SUAMIKU MENCOBA MEMBIUSKU DI GALA KELUARGA DEMI MENGUASAI HARTAKU! TAPI AKU MENUKAR GELASNYA, DAN SELINGKUHANNYA JUSTRU MEMBONGKAR SKANDAL BESAR KELUARGA WIJAYA!

Tangan Dina bergerak perlahan di bawah meja.

Tepuk tangan masih bergemuruh ketika Bambang Wijaya menyelesaikan kalimat pembuka pidatonya. Semua perhatian tertuju ke panggung. Bahkan Rendra ikut menoleh ke depan.

Itulah kesempatan yang Dina tunggu.

Dengan gerakan kecil, ia menukar posisi gelas jus jeruknya dengan koktail milik Sisca yang diletakkan terlalu dekat dengan tempat duduknya.

Hanya beberapa detik.

Tidak ada yang melihat.

Setidaknya begitu yang Dina kira.

Ketika tepuk tangan mereda, Rendra kembali duduk dan melirik gelas di hadapan istrinya.

“Minum,” katanya pelan.

Dina mengangkat gelas koktail yang kini berada di depannya, tetapi hanya menyentuhkan bibir ke tepinya.

“Sudah.”

Rendra mengamati wajahnya.

“Habiskan.”

Nada suaranya membuat bulu kuduk Dina berdiri.

Sebelum Dina menjawab, Sisca kembali ke kursinya setelah berbicara dengan seorang tamu. Tanpa memperhatikan apa pun, ia mengambil gelas yang diyakininya sebagai miliknya.

Dina menahan napas.

Sisca meneguknya.

Sekali.

Dua kali.

Hampir setengah gelas habis.

Wajah Rendra langsung berubah.

“Sisca!”

Perempuan itu berhenti.

“Apa?”

Rendra menatap gelas di tangannya, lalu menoleh kepada Dina.

Dina memasang ekspresi polos.

“Kenapa?”

“Gelas itu…”

Rendra tidak melanjutkan.

Ia tidak mungkin menjelaskan tanpa membongkar dirinya sendiri.

Sisca mengangkat alis.

“Kenapa dengan gelasku?”

“Bukan apa-apa.”

Rendra memaksakan senyum.

Namun Dina melihat keringat mulai muncul di pelipisnya.

Sekitar lima belas menit kemudian, Sisca mulai kehilangan fokus.

Tangannya beberapa kali salah meraih garpu. Matanya tampak berat.

“Ren…” gumamnya. “Aku pusing.”

Rendra langsung berdiri.

“Aku antar kamu ke kamar.”

Dina ikut bangkit.

“Kenapa harus kamu?”

Beberapa tamu menoleh.

Rendra segera merendahkan suara.

“Dia mungkin terlalu banyak minum.”

“Bukankah baru satu gelas?”

Rendra terdiam.

Sisca mencoba berdiri, tetapi tubuhnya limbung. Seorang pramusaji segera membantu menahan lengannya.

Bambang yang baru turun dari panggung mendekat dengan wajah kesal.

“Ada apa ini?”

“Tidak ada, Pa. Sisca kurang sehat.”

“Bawa ke belakang. Jangan bikin perhatian tamu terpecah.”

Kalimat itu terdengar begitu dingin hingga Dina semakin yakin ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada perselingkuhan suaminya.

Rendra meraih lengan Sisca.

Namun perempuan itu tiba-tiba menepisnya.

“Jangan sentuh aku.”

Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat orang-orang di sekitar mereka diam.

“Sisca, kamu sedang tidak sadar.”

“Aku sadar.”

Sisca menatap Rendra dengan mata sayu.

Lalu tertawa kecil.

“Kamu bilang cairan itu cuma bikin Dina tidur.”

Wajah Rendra seketika pucat.

Suasana di sekitar meja membeku.

Dina merasakan darahnya berdesir.

Rendra mencengkeram bahu Sisca.

“Diam.”

Sisca justru tertawa lagi.

“Kamu takut?”

“Sisca!”

“Bukannya kamu bilang setelah Dina pingsan, kita tinggal bawa dia ke suite? Pengacara sudah menunggu, kan?”

Beberapa tamu mulai saling berpandangan.

Dina menatap suaminya.

“Apa maksudnya pengacara?”

Rendra melepaskan Sisca dan berbalik.

“Dia mabuk. Jangan dengarkan.”

“Aku tidak mabuk!”

Sisca tiba-tiba meninggikan suara.

Puluhan kepala menoleh.

Bambang segera memberi isyarat kepada petugas keamanan.

Namun sebelum mereka mendekat, Dina mengambil ponselnya dan menyalakan kamera.

“Biarkan dia bicara.”

Bambang menatap Dina tajam.

“Matikan ponselmu.”

“Kenapa?”

“Ini urusan keluarga.”

Dina tersenyum hambar.

“Kalau begitu seharusnya saya yang paling berhak mendengarnya.”

Sisca memegang meja agar tidak jatuh.

Air matanya mulai menggenang.

“Mereka mau mengambil semuanya darimu, Din.”

Rendra mencoba mendekat lagi.

“Cukup!”

“Rumah Kemang. Tanah di Bogor. Apartemen Kuningan. Saham yang kamu warisi dari ayahmu.”

Dina membeku.

Sisca menyebut seluruh aset yang selama ini terus dipersoalkan Rendra.

“Bagaimana kamu tahu?”

Sisca tertawa pahit.

“Karena aku yang menyiapkan dokumennya.”

Rendra menutup mata sejenak.

Bambang langsung berbisik kepada kepala keamanan.

Namun Dina bergerak cepat.

“Jangan ada yang menyentuh dia.”

Seorang pria paruh baya di meja sebelah berdiri.

“Saya dokter.”

Ia memperkenalkan dirinya sebagai dr. Adrian, salah satu tamu dari jaringan rumah sakit yang bekerja sama dengan Wijaya Group.

“Sebaiknya perempuan ini diperiksa. Kalau benar ada zat tertentu dalam minumannya, jangan dipindahkan sembarangan.”

Wajah Bambang semakin tegang.

“Dokter, kami bisa menangani sendiri.”

“Justru karena ini menyangkut kemungkinan keracunan, sebaiknya ambulans dipanggil.”

Kata keracunan membuat bisik-bisik menyebar cepat.

Rendra kehilangan kendali.

“Tidak ada yang diracuni!”

Dina menatapnya.

“Bagaimana kamu bisa yakin?”

Rendra terdiam.

Dina melanjutkan dengan suara rendah.

“Kalau kamu tidak tahu apa yang diminumnya, seharusnya kamu juga tidak tahu apakah itu berbahaya.”

Rendra menatap istrinya seolah baru menyadari bahwa perempuan yang selama ini ia anggap mudah dikendalikan telah memasang perangkap.

Sisca mulai menangis.

“Aku bodoh.”

Dina mendekatinya.

“Katakan semuanya.”

“Jangan!” bentak Rendra.

Sisca menatap lelaki yang selama dua tahun terakhir menjanjikannya pernikahan.

Lalu sesuatu dalam dirinya seolah runtuh.

“Dia bilang akan menceraikanmu.”

Rendra menggeleng.

“Sisca, dengarkan aku.”

“Dia bilang setelah asetmu dipindahkan, dia akan menikahiku.”

Sisca menoleh kepada Dina.

“Tapi tiga hari lalu aku menemukan dokumen lain di kantor.”

“Dokumen apa?”

Sisca membuka tasnya dengan tangan gemetar.

Ia mengeluarkan ponsel, lalu membuka sebuah folder.

“Aku memotret semuanya.”

Rendra menerjang.

Namun dr. Adrian dan dua tamu pria segera menahannya.

“Berikan ponselnya!” teriak Rendra.

Dina menerima ponsel Sisca.

Foto pertama adalah rancangan surat kuasa.

Nama Dina tercantum sebagai pemberi kuasa.

Tanda tangannya tampak sangat mirip.

Masalahnya, Dina tidak pernah menandatangani dokumen itu.

Foto berikutnya adalah struktur perusahaan cangkang di Singapura.

Kemudian rekening perusahaan.

Kemudian transaksi.

Semakin lama Dina melihat, semakin dingin tubuhnya.

“Ini bukan cuma asetku.”

Sisca mengangguk.

“Mereka sudah melakukan ini bertahun-tahun.”

Bambang maju.

“Kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan.”

“Aku tahu.”

Suara Sisca melemah, tetapi tatapannya berubah.

“Karena selama dua tahun aku yang diperintahkan membuat laporan palsunya.”

Ballroom mendadak dipenuhi bisikan.

Beberapa wartawan yang hadir mulai mengangkat ponsel.

Bambang menoleh kepada mereka.

“Tidak ada yang boleh merekam!”

Sudah terlambat.

Sisca menunjuk foto sebuah spreadsheet.

Wijaya Group ternyata menggunakan sejumlah perusahaan proyek untuk menggelembungkan nilai kontrak. Dana kemudian dialihkan melalui vendor fiktif dan rekening milik orang-orang kepercayaan keluarga.

Namun foto terakhir jauh lebih mengejutkan.

Dina memperbesar layar.

Di sana terdapat daftar nama pemegang saham lama Wijaya Group.

Salah satunya adalah ayah Dina.

Arman Prasetyo.

Dina menatap Bambang.

“Ayah saya?”

Bambang tidak menjawab.

Ayah Dina meninggal sebelas tahun lalu dalam kecelakaan mobil di Tol Cipularang.

Selama ini Dina hanya tahu ayahnya pernah menjadi mitra bisnis Bambang pada masa awal Wijaya Group berdiri.

Sisca menelan ludah.

“Ayahmu bukan sekadar mitra.”

Dina merasa lantai seperti bergeser.

“Maksudmu?”

“Dia pemegang tiga puluh persen saham perusahaan.”

Rendra menunduk.

Dina menatapnya tidak percaya.

“Kamu tahu?”

Rendra tetap diam.

“Rendra!”

“Aku baru tahu setelah kita menikah.”

Jawaban itu menghantam Dina lebih keras daripada pengakuan perselingkuhan.

Delapan tahun.

Delapan tahun ia hidup bersama lelaki yang mengetahui bahwa keluarganya menyembunyikan hak waris milik Dina.

Sisca melanjutkan.

“Setelah ayahmu meninggal, saham itu seharusnya masuk ke ahli waris. Tapi ada dokumen pelepasan saham.”

“Saya tidak pernah menerima apa pun.”

“Karena tanda tangan ayahmu diduga dipalsukan.”

Bambang menghantam meja.

“Cukup!”

Untuk pertama kalinya, topeng tenang pendiri Wijaya Group itu pecah.

“Perempuan ini sedang dalam pengaruh obat. Semua perkataannya tidak bisa dipercaya.”

Dina menatapnya.

“Kalau begitu kita serahkan kepada polisi.”

Bambang membeku.

Dina mengangkat ponselnya sendiri.

“Saya sudah merekam sejak Sisca mulai bicara.”

Rendra mendekatinya.

“Dina, jangan gila.”

“Gila?”

Suara Dina bergetar.

“Kamu memasukkan sesuatu ke minumanku.”

“Aku cuma ingin kamu tidur beberapa jam.”

“Supaya apa?”

Rendra tidak menjawab.

Dina menatapnya tajam.

“Supaya sidik jariku bisa dipakai? Supaya tanda tanganku bisa dipalsukan? Atau supaya besok pagi kalian bisa bilang aku menandatangani dokumen dalam kondisi sadar?”

Rendra memucat.

Itulah jawabannya.

Sirene ambulans terdengar dari luar hotel.

Bersamaan dengan itu, dua petugas keamanan hotel masuk bersama polisi.

Rupanya salah satu wartawan telah menghubungi pihak berwenang setelah mendengar dugaan pembiusan.

Rendra mundur.

Bambang masih berusaha mempertahankan wibawanya.

“Ini kesalahpahaman keluarga.”

Dina menatap lelaki tua itu.

“Bukan.”

Ia mengangkat ponsel Sisca.

“Ini dugaan pemalsuan dokumen, penipuan, penggelapan, dan percobaan membius seseorang tanpa persetujuan.”

Sisca dibawa ke rumah sakit.

Hasil pemeriksaan malam itu menemukan zat sedatif dalam tubuhnya.

Sementara dari saku jas Rendra, polisi menemukan botol kecil yang masih berisi cairan serupa.

Penyelidikan yang bermula dari satu gelas jus akhirnya membuka sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah berani disentuh siapa pun.

Kantor Wijaya Group digeledah.

Sejumlah dokumen keuangan disita.

Beberapa rekening dibekukan.

Bambang diperiksa terkait dugaan penggelapan dan pemalsuan dokumen korporasi.

Rendra menghadapi proses hukum terpisah atas tindakannya terhadap Dina.

Namun kejutan terbesar muncul tiga minggu kemudian.

Seorang notaris pensiunan bernama Harsono datang menemui Dina.

Ia membawa sebuah kotak dokumen tua.

“Saya seharusnya memberikan ini bertahun-tahun lalu.”

Di dalamnya terdapat salinan perjanjian pendirian Wijaya Group.

Nama Arman Prasetyo tercantum jelas sebagai salah satu pendiri.

Ada pula sebuah surat tulisan tangan.

Dina mengenali tulisan ayahnya.

Surat itu dibuat beberapa bulan sebelum kecelakaan.

Ayahnya menulis bahwa ia mulai mencurigai Bambang memindahkan dana perusahaan secara ilegal. Ia berniat keluar dari bisnis dan menyerahkan kepemilikan sahamnya kepada Dina ketika putrinya cukup dewasa.

Di bagian akhir terdapat satu kalimat yang membuat Dina menangis.

Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, jangan pertahankan sesuatu hanya karena kamu takut kehilangan keluarga. Keluarga yang benar tidak membuatmu kehilangan dirimu sendiri.

Dina memeluk surat itu lama sekali.

Barulah ia memahami ironi paling kejam dalam hidupnya.

Rendra menikahinya karena mengira Dina adalah jalan menuju kekayaan yang dahulu gagal dikuasai keluarga Wijaya.

Tetapi justru karena pernikahan itulah, kejahatan mereka akhirnya terbongkar.

Enam bulan kemudian, Dina resmi bercerai.

Ia tidak pernah kembali ke rumah Pondok Indah.

Sisca menjadi saksi penting dalam penyelidikan. Dina tidak pernah menganggap perempuan itu sebagai sahabat. Luka akibat perselingkuhan tetap ada.

Namun Dina juga tidak membencinya.

Suatu sore, mereka bertemu terakhir kali di sebuah kafe kecil di Jakarta Selatan.

Sisca terlihat jauh lebih sederhana daripada malam gala itu.

“Aku minta maaf,” katanya.

Dina mengaduk kopinya perlahan.

“Aku belum bisa memaafkan semuanya.”

Sisca mengangguk.

“Aku mengerti.”

“Tapi kalau malam itu kamu tidak bicara, mungkin aku tidak akan pernah tahu tentang ayahku.”

Sisca tersenyum getir.

“Mungkin kalau kamu tidak menukar gelas itu, aku juga tidak akan pernah tahu lelaki macam apa yang selama ini kubela.”

Mereka terdiam.

Sebelum pergi, Sisca berhenti di depan pintu.

“Dina.”

“Ya?”

“Bagaimana kamu tahu gelas mana yang sudah diberi obat?”

Dina tersenyum kecil.

“Aku tidak tahu.”

Sisca mengernyit.

“Lalu kenapa kamu berani menukarnya?”

“Karena aku melihat Rendra memasukkan cairan itu.”

“Bukan itu maksudku. Bagaimana kalau aku tidak meminumnya?”

Dina menatap jalanan Jakarta di balik kaca.

“Kalau kamu tidak meminumnya, aku tetap akan membawa gelas itu ke polisi.”

Sisca terdiam.

Dina kemudian menambahkan sesuatu yang membuat perempuan itu tersenyum untuk pertama kalinya.

“Aku menukar gelas bukan untuk menjebakmu. Aku cuma ingin melihat wajah Rendra ketika rencananya tidak berjalan sesuai keinginannya.”

Setahun kemudian, sebagian hak kepemilikan yang dahulu milik ayah Dina berhasil dipulihkan melalui proses hukum.

Namun Dina tidak mengambil posisi di Wijaya Group.

Ia menjual sebagian kepemilikannya setelah restrukturisasi dan menggunakan sebagian dana untuk membangun perusahaan investasi miliknya sendiri.

Di ruang kerjanya, ia menyimpan surat ayahnya dalam bingkai sederhana.

Tidak ada foto Rendra.

Tidak ada kenangan tentang keluarga Wijaya.

Hanya satu surat dan satu gelas kaca kosong yang ia simpan di lemari kecil.

Bukan karena gelas itu indah.

Melainkan karena setiap kali melihatnya, Dina teringat malam ketika seseorang mencoba mengambil kendali atas hidupnya.

Mereka mengira dirinya akan tertidur.

Mereka mengira ia akan diam.

Mereka mengira delapan tahun pernikahan telah membuatnya terlalu takut untuk melawan.

Mereka salah.

Karena malam itu, yang akhirnya tertidur bukan keberanian Dina.

Melainkan kekuasaan keluarga Wijaya yang selama puluhan tahun dibangun di atas kebohongan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang