Aku menatap tulisan MASTER LICENSE KEY ACTIVE di layar laptop selama beberapa detik. Anehnya, tidak ada rasa puas. Yang ada justru ketenangan yang terasa asing setelah dua puluh empat jam hidupku dihancurkan oleh dua orang yang paling kupercaya.
Tanganku bergerak ke touchpad.
Namun sebelum menekan apa pun, aku berhenti.
Aku bukan peretas. Aku juga tidak berniat mematikan sistem perusahaan atau merusak data investor. Kalau kulakukan itu, Dimas akan mendapatkan apa yang ia butuhkan untuk menjadikanku penjahat.
Aku membuka folder terenkripsi lain.
Namanya sederhana.
ORIGINAL IP RECORD.
Di dalamnya tersimpan ribuan halaman dokumentasi pengembangan algoritma, riwayat versi kode, korespondensi dengan tim hukum, catatan rapat, bukti transfer dana dari penjualan rumahku, serta dokumen lisensi yang ditandatangani tiga tahun lalu.
Dan di sanalah kesalahan terbesar Dimas berada.
Algoritma inti perusahaan memang digunakan oleh perusahaan.
Tetapi hak ekonominya belum pernah kuserahkan secara permanen.
Pada masa awal perusahaan hampir bangkrut, pengacara investor meminta kami membuat perjanjian lisensi sementara karena struktur kepemilikan belum selesai. Dimas terus menunda pengalihan resmi dengan alasan biaya legal.
Aku pernah mengingatkannya berkali-kali.
Ia selalu menjawab, “Nanti setelah pendanaan berikutnya.”
Ternyata penundaan itu sekarang menjadi penyelamatku.
Paten atas nama Siska tidak otomatis menghapus bukti siapa pencipta teknologi tersebut.
Aku mengambil ponsel pribadi dan menghubungi satu nomor yang sudah hampir setahun tidak pernah kutelepon.
“Selamat pagi.”
Suara laki-laki di seberang terdengar berat.
“Pak Adrian, ini Maya.”
Hening beberapa detik.
“Maya?”
“Saya butuh bantuan hukum.”
“Masalah Dimas?”
Aku tersenyum hambar.
“Bapak sudah tahu?”
“Seluruh Jakarta yang mengikuti pasar modal tahu pesta semalam. Tapi saya curiga ada sesuatu yang tidak beres ketika namamu hilang dari prospektus final.”
Kalimat itu membuatku duduk tegak.
“Apa?”
“Kamu belum melihat prospektus versi terakhir?”
Aku membuka laptop kedua dan mencari dokumen publik perusahaan.
Namaku memang masih muncul dalam riwayat perusahaan, tetapi peranku dalam pengembangan teknologi telah diperkecil. Beberapa bagian yang sebelumnya mencantumkan aku sebagai arsitek sistem utama sekarang menggunakan istilah “tim pengembangan internal”.
Aku merasakan dingin menjalar di punggung.
Ini bukan sekadar perselingkuhan.
Ini sudah direncanakan jauh sebelum malam IPO.
“Pak Adrian,” kataku, “saya punya seluruh dokumentasi asli.”
“Jangan kirim lewat email.”
“Kenapa?”
“Karena kalau dugaan saya benar, mulai sekarang anggap semua komunikasi digital yang pernah terhubung dengan perusahaan tidak aman. Datang ke kantor saya.”
Dua jam kemudian aku duduk di ruang rapat firma hukum di kawasan Kuningan.
Adrian membaca dokumen-dokumen yang kubawa hampir satu jam tanpa banyak bicara.
Semakin lama ia membaca, semakin serius wajahnya.
Akhirnya ia melepas kacamata.
“Maya, kamu sadar apa artinya ini?”
“Saya masih pemegang lisensi?”
“Lebih besar dari itu.”
Ia membalik sebuah halaman.
“Teknologi yang disebut perusahaan sebagai aset strategis utama saat IPO ternyata memiliki sengketa kepemilikan yang tidak diungkap secara memadai.”
Aku terdiam.
“Kalau investor tahu?”
“Bisa menjadi masalah serius. Tapi kita tidak boleh bertindak gegabah. Kita harus membuktikan semuanya melalui jalur yang sah.”
Aku mengangguk.
“Aku tidak mau menghancurkan perusahaan.”
Adrian menatapku heran.
“Setelah apa yang mereka lakukan?”
“Di sana ada hampir enam ratus karyawan. Mereka punya keluarga. Ada investor yang menaruh tabungan mereka. Aku ingin mengambil kembali apa yang menjadi hakku, bukan membakar rumah hanya karena dua orang mencuri kamarku.”
Untuk pertama kalinya pagi itu Adrian tersenyum.
“Bagus. Karena kalimat itu yang membedakan kamu dari Dimas.”
Kami bekerja sampai sore.
Menjelang pukul lima, ponselku bergetar.
Nama Siska muncul.
Aku membiarkannya berdering.
Ia menelepon lagi.
Lalu lagi.
Pada panggilan keempat, aku mengangkatnya.
“Mbak Maya.”
Nada suaranya tidak lagi manis seperti malam sebelumnya.
“Ada apa dengan server?”
“Aku tidak tahu maksudmu.”
“Jangan pura-pura bodoh. Sistem enkripsi sedang meminta validasi ulang master license.”
Aku melirik Adrian.
Ia menggeleng pelan, memberi isyarat agar aku tidak mengatakan terlalu banyak.
“Kalau ada masalah teknis, hubungi pemilik lisensinya.”
Hening.
“Mbak yang lakukan ini?”
“Tidak. Sistem hanya menjalankan ketentuan lisensi yang kalian gunakan selama tiga tahun.”
Siska menurunkan suaranya.
“Kalau Mbak sengaja mengganggu operasional perusahaan, kami bisa laporkan Mbak.”
Aku hampir tertawa.
“Silakan.”
Telepon terputus.
Tiga puluh menit kemudian Dimas menelepon.
Aku tidak mengangkatnya.
Ia mengirim pesan.
MAYA, KITA BICARA.

Aku menghapus notifikasinya.
Malam itu aku pindah dari apartemen.
Bukan karena takut kuncinya diganti.
Aku memang tidak membutuhkan tempat itu lagi.
Barang-barangku hanya dua koper, beberapa buku, dua laptop, dan sebuah foto orang tuaku.
Saat memasukkan foto itu ke koper, aku teringat rumah yang kujual.
Rumah kecil di Kebayoran yang dibangun ayah setelah puluhan tahun bekerja.
Dimas pernah berjanji membelinya kembali untukku.
Ternyata ia memang membelinya kembali.
Hanya saja untuk perempuan lain.
Saat itulah untuk pertama kalinya sejak pesta IPO aku menangis.
Bukan karena kehilangan Dimas.
Aku menangisi diriku sendiri yang selama bertahun-tahun menganggap pengorbanan tanpa batas sebagai bukti cinta.
Keesokan paginya, keadaan berubah cepat.
Sebuah media ekonomi menerbitkan artikel tentang dugaan sengketa kekayaan intelektual perusahaan yang baru IPO.
Aku tidak membocorkannya.
Adrian juga tidak.
Berita itu muncul setelah seorang analis menemukan ketidaksesuaian antara dokumen paten terbaru dan riwayat pengembangan teknologi.
Harga saham mulai bergejolak.
Dimas akhirnya datang sendiri ke kantor Adrian.
Ia memasuki ruang rapat dengan wajah pucat.
Siska ikut bersamanya.
Perempuan itu tidak lagi mengenakan senyum kemenangan.
“Maya, kita harus bicara berdua.”
“Tidak ada lagi pembicaraan berdua.”
Dimas menatap Adrian dan dua pengacara lain.
“Ini urusan pribadi.”
“Tidak,” jawabku. “Begitu kalian memindahkan hak teknologi dan mengubah informasi perusahaan menjelang IPO, ini berhenti menjadi urusan pribadi.”
Dimas menarik kursi.
“Apa yang kamu mau?”
Pertanyaan itu membuatku tersenyum.
Kemarin ia memberiku cek tiga miliar seperti sedang membuang karyawan lama.
Hari ini ia bertanya apa yang kuinginkan.
“Aku ingin semua dokumen pengalihan hak atas nama Siska dibuka.”
Siska langsung berdiri.
“Tidak bisa!”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Itu hak paten saya.”
“Teknologi mana yang kamu ciptakan?”
Wajahnya memerah.
“Aku ikut mengembangkan.”
“Bagian mana?”
Ia terdiam.
Aku membuka laptop dan menampilkan riwayat repository.
“Versi pertama algoritma dibuat dua tahun sebelum kamu masuk perusahaan. Arsitektur enkripsi selesai delapan bulan sebelum kamu diterima sebagai junior engineer. Bahkan modul yang kamu klaim sebagai kontribusimu memiliki commit history atas akun kerjaku.”
Siska menatap Dimas.
“Mas, kamu bilang semua sudah aman.”
Ruangan langsung hening.
Dimas memejamkan mata.
Aku menangkap kalimat itu.
“Kamu bilang semua sudah aman?”
Siska sadar ia salah bicara.
“Bukan begitu maksud saya.”
Aku menatap Dimas.
“Sejak kapan kalian merencanakan ini?”
Ia tidak menjawab.
“Enam bulan?”
Diam.
“Satu tahun?”
Dimas akhirnya berkata, “Maya, hubungan kita sudah lama tidak sehat.”
Aku tertawa kecil.
“Jangan mengubah topik.”
“Aku capek hidup di bawah bayang-bayangmu!”
Suara Dimas tiba-tiba meninggi.
Semua orang terdiam.
Ia berdiri.
“Setiap investor datang, mereka bertanya tentang Maya. Setiap teknologi dipuji, nama Maya disebut. Bahkan beberapa investor menganggap aku cuma wajah perusahaan sementara kamu otaknya.”
Aku menatap pria di depanku dan akhirnya memahami semuanya.
Bukan karena Siska lebih cantik.
Bukan karena aku terlalu sibuk.
Dimas membenciku karena keberhasilanku membuatnya merasa kecil.
“Jadi kamu mengambil pekerjaanku dan memberikannya kepada orang yang bisa kamu kendalikan?”
Dimas tidak menjawab.
Siska memandangnya dengan wajah berubah.
“Mas?”
Aku melihat ketakutan muncul di matanya.
Mungkin untuk pertama kalinya ia menyadari dirinya bukan pemenang.
Ia hanya alat.
Negosiasi hari itu gagal.
Dimas menolak membatalkan pengalihan paten.
Tiga hari kemudian tim hukum kami mengirim pemberitahuan resmi kepada perusahaan, regulator terkait, dan penjamin emisi mengenai sengketa kepemilikan teknologi.
Aku tidak meminta perdagangan saham dihentikan.
Aku hanya meminta fakta diperiksa.
Tetapi pasar tidak menyukai ketidakpastian.
Investor mulai menuntut penjelasan.
Dewan komisaris mengadakan rapat darurat.
Dimas mencoba melakukan serangan balik.
Media menerima cerita bahwa aku adalah mantan kekasih yang dendam karena ditinggalkan.
Foto-fotoku keluar dari ballroom tersebar di media sosial.
Aku disebut perempuan posesif.
Mantan eksekutif sakit hati.
Bahkan ada akun anonim yang menuduhku sengaja menyimpan akses sistem sebagai “bom waktu”.
Aku tidak membalas satu pun.
Adrian hanya berkata, “Biarkan dokumen berbicara.”
Seminggu kemudian, dokumen itu benar-benar berbicara.
Seorang anggota dewan independen meminta audit forensik.
Tim auditor menemukan sesuatu yang bahkan tidak kuketahui.
Dimas ternyata bukan hanya memindahkan hak teknologi.
Selama hampir dua tahun, ia juga mengalihkan pembayaran perusahaan ke beberapa vendor konsultasi.
Salah satu vendor itu dimiliki kakak Siska.
Jumlahnya mencapai puluhan miliar rupiah.
Siska meneleponku malam itu.
Kali ini ia menangis.
“Mbak Maya, saya mau ketemu.”
“Ada pengacara?”
“Tidak.”
“Kalau begitu tidak.”
“Saya punya bukti.”
Aku terdiam.
“Bukti apa?”
“Dimas memalsukan tanda tangan persetujuan dewan.”
Keesokan harinya kami bertemu di kantor Adrian.
Siska datang tanpa riasan, membawa sebuah flash drive.
Tangannya gemetar.
“Kenapa kamu memberikannya kepadaku?”
Ia menunduk.
“Karena saya baru tahu Dimas menyiapkan surat yang menyatakan seluruh pengalihan paten dilakukan atas inisiatif saya.”
Aku tidak terkejut.
Orang seperti Dimas selalu membutuhkan seseorang untuk dijadikan korban terakhir.
“Saya pikir dia mencintai saya,” bisik Siska.
Aku memandangnya lama.
“Aku juga pernah berpikir begitu.”
Siska menangis.
Namun aku tidak memeluknya.
Ia tetap orang yang dengan sadar mempermalukanku di depan ratusan orang.
Memaafkan tidak berarti melupakan tanggung jawab.
“Aku akan menyerahkan bukti ini,” katanya.
“Lakukan bukan untuk membantuku. Lakukan karena itu benar.”
Dua minggu setelah IPO yang seharusnya menjadi puncak kehidupan Dimas, dewan direksi menonaktifkannya sementara dari jabatan CEO selama investigasi.
Siska juga diberhentikan dari posisi teknisnya.
Aku menerima undangan rapat luar biasa.
Ketika memasuki gedung perusahaan untuk pertama kalinya sejak diusir, Pak Agus masih berdiri di lobi.
Ia melihatku dan tersenyum canggung.
“Mbak Maya.”
Aku mengeluarkan kartu akses lama yang masih kusimpan.
“Kayaknya ini masih mati, Pak.”
Pak Agus tertawa kecil.
“Sekarang sudah aktif lagi.”
Di lantai dua puluh tujuh, para komisaris dan investor menungguku.
Mereka menawarkan penyelesaian.
Perusahaan mengakui kontribusiku sebagai pencipta utama teknologi, membatalkan pengalihan hak yang bermasalah, mengembalikan struktur kepemilikan lisensi sesuai dokumen asli, serta menawarkan posisi Chief Technology Officer sekaligus kursi di dewan.
Aku membaca dokumennya.
Lalu menutup map.
“Saya punya satu syarat.”
Semua orang menatapku.
“Tidak boleh ada PHK massal akibat kasus ini. Karyawan biasa tidak boleh membayar kesalahan manajemen.”
Ketua komisaris mengangguk.
“Kami bisa menyepakatinya.”
Aku menandatangani.
Namun masih ada satu hal yang belum selesai.
Tiga bulan kemudian aku menerima telepon dari agen properti.
“Mbak Maya, pemilik rumah di Kebayoran ingin menjual cepat.”
Aku tahu rumah mana yang ia maksud.
Setelah masalah hukum dan finansialnya membesar, Dimas mulai menjual aset pribadi.
Termasuk rumah orang tuaku.
Aku datang sore itu.
Pohon mangga yang ditanam ayah masih berdiri di halaman.
Cat pagar sudah berubah, tetapi bekas goresan kecil di tiang teras masih ada.
Aku menyentuh dinding ruang tamu.
Di sanalah ibu biasa menungguku pulang sekolah.
Di sanalah ayah memelukku ketika aku mendapatkan beasiswa ke Amerika.
Aku membelinya kembali.
Bukan dengan uang perusahaan.
Bukan dengan kompensasi.
Dengan uangku sendiri.
Pada hari serah terima, aku menemukan sebuah amplop terselip di kotak surat.
Tulisan tangan Dimas.
Maya.
Aku tidak membukanya.
Aku memasukkannya ke tempat sampah.
Enam bulan kemudian perusahaan kembali stabil.
Teknologi kami berkembang lebih cepat daripada sebelumnya.
Aku tidak menjadi CEO.
Aku tidak menginginkannya.
Aku memilih memimpin teknologi dan membangun sistem tata kelola yang memastikan tidak ada satu orang pun bisa menguasai perusahaan hanya karena memiliki jabatan tertinggi.
Suatu sore setelah rapat, Pak Agus mengantarkan sebuah paket kecil ke mejaku.
Di dalamnya ada bingkai foto.
Foto lama dari masa perusahaan masih bekerja di sebuah ruko kecil.
Aku, Dimas, dan lima karyawan pertama berdiri di depan papan tulis penuh coretan.
Di belakang foto tertulis sebuah kalimat yang pernah kutulis sendiri.
Perusahaan besar tidak dibangun oleh satu orang. Ia dibangun oleh orang-orang yang percaya pada sesuatu yang lebih besar daripada ego mereka.
Aku memandang kalimat itu lama.
Lalu meletakkan foto tersebut di laci.
Bukan karena ingin melupakan masa lalu.
Justru karena akhirnya aku bisa menerimanya.
Aku memang kehilangan tujuh tahun bersama Dimas.
Aku kehilangan karier di Wall Street.
Aku pernah kehilangan rumah orang tuaku.
Aku bahkan hampir kehilangan perusahaan yang kubangun dengan tanganku sendiri.
Namun ternyata kehilangan terbesar bukanlah semua itu.
Selama bertahun-tahun, aku hampir kehilangan diriku sendiri karena mengira cinta berarti terus berkorban sampai tidak ada lagi yang tersisa.
Malam itu aku pulang ke rumah Kebayoran.
Aku duduk sendirian di teras sambil memandangi pohon mangga milik ayah.
Ponselku berbunyi.
Sebuah berita baru muncul.
Investigasi terhadap Dimas memasuki tahap berikutnya setelah auditor menemukan bukti tambahan.
Aku mematikan layar.
Untuk pertama kalinya, berita tentang dirinya tidak membuat dadaku sesak.
Aku masuk ke rumah dan menutup pintu.
Di meja ruang tamu tergeletak sebuah penawaran pekerjaan dari sebuah perusahaan investasi teknologi di Singapura dengan angka yang bahkan lebih tinggi daripada gajiku dulu di Wall Street.
Aku tersenyum.
Dulu aku meninggalkan dunia itu demi membangun masa depan seorang laki-laki.
Sekarang aku mendapat kesempatan untuk kembali.
Namun kali ini aku tidak akan membangun masa depan siapa pun.
Aku akan membangun milikku sendiri.
Dan baru saat itulah aku memahami sesuatu.
Balas dendam terbaik ternyata bukan membuat Dimas kehilangan semuanya.
Balas dendam terbaik adalah memastikan setelah semua yang ia lakukan, aku tetap memiliki sesuatu yang tidak pernah bisa ia curi.
Namaku.
Kemampuanku.
Dan keberanian untuk memulai lagi.
