Jam tiga pagi aku kabur dari hotel seperti orang gila. Bagaimana tidak? Saat terbangun, aku mendapati sahabat Ayah berada di sampingku, dan keadaan kami saat itu benar-benar membuat kepalaku kosong.

Kaniya tidak langsung menjawab.

Namun, diamnya justru membuat seluruh tubuhku terasa dingin.

Aku berdiri beberapa langkah di depannya, sementara suara pendingin ruangan terdengar terlalu jelas di tengah keheningan kamar.

“Kaniya,” panggilku sekali lagi. “Apa kehamilan kamu ada hubungannya dengan malam itu?”

Bibirnya bergetar.

Lalu dia tertawa kecil.

Bukan tawa geli.

Lebih seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan tangis sampai tidak tahu lagi bagaimana cara mengeluarkannya.

“Om benar-benar nggak ingat?”

Pertanyaan itu menghantam dadaku.

Aku menelan ludah.

“Ada beberapa bagian yang Om ingat. Tapi semuanya berantakan.”

“Bagus.”

“Apa maksudmu?”

“Bagus kalau Om nggak ingat.” Kaniya mengusap sudut matanya kasar. “Setidaknya cuma aku yang harus hidup dengan ingatan itu.”

Aku mendekatinya.

“Kaniya, jelaskan.”

“Nggak ada yang perlu dijelaskan.”

“Ada.”

“Nggak ada!”

Suaranya pecah.

Aku berhenti.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat Kaniya bukan sebagai gadis keras kepala yang selalu membalas perkataanku dengan sindiran. Di depanku berdiri seorang perempuan muda yang ketakutan, sendirian, dan memikul sesuatu yang terlalu berat.

“Kalau bayi itu memang anak Om, Om harus tahu.”

Kaniya menatapku lama.

Kemudian, dengan suara hampir seperti bisikan, dia berkata, “Iya.”

Aku merasa lantai di bawah kakiku lenyap.

“Apa?”

“Bayi ini anak Om.”

Aku mundur satu langkah.

Jantungku berdetak begitu keras sampai telingaku berdenging.

“Nggak mungkin.”

Kaniya tersenyum getir.

“Nah. Akhirnya keluar juga.”

“Bukan begitu maksud Om.”

“Terus apa?”

Aku mengusap wajah dengan kedua tangan.

Ingatan tentang malam itu kembali datang dalam potongan-potongan pendek.

Pesta.

Gelas minuman.

Kepalaku yang terasa berat.

Kaniya membawaku menuju kamar karena aku nyaris tidak bisa berdiri.

Lalu aku terbangun keesokan paginya dengan keadaan kacau.

Ada Kaniya di sana.

Aku panik.

Dia menangis.

Dan aku mengatakan sesuatu tentang tanggung jawab.

Setelah itu, kami tidak pernah benar-benar membicarakannya lagi.

Sampai sekarang.

“Kita harus bicara baik-baik.”

Kaniya tertawa.

“Baru sekarang?”

“Om nggak tahu kamu hamil.”

“Aku juga nggak tahu awalnya.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Untuk apa?”

“Karena Om berhak tahu!”

“Berhak?”

Kaniya menatapku tajam.

“Om bahkan punya Jennifer.”

Aku terdiam.

“Om datang ke sini sama pacar Om. Kalian jalan bareng, makan bareng, ketawa bareng. Terus aku harus datang dan bilang apa? Selamat malam, Om Arkan. Ngomong-ngomong, aku hamil anak Om?”

Aku tidak mampu menjawab.

Kaniya menggeleng.

“Aku sudah memutuskan akan menyelesaikan masalah ini sendiri.”

“Dengan minum alkohol?”

Dia terdiam.

“Itu bukan menyelesaikan masalah.”

“Terus aku harus bagaimana?”

“Kita cari dokter.”

“Aku nggak butuh dokter.”

“Kamu butuh pemeriksaan.”

“Aku butuh hidupku kembali!”

Teriakannya membuatku membeku.

Air matanya akhirnya jatuh.

“Aku baru mulai membangun hidupku, Om. Aku punya pekerjaan. Aku punya rencana. Aku punya banyak hal yang ingin kulakukan. Sekarang semuanya berantakan karena satu malam yang bahkan Om sendiri nggak ingat.”

Aku menundukkan kepala.

Rasa bersalah menekan dadaku.

“Om akan bertanggung jawab.”

Kaniya tertawa pahit.

“Kalimat itu lagi.”

“Kali ini Om serius.”

“Om mau apa? Menikahi aku?”

Aku tidak menjawab.

“Putusin Jennifer, lalu menikah denganku karena merasa bersalah?”

“Kaniya…”

“Jawab.”

Aku menarik napas panjang.

“Kalau memang itu yang diperlukan.”

Plak!

Tamparannya mendarat di pipiku.

Aku tidak bergerak.

Kaniya menatapku dengan mata merah.

“Jangan pernah menikahi perempuan karena kasihan.”

Aku mengepalkan tangan.

“Om bukan kasihan.”

“Terus apa? Cinta?”

Aku kembali diam.

Kaniya tersenyum tipis.

“Nah.”

Dia berjalan menuju tempat tidur lalu duduk sambil menutupi wajahnya.

“Aku nggak mau menghancurkan hidup Om. Aku juga nggak mau menghancurkan hidup Jennifer.”

Aku ikut duduk di kursi seberangnya.

“Jennifer bukan persoalan yang harus kamu pikirkan.”

“Dia akan tahu.”

“Om yang akan bicara.”

Kaniya mendongak cepat.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Karena belum tentu semuanya seperti yang kita pikir.”

Aku mengernyit.

“Maksudmu?”

Kaniya mengusap air matanya.

“Aku belum pernah periksa ke dokter kandungan.”

“Apa?”

“Aku cuma pakai test pack. Beberapa kali. Semuanya positif.”

“Berarti besok kita periksa.”

“Nggak.”

“Kaniya.”

“Aku takut.”

Dua kata itu akhirnya meruntuhkan seluruh pertahanannya.

Aku mendekat, tetapi tidak menyentuhnya.

“Om temani.”

Kaniya menatapku.

Untuk pertama kalinya sejak kami bertengkar, tidak ada kemarahan di wajahnya.

Hanya ketakutan.

“Kalau benar anak Om gimana?”

Aku menarik napas.

“Om akan menghadapi semuanya.”

“Termasuk Ayah?”

Aku langsung terdiam.

Ayah Kaniya.

Sahabatku sendiri sejak kami masih kuliah.

Bayangan wajahnya membuat perutku terasa mual.

Aku bahkan tidak sanggup membayangkan bagaimana aku harus berdiri di hadapannya.

“Termasuk ayahmu.”

Kaniya menunduk.

“Ayah bakal bunuh Om.”

“Mungkin.”

Entah bagaimana, Kaniya terkekeh kecil di tengah tangisnya.

“Masih bisa bercanda?”

“Daripada aku gila.”

Malam itu aku tidak meninggalkan kamarnya.

Aku tidur di sofa, sedangkan Kaniya di tempat tidur. Kartu akses tetap kusimpan karena aku takut dia melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya.

Pagi-pagi sekali, kami pergi ke sebuah rumah sakit tanpa memberi tahu rombongan lain.

Jennifer sempat menelepon beberapa kali.

Aku tidak mengangkatnya.

Setelah pemeriksaan awal, dokter memastikan satu hal.

Kaniya memang hamil.

Usia kandungannya sekitar delapan minggu.

Aku menghitung mundur tanggalnya.

Tanganku langsung dingin.

Waktunya cocok.

Kaniya yang duduk di sampingku memejamkan mata.

Sepanjang perjalanan kembali ke hotel, kami hampir tidak bicara.

Namun, begitu memasuki lobi, seseorang sudah berdiri menunggu.

Jennifer.

“Kalian dari mana?”

Aku berhenti.

Kaniya juga.

Jennifer memandang kami bergantian sebelum tatapannya jatuh pada amplop hasil pemeriksaan yang dipegang Kaniya.

Wajahnya berubah.

“Itu dari rumah sakit?”

Kaniya buru-buru menyembunyikannya.

“Jen, kita bicara nanti,” kataku.

“Nanti kapan?”

“Jennifer.”

“Kenapa kamu pergi pagi-pagi sama dia tanpa bilang aku?”

Beberapa tamu mulai memperhatikan.

Aku menurunkan suara.

“Jangan di sini.”

Jennifer menatap Kaniya.

“Kamu sakit?”

“Nggak.”

“Terus kenapa ke rumah sakit?”

Kaniya menggigit bibir.

Aku hendak menjawab, tetapi tiba-tiba suara seseorang terdengar dari belakang.

“Kaniya?”

Darahku serasa berhenti mengalir.

Aku mengenali suara itu.

Ayah Kaniya.

Rupanya dia datang lebih cepat dari rencana setelah penerbangannya semalam dipindahkan.

Dia berjalan menghampiri kami sambil tersenyum.

Namun senyumnya menghilang ketika melihat wajah putrinya.

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa, Yah.”

“Ayah telepon dari tadi nggak diangkat.”

“HP Kaniya silent.”

Matanya beralih kepadaku.

“Kan, kalian dari mana?”

Aku membuka mulut.

Tidak ada suara keluar.

Jennifer berdiri di sampingku dengan wajah penuh kecurigaan.

Kaniya terlihat pucat.

Aku sadar tidak ada jalan untuk terus bersembunyi.

“Bro, gue perlu bicara sama lo.”

Ayah Kaniya mengernyit.

“Soal apa?”

“Berdua.”

“Nggak perlu.”

Kaniya tiba-tiba menyela.

Kami semua menatapnya.

Dia menggenggam amplop itu erat-erat.

“Aku yang ngomong.”

“Kaniya,” cegahku.

Dia menggeleng.

“Aku capek sembunyi.”

Ayahnya mulai terlihat cemas.

“Sebetulnya ada apa?”

Kaniya menarik napas.

“Aku hamil.”

Keheningan yang muncul setelah itu terasa mengerikan.

Wajah ayahnya kosong.

Jennifer menutup mulut.

“Apa?”

“Aku hamil, Yah.”

Ayah Kaniya menatap putrinya seolah berharap dia sedang bercanda.

“Siapa?”

Kaniya tidak menjawab.

“Siapa laki-lakinya?”

Tangannya mulai gemetar.

Aku melangkah maju.

“Gue.”

Ayah Kaniya perlahan menoleh kepadaku.

Wajahnya berubah dalam hitungan detik.

“Apa?”

“Gue yang bertanggung jawab.”

Sebuah pukulan keras menghantam rahangku.

Aku jatuh ke lantai lobi.

Teriakan terdengar dari beberapa orang.

“AYAH!”

Kaniya berusaha menahan ayahnya.

“Brengsek!”

Dia hendak menyerang lagi, tetapi petugas hotel buru-buru datang.

Jennifer berdiri mematung.

Air mata mengalir di pipinya.

Aku bangkit perlahan sambil memegangi rahang.

“Jen…”

“Jangan.”

Satu kata itu terasa lebih menyakitkan daripada pukulan tadi.

Jennifer menatapku dengan rasa jijik dan kecewa.

“Kita selesai.”

Dia berbalik dan pergi.

Aku ingin mengejarnya.

Namun aku tidak bergerak.

Aku tahu aku tidak berhak menghentikannya.

Hari itu menjadi hari terpanjang dalam hidupku.

Kami pulang ke Jakarta secara terpisah.

Jennifer memblokir semua nomorku.

Ayah Kaniya tidak mau berbicara denganku.

Sedangkan Kaniya pulang bersama keluarganya.

Selama hampir dua minggu, aku hanya menerima kabar tentang kondisinya melalui ibunya.

Sampai suatu malam Kaniya menelepon.

“Om.”

Aku langsung berdiri dari sofa.

“Kamu gimana?”

“Aku baik.”

“Sudah makan?”

“Sudah.”

“Hasil pemeriksaan berikutnya kapan?”

Dia diam cukup lama.

“Besok.”

“Om antar.”

“Nggak perlu.”

“Kaniya.”

“Ayah sudah mau antar.”

Aku terdiam.

Setidaknya ayahnya mulai menerima keadaan.

Namun sebelum menutup telepon, Kaniya mengatakan sesuatu.

“Om, aku mau tes DNA prenatal.”

Aku tercekat.

“Kamu yakin?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena aku nggak mau kita menjalani seluruh hidup berdasarkan ingatan yang nggak jelas.”

Kalimat itu masuk akal.

Aku setuju.

Beberapa minggu kemudian, pemeriksaan dilakukan dengan prosedur medis yang direkomendasikan dokter.

Menunggu hasilnya terasa seperti menunggu vonis.

Selama masa itu aku mulai mengingat lebih banyak tentang malam kejadian.

Semakin banyak yang kuingat, semakin ada sesuatu yang terasa tidak cocok.

Aku ingat Kaniya membawaku ke kamar.

Aku ingat muntah di kamar mandi.

Aku ingat dia memberiku air.

Aku ingat tertidur.

Lalu?

Kosong.

Hari hasil tes tiba.

Aku datang ke klinik bersama Kaniya dan ayahnya.

Ayah Kaniya masih tidak banyak bicara kepadaku.

Dokter membuka hasil pemeriksaan.

“Kami sudah mendapatkan hasil analisisnya.”

Tanganku dingin.

Kaniya menggenggam ujung bajunya.

Dokter menatap kami.

“Hasilnya menunjukkan bahwa Pak Arkan bukan ayah biologis dari janin.”

Aku membeku.

“Apa?”

Kaniya menatap dokter tidak percaya.

“Nggak mungkin.”

Ayahnya juga terdiam.

Aku bahkan tidak tahu apakah harus lega atau justru semakin takut.

“Dok, bisa salah?”

“Analisis dilakukan sesuai prosedur dan tingkat akurasinya sangat tinggi.”

Kaniya mendadak pucat.

Aku menoleh kepadanya.

“Kaniya.”

Dia seperti kehilangan kemampuan bicara.

Kemudian bibirnya bergetar.

“Kalau bukan Om…”

Kalimatnya terputus.

Aku merasakan sesuatu yang jauh lebih buruk sedang menunggu kami.

“Kaniya, malam itu sebelum kamu datang ke kamar Om, kamu sama siapa?”

Dia memejamkan mata.

“Aku…”

Tiba-tiba ayahnya berdiri.

“Kaniya?”

Wajah Kaniya kehilangan warna.

“Aku nggak ingat semuanya.”

Dadaku terasa sesak.

“Apa maksudmu?”

“Aku juga minum malam itu.”

Dia menekan kedua pelipisnya.

“Aku cuma ingat seseorang mengantarku dari lounge ke lift sebelum aku menemukan Om.”

“Siapa?”

“Nggak tahu.”

Ayahnya langsung meminta pihak hotel memeriksa rekaman keamanan malam tersebut.

Kami kembali ke hotel dua hari kemudian setelah proses koordinasi selesai.

Rekaman lama ternyata masih tersimpan.

Di layar ruang keamanan, kami melihat Kaniya berjalan sempoyongan meninggalkan lounge.

Seorang laki-laki mengikutinya.

Aku mendekat ke monitor.

Tubuhku langsung kaku.

Aku mengenali laki-laki itu.

Bukan orang asing.

Dia salah satu orang dalam rombongan kami malam itu.

Seseorang yang selama ini bahkan tidak pernah kami curigai.

Dan ketika wajahnya terlihat jelas di kamera, ayah Kaniya berdiri begitu cepat sampai kursinya terjatuh.

“Dia?”

Kaniya menutup mulut.

Aku mengepalkan tangan.

Laki-laki dalam rekaman itu adalah Rendy, sepupu Jennifer.

Rekaman berikutnya memperlihatkan Rendy memasuki lantai tempat kamar Kaniya berada.

Sekitar satu jam kemudian, dia keluar sendirian.

Barulah setelah itu Kaniya terlihat berjalan menuju kamarku.

Semua potongan akhirnya tersusun.

Malam yang selama ini kukira telah menghancurkan hidup Kaniya ternyata menyimpan kenyataan yang jauh lebih gelap.

Kaniya menangis hebat.

Aku tidak mengatakan apa pun.

Aku hanya duduk di sampingnya sementara ayahnya menghubungi pengacara dan bersiap membawa semua bukti kepada pihak berwenang.

Beberapa bulan berikutnya tidak mudah.

Ada pemeriksaan.

Ada pertanyaan yang harus diulang berkali-kali.

Ada keluarga yang pecah.

Ada orang-orang yang mencoba menyangkal.

Namun Kaniya tidak lagi sendirian.

Dan aku akhirnya mengerti bahwa tanggung jawab tidak selalu berarti menikahi seseorang atau mengakui sesuatu yang bahkan belum diketahui kebenarannya.

Kadang tanggung jawab berarti tetap tinggal ketika seseorang membutuhkan dukungan, sekalipun kenyataan akhirnya membuktikan bahwa kita tidak memiliki kewajiban biologis apa pun.

Kaniya memilih mempertahankan kehamilannya setelah melalui konsultasi panjang dan dukungan keluarganya.

Aku menghormati keputusannya.

Hubunganku dengan Jennifer tidak pernah kembali seperti dulu. Beberapa bulan kemudian dia menghubungiku untuk meminta maaf atas apa yang dilakukan keluarganya, tetapi kami sama-sama tahu bahwa hubungan kami sudah selesai.

Suatu sore, setelah semuanya mulai lebih tenang, aku menemani Kaniya kontrol.

Kami duduk di depan ruang dokter.

Perutnya sudah mulai terlihat.

“Om.”

“Hm?”

“Om nyesel nggak?”

“Nyesel apa?”

“Ikut campur malam itu.”

Aku menatapnya.

“Kalau malam itu Om membiarkan kamu pergi dengan botol itu, mungkin sampai sekarang kita nggak pernah tahu kebenarannya.”

Kaniya terdiam.

Aku tersenyum tipis.

“Jadi nggak.”

Dia mengusap perutnya.

“Aku dulu pikir hidupku selesai.”

“Terus sekarang?”

Kaniya menatap lurus ke depan.

“Sekarang aku cuma merasa hidupku berubah.”

Aku mengangguk.

“Itu dua hal yang berbeda.”

Dia tersenyum kecil.

Kemudian pintu ruang pemeriksaan terbuka dan namanya dipanggil.

Kaniya berdiri.

Sebelum masuk, dia menoleh kepadaku.

“Om Arkan.”

“Ya?”

“Terima kasih sudah percaya sama aku.”

Aku tersenyum.

“Harusnya dari awal.”

Kaniya masuk ke ruang dokter.

Aku tetap duduk di luar sambil memandangi koridor rumah sakit yang terang.

Dulu aku mengira malam di hotel itu adalah sebuah kesalahan yang harus kutebus.

Ternyata aku keliru.

Yang paling berbahaya bukanlah kesalahan.

Melainkan keyakinan terhadap sesuatu yang belum pernah benar-benar kita pastikan.

Kalau saja Kaniya terus diam, kalau saja aku memilih lari dari tanggung jawab, atau kalau saja kami menerima dugaan sebagai kebenaran, rahasia malam itu mungkin akan terkubur selamanya.

Dan seseorang yang seharusnya bertanggung jawab akan tetap berjalan bebas seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Pintu ruang dokter kembali terbuka.

“Om!” panggil Kaniya.

Aku menoleh.

Wajahnya kali ini tersenyum lebar.

“Kenapa?”

“Dokter bilang bayinya sehat.”

Aku berdiri dan berjalan menghampirinya.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, kabar tentang bayi itu tidak terasa seperti ancaman, rahasia, ataupun hukuman.

Ia hanya terdengar seperti satu hal sederhana.

Sebuah kehidupan yang sama sekali tidak bersalah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang