Malam setelah makan malam keluarga itu, aku tidak benar-benar tidur.
Setiap kali memejamkan mata, wajah Ibu Ratna muncul di kepalaku. Tatapannya, pertanyaannya tentang Zahra, dan ancaman yang sengaja tidak ia selesaikan terus berputar seperti kaset rusak.
Anakmu bukan anak Angga, kan?
Aku sudah berbohong.
Dan aku tahu, cepat atau lambat, kebohongan itu akan menuntut harga.
Pagi berikutnya, aku bangun dengan mata sembap. Aku berusaha menutupinya dengan bedak tipis sebelum keluar kamar, tetapi Bu Rina tetap menyadarinya.
“Kamu sakit?”
Aku menggeleng. “Cuma kurang tidur, Bu.”
Bu Rina menatapku sejenak, lalu tidak bertanya lagi.
Aku baru saja hendak menuju dapur ketika suara Ibu Ratna terdengar dari ruang keluarga.
“Alea.”
Tubuhku langsung menegang.
Ia duduk di sofa dengan secangkir teh di tangannya. Rangga tidak terlihat. Mungkin masih di kamar atau sudah berada di ruang kerjanya.
“Sini.”
Aku mendekat dengan langkah hati-hati.
“Iya, Bu?”
“Buatkan sarapan untukku.”
“Mau dibuatkan apa?”
Ibu Ratna tersenyum tipis.
“Bubur ayam. Jangan pakai daun bawang.”
Jantungku langsung berdetak lebih cepat.
Dulu, ketika masih menjadi menantunya, hampir setiap kali ia menginap di rumah kami, aku membuatkan bubur ayam untuknya. Ia tidak pernah menyukai daun bawang.
Aku tahu itu.
Dan ia tahu aku tahu.
“Baik, Bu.”
Aku berbalik, tetapi suaranya kembali menghentikanku.
“Dan tambahkan sedikit jahe seperti dulu.”
Kakiku membeku.
Aku menoleh perlahan.
Ibu Ratna sedang menatapku tajam.
Tak ada lagi kepura-puraan di wajahnya.
Ia sengaja melakukannya.
Ia ingin memastikan bahwa aku memang Alea yang dulu.
Aku tidak menjawab dan langsung berjalan ke dapur.
Tanganku gemetar saat menyiapkan sarapan. Belum selesai aku memasukkan bubur ke mangkuk, Bu Rina masuk membawa ponsel.
“Alea, ada telepon buat kamu.”
“Dari siapa?”
“Katanya ibumu.”
Dadaku mendadak sesak.
Aku segera mengambil ponsel.
“Halo, Bu?”
Suara ibuku terdengar panik.
“Alea, Zahra demam tinggi sejak tadi malam.”
Tanganku langsung dingin.
“Sudah dibawa ke dokter?”
“Sudah. Tapi sampai pagi ini panasnya belum turun. Dia terus memanggil kamu.”
Aku tidak bisa berpikir panjang.
“Bu, aku pulang sekarang.”
Aku mengembalikan ponsel kepada Bu Rina dan langsung melepas celemek.
“Ada apa?”
“Anak saya sakit, Bu. Saya harus pulang.”
Wajah Bu Rina berubah iba.
“Pergilah. Nanti saya bicara dengan Pak Rangga.”
Aku baru saja hendak keluar dari dapur ketika seseorang berdiri di ambang pintu.
Rangga.
“Siapa yang sakit?”
Aku menelan ludah.
“Anak saya, Pak.”
“Kamu mau pulang?”
“Iya.”
“Aku antar.”
Aku langsung menggeleng.
“Tidak perlu, Pak. Saya bisa naik bus.”
“Aku bilang aku antar.”
“Pak, kampung saya jauh.”
“Aku tahu.”
Aku terdiam.
Bagaimana dia tahu?
Tatapan Rangga tidak berubah.
“Kemarin kamu bilang anakmu tinggal di kampung bersama orang tuamu. Bu Rina punya alamat semua pekerja di rumah ini.”
Aku mengembuskan napas pelan.
“Tidak usah merepotkan, Pak.”
“Alea.”
Nada suaranya membuatku tak mampu membantah.
“Kita berangkat sekarang.”
Perjalanan hampir dua jam itu terasa seperti perjalanan terpanjang dalam hidupku.
Aku duduk di kursi penumpang sambil menggenggam ponsel. Rangga menyetir tanpa banyak bicara.
Hujan turun ketika kami memasuki jalan kecil menuju rumah orang tuaku.
Semakin dekat, semakin besar ketakutanku.
Aku seharusnya tidak membiarkan Rangga datang.
Aku seharusnya turun di jalan utama.
Namun semuanya sudah terlambat.
Begitu mobil berhenti di depan rumah sederhana milik ibuku, pintu rumah langsung terbuka.
Zahra keluar.
Anak kecil berusia empat tahun itu berlari tanpa alas kaki sambil menangis.
“Mama!”
Aku langsung turun.
“Zahra!”
Aku memeluknya erat.
Tubuhnya masih hangat karena demam.
“Kenapa keluar? Kamu kan sakit.”
“Aku kangen Mama.”
Aku mencium dahinya berkali-kali.
Dalam beberapa detik itu, aku lupa bahwa Rangga sedang berdiri tidak jauh dari kami.
Sampai Zahra menoleh.
Matanya bertemu dengan Rangga.
Dan dunia kembali terasa berhenti.
Rangga membeku.
Tatapannya terpaku pada wajah Zahra.
Aku tahu apa yang sedang dilihatnya.
Mata itu.
Bentuk hidung itu.
Bahkan lesung kecil di pipi kiri Zahra.
Semua terlalu mirip dengannya.
“Siapa Om itu, Ma?” tanya Zahra polos.
Aku tidak bisa menjawab.
Rangga melangkah mendekat.
“Namamu Zahra?”
Zahra mengangguk.
“Iya.”
“Umur berapa?”
“Empat tahun.”
Dadaku terasa sesak.
Rangga menatapku.
“Empat?”
Aku segera menggendong Zahra.
“Masuk dulu, Sayang.”
Ibuku muncul di pintu. Wajahnya pucat ketika melihat Rangga.
“Angga?”
Satu kata itu menghancurkan semuanya.
Rangga menoleh.
“Ibu masih ingat saya?”
Ibuku tidak menjawab.
Aku memejamkan mata.
Tidak ada lagi jalan keluar.
Kami masuk ke ruang tamu.
Zahra tertidur di pangkuanku setelah minum obat. Rangga duduk di seberangku. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, tetapi justru itulah yang membuatku semakin takut.
“Siapa ayah Zahra?”
Aku menunduk.
“Aku sudah bilang, aku janda.”
“Aku tidak menanyakan statusmu.”
Suaranya rendah.

“Aku bertanya siapa ayah Zahra.”
Aku terdiam.
Rangga berdiri.
“Lihat aku, Alea.”
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke rumahnya, ia memanggilku tanpa jarak.
Aku perlahan mengangkat wajah.
Matanya merah.
“Dia anakku?”
Air mataku jatuh.
Aku ingin berbohong sekali lagi.
Namun melihat Zahra tidur dengan polos di pangkuanku, aku tidak sanggup.
“Iya.”
Satu kata.
Hanya satu kata.
Namun rasanya seperti bom yang menghancurkan seluruh ruangan.
Rangga mundur selangkah.
Wajahnya pucat.
“Jadi selama lima tahun…”
Suaranya bergetar.
“Kamu menyembunyikan anakku?”
“Aku punya alasan.”
“Alasan?”
Ia tertawa pendek, pahit.
“Aku kehilangan empat tahun hidup anakku dan kamu bilang punya alasan?”
“Aku takut!”
Suaraku pecah.
Zahra bergerak dalam tidur. Aku segera menurunkan suara.
“Setelah perceraian kita, aku baru tahu aku hamil.”
“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”
Aku menatapnya sambil menangis.
“Karena ibumu datang lebih dulu.”
Rangga terdiam.
Aku masih mengingat hari itu dengan sangat jelas.
Aku baru keluar dari klinik ketika Ibu Ratna menungguku di depan kontrakan.
Ia tahu aku hamil.
Entah dari mana.
Ia memberiku amplop berisi uang dan mengatakan bahwa Rangga akan menikah dengan perempuan pilihan keluarga.
Ia mengatakan kehamilanku hanya akan menghancurkan masa depan Rangga.
Aku menolak uang itu.
Namun sebelum pergi, ia mengatakan sesuatu yang membuatku ketakutan.
Kalau kamu benar-benar mencintai Angga, jangan gunakan anak itu untuk menyeretnya kembali.
Saat itu aku masih terluka oleh perceraian kami. Aku percaya Rangga sudah tidak menginginkanku.
“Aku pikir kamu membenciku,” kataku.
Rangga menggeleng perlahan.
“Aku tidak pernah membencimu.”
“Tapi kamu yang mengajukan cerai.”
“Karena aku bodoh.”
Aku terdiam.
Rangga menatap lantai.
“Waktu itu perusahaan hampir bangkrut. Aku terlilit utang. Ibu terus mengatakan kamu akan lebih bahagia tanpa aku. Lalu kita bertengkar setiap hari. Aku pikir melepaskanmu adalah keputusan terbaik.”
Ia mengusap wajahnya kasar.
“Tiga bulan kemudian aku mencarimu.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Aku datang ke rumah ini.”
Ibuku yang sejak tadi diam akhirnya menangis.
Rangga menatapnya.
“Ibu bilang Alea sudah menikah lagi.”
Aku menoleh cepat kepada ibuku.
“Ibu?”
Ibuku menutup wajah.
“Maafkan Ibu.”
“Kenapa?”
“Bu Ratna meminta Ibu melakukannya.”
Dadaku seolah dihantam sesuatu.
Ibuku menangis semakin keras.
“Dia datang membawa bukti utang rumah sakit ayahmu. Dia bilang akan melunasinya kalau kami menjauhkan kamu dari Rangga. Waktu itu ayahmu harus operasi. Ibu takut kehilangan ayahmu.”
Aku tidak bisa berkata-kata.
Ternyata lima tahun hidup kami dihancurkan bukan oleh satu kesalahan.
Melainkan oleh serangkaian kebohongan yang sengaja disusun.
Rangga berjalan keluar rumah tanpa berkata apa-apa.
Aku mengejarnya.
“Rangga!”
Ia berhenti di bawah hujan.
“Aku butuh waktu.”
“Maaf.”
Ia menoleh.
Wajahnya basah oleh hujan, tetapi aku bisa melihat air mata di matanya.
“Aku bukan marah karena kamu pergi, Lea.”
Suaranya patah.
“Aku marah karena aku bahkan tidak tahu putriku ada di dunia.”
Malam itu Rangga kembali ke Jakarta sendirian.
Aku tinggal menemani Zahra.
Kupikir setelah mengetahui semuanya, Rangga akan membenciku.
Namun tiga hari kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Rangga turun.
Ia membawa sekotak mainan dan sebuah tas kecil.
Zahra yang sedang duduk di teras langsung memperhatikannya.
“Om yang kemarin.”
Rangga berjongkok di hadapannya.
“Hai.”
“Hai.”
“Kamu sudah sembuh?”
“Sudah.”
Zahra menunjuk kotak yang dibawanya.
“Itu apa?”
“Hadiah.”
“Buat aku?”
Rangga mengangguk.
Zahra tersenyum lebar.
Lesung pipinya muncul.
Aku melihat mata Rangga langsung berkaca-kaca.
Ia menoleh kepadaku.
“Aku ingin mengenalnya.”
Aku menggigit bibir.
“Dia berhak mengenal ayahnya.”
Rangga tersenyum tipis.
Hari itu menjadi awal perubahan besar.
Aku tidak kembali bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Rangga.
Namun Rangga datang hampir setiap akhir pekan untuk menemui Zahra.
Ia tidak pernah memaksakan diri.
Ia membiarkan Zahra mengenalnya perlahan.
Sampai suatu sore, Zahra melihat foto lama pernikahan kami yang tersimpan di lemari ibuku.
“Itu Mama.”
Aku mengangguk.
“Yang ini Om Rangga.”
Aku kembali mengangguk.
Zahra mengerutkan kening.
“Kalau Om Rangga nikah sama Mama, berarti Om Rangga papaku?”
Aku membeku.
Rangga yang duduk tidak jauh dari sana juga terdiam.
Aku berjongkok di hadapan Zahra.
“Iya.”
Zahra menoleh kepada Rangga.
“Papa?”
Rangga menutup mulutnya.
Air matanya jatuh begitu saja.
Ia memeluk Zahra erat.
“Iya, Sayang. Papa.”
Aku menangis melihat mereka.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Dua hari kemudian, Ibu Ratna datang.
Ia berdiri di depan rumah dengan wajah pucat.
Rangga berada di sampingku.
“Kamu sudah tahu semuanya?” tanyanya.
Rangga mengangguk.
“Iya.”
Ibu Ratna mencoba mendekat.
“Angga, dengarkan Ibu.”
“Kenapa?”
“Semua yang Ibu lakukan demi kamu.”
“Demi aku?”
Suara Rangga meninggi.
“Ibu mengambil lima tahun hidupku.”
Ibu Ratna terdiam.
“Ibu membuatku percaya Alea sudah menikah. Ibu membuat Alea percaya aku tidak menginginkan anakku. Bahkan Ibu menyuap keluarganya.”
“Ibu hanya ingin kamu mendapatkan perempuan yang pantas.”
Kalimat itu membuat Rangga tertawa getir.
“Pantas menurut siapa?”
Ibu Ratna menatapku dengan kebencian yang sama seperti dulu.
Namun kali ini aku tidak menunduk.
Aku sudah terlalu lama hidup dalam ketakutan.
“Saya memang bukan perempuan dari keluarga kaya, Bu,” kataku. “Tapi saya membesarkan Zahra tanpa pernah meminta satu rupiah pun dari Rangga. Kalau selama ini Ibu takut saya mengejar hartanya, empat tahun terakhir seharusnya sudah cukup menjadi jawabannya.”
Ibu Ratna tidak mampu membalas.
Tiba-tiba Zahra keluar dari rumah.
“Papa?”
Wajah Ibu Ratna berubah.
Ia menatap cucunya.
Zahra berlari ke arah Rangga dan menggenggam tangannya.
“Papa, siapa Tante ini?”
Aku hampir tersenyum melihat ekspresi Ibu Ratna.
Rangga berjongkok.
“Bukan Tante. Ini nenekmu.”
Zahra memiringkan kepala.
“Nenek?”
Ibu Ratna mulai menangis.
Untuk pertama kalinya aku melihat perempuan itu kehilangan seluruh kesombongannya.
Ia berjongkok.
“Nenek boleh peluk Zahra?”
Zahra menatapku lebih dulu.
Aku mengangguk.
Barulah Zahra mendekat.
Saat memeluk cucunya, Ibu Ratna menangis tersedu-sedu.
Aku tidak tahu apakah tangis itu cukup untuk menebus lima tahun yang hilang.
Mungkin tidak.
Ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan permintaan maaf.
Enam bulan kemudian, aku berdiri di depan rumah kecil yang baru saja kubuka sebagai usaha katering.
Rangga membantu memasang papan nama.
Zahra berlari-lari di halaman sambil tertawa.
Hubunganku dengan Rangga belum kembali seperti dulu.
Kami tidak terburu-buru.
Kami belajar mengenal satu sama lain lagi sebagai dua orang yang telah berubah.
Suatu sore setelah menutup katering, Rangga duduk di sampingku.
“Alea.”
“Hm?”
“Dulu kita gagal karena terlalu banyak mendengarkan orang lain dan terlalu sedikit mendengarkan satu sama lain.”
Aku menatapnya.
“Sekarang?”
“Sekarang aku tidak mau mengulangi kesalahan itu.”
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Aku langsung menahan napas.
Namun ketika kotak itu dibuka, tidak ada cincin.
Hanya sebuah kunci.
Aku mengerutkan kening.
“Kunci apa?”
“Kunci rumah.”
“Rumah siapa?”
“Rumah kita bertiga, kalau suatu hari kamu siap.”
Aku terdiam.
Rangga tersenyum.
“Aku tidak meminta kamu menikah denganku sekarang. Aku cuma ingin kamu tahu bahwa kali ini aku tidak akan membuat keputusan untukmu.”
Air mataku jatuh.
Untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa cinta tidak selalu membutuhkan akhir yang tergesa-gesa.
Kadang cinta membutuhkan keberanian untuk mengakui kesalahan, waktu untuk membangun kembali kepercayaan, dan kesediaan memberikan pilihan kepada orang yang pernah kita lukai.
Aku menggenggam kunci itu.
“Kalau aku belum siap?”
“Aku tunggu.”
“Kalau lama?”
“Aku tetap tunggu.”
Aku tersenyum di antara air mata.
Dari halaman terdengar suara Zahra.
“Mama! Papa! Lihat!”
Kami menoleh bersamaan.
Zahra berdiri sambil memegang gambar buatannya.
Tiga orang bergandengan tangan di depan sebuah rumah.
Di atasnya ada tulisan dengan huruf-huruf yang masih berantakan.
Rumah Zahra.
Aku menatap Rangga.
Ia menatapku.
Dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun, masa depan tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus kutakuti.
Beberapa bulan kemudian, aku akhirnya pindah ke rumah itu bersama Zahra.
Bukan sebagai pembantu.
Bukan pula sebagai mantan istri yang kembali karena terpaksa.
Aku masuk sebagai Alea, perempuan yang akhirnya berani menentukan hidupnya sendiri.
Di ambang pintu, Rangga menyambut kami.
Zahra langsung berlari memeluknya.
Aku berdiri beberapa langkah di belakang mereka.
Rangga mengulurkan tangan kepadaku.
Aku menatap tangan itu cukup lama sebelum akhirnya menyambutnya.
Tidak ada janji bahwa kehidupan kami setelah ini akan selalu mudah.
Tidak ada jaminan bahwa luka lama akan hilang sepenuhnya.
Namun kali ini kami memiliki sesuatu yang tidak kami miliki lima tahun lalu.
Kejujuran.
Dan ternyata, setelah semua yang kami kehilangan, itulah yang paling kami butuhkan untuk menemukan jalan pulang.
