Justru sejak saat itu, aku sadar bahwa perceraian bukanlah masalah terbesar yang sedang kuhadapi.
Aku menunggu sampai Dewi dan pria berjas itu pergi. Setelah mobil hitam menghilang di ujung jalan, aku baru keluar dari balik pagar dan membuka pintu dengan kunci cadangan yang masih kusimpan.
Rumah itu terasa berbeda.
Sepi, tetapi bukan sepi yang menenangkan. Ada sesuatu yang membuat tengkukku dingin.
Aku langsung menuju kamar Ibu Ratna.
Beliau sedang tertidur miring, wajahnya pucat. Di meja kecil di samping ranjang ada gelas air dan beberapa obat yang tidak kukenal.
Aku memanggil pelan.
“Bu.”
Kelopak matanya bergerak.
“Lina?”
Aku mendekat.
“Iya, Bu. Ini Lina.”
Tangannya langsung mencari tanganku.
“Kamu kembali?”
“Aku cuma mau ambil sesuatu. Ibu bilang lemari bawah.”
Mata beliau langsung terbuka lebih lebar.
“Cepat.”
Aku berlutut di depan lemari kayu tua di sudut kamar. Di bagian paling bawah ada pintu kecil yang selama ini kukira hanya tempat menyimpan kain.

Kunci pemberian Ibu Ratna pas di lubangnya.
Di dalamnya ada kotak biru tua.
Aku membukanya.
Isinya bukan perhiasan.
Ada sertifikat rumah, buku tabungan, beberapa kuitansi lama, surat notaris, dan sebuah amplop putih bertuliskan namaku.
Tanganku bergetar saat membukanya.
Surat itu ditulis tangan oleh Ibu Ratna.
Lina, kalau kamu membaca ini, berarti Ibu mungkin sudah tidak punya banyak kesempatan untuk menjelaskan. Rumah yang kalian tempati ini bukan milik Arif. Rumah ini masih atas nama Ibu. Dan Ibu sudah membuat surat wasiat baru.
Aku berhenti membaca.
Jantungku berdetak keras.
Aku menoleh ke arah Ibu Ratna.
Beliau masih menatapku.
“Bu, ini maksudnya apa?”
Beliau mencoba bangun, tetapi aku segera menopang punggungnya.
“Dewi dan Arif sudah lama minta rumah ini dibalik nama.”
“Kenapa?”
“Mereka bilang supaya gampang kalau Ibu meninggal.”
Kalimat itu terdengar begitu dingin hingga aku merinding.
“Ibu menolak?”
Ibu Ratna mengangguk pelan.
“Dua bulan lalu Ibu tahu Arif punya utang.”
Aku terdiam.
“Utang apa?”
“Pinjaman usaha. Tapi usahanya tidak jelas.”
Aku langsung teringat beberapa kali Arif pulang larut malam, selalu mengatakan sedang bertemu teman bisnis.
“Berapa besar?”
“Hampir empat ratus juta.”
Aku sampai menahan napas.
Ibu Ratna melanjutkan.
“Dewi juga punya masalah. Suaminya kehilangan pekerjaan. Mereka mau jual rumah ini.”
Aku menatap dokumen di tanganku.
“Jadi mereka mau Ibu tanda tangan?”
“Iya.”
“Dan perceraian ini?”
Ibu Ratna memejamkan mata sebentar.
“Karena kamu selalu ada di rumah.”
Aku akhirnya mengerti.
Aku bukan hanya istri yang dianggap merepotkan.
Aku adalah saksi.
Aku yang merawat Ibu Ratna setiap hari. Aku yang mengetahui kondisi beliau. Kalau sewaktu-waktu ada dokumen yang ditandatangani saat beliau sedang lemah atau berada di bawah pengaruh obat, aku bisa mempertanyakannya.
“Bu, obat di meja ini obat apa?”
Ibu Ratna menatapnya.
“Ibu tidak tahu. Dewi yang kasih.”
Aku langsung mengambil foto semua bungkus obat.
“Mulai sekarang jangan minum apa pun selain obat dari dokter.”
“Tapi Arif bilang itu vitamin.”
“Aku akan cek.”
Saat itu juga terdengar suara motor berhenti di depan rumah.
Aku membeku.
Ibu Ratna terlihat panik.
“Arif.”
Aku memasukkan semua dokumen ke kotak, tetapi Ibu Ratna menahan tanganku.
“Bawa.”
“Kalau Arif tahu?”
“Justru karena itu bawa.”
Aku memasukkan kotak biru ke dalam tas.
Beberapa detik kemudian pintu kamar terbuka.
Arif berdiri di sana.
Wajahnya langsung berubah saat melihatku.
“Kamu ngapain di sini?”
“Aku datang menjenguk Ibu.”
“Bukannya kamu sudah pergi?”
“Aku pergi dari pernikahan kita. Bukan berarti aku berhenti peduli pada Ibu.”
Tatapannya turun ke tasku.
“Kamu bawa apa?”
“Barangku.”
Dia melangkah mendekat.
“Tunjukkan.”
Aku berdiri.
“Sejak kapan kamu punya hak memeriksa tasku?”
Arif mengatupkan rahang.
“Lina, jangan cari masalah.”
Aku tertawa kecil.
“Yang mengajukan cerai kamu. Yang menyuruhku pergi keluargamu. Sekarang aku yang cari masalah?”
Ibu Ratna tiba-tiba berkata,
“Arif, biarkan Lina.”
Arif menoleh.
“Ibu jangan ikut campur.”
Aku langsung menatapnya tajam.
“Jangan bicara seperti itu pada ibumu.”
Dia akhirnya mundur.
Namun sebelum aku pergi, dia berbisik,
“Kamu akan menyesal ikut campur urusan keluarga kami.”
Aku menatapnya lurus.
“Tujuh tahun aku tinggal di rumah ini. Baru hari ini aku sadar ternyata aku memang tidak pernah dianggap keluarga.”
Aku keluar tanpa menoleh lagi.
Dari rumah Nisa, aku mulai memeriksa semuanya.
Aku menghubungi dokter yang selama ini menangani Ibu Ratna dan mengirimkan foto obat yang kutemukan.
Balasannya datang satu jam kemudian.
Salah satu obat itu adalah obat penenang dosis tinggi.
Dokter langsung bertanya siapa yang memberikannya.
Tanganku langsung dingin.
Aku menjelaskan singkat.
“Jangan biarkan pasien mengonsumsi obat itu tanpa pengawasan,” katanya. “Dengan kondisi beliau sekarang, dosisnya terlalu kuat.”
Aku menyimpan tangkapan layar percakapan itu.
Kemudian aku membaca semua dokumen dalam kotak biru.
Di antara surat-surat tersebut ada salinan konsultasi dengan notaris bernama Pak Harun.
Aku menelepon nomor yang tercantum.
Begitu menyebut nama Ibu Ratna, nada suaranya langsung berubah serius.
“Ibu Ratna memang pernah datang ke kantor saya.”
“Untuk membuat wasiat?”
“Benar.”
Aku menelan ludah.
“Pak, hari ini ada orang datang ke rumah untuk urusan dokumen.”
Dia diam beberapa detik.
“Siapa?”
“Seorang pria membawa tas dokumen. Bersama kakak ipar saya.”
Pak Harun menghela napas.
“Saya sudah curiga.”
“Curiga apa?”
“Dua minggu lalu Arif menelepon saya. Dia bertanya apakah surat kuasa pengalihan aset bisa dibuat jika ibunya sedang sakit.”
Dadaku terasa berat.
“Bapak jawab apa?”
“Saya bilang bisa, selama pemberi kuasa sadar, memahami isi dokumen, dan tidak berada di bawah tekanan.”
Aku langsung teringat ucapan pria berjas tadi pagi.
Tanda tangan beliau tetap harus dilakukan dengan sadar.
“Pak, mereka bilang harus selesai sebelum Jumat.”
“Besok bawa dokumen yang kamu punya ke kantor saya.”
Aku mengangguk meski dia tidak bisa melihat.
Hari berikutnya aku datang bersama Nisa.
Pak Harun membaca surat wasiat Ibu Ratna cukup lama.
Kemudian dia menatapku.
“Surat ini sah. Dibuat enam bulan lalu.”
“Apa isinya?”
“Sebagian besar aset tetap diberikan kepada kedua anaknya. Tapi rumah utama ini tidak.”
Aku menahan napas.
“Lalu?”
“Rumah ini diwariskan kepada sebuah yayasan perawatan lansia.”
Aku terdiam.
Pak Harun melanjutkan.
“Ada satu ketentuan tambahan. Selama Ibu Ratna masih hidup, siapa pun yang merawatnya dan tinggal bersamanya berhak tetap menggunakan rumah tersebut dengan persetujuan beliau.”
“Jadi Arif tidak bisa menjualnya?”
“Tidak tanpa persetujuan Ibu Ratna.”
Aku langsung memahami alasan mereka terburu-buru.
Hari Jumat adalah tenggat yang mereka buat sendiri sebelum kondisi Ibu Ratna membaik atau sebelum orang lain mengetahui rencana mereka.
Aku dan Pak Harun sepakat untuk tidak langsung menuduh.
Kami perlu bukti.
Pada Kamis malam, Ibu Ratna meneleponku dari nomor tetangga.
Suaranya lemah.
“Lina, besok mereka mau bawa Ibu ke kantor.”
“Kantor mana?”
“Tidak tahu.”
“Bu, jangan tanda tangan apa pun.”
“Ibu takut.”
Aku menutup mata sejenak.
“Besok pagi aku datang.”
Jumat pukul delapan, aku tiba di rumah bersama Pak Harun dan seorang perawat dari klinik.
Kami masuk tepat ketika Dewi sedang memakaikan kerudung tipis ke kepala ibunya dan Arif memasukkan beberapa dokumen ke tas.
Dewi langsung membentak.
“Kamu ngapain datang lagi?”
Aku tidak menjawab.
Pak Harun maju.
“Selamat pagi.”
Wajah Arif langsung pucat.
“Pak Harun?”
“Pak Arif.”
Suasana berubah total.
Dewi memandang bergantian.
“Kalian saling kenal?”
Pak Harun menatap meja.
“Dokumen apa yang hendak ditandatangani Ibu Ratna hari ini?”
Arif langsung berkata,
“Ini urusan keluarga.”
“Benar. Dan saya adalah notaris yang menyimpan salinan wasiat serta beberapa instruksi hukum dari Ibu Ratna.”
Dewi mendadak diam.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Dan aku sudah bicara dengan dokter.”
Aku menunjukkan foto obat.
“Obat penenang ini bukan resep untuk Ibu.”
Arif menatap Dewi.
Dewi langsung membela diri.
“Aku cuma mau Ibu istirahat.”
Perawat yang datang bersama kami memeriksa Ibu Ratna.
Tekanan darahnya rendah dan beliau terlihat sangat mengantuk.
Pak Harun lalu membuka dokumen yang dibawa Arif.
Hanya beberapa menit kemudian wajahnya menjadi keras.
“Ini surat kuasa penuh untuk pengalihan rumah dan penjualan aset.”
Ibu Ratna yang duduk di kursi roda terlihat terkejut.
“Penjualan?”
Semua orang terdiam.
Ibu Ratna menatap Arif.
“Kamu bilang ini surat rumah sakit.”
Wajah Arif benar-benar kehilangan warna.
Aku merasa seperti ada sesuatu yang pecah di dalam ruangan.
Bukan hanya kebohongan.
Kepercayaan seorang ibu terhadap anaknya sendiri.
Dewi langsung berkata,
“Bu, kami cuma mau mengamankan aset keluarga.”
“Dengan menjual rumah Ibu?”
“Ibu sudah tua. Rumah sebesar ini buat apa?”
Aku melihat mata Ibu Ratna memerah.
“Jadi ini alasan kalian ingin Lina pergi?”
Tidak ada jawaban.
Beliau menatap Arif.
“Kamu ceraikan istrimu supaya tidak ada yang menjaga Ibu?”
Arif mencoba mendekat.
“Bu, dengar dulu.”
“Jangan.”
Suara Ibu Ratna lemah, tetapi membuat semua orang diam.
“Selama tujuh tahun, orang yang bukan darah Ibu sendiri justru yang membersihkan badan Ibu saat sakit. Membeli obat. Mengantar kontrol. Menyuapi saat tangan Ibu gemetar.”
Air mata mengalir di pipinya.
“Kalian anak kandung Ibu malah menghitung harga rumah sebelum Ibu mati.”
Dewi mulai menangis.
“Bu, bukan begitu.”
“Tiga hari lalu kamu membentak Lina karena kamar Ibu bau.”
Dewi menunduk.
Ibu Ratna tersenyum pahit.
“Kamu tahu kenapa kamar Ibu bau?”
Tidak ada yang menjawab.
“Karena luka Ibu membusuk. Dan satu-satunya orang yang membersihkannya setiap hari adalah orang yang kamu usir.”
Aku menoleh karena mataku mulai panas.
Aku tidak ingin menangis di depan mereka.
Namun Ibu Ratna memanggilku.
“Lina.”
Aku mendekat.
Beliau meraih tanganku.
“Maafkan Ibu.”
“Bu tidak salah.”
“Ibu salah karena terlalu lama diam.”
Hari itu, rencana pengalihan aset batal.
Pak Harun membawa semua dokumen bermasalah untuk dicatat dan diamankan. Ibu Ratna dibawa ke rumah sakit.
Aku ikut mendampinginya.
Arif dan Dewi tidak ikut.
Mereka terlalu sibuk saling menyalahkan.
Dua hari kemudian kondisi Ibu Ratna mulai stabil.
Pada sore hari Arif datang ke rumah sakit.
Dia berdiri di depan pintu kamar dengan mata merah.
“Lina.”
Aku sedang menyuapi Ibu Ratna bubur.
“Ada apa?”
“Kita bicara sebentar.”
Aku keluar ke koridor.
Arif mengusap wajah.
“Aku salah.”
Aku diam.
“Aku tertekan karena utang. Dewi juga terus bilang kalau rumah dijual, semuanya selesai.”
“Lalu kamu memilih menceraikanku.”
“Aku pikir kalau kamu pergi, urusan rumah akan lebih gampang.”
Setidaknya kali ini dia jujur.
“Aku mau batalkan perceraian.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Kita mulai lagi.”
Aku hampir tertawa.
“Mulai lagi dari mana?”
“Aku janji berubah.”
“Karena kamu mencintaiku?”
Dia diam.
Aku melanjutkan.
“Atau karena sekarang kamu tahu tanpa aku, Ibumu tidak mau pulang ke rumah?”
Wajahnya menegang.
Aku sudah tahu jawabannya.
“Mereka juga memohon aku kembali, kan?”
Arif menunduk.
“Dewi minta maaf.”
Aku mengangguk pelan.
“Bagus.”
“Kamu mau pulang?”
Aku menatapnya lama.
“Tidak.”
Dia langsung terkejut.
“Lina.”
“Tiga hari lalu aku menandatangani cerai karena kalian membuatku merasa seperti orang asing di rumah yang kujaga tujuh tahun.”
Aku menarik napas.
“Sekarang kalian memintaku kembali bukan karena akhirnya menghargai aku, tapi karena semua rencana kalian gagal.”
Arif tidak bisa menjawab.
Aku kembali ke kamar Ibu Ratna.
Beberapa minggu kemudian perceraian kami tetap berjalan.
Yang mengejutkan, Ibu Ratna memutuskan tidak kembali ke rumah lama.
Beliau meminta pindah ke sebuah rumah perawatan lansia swasta yang punya fasilitas medis lengkap.
“Aku tidak mau kamu mengorbankan hidupmu lagi untuk merawat Ibu,” katanya.
Aku tersenyum.
“Aku akan tetap datang.”
“Ibu tahu.”
Enam bulan kemudian, luka beliau membaik.
Aku juga memulai hidup baru.
Aku menyewa apartemen kecil dekat kantorku, menerima promosi yang sebelumnya selalu kutolak karena harus pulang cepat untuk mengurus rumah, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku punya waktu untuk diriku sendiri.
Suatu sore Pak Harun menelepon.
Ibu Ratna telah meminta revisi terakhir pada wasiatnya.
Aku langsung khawatir.
“Apakah ada masalah?”
“Tidak,” jawabnya. “Beliau hanya menambahkan satu nama.”
Aku terdiam.
“Nama siapa?”
“Nama Anda.”
Aku langsung menolak.
“Saya tidak mau rumah itu.”
Pak Harun tertawa kecil.
“Bukan rumah.”
“Lalu?”
“Beliau membuat dana pendidikan dari sebagian tabungannya. Penerimanya adalah anak-anak dari para perawat di tempat beliau tinggal. Anda ditunjuk sebagai pengawas dana tersebut.”
Aku tidak bisa berkata-kata.
Pak Harun lalu menyampaikan satu kalimat yang ditulis Ibu Ratna di suratnya.
Lina sudah mengajarkan kepada saya bahwa keluarga bukan selalu orang yang mewarisi darah kita. Kadang keluarga adalah orang yang tetap membersihkan luka kita ketika orang lain hanya mencium baunya.
Aku menutup telepon sambil menangis untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah itu.
Bukan karena kehilangan Arif.
Bukan karena tujuh tahun pernikahanku berakhir.
Aku menangis karena akhirnya aku memahami sesuatu.
Hari ketika Dewi membentakku karena bau dari kamar Ibu Ratna memang menghancurkan rumah tanggaku.
Tetapi hari itu juga menyelamatkanku.
Karena terkadang, ketika seseorang menyuruh kita pergi dari tempat yang tidak lagi menghargai kita, hal paling berani yang bisa kita lakukan bukanlah bertahan.
Melainkan benar-benar pergi.
