Naura melanjutkan dengan suara polos.
“Tapi Ibu pernah bilang, laki-laki yang meninggalkan istrinya saat sedang hamil demi pergi bersama perempuan lain tidak pantas disebut ayah.”
Seketika suasana di ruang depan menjadi sunyi.
Senyum di wajah Tari lenyap.
Sedangkan wajah Hendra berubah pucat pasi.
Aku sempat mengira dia akan marah kepada Naura. Namun beberapa detik kemudian, Hendra justru menoleh tajam kepadaku.
“Jadi selama ini kamu menanamkan hal seperti itu di kepala anakku?”
“Anakmu?” tanyaku pelan.
Aku sengaja menekankan dua kata itu.
“Selama tujuh tahun, biaya sekolahnya siapa yang bayar? Saat dia demam tengah malam, siapa yang menggendongnya ke IGD? Saat dia pertama kali masuk sekolah dan menangis karena takut, siapa yang menunggu di depan kelas sampai tiga jam?”
Hendra membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban keluar.
Aku menatapnya lurus.
“Kamu bahkan tidak tahu golongan darah Naura.”
Wajahnya semakin tegang.
Tari segera menyela.
“Mbak Siska, jangan terlalu dibesar-besarkan. Mas Hendra pergi juga bukan untuk bersenang-senang. Waktu itu aku benar-benar butuh bantuan.”
Aku tersenyum tipis.
“Selama tujuh tahun?”
Tari terdiam.
“Hebat juga bantuan daruratnya.”
Hendra memukul meja di dekat pintu.
“Cukup!”
Naura tersentak.
Refleks, aku langsung menarik putriku ke belakang tubuhku.
Melihat gerakanku, Hendra tampak sedikit menyesal. Dia menarik napas dan mencoba menurunkan nada suaranya.
“Aku pulang untuk memperbaiki semuanya. Aku tidak mau bertengkar.”
“Kamu baru lima menit di rumah dan sudah mengusirku dari kamar utama.”
“Itu hanya sementara.”
“Lalu aku harus berterima kasih?”
Hendra mengusap wajahnya dengan kasar.
“Aku tahu aku salah meninggalkanmu. Tapi keadaan waktu itu rumit. Tari mengalami depresi setelah suaminya meninggal. Dia tidak punya keluarga di sana. Aku tidak tega meninggalkannya sendirian.”
Mataku beralih kepada anak laki-laki yang sejak tadi berdiri di samping Tari.
Anak itu memiliki alis tebal dan lekukan kecil di dagu.
Sangat mirip dengan Hendra.
Aku tertawa kecil.
Suara itu membuat Hendra langsung menatapku.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Aku memandang anak tersebut.
“Namanya siapa?”
Tari menjawab cepat.
“Raka.”
“Umurnya?”
Tari tidak langsung menjawab.
Hendra yang akhirnya berkata, “Enam tahun.”
Aku mengangguk pelan.
Enam tahun.
Hendra pergi tujuh tahun lalu.
Tidak perlu menjadi ahli matematika untuk memahami apa yang sedang berdiri di hadapanku.
Aku menatap Hendra lagi.
“Anak mendiang dosen pembimbingmu?”
Rahang Hendra mengeras.
Tari memalingkan muka.
Jawaban mereka sudah cukup jelas.
Naura menggenggam tanganku lebih erat.
“Ibu, aku boleh masuk kamar?”
“Tentu.”
Aku membungkuk dan merapikan rambutnya.
“Kunci pintunya. Ibu akan menyusul.”
Naura mengangguk lalu berjalan pergi.
Begitu pintu kamarnya tertutup, aku menatap Hendra.
“Sekarang bicara.”
Hendra menarik napas panjang.
“Raka anakku.”
Tidak ada petir.
Tidak ada dunia yang runtuh.
Aneh sekali.
Dulu, mungkin pengakuan seperti itu bisa menghancurkanku. Sekarang aku hanya merasakan kelelahan.
“Sejak kapan?”
Hendra diam.
Tari menjawab dengan suara pelan.
“Sejak kami di luar negeri.”
“Kalian pergi ketika aku hamil tua. Beberapa bulan setelah itu Tari hamil?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku mengangguk sendiri.
“Baik.”
Hendra tampak bingung melihat reaksiku.
“Siska, aku tahu ini sulit diterima. Tapi Raka tidak bersalah.”
“Aku tidak pernah bilang dia bersalah.”
“Jadi jangan memperlakukannya dengan dingin.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Kamu datang membawa anak dari hubunganmu dengan perempuan lain ke rumah tempat istrimu membesarkan anak kandungmu sendirian, lalu hal pertama yang kamu khawatirkan adalah apakah aku cukup ramah kepadanya?”
Hendra mengalihkan pandangannya.
Aku benar-benar merasa sedang berbicara dengan orang asing.
Tiba-tiba Tari berjalan masuk tanpa izin.
Dia mengamati ruang tamu, lemari pajangan, sofa, hingga tangga menuju lantai dua.
“Rumahnya masih bagus,” katanya. “Mas Hendra sering cerita dulu rumah ini dibangun dengan uang keluarga kalian.”
Aku hampir tersenyum lagi.
Jadi itu tujuannya.
Bukan rindu.
Bukan rasa bersalah.
Rumah.
Hendra ikut masuk.
“Besok kita perlu bicara soal kepemilikan aset.”
Aku pura-pura tidak mengerti.
“Aset apa?”
“Rumah ini. Tanah belakang. Ruko di Jalan Sudirman yang dulu dibeli Ayah. Juga beberapa rekening investasi keluarga.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Selama tujuh tahun, rupanya dia masih mengira semuanya tetap utuh dan menunggunya.
“Kenapa?”
“Karena aku sudah pulang. Mulai sekarang aku akan kembali mengurus semuanya.”
“Menarik.”
Hendra salah mengartikan ketenanganku sebagai kepatuhan.
Dia mulai bicara panjang lebar tentang rencananya membuka bisnis baru. Rumah ini akan dijadikan jaminan kredit. Tanah belakang bisa dikembangkan menjadi beberapa unit kontrakan. Ruko akan direnovasi.
Dia bicara seolah-olah tujuh tahun terakhir hanyalah perjalanan bisnis singkat.
Tari bahkan sudah memilih kamar untuk Raka.
“Aku pikir kamar yang menghadap taman cocok untuk Raka,” katanya.
“Itu kamar Naura,” jawabku.
“Naura kan perempuan. Kamar belakang juga cukup.”
Aku menatapnya.
“Kamu baru datang lima belas menit dan sudah mengatur kamar anakku?”
Tari mendengus.
“Mbak Siska, jangan sensitif terus. Sekarang kita harus belajar hidup sebagai keluarga besar.”
Kali ini aku benar-benar tertawa.
Tari mengerutkan dahi.
“Apa yang lucu?”
“Keluarga besar.”
Aku mengulanginya pelan.
“Kalian memang luar biasa.”
Hendra menatap jam tangannya.

“Kita semua lelah. Malam ini jangan dibahas lagi.”
Dia mengambil salah satu koper dan berjalan menuju tangga.
Aku berdiri di depannya.
“Mau ke mana?”
“Kamar utama.”
“Kamu tidak bisa masuk.”
Wajahnya langsung berubah.
“Kenapa?”
“Kunci kamar sudah kuganti.”
“Siska, jangan kekanak-kanakan.”
“Aku serius.”
Hendra menurunkan koper dengan keras.
“Ini rumahku juga!”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Kalimat yang sejak tadi kutunggu.
Aku menatapnya beberapa detik lalu berkata dengan tenang, “Tidak lagi.”
Hendra terdiam.
“Apa maksudmu?”
Aku mengambil sebuah map cokelat dari laci lemari dan meletakkannya di atas meja.
“Rumah ini sudah dijual.”
Wajah Hendra membeku.
Tari menatapku dengan mata membesar.
“Apa?”
“Dua hari lalu.”
Hendra langsung meraih map itu.
Tangannya membalik lembar demi lembar dengan tergesa-gesa.
Surat perjanjian jual beli.
Bukti pelunasan.
Dokumen notaris.
Sertifikat yang telah melalui proses balik nama.
Semakin banyak halaman yang dibaca, semakin pucat wajahnya.
“Ini tidak mungkin.”
“Kenapa tidak?”
“Kamu menjual rumah keluarga tanpa izinku?”
“Aku pemilik sahnya.”
“Bohong!”
Hendra menggebrak meja.
“Rumah ini warisan orang tuaku!”
“Dulu tanahnya memang milik ayahmu. Tapi enam tahun lalu bank hampir menyitanya karena utang bisnis atas namamu.”
Hendra terdiam.
Aku melanjutkan.
“Aku melunasi tunggakan pajak. Aku membayar cicilan bank. Aku menutup utang yang kamu tinggalkan. Setelah ibumu meninggal, surat wasiat dan proses hukum menyatakan rumah ini menjadi hak Naura dan aku karena kamu dinyatakan tidak diketahui keberadaannya selama bertahun-tahun.”
Hendra menggeleng keras.
“Aku tidak pernah menyetujui itu!”
“Kamu juga tidak pernah menjawab panggilan pengadilan.”
“Aku tidak tahu!”
“Tentu saja tidak tahu. Nomormu mati. Alamatmu tidak jelas. Bahkan kedutaan tidak bisa memastikan keberadaanmu selama beberapa tahun.”
Hendra terlihat seperti kehilangan pijakan.
Tari merebut dokumen dari tangannya.
“Kalau rumah sudah dijual, uangnya mana?”
Aku menoleh kepadanya.
Pertanyaan itu begitu spontan sehingga semua kepura-puraannya terbuka.
Aku tersenyum.
“Kenapa? Kamu tertarik?”
Tari langsung tersadar.
“Maksudku bukan begitu.”
“Tentu.”
Hendra menatapku tajam.
“Berapa harga jualnya?”
“Aku tidak perlu memberitahumu.”
“Aku suamimu!”
“Status perkawinan kita sedang diproses untuk perceraian.”
Wajah Hendra seketika berubah.
“Kamu menggugat cerai?”
“Enam bulan lalu.”
“Kamu gila?”
“Tidak. Justru baru beberapa tahun terakhir aku merasa benar-benar waras.”
Tari terlihat mulai panik.
Dia menarik lengan Hendra dan berbisik, tetapi cukup keras untuk kudengar.
“Mas, katanya rumah ini aman. Kamu bilang aset di Indonesia masih banyak.”
Hendra menepis tangannya.
“Diam dulu.”
Aku menangkap kalimat itu.
Jadi benar.
Mereka datang bukan sekadar untuk pulang.
Mereka datang karena membutuhkan sesuatu.
Aku menyilangkan tangan.
“Ada masalah keuangan?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku memandang koper bermerek mereka, jam tangan mahal Hendra, serta gelang Tari.
“Barang-barang mewah, mobil sewaan, tapi wajah kalian seperti orang dikejar utang.”
Tari langsung menegang.
Hendra menggeram.
“Itu bukan urusanmu.”
“Benar. Sama seperti uang hasil penjualan rumah bukan urusanmu.”
Malam itu mereka terpaksa tidur di kamar tamu.
Aku mengunci kamar Naura dan kamarku sendiri.
Namun sekitar pukul dua dini hari, aku terbangun karena mendengar suara lemari dibuka.
Saat keluar, aku menemukan Tari sedang membongkar laci ruang kerja.
“Apa yang kamu cari?”
Tubuhnya tersentak.
“Aku cuma cari charger.”
“Di laci dokumen?”
Dia memaksakan senyum.
Aku menatap tangannya.
Ada fotokopi surat penjualan ruko.
Aku langsung mengambilnya.
“Ternyata charger sekarang bentuknya sertifikat.”
Tari tidak lagi tersenyum.
“Mbak Siska, kita sama-sama perempuan. Aku bicara terus terang saja. Mas Hendra punya masalah bisnis di Singapura. Investasinya gagal. Dia berutang banyak.”
Akhirnya.
“Berapa?”
“Hampir dua belas miliar rupiah kalau dikonversi.”
Aku tidak terkejut.
Tujuh tahun lalu Hendra juga meninggalkan utang.
Rupanya waktu tidak mengubah kebiasaannya.
“Lalu kalian pulang untuk menjual aset di sini.”
Tari menggigit bibir.
“Kalau utang itu tidak dibayar, kami bisa kehilangan semuanya.”
“Kalian?”
Tatapan Tari jatuh ke lantai.
Aku mendekat.
“Yang berutang Hendra atau kamu juga?”
Dia tidak menjawab.
Aku mulai memahami sesuatu.
“Perhiasanmu palsu?”
Tari mengangkat kepala dengan kaget.
Aku tertawa kecil.
“Tasmu juga?”
Wajahnya memerah.
“Tidak semua.”
Jadi kemewahan di halaman rumah hanyalah panggung.
Keesokan paginya, sandiwara mereka runtuh sepenuhnya.
Seorang laki-laki berjas datang bersama dua orang lainnya. Mereka menanyakan Hendra.
Begitu mendengar namanya, Hendra langsung pucat.
Ternyata mereka adalah perwakilan perusahaan Indonesia yang pernah memberikan pinjaman bisnis kepadanya melalui jaringan investor.
Hendra berteriak bahwa mereka tidak boleh masuk.
Aku justru membuka gerbang.
“Silakan.”
Di ruang tamu, satu demi satu kenyataan terbongkar.
Hendra telah menggunakan rumah ini sebagai klaim aset ketika mengajukan pinjaman.
Dia bahkan mengirim salinan sertifikat lama dan menyatakan dirinya masih memiliki hak penuh atas properti tersebut.
Masalahnya, sertifikat itu sudah tidak berlaku.
Perwakilan perusahaan meletakkan dokumen di meja.
“Pak Hendra, kami sudah memverifikasi kepemilikan. Aset ini bukan milik Anda.”
Aku menoleh kepadanya.
Hendra tidak berani menatapku.
Laki-laki itu melanjutkan.
“Jika ada unsur pemberian informasi palsu, masalah ini bisa dibawa ke proses hukum.”
Tari langsung menangis.
“Mas, kamu bilang semuanya aman!”
“Diam!”
Hendra membentaknya.
Raka yang sedang duduk di sofa langsung ketakutan.
Anak itu menangis.
Melihatnya, aku merasakan sesuatu yang tidak kusangka.
Bukan kebencian.
Kasihan.
Raka sama sekali tidak memilih lahir dari hubungan mereka.
Aku menghampirinya dan memberikan segelas air.
“Tidak apa-apa.”
Dia menatapku dengan mata basah.
“Tante, Papa akan masuk penjara?”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Tari langsung memeluk putranya.
Hari itu juga, Hendra memintaku berbicara berdua di halaman belakang.
Untuk pertama kalinya sejak pulang, kesombongannya benar-benar hilang.
“Siska, tolong aku.”
Aku menatap wajahnya.
Tujuh tahun lalu, di rumah sakit, aku pernah meneleponnya dua puluh tiga kali.
Tidak satu pun dijawab.
Sekarang dia berdiri di depanku meminta pertolongan.
“Aku cuma butuh sebagian uang penjualan rumah,” katanya. “Setelah bisnis pulih, aku akan mengganti semuanya.”
Aku tersenyum pahit.
“Kamu tahu apa yang paling lucu?”
Hendra diam.
“Kalimatmu sama persis seperti tujuh tahun lalu ketika kamu mengambil tabungan persalinanku.”
Wajahnya langsung tertunduk.
“Aku menyesal.”
“Bukan penyesalan yang membuatmu pulang, Hendra. Utang.”
Dia mengangkat wajah.
“Aku tetap ayah Naura.”
“Secara biologis, iya.”
“Aku mau memperbaiki hubungan dengannya.”
“Kamu boleh mencoba kalau Naura mau. Tapi jangan pernah gunakan dia untuk mendapatkan uangku.”
Hendra terdiam cukup lama.
Kemudian suaranya melemah.
“Siska, kalau aku jatuh, Raka juga ikut menderita.”
Aku menatap jendela. Di balik kaca, kulihat Raka duduk diam sementara Naura memberinya biskuit.
Dua anak yang tidak pernah meminta dilahirkan ke dalam kekacauan orang dewasa.
“Aku tidak akan membayar utangmu,” kataku.
Hendra menutup mata.
“Tapi aku akan memastikan anak-anak tidak menjadi korban.”
Aku membantu mencarikan tempat tinggal sementara untuk Tari dan Raka melalui sebuah apartemen kecil yang kusewa selama dua bulan.
Bukan karena aku memaafkan mereka.
Aku hanya tidak ingin seorang anak enam tahun tidur di jalan karena kesalahan ayahnya.
Sedangkan Hendra harus menghadapi para kreditur dan proses hukum sendiri.
Sepuluh hari kemudian, pemilik baru rumah datang.
Aku menyerahkan kunci dengan tenang.
Semua barangku dan Naura sudah dipindahkan.
Sebelum kami pergi, Hendra berdiri di depan gerbang.
Wajahnya kusut. Tidak ada lagi jam mahal. Mobil mewah yang dulu membawanya ke sini juga sudah dikembalikan ke perusahaan rental.
Dia menatap rumah itu lama.
“Aku dulu pikir rumah ini akan selalu menungguku.”
Aku berdiri di samping Naura.
“Rumah bukan manusia, Hendra.”
Dia menatapku.
“Kalau manusia kamu tinggalkan terlalu lama, mereka juga berhenti menunggu.”
Naura menarik tanganku.
“Ibu, kita berangkat?”
Aku tersenyum.
“Iya.”
Hendra menatap putrinya.
“Naura.”
Naura berhenti.
“Ayah boleh menghubungimu nanti?”
Putriku menatapku sebentar.
Aku tidak menjawab untuknya.
Setelah beberapa detik, Naura berkata, “Kalau Ayah benar-benar mau mengenalku, jangan hilang lagi.”
Mata Hendra berkaca-kaca.
Naura masuk ke mobil.
Aku hendak menyusul ketika Hendra memanggilku sekali lagi.
“Siska.”
Aku berbalik.
“Uang rumah itu akan kamu bawa ke mana?”
Aku menatapnya beberapa saat.
Lalu tersenyum.
“Aku tidak menjual rumah ini untuk melarikan diri.”
Dia mengerutkan dahi.
“Aku membelikan rumah lain.”
Wajahnya berubah.
“Untuk siapa?”
“Naura.”
Aku membuka pintu mobil.
“Dan satu hal lagi. Ruko yang kamu tanyakan kemarin juga sudah kujual.”
Hendra tampak hampir kehilangan napas.
Aku melanjutkan dengan tenang.
“Sebagian uangnya kugunakan untuk membuka dapur katering yang selama ini kuimpikan. Tempatnya sudah selesai direnovasi.”
Tujuh tahun lalu Hendra meninggalkan seorang perempuan hamil yang bahkan tidak memiliki uang cukup untuk membayar operasi persalinan.
Sekarang perempuan itu pergi dengan sebuah bisnis atas namanya sendiri, tabungan pendidikan untuk putrinya, dan rumah baru yang tidak memiliki satu pun kenangan tentang pengkhianatan.
Mobil mulai bergerak.
Dari kaca spion, kulihat Hendra semakin kecil di belakang kami.
Naura menatap keluar jendela.
“Ibu sedih meninggalkan rumah lama?”
Aku berpikir sebentar.
“Sedikit.”
“Kenapa tetap dijual?”
Aku menggenggam tangannya.
“Karena kadang-kadang kita terlalu lama mempertahankan sebuah rumah hanya karena di dalamnya ada kenangan.”
Naura menatapku.
“Padahal?”
“Padahal yang kita butuhkan bukan rumah lama.”
Aku tersenyum.
“Tapi tempat baru untuk membuat kenangan yang lebih baik.”
Beberapa bulan kemudian, proses perceraianku dengan Hendra resmi selesai.
Kasus utangnya masih berjalan. Dia menjual hampir semua barang mewah yang tersisa dan mulai bekerja lagi dari bawah.
Tari akhirnya meninggalkannya setelah mengetahui sebagian besar gaya hidup mereka selama ini dibangun dari pinjaman.
Ironisnya, Raka justru beberapa kali bertemu Naura.
Aku mengizinkannya.
Bukan karena aku ingin menciptakan keluarga aneh yang dipaksakan, tetapi karena kedua anak itu tidak seharusnya mewarisi kebencian yang dibuat orang tua mereka.
Suatu sore, ketika aku sedang menutup dapur katering, Naura menghampiriku sambil membawa sebuah amplop.
“Dari Ayah.”
Aku membukanya.
Di dalamnya tidak ada permintaan uang.
Tidak ada alasan.
Hanya bukti transfer kecil untuk kebutuhan sekolah Naura dan secarik kertas bertuliskan bahwa Hendra akan mengirim semampunya setiap bulan.
Jumlahnya bahkan tidak seberapa dibandingkan biaya yang selama ini kutanggung.
Namun untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat dalam tujuh tahun.
Tanggung jawab.
Aku menyimpan kertas itu tanpa menangis.
Beberapa luka memang tidak perlu disembuhkan dengan kembali bersama.
Ada luka yang sembuh justru ketika kita berani pergi.
Malam itu aku pulang bersama Naura ke rumah baru kami.
Rumahnya tidak sebesar yang dulu.
Tidak memiliki tangga marmer atau taman luas.
Tapi di meja makan ada dua piring hangat, suara tawa putriku, dan ketenangan yang selama bertahun-tahun tidak pernah kumiliki.
Saat itulah aku sadar.
Ternyata yang kujual bukan sekadar sebuah rumah.
Aku menjual tempat terakhir yang membuatku terus merasa sebagai perempuan yang ditinggalkan.
Dan dengan uang itu, aku membeli sesuatu yang jauh lebih mahal.
Kebebasan.
