“Hamil?”
Suara Naila nyaris berubah menjadi jeritan. Ia menoleh begitu cepat ke arah Bima sampai lehernya terasa sakit.
Bima tetap duduk tenang, seolah baru saja mengatakan bahwa sore nanti mungkin akan turun hujan.
“Iya,” jawabnya santai.
Naila menatapnya tak percaya. “Om, aku kapan—”
Belum sempat kalimat itu selesai, tangan Bima mencubit pelan pinggangnya.
Naila tersentak.
Bima tersenyum tipis sambil menatapnya penuh peringatan.
“Sayang, kamu lupa kata dokter? Jangan terlalu banyak pikiran. Nggak baik buat kandungan.”
Mata Naila semakin membesar.
Sayang?
Kandungan?
Dokter?
Kalau saja di depan mereka tidak ada Rianti dan Satria, mungkin Naila sudah menjambak rambut pria itu.
Namun sekarang ia hanya bisa tersenyum kaku.
“I-iya… aku lupa.”
Rianti yang semula terlihat tegas mendadak kehilangan kata-kata. Pandangannya bergantian antara Bima dan Naila.
“Kalian serius?” tanyanya.
“Sangat serius,” jawab Bima.
“Berapa minggu?”
Pertanyaan itu membuat Naila hampir tersedak ludah sendiri.
Ia menoleh kepada Bima, berharap pria itu punya jawaban untuk kebohongannya sendiri.
“Lima minggu,” jawab Bima tanpa ragu.
Naila memejamkan mata sebentar.
Lima minggu?
Mereka bahkan belum menikah selama itu.
Dasar pembohong profesional.
Satria yang sejak tadi diam akhirnya menyandarkan punggung ke sofa.
“Kalau memang Naila hamil, kenapa baru sekarang kalian datang memberi tahu kami?”
“Ada beberapa hal yang harus saya selesaikan dulu, Dad.”
“Termasuk pernikahan diam-diam kalian?”
Bima terdiam.
Nada Satria tidak keras, tetapi cukup membuat suasana ruangan kembali menegang.
Naila menunduk. Tiba-tiba rasa bersalah menyelinap ke dalam dadanya. Ia tahu pernikahan mereka bukan pernikahan normal. Mereka menikah karena keadaan dan kesepakatan yang hanya diketahui mereka berdua.
Namun keluarga Bima tidak tahu apa-apa.
Sekarang kebohongan baru justru ditambahkan.
Rianti bangkit dari sofa.
Naila refleks menahan napas ketika perempuan itu berjalan mendekatinya.
Ia sudah membayangkan berbagai kemungkinan buruk.
Dimarahi.
Diusir.
Bahkan mungkin ditampar seperti adegan sinetron yang sering ditonton tetangganya.
Namun di luar dugaan, Rianti berhenti di depannya lalu berjongkok.
Tangannya menyentuh kedua tangan Naila.
“Kamu benar-benar hamil?”
Tatapan perempuan itu berubah lembut.
Naila membeku.
Ia tidak pandai berbohong, apalagi kepada seseorang yang menatapnya seperti itu.
“Aku…”
Bima segera menyela.
“Iya, Mom.”
Rianti melirik tajam kepada putranya.
“Mommy tanya Naila, bukan kamu.”
Bima langsung diam.
Naila menelan ludah.
Jantungnya berdetak begitu keras.
Ia membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Untungnya, ponsel Bima tiba-tiba berdering.
Pria itu melihat layar lalu berdiri.
“Saya harus angkat. Dari kantor.”
Bima berjalan menuju teras belakang.
Naila menatap punggungnya dengan kesal.
“Enak banget kabur setelah bikin masalah,” gerutunya dalam hati.
Rianti kembali duduk di samping Naila.
Anehnya, ekspresi perempuan itu tidak lagi menunjukkan penolakan.
“Mommy memang kaget,” katanya perlahan. “Bima nggak pernah membawa perempuan pulang. Bahkan ketika Mommy berkali-kali menyuruh dia menikah, jawabannya selalu sama. Belum ketemu orang yang tepat.”
Naila terdiam.
“Makanya ketika dia tiba-tiba bilang sudah menikah, Mommy pikir ada sesuatu yang aneh.”
Naila semakin gugup.
Rianti menggenggam tangannya.
“Mommy bukan membenci kamu, Naila.”
Naila mengangkat wajah.
“Mommy cuma takut.”
“Takut?”
Rianti mengangguk.
“Bima sudah empat puluh tahun. Kamu baru dua puluh satu. Mommy takut suatu hari nanti kamu sadar bahwa kamu kehilangan masa muda karena menikah dengan laki-laki yang jauh lebih tua.”
Kalimat itu membuat Naila tercekat.
Ia tidak menyangka alasan Rianti menolak justru karena memikirkan dirinya.
“Kalau pernikahan ini terjadi karena Bima memaksa kamu, bilang ke Mommy sekarang.”
Naila membelalakkan mata.
“Nggak!”
Jawabannya keluar terlalu cepat.
Rianti menatapnya.
Naila menarik napas.
“Om Bima nggak pernah maksa aku.”
“Om?”
Naila langsung menggigit bibir.
Astaga.

Kebiasaan itu benar-benar sulit dihilangkan.
“Eh… maksud aku Bima.”
Untuk pertama kalinya, Rianti tertawa kecil.
“Pantas. Bedanya hampir dua puluh tahun.”
Wajah Naila memerah.
Tak lama kemudian Bima kembali.
“Kita pulang?” tanyanya.
“Jangan dulu,” jawab Rianti. “Kalian makan malam di sini.”
Bima tampak sedikit terkejut.
“Mommy sudah menerima Naila?”
Rianti mendengus.
“Mommy menerima cucu Mommy.”
Lalu ia menoleh kepada Naila.
“Untuk ibunya, masih masa percobaan.”
Naila tersenyum kikuk.
Setidaknya ia tidak diusir.
Beberapa jam kemudian, ketika mereka akhirnya meninggalkan rumah keluarga Wijaya, Naila langsung berubah begitu pintu Pajero tertutup.
“OM BIMA!”
Bima yang baru memasang sabuk pengaman menoleh santai.
“Kenapa?”
“Kenapa?”
Naila hampir tidak percaya pria itu masih bisa bertanya.
“Om bilang aku hamil!”
“Oh, itu.”
“Itu?!”
Naila menepuk dahinya.
“Om sadar nggak sih kebohongan itu bakal jadi masalah besar? Lima minggu lagi Mommy pasti nanya. Tiga bulan lagi perutku masih rata. Enam bulan lagi aku masih nggak punya bayi. Terus kita mau bilang apa? Bayinya menghilang?”
Bima menahan tawa.
“Kenapa ketawa?”
“Karena kamu lucu kalau marah.”
“Aku serius!”
“Saya juga serius.”
Senyum Bima menghilang.
“Saya terpaksa bilang begitu supaya Mommy berhenti menekan kamu.”
“Tapi jangan pakai alasan hamil juga!”
“Nanti saya pikirkan jalan keluarnya.”
“Om yang mikirin. Aku nggak mau tahu.”
Naila menyilangkan tangan di dada sambil membuang muka ke jendela.
Beberapa detik kemudian, Bima berkata pelan, “Atau kita bikin kebohongan itu jadi kenyataan.”
Naila menoleh.
“Apa?”
Tatapan Bima turun sesaat ke wajahnya.
Naila membutuhkan beberapa detik untuk memahami maksud kalimat itu.
Begitu mengerti, wajahnya langsung merah padam.
“OM BIMA!”
Tawa Bima memenuhi kabin mobil.
“Bercanda.”
“Bercanda apaan begitu!”
Naila mengambil bantal kecil di belakang kursi lalu memukul lengan Bima.
Namun di balik kekesalannya, ada sesuatu yang aneh terjadi di dalam dada Naila.
Ia masih mengingat bagaimana Bima merangkulnya di depan Rianti.
Bagaimana pria itu memanggilnya sayang.
Dan entah kenapa, bagian paling bodoh dari dirinya justru mengingat kalimat terakhir Bima.
Naila buru-buru menatap keluar jendela.
“Gila,” gumamnya. “Aku mulai gila.”
Malam itu, Naila mengira masalah terbesarnya hanyalah kebohongan tentang kehamilan.
Ia salah.
Jauh di tempat lain, sebuah foto sedang dikirim melalui WhatsApp.
Merlin duduk di kamar sambil tersenyum puas.
Foto itu memperlihatkan Naila masuk ke Pajero Bima.
Ia mengetik pesan singkat.
Ayah, aku sebenarnya nggak mau ikut campur. Tapi aku pikir Ayah harus tahu Naila sekarang dekat sama laki-laki tua. Aku takut dia dimanfaatkan.
Jempol Merlin berhenti di atas tombol kirim.
Senyumnya semakin lebar.
Lalu ia menekannya.
Pesan terkirim.
Tidak sampai satu menit, tanda centang berubah biru.
Merlin menunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Akhirnya ponselnya berdering.
Ayah menelepon.
Merlin segera mengangkatnya.
“Halo, Yah?”
“Foto ini kamu ambil di mana?”
Suara Arman terdengar berat.
“Di kampus. Aku lihat sendiri Naila dijemput laki-laki itu. Kayaknya mereka udah lama dekat.”
“Siapa laki-lakinya?”
Merlin tersenyum.
“Nggak tahu. Tapi kelihatannya orang kaya. Mobilnya juga mahal. Aku takut Naila jadi simpanannya.”
Di seberang telepon mendadak sunyi.
“Ayah?”
“Pulang sekarang.”
“Tapi aku—”
“Sekarang, Merlin.”
Telepon ditutup.
Merlin menatap layar ponselnya dengan puas.
Ia yakin malam ini Naila akan mendapatkan masalah besar.
Namun ketika tiba di rumah, ia justru menemukan ayahnya berdiri di ruang tamu dengan wajah pucat.
“Ayah kenapa?”
Arman memperlihatkan foto Bima.
“Kamu yakin laki-laki ini yang bersama Naila?”
“Iya.”
Arman mengusap wajahnya.
“Astaga…”
Merlin mengernyit.
“Ayah kenal?”
Arman tidak menjawab.
Ia langsung mengambil kunci mobil.
“Kita ke rumah Naila.”
Sementara itu, Naila baru selesai mandi ketika bel rumah berbunyi berkali-kali.
Ia keluar dari kamar sambil mengeringkan rambut.
Bima sudah lebih dulu menuju pintu.
Begitu pintu terbuka, Naila yang berdiri beberapa meter di belakangnya langsung membeku.
“Ayah?”
Arman berdiri di depan pintu.
Merlin berada di sampingnya.
Namun anehnya, tatapan Arman tidak tertuju kepada Naila.
Ia menatap Bima.
Wajahnya seperti baru melihat hantu.
“Pak Bima?”
Naila mengerutkan kening.
Bima juga tampak terkejut.
“Pak Arman?”
Merlin kehilangan senyum.
“Kalian… saling kenal?”
Arman masuk satu langkah.
“Anda ngapain bersama anak saya?”
Bima terdiam sesaat.
Kemudian ia menoleh kepada Naila.
Naila mulai panik.
Merlin justru tersenyum puas.
“Nah, tuh, Nai. Sekarang jelasin sama Ayah. Kamu ngapain tinggal sama om-om ini?”
“Merlin, diam,” bentak Arman.
Merlin tersentak.
Bima menarik napas panjang.
Sepertinya rahasia mereka tidak mungkin disembunyikan lagi.
Ia berjalan mendekati Naila lalu berdiri di sisinya.
“Pak Arman,” katanya tenang. “Saya rasa lebih baik kita bicara baik-baik.”
“Nggak perlu berputar-putar. Saya cuma mau tahu hubungan Anda dengan anak saya.”
Bima menatap Naila sebentar.
Lalu jawabannya membuat wajah Merlin seketika kehilangan warna.
“Naila istri saya.”
Sunyi.
Arman membeku.
Merlin bahkan tidak berkedip.
“Apa?” bisiknya.
Naila menunduk.
Bima melanjutkan, “Kami menikah secara sah.”
“Bohong!” Merlin langsung berteriak. “Naila mana mungkin nikah sama Om! Dia pasti cuma simpanan—”
“Cukup!”
Kali ini Naila yang membentak.
Ia menatap saudara tirinya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku memang menikah sama Om Bima.”
Merlin mundur satu langkah.
Arman memejamkan mata.
Wajahnya menunjukkan campuran marah, kecewa, dan kebingungan.
“Kenapa kamu nggak bilang sama Ayah?”
Pertanyaan itu membuat sesuatu dalam diri Naila runtuh.
Ia tertawa kecil, tetapi air matanya justru jatuh.
“Bilang buat apa?”
Arman terdiam.
“Bukannya selama ini Ayah nggak pernah peduli aku hidup bagaimana?”
“Naila…”
“Waktu aku butuh uang kuliah, Ayah bilang aku harus belajar mandiri. Waktu aku sakit, Ayah bahkan nggak tahu. Waktu aku ulang tahun, Ayah lupa.”
Suaranya mulai bergetar.
“Tapi begitu Merlin bilang aku jadi simpanan laki-laki kaya, Ayah langsung datang.”
Arman kehilangan kata-kata.
“Jadi jangan tanya kenapa aku nggak cerita soal pernikahanku. Aku cuma belajar dari Ayah bahwa hidupku bukan sesuatu yang penting buat Ayah.”
“Nai… Ayah nggak pernah bermaksud—”
“Tapi itulah yang aku rasakan.”
Untuk pertama kalinya, Bima melihat sisi Naila yang selama ini disembunyikan di balik sikap ceria dan keras kepalanya.
Ia menggenggam tangan Naila.
Gerakan sederhana itu membuat Naila menoleh.
“Ada satu hal lagi yang harus Bapak tahu,” kata Bima.
Naila langsung panik.
Jangan.
Jangan bilang hamil.
Namun Bima berkata sesuatu yang sama sekali tidak diduganya.
“Pernikahan ini memang dimulai karena sebuah kesepakatan.”
Naila menatapnya tajam.
Arman mengernyit.
“Tapi mulai hari ini, saya nggak menganggap Naila bagian dari kesepakatan apa pun lagi.”
Napas Naila tercekat.
Bima menatapnya.
“Saya akan memperlakukannya sebagai istri saya. Bukan karena kewajiban, bukan karena perjanjian.”
“Om…”
“Dan kalau suatu hari Naila ingin pergi, keputusan itu harus datang dari dirinya sendiri. Bukan karena tekanan siapa pun.”
Naila menatap Bima tanpa mampu berkata-kata.
Merlin mengepalkan tangan.
Ia datang untuk menghancurkan Naila.
Namun malam itu justru semua orang mengetahui bahwa Naila bukan perempuan simpanan.
Ia adalah istri sah Bima Satria.
Arman akhirnya pergi setelah meminta waktu untuk bicara lagi dengan Naila ketika keadaan sudah lebih tenang. Merlin mengikutinya tanpa berani mengangkat wajah.
Setelah pintu tertutup, Naila bersandar di dinding.
“Capek,” gumamnya.
Bima berdiri di depannya.
“Naila.”
“Hm?”
“Soal yang saya bilang tadi…”
“Kesepakatan kita?”
Bima mengangguk.
Naila mencoba tersenyum.
“Om nggak perlu merasa kasihan sama aku.”
“Siapa bilang saya kasihan?”
Naila mengangkat wajah.
Bima menatapnya lama.
“Saya cuma mulai merasa pernikahan sementara ini mungkin adalah keputusan paling benar yang pernah saya buat.”
Jantung Naila kembali berdetak cepat.
“Om jangan ngomong aneh-aneh.”
“Saya serius.”
Naila buru-buru berjalan menuju kamar.
Namun sebelum masuk, ia berhenti.
“Om.”
“Ya?”
Naila menoleh dengan wajah memerah.
“Besok bilang sama Mommy kalau aku nggak hamil.”
Bima tersenyum.
“Kenapa harus bilang?”
“Karena aku memang nggak hamil!”
Bima memasukkan kedua tangan ke saku celana.
“Siapa tahu beberapa bulan lagi benar.”
“OM BIMA!”
Naila membanting pintu kamar.
Bima tertawa.
Namun setelah sendirian di balik pintu, Naila menyandarkan punggungnya di sana sambil memegang dada.
Jantungnya masih berdebar.
Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu dimulai, pikiran tentang perceraian tidak lagi terasa melegakan.
Justru terasa menakutkan.
Di luar kamar, ponsel Bima bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Rianti.
Besok bawa Naila ke dokter kandungan. Mommy ikut.
Senyum Bima langsung menghilang.
Ia menatap pintu kamar Naila.
Untuk pertama kalinya malam itu, pria yang selalu punya jawaban untuk segala masalah tersebut benar-benar kehabisan akal.
