Malam itu aku tidak pulang ke rumah.
Aku memesan taksi daring dan langsung menuju apartemen kecil milik kakakku, Rina, di kawasan Tebet. Sepanjang perjalanan, layar ponselku terus menampilkan tiga transaksi yang sama.
Rp300 juta.
Rp280 juta.
Rp340 juta.
Semuanya masuk ke rekening atas nama Maya.
Total Rp920 juta.
Aku mengambil tangkapan layar setiap transaksi, mengunduh mutasi rekening enam bulan terakhir, lalu mengirimkan seluruh dokumen itu ke email pribadiku.
Aku tidak tahu seberapa jauh Budi sudah merencanakan semua ini. Karena itu, aku tidak mau mengambil risiko kehilangan bukti.
Begitu tiba di apartemen Rina, aku langsung menelepon seseorang yang sudah lama tidak kuhubungi.
Namanya Ratih Prameswari.
Teman kuliahku yang sekarang menjadi pengacara keluarga dan sengketa bisnis di Jakarta.
Ratih datang satu jam kemudian.
Ia membaca draf perceraian yang tadi diberikan Budi, kemudian memeriksa mutasi rekening bersama kami.
Wajahnya berubah serius.
“Kamu yakin transfer ini bukan untuk kepentingan perusahaan?”
“Kalau untuk perusahaan, kenapa dikirim ke rekening pribadi Maya?”
Ratih tidak menjawab.
Ia membuka halaman terakhir draf kesepakatan.
“Dan mereka ingin kamu melepaskan hak untuk menuntut harta lain setelah dokumen ini ditandatangani.”
Aku mengangguk.
Ratih meletakkan berkas itu di meja.
“Jangan tanda tangan apa pun.”
“Aku memang tidak akan tanda tangan.”
“Bukan cuma itu. Mulai sekarang jangan konfrontasi Budi soal uang ini. Jangan beri tahu dia bahwa kamu sudah tahu.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena kalau dia sadar kamu menemukan transfer tersebut, dia bisa memindahkan aset lain sebelum kita sempat melacaknya.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Aset lain.
Selama sepuluh tahun menikah, aku tidak pernah benar-benar mencampuri pengelolaan bisnis Budi. Setelah perusahaan berkembang, aku memilih kembali bekerja sebagai konsultan pemasaran. Aku percaya kepadanya.
Ternyata kepercayaan itulah yang sekarang digunakan untuk menyingkirkanku.
Malam itu Ratih meminta satu hal.
“Kumpulkan semua dokumen keuangan yang masih bisa kamu akses. Rekening bersama, bukti pembayaran rumah, dokumen kendaraan, laporan pajak, investasi, apa pun.”
Aku bekerja sampai hampir pukul tiga pagi.
Semakin banyak dokumen kubuka, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Ada pembayaran Rp175 juta kepada sebuah perusahaan bernama PT Arunika Konsultan Nusantara.
Ada lagi Rp210 juta dua bulan berikutnya.
Lalu Rp150 juta dengan keterangan jasa pengembangan bisnis.
Aku tidak pernah mendengar nama perusahaan itu.
Ratih langsung mencari data perusahaan tersebut melalui dokumen publik yang tersedia.
Beberapa menit kemudian, ia menatapku.
“Direkturnya bernama Maya Kusuma.”
Aku merasa sesuatu menghantam dadaku.
Jadi Rp920 juta itu belum semuanya.
Maya bukan sekadar menerima transfer pribadi. Perusahaan miliknya juga menerima ratusan juta dari bisnis Budi.
Kami menghitung seluruh transaksi yang bisa ditemukan.
Jumlah sementara mencapai lebih dari Rp1,4 miliar.
Aku menutup mata.
Anehnya, aku tidak menangis.
Rasanya air mataku sudah habis di tempat yang bahkan tidak kusadari.
Pagi harinya Budi menelepon.
Aku membiarkannya berdering tiga kali sebelum menjawab.
“Kamu di mana?”
“Di tempat Rina.”
“Kapan pulang?”
“Aku butuh waktu.”
Budi menghela napas.
“Tari, jangan bikin semuanya sulit. Maya stres sejak kemarin. Dia hamil.”
Aku hampir tertawa.
Di antara semua hal yang bisa dia katakan, dia justru mengkhawatirkan stres wanita yang berselingkuh dengannya.
“Aku juga manusia, Budi.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kamu tidak tahu.”
Suasana di ujung telepon hening.
Lalu suaranya melunak.
“Kalau soal pembagian harta, kita bisa tambah kompensasi. Aku bisa kasih kamu Rp200 juta.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
Laki-laki itu sudah mengambil lebih dari satu miliar rupiah dari aset yang kami bangun bersama, lalu menawarkan dua ratus juta seolah sedang memberiku uang belas kasihan.
Namun aku mengingat pesan Ratih.
Jangan beri tahu dia bahwa kamu sudah tahu.
“Beri aku beberapa hari,” jawabku.
Budi terdengar lega.
“Baik. Jangan terlalu lama. Maya sebentar lagi masuk bulan keempat. Aku ingin semuanya selesai sebelum keluarga besar tahu.”
Aku mematikan telepon.
Saat itulah aku menyadari kelemahan terbesar Budi.
Dia bukan hanya serakah.
Dia juga terburu-buru.
Dan orang yang terburu-buru sering meninggalkan jejak.
Selama dua minggu berikutnya, Ratih dan timnya memeriksa dokumen demi dokumen. Aku juga menghubungi mantan staf keuangan perusahaan Budi bernama Dimas.
Awalnya Dimas menolak bertemu.
Namun ketika aku mengatakan bahwa aku hanya ingin memahami beberapa transaksi lama, dia akhirnya setuju.
Kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil di Cikini.

Dimas datang mengenakan jaket abu-abu dan terus melihat ke sekeliling.
“Bu Tari, saya sebenarnya tidak mau ikut campur.”
“Aku tidak meminta kamu memihak siapa pun.”
Aku meletakkan salinan transaksi PT Arunika di atas meja.
“Aku cuma ingin tahu ini pembayaran apa.”
Wajah Dimas langsung berubah.
Ia mengenali nama perusahaan tersebut.
“Dari mana Ibu dapat ini?”
“Jawab pertanyaanku.”
Dimas terdiam lama.
Kemudian ia menarik napas.
“PT Arunika tidak pernah memberikan jasa apa pun kepada perusahaan Pak Budi.”
Jantungku berdegup keras.
“Lalu kenapa dibayar?”
“Saya juga pernah tanya.”
“Jawabannya?”
“Pak Budi bilang itu urusan direktur.”
Dimas menunduk.
“Beberapa bulan lalu saya diminta menyiapkan pembayaran rutin ke perusahaan itu. Saya menolak karena tidak ada kontrak kerja, invoice-nya juga aneh. Seminggu kemudian saya dipindahkan dari bagian keuangan. Dua bulan setelahnya saya mengundurkan diri.”
“Berapa total uang yang ditransfer?”
“Saya tidak tahu pasti. Tapi bukan cuma yang ini.”
Ia menatapku dengan ragu sebelum mengeluarkan ponsel.
“Saya masih punya satu foto.”
Foto itu memperlihatkan layar komputer berisi daftar pembayaran.
Ada tujuh transaksi kepada PT Arunika.
Jumlahnya hampir Rp2,3 miliar.
Darahku terasa turun ke kaki.
“Kenapa kamu menyimpan foto ini?”
“Karena saya takut suatu hari saya yang disalahkan.”
Dimas menatapku serius.
“Bu Tari, ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“PT Arunika bukan satu-satunya.”
Aku membeku.
“Ada perusahaan lain?”
Dimas mengangguk.
“PT Karya Sentosa Mandiri.”
Nama itu terasa asing.
Namun ketika Ratih memeriksa dokumennya beberapa jam kemudian, sesuatu yang jauh lebih mengejutkan muncul.
Komisaris PT Karya Sentosa Mandiri adalah Hendra Kusuma.
Ayah Maya.
Kami menelusuri transaksi yang tersedia.
Dalam delapan bulan terakhir, lebih dari Rp3,1 miliar telah keluar dari perusahaan Budi menuju dua perusahaan yang terhubung dengan keluarga Maya.
Ditambah transfer pribadi, jumlahnya melewati Rp4 miliar.
Saat itulah aku mengerti bahwa perselingkuhan bukan bagian paling buruk dari cerita ini.
Budi sedang memindahkan uang.
Sedikit demi sedikit.
Dan dia membutuhkan tanda tanganku agar setelah perceraian selesai, aku kehilangan dasar untuk menuntut sebagian aset yang telah dialihkan.
Tiga minggu setelah pertemuan pertama, Budi mengatur pertemuan kedua.
Kali ini dia memilih kantor pengacaranya.
Ketika aku masuk bersama Ratih, wajah Budi langsung berubah.
Maya kembali hadir.
Begitu pula pengacaranya.
Namun kali ini aku tidak datang sendirian.
Ratih duduk di sampingku dan meletakkan sebuah map hitam tebal di meja.
Budi berusaha tersenyum.
“Bagus. Akhirnya kamu bawa pengacara juga.”
Ratih menjawab tenang.
“Kami sudah mempelajari draf kesepakatannya.”
“Dan?”
“Kami menolak.”
Wajah Maya langsung tegang.
Budi menatapku.
“Tari, apa lagi yang kamu mau?”
Aku membuka map.
Aku mengeluarkan tiga lembar mutasi rekening.
Kutaruh satu per satu di meja.
15 November, Rp300 juta.
3 Desember, Rp280 juta.
8 Januari, Rp340 juta.
Wajah Budi kehilangan warna.
Maya spontan menoleh kepadanya.
Aku belum selesai.
Ratih mengeluarkan dokumen berikutnya.
Transaksi PT Arunika.
Kemudian PT Karya Sentosa Mandiri.
Ruangan mendadak sunyi.
“Total transaksi yang sementara kami temukan lebih dari empat miliar rupiah,” ujar Ratih. “Sebagian berasal dari rekening bersama, sebagian diduga berasal dari dana perusahaan yang berkaitan dengan aset selama masa perkawinan.”
Budi menelan ludah.
“Itu transaksi bisnis.”
“Bagus,” jawab Ratih. “Kalau begitu tentu ada kontrak, bukti pekerjaan, laporan pajak, dan dokumen pendukung.”
Budi diam.
Maya mulai terlihat panik.
Ia menoleh kepada pengacaranya.
“Saya tidak tahu soal perusahaan itu.”
Aku menatapnya.
“PT Arunika?”
Maya terdiam.
“Perusahaan yang kamu dirikan sebelas bulan lalu?”
“Saya cuma mengikuti arahan Budi.”
Budi langsung menoleh tajam.
“Maya!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Maya menatapnya dengan mata membesar.
“Kamu bilang uang itu legal!”
“Diam!”
“Kamu bilang itu uangmu sendiri!”
Budi berdiri.
Ratih segera berkata dengan nada dingin, “Pak Budi, sebaiknya duduk.”
Budi menatapku penuh kemarahan.
“Kamu sengaja menjebakku?”
Aku hampir tidak percaya mendengarnya.
“Aku?”
Aku menunjuk dokumen di meja.
“Kamu yang berselingkuh. Kamu yang memindahkan uang. Kamu yang membawa pengacara selingkuhanmu untuk membuatku melepaskan hak atas harta. Tapi sekarang aku yang menjebakmu?”
Tidak ada seorang pun menjawab.
Lalu Maya mulai menangis.
“Aku tidak mau terlibat masalah hukum.”
Budi memegang lengannya.
“Tidak akan ada masalah hukum.”
Maya menepis tangannya.
“Ada! Kamu bilang perusahaan itu cuma dipakai sementara.”
Pengacaranya langsung menghentikannya.
“Mbak Maya, jangan bicara lagi.”
Namun satu kalimat sudah cukup.
Dipakai sementara.
Ratih dan aku saling memandang.
Pertemuan itu berakhir tanpa tanda tangan.
Dua hari kemudian, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Maya menghubungiku.
Ia meminta bertemu tanpa Budi.
Aku hampir menolak, tetapi Ratih menyarankan agar aku datang bersama dirinya.
Maya tiba dengan wajah pucat dan mata sembap.
Ia membawa sebuah flashdisk.
“Saya mau menyerahkan ini.”
“Apa isinya?”
“Percakapan saya dengan Budi. Dokumen transfer. Beberapa email.”
Aku menatapnya curiga.
“Kenapa?”
Maya menangis.
“Karena dia bohong kepada saya juga.”
Ternyata Budi mengatakan kepada Maya bahwa pernikahan kami sudah praktis berakhir sejak setahun lalu. Ia mengaku aku sudah menyetujui perceraian dan seluruh uang yang dikirim kepadanya adalah milik pribadinya.
Namun setelah pertemuan terakhir, Maya mulai memeriksa semuanya.
Dan ia menemukan sesuatu.
“Budi bukan cuma memindahkan uang ke saya dan perusahaan ayah saya,” katanya.
Ia membuka laptop.
Ada sebuah rekening investasi yang selama ini tidak pernah kuketahui.
Nilainya lebih dari Rp6 miliar.
Rekening itu dibuat hampir dua tahun lalu.
Jauh sebelum Maya hamil.
Bahkan sebelum hubungan mereka dimulai.
Nama penerima manfaatnya bukan Maya.
Melainkan seorang perempuan bernama Siska Pratama.
Aku tidak mengenal nama itu.
Maya menatapku.
“Saya juga tidak.”
Penyelidikan berikutnya mengungkap fakta yang akhirnya menghancurkan semua kebohongan Budi.
Siska adalah mantan kekasihnya sebelum kami menikah.
Selama hampir empat tahun terakhir, Budi diam-diam mengirim uang kepadanya.
Dan bukan hanya itu.
Siska memiliki seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun.
Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut melalui proses hukum, terungkap bahwa anak tersebut adalah anak biologis Budi.
Aku merasa dunia berhenti.
Sembilan tahun.
Artinya perselingkuhan itu terjadi hanya setahun setelah pernikahan kami.
Maya bukan awal pengkhianatannya.
Maya hanyalah pengkhianatan terbaru.
Semua kalimat tentang cinta kami yang sudah hilang, semua alasan tentang dua tahun terakhir, semua pembenaran bahwa hubungan kami sudah lama rusak ternyata hanya cerita yang dibangun Budi untuk membuat dirinya terlihat seperti korban dari pernikahan yang gagal.
Kebenarannya jauh lebih sederhana.
Budi sudah berbohong hampir sejak awal.
Proses perceraian kami berlangsung berbulan-bulan.
Dengan bukti transaksi, dokumen perusahaan, kesaksian mantan staf, dan data aset yang sebelumnya disembunyikan, draf lima halaman yang dahulu mereka sodorkan kepadaku tidak lagi berarti apa-apa.
Budi akhirnya harus mempertanggungjawabkan aset yang dipindahkan dan membuka catatan keuangan yang selama bertahun-tahun disembunyikannya.
Hubungannya dengan Maya juga berakhir sebelum perceraian kami resmi selesai.
Maya memilih menjauh setelah menyadari bahwa dirinya bukan perempuan yang dipilih Budi untuk kehidupan baru.
Ia hanya salah satu tempat Budi menyembunyikan uang sekaligus kebohongan.
Beberapa bulan kemudian, aku berdiri di depan rumah yang dahulu kubangun bersama Budi.
Rumah itu akhirnya menjadi milikku.
Namun anehnya, aku tidak ingin tinggal di sana.
Terlalu banyak kenangan yang terasa seperti barang palsu.
Aku menjualnya.
Sebagian uangnya kugunakan untuk mengembalikan seluruh uang orang tuaku yang dulu kupakai membantu Budi, meskipun mereka berkali-kali mengatakan tidak perlu.
Ketika transfer selesai, ibuku menelepon.
“Kamu tidak punya utang kepada Mama.”
Aku menahan tangis.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa dikembalikan?”
Aku melihat keluar jendela apartemen baruku.
“Karena aku ingin menutup semuanya dengan benar.”
Ibu terdiam sebelum berkata pelan, “Kalau begitu sekarang mulailah hidupmu sendiri.”
Setelah telepon berakhir, aku membuka laptop.
Di sebuah folder lama, aku menemukan foto sepuluh tahun lalu.
Aku dan Budi berdiri di depan kantor kecil pertamanya.
Tiga karyawan.
Satu papan nama murah.
Dua meja bekas.
Dan dua orang yang tersenyum seolah dunia berada di tangan mereka.
Dulu aku berpikir perempuan dalam foto itu bodoh karena terlalu percaya.
Sekarang aku tidak lagi berpikir begitu.
Dia tidak bodoh.
Dia hanya mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh.
Yang salah bukan kepercayaannya.
Yang salah adalah orang yang memilih mengkhianatinya.
Aku menutup foto itu.
Ironisnya, semuanya terbongkar hanya karena Budi terlalu serakah.
Kalau dia tidak memindahkan Rp920 juta itu, mungkin aku akan mengira perceraian kami hanyalah akhir menyedihkan dari sebuah pernikahan.
Kalau pengacara Maya tidak datang lebih dulu, mungkin aku tidak akan curiga mengapa semuanya dipersiapkan begitu tergesa-gesa.
Dan kalau mereka tidak menyuruhku segera menandatangani lima lembar kertas itu, mungkin aku tidak akan pernah membuka mutasi rekening.
Pada akhirnya, bukan perselingkuhan yang membongkar dosa Budi.
Bukan pengakuan Maya.
Bukan pula seorang saksi rahasia.
Hanya tiga baris transaksi di layar ponsel.
Tiga angka yang membuatku memahami satu pelajaran yang tidak pernah diajarkan oleh sepuluh tahun pernikahan.
Kadang-kadang, ketika seseorang terlalu bersemangat menutup sebuah pintu di belakangmu, jangan buru-buru pergi.
Lihatlah ke dalam sekali lagi.
Mungkin ada sesuatu yang sedang mati-matian mereka sembunyikan sebelum pintu itu benar-benar tertutup.
