SUAMIKU MENGUSIRKU DARI RUMAH DI PONDOK INDAH SAMBIL BERKATA, “TANPA AKU, KAMU BUKAN SIAPA-SIAPA”—AKU MENINGGALKAN CINCIN DI ATAS MEJA, MEMBAWA SATU KOPER, DAN TIGA BULAN KEMUDIAN DIA BARU TAHU PEREMPUAN YANG DIREMEHKANNYA SEDANG MEMBANGUN PERUSAHAAN YANG BISA MENELAN BISNIS KELUARGANYA

Pukul 08.04 pagi itu, aku membaca balasan Dimas sambil duduk di lantai ruang tamu apartemen Sinta, masih mengenakan kaus pinjaman dan celana yang kuselamatkan dari koper yang semalam dilempar Rendra.

Pesannya hanya satu baris.

Akhirnya kamu kembali.

Aku hampir tersenyum ketika email dari pengacara ayahku menarik perhatianku.

Tanganku terasa dingin saat membuka lampirannya.

Pak Surya, pengacara yang mengurus peninggalan Ayah sejak beliau meninggal lima tahun lalu, menulis bahwa sebagian besar aset warisan sengaja ditempatkan dalam sebuah perusahaan investasi keluarga. Selama ini aku hanya menerima laporan tahunan tanpa pernah benar-benar memeriksanya.

Aku selalu mengira nilainya cukup untuk hidup nyaman.

Ternyata aku salah.

Sangat salah.

Nilai keseluruhan aset itu mencapai hampir empat ratus miliar rupiah.

Aku membaca angka tersebut berkali-kali.

Ada kepemilikan saham di beberapa perusahaan teknologi, dua gudang logistik di Bekasi, obligasi, deposito, dan investasi awal pada tiga perusahaan rintisan yang nilainya melonjak dalam beberapa tahun terakhir.

Namun ada satu bagian yang membuatku berhenti bernapas.

Salah satu perusahaan yang pernah menerima investasi dari Ayah adalah perusahaan pemasok perangkat lunak untuk industri konstruksi.

Perusahaan itu memasok sistem operasional kepada PT Mahardika Karya Nusantara.

Perusahaan keluarga Rendra.

Aku menutup laptop.

Selama tujuh tahun Rendra merasa ia membawaku masuk ke dunianya.

Padahal tanpa pernah kami sadari, sebagian kecil dunia yang dibanggakannya berdiri di atas keputusan investasi ayahku.

Sinta keluar dari kamar sambil mengucek mata.

“Kamu belum tidur?”

“Aku baru tahu sesuatu.”

Ia duduk di sampingku.

Aku memutar laptop ke arahnya.

Sinta membaca beberapa detik, lalu menatapku.

“Nara.”

Aku mengangguk.

“Jangan bilang apa-apa dulu.”

“Kamu punya hampir empat ratus miliar dan selama ini naik mobil yang dipilihkan Rendra?”

“Aku bahkan tidak tahu jumlahnya.”

Sinta menatapku seolah aku kehilangan akal sehat.

“Bagaimana mungkin?”

Aku tersenyum pahit.

“Karena Ayah mengajariku satu hal terlalu baik. Jangan hidup berdasarkan angka di rekening.”

Tiga hari kemudian aku bertemu Dimas di sebuah ruang kerja bersama di SCBD.

Ia sudah berubah.

Rambutnya mulai beruban di sisi kepala, tetapi cara bicaranya masih sama cepatnya seperti delapan tahun lalu.

Di atas meja ada proposal perusahaan yang kami beri nama Arunika Data.

“Kita tidak membuat pinjaman,” katanya. “Kita membuat mesin yang membantu bank dan lembaga pembiayaan memahami UMKM yang tidak punya riwayat kredit formal.”

Aku membaca proyeksi pasar.

“Berapa modal awal?”

“Investor siap masuk seratus dua puluh miliar.”

Aku menutup proposal.

“Aku akan ikut investasi.”

Dimas terdiam.

“Berapa?”

“Empat puluh miliar untuk tahap pertama.”

Ia hampir menjatuhkan kopinya.

“Kamu serius?”

“Sangat.”

Aku menatapnya.

“Tapi aku tidak mau perusahaan ini tumbuh dengan membakar uang. Kita harus punya klien nyata dalam enam bulan.”

Dimas tersenyum.

“Nah. Ini Nara yang kukenal.”

Kami bekerja seperti orang yang sedang dikejar sesuatu.

Mungkin memang begitu.

Aku dikejar tujuh tahun hidup yang hilang.

Bulan pertama, aku menyewa kantor kecil di Kuningan.

Hanya ada dua belas orang.

Aku datang paling pagi dan sering pulang setelah satpam mematikan sebagian lampu gedung.

Aku belajar kembali membaca laporan risiko, model statistik, regulasi OJK, struktur pembiayaan, dan sistem perbankan yang telah berubah selama aku meninggalkan dunia kerja.

Aku melakukan kesalahan.

Banyak.

Pada presentasi pertama kepada calon klien, aku bahkan lupa satu angka penting dan harus mengakuinya di depan direksi.

Namun anehnya, aku tidak merasa malu.

Aku merasa hidup.

Sementara itu, pesan dari Rendra mulai berdatangan.

Minggu pertama ia hanya mengirim satu kalimat.

Sudah selesai dramanya?

Aku tidak menjawab.

Seminggu kemudian.

Kapan pulang?

Aku tetap diam.

Kemudian pengacaranya mengirim rancangan perceraian.

Aku menandatanganinya.

Tanpa meminta rumah.

Tanpa meminta mobil.

Tanpa meminta uang bulanan.

Hanya meja kayu peninggalan Ayah.

Ketika pengacaraku menyampaikan permintaan itu, Rendra menelepon untuk pertama kalinya.

“Kamu serius?”

“Apa?”

“Dari semua yang bisa kamu minta, kamu cuma mau meja jelek itu?”

“Ya.”

Ia tertawa.

“Ambil saja.”

Sebelum menutup telepon ia berkata, “Jangan menyesal kalau nanti kamu sadar hidup di luar tidak semudah yang kamu bayangkan.”

Aku menatap dua belas orang yang sedang bekerja di balik kaca ruanganku.

“Terima kasih sudah mengingatkan.”

Bulan kedua, Arunika mendapatkan klien pertamanya.

Sebuah koperasi digital dengan lebih dari delapan puluh ribu anggota UMKM.

Kemudian perusahaan pembiayaan kendaraan komersial datang.

Lalu bank pembangunan daerah meminta proyek percontohan.

Jumlah pegawai kami menjadi tiga puluh tujuh orang.

Dimas masuk ke ruanganku suatu malam membawa tablet.

“Ada tender besar.”

“Dari siapa?”

Ia meletakkan tablet di meja.

Nama perusahaan yang muncul membuatku terdiam.

Mahardika Karya Nusantara.

Perusahaan Rendra sedang mencari mitra teknologi untuk membangun sistem penilaian risiko bagi jaringan kontraktor dan pemasok mereka.

“Tidak,” kataku.

Dimas mengangkat alis.

“Kamu bahkan belum baca nilainya.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Aku menatap nama perusahaan itu.

“Karena kalau kita menang, orang akan bilang aku mengejar mantan suamiku.”

Dimas duduk.

“Dan kalau kita tidak ikut hanya karena dia mantan suamimu, berarti dia masih menentukan keputusanmu.”

Kalimat itu menamparku lebih keras daripada yang kuharapkan.

Aku membaca dokumen tender.

Lalu menemukan sesuatu.

Mahardika sedang mengalami masalah arus kas.

Mereka ingin memperluas pembiayaan kepada ribuan pemasok kecil karena beberapa bank mulai memperketat kredit.

Jika sistem kami berhasil, Arunika tidak sekadar menjadi vendor.

Kami akan memegang infrastruktur data yang menentukan siapa dalam rantai pasok Mahardika yang layak menerima pembiayaan.

“Daftar,” kataku.

Dimas tersenyum.

Tiga minggu kemudian kami masuk tiga besar.

Rendra belum tahu.

Setidaknya sampai hari presentasi final.

Pertemuan berlangsung di hotel bintang lima di Jakarta Pusat.

Aku datang mengenakan setelan abu-abu sederhana.

Tidak ada berlian.

Tidak ada tas yang pernah dibelikan Rendra.

Hanya jam tangan Ayah.

Ketika pintu ruang rapat terbuka, aku melihat Rendra duduk di sisi kanan meja.

Wajahnya berubah.

“Nara?”

Aku berhenti di depan layar presentasi.

“Selamat pagi.”

Direktur keuangan Mahardika memperkenalkanku.

“Pak Rendra, ini Ibu Nara Adinata, CEO sekaligus pendiri Arunika Data.”

Rendra menatapku seperti sedang mencoba memahami bahasa asing.

“CEO?”

Aku membuka laptop.

“Kalau tidak ada keberatan, kami mulai.”

Presentasi berlangsung empat puluh menit.

Rendra tidak bertanya satu pun.

Namun setelah direksi lain keluar untuk istirahat, ia mengejarku ke koridor.

“Nara.”

Aku berhenti.

“Apa?”

“Ini apa?”

“Presentasi.”

“Jangan main-main.”

“Aku tidak sedang bermain.”

“Perusahaan itu punya kamu?”

“Sebagian.”

“Dari mana kamu dapat modal?”

Aku menatapnya.

Pertanyaan yang seharusnya ia tanyakan tujuh tahun lalu.

“Dari hidupku sebelum bertemu kamu.”

Wajahnya menegang.

“Nara, kalau ini soal balas dendam—”

“Bukan.”

“Kamu sengaja masuk tender perusahaanku.”

“Tim pengadaanmu membuka tender publik. Kami memenuhi syarat.”

“Kamu ingin mempermalukanku?”

Aku hampir merasa kasihan.

Bahkan sekarang ia masih mengira hidupku berputar mengelilinginya.

“Rendra, tiga bulan terakhir adalah pertama kalinya dalam tujuh tahun aku hampir tidak memikirkanmu.”

Ia terdiam.

Aku berjalan pergi.

Namun masalah sebenarnya baru muncul dua hari kemudian.

Dimas datang ke ruanganku membawa laporan hasil uji tuntas.

“Ada yang aneh dengan Mahardika.”

Aku membaca laporan tersebut.

Utang jangka pendek meningkat tajam.

Beberapa proyek mengalami keterlambatan pembayaran.

Dan lebih buruk lagi, ada pinjaman besar yang membutuhkan tambahan jaminan.

Aku langsung teringat map cokelat.

Rekening warisanku.

Mereka hampir menggunakan asetku untuk menutup lubang perusahaan.

“Kalau aku tanda tangan waktu itu?”

Dimas menghitung sebentar.

“Kamu bisa ikut terseret kalau mereka gagal bayar.”

Aku merasa mual.

Rendra bukan sekadar meremehkanku.

Ia hampir mempertaruhkan masa depanku tanpa menjelaskan risikonya.

Seminggu kemudian Mahardika memilih Arunika.

Namun aku menolak menandatangani kontrak sebelum mereka menyelesaikan restrukturisasi keuangan.

Rendra datang sendiri ke kantorku.

Tidak ada sopir.

Tidak ada jas mahal.

Ia terlihat lelah.

“Kamu sengaja menahan kontraknya.”

“Aku melindungi perusahaan kami.”

“Kami butuh sistem kalian untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan baru.”

“Justru itu masalahnya.”

Aku mendorong laporan ke arahnya.

“Perusahaanmu tidak butuh teknologi untuk menyembunyikan risiko. Perusahaanmu perlu memperbaiki risikonya.”

Ia membaca.

Wajahnya pucat.

“Ayah tidak pernah menunjukkan angka ini.”

“Karena selama ini kamu sibuk percaya bahwa nama Mahardika cukup untuk membuat semua pintu terbuka.”

Ia menatapku tajam.

“Kamu menikmati ini?”

Pertanyaan itu membuatku diam.

Kemudian aku menggeleng.

“Tidak.”

Dan aku sungguh-sungguh.

“Aku dulu membayangkan kalau suatu hari kamu tahu siapa aku sebenarnya, aku akan merasa menang.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku cuma sedih karena aku pernah membutuhkan pengakuanmu.”

Rendra menunduk.

Untuk pertama kalinya aku melihat seorang laki-laki yang tidak tahu harus berkata apa tanpa kekuasaan di tangannya.

“Aku minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

“Keisha tidak pernah jadi selingkuhanku.”

Aku mengernyit.

“Apa?”

“Dia konsultan restrukturisasi. Aku memang dekat dengannya. Terlalu dekat. Tapi tidak pernah ada hubungan.”

“Kalung itu?”

“Aku memberikannya untuk membuatmu marah.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Kenapa?”

“Karena aku tahu kamu akan menolak dokumen itu. Aku pikir kalau kamu merasa bersalah, marah, atau takut kehilangan pernikahan kita, kamu akan akhirnya tanda tangan.”

Aku tidak bisa langsung bicara.

Ternyata kenyataannya lebih buruk daripada perselingkuhan.

Ia merancang penghinaan itu.

“Jadi kamu sengaja menghancurkan pernikahan kita demi jaminan pinjaman?”

Rendra menutup wajahnya.

“Aku panik.”

“Tidak. Kamu memilih.”

Air matanya jatuh.

Dulu mungkin pemandangan itu akan menghancurkanku.

Sekarang tidak.

Aku hanya merasa lelah.

“Aku tidak akan mengambil perusahaan keluargamu, Rendra.”

Ia mengangkat kepala.

“Tapi Arunika tetap akan bekerja dengan kalian kalau restrukturisasi dilakukan secara transparan.”

“Kenapa?”

“Karena ada ribuan pekerja, kontraktor, dan pemilik usaha kecil yang hidupnya bergantung pada perusahaanmu. Mereka tidak pantas kehilangan pekerjaan hanya karena aku ingin membalas sakit hati.”

Enam bulan kemudian, Mahardika selamat dari krisis.

Keluarga Rendra kehilangan sebagian besar kendali karena investor baru masuk.

Rendra mundur dari jabatan direktur utama.

Sementara Arunika berkembang ke tiga kota dan mendapatkan pendanaan baru.

Pada hari kami pindah ke kantor yang lebih besar, sebuah truk datang membawa meja kayu tua milik Ayah.

Aku meletakkannya di ruang kerjaku.

Di laci paling bawah masih ada goresan kecil yang kubuat saat berumur sebelas tahun.

Malam itu, setelah semua pegawai pulang, aku menemukan amplop di atas meja.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya terdapat kalung safir.

Dan secarik kertas dengan tulisan tangan Rendra.

Aku salah mengira harga sebagai nilai. Maaf karena baru memahami perbedaannya setelah kehilanganmu.

Aku membaca kalimat itu sekali.

Lalu memasukkan kalung tersebut ke dalam laci.

Bukan karena aku membencinya.

Bukan pula karena aku masih mencintainya.

Aku hanya tidak membutuhkannya lagi.

Ponselku berbunyi.

Dimas mengirim pesan bahwa sebuah bank nasional akhirnya menyetujui kerja sama yang kami perjuangkan berbulan-bulan.

Aku berjalan ke jendela.

Jakarta menyala di bawah sana.

Ribuan kendaraan bergerak seperti aliran cahaya.

Aku teringat ucapan Rendra malam ketika ia mengusirku.

Tanpa aku, kamu bukan siapa-siapa.

Dulu kalimat itu terasa seperti kutukan.

Sekarang aku memahami sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Rendra memang benar tentang satu hal.

Tanpa dirinya, aku bukan lagi perempuan yang sama.

Aku tidak lagi menjadi istri yang mengecilkan dirinya sendiri agar suaminya merasa besar.

Aku tidak lagi menjadi perempuan yang meminta izin untuk mengatakan tidak.

Aku juga tidak lagi membutuhkan nama keluarga orang lain untuk menentukan nilai hidupku.

Aku adalah Nara Adinata.

Anak dari seorang ayah yang mengajariku bahwa kekayaan terbaik bukanlah sesuatu yang bisa diwariskan melalui rekening.

Pendiri perusahaan yang kubangun dengan keputusan-keputusanku sendiri.

Dan seorang perempuan yang akhirnya memahami bahwa meninggalkan sebuah rumah tidak selalu berarti kehilangan tempat untuk pulang.

Kadang-kadang, kita memang harus diusir dari kehidupan yang salah agar berani membangun kehidupan yang benar-benar milik kita sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang