RAHASIA KELAM DI BALIK TALI MERAH! ANJING LIAR MEMBAWA SEORANG IBU KE RUMAH MANTAN SUAMINYA, DAN PETUNJUK ITU MEMBONGKAR DOSA YANG TERPENDAM SELAMA DUA PULUH TAHUN!

Rian belum sempat menurunkan tangannya ketika saya sudah melangkah masuk.

“Rumah Kakek di mana?”

Suara saya terdengar asing di telinga sendiri. Rendah, bergetar, tetapi cukup tajam membuat Maya refleks memeluk putranya.

Budi segera berdiri di depan saya.

“Rina, kamu salah paham.”

Saya menatapnya.

“Lima tahun aku hidup tanpa tahu anakku masih bernapas atau tidak. Jangan pernah lagi bilang aku salah paham.”

Budi membuka kedua tangannya seolah ingin menenangkan saya.

“Kirana tidak ada di sana.”

“Kalau begitu kenapa kamu takut?”

Dia diam.

Saya berbalik kepada Rian.

Anak itu memandang saya dengan mata besar dan bingung.

“Sayang,” kata saya pelan, “Kakak yang kamu maksud namanya siapa?”

Rian melirik ayahnya lebih dulu.

Budi langsung membentak.

“Masuk kamar!”

Rian tersentak.

“Sekarang!”

Tangis anak itu pecah.

Maya berdiri dan mendorong dada Budi.

“Jangan bentak anakku!”

Untuk pertama kalinya, wajah perempuan itu tidak lagi menunjukkan kejengkelan kepada saya. Kini ada ketakutan yang sama di matanya.

“Budi,” katanya, “siapa Kirana?”

Budi memijat pelipis.

“Anakku dari pernikahan sebelumnya.”

Maya menatapnya seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.

“Kamu bilang kamu tidak pernah punya anak.”

Kalimat itu menghantam ruangan seperti benda berat.

Saya menatap Budi semakin tajam.

Dia tidak hanya meninggalkan saya.

Dia menghapus Kirana dari hidup barunya.

Rian, yang masih menangis, memeluk pinggang ibunya.

Lalu dengan suara tersendat ia berkata, “Kakaknya namanya Nana.”

Lutut saya hampir lemas.

Nana.

Itulah nama panggilan Kirana ketika masih kecil.

Hanya orang-orang tertentu yang tahu.

Saya berlutut di depan Rian.

“Kamu pernah bertemu Kak Nana?”

Rian mengangguk.

“Dua kali.”

Budi bergerak hendak menariknya, tetapi Maya langsung berdiri menghalangi.

“Jangan sentuh dia.”

Nada suaranya berubah dingin.

“Biarkan dia bicara.”

Rian menyeka air mata.

“Kak Nana tinggal sama Kakek di rumah dekat kebun karet. Waktu Ayah bawa Rian ke sana, Ayah bilang jangan cerita ke Ibu.”

Dada saya terasa seperti dihantam palu.

“Di mana rumahnya?”

Rian berpikir beberapa detik.

“Lewat jalan besar yang ada patung burungnya. Terus ada masjid warna hijau. Terus jauh lagi.”

Budi tiba-tiba meraih kunci mobil di atas meja.

“Cukup!”

Saya menghadangnya.

“Bawa aku ke sana.”

“Tidak.”

“Kalau tidak, aku telepon polisi sekarang.”

Budi tertawa pendek, tetapi wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun keberanian.

“Polisi? Dengan cerita anak lima tahun dan tali merah di kaki anjing?”

Saya mengeluarkan ponsel.

“Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa takut?”

Dia menatap layar ponsel saya.

Lalu sesuatu dalam dirinya runtuh.

Bahunya jatuh.

Wajahnya berubah tua dalam hitungan detik.

Maya menatapnya dengan jijik.

“Ada apa di rumah itu?”

Budi menelan ludah.

“Bukan seperti yang kalian pikirkan.”

Saya mendekat.

“Kalimat itu biasanya keluar dari mulut orang yang sudah melakukan sesuatu yang sangat buruk.”

Si Hitam tiba-tiba menggonggong dari luar.

Sekali.

Dua kali.

Lalu berlari ke arah jalan sebelum berhenti dan menoleh ke arah kami.

Seolah meminta kami mengikutinya lagi.

Saya langsung berjalan keluar.

Budi memanggil nama saya.

Saya tidak berhenti.

Namun beberapa detik kemudian terdengar langkah kaki di belakang.

Maya membawa Rian sambil menggenggam tas dan kunci mobil.

“Kita ikut anjing itu,” katanya.

Budi memaki pelan.

Tidak ada pilihan lain selain ikut.

Kami menggunakan mobil Maya dan mengikuti Si Hitam yang berlari di sepanjang gang, lalu berhenti beberapa kali menunggu.

Setelah hampir empat puluh menit, kami keluar dari kawasan padat menuju jalan pinggiran kota.

Pemandangan berubah menjadi lahan kosong, kebun, dan deretan rumah yang jaraknya berjauhan.

Saat kami melewati sebuah bundaran kecil dengan patung burung garuda kusam, saya menoleh kepada Rian.

Anak itu langsung menunjuk.

“Itu!”

Tidak lama kemudian kami melewati masjid bercat hijau.

Wajah Budi semakin pucat.

Saya menoleh kepadanya.

“Kamu tahu kita ke mana.”

Budi tidak menjawab.

Sekitar lima belas menit kemudian Si Hitam berbelok ke jalan tanah sempit yang dikelilingi pohon karet.

Di ujung jalan berdiri sebuah rumah tua berdinding semen, setengah tersembunyi oleh semak.

Pagar besinya berkarat.

Halaman dipenuhi daun kering.

Namun ada pakaian perempuan yang tergantung di tali jemuran.

Saya bahkan tidak menunggu mobil berhenti sempurna.

Saya membuka pintu dan berlari.

“Kirana!”

Tidak ada jawaban.

“Kirana!”

Si Hitam menggonggong keras di depan pintu samping.

Kemudian mencakar-cakar kayu.

Budi berusaha menahan saya.

“Rina, tunggu!”

Saya menepis tangannya.

“Jangan sentuh aku!”

Saya mendorong pintu.

Terkunci.

Maya menemukan batu besar di halaman dan menyerahkannya kepada saya tanpa bicara.

Saya menghantam kunci pintu berkali-kali.

Budi akhirnya berteriak, “Kunci ada padaku!”

Saya berhenti.

Perlahan saya berbalik.

Dia mengeluarkan sebuah kunci dari dompetnya.

Saat itu saya sudah tidak membutuhkan pengakuan apa pun lagi.

Pria itu tahu rumah tersebut.

Bahkan memiliki kuncinya.

Saya merebutnya.

Pintu terbuka.

Bau lembap dan obat-obatan menyambut kami.

Ruang depan dipenuhi perabot tua. Ada lemari kayu, televisi tabung, kipas angin, serta beberapa botol vitamin di atas meja.

Saya melihat foto keluarga di dinding.

Salah satunya membuat napas saya hilang.

Foto Budi ketika masih muda, berdiri bersama seorang pria tua.

Ayah Budi.

Pak Darma.

Pria yang menurut Budi sudah meninggal dua puluh tahun lalu.

Terdengar suara benda jatuh dari bagian belakang rumah.

Saya berlari mengikuti suara itu.

“Kirana!”

Saya melewati dapur, lalu menemukan sebuah lorong menuju kamar belakang.

Pintunya tertutup.

Si Hitam merengek di depannya.

Saya membuka pintu.

Seorang perempuan muda berdiri di sudut kamar.

Tubuhnya sangat kurus.

Rambutnya panjang hingga melewati bahu.

Wajahnya pucat.

Dia mengenakan kaus besar dan celana panjang sederhana.

Di tangannya ada nampan logam yang baru saja terjatuh.

Perempuan itu menatap saya.

Saya menatapnya.

Lima tahun telah mengubah banyak hal.

Namun seorang ibu tidak mungkin lupa pada mata anaknya.

“Kirana?”

Bibir perempuan itu bergetar.

Nampan jatuh sepenuhnya dari tangannya.

“Ibu?”

Saya bahkan tidak ingat bagaimana saya bisa sampai kepadanya.

Saya hanya tahu pada detik berikutnya tubuh kami sudah saling memeluk.

Saya memeluknya begitu kuat hingga takut tulangnya akan patah.

Tangis saya meledak.

Seluruh rasa sakit selama lima tahun keluar sekaligus.

“Kirana… Kirana… kamu hidup…”

Putri saya menangis seperti anak kecil.

“Ibu… aku kira Ibu sudah enggak mencari aku.”

Kalimat itu menusuk jauh lebih dalam daripada luka di kaki saya.

Saya mencium rambut dan wajahnya berulang kali.

“Tidak pernah. Ibu tidak pernah berhenti.”

Budi berdiri di ambang pintu.

Kirana melihatnya.

Tubuh anak saya langsung menegang.

Ia mundur dan bersembunyi di belakang saya.

Reaksi itu cukup menjelaskan semuanya.

Saya berbalik kepada Budi.

“Apa yang kamu lakukan kepada anak kita?”

Budi menggeleng cepat.

“Aku tidak menculik dia.”

Kirana memeluk lengan saya.

“Dia bohong.”

Semua orang terdiam.

Kirana menatap ayahnya.

“Lima tahun lalu Ayah yang jemput aku di ujung gang.”

Saya merasa udara di kamar menghilang.

Kirana mulai bercerita.

Hari itu, ketika hendak membeli garam, sebuah mobil berhenti di dekatnya.

Budi berada di dalam.

Ia mengatakan saya mengalami kecelakaan dan meminta Kirana segera masuk.

Karena percaya kepada ayahnya sendiri, Kirana menurut.

Namun bukannya dibawa ke rumah sakit, ia dibawa ke rumah Pak Darma.

Di sana, Budi mengambil ponselnya.

“Ayah bilang Ibu sedang sakit dan aku harus tinggal beberapa hari.”

Suara Kirana gemetar.

“Beberapa hari berubah jadi berbulan-bulan.”

Saya menatap Budi.

“Kenapa?”

Budi menutup wajahnya.

Namun Kirana menjawab lebih dulu.

“Karena Kakek.”

Terdengar suara batuk dari kamar sebelah.

Kami semua menoleh.

Kirana menggenggam tangan saya erat.

“Kakek masih hidup.”

Pintu kamar sebelah terbuka.

Seorang pria tua muncul dengan tongkat.

Saya langsung mengenalinya meskipun wajahnya jauh lebih keriput.

Pak Darma.

Dia tidak mati.

Selama bertahun-tahun Budi mengatakan ayahnya meninggal akibat serangan jantung saat bekerja di luar kota.

Pria itu menatap saya tanpa rasa bersalah.

“Jadi akhirnya kamu datang.”

Saya nyaris menerjangnya.

Namun Kirana menahan saya.

Pak Darma berjalan perlahan menuju kursi.

“Dua puluh tahun lalu, ibumu menemukan sesuatu yang seharusnya tidak dia ketahui.”

Saya membeku.

“Ibu saya?”

Pak Darma tersenyum dingin.

“Ibumu bekerja sebagai akuntan di perusahaan keluarga kami.”

Saya teringat ibu saya meninggal ketika saya masih remaja.

Polisi menyebutnya kecelakaan lalu lintas.

Pak Darma melanjutkan.

“Ia menemukan aliran uang ilegal, pemalsuan dokumen tanah, dan pembayaran kepada beberapa pejabat. Dia berniat melapor.”

Saya menoleh kepada Budi.

Wajahnya menunjukkan bahwa semua itu benar.

“Lalu?”

Pak Darma menarik napas.

“Kecelakaannya bukan kebetulan.”

Maya menutup mulut.

Saya merasa dunia berhenti berputar.

“Budi tahu?”

“Dia mengetahui semuanya ketika sudah dewasa.”

Saya menatap mantan suami saya.

“Dan kamu tetap menikah denganku?”

Budi menangis.

“Aku mencintaimu.”

Saya tertawa getir.

“Jangan hina aku dengan kata itu.”

Pak Darma menjelaskan alasan Kirana diculik.

Lima tahun lalu, sebelum menghilang, Kirana tanpa sengaja menemukan sebuah kotak tua di gudang rumah kami.

Di dalamnya ada beberapa dokumen milik ibu saya yang selama bertahun-tahun disembunyikan Budi.

Kirana sempat memotret sebagian isinya menggunakan ponsel.

Budi takut foto itu terkirim kepada saya.

Pak Darma memerintahkan Budi mengambil Kirana dan membawanya ke rumah tersebut sampai mereka yakin tidak ada salinan data yang tersisa.

Namun situasi berubah.

Kirana sudah melihat terlalu banyak.

Mereka tidak berani melepaskannya.

Saya hampir muntah mendengarnya.

“Kalian menahan anak kecil selama lima tahun hanya untuk melindungi kejahatan dua puluh tahun lalu?”

Budi menggeleng.

“Aku selalu memastikan dia makan, sekolah lewat program daring, punya pakaian…”

Saya menamparnya.

Keras.

“Dia bukan hewan peliharaan!”

Kirana menangis.

Si Hitam mendekatinya.

Putri saya langsung berjongkok memeluk anjing itu.

Barulah saya memahami tali merah tersebut.

“Kirana, kenapa gelangmu ada padanya?”

Kirana mengusap kepala Si Hitam.

“Dia datang ke halaman sekitar setahun lalu. Kakek sering mengusirnya. Tapi aku diam-diam kasih makan.”

Ia menatap saya.

“Dua minggu lalu aku berhasil keluar sebentar waktu Kakek tidur. Aku ikat gelang itu di kaki Hitam.”

Air mata kembali memenuhi matanya.

“Aku bilang ke dia, cari Ibu.”

Saya menutup mulut.

Seekor anjing liar ternyata melakukan apa yang tidak berhasil dilakukan banyak orang selama lima tahun.

Membawa saya kepada anak saya.

Saya segera menelepon polisi.

Budi tidak melawan lagi.

Pak Darma juga terlalu tua untuk melarikan diri.

Namun sebelum polisi tiba, Kirana masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah kotak sepatu.

Dari dasar kotak itu ia mengeluarkan kartu memori kecil.

“Aku bohong pada mereka,” katanya.

“Foto-foto dari ponsel lama sudah aku pindahkan ke sini sebelum Ayah mengambil ponselku.”

Di kartu itu bukan hanya ada foto dokumen lama.

Ada juga rekaman percakapan Pak Darma dan Budi selama beberapa tahun terakhir.

Kirana diam-diam merekam semuanya menggunakan tablet yang dipakai untuk belajar.

Bukti itu akhirnya membuka kembali kasus kematian ibu saya.

Polisi juga menemukan dokumen pemalsuan tanah, transaksi ilegal, serta bukti penahanan Kirana.

Budi dan ayahnya ditahan.

Maya mengajukan perceraian hanya beberapa hari kemudian.

Ternyata ia sama sekali tidak mengetahui masa lalu suaminya.

Beberapa bulan setelah semuanya terbongkar, saya dan Kirana pindah ke rumah kecil di Bogor.

Ia masih sering terbangun tengah malam.

Kadang-kadang ia tidak sanggup berada di ruangan dengan pintu terkunci.

Kami mulai menjalani terapi.

Perlahan, ia belajar hidup kembali.

Si Hitam ikut bersama kami.

Kirana memberinya nama baru.

Pandu.

“Karena dia yang menunjukkan jalan pulang,” katanya.

Suatu sore, ketika kami sedang duduk di teras, Kirana mengeluarkan sesuatu dari saku.

Seutas tali merah baru.

Ia mengikatkannya di pergelangan tangan saya.

Saya tersenyum sambil menangis.

“Untuk apa?”

Kirana memegang tangan saya.

“Dulu Ibu bilang tali merah bikin aku enggak tersesat.”

Ia menatap saya lama.

“Sekarang giliran aku yang memastikan Ibu enggak pernah kehilangan jalan lagi.”

Di kaki kami, Pandu tertidur dengan tenang.

Angin sore bergerak pelan di antara pepohonan.

Selama lima tahun saya mengira tali merah itu adalah kenangan terakhir tentang anak yang hilang.

Ternyata saya salah.

Tali merah itu bukan tanda perpisahan.

Ia adalah petunjuk.

Sebuah janji kecil yang menempuh jalan panjang, melewati kebohongan, dosa, dan waktu, hanya untuk membawa seorang anak kembali kepada ibunya.

Dan pada akhirnya, rahasia paling gelap tidak terkubur karena orang-orang berhenti mencarinya.

Rahasia itu terkubur karena terlalu banyak orang memilih diam.

Untungnya, kali ini, seekor anjing tidak ikut diam.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang