Aku menatap koper di samping kakiku, lalu kembali menatap Pak Rayden.
Entah kenapa, kalimatnya terasa seperti tamparan yang akhirnya membangunkanku dari tidur panjang.
Selama bertahun-tahun aku selalu menunggu seseorang dari keluargaku berbalik dan berkata bahwa mereka sebenarnya menyayangiku. Aku menunggu Ayah membelaku. Menunggu Kak Dimas berhenti memperlakukanku seperti beban. Menunggu Syifa suatu hari menyadari bahwa tidak semua hal di dunia harus menjadi miliknya.
Namun semakin lama aku menunggu, semakin banyak bagian dari diriku yang hancur.
Aku mengembuskan napas perlahan.
“Aku ikut Bapak.”
Pak Rayden mengangkat satu alis.
“Yakin?”
Aku mengangguk.
“Kali ini aku ingin memilih hidupku sendiri.”
Untuk pertama kalinya sejak tadi, tatapan dinginnya sedikit melunak.
“Kalau begitu, jangan panggil saya Bapak terus.”
Aku menatapnya bingung.
“Lalu?”
“Rayden.”
Wajahku mendadak terasa panas.
“Baik, Pak Rayden.”
Ia menghela napas pendek.
Aku hampir tertawa.
Beberapa menit kemudian, kami sudah berada di dalam sebuah mobil hitam yang sejak tadi terparkir di depan kafe. Aku sempat terpaku ketika sopir berseragam membukakan pintu untuk kami.
Aku menoleh kepada Rayden.
“Ini mobilmu?”
“Bukan.”
Aku lega.
“Punya perusahaan.”
Kelegaanku langsung menguap.
Sepanjang perjalanan, aku duduk kaku sambil memeluk tas di pangkuan. Jakarta sore itu dipenuhi kendaraan. Lampu-lampu pertokoan mulai menyala, sementara langit berubah jingga keabu-abuan.
Rayden sibuk membaca beberapa pesan di ponselnya.
Aku justru semakin gugup.
“Rayden.”
“Hm?”
“Oma kamu tahu soal rencana ini?”
“Belum.”
Aku membelalak.
“Apa?”
Rayden tetap tenang.
“Kalau sudah tahu, buat apa kita datang untuk memberitahunya?”
Aku menahan napas panjang.
“Bagaimana kalau beliau menolak?”
“Dia pasti menolak.”
Aku menoleh tajam.
“Lalu kenapa kita tetap pergi?”
“Karena bukan izin yang saya butuhkan.”
Jawaban itu membuatku semakin tidak tenang.
“Terus apa?”
Rayden mematikan layar ponselnya.
“Saya hanya ingin dia melihat langsung perempuan yang saya pilih.”
Aku tercekat.
Cara dia mengucapkannya begitu datar, tetapi justru itu yang membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Mobil akhirnya memasuki sebuah kawasan elite di Jakarta Selatan.
Semakin jauh kendaraan melaju, semakin kecil aku merasa.
Rumah-rumah di sana tidak terlihat seperti rumah. Lebih mirip vila mewah yang selama ini hanya kulihat di majalah properti.
Ketika mobil berhenti di depan sebuah gerbang tinggi berwarna hitam, kedua telapak tanganku mulai dingin.
Gerbang terbuka otomatis.
Di baliknya berdiri sebuah rumah besar bergaya modern dengan halaman luas dan kolam kecil di sisi jalan masuk.
Aku menelan ludah.
“Rayden.”
“Ya?”
“Kamu sebenarnya kerja apa?”
Ia menatapku sesaat.
“Direktur.”
“Direktur apa?”
Rayden hendak menjawab, tetapi mobil sudah berhenti.
Seorang perempuan paruh baya berpakaian rapi membukakan pintu.
“Tuan Rayden, Nyonya Besar sudah menunggu di ruang keluarga.”
Rayden turun lebih dulu.
Aku masih duduk.
Pikiranku kosong.
Nyonya Besar?
Rayden membungkuk sedikit dari luar pintu.
“Alya.”
Aku menatapnya.
“Kalau kamu kabur sekarang, saya tidak akan mengejar.”
Aku mengerutkan kening.
“Tapi kalau kamu turun dari mobil, jangan merasa lebih rendah dari siapa pun di rumah ini.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Lalu aku turun.
Di ruang keluarga, seorang perempuan berusia sekitar tujuh puluh tahun duduk tegak di sofa. Rambutnya disanggul sederhana. Wajahnya cantik, tetapi sorot matanya tajam seperti seseorang yang terbiasa membuat orang lain gugup tanpa perlu meninggikan suara.
Di sampingnya duduk seorang perempuan lain berusia sekitar lima puluh tahun.
Begitu kami masuk, keduanya langsung memandangku dari kepala sampai kaki.
Kacamata tebal.
Jerawat.
Kemeja murah.
Sepatu lusuh.
Dan koper yang dibawakan seorang staf rumah.
Aku hampir ingin menghilang.
“Rayden,” kata perempuan tua itu. “Siapa dia?”
“Oma, kenalkan. Alya.”
Aku membungkuk sopan.
“Selamat malam, Oma.”
Oma Rayden tidak menjawab salamku.
Sebaliknya, ia memandang cucunya.
“Kenapa kamu membawa perempuan asing ke rumah?”
Rayden duduk di sofa tanpa sedikit pun terlihat gugup.
“Karena saya akan menikah dengannya.”
Suasana langsung membeku.
Perempuan di samping Oma menjatuhkan sendok kecil dari tangannya.
Aku sendiri hampir tersedak ludah.
Oma Rayden memejamkan mata beberapa detik.
Ketika membukanya kembali, sorot matanya berubah semakin dingin.
“Ulangi.”
“Saya akan menikah dengan Alya.”
“Rayden!”
Suara Oma bergema di ruangan.
“Apa kamu sudah kehilangan akal?”
Aku menunduk.
Ternyata Rayden benar.
Penolakan itu datang bahkan lebih cepat dari dugaanku.
Perempuan di samping Oma akhirnya ikut bicara.
“Rayden, Tante tahu kamu sedang tertekan karena masalah perjodohan dengan keluarga Wijaya, tapi tidak perlu melakukan hal sejauh ini.”
Aku menoleh kepada Rayden.
“Perjodohan?”
Rayden tidak terlihat terkejut.
Ia justru menatap tantenya.
“Saya sudah menolak sejak awal.”
“Tapi Clarissa cocok denganmu. Keluarganya jelas. Pendidikannya jelas. Lingkungannya juga sama.”
Tatapan perempuan itu beralih kepadaku.
“Tidak seperti…”
Ia menghentikan kalimatnya, tetapi aku tahu kelanjutannya.
Tidak seperti aku.
Oma mengetuk tongkatnya ke lantai.
“Alya.”
Aku mengangkat kepala.

“Keluargamu siapa?”
Aku menarik napas.
“Ayah saya pegawai biasa, Oma.”
“Ibumu?”
Aku terdiam sesaat.
“Ibu sudah meninggal.”
“Pendidikan?”
“Saya masih kuliah.”
“Kerja?”
“Paruh waktu di kafe.”
Oma tertawa pendek tanpa humor.
Lalu ia menatap Rayden.
“Kamu dengar sendiri?”
Aku mengepalkan tangan di atas paha.
Rasa malu mulai merambat ke seluruh tubuhku.
Aku tidak marah karena semua yang kusebutkan memang benar.
Aku hanya lelah karena lagi-lagi seseorang mengukur nilai diriku dari hal-hal yang tidak kumiliki.
Tiba-tiba Rayden berkata, “Cukup.”
Oma menatapnya tajam.
“Dia bukan sedang melamar pekerjaan di perusahaan kita.”
“Dia sedang masuk ke keluarga ini!”
“Kalau begitu justru saya yang paling berhak memilih.”
Rayden berdiri.
“Alya memang tidak punya nama keluarga besar. Tidak punya uang banyak. Tidak punya penampilan yang selama ini kalian anggap pantas berdiri di samping saya.”
Aku menggigit bibir.
“Tapi setidaknya dia tidak datang mendekati saya karena saham, koneksi, atau jabatan.”
Ruangan kembali sunyi.
Oma menatapku lama.
“Apa kamu tahu siapa cucuku?”
Aku menoleh kepada Rayden.
“Direktur?”
Tante Rayden tiba-tiba tertawa kecil.
“Direktur?”
Ekspresi mereka membuatku merasa baru saja mengatakan sesuatu yang sangat bodoh.
Oma menyandarkan tubuhnya.
“Rayden Adhitama adalah CEO Adhitama Group.”
Aku membeku.
Nama itu tentu saja kukenal.
Semua orang mengenalnya.
Adhitama Group memiliki jaringan properti, rumah sakit, hotel, hingga perusahaan investasi. Nama mereka sering muncul di berita bisnis.
Aku perlahan menoleh kepada Rayden.
Ia tetap berdiri tenang.
“Kamu bilang cuma direktur.”
“CEO juga direktur.”
Aku ingin pingsan.
“Rayden!”
Untuk pertama kalinya, ia hampir tersenyum.
Namun belum sempat aku berkata apa-apa lagi, ponselku berdering.
Nama yang muncul membuat jantungku langsung jatuh.
Ayah.
Aku ragu sebelum akhirnya mengangkatnya.
“Halo?”
Suara Ayah langsung meledak dari seberang.
“Alya! Kamu di mana?”
Aku menjauhkan ponsel dari telinga.
“Ada apa?”
“Syifa masuk rumah sakit! Kamu ke sini sekarang!”
Tubuhku menegang.
“Kenapa aku harus ke sana?”
“Jangan kurang ajar! Ini soal adikmu!”
Aku tertawa kecil, pahit.
“Waktu aku pergi dari rumah, Ayah bahkan tidak mencariku.”
“Jangan bahas itu sekarang!”
“Kenapa? Karena Syifa sedang sakit?”
Ayah terdiam sesaat.
Lalu suaranya berubah.
“Alya, dokter bilang Syifa butuh transfusi darah. Golongan darahnya langka. Kamu cocok.”
Aku membeku.
Tentu saja.
Mereka mencariku bukan karena khawatir.
Mereka membutuhkanku.
“Alya?” suara Ayah mendesak. “Cepat ke rumah sakit.”
Aku menutup mata.
Semua luka lama tiba-tiba muncul sekaligus.
Syifa yang mendapatkan kamar lebih besar.
Syifa yang selalu dibelikan apa pun.
Syifa yang boleh kuliah di kampus mahal.
Sementara aku disuruh bekerja paruh waktu untuk membayar kebutuhanku sendiri.
“Aku tidak mau.”
Ayah langsung membentak.
“Kamu gila? Itu adik kandungmu!”
Aku menggenggam ponsel semakin kuat.
“Kalau aku mati pun, apa kalian akan sepanik ini?”
Sunyi.
Tidak ada jawaban.
Dan kesunyian itulah jawabannya.
Aku mematikan telepon.
Tanganku gemetar.
Semua orang di ruangan memandangku.
Aku malu.
Namun kemudian Rayden berkata, “Kalau kamu ingin ke rumah sakit, saya antar.”
Aku menoleh kepadanya.
“Aku bilang aku tidak mau.”
Rayden mengangguk.
“Saya dengar.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi keputusan yang dibuat karena marah kadang menjadi luka baru.”
Kalimat itu menusuk tepat di dadaku.
Aku terdiam lama.
Lalu mengembuskan napas.
“Aku ingin pergi.”
Tiga puluh menit kemudian, kami tiba di rumah sakit.
Begitu aku keluar dari lift, Kak Dimas langsung berlari menghampiriku.
“Alya!”
Ayah menyusul dari belakang.
Wajahnya merah karena panik.
“Cepat! Dokter sudah menunggu.”
Tak seorang pun bertanya apakah aku baik-baik saja.
Aku tersenyum pahit.
“Tenang. Aku akan donor.”
Mereka terlihat lega.
“Tapi setelah ini, jangan pernah cari aku lagi.”
Wajah Ayah berubah.
“Alya…”
“Aku bukan anak yang bisa kalian ingat hanya saat dibutuhkan.”
Kak Dimas hendak marah, tetapi tiba-tiba berhenti ketika melihat siapa yang berdiri di belakangku.
Wajahnya langsung pucat.
Pak Rayden yang tadi ia hina di kafe kini berdiri beberapa langkah dariku dengan seorang sopir dan dua staf.
“K-kamu…”
Rayden menatapnya datar.
“Saya yang katanya mau numpang hidup dari Alya.”
Kak Dimas membisu.
Setelah pemeriksaan, dokter akhirnya mengambil darahku.
Namun sekitar dua puluh menit kemudian, seorang dokter masuk dengan ekspresi aneh.
“Maaf. Ada sesuatu yang perlu kami konfirmasi.”
Ayah berdiri.
“Ada apa, Dok?”
Dokter melihat hasil di tangannya.
“Golongan darah Mbak Alya ternyata tidak cocok dengan pasien.”
Ayah mengerutkan kening.
“Mana mungkin? Mereka bersaudara kandung.”
Dokter terdiam sesaat.
“Pak, secara medis, perbedaan golongan darah memang bisa terjadi. Tetapi dari pemeriksaan tambahan yang diminta bagian laboratorium karena ada ketidaksesuaian tertentu, kami menyarankan keluarga melakukan pemeriksaan lebih lanjut.”
Aku merasakan sesuatu yang dingin merambat di punggungku.
“Apa maksud dokter?”
Dokter menatap Ayah.
“Apakah Mbak Alya dan Mbak Syifa benar-benar memiliki ayah dan ibu biologis yang sama?”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku menoleh kepada Ayah.
Wajahnya putih seperti kertas.
Kak Dimas juga memandang Ayah.
“Ayah?”
Tidak ada jawaban.
“Ayah!” bentakku.
Ayah akhirnya terduduk.
Kedua tangannya menutupi wajah.
“Ibumu…”
Suaranya pecah.
“Ibumu bukan ibu kandung Syifa.”
Aku membeku.
Kak Dimas mundur satu langkah.
“Apa?”
Ayah menatap kami dengan mata merah.
“Syifa anak dari perempuan lain.”
Dadaku terasa sesak.
Tapi Ayah belum selesai.
“Dan Alya…”
Ia menatapku.
“Aku juga bukan ayah kandungmu.”
Dunia seperti berhenti.
Aku tidak mampu bicara.
Semua penghinaan.
Semua perlakuan berbeda.
Semua rasa asing yang kurasakan sejak kecil.
Ternyata ada sesuatu yang selama ini disembunyikan.
“Lalu ayah kandungku siapa?”
Ayah menggeleng lemah.
“Aku tidak tahu. Ibumu sudah mengandungmu ketika kami menikah. Tapi aku berjanji membesarkanmu seperti anak sendiri.”
Aku tertawa.
Air mataku akhirnya jatuh.
“Seperti anak sendiri?”
Ayah menunduk.
Tidak sanggup menjawab.
Aku berdiri.
Anehnya, setelah mengetahui kebenaran sebesar itu, aku justru merasa ringan.
Untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa masalahnya tidak pernah ada pada wajahku, nilai kuliahku, pekerjaanku, atau apa pun yang selama ini mereka jadikan alasan untuk merendahkanku.
Masalahnya adalah mereka memilih untuk tidak mencintaiku dengan benar.
Aku berjalan keluar ruangan.
Rayden menyusul.
Di lorong rumah sakit, aku berhenti.
“Rayden.”
“Hm?”
“Aku masih mau menikah denganmu.”
Ia memandangku beberapa detik.
“Kamu baru saja menemukan bahwa seluruh hidupmu penuh kebohongan.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu masih bisa memikirkan pernikahan?”
Aku tersenyum kecil di tengah air mata.
“Justru karena itu.”
Rayden mengerutkan kening.
Aku menatapnya.
“Tapi ada syarat.”
“Apa?”
“Aku tidak mau menikah supaya bisa lari dari keluargaku.”
Tatapannya berubah.
“Aku ingin menyelesaikan kuliah. Punya pekerjaan sendiri. Punya hidup yang tidak bergantung padamu.”
Aku menarik napas.
“Kalau setelah itu kamu masih ingin menikah denganku, baru kita lakukan.”
Beberapa detik Rayden tidak mengatakan apa pun.
Lalu ia mengulurkan tangan.
“Setuju.”
Aku menatap tangannya sebelum menyambutnya.
Dua tahun kemudian, aku berdiri di depan cermin sebuah kamar pengantin.
Kacamata minus tebal masih ada.
Jerawatku jauh berkurang, tetapi beberapa bekasnya masih tersisa.
Aku tidak pernah melakukan operasi untuk mengubah wajahku.
Aku tidak ingin menjadi cantik hanya agar dunia menyesal pernah menghinaku.
Aku hanya ingin menjadi seseorang yang akhirnya bisa melihat dirinya sendiri tanpa merasa malu.
Pintu kamar diketuk.
Rayden masuk dengan setelan hitam.
Ia menatapku beberapa detik.
“Kenapa?”
Aku tersenyum.
“Cuma ingat pertama kali Kak Dimas bilang nggak akan ada laki-laki yang mau menikah denganku.”
Rayden mendekat.
“Dia salah.”
Aku menggeleng.
“Bukan itu.”
Aku menatap bayanganku di cermin.
“Dulu aku pikir kemenangan terbesar adalah membuktikan mereka salah.”
Rayden berdiri di belakangku.
“Sekarang?”
Aku tersenyum.
“Sekarang aku tahu kemenangan terbesar adalah ketika pendapat mereka sudah tidak penting lagi.”
Rayden menggenggam tanganku.
Di luar kamar, terdengar suara para tamu menunggu.
Aku melangkah bersamanya menuju pintu.
Bukan sebagai perempuan yang diselamatkan pria kaya.
Bukan sebagai anak yang dibuang keluarganya.
Bukan pula sebagai gadis berjerawat yang pernah disebut tidak pantas dicintai.
Aku berjalan keluar sebagai Alya.
Seseorang yang akhirnya memilih dirinya sendiri.
Dan ternyata, sejak awal, itulah kebebasan yang selama ini kucari.
