Mayor! Apa yang kamu lakukan?! Lepaskan aku!” Zahwa panik, berusaha melepaskan tangan suaminya yang mengunci tubuhnya erat.

Tangan Zahwa yang sejak tadi sibuk meronta perlahan berhenti di udara.

Untuk sesaat, ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas.

Ada sesuatu yang terasa runtuh di dalam dadanya ketika mendengar isakan Arga. Selama hampir dua tahun menjadi istrinya, Zahwa hanya mengenal laki-laki itu sebagai seorang perwira yang bicara seperlunya, menatap dengan dingin, dan menganggap perasaan seperti kelemahan yang harus disembunyikan.

Bahkan pada malam pernikahan mereka, Arga hanya berkata bahwa pernikahan itu terjadi demi memenuhi permintaan ibunya.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Mereka hidup di bawah satu atap, makan di meja yang sama, tetapi seperti dua orang asing yang kebetulan memiliki buku nikah.

Dan enam bulan lalu, Zahwa menemukan sebuah buku hitam di dalam laci meja kerja Arga.

Di dalamnya terdapat kalender dengan beberapa tanggal yang dicoret satu per satu.

Di halaman terakhir, tertulis sebuah kalimat yang membuat tubuh Zahwa dingin.

Jika sampai tanggal ini aku tetap tidak bisa mencintainya dengan benar, aku harus membebaskannya.

Tanggal itu tinggal dua belas hari lagi.

Sejak saat itu Zahwa mengerti.

Arga sedang menghitung mundur hari-hari pernikahan mereka.

Setidaknya, begitulah yang ia percaya.

Maka ketika pagi tadi sebuah perusahaan di Bandung menawarkan posisi tetap kepadanya, Zahwa langsung mengambil keputusan. Ia akan pergi sebelum Arga mengucapkan kata cerai lebih dulu.

Namun sekarang, laki-laki yang selama ini dianggap sudah menyiapkan perpisahan justru memeluknya seperti seseorang yang kehilangan seluruh dunianya.

“Arga,” bisik Zahwa pelan.

Tidak ada jawaban.

Pelukan itu tiba-tiba melemah.

Tubuh Arga ambruk.

“Arga!”

Zahwa menjerit dan buru-buru menahan tubuh suaminya. Ia hampir ikut terjatuh karena berat badan laki-laki itu.

Wajah Arga pucat, bibirnya kering, tetapi suhu tubuhnya seperti terbakar.

Dengan tangan gemetar Zahwa mengambil ponsel dan menghubungi dokter batalyon.

Dua puluh menit kemudian, Arga dibawa ke rumah sakit militer.

Dokter mengatakan demam tinggi Arga dipicu infeksi akibat luka lama yang belum pulih sempurna. Tiga hari sebelumnya ia sebenarnya baru kembali dari latihan lapangan, tetapi menyembunyikan kondisinya karena tidak ingin Zahwa khawatir.

Kalimat itu terdengar begitu ironis bagi Zahwa.

Tidak ingin membuatnya khawatir?

Laki-laki itu bahkan hampir tidak pernah mengatakan kapan ia pergi dan kapan ia pulang.

Malam semakin larut ketika Zahwa duduk sendirian di depan ruang rawat. Tas yang tadi hendak dibawanya ke Bandung masih tergeletak di bagasi mobil.

Ia menatap kedua tangannya.

Pelukan Arga masih terasa di tubuhnya.

Isakannya juga terus terngiang.

Celine meninggalkanku karena aku terlalu kaku.

Zahwa mengenal nama itu.

Celine adalah cinta pertama Arga.

Perempuan yang pernah membuat Arga menolak perjodohan keluarganya bertahun-tahun lalu.

Setidaknya, itulah cerita yang pernah ia dengar dari ibu Arga.

Pintu lift terbuka.

Seorang perempuan paruh baya berjalan cepat menuju Zahwa.

“Ibu?”

Ibu Ratih langsung memegang bahu menantunya.

“Bagaimana Arga?”

“Sudah stabil.”

Perempuan itu menghela napas panjang sebelum duduk.

Beberapa menit mereka hanya diam.

Kemudian Zahwa bertanya sesuatu yang sejak tadi memenuhi kepalanya.

“Bu, sebenarnya buku hitam Arga itu apa?”

Wajah Ratih berubah.

“Kamu menemukannya?”

Zahwa mengangguk.

“Ada kalender. Ada tanggal-tanggal yang dicoret. Hari terakhirnya dua belas hari lagi.”

Ratih menatapnya lama.

“Lalu kamu mengira apa?”

Zahwa tersenyum pahit.

“Bahwa dia sedang menunggu waktu untuk menceraikan saya.”

Ratih langsung menutup mulutnya.

Namun bukannya terlihat terkejut, perempuan itu justru tampak seperti baru memahami sesuatu yang besar.

“Ya Allah, Arga…”

“Apa saya salah?”

Ratih tidak langsung menjawab.

Ia membuka tas dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat.

“Arga menitipkan ini kepada Ibu tiga minggu lalu.”

Zahwa menerima amplop itu.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen.

Surat permohonan mutasi.

Sertifikat sebuah rumah kecil atas nama Zahwa.

Dan surat cuti panjang.

Zahwa menatap Ratih dengan bingung.

“Ini apa?”

“Arga mengajukan mutasi ke Bandung.”

Jantung Zahwa seperti berhenti.

“Bandung?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Ratih menatap lurus ke matanya.

“Karena dia tahu kamu ingin kembali bekerja.”

Zahwa tidak bisa berkata-kata.

Beberapa bulan lalu ia memang pernah mendapat tawaran pekerjaan di Bandung. Ia menolaknya karena Arga ditempatkan di Jakarta dan tidak mungkin meninggalkan kesatuan.

Ia tidak pernah menceritakan penyesalannya kepada siapa pun.

Atau setidaknya, ia pikir begitu.

“Dia tahu dari mana?”

“Entahlah. Tapi Arga bilang kepada Ibu bahwa selama ini kamu terlalu banyak mengalah.”

Ratih menatap lorong rumah sakit yang sepi.

“Anak itu selalu terlambat memahami perasaannya sendiri.”

Zahwa menggenggam dokumen itu lebih erat.

“Lalu kalender itu?”

Ratih terdiam sejenak.

“Ayah Arga meninggal karena serangan jantung saat Arga berusia tujuh belas tahun. Malam sebelum meninggal, ayahnya bertengkar dengan Arga. Arga pergi dari rumah dan tidak menjawab telepon.”

Zahwa menoleh.

“Sejak itu Arga punya kebiasaan aneh. Kalau dia takut kehilangan seseorang, dia menuliskan tanggal.”

“Tanggal apa?”

“Batas waktu.”

Ratih tersenyum getir.

“Dia meyakini kalau sampai tanggal itu dia belum memperbaiki hubungannya dengan orang tersebut, berarti dia gagal.”

Zahwa merasa tenggorokannya mengering.

“Jadi…”

“Tanggal dalam buku itu bukan hari dia akan menceraikanmu.”

Ratih menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Itu hari ulang tahun pernikahan kalian.”

Zahwa menunduk.

Dadanya terasa sesak.

“Arga berjanji pada dirinya sendiri, sebelum ulang tahun pernikahan kedua kalian, dia harus mengatakan semua yang selama ini tidak sanggup dia katakan.”

Air mata Zahwa jatuh tanpa izin.

“Tapi kenapa dia tidak bilang apa-apa?”

“Karena dia bodoh.”

Suara lain terdengar dari belakang.

Zahwa menoleh.

Seorang perempuan tinggi berambut sebahu berdiri beberapa meter dari mereka.

Zahwa langsung mengenalinya meski hanya pernah melihat foto.

Celine.

Ratih berdiri.

“Celine?”

Perempuan itu tersenyum canggung.

“Saya kebetulan sedang menjenguk ayah saya di lantai tiga. Tadi dengar dari salah satu perawat kalau Arga dirawat.”

Zahwa tidak tahu harus berkata apa.

Celine menatapnya.

“Kamu Zahwa?”

Zahwa mengangguk.

“Saya hanya ingin mengatakan satu hal supaya tidak ada lagi kesalahpahaman.”

Celine duduk di kursi seberang.

“Arga dan saya memang pernah hampir menikah.”

Ratih tampak tidak nyaman, tetapi Zahwa tetap mendengarkan.

“Namun saya tidak meninggalkan Arga karena dia terlalu kaku.”

Celine tertawa kecil.

“Justru Arga yang membatalkan pernikahan kami.”

Zahwa membeku.

“Apa?”

“Dua minggu sebelum akad.”

Celine menatap kedua tangannya.

“Waktu itu ibunya masuk rumah sakit. Saya marah karena Arga membatalkan perjalanan kami ke Singapura untuk menjaga beliau.”

Ratih menunduk.

“Saya mengatakan sesuatu yang buruk. Saya bilang dia akan selamanya menjadi anak yang terikat kepada ibunya dan tidak pernah bisa memilih istrinya.”

Celine tersenyum pahit.

“Arga langsung memutuskan hubungan.”

Zahwa teringat igauan Arga.

Celine meninggalkanku karena aku terlalu kaku.

“Jadi kenapa dia berpikir kamu yang meninggalkannya?”

“Karena begitulah Arga.”

Celine mengangkat bahu.

“Dia selalu mengambil seluruh kesalahan untuk dirinya sendiri.”

Sebelum pergi, Celine menatap Zahwa sekali lagi.

“Saya tidak tahu seperti apa pernikahan kalian. Tapi kalau Arga sampai menangis memintamu jangan pergi, berarti kamu sudah menghancurkan tembok yang bahkan saya tidak pernah bisa lewati.”

Setelah perempuan itu menghilang di lift, Zahwa tetap duduk membisu.

Semua potongan yang selama ini terlihat tidak masuk akal perlahan menyatu.

Arga yang diam-diam memperbaiki motor Zahwa ketika rusak.

Arga yang selalu meninggalkan vitamin di meja tanpa mengatakan apa pun.

Arga yang memindahkan jadwal latihan ketika Zahwa harus menjalani operasi kecil.

Arga yang pernah berdiri tiga jam di depan rumah sakit saat ibunya dirawat, tetapi menolak masuk karena takut memperlihatkan kepanikan.

Ia tidak pernah tidak peduli.

Ia hanya tidak tahu bagaimana menunjukkan rasa peduli.

Pukul dua dini hari Arga sadar.

Zahwa masuk ke kamar rawat ketika dokter sudah keluar.

Arga memandangnya dengan mata sayu.

Begitu melihat Zahwa, laki-laki itu langsung berusaha bangun.

“Kamu belum pergi?”

Zahwa mendekati tempat tidur.

“Harusnya saya pergi?”

Arga terdiam.

Matanya jatuh ke selimut.

“Maaf.”

Hanya satu kata.

Tetapi kali ini Zahwa tidak membiarkannya bersembunyi.

“Buku hitam itu apa?”

Wajah Arga langsung menegang.

“Siapa yang memberitahumu?”

“Saya menemukannya enam bulan lalu.”

Arga mengusap wajah.

“Zahwa…”

“Saya kira kamu menghitung hari sampai perceraian kita.”

Arga langsung menatapnya.

“Apa?”

“Saya pikir tanggal terakhir itu adalah hari kamu akan membebaskan diri dari pernikahan yang tidak pernah kamu inginkan.”

Arga terlihat benar-benar terpukul.

“Astaghfirullah.”

Zahwa menahan air mata.

“Memangnya saya harus berpikir apa? Kamu tidak pernah bicara. Tidak pernah mengatakan apa yang kamu rasakan. Kamu memperlakukan saya seperti tamu di rumahmu sendiri.”

“Rumah kita.”

“Apa?”

“Itu rumah kita.”

Suara Arga pelan, tetapi tegas.

“Jangan bilang rumahku.”

Zahwa terdiam.

Arga menarik napas dalam.

“Saya memang tidak ingin menikah saat Ibu pertama kali mempertemukan kita.”

Zahwa tersenyum pahit.

“Nah.”

“Tapi itu sebelum saya mengenal kamu.”

Lanjut Arga.

Zahwa memandangnya.

“Saya pikir pernikahan cukup dijalankan dengan tanggung jawab. Memberi nafkah, menyediakan rumah, melindungi keluarga.”

Arga tertawa kecil tanpa humor.

“Ternyata tidak.”

Tangannya mengepal di atas selimut.

“Saya tidak tahu kapan tepatnya saya mulai menunggu suara langkahmu setiap kali pulang dinas.”

Zahwa membeku.

“Saya tidak tahu kapan saya mulai membeli dua kopi meskipun saya cuma minum satu. Saya tidak tahu kenapa setiap kamu demam, saya tidak bisa tidur.”

Mata Arga mulai merah.

“Saya juga tidak tahu kenapa ketika kamu bilang ingin kembali bekerja, saya malah merasa takut.”

“Takut?”

“Takut kamu sadar hidupmu jauh lebih baik tanpa saya.”

Zahwa menunduk.

Arga melanjutkan.

“Buku hitam itu bukan hitung mundur untuk meninggalkanmu.”

Ia tersenyum lemah.

“Itu hitung mundur supaya saya berhenti menjadi pengecut.”

Zahwa mengusap air matanya.

“Mutasi ke Bandung?”

Arga tampak terkejut.

“Ibu memberi tahu?”

Zahwa mengangguk.

“Kenapa?”

“Karena saya tahu perusahaan itu menghubungimu lagi.”

“Bagaimana kamu tahu?”

“Kamu pernah meninggalkan email terbuka di laptop.”

Zahwa hampir tertawa di tengah tangis.

“Jadi Mayor ternyata membaca email orang?”

“Tidak sengaja.”

“Pembohong.”

Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Arga terangkat.

Namun senyumnya cepat menghilang.

“Zahwa.”

“Hm?”

“Kalau kamu tetap ingin pergi setelah saya sembuh, saya tidak akan menahanmu.”

Tatapan Zahwa melembut.

“Tapi tadi kamu memeluk saya sampai hampir patah tulang.”

“Saya sedang demam.”

“Jadi itu bukan kamu?”

“Anggap saja bukan.”

Zahwa akhirnya tertawa kecil.

Arga menatapnya seolah baru pertama kali melihat sesuatu yang sangat berharga.

Kemudian laki-laki itu berkata pelan.

“Saya tidak akan meminta kamu tinggal karena kasihan.”

Zahwa diam.

“Saya cuma ingin satu kesempatan.”

“Untuk apa?”

“Belajar menjadi suami.”

Mata Arga berkaca-kaca lagi.

“Bukan mayor. Bukan anak Ibu. Bukan laki-laki yang selalu merasa harus kuat.”

Ia menelan ludah.

“Suamimu.”

Dua belas hari kemudian, Arga sudah diperbolehkan pulang.

Pada hari ulang tahun pernikahan mereka, ia mengajak Zahwa ke sebuah rumah kecil di pinggiran Bandung.

Rumah yang sertifikatnya telah menggunakan nama Zahwa.

Arga menyerahkan buku hitam itu kepadanya.

“Halaman terakhir belum dicoret.”

Zahwa membukanya.

Tanggal hari itu dilingkari dengan tinta hitam.

Di bawahnya terdapat tulisan tangan Arga.

Jika sampai hari ini aku masih tidak sanggup mengatakan bahwa aku mencintainya, aku harus melepaskannya. Dia tidak pantas hidup bersama laki-laki yang membuatnya merasa tidak dicintai.

Tangan Zahwa bergetar.

Ia menutup buku itu.

“Lalu?”

Arga berdiri kaku di depannya.

Untuk seorang laki-laki yang pernah memimpin puluhan prajurit, wajahnya terlihat sangat gugup.

“Lalu apa?”

“Hari ini tanggalnya.”

Arga menarik napas.

“Saya mencintaimu.”

Tidak ada kalimat panjang.

Tidak ada bunga.

Tidak ada musik.

Hanya empat kata sederhana dari seorang laki-laki yang membutuhkan hampir dua tahun untuk mengucapkannya.

Namun Zahwa menangis.

Arga panik.

“Kenapa menangis?”

“Karena kamu menyebalkan.”

“Zahwa.”

“Dan lambat.”

“Iya.”

“Dan bodoh.”

Arga mengangguk.

“Iya.”

Zahwa memukul dadanya pelan sebelum memeluknya.

“Tapi saya belum mau pergi.”

Tubuh Arga membeku.

“Belum?”

Zahwa tersenyum di balik bahunya.

“Kalau kamu kembali jadi suami batu, saya pertimbangkan lagi.”

Arga tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya, Zahwa mendengar suara tawa itu tanpa beban.

Namun kejutan terbesar datang ketika Zahwa membuka halaman berikutnya.

Ada sebuah tanggal baru.

Lima tahun dari sekarang.

Di bawahnya tertulis satu kalimat.

Kalau sampai tanggal ini aku masih membuat Zahwa menangis lebih banyak daripada tertawa, aku sendiri yang harus mengantarnya pergi.

Zahwa menatap Arga.

“Kamu masih bikin batas waktu?”

Arga mengangguk serius.

“Kebiasaan buruk.”

Zahwa mengambil pena dari meja.

Ia mencoret kalimat itu.

Lalu menulis sesuatu di bawahnya.

Tidak ada batas waktu untuk belajar mencintai seseorang. Yang ada hanya keputusan untuk terus belajar setiap hari.

Arga membaca kalimat itu lama.

Kemudian ia menggenggam tangan Zahwa.

Kali ini tidak terlalu kuat.

Tidak seperti malam ketika demam membuat semua pertahanannya runtuh.

Tidak seperti seorang laki-laki yang takut ditinggalkan.

Melainkan seperti seorang suami yang akhirnya memahami bahwa cinta bukan tentang menahan seseorang agar tetap tinggal.

Cinta adalah membuat seseorang memiliki alasan untuk memilih tinggal.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, kalender hitam milik Arga tidak lagi digunakan untuk menghitung berapa hari yang tersisa.

Mereka mulai menggunakannya untuk mencatat hari-hari yang ingin mereka ingat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang