Danu belum tahu bahwa aku sudah kembali ke Jakarta.
Dan untuk beberapa jam berikutnya, aku ingin keadaan tetap seperti itu.
Seusai bertemu Rina, aku langsung menghubungi pengelola apartemen. Aku membawa sertifikat unit, kartu identitas, bukti pembayaran, serta dokumen yang menunjukkan bahwa unit itu terdaftar atas namaku. Setelah menjelaskan bahwa PIN smart lock telah diubah tanpa persetujuanku, petugas keamanan dan teknisi mendampingiku naik ke unit.
Aku tidak menceritakan soal perselingkuhan.
Aku hanya mengatakan bahwa ada orang yang tidak lagi kuizinkan mengakses apartemen.
Sidik jari Danu kuhapus dari sistem. PIN kuganti. Akses kartu cadangannya dinonaktifkan. Setelah itu, atas saran Rina, aku meminta teknisi mencatat seluruh perubahan secara resmi.
Aku tidak menyentuh satu pun barang Clara.
Gaun-gaunnya tetap di lemari.
Kosmetiknya tetap memenuhi meja rias.
Foto-fotonya bersama Danu tetap terpajang di dinding.
Aku ingin Danu melihat sendiri bahwa semua yang dia sembunyikan telah ditemukan.
Sekitar pukul empat sore, aku menerima pesan darinya.
“Kerjaanmu lancar?”
Aku menatap layar beberapa detik.
“Lancar.”
“Besok landing jam berapa? Biar aku jemput.”
Aku hampir tertawa.
“Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri.”
Balasannya datang cepat.
“Oke, sayang. Hati-hati.”
Sayang.
Betapa mudahnya sebuah kata kehilangan makna ketika diucapkan oleh orang yang sudah berbohong selama dua tahun.
Aku kembali ke hotel dan menunggu.
Pukul sembilan malam, aplikasi smart lock mengirimkan notifikasi.
“Seseorang mencoba memasukkan PIN yang salah.”
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu ponselku berdering.
Danu.
Aku membiarkannya.
Dia menelepon lagi.
Aku tetap diam.
Pada panggilan ketiga, aku mengangkatnya.
“Kirana, kamu ganti PIN?”
Nada suaranya terdengar tegang.
“Kenapa?”
“Aku nggak bisa masuk rumah.”
Aku menatap lampu kota dari jendela hotel.
“Bukannya PIN rumah memang sudah diganti?”
Hening.
Hanya beberapa detik, tetapi cukup bagiku untuk tahu dia mengerti.
“Kamu sudah pulang?”
“Kenapa, Mas? Ada sesuatu di dalam rumah yang seharusnya tidak kulihat?”
“Kirana, dengarkan aku dulu.”
“Aku sedang mendengarkan.”
Dia menarik napas kasar.
“Ini nggak seperti yang kamu pikirkan.”
Kalimat paling klise di dunia.
Aku menutup telepon.
Beberapa menit kemudian, Danu mengirim belasan pesan. Dia bilang Clara hanya teman. Foto-foto itu sekadar kenang-kenangan. Clara sedang mengalami masalah keluarga sehingga beberapa barangnya dititipkan di apartemen.
Aku membaca semuanya tanpa membalas.
Lalu sebuah pesan baru masuk.
“Buka pintunya. Clara juga di sini. Kita bicara baik-baik.”
Aku membeku.
Jadi mereka datang bersama.
Aku menelepon petugas keamanan yang sebelumnya sudah kuberi tahu. Mereka memastikan Danu dan seorang perempuan memang sedang berdiri di depan unitku.
Aku mengambil tas dan menuju apartemen.
Ketika lift terbuka di lantai unitku, pemandangan pertama yang kulihat adalah Danu berdiri dengan wajah pucat.
Di sampingnya ada seorang perempuan berambut panjang.
Clara.
Wajahnya persis seperti di foto.
Hanya saja sekarang tidak ada senyum manis.
“Kirana,” panggil Danu.
Aku berjalan mendekat tanpa menjawab.
Clara menatapku dari ujung kepala sampai kaki.
Anehnya, tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Yang kulihat justru kemarahan.
“Jadi ini istri kamu?” tanyanya kepada Danu.

Aku berhenti.
Pertanyaan itu membuatku menoleh kepadanya.
“Kamu tidak tahu?”
Clara mengerutkan kening.
“Tahu apa?”
Danu langsung menyela.
“Sudah. Kita masuk dulu, bicara di dalam.”
“Tidak,” kataku.
Clara menatap Danu.
“Kamu bilang kalian sudah pisah hampir dua tahun.”
Koridor mendadak terasa sangat sunyi.
Aku menatap suamiku.
Danu tidak berani membalas tatapanku.
Clara melanjutkan, suaranya mulai bergetar.
“Kamu bilang apartemen ini milikmu. Kamu bilang Kirana cuma mantan istri yang masih mengurus dokumen perceraian.”
Aku merasa marah, tetapi untuk pertama kalinya kemarahanku tidak hanya tertuju kepada Clara.
Perempuan yang selama ini kuanggap dengan sadar merebut suamiku ternyata mungkin juga hidup dalam kebohongan yang sama.
Aku membuka pintu.
“Masuk.”
Danu terlihat terkejut.
Kami bertiga masuk ke ruang tamu.
Begitu melihat dinding yang masih dipenuhi foto dirinya, Clara menundukkan kepala.
Aku meletakkan tas di meja.
“Sekarang kita bicara.”
Danu mendekatiku.
“Kirana, aku bisa jelaskan.”
Aku mengangkat tangan.
“Dua tahun?”
Dia diam.
“Empat ratus juta?”
Wajahnya langsung berubah.
Clara menoleh cepat.
“Empat ratus juta apa?”
Aku membuka laptop dan menunjukkan mutasi rekening.
“Uang dari rekening keluarga kami ditransfer ke rekeningmu tiga bulan lalu. Empat ratus juta rupiah. Keterangan transfernya modal usaha toko bunga.”
Clara menatap layar seperti kehilangan napas.
Lalu dia memandang Danu.
“Kamu bilang uang itu hasil penjualan tanahmu.”
Danu mulai panik.
“Itu memang uangku juga.”
“Berapa banyak uangmu di rekening itu?” tanyaku.
Dia tidak menjawab.
Aku sudah menyiapkan catatan.
“Selama ini aku menyetor sepuluh juta setiap bulan. Kamu tiga juta. Tapi kamu mengirim lima juta hampir setiap bulan kepada Clara. Kemudian empat ratus juta sekaligus.”
Clara mundur selangkah.
“Kamu mengambil uang istrimu?”
“Clara, jangan ikut campur.”
“Jangan ikut campur?”
Suara Clara meninggi.
“Kamu memakai uang itu untuk tokoku!”
Aku melihat sesuatu yang tidak pernah kuduga.
Dua orang yang kukira sedang berdiri di pihak yang sama justru mulai saling menatap seperti musuh.
Danu mencoba meraih tangan Clara, tetapi perempuan itu menepisnya.
“Kamu bilang kamu mau menikahiku setelah urusan perceraian selesai.”
Aku tertawa pendek.
“Perceraian apa? Sampai tadi pagi dia masih memanggilku sayang dan menawarkan menjemputku dari bandara.”
Aku menunjukkan pesan Danu.
Wajah Clara memucat.
Danu menatapku dengan marah.
“Kamu sengaja melakukan ini?”
“Sengaja apa? Menunjukkan pesan dari suamiku kepada perempuan yang mengira dia calon suaminya?”
“Kirana!”
Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya membentak.
Aku menatapnya lurus.
“Jangan berteriak di rumahku.”
Dua petugas keamanan masih berada tidak jauh dari pintu.
Danu menyadarinya dan langsung menurunkan suara.
Kemudian dia mencoba pendekatan lain.
Wajahnya melembut.
“Kirana, kita sudah menikah tiga tahun. Masa semuanya mau kamu buang begitu saja?”
Aku hampir tidak percaya mendengarnya.
“Aku yang membuang?”
“Aku memang salah. Tapi kita bisa memperbaiki semuanya.”
“Dua tahun, Mas.”
Aku menatap foto-foto di dinding.
“Dari tiga tahun pernikahan kita, dua tahun kamu menjalani kehidupan lain.”
Dia diam.
“Yang lebih menyakitkan bukan karena kamu mencintai perempuan lain. Tapi karena setiap kali aku lembur, setiap kali aku pergi dinas, setiap kali aku berusaha membangun masa depan kita, kamu menggunakan hasil kerja kerasku untuk membangun masa depan dengan orang lain.”
Untuk pertama kalinya mataku terasa panas.
Namun aku tidak membiarkan air mata jatuh.
Danu menunduk.
Clara justru mulai menangis.
“Aku benar-benar nggak tahu,” katanya pelan kepadaku.
Aku menatapnya.
“Aku belum tahu seberapa banyak yang kamu tahu dan seberapa banyak yang tidak.”
Dia mengangguk.
“Aku akan kembalikan uangnya.”
Danu langsung menoleh.
“Clara!”
Perempuan itu mengabaikannya.
“Toko itu memang dibangun dari uang yang dia berikan. Kalau itu bukan uangnya, aku akan kembalikan sebisa mungkin.”
Danu meraih lengannya.
“Kamu gila?”
Clara menepis tangannya keras.
“Yang gila itu kamu!”
Pertengkaran mereka semakin panas sampai petugas keamanan masuk dan meminta Danu tenang.
Akhirnya aku memberi Clara waktu mengambil barang-barangnya dengan didampingi petugas perempuan dari pengelola gedung. Tidak sampai satu jam, tiga koper besar sudah berada di koridor.
Danu masih berdiri di ruang tamu.
“Aku tinggal di mana sekarang?” tanyanya.
Aku menatapnya lama.
Pertanyaan itu benar-benar membuatku sadar betapa selama ini dia menganggap semua yang kumiliki otomatis menjadi miliknya.
“Itu bukan urusanku.”
“Aku suamimu.”
“Untuk sementara, secara hukum, iya.”
Aku menyerahkan sebuah amplop.
Wajahnya berubah saat membaca nama kantor hukum Rina di bagian atas.
“Besok pengacaraku akan menghubungimu.”
“Kamu serius?”
“Sangat.”
Malam itu Danu pergi membawa satu koper pakaian.
Sebelum lift tertutup, dia masih menatapku seolah berharap aku berubah pikiran.
Aku tidak melakukannya.
Kupikir setelah malam itu, bagian terburuk sudah selesai.
Ternyata aku salah.
Dua hari kemudian, Rina meneleponku.
“Kirana, kita menemukan sesuatu.”
“Apa?”
“Transfer ke Clara bukan satu-satunya transaksi besar.”
Aku langsung duduk tegak.
Rina mengirimkan beberapa dokumen.
Setelah menelusuri transaksi lebih dalam, ternyata Danu pernah memindahkan uang dari rekening bersama ke beberapa rekening lain sebelum akhirnya sebagian dikirim kepada Clara.
Totalnya hampir enam ratus juta rupiah.
Lebih buruk lagi, ada pengajuan pinjaman online dan kredit konsumtif menggunakan dokumen pribadiku.
Untungnya beberapa pengajuan gagal.
Tapi satu pinjaman sebesar seratus dua puluh juta rupiah berhasil cair.
Aku merasa mual.
“Dia pakai dataku?”
“Kelihatannya begitu. Kita harus periksa tanda tangan dan proses verifikasinya.”
Aku baru memahami bahwa perselingkuhan hanyalah permukaan.
Danu tidak sekadar mengkhianati pernikahan kami.
Dia perlahan-lahan memanfaatkan kepercayaanku.
Aku segera mengganti seluruh kata sandi, mengamankan dokumen pribadi, memblokir akses rekening, dan mengikuti langkah hukum yang disarankan Rina.
Seminggu kemudian, sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi.
Clara menghubungiku.
Dia meminta bertemu.
Awalnya aku ingin menolak, tetapi Rina menyarankan agar pertemuan dilakukan di kantornya.
Clara datang membawa sebuah map tebal.
“Apa ini?” tanyaku.
“Bukti.”
Dia meletakkan map di meja.
Di dalamnya ada tangkapan layar percakapan dengan Danu selama hampir dua tahun.
Aku membaca beberapa bagian.
Danu mengatakan kepadanya bahwa kami sudah berpisah rumah.
Dia mengaku apartemen itu miliknya.
Dia bahkan mengirim foto sebuah dokumen perceraian.
Palsu.
Yang paling mengejutkan adalah satu percakapan enam bulan sebelumnya.
Danu menulis bahwa setelah toko Clara berkembang, dia akan menjual apartemen dan menggunakan uangnya untuk membeli rumah baru bersama Clara.
Aku menatap layar lama sekali.
Menjual apartemenku.
Dia merencanakan menjual aset yang bahkan bukan miliknya.
“Aku tahu aku tetap salah karena tidak pernah benar-benar memeriksa,” kata Clara. “Tapi kalau bukti ini bisa membantu, pakai saja.”
Aku menutup map.
“Kenapa kamu membantuku?”
Clara tersenyum pahit.
“Karena ternyata kita berdua bukan perempuan yang dia cintai.”
Aku menatapnya.
“Kita cuma dua sumber kehidupan yang bisa dia manfaatkan.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Beberapa bulan kemudian, proses perceraian berjalan.
Aku tidak mendapatkan kembali semua uang dengan cepat. Proses hukum mengenai dana, utang, dan dokumen palsu jauh lebih rumit daripada yang kubayangkan. Namun dengan bukti transaksi dan keterangan yang ada, posisi Danu semakin sulit.
Clara menjual sebagian aset tokonya dan mengembalikan sejumlah dana melalui mekanisme yang disepakati dengan pendampingan hukum. Toko bunganya tetap berjalan dalam skala lebih kecil.
Aku tidak pernah menjadi temannya.
Namun aku juga berhenti melihatnya sebagai pusat dari kehancuran rumah tanggaku.
Orang yang membuat janji kepadaku adalah Danu.
Orang yang memiliki tanggung jawab menjaga pernikahan kami adalah Danu.
Dan orang yang memilih berbohong setiap hari selama dua tahun juga Danu.
Enam bulan setelah malam ketika aku menemukan foto-foto itu, aku berdiri kembali di ruang tamu apartemen.
Dindingnya sudah kosong.
Semua foto Danu dan Clara telah lama diturunkan.
Foto pernikahanku juga tidak kupasang kembali.
Sebagai gantinya, aku memasang sebuah foto sederhana.
Foto diriku sendiri di sebuah pantai di Lombok, diambil setelah perjalanan pertamaku sendirian sejak perceraian.
Aku sedang tertawa menghadap laut.
Tidak ada Danu.
Tidak ada siapa pun.
Hanya aku.
Saat sedang merapikan meja, ponselku berbunyi.
Sebuah notifikasi dari aplikasi smart lock.
Aku terdiam sesaat.
Dulu, notifikasi serupa membuat hidupku terasa runtuh.
Sekarang layar itu menampilkan pesan berbeda.
“PIN baru berhasil dibuat.”
Aku tersenyum.
PIN itu bukan tanggal pernikahan.
Bukan tanggal lahir Danu.
Bukan angka yang berhubungan dengan masa lalu.
Aku memilih angka yang hanya memiliki arti bagiku sendiri.
Aku mematikan layar ponsel, lalu memandang rumah yang akhirnya terasa seperti rumahku lagi.
Malam itu aku memahami sesuatu.
Kadang-kadang pengkhianatan tidak datang untuk menghancurkan hidup kita.
Ia datang dengan brutal untuk menunjukkan bagian hidup mana yang sebenarnya sudah lama retak.
Dan terkadang, sebuah pintu harus dikunci untuk seseorang agar kita akhirnya bisa membukanya kembali untuk diri sendiri.
