudian duduk di samping kakiku.

Aku membeku.

Rendy tertawa terbahak-bahak.

“Wah, Kak. Sepertinya kamu kalah.”

Adrian menatap Snow beberapa detik.

Anehnya, dia tersenyum.

Ia mengelus kepala serigala itu.

“Kamu sudah memilih rumah baru?”

Snow menjilat tangannya, lalu kembali menyandarkan tubuh ke kakiku.

Mataku tiba-tiba panas.

Adrian berdiri.

“Jaga dia.”

Aku mengangguk.

“Tentu.”

Rendy bersandar pada mobil.

“Luar biasa. Kamu mencuri serigalaku, menghancurkan harga diriku, lalu akhirnya mendapatkan hak asuh resmi.”

“Pertama, dia bukan serigalamu.”

Aku menunjuknya.

“Kedua, sekarang dia bukan serigala.”

Rendy mengangkat alis.

Aku membelai kepala Snow.

“Dia anjing putih besar yang manis dan penurut.”

Snow langsung menatapku tajam.

Rendy tertawa sampai membungkuk.

Bahkan Adrian tidak mampu menahan senyumnya.

Aku ikut tertawa.

Tiga bulan lalu, aku memasukkan seekor serigala ke dalam karung hanya karena ingin membalas dendam kepada musuh masa kecilku.

Aku mengira sedang mencuri sesuatu yang paling berharga bagi Rendy.

Ternyata tanpa kusadari, aku justru menyelamatkan saksi hidup dari sebuah rahasia keluarga yang telah terkubur selama lima belas tahun.

Dan yang paling aneh, setelah semuanya selesai, aku menyadari satu hal.

Kadang-kadang keluarga bukan tentang siapa yang pertama kali memiliki kita.

Bukan pula tentang darah, nama belakang, atau rumah tempat kita dilahirkan.

Kadang-kadang rumah hanyalah tempat yang kita pilih sendiri setelah terlalu lama hidup dalam ketakutan.

Aku menunduk menatap Snow.

Ia mengangkat wajah dan menjilat tanganku.

Untuk pertama kalinya, tatapan biru sombong itu terasa benar-benar hangat.

Aku tersenyum.

“Baiklah, Si Putih. Kita pulang.”

Di belakangku, Rendy langsung protes.

“Namanya Snow!”

Aku berjalan masuk tanpa menoleh.

“Di rumahku namanya Si Putih!”

“Alina!”

Aku menutup pintu tepat di depan wajahnya.

Dan dari balik pintu, untuk pertama kalinya setelah belasan tahun menjadi musuh bebuyutan, aku mendengar Rendy tertawa tanpa kemarahan sedikit pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang