IPAR SOK KAYA TRAKTIR OMAKASE 17 JUTA, TAPI BEGITU TAGIHAN DATANG MALAH NGAKU DOMPETNYA KETINGGALAN!

Pelayan itu masih berdiri di sisi meja dengan senyum profesional yang mulai terasa canggung.

Arka menunduk menatap layar ponselnya. Jempolnya bergerak cepat membuka satu aplikasi ke aplikasi lain, seolah angka tujuh belas juta delapan ratus ribu rupiah bisa mendadak mengecil kalau ia cukup lama menatap layar.

Tidak ada keajaiban.

Saldo tetap Rp684.320.

Sisa limit kartu kredit tetap tidak sampai lima juta.

Dan pinjaman online yang baru diambil pagi tadi bahkan belum genap sehari, tetapi bunga serta biaya administrasinya sudah terpampang jelas.

“Mas, gimana?” Viona bertanya tidak sabar.

Arka mengusap kening yang basah.

“Sebentar.”

“Sebentar apanya? Pelayan sudah nunggu.”

Nada Viona mulai terdengar kesal.

Ibu Dahlia ikut memandang Arka seolah semua kekacauan itu adalah kesalahan putranya seorang.

“Telepon teman kantor kamu. Kamu kan manajer. Masa nggak ada satu pun teman yang bisa dipinjami uang?”

Arka mengangkat kepala.

“Jam segini mau pinjam hampir delapan belas juta ke siapa, Ma?”

“Ya cari cara!”

Nora menatap mereka sambil tetap memegang cangkir teh.

Ia hampir kagum.

Tak satu pun dari mereka mempertanyakan orang yang sejak awal berjanji mentraktir.

Semua justru menyerang Arka karena tidak mampu menutup tagihan yang bukan ia buat.

Pelayan berdeham pelan.

“Mohon maaf, Bapak, Ibu. Kalau membutuhkan waktu, saya bisa kembali beberapa menit lagi.”

Viona buru-buru mengangguk.

“Iya. Tolong.”

Begitu pelayan keluar, wajah ramahnya langsung hilang.

“Mas Arka, serius deh. Coba apply PayLater yang limitnya besar.”

Arka menatapnya tidak percaya.

“Vi, kamu dengar nggak tadi? Pagi ini Mas baru pinjam uang.”

“Ya terus?”

“Terus Mas harus nambah utang lagi buat makan yang kamu bilang kamu traktir?”

Ruangan mendadak diam.

Itu pertama kalinya Arka membalas dengan nada setegas itu.

Wajah Viona berubah.

“Loh, kok jadi nyalahin Viona?”

“Aku nggak nyalahin. Aku cuma bilang dari awal kamu yang bilang akan bayar.”

“Masa gara-gara dompet ketinggalan jadi dibesar-besarkan begitu?”

Nora hampir tersedak tehnya.

Dompet ketinggalan.

Alasan yang luar biasa sederhana untuk masalah hampir delapan belas juta.

Ibu Dahlia buru-buru memotong.

“Sudah, Arka. Jangan bikin suasana makin buruk. Viona juga bukan sengaja.”

“Kalau begitu kenapa bukan Viona yang cari cara bayar, Ma?”

Ibu Dahlia terdiam.

Arka menatap ibunya cukup lama.

Ada sesuatu di wajah pria itu yang perlahan berubah.

Seolah selama ini ia hidup di dalam ruangan gelap, dan malam itu seseorang akhirnya menyalakan lampu.

Viona mengambil ponselnya.

“Oke. Aku telepon Mas Gibran.”

Ia menekan nama suaminya.

Panggilan pertama tidak dijawab.

Panggilan kedua juga tidak.

Panggilan ketiga langsung masuk ke kotak suara.

Viona mulai terlihat gelisah.

“Pasti lagi meeting.”

“Jam setengah sepuluh malam?” tanya Nora pelan.

Viona melirik tajam.

“Meeting proyek bisa sampai malam, Mbak.”

“Oh.”

Nora tersenyum kecil.

“Semoga cepat selesai.”

Nada suaranya begitu tenang hingga justru membuat Viona semakin kesal.

Arka akhirnya menghubungi beberapa teman.

Satu orang tidak mengangkat.

Satu orang menjawab tetapi mengaku tidak punya uang sebanyak itu.

Teman terakhir menawarkan lima juta, itu pun baru bisa ditransfer besok pagi.

Arka meletakkan ponselnya.

Wajahnya kosong.

Ibu Dahlia mulai panik.

“Kalau pakai dua kartu kredit digabung bisa nggak?”

“Bisa, Ma. Tapi total limit yang tersisa tetap nggak cukup.”

“Kamu ini kerja bertahun-tahun ke mana saja uangmu?”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Arka menoleh perlahan.

“Mama serius nanya?”

Ibu Dahlia langsung terdiam.

Arka tertawa kecil, tetapi tidak ada sedikit pun rasa lucu di dalamnya.

“Sebagian buat cicilan mobil Mama. Sebagian buat gelang Mama. Bulan lalu buat renovasi kamar tamu karena Mama bilang teman arisan mau datang. Minggu kemarin Mama minta lima juta buat acara ulang tahun Tante Mirna. Belum kebutuhan rumah.”

“Arka!”

Wajah Ibu Dahlia memerah.

“Jangan hitung-hitungan sama orang tua!”

“Saya bukan hitung-hitungan, Ma. Mama tadi yang tanya uang saya ke mana.”

Nora menatap suaminya.

Ia tidak menyangka Arka akhirnya mengatakannya.

Namun sebelum percakapan itu berkembang, pintu terbuka.

Pelayan kembali masuk bersama seorang pria berkemeja hitam yang tampaknya manajer restoran.

“Mohon maaf mengganggu. Apakah ada kendala dengan pembayaran?”

Viona langsung memasang senyum.

“Nggak, kok. Kartu saya kebetulan ketinggalan. Kami sedang atur transfer.”

Manajer itu mengangguk sopan.

“Tentu, Ibu. Kami bisa menunggu. Namun karena restoran akan segera tutup, mungkin pembayaran dapat diselesaikan dalam dua puluh menit ke depan.”

Begitu mereka keluar, Viona mulai menggigit kuku.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Matanya langsung berbinar.

“Mas Gibran!”

Ia mengangkat telepon dan sengaja mengaktifkan speaker.

“Mas, kamu di mana? Aku lagi di Haruki sama Mama, Mas Arka, dan Mbak Nora. Dompet aku ketinggalan. Tolong transfer dua puluh juta sekarang, ya.”

Suara laki-laki di seberang terdengar terkejut.

“Dua puluh juta?”

“Iya. Cepat, Mas.”

“Buat apa?”

“Bayar makan.”

Hening beberapa detik.

Lalu suara Gibran berubah.

“Viona, kamu bercanda?”

Viona terlihat tidak nyaman.

“Ya nggak lah. Tadi kamu sendiri bilang aku boleh ajak keluarga makan.”

“Aku bilang ajak makan. Aku transfer tiga juta.”

Semua orang langsung menoleh kepada Viona.

Wajahnya kehilangan warna.

“Mas…”

“Aku transfer tiga juta buat makan keluarga. Kok bisa tagihannya hampir dua puluh juta?”

“Ya karena tadi ada tambahan.”

“Tambahan apa sampai segitu?”

Viona menurunkan volume, tetapi terlambat.

Semua sudah mendengar.

“Mas, jangan bahas sekarang. Transfer dulu.”

“Aku nggak punya uangnya.”

Kali ini Ibu Dahlia benar-benar membeku.

Viona tertawa kecil.

“Mas, jangan becanda.”

“Aku serius.”

“Bonus proyek kamu?”

“Bonus apa?”

Viona cepat-cepat mematikan speaker.

Namun Arka sudah berdiri.

“Jangan dimatikan.”

“Mas Arka, ini urusan rumah tangga Viona.”

“Tadi urusan rumah tanggamu jadi urusan saya ketika kamu minta saya bayar.”

Viona tidak bisa menjawab.

Dari ponsel masih terdengar suara Gibran.

“Vi, aku sudah bilang sejak dua bulan lalu kondisi kantor lagi susah. Proyek belum cair. Uang tiga juta tadi juga dari limit kartu.”

Ibu Dahlia menutup mulut.

“Tapi kamu bilang dapat bonus…”

“Bonus apa? Aku nggak pernah bilang begitu.”

Viona langsung mematikan telepon.

Sunyi.

Bahkan suara pendingin ruangan terdengar jelas.

Arka menatap adik iparnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Jadi kamu bohong?”

Viona membuang muka.

“Aku cuma nggak mau Mama khawatir.”

“Nggak mau Mama khawatir, atau mau terlihat kaya?”

Pertanyaan itu keluar dari mulut Nora.

Semua kepala langsung menoleh kepadanya.

Viona mendengus.

“Mbak Nora nggak usah ikut campur. Paling juga dari tadi senang lihat orang susah.”

Nora menaruh cangkir.

“Kalau dari awal kamu bilang budgetnya tiga juta, kita bisa makan sesuai kemampuan. Yang pesan Kobe beef, otoro, uni premium, dan sake siapa?”

Viona diam.

“Yang bilang semua ditraktir siapa?”

Tidak ada jawaban.

“Yang sekarang minta orang yang cuma punya saldo enam ratus ribu menanggung semuanya siapa?”

Arka menunduk.

Kalimat terakhir Nora seperti tamparan.

Bukan untuk Viona.

Untuk dirinya.

Ia teringat pagi tadi.

Ketika Nora bilang uang belanja sudah habis karena sebagian ia ambil.

Ketika ibunya memaksa memperbaiki AC demi Viona.

Ketika ia, tanpa berpikir panjang, mengambil pinjaman online.

Semua demi menjaga gengsi orang lain.

Nora berdiri.

“Aku ke toilet sebentar.”

Ia membawa tas kanvasnya.

Di lorong, Nora tidak menuju toilet.

Ia berhenti di dekat kasir.

Manajer restoran mengenalinya.

Bukan sebagai Nora, istri Arka.

Melainkan sebagai pemilik perusahaan yang beberapa kali mengadakan private dinner dengan klien di restoran itu.

Ekspresi pria tersebut langsung berubah.

“Bu Nora?”

Nora mengangkat telunjuk ke bibir.

“Tolong jangan panggil saya begitu keras.”

“Maaf.”

Nora mengeluarkan Black Card dari dompet.

“Tagihan meja privat tadi saya lunasi.”

Manajer itu menerimanya.

“Baik.”

“Tapi saya punya satu permintaan.”

Beberapa menit kemudian Nora kembali ke ruangan.

Suasana masih panas.

Arka sedang memandangi layar aplikasi pinjaman.

“Mas mau ambil pinjaman lagi?” tanya Nora.

Arka tidak menjawab.

“Mau utang berapa tahun untuk satu makan malam?”

Arka mengembuskan napas kasar.

“Terus harus gimana? Kita nggak bisa keluar sebelum bayar.”

“Bisa.”

Semua menoleh.

Pintu terbuka.

Manajer restoran masuk membawa map tagihan.

“Pembayaran sudah diselesaikan.”

Wajah Ibu Dahlia langsung berseri.

“Sudah?”

“Iya, Ibu.”

Viona tampak bingung.

“Mas Gibran transfer?”

“Bukan.”

Manajer itu meletakkan sebuah struk di meja.

“Tagihan dibayar oleh Ibu Nora.”

Udara seperti berhenti.

Arka berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

“Apa?”

Ibu Dahlia menatap Nora.

“Kamu?”

Viona langsung mengambil struk.

Matanya membesar ketika membaca bagian pembayaran.

“Black Card?”

Nora menarik kursinya perlahan.

Untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya tidak lagi polos.

Arka menatap istrinya seperti sedang melihat orang asing.

“Nora… kamu dapat kartu itu dari mana?”

“Punya saya.”

“Mana mungkin?”

“Kenapa nggak mungkin?”

“Kamu…”

Arka kehilangan kata-kata.

Ibu Dahlia yang paling cepat bereaksi.

“Kamu selama ini punya uang?”

Nora menatapnya.

“Punya.”

“Berapa?”

Nora tertawa kecil.

“Kenapa Mama perlu tahu?”

Wajah Ibu Dahlia memerah.

“Kalau kamu punya uang sebanyak itu, kenapa kamu biarkan Arka pinjam online buat memperbaiki AC?”

Pertanyaan itu justru membuat Nora tersenyum.

“Karena yang ingin memperbaiki AC secepat mungkin demi gengsi bukan saya.”

“Tapi kamu istrinya!”

“Dan saya sudah bertahun-tahun jadi istrinya.”

Suara Nora tetap tenang.

“Itu sebabnya saya tahu persis apa yang terjadi kalau setiap masalah selalu saya selesaikan dengan uang.”

Arka menatapnya.

“Nora, sebenarnya kamu siapa?”

Nora mengambil ponselnya.

Ia membuka sebuah akun media sosial.

Akun itu memiliki lebih dari enam juta pengikut.

Nama pemiliknya tidak mencantumkan identitas asli.

Wajah kreatornya hampir tidak pernah terlihat.

Namun tangannya, apartemennya, dapurnya, dan gaya kontennya sangat dikenal.

Nora menggeser layar dan menunjukkan video terbaru yang baru tayang satu jam lalu.

Video sebuah kulkas pintar seharga hampir seratus lima puluh juta rupiah.

Di bagian bawah, jumlah penonton sudah melewati delapan ratus ribu.

Viona menatap layar itu.

“Mbak…”

Nora membuka halaman lain.

Sebuah situs perusahaan media digital.

Di sana terpampang nama direktur utama.

Nora Adhisty Pramana.

Arka menjatuhkan tubuh kembali ke kursi.

“Kamu punya perusahaan?”

Nora mengangguk.

“Sejak sebelum kita menikah.”

“Kenapa kamu sembunyikan?”

“Karena sebelum menikah kamu pernah bilang satu hal.”

Arka mengerutkan kening.

Nora menatapnya lurus.

“Kamu bilang kamu ingin menikah dengan perempuan yang bisa tumbuh bersama kamu, bukan perempuan kaya yang membuatmu merasa kecil.”

Arka membeku.

Ia ingat.

Kalimat itu pernah ia ucapkan enam tahun lalu.

Waktu itu ia bahkan bercanda bahwa dirinya tidak akan sanggup hidup dengan istri yang penghasilannya berkali-kali lipat lebih besar.

Nora melanjutkan.

“Awalnya saya menyembunyikannya karena ingin menjaga harga dirimu.”

Suaranya perlahan berubah.

“Setelah menikah, saya menyembunyikannya karena ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Kalau suatu hari saya terlihat tidak punya apa-apa, keluarga ini akan memperlakukan saya seperti apa?”

Tak ada yang menjawab.

Nora menoleh kepada Ibu Dahlia.

“Saya sudah dapat jawabannya.”

Wajah wanita itu pucat.

“Nora, Mama selama ini cuma…”

“Cuma apa?”

Ibu Dahlia tidak mampu melanjutkan.

Nora lalu menatap Viona.

“Dan kamu juga sudah membantu memberi jawaban.”

Viona tertunduk.

Arka mengusap wajah.

“Kenapa kamu tetap bertahan selama ini?”

Pertanyaan itu terdengar nyaris seperti bisikan.

Nora terdiam cukup lama.

“Karena saya menunggu kamu berubah.”

Tatapan mereka bertemu.

“Saya berharap suatu hari kamu akan membela saya ketika Mama merendahkan saya. Saya berharap suatu hari kamu berani bilang tidak ketika uang rumah tangga dipakai untuk memenuhi gengsi keluarga. Saya berharap kamu sadar bahwa menjadi anak berbakti tidak berarti menghancurkan hidup sendiri.”

Mata Arka memerah.

“Tapi saya menunggu terlalu lama.”

Nora mengambil tasnya.

Arka langsung panik.

“Kamu mau ke mana?”

“Pulang.”

“Ke rumah?”

Nora tersenyum tipis.

“Ke rumah saya.”

Kalimat itu terasa lebih menakutkan daripada bentakan.

Arka berdiri.

“Nora, kita bicara dulu.”

“Kita akan bicara.”

Nora memandangnya tenang.

“Tapi bukan malam ini.”

Ia kemudian mengeluarkan satu lembar kertas dari tas.

Arka menerimanya.

Itu bukan surat cerai.

Melainkan daftar seluruh pengeluaran rumah tangga selama tiga tahun terakhir.

Di samping setiap angka, Nora sudah mencatat asal uangnya.

Gaji Arka.

Uang Nora.

Cicilan Ibu Dahlia.

Transfer untuk keluarga.

Utang kartu kredit.

Pinjaman.

Angkanya membuat tangan Arka gemetar.

Di halaman terakhir ada satu angka yang dilingkari.

Rp327.500.000.

“Ini apa?”

“Total uang yang selama tiga tahun kamu keluarkan hanya untuk memenuhi permintaan Mama di luar kebutuhan pokok.”

Ibu Dahlia langsung pucat.

Arka tidak bergerak.

“Kalau kamu mau menyelamatkan pernikahan kita, selesaikan dulu masalahmu sendiri.”

Nora berjalan menuju pintu.

“Nora.”

Arka memanggilnya.

Ia berhenti.

“Terima kasih sudah bayar makan malam ini.”

Nora menoleh.

“Saya tidak membayarnya untuk menyelamatkan gengsi kalian.”

“Lalu?”

“Saya membayarnya karena saya ingin membeli satu pelajaran terakhir.”

Arka menatapnya bingung.

Nora tersenyum tipis.

“Dan ternyata pelajaran delapan belas juta rupiah jauh lebih murah daripada tiga tahun kehidupan saya.”

Malam itu Nora pergi sendirian.

Ia tidak kembali ke rumah Arka.

Tiga hari kemudian, Arka membatalkan cicilan gelang berlian ibunya dan menjual mobil kedua keluarga untuk melunasi seluruh pinjaman konsumtif.

Seminggu kemudian ia pindah dari rumah Ibu Dahlia dan menyewa apartemen kecil dekat kantornya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia belajar mengatakan tidak.

Viona sendiri menghilang dari media sosial hampir sebulan setelah beberapa teman mengetahui bahwa makan malam omakase yang ia pamerkan ternyata dibayar oleh kakak ipar yang selama ini ia ejek miskin.

Namun kejutan terbesar baru datang dua bulan kemudian.

Arka datang menemui Nora di The Azure Residence.

Bukan membawa bunga.

Bukan membawa hadiah.

Ia hanya membawa buku catatan.

Di dalamnya terdapat rincian semua utang yang sudah ia lunasi, pengeluaran bulanannya, rencana keuangan, dan satu kalimat di halaman terakhir.

Aku tidak datang untuk meminta kamu kembali karena kamu kaya. Aku datang karena akhirnya aku sadar, selama ini yang miskin bukan rekeningku, tetapi keberanianku.

Nora membaca kalimat itu lama.

Ia tidak langsung memaafkan.

Ia juga tidak langsung menerima Arka kembali.

Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia melihat sesuatu yang berbeda pada suaminya.

Bukan ketakutan.

Bukan gengsi.

Melainkan tanggung jawab.

Nora menutup buku itu.

“Kopi?”

Arka mengangkat kepala.

Hanya satu kata sederhana.

Namun matanya langsung memerah.

“Boleh.”

Nora berjalan ke dapur.

Arka mengikuti dari belakang dan mendadak berhenti ketika melihat kulkas pintar besar berwarna hitam.

Ia mengenalinya dari video viral yang sudah ditonton jutaan orang.

“Ini kulkas yang waktu itu?”

Nora mengangguk sambil mengambil dua botol air.

Arka tertawa kecil.

“Berapa harganya?”

“Hampir seratus lima puluh juta.”

Arka menelan ludah.

“Dan kamu dibayar tiga ratus juta buat promosiin ini?”

“Iya.”

Arka terdiam beberapa detik.

Kemudian ia ikut tertawa.

Bukan karena iri.

Bukan karena malu.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mampu menertawakan dirinya sendiri.

“Pagi itu aku utang dua setengah juta buat AC.”

Nora mengangkat alis.

“Saya tahu.”

“Kamu pasti dalam hati ngetawain aku.”

“Sedikit.”

“Sedikit?”

“Lumayan banyak.”

Mereka tertawa.

Belum berarti semuanya kembali seperti dulu.

Belum berarti luka bertahun-tahun hilang begitu saja.

Tetapi Nora tahu satu hal.

Ada manusia yang hanya berubah setelah kehilangan kenyamanan.

Ada pula yang baru membuka mata setelah gengsinya dihancurkan di depan kenyataan.

Dan terkadang, kita tidak perlu membalas orang yang meremehkan kita dengan menunjukkan seberapa kaya, kuat, atau sukses diri kita.

Cukup mundur.

Biarkan mereka berhadapan dengan akibat dari pilihan mereka sendiri.

Sebab harga diri tidak pernah dibangun dari tas mahal, restoran mewah, kartu kredit, atau foto yang dipamerkan kepada orang lain.

Harga diri lahir ketika seseorang berani hidup sesuai kemampuan, bertanggung jawab atas pilihannya, dan berhenti mengorbankan orang yang mencintainya hanya demi terlihat hebat di mata dunia.

Dan bagi Nora, malam dengan tagihan tujuh belas juta delapan ratus ribu itu bukanlah malam ketika rahasianya terbongkar.

Itulah malam ketika seluruh keluarga akhirnya dipaksa melihat siapa diri mereka sebenarnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang