AKU PURA-PURA TIDUR UNTUK MENGUJI ANAK ASISTEN RUMAH TANGGAKU, TAPI SAAT TANGANNYA MENYENTUH UANG DAN JAM EMASKU, UCAPANNYA MENGUBAH SEMUA YANG KUPERCAYAI TENTANG DIRINYA DAN IBUNYA

Rangga masih memegang kotak hitam itu ketika aku berjalan mendekatinya.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat ketakutan yang benar-benar nyata di wajah keponakanku.

“Buka,” kataku.

“Om, ini enggak seperti yang Om pikirkan.”

“Buka kotaknya.”

Tangannya gemetar.

Dimas berdiri beberapa langkah di belakangnya, memegang ponsel tua yang masih merekam. Anak itu tidak terlihat puas. Tidak ada senyum kemenangan di wajahnya. Justru ia tampak lebih takut daripada sebelumnya.

Aku merebut kotak itu dari tangan Rangga dan membukanya.

Di dalamnya ada cincin berlian milik mendiang istriku.

Aku mengenalinya bahkan sebelum cahaya lampu menyentuh permukaannya.

Napas terasa tertahan di tenggorokanku.

Cincin itu kusimpan di laci berkunci dalam kamar sejak istriku meninggal tiga tahun lalu. Aku hampir tidak pernah menyentuhnya.

Dua minggu sebelumnya, Rangga mengatakan cincin itu hilang.

Dan saat itulah untuk pertama kalinya dia menyebut nama Dimas.

“Barang-barang mulai hilang sejak anak Bu Ratih tinggal di sini, Om.”

Aku menatap Rangga.

“Kamu bilang Dimas yang mengambilnya.”

“Om, dengar dulu.”

“Kamu juga yang menemukan kotak cincin kosong di dekat kamar Bu Ratih.”

Rangga semakin pucat.

Aku akhirnya memahami semuanya.

Bukti itu bukan ditemukan.

Bukti itu diletakkan.

“Kenapa?”

Rangga menggeleng cepat.

“Saya cuma mau bikin mereka pergi.”

“Kenapa?”

“Karena mereka bikin masalah.”

“Masalah apa?”

Dia diam.

Aku menoleh kepada Dimas.

“Panggil ibumu.”

Dimas berlari menuju belakang rumah.

Beberapa menit kemudian Bu Ratih muncul dengan wajah kebingungan. Perempuan berusia hampir lima puluh tahun itu masih mengenakan celemek. Begitu melihat Rangga dan cincin di tanganku, langkahnya langsung berhenti.

Anehnya, ekspresinya bukan terkejut.

Melainkan seperti seseorang yang akhirnya melihat sesuatu yang sudah lama ditakutkannya terjadi.

“Bu Ratih,” kataku. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

Dia menunduk.

“Tidak ada apa-apa, Pak.”

Dimas langsung menatap ibunya.

“Ibu.”

“Diam, Mas.”

“Ibu sudah janji.”

Bu Ratih menggenggam tangan anaknya.

“Masuk kamar.”

Dimas tidak bergerak.

“Kalau Ibu terus diam, dia akan terus melakukan ini.”

Aku memandang keduanya.

“Melakukan apa?”

Bu Ratih tetap bungkam.

Rangga tiba-tiba mengambil langkah menuju pintu.

“Berhenti.”

Dia berhenti.

Aku mengambil ponselku.

“Kalau kamu pergi sekarang, saya panggil polisi.”

Rangga berbalik.

“Om mau laporin saya cuma gara-gara cincin?”

“Bukan cuma cincin.”

Aku menunjuk kamera Dimas.

“Ada rekaman kamu mencoba menanam barang curian di tas anak itu.”

Rangga tertawa pendek.

“Barang curian? Itu barang keluarga kita.”

“Rumah ini rumah saya. Barang itu milik mendiang istri saya.”

Ekspresinya berubah.

Aku kembali menatap Bu Ratih.

“Sekarang bicara.”

Perempuan itu menarik napas panjang.

“Pak Bima masih ingat rekening perusahaan yang sempat bermasalah dua bulan lalu?”

Aku mengangguk.

Ada transaksi aneh dari salah satu rekening operasional perusahaan. Nilainya tidak terlalu besar dibandingkan skala bisnis kami, sekitar seratus delapan puluh juta rupiah. Rangga mengatakan itu kesalahan administrasi dan uangnya sudah dikembalikan.

Karena dia sudah seperti anak sendiri bagiku, aku tidak memperpanjang persoalan.

Bu Ratih berjalan ke kamarnya dan kembali membawa sebuah amplop cokelat.

Dari dalamnya, dia mengeluarkan beberapa lembar kertas.

“Ini saya temukan waktu membersihkan ruang kerja kecil dekat garasi.”

Aku membacanya.

Itu bukti transfer.

Namaku tercantum sebagai pihak yang memberikan persetujuan.

Tetapi tanda tangannya bukan milikku.

Di bawahnya ada nomor rekening penerima yang tidak kukenal.

Aku melihat tanggalnya.

Sama dengan tanggal transaksi bermasalah itu.

Aku menatap Rangga.

“Apa ini?”

“Om jangan percaya pembantu daripada keluarga sendiri.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang mungkin dia sadari.

Bu Ratih langsung berkata, “Saya tidak pernah berniat ikut campur, Pak. Saya mau buang kertas itu karena saya pikir sudah tidak terpakai. Tapi saya melihat tanda tangan Bapak.”

“Kenapa tidak langsung diberikan kepada saya?”

Dia tersenyum getir.

“Karena Pak Rangga melihat saya menemukannya.”

Rangga mengumpat pelan.

Bu Ratih melanjutkan.

“Malam itu dia datang ke kamar saya. Dia bilang kalau saya menyerahkan kertas itu kepada Bapak, saya dan Dimas akan dituduh mencuri.”

Aku terdiam.

“Sejak itu barang-barang mulai hilang,” kata Dimas.

Sekarang semuanya masuk akal.

Barang kecil.

Uang.

Cincin.

Semuanya bukan sekadar pencurian.

Rangga sedang membangun sebuah cerita.

Sedikit demi sedikit dia membuatku percaya bahwa Bu Ratih dan Dimas tidak bisa dipercaya, sehingga jika suatu hari mereka mengatakan sesuatu tentang dirinya, aku akan menganggapnya sebagai kebohongan.

Dan yang paling menyakitkan, rencananya berhasil.

Aku memang mempercayainya.

“Ada lagi?” tanyaku.

Bu Ratih menatap Dimas.

Anak itu membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Ini yang sebenarnya dia cari di kamar kami.”

Rangga langsung bergerak.

Cepat sekali.

Dia menerjang ke arah Dimas.

Aku mendorong tubuhnya sebelum tangannya mencapai anak itu.

Rangga terhuyung menabrak meja.

“Apa isinya?”

Dimas menyerahkan flashdisk itu kepadaku.

“Saya enggak tahu semuanya. Tapi saya pernah lihat dia pakai laptop di ruang kerja Bapak malam-malam. Waktu dia pergi ke toilet, saya salin folder yang sedang terbuka.”

“Kamu masuk ruang kerja saya?”

Dimas menunduk.

“Iya.”

“Kenapa?”

Dia menggigit bibir.

“Karena saya mau cari bukti buat Ibu.”

Aku seharusnya marah.

Namun setelah apa yang baru kulihat, kemarahanku kehilangan arah.

Aku membawa mereka ke ruang kerja dan memasukkan flashdisk ke laptop.

Ada puluhan dokumen.

Salinan rekening.

Surat persetujuan.

Invoice palsu.

Data beberapa perusahaan vendor.

Semakin lama aku membacanya, semakin dingin tanganku.

Rangga bukan hanya mengambil seratus delapan puluh juta.

Selama hampir dua tahun, dia menggunakan vendor fiktif untuk mengalirkan uang perusahaan sedikit demi sedikit.

Jumlah keseluruhannya lebih dari tiga miliar rupiah.

Aku menatap laki-laki yang selama bertahun-tahun duduk satu meja denganku setiap Lebaran, menemaniku ke rumah sakit ketika istriku meninggal, bahkan pernah kupersiapkan untuk menduduki posisi penting di perusahaan.

“Kenapa, Rangga?”

Dia tidak menjawab.

“Kurang apa saya sama kamu?”

Rangga tertawa.

Tetapi matanya merah.

“Justru itu masalahnya, Om.”

“Apa?”

“Om selalu merasa sudah memberikan semuanya.”

Dia menunjuk rumah di sekeliling kami.

“Om kasih saya pekerjaan. Om kasih gaji. Om kasih mobil kantor. Tapi semuanya tetap punya Om.”

Aku tidak percaya apa yang kudengar.

“Saya bantu bangun perusahaan itu bertahun-tahun.”

“Kamu dibayar.”

“Dibayar?”

Suaranya meninggi.

“Sementara Om punya rumah sebesar ini, saham, tanah, perusahaan. Saya apa? Keponakan yang harus bilang terima kasih setiap kali dikasih sesuatu?”

Aku memandangnya lama.

Ternyata rasa iri bisa hidup bertahun-tahun di balik wajah seseorang yang setiap pagi tersenyum kepadamu.

“Aku memperlakukanmu seperti anak sendiri.”

“Itulah yang selalu Om bilang.”

Rangga menunjuk Dimas.

“Tapi lihat sekarang. Anak pembantu ini bikin satu rekaman, Om langsung percaya dia.”

Aku menggeleng.

“Bukan rekamannya yang membuat saya percaya.”

“Lalu apa?”

“Perbuatanmu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku menghubungi kepala keamanan kompleks dan meminta mereka datang. Setelah itu aku menelepon pengacaraku.

Rangga tidak lagi mencoba kabur.

Sebelum dibawa keluar, dia berhenti di depan Bu Ratih.

“Puas?”

Bu Ratih menggeleng.

“Tidak.”

“Anakmu menang.”

“Ini bukan pertandingan.”

Rangga tertawa sinis.

Bu Ratih menatapnya lurus.

“Saya cuma ingin anak saya tidak tumbuh dengan keyakinan bahwa orang miskin harus diam ketika difitnah orang yang lebih berkuasa.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Rangga tidak punya jawaban.

Beberapa hari berikutnya terasa seperti mimpi buruk.

Audit internal dilakukan.

Semakin banyak penyimpangan ditemukan.

Polisi mulai menyelidiki.

Aku juga mengetahui Rangga terlilit utang karena investasi spekulatif dan gaya hidup yang selama ini dia sembunyikan dariku.

Namun ada satu hal yang jauh lebih sulit kuhadapi daripada kehilangan uang.

Rasa malu.

Aku memanggil Bu Ratih dan Dimas ke ruang keluarga seminggu kemudian.

Meja kaca tempat aku meletakkan uang jebakan masih berada di sana.

Bu Ratih berdiri dengan gelisah.

“Kalau soal pekerjaan, Pak, saya mengerti kalau Bapak mau kami pergi.”

Aku terkejut.

“Kenapa saya menyuruh kalian pergi?”

Dia menunduk.

“Dimas masuk ruang kerja Bapak tanpa izin.”

Dimas langsung maju.

“Itu salah saya. Jangan pecat Ibu.”

Aku melihat anak itu.

Beberapa hari sebelumnya, aku sengaja mengujinya dengan uang.

Sekarang dia berdiri di depanku dan siap menerima hukuman demi melindungi ibunya.

“Apa kamu tahu kenapa saya menaruh uang dan jam tangan itu?”

Dimas mengangguk.

“Bapak mau lihat saya maling atau bukan.”

Aku merasa kalimat itu seperti tamparan.

“Maaf.”

Dimas terdiam.

Bu Ratih buru-buru berkata, “Tidak perlu minta maaf, Pak.”

“Perlu.”

Aku menatap perempuan yang sudah delapan tahun bekerja di rumahku.

Delapan tahun.

Dia memegang kunci rumah, membersihkan kamar, menyiapkan makanan ketika istriku sakit, bahkan menemani kami di rumah sakit pada malam terakhir istriku.

Tetapi hanya dibutuhkan beberapa kalimat dari Rangga untuk membuatku meragukannya.

“Kesalahan terbesar saya bukan percaya Rangga,” kataku. “Kesalahan saya adalah betapa mudahnya saya mencurigai kalian.”

Bu Ratih mengusap matanya.

Dimas masih diam.

Aku mengambil sebuah amplop dan menyerahkannya kepada Dimas.

Dia tidak mau menerimanya.

“Apa ini?”

“Buka.”

Di dalamnya bukan uang.

Melainkan surat penerimaan dan bukti pembayaran biaya sekolah.

Aku mengetahui dari Bu Ratih bahwa Dimas hampir berhenti sekolah karena biaya. Anak itu ternyata diterima di salah satu SMK teknologi yang bagus di Jakarta, tetapi ibunya tidak sanggup membayar seluruh kebutuhannya.

Dimas menatapku.

“Pak, saya enggak bisa terima.”

“Kenapa?”

“Saya bantu Bapak bukan supaya dibayar.”

“Saya tahu.”

“Terus kenapa?”

Aku tersenyum.

“Karena saya pernah salah menilai kamu. Tapi saya tidak mau melakukan kesalahan kedua dengan membiarkan kemampuanmu terbuang.”

Dimas menatap ibunya.

Bu Ratih menangis tanpa suara.

Namun anak itu masih belum mengambil amplop tersebut.

“Ada syaratnya,” kataku.

Dia langsung menatapku curiga.

“Kamu harus belajar serius. Dan lain kali kalau menemukan kejahatan, jangan bertindak sendirian seperti orang di film. Itu berbahaya.”

Untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumahku, Dimas tertawa.

Dia akhirnya menerima amplop itu.

Dua tahun kemudian, kasus Rangga selesai di pengadilan.

Sebagian aset perusahaan berhasil dipulihkan.

Aku tidak pernah lagi berbicara dengannya.

Bukan karena masih marah.

Melainkan karena ada pengkhianatan yang tidak harus dibalas, tetapi juga tidak wajib diberi jalan kembali.

Suatu sore, ketika aku pulang dari kantor, aku melihat sebuah benda tergeletak di meja kaca.

Jam tangan emasku.

Di sampingnya ada beberapa lembar uang.

Aku spontan berhenti.

Kenangan hari itu langsung kembali.

Kemudian Dimas keluar dari ruang belakang.

Sekarang dia sudah lebih tinggi. Seragam sekolahnya sudah diganti dengan kemeja magang dari sebuah perusahaan teknologi.

Dia menunjuk meja.

“Pak, uangnya jangan ditaruh sembarangan.”

Aku tersenyum.

“Kenapa? Takut dicuri?”

Dimas menggeleng.

“Takut Bapak mulai menguji orang lagi.”

Aku tertawa.

Dia ikut tersenyum.

Kemudian sebelum pergi, Dimas mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam cukup lama.

“Orang jujur juga bisa sakit hati kalau terus-terusan dipaksa membuktikan bahwa dia bukan pencuri.”

Setelah dia pergi, aku memandangi uang dan jam tangan itu.

Dulu aku mengira kekayaan membuatku pandai membaca manusia.

Aku merasa pengalaman membuatku tahu siapa yang bisa dipercaya.

Ternyata aku keliru.

Hari itu aku memang memasang jebakan untuk menguji seorang anak miskin.

Tetapi pada akhirnya, jebakan itu justru membongkar kesombonganku sendiri.

Aku belajar bahwa pengkhianatan tidak selalu datang dari orang asing yang masuk melalui pintu belakang.

Kadang ia duduk bertahun-tahun di meja makan kita, memanggil kita keluarga, dan mengetahui persis prasangka apa yang harus disentuh agar kita berhenti mempercayai orang yang tidak bersalah.

Dan kejujuran pun tidak selalu datang dengan pakaian rapi, jabatan tinggi, atau nama keluarga yang sama.

Kadang ia datang dalam kaus lusuh, membawa ponsel dengan layar retak, lalu mempertaruhkan satu-satunya hal yang dimilikinya demi membela nama ibunya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang