“Mia Rahmadani!” teriak Romi sambil menggebrak meja pelayanan di dalam bank.

“Mia, rumahmu kebakaran!”

Suara Yunus dari seberang telepon membuat seluruh tubuh Mia membeku.

“Apa?”

“Rumahmu terbakar! Api sudah besar. Pemadam sedang menuju ke sini. Kamu cepat pulang!”

Mia tidak sempat menjawab. Ponselnya nyaris terlepas dari tangan. Irna yang melihat wajah sahabatnya berubah pucat langsung meraih lengannya.

“Rumahmu?”

Mia mengangguk dengan napas memburu.

“Aku harus pulang.”

“Aku antar.”

Mereka berdua bergegas menuju pintu. Namun baru dua langkah, terdengar suara serak dari ranjang.

“Ja… ngan….”

Mia berhenti.

Ia menoleh.

Lelaki tanpa identitas itu kini membuka mata lebar-lebar. Wajahnya masih pucat, tetapi tatapannya berbeda. Tidak lagi kosong seperti beberapa menit sebelumnya.

“Jangan… pulang….”

Mia kembali mendekati ranjang.

“Kamu bilang apa?”

Lelaki itu tampak berusaha keras menggerakkan bibir.

“A… pi….”

Monitor di samping ranjang tiba-tiba berbunyi lebih cepat. Napasnya memburu, keringat dingin muncul di pelipis.

Irna segera memanggil perawat.

Mia menatapnya dengan bingung. “Kamu tahu sesuatu tentang kebakaran itu?”

Namun sebelum lelaki tersebut menjawab, tubuhnya menegang. Dokter dan perawat masuk tergesa-gesa.

“Ibu harus keluar dulu. Kondisi pasien sedang tidak stabil.”

“Tapi dia baru saja mengatakan sesuatu.”

“Bu Mia, sekarang!”

Mia akhirnya mundur.

Di lorong rumah sakit, pikirannya berputar-putar.

Bagaimana mungkin seorang lelaki yang bahkan belum tahu siapa dirinya bereaksi begitu kuat ketika mendengar rumah Mia terbakar?

“Ayo,” kata Irna. “Kita cari tahu setelah kondisi dia stabil.”

Mia mengangguk.

Sepanjang perjalanan pulang, Mia tidak berhenti berdoa.

Rumah itu bukan sekadar bangunan. Rumah sederhana tersebut merupakan peninggalan orang tuanya. Di sanalah ia tumbuh, menikah, menangis diam-diam setiap kali Romi pulang membawa luka baru dalam pernikahan mereka.

Namun ketika mobil Irna memasuki gang, harapan Mia langsung runtuh.

Asap hitam membubung ke langit.

Warga berkerumun di sepanjang jalan. Dua mobil pemadam kebakaran terparkir tidak jauh dari rumahnya. Petugas masih menyemprotkan air ke bagian belakang bangunan.

“Ya Allah….”

Mia turun sebelum mobil berhenti sempurna.

“Mia!” Yunus berlari menghampirinya.

“Mas, bagaimana rumahku?”

“Api sudah mulai terkendali.”

“Dari mana asalnya?”

Yunus menatap Mia beberapa detik.

“Sepertinya dari kamar belakang.”

Mia terdiam.

Kamar belakang.

Kamar yang selama beberapa minggu terakhir ditempati Romi sebelum lelaki itu semakin jarang pulang.

Mia hendak berlari masuk, tetapi seorang petugas pemadam menghalanginya.

“Jangan masuk dulu, Bu. Masih berbahaya.”

“Dokumen saya ada di dalam!”

“Keselamatan lebih penting.”

Mia hanya bisa berdiri sambil melihat air mengalir keluar dari rumah bercampur abu.

Beberapa menit kemudian, seorang pria berpakaian polisi mendatanginya.

“Ibu pemilik rumah?”

“Iya.”

“Kami menemukan indikasi kebakaran ini bukan karena korsleting.”

Dada Mia langsung terasa sesak.

“Maksud Bapak?”

“Ada bau bahan bakar di dekat jendela belakang. Kami juga menemukan botol plastik yang sebagian meleleh.”

Irna langsung menatap Mia.

“Kamu tahu siapa yang mungkin melakukan ini?”

Mia tidak menjawab.

Satu nama muncul di kepalanya.

Romi.

Terutama setelah kejadian di bank.

Namun Mia tidak ingin menuduh tanpa bukti.

“Ada CCTV?” tanya polisi.

“Rumah saya tidak punya.”

Yunus tiba-tiba menyela.

“Tapi rumah Pak Hendra di ujung gang punya kamera menghadap jalan.”

Polisi segera meminta rekaman tersebut.

Hampir satu jam kemudian, mereka berkumpul di teras rumah Yunus. Rekaman dari kamera Pak Hendra diputar melalui laptop.

Pukul 19.43, sebuah sepeda motor berhenti sekitar dua puluh meter dari rumah Mia.

Pengendaranya memakai helm dan jaket hitam.

Ia turun membawa kantong plastik.

Wajahnya tidak terlihat.

Beberapa menit kemudian, orang itu kembali berlari menuju motornya.

Pukul 19.51, cahaya terang mulai terlihat dari arah rumah Mia.

“Tidak kelihatan wajahnya,” gumam Irna.

Mia memperhatikan layar tanpa berkedip.

Kemudian ia menunjuk sesuatu.

“Berhenti.”

Video dihentikan.

“Perbesar bagian tangannya.”

Polisi memperbesar gambar.

Di pergelangan tangan kanan pelaku tampak gelang hitam dengan ornamen logam.

Wajah Mia berubah.

“Aku pernah melihat gelang itu.”

“Punya Romi?” tanya Irna.

Mia menggeleng perlahan.

“Bukan.”

Ia teringat sesuatu.

Beberapa hari sebelumnya, ketika Romi datang ke rumah bersama seorang lelaki yang mengaku teman bisnisnya, lelaki itu mengenakan gelang serupa.

Namanya Damar.

Sejak awal Mia tidak menyukainya. Tatapan Damar selalu terasa terlalu lama, terlalu mengamati.

“Tapi kenapa teman Romi membakar rumahmu?” tanya Irna.

“Itu yang tidak aku mengerti.”

Malam itu Mia tidak diperbolehkan tinggal di rumah. Ia menginap di tempat Irna.

Namun sekitar pukul dua dini hari, telepon dari rumah sakit membangunkannya.

“Bu Mia?”

“Iya.”

“Pasien tanpa identitas yang Ibu dampingi terus menyebut nama Ibu. Kondisinya sadar, tetapi sangat gelisah.”

Mia duduk tegak.

“Dia bicara?”

“Sudah mulai mengucapkan beberapa kata.”

Mia langsung bangun.

Setengah jam kemudian ia tiba di rumah sakit bersama Irna.

Begitu memasuki kamar, lelaki itu menoleh.

“Mia….”

Suara itu masih lemah.

Mia mendekat.

“Kamu ingat sesuatu?”

Lelaki itu menatapnya lama.

Kemudian bibirnya bergerak.

“Sagara.”

Mia menahan napas.

“Itu namamu?”

Ia mengangguk.

“Sagara.”

Mia tersenyum lega.

“Baik. Sagara. Kamu tahu nama lengkapmu?”

Lelaki itu memejamkan mata beberapa detik.

“Sagara… Adiprana.”

Irna langsung mengambil ponselnya dan mencatat nama tersebut.

Mia kemudian teringat reaksinya sebelumnya.

“Sagara, tadi ketika kamu mendengar rumahku kebakaran, kenapa kamu menyuruhku jangan pulang?”

Ekspresi Sagara berubah.

Tangannya mengepal di atas selimut.

“Aku… ingat api.”

“Api apa?”

“Gudang.”

“Gudang?”

Sagara mengangguk.

“Orang… mengejarku.”

Mia dan Irna saling pandang.

“Siapa?”

Sagara tampak kesakitan saat mencoba mengingat.

“Damar.”

Mia membeku.

Nama itu seperti menghantam kepalanya.

“Damar?”

Sagara kembali mengangguk.

“Dia… mau membunuhku.”

Mia segera menarik kursi dan duduk.

“Ceritakan apa yang kamu ingat.”

Potongan ingatan Sagara muncul tidak beraturan.

Ia adalah direktur sebuah perusahaan distribusi hasil laut di Surabaya yang sedang mengembangkan jaringan pemasok di beberapa kota pesisir Jawa. Beberapa bulan sebelumnya, tim audit menemukan manipulasi laporan pembelian.

Jumlahnya bukan sedikit.

Belasan miliar rupiah.

Transaksi palsu dibuat menggunakan perusahaan cangkang.

Orang yang paling banyak muncul dalam dokumen itu adalah Damar Prasetyo, salah satu manajer operasional.

“Tapi… bukan dia sendiri,” bisik Sagara.

“Ada siapa lagi?”

Sagara menatap Mia.

“Aku tidak tahu namanya.”

“Ciri-cirinya?”

“Laki-laki. Sekitar empat puluh tahun. Dia datang beberapa kali menemui Damar.”

Mia mengeluarkan ponselnya.

Dengan tangan gemetar, ia membuka foto lama Romi.

“Orang ini?”

Sagara melihat layar.

Beberapa detik kemudian, matanya membesar.

“Dia.”

Dunia Mia seperti berhenti.

Romi.

Suaminya ternyata mengenal Damar jauh lebih dalam daripada yang ia ketahui.

“Tidak mungkin….”

Irna memegang bahunya.

“Mia.”

Namun Sagara belum selesai.

“Mereka tahu aku menemukan bukti. Aku membawa salinan dokumen. Mereka mengejarku sampai gudang lama dekat pelabuhan.”

“Apa yang terjadi?”

“Mereka membakar gudang.”

Sagara menutup mata.

Ingatan itu kembali begitu jelas.

Asap.

Api.

Suara Damar.

Kemudian pukulan keras di belakang kepala.

Sagara berhasil keluar melalui jendela kecil sebelum api membesar. Dalam kondisi terluka, ia berlari tanpa arah sampai akhirnya kehilangan kesadaran.

“Dokumennya?” tanya Irna.

Sagara terdiam.

Kemudian tangannya bergerak menuju pergelangan kiri.

“Jam.”

Mia dan Irna langsung saling pandang.

Mia teringat benda yang ia serahkan kepada Irna setelah kejadian di bank.

Jam tangan milik lelaki tanpa identitas itu.

“Ir.”

Irna membelalakkan mata.

“Jam yang kamu titipkan?”

Mia mengangguk.

Pagi itu mereka mengambil jam tersebut dari tempat penyimpanan Irna.

Begitu melihatnya, Sagara langsung mengenalinya.

“Buka bagian belakang.”

Irna memeriksanya.

Tidak terlihat apa pun.

Sagara meminta sebuah benda tipis. Setelah beberapa kali mencoba, penutup belakang jam berhasil dibuka.

Di dalamnya terdapat kartu memori berukuran sangat kecil.

Mia sampai kehilangan kata-kata.

Data tersebut kemudian diserahkan kepada polisi.

Isinya jauh lebih besar daripada dugaan mereka.

Rekening palsu.

Percakapan.

Rekaman pertemuan.

Bukti transfer.

Nama Damar muncul berkali-kali.

Dan nama Romi tercatat sebagai perantara yang membantu mencarikan identitas orang lain untuk membuka rekening penampungan.

Lebih mengejutkan lagi, polisi menemukan pesan yang dikirim Damar kepada Romi pada malam rumah Mia terbakar.

Cari jam itu. Perempuanmu pasti menyimpannya. Kalau perlu, bakar rumahnya.

Mia membaca pesan tersebut dengan tangan gemetar.

Jadi rumahnya dibakar bukan semata-mata karena dendam.

Mereka sedang mencari bukti.

Romi ternyata mengetahui bahwa Mia pernah menolong Sagara. Ia menduga barang-barang milik Sagara dibawa Mia pulang.

Beberapa hari kemudian, Romi ditangkap.

Saat dibawa ke kantor polisi, ia masih berusaha menyangkal semuanya.

“Aku cuma disuruh! Aku tidak tahu Damar mau membunuh orang!”

Mia berdiri beberapa meter darinya.

Romi menatap Mia dan tiba-tiba berteriak.

“Mia! Bilang sama mereka! Aku suamimu!”

Mia menatapnya tanpa ekspresi.

Kalimat itu terasa ironis.

Selama bertahun-tahun Romi menggunakan status suami sebagai alasan untuk menguasai hidupnya.

Sekarang status yang sama ia gunakan untuk meminta pertolongan.

“Aku pernah menjadi istrimu,” jawab Mia tenang. “Tapi aku tidak pernah menjadi alasan untuk membenarkan kejahatanmu.”

Romi terdiam.

Mia berbalik dan pergi.

Rekaman CCTV bank yang sebelumnya telah diamankan menjadi bukti tambahan dalam laporan kekerasan yang diajukannya.

Proses hukum berjalan berbulan-bulan.

Mia mengajukan perceraian.

Anehnya, ketika semuanya akhirnya selesai, ia tidak merasa kehilangan.

Ia justru merasa seperti baru mendapatkan kembali dirinya sendiri.

Rumah peninggalan orang tuanya memang rusak cukup parah, tetapi tidak seluruhnya hancur. Dengan uang pinjaman yang sebelumnya diperebutkan Romi, Mia memutuskan merenovasi bagian depan rumah dan membuka usaha pengolahan hasil laut.

Sagara pulih perlahan.

Setelah identitasnya dikonfirmasi, keluarganya datang dari Surabaya.

Hari ketika kedua orang tua angkat Sagara tiba di rumah sakit menjadi hari yang sulit dilupakan Mia.

Ibunya menangis sambil memeluk Sagara begitu lama.

“Kami pikir kamu sudah meninggal.”

Sagara hanya mampu memeluk perempuan itu sambil menangis.

Mia memilih berdiri di luar kamar.

Ia merasa tugasnya selesai.

Beberapa minggu kemudian, saat sedang menata barang di tempat usahanya yang baru, sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Sagara turun.

Kondisinya jauh lebih sehat.

Ia membawa sebuah kotak kecil.

“Apa ini?” tanya Mia.

“Utang.”

“Aku tidak pernah meminjamkan uang kepadamu.”

“Bukan utang uang.”

Sagara menyerahkan kotak itu.

Di dalamnya terdapat jam tangan yang dulu menyimpan kartu memori.

Jam itu telah diperbaiki.

Di bagian belakangnya terukir kalimat kecil.

Untuk orang asing yang memilih menyelamatkan hidup orang lain.

Mia terdiam.

“Sagara….”

“Waktu semua orang tidak tahu siapa aku, kamu menandatangani persetujuan tindakan medis. Kamu bahkan tidak tahu apakah aku orang baik atau jahat.”

Mia tersenyum tipis.

“Waktu itu aku cuma berpikir kalau seseorang masih bisa diselamatkan, ya harus diselamatkan.”

Sagara mengangguk.

“Mungkin itu sebabnya aku datang hari ini.”

“Untuk memberikan jam?”

“Bukan.”

Sagara melihat papan nama usaha Mia.

“Mau bekerja sama?”

Mia tertawa kecil.

“Kamu baru sembuh sudah bicara bisnis?”

“Aku serius. Perusahaanku membutuhkan pemasok baru. Aku dengar kualitas produkmu bagus.”

“Dengar dari siapa?”

“Pak Yunus.”

Mia menggeleng geli.

Namun ketika hendak masuk, Sagara memanggilnya.

“Mia.”

Mia menoleh.

“Ada satu hal lagi yang baru aku ingat.”

“Apa?”

“Waktu aku tidak sadar, aku bermimpi bertemu Bunda kandungku.”

Mia diam mendengarkan.

“Dia menyuruhku kembali. Katanya masih ada urusan yang harus aku selesaikan.”

Sagara tersenyum.

“Dulu aku pikir urusan itu adalah menangkap Damar.”

“Sekarang?”

Tatapan Sagara jatuh pada Mia.

“Sekarang aku rasa hidup tidak selalu menyelamatkan kita dengan cara yang kita pahami.”

Mia tidak menjawab.

Angin sore bergerak lembut melewati halaman rumah yang baru direnovasi.

Dulu tempat itu hampir menjadi makam dari seluruh kenangan buruknya.

Sekarang di tempat yang sama, Mia membangun kehidupan baru.

Ia melihat jam tangan di tangannya.

Benda kecil itu pernah menjadi alasan seseorang hampir dibunuh, rumahnya dibakar, dan sebuah kejahatan besar terbongkar.

Namun tanpa semua kekacauan itu, mungkin Mia tidak pernah memiliki keberanian untuk benar-benar meninggalkan Romi.

Mia tersenyum.

“Kalau begitu, Pak Sagara Adiprana, besok datang lagi. Kita bicara kontrak kerja sama.”

Sagara ikut tersenyum.

“Hanya kontrak kerja sama?”

Mia mengangkat alis.

“Untuk sekarang.”

Sagara tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mia ikut tertawa tanpa merasa harus takut seseorang akan merusak kebahagiaannya.

Ia akhirnya memahami sesuatu.

Ada orang yang hadir dalam hidup kita untuk mengambil.

Ada yang datang untuk menghancurkan.

Namun sesekali, Tuhan mempertemukan dua orang asing yang sama-sama terluka agar tanpa sadar mereka saling menunjukkan jalan pulang.

Dan bagi Mia, rumah bukan lagi tempat yang hampir dibakar Romi.

Rumah adalah kehidupan yang akhirnya berani ia pilih sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang