Maaf, ya, Sya. Temanku baru saja menelepon. Katanya ada seorang tour guide yang kemarin tertarik mengambil paket umrah.

Sepanjang perjalanan kembali ke hotel, Asya tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Paris yang beberapa jam sebelumnya tampak begitu indah kini terasa asing. Gedung-gedung klasik, deretan kafe, orang-orang yang berjalan santai di trotoar, semuanya berlalu begitu saja di balik jendela mobil tanpa benar-benar masuk ke pikirannya.

Diah beberapa kali melirik melalui kaca spion.

“Mbak Asya, kalau mau menangis, menangis saja. Nggak perlu ditahan.”

Asya tersenyum tipis.

“Aku bahkan nggak tahu harus menangisi apa, Mbak.”

Diah terdiam.

Asya menatap henna yang masih terlihat jelas di tangannya.

“Menangisi suami yang baru kukenal beberapa bulan? Menangisi pernikahan yang bahkan belum seminggu? Atau menangisi diriku sendiri karena ternyata aku sebodoh ini?”

“Jangan menyalahkan diri sendiri.”

“Aku percaya sama dia.”

Suara Asya pecah pada kalimat terakhir.

Diah menggenggam kemudi lebih erat.

“Saya tahu mungkin bukan urusan saya, tapi jangan ambil keputusan waktu Mbak masih emosi. Tenangkan diri dulu. Setelah itu, tanyakan langsung.”

Asya tidak menjawab.

Sesampainya di hotel, ia meminta Diah tidak mengatakan apa pun kepada Tian.

“Kalau Mas Tian bertanya, bilang saja perjalanan kita menyenangkan.”

Diah menatapnya ragu.

“Mbak yakin?”

Asya mengangguk.

“Aku ingin mendengar kebohongannya langsung.”

Kalimat itu membuat Diah tercekat.

Malam sudah turun ketika Tian akhirnya kembali ke hotel.

Begitu pintu kamar terbuka, aroma parfum asing langsung menyusup ke hidung Asya.

Aroma yang sama.

Parfum yang tadi dicoba Kalila di toko.

Asya yang sedang duduk di depan meja rias menatap bayangan Tian melalui cermin.

“Kamu sudah pulang?”

Tian tersenyum.

“Sudah. Maaf banget, ya. Urusannya ternyata lama.”

Ia melepas jaket, lalu berjalan mendekati Asya.

“Gimana jalan-jalannya? Seru?”

“Lumayan.”

“Menara Eiffel bagus?”

Asya mengangguk.

“Bagus.”

Tian terlihat lega.

“Besok aku janji temani kamu. Hari ini benar-benar nggak bisa ditinggal. Orangnya serius mau ambil paket umrah untuk rombongan besar.”

Asya menatap suaminya melalui cermin.

“Perempuan atau laki-laki?”

Tian berhenti sesaat.

Hanya sepersekian detik.

Namun Asya menangkapnya.

“Laki-laki,” jawab Tian santai. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Tian kemudian masuk ke kamar mandi.

Begitu pintunya tertutup, Asya menundukkan kepala.

Laki-laki.

Kebohongan itu keluar begitu mudah.

Tanpa ragu.

Tanpa rasa bersalah.

Asya menarik napas panjang, lalu meraih ponselnya.

Ada pesan dari Diah.

Mbak, saya tadi sempat mengambil foto mereka dari jauh. Saya nggak tahu apakah Mbak membutuhkannya atau tidak. Kalau Mbak tidak mau melihat, saya tidak akan kirim.

Jari Asya berhenti di layar.

Beberapa detik kemudian ia mengetik.

Kirim, Mbak.

Sebuah foto masuk.

Tian sedang berdiri di samping Kalila.

Tangan Kalila menggandeng lengannya.

Keduanya tersenyum.

Asya memperbesar foto itu.

Dadanya kembali terasa sesak.

Namun kali ini ia tidak menangis.

Ia menyimpan foto tersebut.

Lalu menghapus percakapan dengan Diah.

Malam itu Tian tidur dengan tenang di sampingnya, sementara Asya menatap langit-langit sampai hampir subuh.

Keesokan paginya, Tian benar-benar menepati janjinya.

Ia mengajak Asya sarapan dan berjalan-jalan.

Ia bahkan membelikan istrinya sebuah tas yang cukup mahal.

Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Justru sikap itulah yang membuat hati Asya semakin dingin.

Di sebuah kafe kecil, Tian sibuk memesan makanan ketika ponselnya bergetar di atas meja.

Sebuah notifikasi muncul.

Kalila.

Mas, nanti malam jadi ke tempatku?

Asya hanya sempat membaca satu kalimat sebelum Tian mengambil ponselnya.

Wajah pria itu berubah.

“Kamu lihat?”

Asya mengangkat wajah.

“Lihat apa?”

Tian menatapnya beberapa detik.

“Nggak ada.”

Ia segera memasukkan ponselnya ke saku.

Asya tersenyum kecil.

Permainan ini mulai terasa melelahkan.

Malamnya, Tian kembali mendapat alasan untuk pergi.

Katanya ada pertemuan dengan calon jamaah lain.

Kali ini Asya tidak mencegah.

Begitu Tian keluar, ia menghubungi Diah.

“Mbak, bisa bantu aku?”

Diah langsung menjawab, “Bisa. Mau ke mana?”

“Aku mau mengikuti suamiku.”

Kurang dari tiga puluh menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil.

Diah menjaga jarak dari kendaraan yang ditumpangi Tian.

Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah apartemen.

Asya melihat Tian turun.

Kalila sudah menunggu di pintu masuk.

Wanita itu tersenyum lebar dan langsung memeluk Tian.

Asya memejamkan mata.

Diah menoleh kepadanya.

“Mbak…”

“Aku mau turun.”

“Jangan sekarang.”

“Aku harus tahu siapa perempuan itu.”

Asya turun sebelum Diah sempat mencegah.

Namun baru beberapa langkah, seseorang memanggilnya.

“Mbak Asya?”

Asya berhenti.

Seorang perempuan Indonesia berusia sekitar lima puluh tahun berdiri tidak jauh darinya sambil membawa beberapa kantong belanja.

“Benar Mbak Asya, kan?”

Asya mengerutkan kening.

“Maaf, kita kenal?”

Perempuan itu terlihat gugup.

“Saya pernah melihat foto Mbak.”

“Foto saya?”

Tatapan perempuan itu berpindah ke arah Tian dan Kalila yang baru saja masuk ke apartemen.

Wajahnya langsung pucat.

“Mbak ikut saya sebentar.”

“Siapa Ibu?”

“Saya Ratna. Saya bibinya Kalila.”

Nama itu membuat jantung Asya berdegup keras.

“Kalila?”

Ratna tampak terkejut.

“Mbak belum tahu?”

Asya merasa dunia di sekitarnya mendadak sunyi.

“Tahu apa?”

Ratna menelan ludah.

“Mereka sudah menikah.”

Asya membeku.

Diah yang baru menghampiri ikut terdiam.

“Menikah?”

Ratna mengangguk perlahan.

“Nikah siri. Hampir dua tahun.”

Dua tahun.

Asya merasa kedua lututnya kehilangan tenaga.

Ia mencengkeram tasnya.

“Jadi… aku ini siapa?”

Ratna menatapnya dengan iba.

“Saya kira Mbak sudah tahu.”

Asya tertawa kecil.

Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.

“Ternyata aku bahkan bukan perempuan pertama yang dia khianati.”

Ratna menggeleng.

“Masalahnya lebih rumit.”

Asya menatapnya.

Ratna menghela napas panjang.

“Tian menikahi Kalila diam-diam karena keluarga Tian tidak merestui. Mereka ingin Tian menikah dengan perempuan pilihan keluarga. Kalila setuju menunggu sampai Tian berani bicara.”

“Dan perempuan pilihan keluarga itu aku.”

Ratna tidak menjawab.

Tidak perlu.

Diamnya sudah menjadi jawaban.

Asya pulang ke hotel menjelang tengah malam.

Ia duduk sendirian dalam gelap.

Kini semuanya terasa masuk akal.

Pernikahan yang berlangsung begitu cepat.

Sikap Tian yang terkadang hangat, terkadang berjarak.

Bulan madu yang aneh.

Telepon-telepon mendadak.

Dan alasan pekerjaan yang terus bermunculan.

Asya bukan sekadar istri yang diselingkuhi.

Ia dijadikan alat untuk menyenangkan keluarga Tian.

Ketika Tian pulang hampir pukul satu malam, lampu kamar masih mati.

“Sya?”

Tidak ada jawaban.

Tian menyalakan lampu.

Asya duduk di tepi ranjang.

Di atas meja terdapat ponselnya dengan foto Tian dan Kalila terbuka di layar.

Wajah Tian seketika pucat.

“Asya…”

“Siapa Kalila?”

Tian terdiam.

“Jawab.”

“Asya, dengarkan aku dulu.”

“Siapa Kalila?”

Suara Asya tidak keras.

Justru ketenangannya membuat Tian semakin panik.

Tian mengusap wajah.

“Dia…”

“Kalila istrimu?”

Tian langsung menatapnya.

“Dari mana kamu tahu?”

Pertanyaan itu menjadi pengakuan.

Asya tersenyum getir.

“Jadi benar.”

Tian buru-buru mendekat.

“Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan apa? Bahwa kamu sudah menikah siri dua tahun sebelum menikahiku? Bahwa keluargamu nggak merestui dia, lalu kamu menikahiku supaya semua orang senang?”

“Asya, bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Tian terdiam.

Air mata Asya akhirnya jatuh.

“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?”

Tian tidak menjawab.

“Bukan karena kamu mencintai perempuan lain.”

Asya menatapnya lurus.

“Tapi karena kamu mengambil hakku untuk memilih.”

Tian membeku.

“Kalau sejak awal kamu bilang kamu sudah punya istri, aku bisa memilih mundur. Kalau kamu bilang hatimu milik orang lain, aku bisa menolak pernikahan ini. Tapi kamu diam. Kamu membiarkan aku berdiri di depan penghulu, menerima akadmu, sementara ada kehidupan lain yang kamu sembunyikan.”

“Aku terpaksa, Sya.”

“Jangan.”

Asya mengangkat tangan.

“Jangan jadikan keluarga sebagai alasan atas kebohonganmu sendiri.”

Tian menarik napas kasar.

“Ayahku sakit. Ibu terus memaksa. Mereka nggak pernah mau menerima Kalila. Aku pikir setelah menikah denganmu, semuanya bisa berjalan pelan-pelan.”

“Berjalan bagaimana? Aku jadi istri untuk keluargamu, Kalila jadi istri untuk hatimu?”

Tian tidak mampu menjawab.

Asya berdiri.

“Aku mau pulang ke Indonesia.”

“Sya.”

“Besok.”

“Kita masih bisa bicara.”

“Nggak ada yang perlu dibicarakan malam ini.”

Tian mencoba memegang tangannya, tetapi Asya mundur.

Untuk pertama kalinya Tian melihat sesuatu yang benar-benar berbeda di mata istrinya.

Bukan kemarahan.

Melainkan hilangnya kepercayaan.

Jauh di Indonesia, pada malam yang sama, Bian sedang duduk bersama Ustaz Amir di teras masjid.

“Saya sudah memikirkan tawaran Ustaz,” katanya.

Amir tersenyum.

“Lalu?”

“Saya belum bisa.”

“Karena Asya?”

Bian terkejut.

Amir tertawa pelan.

“Saya memang tua, tapi belum pikun.”

Bian menunduk.

“Saya nggak mau menyakiti anak Ustaz. Hati saya belum selesai dengan masa lalu.”

Amir mengangguk.

“Justru jawaban itu yang ingin saya dengar.”

Bian mengangkat kepala.

“Maksud Ustaz?”

“Saya menawarkan anak saya bukan karena ingin buru-buru menikahkannya. Saya ingin tahu apakah kamu tipe laki-laki yang akan menerima perempuan lain hanya untuk melupakan seseorang.”

Bian terdiam.

“Dan ternyata tidak.”

Amir menepuk bahunya.

“Kalau hatimu belum selesai, selesaikan dulu. Jangan menyeret anak orang lain masuk ke luka yang belum sembuh.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala Bian.

Tiga hari kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah keluarga Asya.

Asya turun sendirian.

Ayahnya yang sedang berada di teras langsung berdiri.

“Asya?”

Wajah lelaki itu berubah ketika melihat tidak ada Tian bersamanya.

“Kenapa pulang sendiri? Tian mana?”

Asya memandang ayahnya lama.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop dari tas.

“Aku ingin bicara sama Ayah.”

“Ada apa?”

“Ayah tahu Tian sudah menikah sebelum menikah denganku?”

Wajah ayah Asya mendadak kaku.

Hanya sesaat.

Namun Asya melihatnya.

Dan sesaat itu cukup untuk menghancurkan sisa harapannya.

“Ayah tahu?”

“Asya, dengarkan Ayah dulu.”

Dunia Asya kembali runtuh.

Bukan hanya Tian.

Ayahnya juga tahu.

“Kenapa?”

“Asya…”

“Kenapa Ayah melakukan ini?”

“Ayah pikir Tian akan meninggalkan perempuan itu setelah menikah denganmu.”

Asya menatap ayahnya tak percaya.

“Ayah pikir kamu bisa mengubah dia. Keluarganya juga sudah berjanji.”

Air mata mengalir di pipi Asya.

“Jadi semua orang tahu kecuali aku?”

Ayahnya menunduk.

“Kalila cuma dinikahi siri. Secara keluarga, mereka tidak menganggap…”

“Cukup!”

Untuk pertama kalinya Asya membentak ayahnya.

Tangannya gemetar.

“Ayah selalu bilang pernikahan itu ibadah. Ayah bilang aku harus percaya pilihan Ayah. Tapi kenapa ibadahku dimulai dengan kebohongan?”

Tidak ada jawaban.

Asya masuk ke rumah sambil menangis.

Malam itu ia mengunci kamar.

Untuk pertama kalinya sejak kecil, ia merasa rumahnya sendiri bukan lagi tempat paling aman.

Beberapa hari kemudian, kabar kepulangannya mulai menyebar.

Namun Asya tidak peduli.

Ia hanya ingin menyelesaikan pernikahannya secara benar.

Ia tidak ingin balas dendam.

Tidak ingin mempermalukan Tian atau Kalila.

Ia hanya ingin mendapatkan kembali hak yang sejak awal dirampas darinya.

Hak untuk menentukan hidupnya sendiri.

Suatu sore, Asya keluar rumah menuju sebuah lembaga konsultasi keluarga yang direkomendasikan Diah.

Saat berjalan melewati halaman masjid di dekat tempat itu, langkahnya tiba-tiba berhenti.

Seorang pria sedang mengangkat beberapa kardus berisi kitab dari mobil menuju ruangan samping masjid.

Asya mengenali punggung itu.

“Bian?”

Pria tersebut membeku.

Perlahan ia berbalik.

Kardus di tangannya hampir terlepas.

“Asya?”

Mereka berdiri saling menatap.

Bian melihat wajah Asya yang lebih kurus. Tidak ada senyum bahagia seorang pengantin baru. Tidak ada cahaya seseorang yang baru kembali dari bulan madu.

Hanya kelelahan.

“Kamu… sudah pulang?”

Asya mengangguk.

Bian ingin bertanya tentang Tian, tetapi menahannya.

“Semoga kamu bahagia, Sya.”

Asya menunduk.

Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya sesak.

“Aku sedang mengurus perpisahan.”

Wajah Bian berubah.

Namun ia tidak menunjukkan kegembiraan sedikit pun.

Ia hanya bertanya, “Kamu baik-baik saja?”

Pertanyaan itu menghancurkan pertahanan Asya.

Air matanya jatuh.

Bian tidak mendekat.

Tidak menyentuhnya.

Ia hanya berdiri beberapa langkah di depan perempuan yang masih dicintainya.

“Aku nggak baik-baik saja, Bian.”

Bian mengangguk perlahan.

“Nggak apa-apa kalau sekarang belum baik-baik saja.”

Asya mengusap air matanya.

“Kenapa kamu nggak tanya apa yang terjadi?”

“Karena kalau kamu mau cerita, aku akan dengar. Kalau nggak, itu juga hakmu.”

Asya menatapnya.

Saat itulah ia menyadari sesuatu yang tidak pernah dipahaminya sebelumnya.

Cinta bukan sekadar seseorang yang ingin memiliki.

Cinta juga tentang seseorang yang tetap menghormati pilihan kita bahkan ketika pilihan itu tidak menguntungkan dirinya.

Dari pintu masjid, Ustaz Amir memperhatikan keduanya.

Ia tersenyum tipis.

Kini ia mengerti mengapa Bian belum mampu membuka hati untuk putrinya.

Namun Amir tidak merasa kecewa.

Ia justru bersyukur Bian memilih jujur.

Sebab tidak semua pertemuan harus berakhir dengan pernikahan.

Tidak semua cinta harus segera diperjuangkan.

Ada luka yang harus sembuh lebih dahulu.

Ada kepercayaan yang harus dibangun kembali.

Dan ada manusia yang perlu menemukan dirinya sendiri sebelum kembali menggenggam tangan orang lain.

Asya tidak tahu apakah suatu hari nanti jalan hidupnya akan kembali bertemu dengan Bian.

Bian pun tidak tahu apakah cintanya masih memiliki kesempatan.

Untuk saat ini, mereka tidak membuat janji apa pun.

Asya memilih menyelesaikan pernikahannya dan belajar berdiri dengan pilihannya sendiri.

Bian memilih melanjutkan hijrahnya tanpa menjadikan siapa pun sebagai pelarian.

Sementara Tian akhirnya harus menghadapi konsekuensi dari keputusan yang selama ini ia sembunyikan di balik alasan keluarga dan keadaan.

Karena pada akhirnya, kebohongan mungkin bisa menjaga sebuah hubungan tetap terlihat utuh untuk sementara.

Namun tidak ada rumah tangga yang benar-benar bisa dibangun dari hak seseorang yang dirampas.

Dan bagi Asya, kepulangannya dari Paris bukanlah akhir dari sebuah pernikahan.

Itu adalah pertama kalinya dalam hidupnya ia benar-benar pulang kepada dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang