Keesokan paginya, pengacara saya, Pak Arif, datang ke sebuah kafe tidak jauh dari apartemen. Saya sengaja menemuinya di luar agar Ibu Laksmi tidak curiga.
Pak Arif membaca salinan dokumen yang saya bawa, lalu menatap saya dengan tenang.
“Secara hukum, unit ini tercatat atas nama Ibu. Mereka tinggal di sana karena izin Ibu, bukan karena memiliki hak atas properti tersebut.”
“Kalau mereka menolak pergi?”
“Jangan bertindak kasar. Berikan pemberitahuan tertulis dan waktu yang wajar. Yang paling penting, simpan semua bukti komunikasi.”
Saya mengangguk.
Namun saya tidak langsung mengeluarkan surat apa pun.
Saya ingin memberi Ibu Laksmi satu kesempatan terakhir.
Malam itu, setelah makan, saya mengajak semua orang duduk di ruang tamu. Hendra berada di samping saya. Wajahnya tegang karena sebelumnya saya sudah menjelaskan apa yang akan saya lakukan.
“Ibu,” kata saya pelan, “saya ingin membicarakan soal biaya rumah.”
Ibu Laksmi langsung mengernyit.
“Biaya apa?”
“Listrik, air, makanan, kebutuhan anak-anak. Sejak Ibu datang, pengeluaran kita naik cukup besar.”
Wajahnya berubah tidak senang.
“Jadi sekarang Ibu dihitung-hitung?”
“Bukan begitu. Saya hanya ingin pembagiannya jelas. Mas Candra bisa membantu biaya anak-anaknya. Mbak Lilis juga bisa ikut membantu kebutuhan Ibu.”
Ibu Laksmi mendengus.
“Candra sedang membangun usaha. Lilis juga punya keluarga sendiri.”
Saya menahan senyum pahit.
“Bukankah mereka baru menerima masing-masing Rp1,5 miliar?”
Suasana mendadak sunyi.
Ibu Laksmi menatap saya tajam.
“Itu uang Ibu. Mau Ibu kasih siapa, itu hak Ibu.”
“Benar,” jawab saya. “Saya tidak pernah mempersoalkan hak Ibu membagikan uang.”
“Lalu?”
“Sama seperti apartemen ini. Ini milik saya. Jadi siapa yang tinggal di sini dan bagaimana aturan di dalamnya juga menjadi hak saya.”
Wajah Ibu Laksmi langsung memerah.
“Hendra!”
Suami saya tersentak.
“Kamu dengar istrimu bicara seperti apa kepada Ibu?”
Hendra menunduk sebentar. Saya tahu ini tidak mudah baginya.
Seumur hidupnya, Hendra dibesarkan untuk percaya bahwa anak yang baik adalah anak yang tidak pernah mengatakan tidak.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya dia mengangkat kepala.
“Saya dengar, Bu.”
“Terus kamu diam saja?”
Hendra menarik napas.
“Karena yang dikatakan Rani benar.”
Ibu Laksmi membeku.
Saya sendiri menoleh kepada Hendra. Saya tidak menyangka dia akan menjawab setegas itu.
“Benar apanya?” bentak Ibu Laksmi.
“Selama ini saya selalu membantu Ibu. Saya tidak pernah menghitung uang yang saya kirim. Waktu atap rumah bocor, saya bayar. Waktu Ibu masuk rumah sakit, saya bayar. Waktu Mas Candra butuh modal, saya juga bantu.”
“Jadi sekarang kamu menyesal?”
“Bukan.”
Suara Hendra bergetar.
“Saya cuma baru sadar bahwa bantuan saya dianggap kewajiban, sementara apa pun yang Ibu punya selalu diberikan kepada Mas Candra dan Lilis.”
Mata Ibu Laksmi berkaca-kaca.
“Jadi kamu iri sama saudaramu?”
Hendra menggeleng.
“Bukan soal uang Rp3 miliar itu, Bu. Kalau Ibu mau kasih semuanya kepada mereka, silakan. Tapi setelah semua uang diberikan, kenapa Ibu memutuskan bahwa Rani dan saya harus menanggung semuanya tanpa pernah bertanya?”
Ibu Laksmi berdiri.
“Ibu melahirkan kamu!”
Hendra memejamkan mata beberapa detik.
“Dan saya akan tetap menjadi anak Ibu. Tapi menjadi anak bukan berarti saya tidak boleh punya batas.”
Ibu Laksmi masuk kamar sambil membanting pintu.
Saya kira setelah pembicaraan itu keadaan akan berubah.
Ternyata saya salah.
Pagi berikutnya, Mas Candra menelepon Hendra.
Suara teriakannya bahkan terdengar dari seberang ruangan.
“Kamu sekarang berani mengusir Ibu gara-gara istrimu?”
“Tidak ada yang mengusir Ibu.”
“Terus kenapa minta uang biaya hidup? Kamu punya apartemen delapan miliar!”
Hendra tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar pahit.
“Mas, apartemen delapan miliar bukan berarti uang tumbuh dari dinding.”
“Jangan pelit sama keluarga!”
Hendra akhirnya bertanya, “Kalau begitu, kenapa Mas tidak menanggung biaya dua anak Mas sendiri?”
Telepon langsung sunyi.
Beberapa detik kemudian Candra menjawab, “Mereka kan cuma anak-anak.”
“Justru karena mereka anak-anak, orang tuanya yang bertanggung jawab.”
Candra memutus sambungan telepon.
Sore harinya, Mbak Lilis ikut menelepon. Kalimatnya hampir sama. Menurutnya, saya telah memengaruhi Hendra dan membuat kakaknya berubah.
Saya tidak ikut berdebat.

Saya hanya mengirim pesan ke grup keluarga yang berisi catatan pengeluaran selama dua bulan terakhir.
Listrik, air, makanan, transportasi, kebutuhan sekolah, obat-obatan, dan biaya lain.
Totalnya lebih dari Rp32 juta.
Saya menulis satu kalimat sederhana.
Mulai bulan depan, biaya hidup Ibu akan dibagi rata di antara ketiga anaknya, sedangkan seluruh kebutuhan anak Mas Candra menjadi tanggung jawab Mas Candra.
Tidak sampai lima menit, Mas Candra keluar dari grup.
Mbak Lilis tidak menjawab.
Ibu Laksmi semakin marah.
Tetapi sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi tiga hari kemudian.
Saat saya pulang dari kantor, ada dua orang pria asing di ruang tamu. Mereka sedang mengukur dinding sambil berbicara dengan Ibu Laksmi.
“Ini siapa, Bu?”
Ibu Laksmi menjawab santai, “Tukang.”
“Tukang untuk apa?”
“Ibu mau pasang sekat di ruang kerjamu. Biar jadi dua kamar.”
Saya benar-benar terdiam.
“Dua kamar?”
“Iya. Nanti Candra mungkin pindah ke Jakarta. Kalau usahanya sudah jalan, dia bisa tinggal di sini dulu.”
Saya menatap Hendra yang baru keluar dari dapur. Wajahnya seketika pucat.
Jadi bukan hanya Ibu Laksmi.
Rencananya ternyata jauh lebih besar.
Apartemen kami perlahan-lahan hendak diubah menjadi rumah seluruh keluarga Candra.
Saya meminta kedua tukang itu berhenti bekerja dan membayar ongkos kedatangan mereka.
Setelah mereka pergi, Ibu Laksmi berteriak.
“Kamu mempermalukan Ibu!”
“Tidak, Bu. Saya sedang menjaga rumah saya.”
“Rumah Hendra juga!”
“Benar. Tapi bukan rumah Mas Candra.”
Ibu Laksmi menunjuk wajah saya.
“Kamu memang dari awal tidak suka keluarga suamimu!”
Kali ini saya tidak membela diri.
Saya mengambil sebuah amplop dari tas dan meletakkannya di meja.
“Apa ini?”
“Pemberitahuan tertulis.”
Ibu Laksmi membuka amplop itu dengan tangan gemetar.
Saya memberinya waktu tiga puluh hari untuk menentukan tempat tinggal berikutnya. Selama waktu itu, saya tetap menanggung kebutuhan pokoknya. Namun dua anak Candra harus dijemput orang tuanya dalam tujuh hari.
Wajah Ibu Laksmi berubah pucat.
“Kamu mengusir Ibu?”
“Saya memberi Ibu waktu untuk menentukan pilihan.”
“Pilihan apa? Ibu sudah tidak punya rumah!”
“Mas Candra menerima Rp1,5 miliar. Mbak Lilis juga menerima Rp1,5 miliar. Mereka anak Ibu juga.”
Ibu Laksmi menoleh kepada Hendra.
“Kamu setuju?”
Ada keheningan panjang.
Lalu Hendra menjawab, “Iya, Bu.”
Malam itu Ibu Laksmi menelepon Candra.
Saya tidak berniat menguping, tetapi suara Ibu begitu keras hingga terdengar dari kamar.
“Jemput anak-anakmu. Sekalian Ibu ikut tinggal di rumahmu dulu.”
Entah apa jawaban Candra, tetapi beberapa saat kemudian suara Ibu melemah.
“Kenapa tidak bisa?”
Hening.
“Rumahmu kan masih ada tiga kamar.”
Hening lagi.
“Tapi uang yang Ibu kasih itu juga untuk keluarga kalian.”
Beberapa detik kemudian terdengar suara tangis.
Candra rupanya mengatakan bahwa uang Rp1,5 miliar itu sudah dipakai sebagai modal usaha dan sebagian untuk melunasi utang. Rumahnya sempit. Istrinya juga keberatan jika Ibu tinggal bersama mereka.
Ibu kemudian menelepon Lilis.
Jawabannya bahkan lebih cepat.
Mertua Lilis tinggal bersama mereka. Tidak ada kamar kosong.
Untuk pertama kalinya, Ibu Laksmi mengetahui sesuatu yang mungkin tidak pernah dibayangkannya.
Dua anak yang menerima seluruh hartanya ternyata tidak memiliki ruang untuk dirinya.
Sementara anak yang tidak menerima apa-apa justru selama ini selalu menyediakan segalanya.
Seminggu kemudian Candra datang menjemput anak-anaknya.
Dia masuk dengan wajah masam.
“Kalian puas sekarang?”
Hendra tidak terpancing.
“Mas, mereka anakmu. Membawa mereka pulang bukan hukuman.”
Sebelum pergi, Candra menghampiri ibunya.
“Bu, sementara tinggal di sini dulu saja. Nanti kalau usaha saya sudah stabil, kita pikirkan.”
Saya melihat perubahan di wajah Ibu Laksmi.
Tidak ada lagi kebanggaan seperti saat dia menceritakan pemberian Rp1,5 miliar kepada putra sulungnya.
Yang tersisa hanya kekecewaan.
Setelah anak-anak pergi, apartemen mendadak terasa sangat sunyi.
Beberapa hari kemudian, saya menemukan Ibu Laksmi duduk sendirian di balkon.
Saya membawa teh hangat dan meletakkannya di meja.
“Ibu belum tidur?”
Dia menggeleng.
Lama sekali dia tidak bicara.
Kemudian tiba-tiba bertanya, “Kamu pasti senang melihat Ibu begini?”
Saya menarik kursi.
“Tidak.”
“Jangan bohong.”
“Saya marah dengan cara Ibu memperlakukan Hendra. Tapi saya tidak pernah ingin melihat Ibu terlantar.”
Dia menatap saya.
“Lalu kenapa menyuruh Ibu pergi?”
“Karena kalau saya membiarkan semuanya, Ibu tidak akan pernah sadar bahwa keputusan punya konsekuensi.”
Air mata mengalir di pipinya.
Barulah malam itu saya mengetahui alasan sebenarnya.
Sejak kecil, Candra selalu dianggap paling lemah. Dia sering sakit dan beberapa kali gagal dalam pekerjaan. Lilis adalah anak perempuan satu-satunya yang selalu dimanjakan.
Sementara Hendra?
“Hendra dari kecil tidak pernah merepotkan,” bisik Ibu Laksmi. “Sekolah sendiri, cari beasiswa sendiri, kerja juga langsung berhasil. Ibu selalu pikir dia tidak membutuhkan apa-apa.”
Saya menatap perempuan tua itu.
“Orang yang terlihat kuat juga bisa terluka, Bu.”
Ibu Laksmi menangis.
Sebulan kemudian, dia benar-benar keluar dari apartemen kami.
Namun bukan karena saya mengusirnya.
Dia sendiri yang memilih pindah ke sebuah rumah kontrakan kecil di Solo.
Hendra menawarkan membayar sewanya, tetapi dengan satu syarat, biaya hidup Ibu harus menjadi tanggung jawab bersama ketiga anak.
Anehnya, setelah Hendra berhenti menanggung semuanya sendirian, Candra dan Lilis akhirnya mulai ikut membayar.
Mungkin karena tidak punya pilihan.
Mungkin juga karena akhirnya mereka sadar.
Kami mengira masalah sudah selesai.
Sampai enam bulan kemudian, sebuah surat datang dari notaris di Jawa Tengah.
Hendra membacanya berulang kali.
“Rani…”
“Apa?”
“Rumah kampung Ibu ternyata tidak dijual tiga miliar.”
Saya membeku.
“Apa maksudmu?”
“Harganya empat koma dua miliar.”
Ternyata Ibu Laksmi berbohong.
Dari hasil penjualan rumah itu, Rp3 miliar memang diberikan kepada Candra dan Lilis.
Namun Rp1,2 miliar sisanya diam-diam disimpan.
Bukan untuk dirinya sendiri.
Beberapa hari kemudian Ibu Laksmi datang ke Jakarta membawa buku tabungan dan dokumen deposito.
Dia meletakkannya di depan Hendra.
“Ini untuk kamu.”
Hendra langsung menggeleng.
“Saya tidak mau, Bu.”
“Dengar dulu.”
Ibu Laksmi menarik napas panjang.
“Waktu menjual rumah, Ibu memang berniat memberi Candra dan Lilis lebih banyak. Ibu pikir kamu sudah berhasil. Tapi Ibu tetap menyimpan bagian ini karena dalam hati Ibu tahu… rumah itu juga bisa terjual mahal karena selama bertahun-tahun kamu yang membiayai renovasinya.”
Hendra tidak berkata apa-apa.
“Ibu malu mengakuinya setelah semua yang terjadi.”
Kemudian Ibu Laksmi mendorong dokumen itu ke arah saya.
“Tapi uang ini juga bukan untuk kalian.”
Saya mengernyit.
“Lalu?”
“Ibu ingin membuat dana pendidikan atas nama semua cucu Ibu. Termasuk anak-anak Candra, anak Lilis, dan anak kalian nanti. Tidak boleh diambil orang tua mereka. Hanya boleh digunakan untuk sekolah.”
Hendra menatap ibunya lama sekali.
Lalu untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, dia memeluk Ibu Laksmi.
Ibu menangis di bahunya.
Saya berdiri di samping mereka dan akhirnya memahami bahwa masalah keluarga kami tidak pernah benar-benar tentang apartemen Rp8 miliar atau rumah Rp3 miliar.
Masalahnya adalah anggapan bahwa anak yang kuat tidak membutuhkan perhatian, anak yang sukses tidak boleh merasa lelah, dan orang yang selalu memberi akan terus mampu memberi tanpa batas.
Apartemen kami akhirnya kembali seperti dulu.
Ruang kerja saya kembali menjadi ruang kerja. Dinding yang dicoret sudah dicat ulang. Kamar utama kembali kami tempati.
Namun satu benda tetap saya simpan.
Surat pemberitahuan tiga puluh hari yang pernah saya berikan kepada Ibu Laksmi.
Bukan sebagai kenangan buruk.
Melainkan sebagai pengingat bahwa batas bukan berarti kebencian.
Kadang-kadang, mengatakan tidak adalah satu-satunya cara agar seseorang belajar menghargai kata iya.
Dan sejak hari itu, setiap kali Ibu Laksmi datang menginap, dia selalu menelepon lebih dulu.
Bahkan sebelum membuka kulkas, dia terkadang bercanda, “Ini boleh Ibu ambil, kan, Bu Pemilik Apartemen?”
Saya selalu tertawa.
Hendra juga tertawa.
Karena pada akhirnya, keluarga kami tidak hancur ketika kami mulai menetapkan batas.
Justru untuk pertama kalinya, kami belajar menjadi keluarga tanpa menjadikan satu orang sebagai tempat bergantung untuk segalanya.
