Aku menatap Selly sedikit lebih lama dari seharusnya.
“Body care lo habis semua?” tanyaku, berusaha terdengar biasa.
Selly mengangguk sambil mengangkat salah satu paper bag di tangannya. “Iya. Parfum juga tinggal dikit. Kenapa?”
“Enggak. Cuma nanya.”
Luna yang berdiri di sampingku melirik sekilas. Dia cukup mengenalku untuk tahu ada sesuatu yang sedang kupikirkan, tetapi untungnya dia tidak ikut bertanya.
Aku memaksakan senyum.
“Terus Haidar mana? Enggak nemenin?”
Wajah Selly langsung berubah aneh. Bukan sedih, bukan juga marah. Lebih seperti seseorang yang mendengar pertanyaan yang tidak relevan.
“Haidar? Ngapain dia nemenin gue?”
Dadaku terasa dingin.
“Ya… kan dia suami lo.”
Selly terkekeh kecil. “Suami apaan, Na? Gue sama Haidar udah cerai hampir setahun.”
Aku merasa suara di dalam mal tiba-tiba menjauh.
Langkah orang-orang, musik dari gerai pakaian, suara mesin kopi dari kafe di lantai bawah, semuanya seperti berubah menjadi dengungan samar.
“Cerai?” ulangku.
“Iya.” Selly menatapku heran. “Lo enggak tahu?”
Aku menggeleng.
“Rendra enggak pernah cerita?”
Pertanyaan itu justru membuat tengkukku meremang.
“Enggak.”
Selly mengangkat bahu. “Mungkin lupa. Soalnya waktu proses cerai, Haidar sempat curhat juga ke Rendra.”
Aku tidak menjawab.
Jadi Mas Rendra tahu Selly sudah bukan istri Haidar.
Artinya alasan bahwa barang-barang Dior dalam nota itu adalah titipan Haidar untuk istrinya jelas tidak masuk akal.
Bukan.
Bukan sekadar tidak masuk akal.
Mas Rendra sudah berbohong kepadaku.
“Na?”
Suara Luna membuatku tersadar.
“Lo pucat.”
Aku tersenyum tipis. “Kurang tidur.”
Selly sepertinya tidak menyadari perubahan ekspresiku. Dia malah sibuk melihat jam.
“Gue duluan, ya. Gue ada janji.”
“Janji sama siapa?” tanyaku spontan.
Selly menatapku sepersekian detik sebelum tersenyum.
“Teman.”
Lalu dia pergi.
Aku berdiri mematung sampai tubuhnya menghilang di antara kerumunan.
Luna langsung menarik lenganku.
“Sekarang ngomong.”
Aku menggeleng. “Nanti.”
“Inara.”
“Gue bilang nanti, Lun.”
Nada suaraku terlalu keras sampai Luna akhirnya diam.
Aku mencoba tetap melanjutkan acara kami. Bahkan aku tetap masuk ke gerai Maybelline dan membeli dua lipstik. Namun, pikiranku sudah tidak ada di sana.
Sepanjang perjalanan pulang, satu pertanyaan terus berputar di kepalaku.
Kalau barang-barang dalam nota itu bukan milik Selly, lalu untuk siapa?
Begitu tiba di rumah, Mas Rendra belum pulang.
Bu Ida juga sudah tidak ada.
Aku masuk kamar, mengunci pintu, lalu mencari kembali nota yang kemarin kutemukan di dalam saku blazer suamiku.
Dior body lotion.
Dior lipstick.
Compact powder.
Parfum.
Totalnya hampir tujuh juta rupiah.
Di bagian bawah nota tertulis tanggal pembelian.
Tiga hari lalu.
Aku mengambil ponsel lalu membuka percakapanku dengan Mas Rendra pada tanggal yang sama.
Malam itu dia mengirim pesan pukul sembilan.
Aku lembur. Jangan tunggu.
Tanganku mulai dingin.
Tiba-tiba aku teringat satu hal lain.
Dua minggu terakhir Mas Rendra sering pulang dengan aroma yang berbeda. Awalnya kukira parfum dari rekan kerjanya atau pewangi mobil. Namun sekarang aku ingat aromanya.
Manis.
Sedikit floral.
Sangat mirip dengan tester parfum Dior yang tadi dicoba Selly.
Aku menutup mata.
Jangan gegabah.
Aku tidak mau menjadi istri yang menuduh tanpa bukti.
Jadi malam itu, ketika Mas Rendra pulang pukul hampir sebelas, aku bersikap seperti biasa.
“Belum tidur?” tanyanya sambil melepas jam tangan.
“Belum.”
Aku melihatnya dari depan laptop.
“Mas makan?”
“Sudah.”
“Di mana?”
Dia berhenti sebentar.
“Di kantor.”
Aku mengangguk.
Mas Rendra masuk kamar mandi.
Begitu suara shower terdengar, mataku jatuh pada tas kerjanya yang diletakkan di kursi.
Dulu aku tidak pernah memeriksa barang pribadi suamiku.
Aku percaya kepadanya.
Malam itu untuk pertama kalinya, kepercayaan itu terasa seperti kemewahan yang terlalu mahal.
Aku membuka tasnya.
Laptop.
Dokumen.
Charger.
Dompet kartu nama.
Tidak ada apa-apa.
Aku hampir menutup tas ketika melihat sebuah kartu kecil terselip di antara map.
Kartu member restoran.
Sebuah restoran mi pedas terkenal yang baru buka beberapa bulan lalu.
Di belakang kartu ada tulisan tangan.
Meja favorit kita nomor 17.
R.
Aku membeku.
Huruf R bisa berarti Rendra.
Bisa juga bukan.

Tapi kemudian aku melihat simbol hati kecil di sampingnya.
Aku memotret kartu itu lalu mengembalikannya ke tempat semula.
Sejak malam itu, aku berhenti bertanya.
Aku mulai mengamati.
Dalam tiga hari, aku menemukan pola.
Mas Rendra selalu pulang lebih malam setiap Selasa dan Jumat.
Dia mulai sering membawa ponsel bahkan ke kamar mandi.
Dan setiap menerima notifikasi tertentu, layar ponselnya otomatis dimiringkan menjauh dariku.
Jumat sore, aku menghubungi Luna.
“Gue butuh bantuan.”
“Nyari bukti?”
Aku terdiam.
“Lo tahu?”
“Gue enggak bego, Na. Sejak ketemu Selly muka lo udah kayak habis lihat hantu.”
Aku menceritakan semuanya.
Anehnya, setelah mengucapkannya keras-keras, dadaku justru terasa semakin sesak.
Luna tidak menyuruhku bersabar.
Tidak juga langsung memaki Rendra.
Dia hanya berkata, “Kalau lo mau tahu kebenaran, jangan cari setengah-setengah.”
Malam itu Mas Rendra bilang ada rapat dengan klien.
Aku mengangguk, bahkan membantu memilihkan kemeja.
Setelah dia pergi, aku menunggu dua puluh menit sebelum keluar rumah bersama Luna.
Kami menuju restoran yang namanya tercetak di kartu member itu.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kuharapkan.
Mungkin aku berharap menemukan Mas Rendra bersama kolega laki-laki.
Mungkin aku berharap semua ini hanya kebetulan.
Mungkin jauh di dalam hati, aku masih ingin terlihat bodoh daripada terbukti dikhianati.
Namun ketika kami masuk, Luna langsung meremas lenganku.
“Na.”
Aku mengikuti arah pandangannya.
Meja nomor tujuh belas.
Mas Rendra duduk di sana.
Di hadapannya ada seorang perempuan berambut panjang dengan blus krem.
Bukan Selly.
Perempuan itu tertawa sambil menyuapi Mas Rendra sepotong pangsit.
Dan suamiku membuka mulut menerimanya.
Aku tidak bergerak.
Ada momen ketika hati yang hancur justru tidak langsung terasa sakit.
Semua menjadi mati rasa.
Aku bahkan sempat memperhatikan benda-benda kecil.
Tas perempuan itu.
Jam tangannya.
Lipstiknya.
Lalu mataku berhenti pada botol parfum kecil yang dia keluarkan dari tas.
Dior.
Perempuan itu menyemprotkan sedikit ke pergelangan tangan.
Aroma manis floral itu sampai ke tempatku berdiri.
Sama.
Mas Rendra bukan membeli barang untuk Selly.
Dia membeli semuanya untuk perempuan ini.
“Lo mau pulang?” bisik Luna.
Aku menggeleng.
Anehnya aku justru sangat tenang.
Aku berjalan menuju meja mereka.
Perempuan itu yang pertama kali melihatku.
Senyumnya lenyap.
Mas Rendra menoleh.
Wajahnya langsung pucat.
“Inara?”
Aku menarik kursi kosong lalu duduk.
“Lanjut makan.”
“Na, dengerin Mas dulu.”
“Katanya rapat sama klien.”
Dia terdiam.
Aku menatap perempuan di depannya.
“Namanya siapa?”
Perempuan itu menelan ludah.
Mas Rendra segera menjawab, “Ini Nadin. Teman kantor.”
“Teman kantor yang nyuapin suami orang?”
“Inara.”
Aku mengangkat tangan.
“Gue enggak tanya lo.”
Nadin memandang Mas Rendra seperti meminta bantuan.
Menarik.
Jadi perempuan ini bahkan belum punya keberanian menatap istri laki-laki yang dia rebut.
“Kalian udah berapa lama?” tanyaku.
“Enggak seperti yang kamu pikir,” kata Mas Rendra.
Aku tertawa kecil.
Kalimat paling basi sedunia.
“Kalau enggak seperti yang gue pikir, berarti gue boleh lihat chat kalian?”
Mas Rendra diam.
Aku mengangguk pelan.
“Udah jelas.”
Aku mengambil sumpit.
Di meja mereka ada semangkuk mi pedas level delapan yang masih mengepul.
“Mas suka mi pedas sekarang?”
“Inara, jangan bikin keributan.”
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku patah.
Bukan karena dia selingkuh.
Bukan karena dia berbohong.
Tetapi karena di saat seperti ini pun, yang dia khawatirkan bukan perasaanku.
Dia khawatir dipermalukan.
Aku berdiri.
Semua meja di sekitar mulai memperhatikan.
“Lo benar,” kataku. “Gue enggak mau bikin keributan.”
Nadin seperti mengembuskan napas lega.
Lalu dia berkata pelan, mungkin karena merasa menang.
“Mbakyu, sebenarnya Mas Rendra itu cuma butuh perempuan yang bisa bikin dia nyaman.”
Aku menoleh.
“Apa?”
Nadin kini berani menatapku.
“Dia sering cerita kalau di rumah selalu tertekan. Apalagi soal anak.”
Dadaku berdegup keras.
“Mas Rendra bilang kalian udah lima tahun menikah tapi Mbak belum bisa kasih keturunan.”
Luna yang berdiri beberapa meter di belakang langsung maju.
Namun aku menahannya dengan satu tatapan.
Aku kembali menatap Nadin.
“Kata dia begitu?”
Nadin tersenyum tipis.
“Iya. Saya juga sebenarnya enggak bermaksud merusak rumah tangga siapa pun. Tapi kalau memang dari awal rumah tangganya sudah bermasalah…”
Aku mengambil mangkuk mi pedas itu lalu meletakkannya tepat di depan Nadin.
“Makan.”
Dia mengernyit.
“Apa?”
“Katanya lo bisa bikin suami gue nyaman. Makan.”
“Mbak, saya enggak suka pedas.”
“Sayang banget.”
Aku mendorong mangkuk itu mendekat.
“Mulut lo kuat ngomongin rahim perempuan lain, tapi ternyata enggak kuat makan cabai.”
Wajah Nadin memerah.
Mas Rendra langsung berdiri.
“Cukup, Inara!”
Aku menatapnya tajam.
“Belum.”
Untuk pertama kali, suamiku terdiam melihat tatapanku.
Aku merogoh tas lalu mengeluarkan nota Dior yang selama ini kusimpan.
Kulemparkan ke meja.
“Ini untuk dia?”
Mas Rendra tidak menjawab.
Nadin malah reflek melihat paper bag kecil di samping kursinya.
Aku tertawa hambar.
Tepat saat itu, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Seorang perempuan dari meja belakang berdiri.
Usianya mungkin sekitar empat puluh tahun.
Dia berjalan mendekat sambil membawa ponsel.
“Maaf, Mbak.”
Aku mengernyit.
Dia menatap Nadin.
“Saya kenal perempuan ini.”
Wajah Nadin seketika berubah.
“Bu, jangan ikut campur.”
Perempuan itu mengabaikannya.
“Dia istri adik saya.”
Restoran mendadak sunyi.
Aku yakin wajahku sama terkejutnya dengan Mas Rendra.
“Istri?” tanyaku.
Perempuan itu mengangguk.
“Namanya memang Nadin. Suaminya kerja di Balikpapan. Mereka belum cerai.”
Aku menoleh perlahan kepada Nadin.
Dia berdiri begitu cepat sampai kursinya hampir jatuh.
“Mas Rendra, ayo pergi.”
Namun kali ini Mas Rendra justru menjauh.
“Nadin, lo bilang lo janda.”
Nadin menatapnya panik.
“Mas, aku bisa jelasin.”
Aku hampir tertawa.
Luar biasa.
Suamiku yang membohongiku ternyata juga dibohongi selingkuhannya sendiri.
Tapi kejutan belum selesai.
Perempuan tadi membuka ponselnya.
“Dan kalau Anda Rendra, mungkin Anda perlu tahu sesuatu.”
Dia menunjukkan foto.
Nadin bersama seorang laki-laki.
Foto lain.
Nadin bersama laki-laki berbeda.
Lalu satu lagi.
“Adik saya sudah curiga sejak beberapa bulan lalu. Ternyata bukan cuma Anda.”
Wajah Mas Rendra seperti kehilangan darah.
Aku menatapnya beberapa detik.
Entah kenapa aku tidak merasa puas.
Yang ada justru rasa jijik.
Semua kebohongan itu ternyata bahkan tidak istimewa.
Mas Rendra menghancurkan pernikahan kami demi menjadi salah satu dari beberapa laki-laki yang dipermainkan perempuan lain.
Aku mengambil tas.
“Inara, tunggu.”
Dia memegang tanganku.
Aku langsung menepisnya.
“Jangan sentuh gue.”
“Mas salah. Kita pulang, kita ngomong di rumah.”
“Enggak ada kita.”
“Inara…”
“Lima tahun gue berobat. Lima tahun gue minum obat yang bikin badan gue berubah. Lima tahun gue nangis diam-diam setiap menstruasi datang. Lima tahun ibu lo memperlakukan gue seperti mesin produksi cucu laki-laki.”
Air mataku akhirnya jatuh.
“Tapi ternyata selama gue sibuk merasa tubuh gue gagal, lo malah sibuk tidur sama perempuan lain.”
Mas Rendra menunduk.
Aku melanjutkan.
“Dan yang paling lucu, lo pakai ketidakmampuan gue hamil sebagai alasan buat selingkuh.”
“Mas enggak bermaksud begitu.”
“Besok kita ke dokter.”
Dia mengangkat wajah.
“Apa?”
“Tes kesuburan lengkap.”
Mas Rendra terdiam.
Aku mendekat sedikit.
“Selama lima tahun ini cuma gue yang bolak-balik dokter karena ibu lo selalu bilang masalahnya pasti ada di gue. Sekarang gue mau lo diperiksa.”
Wajahnya berubah.
Reaksi kecil itu langsung tertangkap mataku.
“Kenapa?” tanyaku. “Takut?”
Dia tidak menjawab.
Dan untuk pertama kalinya, muncul kecurigaan lain.
Dua hari kemudian, kami benar-benar pergi ke klinik.
Bukan karena Mas Rendra mau.
Aku mengancam akan mengirim semua bukti perselingkuhannya kepada seluruh keluarga kalau dia menolak.
Hasil pemeriksaan keluar seminggu kemudian.
Dokter berbicara dengan sangat hati-hati.
Mas Rendra mengalami gangguan kesuburan yang cukup berat.
Jumlah spermanya sangat rendah.
Kemungkinan kehamilan alami tetap ada, tetapi jauh lebih kecil dibanding rata-rata.
Aku tidak menangis.
Aku hanya duduk sambil menatap kertas hasil pemeriksaan.
Mas Rendra menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Di perjalanan pulang dia berkali-kali berkata, “Maafin Mas.”
Aku tidak menjawab.
Sesampainya di rumah, Bu Ida sudah menunggu.
Entah bagaimana dia tahu kami pergi ke dokter.
“Gimana hasilnya?” tanyanya. “Inara ada masalah apa?”
Aku menyerahkan amplop kepada beliau.
Bu Ida membacanya.
Semakin lama, wajahnya semakin pucat.
“Ini… salah hasil kali.”
“Enggak, Bu.”
“Rendra sehat.”
“Secara umum memang sehat.”
“Enggak mungkin anak Ibu mandul.”
Mas Rendra langsung menegang.
“Bu.”
Namun Bu Ida masih menatapku.
“Kamu pasti sengaja cari dokter yang bilang begini supaya menyalahkan Rendra.”
Aku tersenyum kecil.
Dulu mungkin aku akan menangis mendengar tuduhan itu.
Sekarang tidak lagi.
“Silakan Ibu bawa Mas Rendra ke rumah sakit mana pun untuk tes ulang.”
Aku berjalan menuju tangga, lalu berhenti.
“Satu lagi, Bu.”
Beliau menatapku.
“Kalaupun masalah kesuburan ada di aku, itu tetap enggak memberi hak kepada anak Ibu untuk selingkuh.”
Bu Ida akhirnya terdiam.
Malam itu aku tidur di kamar tamu.
Tiga minggu kemudian aku mengajukan gugatan cerai.
Mas Rendra memohon.
Bu Ida menangis.
Mbak Santi datang membawa anak-anaknya.
Bahkan keluarga besarku ikut membujuk agar aku mempertimbangkan ulang.
Aku tidak berubah pikiran.
Bukan karena satu perselingkuhan.
Melainkan karena aku akhirnya sadar, selama lima tahun aku hidup di rumah yang membuatku terus merasa kurang.
Kurang subur.
Kurang patuh.
Kurang sabar.
Kurang pantas menjadi istri.
Aku terlalu lama sibuk mencoba memenuhi standar mereka sampai lupa bertanya pada diriku sendiri apakah aku bahagia.
Enam bulan setelah perceraian resmi, novel yang dulu sulit kuselesaikan akhirnya terbit.
Luna datang ke acara peluncuran bukuku sambil membawa bunga.
“Judulnya sadis juga,” katanya sambil tertawa.
Aku melihat sampul novel.
Ku Sumpal Mulut Gundik Suamiku dengan Mi Pedas.
Aku terkekeh.
“Terinspirasi kisah nyata.”
“Padahal waktu itu lo enggak benar-benar nyumpal mulut dia.”
“Di dunia nyata enggak.”
Aku membuka halaman terakhir novel.
“Tapi penulis selalu punya kesempatan memperbaiki adegan.”
Luna tertawa keras.
Ponselku bergetar.
Pesan dari nomor yang sudah lama tidak kusimpan.
Mas Rendra.
Na, Ibu masuk rumah sakit. Dia terus nyebut nama kamu.
Aku membaca pesan itu tanpa rasa marah.
Tanpa rasa rindu.
Hanya datar.
Lalu masuk pesan kedua.
Aku baru sadar ternyata selama ini yang paling banyak kehilangan bukan kamu. Tapi aku.
Aku mematikan layar.
Luna memperhatikanku.
“Siapa?”
“Orang dari cerita lama.”
Aku memasukkan ponsel ke dalam tas lalu tersenyum.
Di depan kami, puluhan pembaca sedang mengantre meminta tanda tangan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hidupku tidak lagi berputar pada pertanyaan kapan aku akan hamil, bagaimana membuat suami bahagia, atau bagaimana memenuhi keinginan keluarga orang lain.
Aku akhirnya menulis hidupku sendiri.
Dan kali ini, tidak ada siapa pun yang boleh menentukan akhirnya selain aku.
