Sejak malam aku melihat Raka berdiri dengan kedua kakinya sendiri, aku tidak bisa lagi tidur dengan tenang.
Setiap suara kecil dari lorong membuatku terbangun. Setiap kali melihat kursi rodanya melintas di depan ruang makan, pikiranku kembali pada pemandangan malam itu. Raka berdiri tegak, mengangkat kursi roda berat dengan satu tangan seolah benda itu tidak lebih berat daripada koper kosong.
Yang paling menggangguku bukan kebohongannya.
Melainkan alasan di baliknya.
Pagi setelah kejadian itu, Raka duduk di ujung meja makan seperti biasa. Kemeja putihnya rapi, rambutnya disisir ke belakang, dan kursi roda elektrik itu kembali menjadi bagian dari dirinya.
Aku duduk di seberang.
Dia menyeruput kopi.
Aku tidak menyentuh sarapanku.
“Berapa lama Anda mau pura-pura?” tanyaku.

Tangannya berhenti.
“Pura-pura apa?”
Aku hampir tertawa karena kesal.
“Jangan lakukan itu.”
Raka meletakkan cangkirnya.
Para pegawai rumah langsung memahami suasana dan perlahan meninggalkan ruang makan.
Aku menatap kakinya.
“Anda bisa berjalan.”
“Bisa.”
Jawabannya begitu sederhana sampai membuat darahku mendidih.
“Berarti kecelakaan itu bohong?”
“Tidak.”
“Kelumpuhan?”
“Dulu nyata.”
“Sekarang?”
“Saya pulih hampir dua tahun lalu.”
Aku berdiri.
“Dan Anda tetap memakai kursi roda selama dua tahun?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Raka menatapku lama.
“Karena seseorang mencoba membunuh saya.”
Aku tidak langsung memahami kalimat itu.
“Apa?”
“Rem mobil saya dipotong tiga tahun lalu. Mobil jatuh dari jalan pegunungan. Dokter bilang kemungkinan saya berjalan lagi sangat kecil.”
Aku duduk perlahan.
Raka melanjutkan, “Semua orang mengira kecelakaan. Saya juga begitu sampai penyidik pribadi menemukan bekas manipulasi di sistem rem.”
“Siapa pelakunya?”
“Saya belum tahu pasti.”
“Lalu kenapa berpura-pura lumpuh?”
“Karena setelah saya mulai menunjukkan tanda pemulihan, percobaan kedua terjadi.”
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
“Percobaan kedua?”
“Obat saya diganti.”
Raka menarik napas.
“Kalau dokter pribadi saya tidak menyadarinya, mungkin saya sudah mati.”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya, sosok pria yang selama ini terlihat dingin dan sulit dipahami itu tampak seperti seseorang yang hidup dalam ketakutan.
“Jadi Anda membuat semua orang percaya bahwa Anda tidak berdaya.”
“Semakin lemah saya terlihat, semakin ceroboh orang yang ingin menghancurkan saya.”
Aku menatapnya.
“Termasuk membuat diri Anda dihina?”
Raka tersenyum tipis.
“Orang menunjukkan wajah asli mereka ketika mereka merasa berada di atas kita.”
Aku teringat pesta pernikahan.
Tatapan jijik.
Bisikan.
Tawa yang disembunyikan.
“Mereka mengejek tubuh Anda.”
“Saya tahu.”
“Dan Anda membiarkannya?”
“Lebih aman daripada membuat mereka takut.”
Aku ingin memahami, tapi masih ada satu pertanyaan besar.
“Lalu kenapa menikahi saya?”
Raka diam.
Aku menggeleng.
“Jangan bilang belum waktunya lagi.”
Tatapannya berubah.
“Ayahmu pernah bekerja untuk Pradipta Group.”
Aku membeku.
“Tidak mungkin.”
“Dua belas tahun lalu.”
“Ayah tidak pernah cerita.”
“Karena dia bukan pegawai biasa. Dia kepala divisi keuangan salah satu anak perusahaan.”
Aku mencoba mengingat masa kecilku. Ayah memang pernah bekerja di perusahaan besar, tetapi selalu menghindari pembicaraan tentang masa itu.
Raka melanjutkan.
“Dia dikeluarkan setelah ditemukan transaksi mencurigakan.”
“Berarti Ayah mencuri?”
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Dia dijebak.”
Jantungku berdetak keras.
“Siapa yang menjebaknya?”
“Itulah yang sedang saya cari.”
Raka membuka sebuah map dari tas di samping kursinya lalu mendorong beberapa dokumen ke arahku.
Ada nama ayah.
Harun Wijaya.
Ada laporan transfer, tanda tangan, dan rekening perusahaan.
Lalu satu nama lain muncul berkali-kali.
Surya Pradipta.
Aku mengangkat kepala.
“Siapa Surya?”
“Paman saya.”
Nada Raka berubah dingin.
“Dan sekarang dia wakil komisaris Pradipta Group.”
Aku mulai memahami.
“Ayah tahu sesuatu tentang dia?”
“Lebih dari sekadar sesuatu.”
Raka menatapku.
“Beberapa minggu sebelum kecelakaan saya, ayahmu menghubungi saya. Dia bilang masih menyimpan bukti transaksi lama yang bisa membuktikan penggelapan ratusan miliar.”
Aku merasa sesak.
“Kenapa dia tidak menyerahkannya?”
“Karena dia ketakutan.”
“Tapi sekarang Ayah bahkan terlilit utang judi.”
Raka menunduk sedikit.
“Itu bagian yang belum kamu tahu.”
Aku merasakan firasat buruk.
Raka berkata, “Utang sepuluh miliar itu bukan utang judi sepenuhnya.”
Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser.
“Apa maksud Anda?”
“Sebagian besar dibuat untuk menekan ayahmu.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Siapa?”
“Saya belum punya bukti kuat saat itu.”
“Sekarang?”
Raka menatapku tajam.
“Sekarang saya hampir punya.”
Hari-hari setelah percakapan itu terasa seperti hidup di rumah orang asing.
Aku mulai memperhatikan semua orang.
Sopir.
Satpam.
Pegawai rumah.
Bahkan keluarga Raka.
Terutama pamannya.
Surya Pradipta datang hampir setiap minggu. Pria berusia sekitar enam puluh tahun itu selalu tampil sempurna dengan jas mahal, parfum tajam, dan senyum yang terlalu ramah.
Setiap datang, dia selalu menepuk bahu Raka.
“Bagaimana kondisi keponakan kesayangan Om?”
Raka biasanya tersenyum lemah.
“Masih sama.”
Surya kemudian menatapku.
“Berat ya, Alya, punya suami seperti Raka.”
Aku memaksakan senyum.
“Saya baik-baik saja.”
Dia tertawa.
“Masih pengantin baru.”
Suatu sore, setelah Surya pulang, aku berkata pada Raka, “Dia menganggap Anda bodoh.”
“Itu bagus.”
“Dia juga menganggap saya perempuan yang menikah karena uang.”
“Itu lebih bagus.”
Aku melotot.
“Bagian mana yang bagus?”
“Dia tidak akan menganggapmu ancaman.”
Aku mendecak.
“Saya memang bukan ancaman.”
Raka menatapku.
“Belum.”
Hubungan kami perlahan berubah.
Tidak lagi seperti dua orang asing yang terikat kontrak.
Kami mulai makan malam bersama. Kadang berbicara sampai tengah malam di ruang kerja rahasianya.
Di ruangan itu, Raka tidak pernah menggunakan kursi roda.
Aku baru menyadari betapa tinggi tubuhnya.
Dia juga berolahraga hampir setiap malam.
Tidak seperti pria sakit yang dilihat publik, Raka mampu berlari di treadmill dan mengangkat beban.
Suatu malam aku berdiri di pintu sambil memperhatikannya.
“Kalau orang-orang melihat ini, mereka pasti pingsan.”
Dia tertawa kecil.
Itu pertama kalinya aku mendengar Raka tertawa sungguhan.
“Termasuk kamu?”
“Saya sudah kebal.”
Dia berjalan mendekat.
Jarak kami hanya satu langkah.
“Dulu kamu takut pada saya?”
Aku berpikir.
“Bukan takut.”
“Jijik?”
Aku langsung menggeleng.
“Tidak pernah.”
Raka menatapku seolah sedang mencari kebohongan.
“Aku cuma marah karena hidupku seperti diperdagangkan.”
Dia menunduk.
“Maaf.”
Itu pertama kalinya dia meminta maaf.
Aku tidak tahu kenapa satu kata itu terasa lebih berat daripada sepuluh miliar rupiah.
Bulan-bulan berlalu.
Hari ulang tahun pernikahan kami semakin dekat.
Kontrak satu tahun akan segera berakhir.
Anehnya, semakin dekat waktunya, semakin tidak tenang hatiku.
Aku seharusnya senang.
Utang ayah selesai.
Aku bebas.
Tapi rumah itu sudah terasa seperti rumahku.
Dan pria yang dulu kupanggil Pak Raka kini hanya kupanggil Raka.
Tiga hari sebelum ulang tahun pernikahan, ayah menghilang.
Teleponnya mati.
Rumahnya kosong.
Aku panik.
Raka mengerahkan tim keamanan.
Malam itu kami menemukan sebuah pesan di meja ayah.
Jangan cari Ayah. Pergilah dari Raka sebelum terlambat.
Tanganku gemetar.
“Ini pasti Surya.”
Raka tidak menjawab.
Dia hanya memandangi tulisan itu.
Lalu berkata, “Ulang tahun pernikahan kita tetap berjalan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Ayahku hilang dan kamu mau pesta?”
“Justru karena itu.”
Aku memahami maksudnya beberapa detik kemudian.
“Umpan?”
Raka mengangguk.
Pesta ulang tahun pernikahan digelar di ballroom hotel milik keluarga Pradipta.
Hampir seluruh jajaran direksi hadir.
Media bisnis juga diundang.
Surya datang bersama istri dan kedua anaknya.
Dia terlihat sangat santai.
Raka duduk di kursi roda di sampingku.
Di balik senyumnya, aku bisa melihat rahangnya tegang.
“Takut?” bisikku.
“Sedikit.”
Aku terkejut.
“Kamu bisa takut?”
“Kalau sebelumnya saya mati, hanya perusahaan yang berubah.”
Dia menatapku.
“Sekarang ada kamu.”
Dadaku terasa sesak.
Sebelum aku sempat menjawab, lampu ballroom diredupkan.
Surya naik ke panggung.
Entah bagaimana, dia sudah mengambil mikrofon.
“Sebelum kita merayakan satu tahun pernikahan Raka dan Alya, saya punya sesuatu yang perlu disampaikan.”
Raka tidak bergerak.
Layar besar di belakang panggung menyala.
Muncul foto ayahku.
Lalu dokumen lama.
“Perempuan yang dinikahi keponakan saya,” kata Surya, “adalah anak dari mantan pegawai yang pernah mencuri uang perusahaan.”
Ruangan gaduh.
Aku membeku.
Surya tersenyum.
“Dan sekarang ayahnya kembali mencoba memeras keluarga kami.”
Beberapa wartawan langsung mengangkat kamera.
Aku menatap Raka.
Dia justru sangat tenang.
Surya melanjutkan.
“Sayangnya, Raka terlalu lemah untuk melihat kenyataan.”
Kemudian terdengar suara Raka.
“Sudah selesai, Om?”
Semua orang diam.
Raka meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi.
Lalu perlahan berdiri.
Jeritan kecil terdengar dari beberapa meja.
Kamera langsung berkilatan.
Surya kehilangan warna wajah.
Raka berdiri tegak.
Tanpa bantuan.
Tanpa gemetar.
“Apa…” Surya mundur. “Apa ini?”
Raka melangkah menuju panggung.
Setiap langkah membuat ruangan semakin sunyi.
“Ini,” katanya, “adalah alasan saya bertahan hidup selama tiga tahun.”
Layar di belakang Surya berubah.
Video rekaman muncul.
Surya sedang berbicara dengan seorang pria di sebuah parkiran.
Suara mereka jelas.
Pastikan Harun tidak sempat bicara pada Raka.
Video berikutnya memperlihatkan transaksi rekening.
Kemudian rekaman percakapan lain.
Kalau Raka masih bisa berjalan, selesaikan sebelum rapat pemegang saham.
Surya berteriak, “Itu palsu!”
Pintu ballroom terbuka.
Beberapa polisi masuk.
Di belakang mereka ada ayah.
Aku hampir menangis.
“Ayah!”
Ayah berjalan mendekat dengan wajah penuh penyesalan.
“Alya…”
Ternyata ayah tidak diculik.
Dia bekerja sama dengan tim Raka untuk memancing Surya melakukan kesalahan terakhir.
“Ayah punya salinan buku besar transaksi,” katanya.
Surya menunjuk ayah dengan marah.
“Kamu juga terlibat!”
Ayah mengangguk.
“Ya. Saya salah.”
Aku terdiam.
Ayah menatapku.
“Dulu Ayah membantu menutupi beberapa transaksi karena takut kehilangan pekerjaan. Setelah sadar jumlahnya semakin besar, Ayah mencoba keluar. Mereka menjadikan Ayah kambing hitam.”
“Lalu judi?”
Air mata muncul di matanya.
“Ayah benar-benar berjudi setelah hidup Ayah hancur. Itu kesalahan Ayah sendiri.”
Aku tidak tahu harus marah atau memeluknya.
Polisi membawa Surya pergi malam itu.
Ballroom berubah menjadi kekacauan.
Namun bagiku, dunia justru terasa sunyi.
Setelah semua tamu pergi, aku dan Raka berdiri di balkon hotel.
Jakarta berkilau di bawah kami.
“Kontrak kita selesai tengah malam,” katanya.
Aku menatap jam.
23.57.
Tiga menit.
Raka mengeluarkan sebuah amplop.
“Semua dokumen perceraian sudah saya siapkan.”
Aku tidak bergerak.
“Jadi begitu?”
“Kamu berhak mendapatkan hidupmu kembali.”
Aku menerima amplop itu.
Tiga tahun lalu aku mungkin akan menangis bahagia.
Sekarang dadaku justru sakit.
“Kalau saya tidak mau?”
Raka menatapku.
“Apa?”
Aku merobek amplop itu menjadi dua.
Kemudian empat.
“Kamu bilang pernikahan kita hanya satu tahun.”
“Alya…”
“Tapi kamu tidak pernah bilang apa yang terjadi kalau saya berubah pikiran.”
Untuk pertama kalinya, pria yang mampu menghadapi pembunuh dan kehilangan kerajaan bisnisnya terlihat benar-benar gugup.
“Apa kamu yakin?”
Aku mendekat.
“Tidak.”
Dia terlihat bingung.
Aku tersenyum.
“Tapi untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya mau memilih sesuatu meskipun tidak yakin hasilnya.”
Jam di dinding menunjukkan pukul dua belas.
Satu tahun pernikahan kontrak kami berakhir.
Raka tersenyum.
“Kalau begitu saya harus melamar lagi.”
Aku tertawa sambil menangis.
“Besok saja.”
“Kenapa?”
“Karena malam ini saya capek.”
Raka tertawa.
Lalu memelukku.
Beberapa bulan kemudian, kasus Surya membuka penyelidikan besar di Pradipta Group. Puluhan transaksi ilegal terbongkar. Nama ayah dibersihkan dari tuduhan pencurian, meskipun dia tetap harus mempertanggungjawabkan perannya karena pernah membantu menutupi laporan.
Ayah menerimanya.
Sebelum menjalani hukuman, dia berkata kepadaku, “Jangan pernah menyelamatkan orang yang tidak mau menyelamatkan dirinya sendiri seperti yang dulu kamu lakukan pada Ayah.”
Aku menangis.
Namun aku akhirnya mengerti.
Mencintai seseorang tidak selalu berarti menanggung kesalahannya.
Kadang cinta justru berarti membiarkannya bertanggung jawab.
Setahun kemudian, aku menikah dengan Raka untuk kedua kalinya.
Tidak ada kontrak.
Tidak ada pembayaran utang.
Tidak ada kewajiban.
Saat kami berjalan menuju pelaminan bersama, tanpa kursi roda, aku mendengar beberapa orang berbisik.
Namun kali ini aku tersenyum.
Karena aku sudah belajar satu hal.
Orang selalu mudah menilai kehidupan orang lain dari apa yang terlihat.
Tubuh.
Uang.
Keluarga.
Masa lalu.
Padahal kebenaran paling besar sering tersembunyi tepat di depan mata.
Dan pria yang pernah dihina semua orang karena dianggap lemah ternyata adalah orang pertama yang mengajariku arti keberanian.
Bukan keberanian untuk berdiri dengan kedua kaki.
Melainkan keberanian untuk berhenti hidup berdasarkan ketakutan dan akhirnya memilih hidup yang benar-benar kita inginkan.
